• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PERKAWINAN ENDOGAMI,

A. Tinjauan Umum tentang Perkawinan Endogami

Perkawinan bagi manusia adalah sesuatu yang sakral serta memiliki tujuan yangsakral juga, dan tidak terlepas dari ketentuan-ketentuan yang ditetapkan oleh syariat agama. Orang yang melangsungkan sebuah perkawinan bukan semata-mata untuk memuaskan nafsu birahi saja, melainkan sebagai wujud ibadah serta untuk mencapai ketenangan, ketentraman, dan sikap saling mengayomi diantara suami istri dengan dilandasi cinta dan kasih sayang (Asnawi, 2004 : 4).

Menurut Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 Tentang Perkawinan, Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa (Pasal 1 UU No 1 Tahun 1974). Disamping itu, perkawinan juga untuk menjalin tali persaudaraan di antara dua keluarga dari pihak suami dan pihak istri dengan berlandaskan pada etika dan estetika yang bernuansa ukhuwah islamiyah.

Perkawinan bertujuan membentuk keluarga yang bahagia dan kekal guna memperoleh keturunan yang sah seperti diatur dalam ayat-ayat Al Quran maupun As Sunnah, membentuk rumah tangga yang berbasis pada kasih sayang dan cinta sehingga mampu memberikan spirit dalam menumbuhkan semangat untuk meningkatkan pendapatan berupa rezeki yang halal dan memperbesar rasa tanggung jawab. Dalam mencapai tujuan tersebut, suami istri perlu saling membantu dan melengkapi agar masing-masing dapat mengembangkan kepribadian dalam mencapai kesejahteraan spiritual dan material.

Banyak kalangan masyarakat menilai dan menempatkan perkawinan hanya sebagai simbol agar tidak dipandang kotor secara sosiologis, sehingga tujuan dari perkawinan itu sendiri tidak dapat terwujud pada haqiqinya. Ikatan perkawinan merupakan unsur pokok dalam pembentukan keluarga yang harmonis dan penuh rasa cinta kasih, maka dalam pelaksanaannya diperlukan norma hukum yang mengaturnya. Penerapan norma hukum dalam pelaksanaan perkawinan terutama diperlukan dalam mengatur hak, kewajiban, dan tanggung jawab masing-masing anggota keluarga guna membenuk rumah tangga yang bahagia dan sejahtera.

Menurut Bachtiar (2004), Definisi Perkawinan adalah pintu bagi bertemunya dua hati dalam naungan pergaulan hidup yang berlangsung dalam jangka waktu yang lama, yang di dalamnya terdapat berbagai hak dan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh masing-masing pihak untuk

mendapatkan kehidupan yang layak, bahagia, harmonis, serta mendapat keturunan. Perkawinan itu merupakan ikatan yang kuat yang didasari oleh perasaan cinta yang sangat mendalam dari masing-masing pihak untuk hidup bergaul guna memelihara kelangsungan manusia di bumi.

Menurut Kartono (1992), Pengertian perkawinan merupakan suatu institusi sosial yang diakui disetiap kebudayaan atau masyarakat. Sekalipun makna perkawinan berbeda-beda, tetapi praktek-prakteknya perkawinan dihampir semua kebudayaan cenderung sama perkawinan menunujukkan pada suatu peristiwa saat sepasang calon suami-istri dipertemukan secara formal dihadapan ketua agama, para saksi, dan sejumlah hadirin untuk kemudian disahkan secara resmi dengan upacara dan ritual-ritual tertentu.

Allah SWT. berfirman :

ُِۡإَٗ

ًِف اُ٘طِسۡقُذ َّلََّأ ٌُۡرۡفِخ

ٱ ۡى

ىََ َرٍَ

َف

ٱ

اُ٘حِنّ

ٍَِِّ ٌُنَى َباَط اٍَ

ٱ

ِءَٰٓاَسِّْى

ىَْۡصٍَ

َلِى َر ٌُْۚۡنُْ ٌَََۡأ ۡدَنَيٍَ اٍَ َۡٗأ ًجَذِح ََ٘ف اُ٘ىِذ ۡعَذ َّلََّأ ٌُۡرۡفِخ ُِۡئَف ََۖع َتُسَٗ َس َيُشَٗ

اُ٘ىُ٘عَذ َّلََّأ َٰٓ ىَّ ۡدَأ

١

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih

dekat kepada tidak berbuat aniaya” (Q.S An Nisa : 3)

Ayat ini memerintahkan kepada orang laki-laki yang sudah mampu untuk melaksanakan nikah. Adapun yang dimaksud adil dalam ayat ini

adalah adil di dalam memberikan kepada istri berupa pakaian, tempat, giliran dan lain-lain yang bersifat lahiriah.

Pernikahan dalam islam memiliki beberapa syarat dan rukun yang harus dipenuhi agar pernikahan tersebut sah hukumnya di mata agama. Diantara syarat-syarat akad nikah dan rukun yang harus dipenuhi dalam sebuah pernikahan ialah :

a. Rukun Nikah

1) Calon mempelai laki-laki dan perempuan 2) Wali dari pihak mempelai perempuan 3) Dua orang saksi

4) Ijab kabul b. Syarat Nikah

1) Calon suami 2) Calon istri 3) Wali nikah

4) Saksi nikah dalam perkawinan 5) Ijab qobul

Tujuan perkawinan menurut Agama Islam ialah untuk memenuhi petunjuk agama dalam rangka mendirikan keluarga yang harmonis, sejahtera dan bahagia serta menciptakan generasi yang senantiasa beriman kepada Allah SWT. Menurut Ghazali (2003 : 24), tujuan pernikahan itu sendiri dapat dikembangkan menjadi lima yaitu:

b. Memenuhi hajat manusia untuk menyalurkan syahwatnya dan menumpahkan kasih sayangnya.

c. Memenuhi panggilan agama, memelihara diri dari kejahatan dan kerusakan.

d. Menumbuhkan kesungguhan untuk bertanggung jawab menerima hak serta kewajiban, juga bersungguh-sungguh untuk memperoleh harta kekayaan yang halal.

2. Pengertian Perkawinan Endogami

Dalam hukum perkawinan Islam dikenal sebuah asas yang disebut selektivitas. Artinya, seseorang ketika hendak melangsungkan perkawinan terlebih dahulu harus menyeleksi dengan seseorang yang boleh ia menikah dan dengan seseorang yang ia terlarang untuk menikah. Hal ini untuk menjaga agar perkawinan yang dilangsungkan tidak melanggar aturan-aturan yang ada.

Perkawinan endogami adalah suatu sistem perkawinan yang mengharuskan kawin dengan pasangan hidup yang etnis, klan, suku, kekerabatan dalam lingkungan yang sama dengannya atau melarang seseorang melangsungkan perkawinan dengan orang yang berasal dari etnis, klan, suku, kekerabatan dalam lingkungan yang bebeda (Hadikusuma, 1990 : 90).

Goode (2007 : 134) menyatakan bahwa perkawinan endogami adalah suatu bentuk perkawinan yang berlaku dalam masyarakat yang hanya memperbolehkan anggota masyarakat melakukan perkawinan

dengan anggota lain dari golongan sendiri. Sunarto (2004 : 104) menyatakan pekawinan endogami adalah perkawinan dengan anggota dalam kelompok yang sama. Ada bermacam-macam jenis endogami seperti endogami ras agama maupun suku. Adapun maksud dari perkawinan endogami adalah untuk menjaga laki-laki sebagai suami tetap diam dalam ras atau sukunya. Mungkin juga untuk menjaga kemurnian darah dari golongan itu sendiri.

Dokumen terkait