• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tinjauan Umum tentang Dampak Pembangunan SUTT

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Kerangka Teori

3. Tinjauan Umum tentang Dampak Pembangunan SUTT

Transmisi tenaga listrik berdasarkan sistemnya diantaranya ada yang menggunakan saluran udara. Berdasarkan kapasitas tenaga yang disalurkan, saluran udara terdiri dari Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) dengan tegangan operasi antara 200 KV - 500 KV dan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) dengan tegangan operasi antara 30 KV 150 KV (http://www.pln.co.id/p3bjawabali/?p=454).

Menurut Peraturan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor: 01.P/47/MPE/1992 Tentang Ruang Bebas Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) dan Saluran Udara Tegangn Ekstra Tinggi (SUTET) untuk Penyaluran Tenaga Listrik, Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) adalah Saluran tenaga listrik yang menggunakan kawat telanjang (penghantar) di udara bertegangan diatas 35 kV sampai dengan 245 kV sesuai dengan standart di bidang ketenaga listrikan

b. Dampak Lingkungan Hidup di Bidang Kelistrikan

Dalam pembangunan yang berkaitan dengan ketenagalistrikan pasti akan menimbulkan dampak baik langsung maupun tidak langsung, positif maupun negatif. Pembangunan dibidang ketenagalistrikan dinilai dapat memberikan dampak yang besar dan penting, sehingga harus dilengkapi dengan Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Berdasarkan Keputusan Meteri Lingkungan Hidup Nomor 17 Tahun 2001, dibidang ketenagalistrikan Jenis Rencana Usaha dan/atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup adalah: 1) Pembangunan Jaringan Transmisi dengan besar 150 KV, karena

alasan ilmiah khusus:

a) Keresahan masyarakat karena gangguan kesehatan akibat transmisi b) Aspek sosial, ekonomi, dan budaya terutama pada pembebasan

commit to user

2) Pembangunan PLTD/ PLTG/ PLTU/ PLTGU dengan besar 150 MW karena berpotensi menimbulkan dampak pada:

a) Aspek fisik, kimia, terutama pada kualitas udara (emisi, ambient, dan kebisingan) dan kualitas air (ceceran minyak pelumas, limbah bahang dll) serta air tanah.

b) Aspek sosial, ekonomi dan budaya, terutama pada saat pembebasan lahan dan pemindahan penduduk.

3) Ekspolitasi dan pembangunan Uap Panas Bumi dan /atau Pengembangan Panas Bumi dengan besar 55 MW karena berpotensi menimbulkan dampk pada:

a) Aspek fisik-kimia, terutama pada kualitas udara (bau dan kebisingan) dan kualitas air;

b) Aspek flora dan fauna;

c) Aspek sosial, ekonomi dan budaya, terutama pada pembebasan lahan.

4) Pembangunan PLTA dengan tinggi bendung 15m atau luas genangan 20 ha atau aliran langsung (kapasitas daya) 50 MW, karena berpotensi menimbulkan dampak pada aspek fisik-kimia, terutama pada kualitas udara ( bau dan kebisingan), aspek flora dan fauna serta aspek sosial ekonomi dan budaya, terutama pada pembebasan lahan a)

b) Kegagalan bendungan (dam break), akan mengakibatkan gelombnag banjir (flood surge)yang sanat potensial untuk merusak lingkungan di bagian hilirnya

c) Pada skala ini dibutuhkan spesifikasi khusus baik bagi material dan desain konstruksinya

d) Pada skala ini diperlukan quarry/ burrow are yang besar sehingga berpotensi menimbulkan dampak

e) Dampak pada hidrologi.

5) Pembangunan pusat listrik jenis lain (Surya, Angin, Biomassa, dan Gambbut) 10 MW dengan alasan ilmiah khusus:

commit to user

a) Membutuhkan areal yang sangat luas b) Dampak visual (pandang).

c) Dampak kebisingan

d) Khusus penggunaan gambut berpotensi menimbulkan gangguan terhadap ekosistem gambut

c. Jarak Aman SUTT dari Benda-Benda Lain

Dampak tidak langsung sarana transmisi yang aman dituangkan pada Peraturan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 01.P/47/MPE/1992 tentang Ruang Bebas SUTT dan SUTET serta Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi Nomer 975.K/47/MPE/1999 tentang Perubahan Terhadap Peraturan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 01.P/47/MPE/1992 tentang Ruang Bebas SUTT dan SUTET. Peraturan tersebut menyebutkan mengenai jarak yang aman dari pengaruh medan listrik dan medan magnet. Jarak yang ditetapkan disini tergantung besarnya tegangan. Berdasarkan peraturan tersebut jarak batas minimum SUTT dengan benda lain yaitu:

1) Lapangan terbuka atau daerah terbuka, untuk SUTT 66 KV adalah 6,5 meter sementara untuk SUTT 150 KV adalah 7,5 meter.

2) Bangunan tidak tahan api, untuk SUTT 66 KV adalah 12,5 meter sementara untuk SUTT 150 KV adalah 13,5 meter.

3) Bangunan tahan api, untuk SUTT 66 KV adalah 3,5 meter sementara untuk SUTT 150 KV adalah 4,5 meter.

4) Lalu lintas jalan/ jalan raya, untuk SUTT 66 KV adalah 8 meter sementara untuk SUTT 150 KV adalah 9 meter.

5) Pohon-pohon pada umumnya, hutan, perkebunan, untuk SUTT 66 KV adalah 3,5 meter sementara untuk SUTT 150 KV adalah 4,5 meter. 6) Lapangan olah raga, untuk SUTT 66 KV adalah 12,5 meter sementara

untuk SUTT 150 KV adalah 13,5 meter.

7) SUTT lainnya, pengantar udara tegangan rendah, jaringan telekomunikasi, antenna radio, antenna televise, dan kereta gantung,

commit to user

untuk SUTT 66 KV adalah 3 meter sementara untuk SUTT 150 KV adalah 4 meter.

8) Rel kereta biasa, untuk SUTT 66 KV adalah 8 meter sementara untuk SUTT 150 KV adalah 9 meter.

9) Jembatan besi, rangka besi penahan penghantar, karena listrik terdekat dan sebagainya, untuk SUTT 66 KV adalah 3 meter sementara untuk SUTT 150 KV adalah 4 meter.

10)Titik tertinggi tiang kapal pada kedudukan air pasang/ tertinggi pada lalulintas air, untuk SUTT 66 KV adalah 3 meter sementara untuk SUTT 150 KV adalah 4 meter.

d. Dampak Radiasi Elektromagnetik SUTT Terhadap Kesehatan

Problem kesehatan masyarakat akibat radiasi gelombang elektromagnetik pada hakikatnya merupakan problem lingkungan. Dalam hal bukan hanya menyangkut aspek fisika dan kesehatan semata, melainkan juga aspek sosial, baik sosial ekonomi maupun sosial budaya. Penduduk yang tinggal di bawah SUTT/SUTET akan tetap menganggap keberadaannya sebagai masalah, bila tanpa dilakukan pendekatan komprehensif, menyangkut aspek fisika, kesehatan, serta sosial ekonomi dan budaya.(Anies, 2007:10)

Gangguan psikis yang sangat popular dewasa ini berhubungan dengan SUTT/SUTET disebut dengan elektromagnetik hipersensitiviti sebenarnya merupakan gangguan stress yang berlebihan yang dihubungkan dengan banyak factor yang mempengaruhi, termasuk factor sosial (I.B. Alit Swamardika, 2009: 108-109).

Hingga saat ini belum ada kesepakatan dari para ahli kesehatan dunia mengenai efek SUTT maupun SUTET terhadap kesehatan, termasuk kanker dan tumor pada anak amupun dewasa. Selama ini tidak ada penelitian yang bersifat eksperimental, yang dilakukan biasanya hanya mempelajari fakta yang berupa gejala, gangguan penyakit yang dialami masyarakat kemudian dikaji hubungannya dengan SUTET. Jadi

commit to user

kemungkinan satu gejala penyakit terkait dengan banyak faktor. Sangat sulit membuktikan hubungan sebab akibat antara efek SUTET dengan gangguan kesehatan. (I.B. Alit Swamardika, 2009: 108-109).

e. Ganti Rugi dan Kompensasi Terhadap Pembangunan SUTT

Intepretasi asas fungsi sosial hak atas tanah, disamping mengandung makna bahwa hak atas tanah harus digunakan sesuai dengan sifat dan tujuan haknya sehingga bermanfaat bagi pemegang dan bagi masyarakat, juga harus terdapat keseimbangan antara kepentingan perseorangan dengan kepentingan umum, dan bahwa kepentingan perseorangan itu diakui dan dihormati dalam rangka pelaksanaan kepentingan masyarakat secara keseluruhan (Maria S.W. Sumardjo, 2006:79). Ganti rugi merupakan unsur terpenting dalam pembebasan hak atas tanah karena ganti rugi merupakan hak paling mutlak dari pemegang hak atas tanah yang akan dilepaskan atau diserahkan tanahnya, dengan demikian tidak ada kewenangan bagi siapapun termasuk Negara untuk mengambil tanah tanpa memberikan ganti rugi.

1) Pengertian Ganti Rugi

Di dalam Hukum Perdata dasar hukum ganti rugi dapat dilihat dalam pasal 1244, 1245, 1246 KUH Perdata yang mencakup unsur- unsur ganti rugi biaya, rugi ,dan bunga. Ganti rugi (schade) adalah kerugian nyata (Feitelijknadel) yang timbul sebagai akibat ingkar janji yang jumlahnya ditentukan dengan suatu perbandingan di antara keadaan kekayaan sesudah terjadinya ingkar janji dan keadaan

kekayaan seanda Pada hakekatnya ganti

rugi dalam hukum Perdata selalu dikaitkan dengan adanya ingkar janji dalam suatu persetujuan yang dilakukan oleh satu pihak dan kerugian itu biasanya selalu berhubungan langsung dengan ingkar janji.

Berbeda dengan pengaturan ganti rugi tanah dalam KUHPerdata dalam UUPA ganti rugi tanah diatur dalam Pasal 18 yang berbunyi: Untuk kepentingan umum termasuk kepentingan Bangsa

commit to user

dan Negara serta kepentingan bersama dan rakyat hak-hak atas tanah dapat dicabut dengan memberikan ganti rugi yang layak menurut cara yang diatur dengan Undang- . Sebagai pelaksanaan dari ketentuan Pasal 18 UUPA tersebut lahirlah UU No. 20 Tahun 1961 tentang Pencabutan Hak-Hak Atas Tanah dan Benda- Benda yang ada diatasnya. Ketentuan tersebut berlaku bagi ganti rugi untuk kepentingan umum.

Pengaturan pengadaan tanah untuk kepentingan umum juga diatur dalam beberapa peraturan perundangan yang lain. Pada Pasal 1 angka 11 Perpres No. 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Kepentingan Umum disebutkan:

Ganti rugi adalah penggantian terhadap kerugian baik bersifat fisik dan/atau non fisik sebagi akibat pengadaan tanah kepada yang mempunyai tanah, bangunan, tanaman, dan/atau benda- benda lain yang berkaitan dengan tanah, bangunan, tanaman, dan/atau benda-benda lain yang berkaitan dengan tanah yang dapat memberikan kelangsungan hidup lebih baik dari tingkat kehidupan sosial ekonomi sebelum terkena pengadaan tanah.

2) Tata Cara

Masalah pemberian ganti rugi ini sering menimbulkan ketidakpuasan dan ketidakberdayaan di kalangan masyarakat yang hak atas tanahnya terkena proyek tersebut. Untuk meminimalisir gejolak yang timbul karena ketidakpuasan ini maka dalam pelaksanaan pemberian ganti rugi perlu diadakan musyawarah terlebih dahulu guna mencapai mufakat persetujuan ganti rugi secara baik. Ketentuan ini diatur dalam Pasal 8 ayat (1) Perpres Nomor 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Kepentingan Umum, yang bunyinya:

kepentingan umum dilakukan melalui musyawarah dalam rangka memperoleh kesepakatan mengenai:

(1) pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum di lokasi tersebut;

commit to user

Perpres tersebut juga memberikan pengertian mengenai musyawarah Musyawarah adalah kegiatan yang mengandung proses saling dengar, saling member dan saling menerima pendapat, serta keinginan untuk mencapai kesepakatan mengenai bentuk dan besarnya ganti rugi dan masalah lain yang berkaitan dengan kegiatan pengadaan tanah atas dasar kesukarelaan dan kesetaraan antara pihak yang mempunyai tanah, bangunan, tanaman, dan benda-benda lain yang berkaitan dengan tanah dengan pihak yang memerlukan tanah.

Pengertian musyawarah disini adalah dalam arti kualitatif yang mementingkan dialog secara langsung antara pemilik hak atas tanah dengan pihak yang melakukan pengadaan tanah. Namun apabila jumlah pemegang hak atas tanah sangat banyak sehingga tidak memungkinkan untuk mengadakan musyawarah secara efektif maka dibuka kemungkinan untuk menunjuk wakil-wakil dari para pemegang hak sekaligud bertindak sebagai kuasa mereka.

Menurut Maria S.W. Sumardjono (2006: 83-84) secara garis besar musyawarah diawali dengan penyuluhan kepada masyarakat pemegang hak tentang maksud dan tujuan pengadaan tanah. Penyuluhan dilakukan oleh Panitia Pengadaan Tanah (PPT) bersama dengan instansi pemerintah yang memerlukan pengadaan tanah dengan membuka kemungkinan keterlibatan tokoh masyarakat dan pemimpin informal di dalamnya. Setelah penyuluhan dilakukan inventarisasi terhadap obyek pengadaan tanah oleh PPT dan instansi terkait. Hasil inventarisasi ini kemudian diumumkan sehingga memungkinkan masyarakat pemegang hak mengajukan keberatan terhadap hasil inventarisasi tersebut. Tahap selanjutnya adalah musyawarah untuk menetapkan bentuk dan besarnya ganti rugi. Musyawarah dilakukan secara langsung antara pemegang hak dengan instansi pemerintah yang memerlukan tanah. Oleh PPT diberikan penjelasan tentang hal-hal yang harus diperhatikan dalam penerapan ganti kerugian meliputi: a) untuk tanah nilainya didasarkan pada nilai nyata dengan

memperhatikan NJOP tahun terakhir

commit to user

c) Nilai taksairan bangunan, tanaman dan benda-benda lain yang relevan.

Setelah disampaikan penjelasan tersebut pemegang hak atau wakilnya menyampaikan keinginan tentang bentuk dan besarnya ganti kerugian yang kemudian di tanggapi oleh instansi pemerintah yang bersangkutan.

3) Bentuk Ganti Rugi Tanah

Dalam Pasal 12 Perpres Nomor 36 Tahun 2005 bentuk ganti rugi dalam pengadaan tanah adalah:

a) Uang; dan/atau

b) Tanah pengganti; dan/atau c) Pemukiman kembali

d) Kompensasi berupa penyertaan modal (saham) apabila pemegang hak tidak menginginkan bentuk ganti rugi diatas

Dalam Perpres hanya mengatur mengenai ganti kerugian yang sifatnya materiil atau berwujud dan dapat dinilai dengan uang sedangkan untuk ganti kerugian yang sifatnya immaterial seperti hilangnya pendapatan dan pekerjaan tidak diatur (Maria S.W. Sumardjono, 2006:88).

4) Ganti Rugi dan Kompensasi Pembangunan SUTT

Pengertian mengenai ganti rugi di bidang ketenagalistrikan terdapat dalam Undang-undang Ketenagalistrikan, baik pada Undang- Undang Ketenagalistrikan yang lama yaitu Undang-Undang Nomor 20 tahun 2002 dan Undang-Undang Ketenaga listrikan yang baru yaitu Undang-Undang 30 tahun 2009. Pada kedua Undang-Undang Ketenagalistrikan tersebut permasalahan ganti rugi lebih dikhususkan pada ganti rugi hak atas tanah. Terdapat perbedaan diskripsi pengertian ganti rugi atas tanah diatara kedua Undang-undang tersebut tetapi perbedaan ini hanya redaksional saja namun mempunyai arti yang sama.

commit to user

Pada Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan pengertian mengenai ganti rugi hak atas tanah

penggantian atas nilai tanah berikut bangunan, tanaman, dan/atau benda-benda lain yang terkait dengan tanah sebagai akibat pelepasan -Undang Nomor 30 Tahun 2009 pengertian mengenai ganti rugi terdapat pada Pasal 1 angka

pelepasan atau penyerahan hak atas tanah berikut bangunan, tanaman,

dan/atau . Ganti rugi

hak atas tanah tersebut diberikan untuk tanah yang dipergunakan secara langsung dalam penyediaan tenaga listrik dan bangunan serta tanaman sesuai diatas tanah. Ganti rugi hak atas tanah termasuk untuk sisa tanah yang tidak dapat digunakan oleh pemegang hak sebagai akibat dari penggunaan sebagian tanahnya oleh pemegang izin usaha penyediaan tenaga listrik. Yang dimaksud dengan penggunaan secara langsung adalah penggunaan tanah untuk pembangunann instalasi tenaga listrik antara lain pembangkitan, gardu induk, dan tapak menara transmisi.

Pengertian kompensasi Pada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan terdapat pada Pasal 1 angka 34.

Kompensasi adalah pemberian sejumlah uang kepada pemegang hak atasa tanah, bangunan, tanaman dan/atau benda lain yang terkait dengan tanah tanpa dilakukan pelepasan atau penyerahan hak atas tanah, bangunan, tanaman dan/atau benda- benda lain yang terkait dengan tanah.

Sedangkan pada Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2009 pengertian mengenai kompensasi terdapat pada Pasal 1 angka 14.

Kompensasi adalah pemberian sejumlah uang kepada pemegang hak atas tanah berikut bangunan, tanaman, dan/atau benda lain yang terdapat diatas tanah tersebut digunakan secara tidak langsung untuk pembangunan ketenaga listrikan tanpa

commit to user

Kompensasi digunakan untuk pengadaan tanah secara tidak langsung yang mengakibatkan berkurangnya nilai ekonomis atas tanah, bangunan, dan tanaman yang dilintasi transmisi tanaga listrik. Berbeda dengan ganti rugi hak atas tanah yang hanya menyebutkan penggantian tanpa menyebut bentuk tertentu, pada pengertian kompensasi jelas disebutkan bahwa bentuk dari kompensasi yang diberikan kepada pemegang hak adalah berupa uang bukan bentuk yang lain.

Ganti rugi hak atas tanah atau kompensasi tersebut tidak berlaku bagi orang yang sengaja mendirika bangunan, menanam tanaman,dan lain-lain diatas tanah yang sudah memiliki izin lokasi untuk usaha penyediaan tenaga listrik dan sudah diberikan ganti rugi hak atas tanah atau kompensasi.

Ketentuan ganti rugi dan kompensasi tanah, tanaman, dan bangunan pada pembangunan SUTT diatur dalam Pasal 5 Peraturan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor: 01.P/47/MPE/1992 Tentang Ruang Bebas Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) dan Saluran Udara Tegangn Ekstra Tinggi (SUTET) untuk Penyaluran Tenaga Listrik yang kemudian diubah dengan Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 975.K/47/MPE/1999 tentang Perubahan Peraturan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 01.P/47/M.PE/1992 Tentang Ruang Bebas Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) dan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi untuk Penyaluran Tenaga Listrik. Ketentuan tersebut menjelaskan bahwa: a) Tanah tempat untuk mendirikan Tapak Penyangga dan bangunan

serta tumbuh-tumbuhan di bawahnya dibebaskan dan diberikan ganti rugi

b) Bangunan, tumbuh-tumbuhan yang telah ada sebelumnya dan masuk pada proyeksi Ruang Bebas SUTT/SUTET atau dapat membahayakan SUTT/SUTET harus dibebaskan dan diberikan ganti rugi

commit to user

c) Besar ganti rugi atas tanah, bangunan dan tumbuh-tumbuhan ditetapkan berdasarkan musyawarah antara pemilik hak dengan Pengusaha serta berpedoman pada peraturan perundangan

d) Bangunan dan tumbuh-tumbuhan yang telah diberikan ganti rugi harus ditebang dan dibongkar seluruhnya oleh pemiliknya

e) Tanah dan bangunan yang telah ada sebelumnya yang berada dibawah proyeksi Ruang Bebas SUTT/SUTET diluar penggunaan untuk mendirikan Tapak Penyangga diberikan kompensasi dan hanya diberikan satu kali

f) Lahan yang sudah diberi kompensasi dapat dimanfaatkan selama tidak memasuki proyeksi Ruang Bebas.

Perhitungan nilai kompensasi mengacu pada lampiran Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 975.K/47/MPE/1999. Unsur-unsur pemberian kompensasi lahan yaitu optimalisasi lahan, Indeks pemanfaatan fungsi tanah dan bangunan, status tanah, dan harga tanah. Beberapa unsur tersebut digunakan untuk penghitungan nilai kompensasi yang dibayarkan. Rumus Pemberian Kompensasi adalah:

Keterangan:

a) NK : Nilai Kompensasi lahan

b) Optimalisasi Lahan : kompensasi diperhitungkan sebesar 10% c) Indeks Fungsi Lahan : indeks pemanfaatan fungsi tanah dan

bangunan ditetapkan dengan mempertimbangkan objek dan peruntukan tanah dan bangunan dikaitkan dengan optimalisasi lahan, yang besarnya adalah:

(1)Bangunan : 1

(2)Tanah untuk mendirikan bangunan : 1

(3)Tanah pekarangan : 0,5

(4)Ladang, kebun : 0,3

commit to user

(5)Tanah sawah : 0,1

d) Status tanah: pemberian kompensasi atas tanah mempertimbangkan status tanah yang bersangkutan dengan penilaian sebagai berikut: (1)Tanah hak milik (bersertifikat) : 100%

(2)Tanah hak milik adat : 90%

(3)Tanah hak guna bangunan : 80%

(4)Tanah hak guna usaha : 80%

(5)Tanah hak pakai : 70%

(6)Tanah wakaf : 100%

Untuk tanah hak guna bangunan, hak guna usaha, hak pakai dipertimbangkan pula presentase sisa jangka waktu pemanfaatan tanah yang bersangkutan.

e) Harga tanah

Guna memperoleh dasar hukum harga tanah dan bangunan, maka harga tanah dan bangunan dapat didasarkan pada Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) tahun berjalan yang telah ditetapkan oleh Kantor Pajak.

commit to user

Premis Mayor 1. Peraturan Perundang-undangan:

a. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik

b. Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2008 Tentang Ombudsman Republik Indonesia c. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999

Tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa

d. Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2000 Tentang Lembaga Penyedia Jasa Pelayanan Penyelesaian Sengketa Lingkungan Hidup di Luar Pengadilan

2. Peraturan:

a. Peraturan Ombudsman Nomor 2 tahun 2009 tentang Pemeriksaan dan Penyelesaian Laporan b. SOP Pemeriksaan dan Penyelesaian Laporan

Premis Minor (Peristiwa hukum) 1. Mekanisme dan tata cara

mediasi Ombudsman

2. Perbedaan kekuatan PT. PLN (Persero) dengan warga Desa Nglegi, Desa Bunder, Desa Salam, Desa Beji, Kecamatan Pathuk, Gunung Kidul, DIY Mediasi antara PT. PLN

(Persero) dengan warga Desa Nglegi, Desa Bunder, Desa Salam, Desa Beji, Kecamatan

Pathuk, Gunung Kidul, DIY 1. Kesesuaian dengan norma-

norma umum mediasi 2. Hasil mediasi bagi kedua

belah pihak

Kesimpulan

Penyesuaian mediasi Ombudsman berdasarkan norma-norma umum mediasi dengan mengedepankan hasil penyelesaian win-win solution

INTEPRETASI INTEPRETASI

Dokumen terkait