• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Kerangka Teori

2. Tinjauan Umum tentang Penyidikan dan Penasihat Hukum

Berkaitan dengan Tugas Pokok Polisi dalam proses penyelesaian

perkara pidana dalam criminal justice system, maka dilakukan

penyidikan oleh penyidik Polri. Hal ini sesuai dengan Pasal 17 Undang-Undang nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Republik Indonesia. Pengertian penyidikan sendiri adalah ” serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut cara yang dalam Undang-Undang untuk mencari dan mengumpulkan bukti yang dengan bukti ini membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya”

Penyidikan selain dilakukan oleh penyidik Polri juga dilakukan oleh penyidik Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh Undang-Undang. Penyidik memiliki wewenang yaitu menerima laporan atau pengaduan, melakukan tindakan pertama di TKP (Tempat Kejadian Perkara), menyuruh berhenti seseorang tersangka dan memeriksa tanda pengenal diri, melakukan penangkapan, penahanan, penggeledahan dan penyitaan, melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat, mengambil sidik jari dan memotret seseorang, memanggil seseorang untuk dipanggil sebagai saksi atau tersangka, mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan pemeriksaan perkara, mengadakan penghentian penyidikan, mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab.

b. Pengertian Penasihat Hukum

KUHAP, lebih menekankan dalam setiap proses peradilan pidana memperlihatkan ciri yang humanis. Salah satu hal penting dan humanis adalah adanya Bantuan Hukum. Bantuan Hukum dalam proses peradilan pidana adalah suatu prinsip negara hukum yang dalam tahap pemeriksaan pendahuluan sampai putusan. Dalam KUHAP memberikan definisi Penasihat Hukum dalam Pasal 1 huruf 13 yakni: “Penasihat Hukum

commit to user

adalah seseorang yang memenuhi syarat yang ditentukan oleh atau

berdasar Undang-Undang untuk member bantuan hukum”.

Dalam sejarahnya banyak sekali sebutan untuk penasihat hukum, namun dalam kode etik Advokat Indonesia dalam Pasal 1 hurug a dan b pengertian advokat disamakan dengan pengertian Penasihat hukum. Pasal 1 kode etik advokat: “adalah seseorang atau mereka yang melakukan pekerjaan jasa bantuan hukum termasuk konsultan hukum yang menjalankan pekerjaannya baik dilakukan diluar pengadilan dan atau di dalam pengadilan bagi klien sebagai mata pencahariannya”. Pengertian ini juga diperuntukkan pada pengacara, pengacara praktek dan Penerima Kuasa dengan izin khusus insidentil dari pengadilan setempat.

3. Tinjauan Umum tentang Pembuktian dan Alat Bukti a. Pengertian Pembuktian

Pembuktian berawal dari penyelidikan dan berakhir pada penjatuhan pidana (vonis) oleh hakim dalam persidangan ( Syaiful Bakhri, 2009:27). Pembuktian merupakan hal yang paling krusial dalam pemeriksaan suatu perkara pidana di pengadilan, guna menemukan kebenaran materiil (materieel waarheid) akan peristiwa yang terjadi dan memberi keyakinan kepada hakim tentang kejadian hukum (Syaiful Bakhri, 2009:27).

Pengertian pembuktian menurut Subekti adalah yang dimaksudkan

dengan ”membuktikan” ialah meyakinkan hakim tentang kebenaran dalil

atau dalil-dalil yang dikemukakan dalam suatu persengketaan” (R. Subekti, 2007:1). Pembuktian berupaya mencari kebenaran materiil yaitu kebenaran yang selengkap-lengkapnya dari suatu perkara pidana dengan menerapkan ketentuan hukum acara pidana secara jujur dan tepat, dengan tujuan untuk mencari pelaku yang dapat didakwakan melakukan pelanggaran hukum, meminta pemeriksaan dan putusan dari pengadilan guna menemukan apakah terbukti bahwa suatu tindak pidana telah dilakukan, dan apakah orang yang didakwakan ini dapat dipersalahkan.

commit to user

Hukum pembuktian adalah merupakan sebagian dari hukum acara pidana yang mengatur macam-macam alat bukti yang sah menurut hukum, sistem yang dianut dalam pembuktian, syarat-syarat dan tata cara mengajukan alat bukti tersebut serta kewenangan hakim untuk menerima, menolak, dan menilai suatu pembuktian (Hari Sasangka dan Lily Rosita, 2003 : 10).

Pembuktian adalah ketentuan-ketentuan yang berisi penggarisan dan pedoman tentang cara-cara yang dibenarkan undang-undang membuktikan kesalahan yang didakwakan kepada terdakwa. Pembuktian juga merupakan ketentuan yang mengatur alat-alat bukti yang dibenarkan undang-undang dan yang boleh dipergunakan hakim untuk membuktikan kesalahan yang didakwakan. Persidangan pengadilan tidak boleh sesuka hati dan semena-mena membuktikan kesalahan terdakwa (M.Yahya Harahap, 2003 : 273). Dalam beberapa literatur yang penulis telaah dan cermati, terdapat beberapa teori-reori pembuktian. Terdapat empat teori sistem pembuktian yang digunakan untuk menilai kekuatan pembuktian dari masing-masing alat bukti yang ada dalam ilmu pengetahuan hukum yaitu :

1) Teori Sistem Pembuktian Berdasarkan Keyakinan Hakim Belaka

(Conviction in Time).

Sistem pembuktian yang menentukan kesalahan terdakwa semata-mata ditentukan oleh penilaian keyakinan hakim, dengan menarik keyakinannya atas kesimpulan dari alat bukti yang diperiksanya dalam pengadilan. Alat bukti bisa saja diabaikan, dan menarik kesimpulan dari keterangan terdakwa (Syaiful Bakhri, 2009:39).

Sistem pembuktian yang berguna dalam menentukan bersalah atau tidaknya terdakwa semata-mata berdasarkan keyakinan hakim saja. Tidak dipersoalkan masalah keyakinan hakim tersebut diperoleh darimana. Hakim seolah-olah hanya mengikuti hati

commit to user

nuraninya dan semua penilaian tergantung adanya kebijaksanaan hakim. Hakim sangat bersifat subjektif dalam menentukan bersalah atau tidaknya terdakwa. Putusan hakim dimungkinkan tanpa didasarkan kepada alat-alat bukti yang diatur oleh undang-undang (Syaiful Bakhri, 2009:40).

Mengingat kedudukan hakim hanya seorang manusia biasa, tentunya tidak dapat dijadikan ukuran yang baik dan pantas bahkan seringkali salah dalam menentukan keyakinannya terhadap perkara yang diselesaikannya sehingga dapat menyebabkan kesalahpahaman dalam menafsirkan undang-undang. Akibatnya dalam memutuskan perkara menjadi subyektif sekali, hakim tidak perlu menyebutkan alasan-alasan yang menjadi dasar putusannya. Seorang bisa dinyatakan bersalah dengan tanpa bukti yang mendukungnya. Demikian sebaliknya hakim bisa membebaskan terdakwa dari tindak pidana yang dilakukan, meskipun bukti-bukti yang ada menunjukkan bahwa terdakwa bersalah melakukan tindak pidana (Hari Sasangka dan Lily Rosita, 2003 : 15).

2) Teori Sistem Pembuktian Menurut Undang-Undang Positif (Positief Wettelijke Bewijstheorie).

Teori sistem ini keyakinan hakim tidak berarti, dengan suatu prinsip berpedoman pada alat bukti yang ditentukan oleh Undang-Undang (Syaiful Bakhri, 2009:41). Bersalah atau tidaknya terdakwa didasarkan pada ada atau tidaknya alat bukti yang sah menurut undang-undang. Sistem pembuktian positif yang dicari adalah kebenaran formal, oleh karena itu sistem pembuktian ini dipergunakan dalam hukum acara perdata (Hari Sasangka dan Lily Rosita, 2003 : 16). Sistem pembuktian yang digunakan untuk menentukan bersalah atau tidaknya terdakwa harus secara mendasar berpedoman pada prinsip pembuktian dengan alat-alat bukti yang ditentukan dalam undang-undang.

commit to user

Berdasarkan pendapat D. Simons dalam bukunya Andi Hamzah dimana sistem pembuktian menurut undang-undang positif ini berusaha untuk menyingkirkan semua pertimbangan subjektif hakim dan mengikat hukum secara ketat menurut peraturan-peraturan pembuktian yang keras. Hati nurani hakim tidak ikut hadir dalam menentukan salah atau tidaknya terdakwa. Teori ini dianut di Eropa pada waktu berlakunya asas inkusitor (inquisitoir) dalam acara pidana (Andi Hamzah, 2001 : 247). Hakim seolah-olah hanya bersikap pasif sebagai alat pelaksana undang-undang semata-mata sehingga mengabaikan aspek moral dan hati nurani dalam menyelesaikan suatu perkara. Selain itu, hakim hanya berperan sebagai alat pelengkap di dalam suatu pengadilan atau lebih tepatnya seperti robot yang bertindak atas perintah undang-undang dan kepentingan pengadilan. Hakim tidak leluasa dalam mengambil keputusan dan kebijakan atas perkara yang ditanganinya dan terikat oleh peraturan yang ada.

Undang-undang menetapkan secara limitatif alat-alat bukti mana yang boleh dipakai hakim dan mana yang tidak boleh digunakan serta menentukan suatu cara bagaimana hakim dapat menggunakan alat-alat bukti serta menilai kekuatan pembuktian dari alat-alat bukti tersebut. Apabila alat-alat bukti tersebut telah digunakan secara sah sesuai yang ditetapkan oleh undang-undang, maka hakim harus menetapkannya dengan keadaan sah terbukti, walaupun mungkin bertolak belakang dengan keyakinan hakim sendiri sehingga hakim berkeyakinan bahwa yang harus dianggap terbukti itu tidak benar.

3) Teori Sistem Pembuktian Berdasarkan Keyakinan Hakim Dengan

Alasan yang Logis (Conviction Raisonnee).

Teori ini berpijak dan berpedoman pada keutamaan akan keyakinan hakim sebagai dasar utama dalam menghukum terdakwa dimana keyakinan hakim itu harus disertai dengan pertimbangan

commit to user

hukum yang nyata dan logis sehingga, dapat diterima dengan akal pikiran yang sehat dan rasional. ”Sistem pembuktian ini sering disebut dengan sistem pembuktian bebas” (Hari Sasangka dan Lily Rosita, 2003 : 16). Bebas ini dimaksudkan hakim dapat mempergunakan pemikirannya secara rasional sebagai suatu bentuk keyakinan dalam memutus dan menyelesaikan perkara yang ditanganinya tanpa tergantung oleh ketentuan hukum positif yang mengaturnya. Keyakinan tidak perlu didukung adanya alat bukti yang sah. Peranan keyakinan hakim sangat penting dan krusial.

Hakim dapat menyatakan menghukum atau bersalahnya seorang terdakwa apabila ia telah meyakini secara rasional bahwa perbuatan yang bersangkutan terbukti unsur-unsur deliknya. Keyakinan hakim lebih mempertimbangkan alasan-alasan yang didasari atas pemikiran atau logika. Hakim berkewajiban menguraikan, menjelaskan alasan-alasan yang mendasari keyakinannya dengan alasan-alasan yang dapat diterima secara akal dan bersifat yuridis atas kesalahan terdakwa (Syaiful Bakhri, 2009:41). Adanya alat bukti tertentu diatur dalam sistem ini, tetapi undang-undang tidak mengaturnya dan menetapkan secara eksplisit. Sistem ini berpangkal pada tolak pada keyakinan hakim, dan pada sistem pembuktian berdasarkan undang-undang secara negatif (Syaiful Bakhri, 2009:41).

4) Teori Sistem Pembuktian Menurut Undang-Undang Secara Negatif (Negatief Wettelijke Bewijstheorie).

Hakim hanya boleh menyatakan terdakwa bersalah apabila ia yakin dan keyakinan tersebut didasarkan kepada alat bukti yang sah menurut undang. Sistem pembuktian menurut undang-undang secara negatif merupakan suatu sistem keseimbangan antara sistem yang saling bertolak belakang secara ekstrim (M. Yahya Harahap, 2003 : 278). Sistem pembuktian ini merupakan penggabungan antara sistem pembuktian menurut undang-undang secara positif dengan sistem pembuktian berdasarkan keyakinan

commit to user

hakim belaka. Rumusan dari hasil penggabungan ini berbunyi salah

tidaknya seorang terdakwa ditentukan oleh keyakinan hakim

yang didasarkan kepada cara dan alat-alat bukti yang sah menurut undang-undang.

Sistem pembuktian negatif sangat mirip dengan sistem pembuktian conviction in time. Hakim dalam mengambil keputusan tentang salah atau tidaknya seorang terdakwa terikat oleh alat bukti yang ditentukan oleh undang-undang dan keyakinan (nurani) hakim sendiri. Alat bukti yang telah ditentukan undang-undang tidak bisa ditambah dengan alat bukti lain, serta berdasarkan alat bukti yang diajukan di persidangan seperti yang ditentukan oleh undang-undang belum bisa memaksa seorang hakim menyatakan terdakwa bersalah telah melakukan tindak pidana yang didakwakan (Hari Sasangka dan Lily Rosita, 2003 :16).

Mengenai teori sistem pembuktian yang dianut Indonesia dari keempat teori sistem pembuktian diatas, dapat dilihat dari dua ketentuan yaitu Pertama, ketentuan HIR, yang berlakunya sebelum disahkannya dan diundangkannya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 mengenai KUHAP. Ketentuan HIR yang mengatur mengenai sistem pembuktian ini terdapat Pasal 294 HIR, yang berbunyi sebagai berikut :

a) Tidak akan dijatuhkan hukuman kepada seorangpun jika hakim tidak mendapat keyakinan dengan upaya bukti menurut undang-undang bahwa benar telah terjadi perbuatan pidana dan bahwa pesakitan salah melakukan perbuatan itu.

b) Atas persangkaan saja atau bukti-bukti yang tidak cukup tidak seorangpun yang dapat dihukum

Berdasarkan pasal tersebut, dapat terlihat bahwa sistem

pembuktian yang dianut HIR adalah Negatief Wettelijke

Bewijstheorie. Kedua, ketentuan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana, yang merupakan peraturan pengganti HIR dan sampai

commit to user

saat ini masih berlaku. Dalam hukum acara pidana ketentuan KUHAP yang mengatur tentang sistem pembuktian dalam Pasal 183 KUHAP berbunyi : ”Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya”.

Dari Pasal 183 KUHAP tersebut dapat disimpulkan bahwa hukum acara pidana di Indonesia menggunakan teori sistem pembuktian menurutundang-undang yang negatif. Hal ini berarti tidak sebuah alat buktipun akan mewajibkan memidana terdakwa, jika hakim tidak sungguh-sungguh berkeyakinan atas kesalahan terdakwa. Begitupun sebaliknya jika keyakinan hakim tidak didukung dengan keberadaan alat-alat bukti yang sah menurut hukum, maka tidak cukup untuk menetapkan kesalahan terdakwa.

Dalam penjelasan Pasal 183 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana, dijelaskan bahwa syarat pembuktian menurut cara dan alat bukti yang sah, lebih ditekankan pada perumusan yang tertera dalam undang-undang, seseorang untuk dapat dinyatakan bersalah dan dapat dijatuhkan pidana kepadanya, apabila :

a) Kesalahannya terbukti dengan sekurang-kurangnya dua alat

bukti;

b) Dan dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah

tersebut, hakim akan ”memperoleh keyakinan” bahwa tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukan suatu tindak pidana.

Keyakinan hakim hanyalah sebagai pelengkap. Tidak dibenarkan menjatuhkan hukuman kepada terdakwa yang kesalahannya tidak terbukti secara sah berdasarkan ketentuan perundangan yang berlaku,

commit to user

kemudian keterbuktiannya itu digabung dan didukung dengan keyakinan hakim.

Dalam praktik keyakinan hakim itu bisa saja dikesampingkan apabila keyakinan hakim tersebut tidak dilandasi oleh suatu pembuktian yang cukup. Keyakinan hakim tersebut dianggap tidak mempunyai nilai apabila tidak dibarengi oleh pembuktian yang cukup. Sistem pembuktian yang dianut dalam Pasal 183 KUHAP dalam praktik penegakan hukum lebih cenderung pada pendekatan sistem pembuktian menurut undang-undang secara positif.

b. Alat Bukti yang Sah Menurut KUHAP

Alat-alat bukti yang sah, adalah alat-alat yang ada hubungannya dengan suatu tindak pidana, dimana alat-alat tersebut dapat dipergunakan sebagai bahan pembuktian, guna menimbulkan keyakinan bagi hakim, atas kebenaran adanya suatu tindak pidana yang telah dilakukan oleh terdakwa (Darwan Prinst, 1998 : 135). Yang dimaksud dengan alat bukti adalah segala sesuatu yang ada hubungannya dengan suatu perbuatan, dimana dengan alat-alat bukti tersebut, dapat dipergunakan sebagai bahan pembuktian guna menimbulkan keyakinan hakim atas kebenaran adanya suatu tindak pidana yang telah dilakukan terdakwa (Hari Sasangka dan Lily Rosita, 2003 : 11).

Alat bukti memiliki peranan yang sangat penting di dalam proses pembuktian perkara pidana di persidangan. Pasal 184 ayat (1) KUHAP telah menentukan secara limitatif alat bukti yang sah menurut undang-undang (Syaiful Bakhri, 2009:46). Di luar alat bukti itu, tidak dibenarkan dipergunakan untuk membuktikan kesalahan terdakwa (Syaiful Bakhri, 2009:46). Ketua sidang, penuntut umum, terdakwa atau penasihat hukum, terikat dan terbatas hanya diperbolehkan mempergunakan alat-alat bukti itu saja (Syaiful Bakhri, 2009:46). Mereka tidak leluasa mempergunakan alat bukti yang dikehendakinya di luar alat bukti yang

commit to user

ditentukan Pasal 184 ayat (1) (Syaiful Bakhri, 2009:46). Pembuktian dengan alat bukti di luar jenis alat bukti yang disebut pada Pasal 184 ayat (1) KUHAP, tidak mempunyai nilai serta tidak mempunyai kekuatan pembuktian yang mengikat (M. Yahya Harahap, 2003 : 285).

Alat-alat bukti yang sah diatur dalam Pasal 184 ayat (1) KUHAP dan berikut ini adalah uraian mengenai jenis-jenis alat bukti yang sah menurut KUHAP :

1) Keterangan saksi

Pengertian saksi menurut Pasal 1 angka 26 KUHAP ysng menyatakan bahwa : “Saksi adalah orang yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyidikan, penuntutan dan peradilan tentang suatu perkara yang ia dengar, ia lihat dan ia alami sendiri”.

Berdasarkan Pasal 1 angka 27 KUHAP yang menyatakan pengertian keterangan saksi yaitu : “Keterangan saksi adalah salah satu alat bukti dalam perkara pidana yang berupa keterangan dari saksi mengenai suatu peristiwa pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri, dan ia alami sendiri dengan menyebut alasan dari pengetahuannya itu”.

Ditinjau dari segi nilai dan kekuatan pembuktian atau ”the

degree of evidance” keterangan saksi, mempunyai nilai kekuatan

pembuktian, beberapa pokok ketentuan yang harus dipenuhi oleh seorang saksi, sebagai alat bukti yang memiliki nilai kekuatan pembuktian, harus dipenuhi aturan ketentuan yakni harus mengucapkan sumpah atau janji (Pasal 160 ayat (3), dan Pasal 160 ayat (4) KUHAP), harus sesuai dengan dilihat, alami sediri, dan dengar (Pasal 1 ayat 27 dihubungkan dengan penjelasan Pasal 185 ayat (1) KUHAP), dan diberikan disidang pengadilan (Syaiful Bakhri, 2009:48). Syarat-syarat tersebut dapat kita lihat pada Putusan

commit to user

Pengadilan Tinggi Medan yang telah dikuatkan MARI No. 11 K/Pid/1982.

Secara global dalam praktik asasnya kerap dijumpai adanya beberapa jenis saksi, yaitu:

a) Saksi A Charge (memberatkan Terdakwa) dan Saksi A De

Charge (meringankan Terdakwa)

b) Saksi Mahkota/Kroon Geutige/Witness Crone

Secara Normatif dalam KUHAP tidak mengatur mengenai saksi jenis ini. Saksi mahkota adalah saksi yang diambil dari salah seorang tersangka/terdakwa karena kurangnya alat bukti (Syaiful Bakhri, 2009:60).

2) Keterangan Ahli

Pasal 1 angka 28 KUHAP yang menyatakan pengertian keterangan ahli yaitu : “Keterangan ahli adalah keterangan yang diberikan oleh seseorang yang memiliki keahlian khusus tentang hal yang diperlukan untuk membuat terang suatu perkara pidana guna kepentingan pemeriksaan”.

Keterangan ahli berbeda dengan keterangan saksi, tetapi sulit pula dibedakan secara tegas. Kadang-kadang seorang ahli merangkap sebagai seorang saksi itu berbeda. Keterangan saksi adalah mengenai apa yang dialami oleh saksi itu sendiri. Sedangkan keterangan ahli adalah mengenai suatu penilaian mengenai hal-hal yang sudah nyata ada dan pengambilan kesimpulan mengenai hal-hal tersebut (Andi Hamzah, 2001 : 269).

Dari keterangan Pasal 1 butir 28 KUHAP, maka lebih jelas lagi bahwa keterangan ahli dituntut suatu pendidikan formal tertentu, tetapi juga meliputi seorang yang ahli dan berpengalaman dalam suatu bidang dengan pendidikan khusus.

commit to user

KUHAP membedakan keterangan seorang ahli di pengadilan sebagai alat bukti ”keterangan ahli” (Pasal 186 KUHAP) dan keterangan ahli secara tertulis di luar sidang pengadilan sebagai alat bukti ”surat”. Apabila keterangan diberikan pada waktru pemeriksaan oleh penyidik atau penuntut umum, yang dituangkan dalam suatu bentuk laporan, dan dibuat dengan mengingat sumpah sewaktu ia menerima jabatan atau pekerjaan, maka keterangan ahli tersebut sebagai alat bukti surat. Misalnya mengenai penggunaan visum et repertum maupun rekam medik yang dibuat oleh dokter.

3) Surat

Mengenai alat bukti surat diatur dalam Pasal 187 KUHAP yang menyatakan bahwa surat sebagaimana tersebut dalam Pasal 184 ayat (1) huruf c KUHAP, dibuat atas sumpah jabatan atau dikuatkan dengan sumpah, adalah :

a) ”Berita acara dan surat lain dalam bentuk resmi yang dibuat oleh pejabat umum yang berwenang dan yang memuat keterangan tentang kejadian atau keadaan yang didengar, dilihat atau yang dialaminya sendiri;

b) Surat yang dibuat menurut ketentuan peraturan perundang-undangan atau yang dibuat oleh pejabat mengenai hal yang termasuk dalam tata laksana yang menjadi tanggung jawabnya; c) Surat keterangan dari seorang ahli yang membuat pendapat

berdasarkan keahliannya;

d) Surat lain yang hanya dapat berlaku jika ada hubungannya dengan isi dari alat pembuktian yang lain”.

Sebagai bagian dari alat bukti dalam pembuktian, maka perkembangan alat bukti surat ini, berkembang sesuai dengan kemajuan teknologi, dengan diterimanya beberapa alat bukti surat elektronik, e-mail, sms, dan sebagainya (Syaiful Bakhri, 2009:64)

R. Soesilo dalam KUHAP memberikan komentar mengenai alat bukti surat ini (Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana, 1997:166), bahwa Pasal 187 membedakan atas empat macam surat itu yaitu :

commit to user

(1) berita acara dan surat lain yang dibuat oleh pejabat umum yang berwenang atau yang dibuat dihadapannya, yang memuat keterangan tentang kejadian atau keadaan yang didengar, dilihat atau dialaminya sendiri, disertai dengan alasan tentang keterangan ini;

(2) surat yang dibuat menurut peraturan undang-undang atau surat yang dibuat oleh pejabat mengenai hal yang termasuk dalam tatalaksana yang menjadi tanggung jawabnya dan yang diperuntukkan bagi pembuktian sesuatu hal atau keadaan (3) surat lain yang hanya berlaku jika ada hubungannya dengan isi dari alat pembuktian lain.

Berkaitan dengan Berita Acara Pemeriksaan adalah merupakan berita acara penyidikan dan lampiran-lampiran yang bersangkutan, dijilid menjadi satu berkas oleh penyidik (M. Yahya Harahap, 2003 : 356).

Setelah itu, pendapat dari R. Soesilo tersebut dikaitkan dengan pengertian Berita Acara Pemeriksaan sebelumnya, maka ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa Berita Acara Pemeriksaan adalah merupakan alat bukti surat. Hal ini senada pada pendapat Jaksa penuntut umum pada kasus terdakwa kompol Arafat Enani mengatakan bahwa Berita Acara Pemeriksaan adalah merupakan alat bukti surat ( Anonim. Jaksa Bersikukuh BAP Sebagai Alat Bukti. Diakses dari Http://www.jurnas.Com/news/l pada hari rabu 20 april 2011 pukul 20.38 wib).

4) Petunjuk

Dalam Pasal 188 ayat (1) KUHAP menyatakan bahwa : ”Petunjuk adalah perbuatan, kejadian atau keadaan, yang karena persesuaiannya, baik antara yang satu dengan yang lain, maupun dengan tindak pidana itu sendiri, menandakan bahwa telah terjadi suatu tindak pidana dan siapa pelakunya”.

commit to user

Dalam Pasal 188 ayat (2) KUHAP disebutkan bahwa :”Petunjuk sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya dapat diperoleh dari :keterangan saksi, surat, keterangan terdakwa”.

Mengenai penilaian atas kekuatan pembuktian dari suatu petunjuk dalam setiap keadaan tertentu dilakukan oleh hakim dengan arif dan bijaksana, dan penuh kecermatan berdasrkan hati nuraninya, sebagaimana diatur pada Pasal 188 ayat (3), sehingga hakim sedapat mungkin menghindari penggunaan alat bukti petunjuk dalam penilaian pembuktian kesalahan terdakwa, sehingga dengan sengat penting dan mendesak saja alat bukti petunjuk dipergunakan setelah ia melakukan pemeriksaan dengan cermat dan teliti (Syaiful Bakhri, 2009:65). Pengamatan hakim dapat dijadikan sebagai alat bukti.

Dokumen terkait