TINJAUAN PUSTAKA
A. Umum
Banjir rancangan adalah besarnya debit banjir yang ditetapkan sebagai dasar
penentuan dan mendimensi bangunan bangunan hidraulik (termasuk bangunan
sungai), sedemikian sehingga kerusakan yang ditimbulkan baik langsung maupun
tidak langsung oleh banjir tidak boleh terjadi selama besaran banjir tidak terlampau
(Sri Harto, 1993). Banjir rancangan ini dapat berupa debit puncak, volume banjir,
ataupun hidrograf banjir. Debit andalan merupakan informasi menyangkut jumlah
ketersediaan air yang dimananfaatkan dengan tingkat resiko tertentu sesuai dengan
tetapan rancangan. Seringkali sebuah bangunan air memerlukan kedua besar
rancangan tersebut untuk kebutuhan desain bangunan maupun penetapan pola
operasi pengggunaan air secara optimal. Untuk masalah debit andalan. Besarnya
banjir rancangan dinyatakan dalam debit banjir sungai dengan kala ulang tertentu.
Kala ulang debit adalah suatu kurun waktu berulang dimana debit yang terjadi
menyamai atau melampaui besarnya debit yang ditetapkan (debit banjir rancangan).
Debit banjir rancangan adalah debit terbesar yang mungkin terjadi pada
sungai bersangkutan. Ada beberapa metode untuk memperkirakan debit banjir.
Metode yang dipakai pada suatu lokasi lebih banyak ditentukan oleh ketersediaan
data. Metode yang umum digunakan adalah metode hidrograf banjir dan metode
rasional (Suripin, 2003). Dalam menentukan debit banjir rancangan maka di
7
2) aliran antara, 3) aliran air tanah, 4) limpasan langsung (direct run off), 5)
karesteristik DAS (Wilson,1993) serta curah hujan efektif dalam suatu DAS.
Aliran dasar (base flow/direct runoff) adalah bagian air hujan yang mengalir dalam bentuk lapisan tipis diatas permukaan tanah. Aliran permukaan disebut juga
dengan aliran langsung. Aliran permukaan dapat terkonsentrasi menuju sungai dalam
waktu yang singkat, sehingga aliran permukaan merupakan peneyebab terjadinya
banjir. Sedangkan aliran antara (interflow) adalah aliran dalam arah lateral yang
terjadi di bawah permukaan tanah. Aliran antara terdiri dari gerakan air dan lengas
tanah secara lateral menuju elevasi yang lebih rendah, yang akhirnya masuk ke
sungai. Proses aliran antara lebih lambat dari aliran permukaan, dengan tingkat
keterlambatan dari beberapa jam sampai hari. Aliran air tanah sendiri adalah aliran
yang terjadi di bawah permukaan air tanah ke elevasi yang lebih rendah yang menuju
ke sungai atau langsung ke laut. Dari beberapa penjelasan di atas merupakan
komponen yang terwakili dalam ilmu Hidrologi yang lazim disebut Hidrograf
Satuan.
Hidrograf adalah kurva yang dapat memberi hubungan antara paramater
aliran dan waktu. Parameter tersebut berupa kedalaman aliran (elevasi) atau debit
aliran, sehingga terdapat dua macam hidrograf yaitu hidrograf muka air dan
hidrograf debit. Hidrograf muka air dapat di transformasikan menggunakan rating
curve. Rating curve merupakan persamaan garis yang menunjukkan hubungan antara tinggi muka air sungai (m) dengan besarnya debit aliran (Q), sehingga debit dapat
diduga melalui ukuran tinggi muka air. Banyak pengukuran debit sungai yang dibuat
8
B. Hidrograf
Hidrograf digambarkan sebagai penyajian garis antara salah satu unsur aliran
dengan waktu (Sri Harto, 1993). Sedangkan hidrograf limpasan didefenisikan grafik
yang kontinyu yang menunjukkan sifat-sifat dan aliran sungai berkaitan dengan
waktu (Viessman, 1989).
Hidrograf memberi gambaran mengenai berbagai kondisi (karakteristik) yang
ada di DAS secara bersama sama, dan apabila karesteristik DAS berubah maka akan
menyebabkan perubahan untuk hidrograf (Sosrodarsono dan Takeda, 1983).
Hidrograf juga menunjukkan tanggapan menyeluruh DAS terhadap masukan
tertentu. Sesuai dengan sifat dan prilaku DAS yang bersangkutan, hidrograf aliran
selalu berubah sesuai dengan besaran dan waktu terjadinya masukan (Sri Harto,
1993)
Linsley (1982) menyatakan terdapat tiga komponen penyusun hidrograf,
yaitu: Pertama aliran diatas tanah (over flow, surface runoff), ialah air yang dalam
perjalanan menuju saluran melalui permukaan tanah. Kedua, aliran bawah
permukaan (inrectflow / subsurvace stom flow), ialah sebagain air yang memasuki
permukaan tanah dan bergerak ke samping melalui lapisan atas tanah sampai saluran
sungai. Kecepatan pergerakan aliran permukaan ini lebih lambat dibandingkan
dengan aliran permukaan. Ketiga, aliran air tanah (groundwater flow) yang disebut
juga sebagai aliran dasar.
C. Komponen Hidrograf
Bentuk hidrograf pada umumnya sangat dipengaruhi oleh sifat hujan yang
9
Viessman 1989). Seyhan (1997) mengemukakan bahwa hidrograf periode pendek
terdiri atas cabang naik, puncak (maksimum) dan cabang turun, sedangkan bentuk
hidrograf jangka panjang dibedakan menjadi tiga yaitu hidrograf bergigi, hidrograf
halus dan hirograf yang di tunjukkan oleh sungai-sungai besar ( Ward 1967,
mengacu pada seyhan 1977).
Bambang Triadmojo (2008) membagi hidrograf menjadi tiga komponen,
diantaranya yaitu sisi naik (rising limb). Sisi naik (rising limb) adalah bagian antara
waktu nol dan waktu puncak. Sisi turun (recession limb) adalah bagian hidograf yang
menurun antara waktu puncak dan waktu dasar. Waktu dasar (time base) adalah
waktu yang diukur dari waktu nol sampai dimana sisi turun berakhir. Selain itu
komponen hirograf dapat ditandai dengan tiga komponen sifat pokoknya, yaitu naik
(time of rise), debit puncak (peak discharger) dan waktu dasar (base time).
Karakter kontribusi air tanah pada aliran sangat berbeda pada limpasan
permukaan, maka kontrubisi air tanah harus dianalisa secara terpisah, oleh karena itu
salah satu syarat utama dalam analisa hidrograf ialah memisahkan kedua hal tersebut
(Wilson, 1990).
10
D. Hidrograf Satuan
Sherman (1932), mengenalkan konsep hidrograf satuan, yang banyak
digunakan untuk melakukan transformasi dari hujan menjadi debit aliran. hidrograf
satuan didefenisikan sebagi hidrograf limpasan (tanpa aliran dasar) yang tercatat di
ujung hili DAS yang ditimbulkan oleh hujan efektif sebesar 1 mm yang terjadi secara
merata di permukaan DAS dengan intensitas tetap dalam suatu durasi tertentu.
Menurut Bambang Triadmojo (2008), metode hidrograf satuan banyak
digunakan untuk memperkirakan banjir rancangan. Metode ini relatif sederhana,
mudah dalam penerapannya, tidak memerlukan data yang kompleks dan memberikan
hasil rancangan yang cukup teliti. Data yang diperlukan untuk menurunkan hidrograf
satuan terukur di DAS yang ditinjau adalah data hujan otomatis dan pecatatan debit
di titik kontrol.
Beberapa anggapan dalam penggunaan hidrograf satuan adalah sebagai
berikut :
1. Hujan efektif mempunyai intensitas konstan selama durasi hujan efektif. untuk
memenuhi tanggapan ini maka hujan deras yang dipilih untuk memenuhi analisis
adalah hujan dengan durasi singkat.
2. Hujan efektif terdistribusi secara merata pada seluruh Daerah Aliran Sungai
(DAS). Dengan anggapan ini maka hidrograf satuan tidak berlaku untuk Daerah
Aliran Sungai (DAS) yang sangat luas, karena sulit untuk mendapatkan hujan
merata diseluruh DAS. Penggunaan pada DAS yang sangat luas dapat dilakukan
dengan membagi DAS menajdi sub DAS, dan pada setiap DAS dilakukan
11
Bambang Triadmojo (2008), berpendapat dari data hujan dan hidrograf
limpasan langsung yang tercatat setiap interval waktu tertentu (misalnya tiap jam),
selanjutnya dilakukan pemilihan data untuk analisis selanjutnya. Untuk penurunan
hidrograf satuan, dipilih kasus banjir dengan kriteria berikut ini.
1. Hidrograf banjir berpuncak tunggal, hal ini dimaksud untuk mempermudah
analisis.
2. Hujan penyebab banjir terjadi merata di seluruh DAS, hal ini dipilih untuk
memenuhi kriteria teori hidrograf satuan.
3. Dipilih kasus banjir dengan debit puncak yang relatif cukup besar.
Berdasarkan kriteria tersebut maka akan terdapat beberapa kasus banjir.
Untuk masing–masing kasus banjir diturunkan hidrograf satuannya. Hidrograf satuan
yang dianggap mewakli DAS yang ditinjau adalah hidrograf satuan rerata yang
diperoleh dari kasus banjir tersebut.
Made Kamiana (2011), menyatakan bahwa hidrograf satuan dapat
dipergunakan antara lain untuk:
1. Memperkirakan banjir rencana pada suatu DAS atau sub-DAS.
2. Menurunkan hidrograf satuan DAS atau sub-DAS lain khususnya mempunyai
kemiripan karakter.
3. Penggunaaan hidrograf satuan harus memperhatikan luas DAS atau sub-
DAS.
4. Dalam Linsley (1989) dijelaskan bahwa penggunaan hidrograf satuan tidak
boleh lebih dari 5000 km, keculai diperkenankan pengurangan akurasi. Dalam
12
untuk luas DAS 30 s/d 30.0000 km.
E. Penurunan Hidrograf Satuan
Bambang Triadmojo (2008), berpendapat untuk menurunkan hidrograf satuan
diperlukan data hujan dan debit aliran berkaitan. Prosedur penurunan hidrograf
satuan adalah sebagai berikut ini :
Gambar 2: Pemisahan Aliran Dasar
1. Memisahkan aliran dasar dari hidrograf limpasan langsung
Ada beberapa metode dalam pemisahan aliran dasar diantaranya:
a. Cara paling sederhana adalah dengan menarik garis lurus dari titik dimana
aliran langsung mulai terjadi (A) samapai akhir dari aliran langsung (B).
Apabila titik tidak diketahui, maka garis horizontal dari titik (A).
b. Cara kedua adalah membuat garis yang merupakan perpanjangan /
kelanjutan dari aliran dasar sampai titik (C) yang berada di bawah puncak
hidrograf. Dari titik (C) kemudian ditarik garis lurus menuju titik (D) yang
berada pada sisi turun yang berjarak (N) hari sesudah puncak. Nilai (N)
dihitung dengan rumus berikut:
13
Dengan : N: Waktu (hari)
A: Luas DAS ( )
c. Cara ketiga adalah menarik kurva resesi ke belakang yang berawal dari titik
aliran langsung (B) sampai ke titik (E) dibawa titik balik. Hubungkan titik
(A) dengan garis lurus atau kurva sembarang.
Perbedaan nilai aliran dasar karena penggunaan beberapa cara tersebut
relatif kecil dibanding dengan volume hidrograf limpasan langsung.
2. Dalam penurunan hidrograf satuan yaitu, menghitung luasan dibawah hidrograf
limpasan langsung yang merupakan volume aliran permukaan. Volume aliran
tersebut dikonversi menjadi kedalaman aliran diseluruh DAS.
3. Ordinat dari hidrograf limpasan langsung dibagi dengan kedalaman aliran, yang
menghasilkan hidrograf satuan dengan durasi sama dengan durasi hujan.
4. Menetapkan hujan efektif untuk memperoleh hidrograf dilakukan dengan
menggunakan indeks-infiltrasi. Perkiraan dilakukan dengan cara
mempertimbangkan pengaruh parameter DAS yang secara hidrologi dapat
diketahui pengaruhnya terhadap indeks-infiltrasi. Persamaan pendekatannya
sebagai berikut :
ɸ=10,4003-3,859. +1,6985. (A/SN ...(2) Untuk memperkirakan aliran dasar digunakan persamaan pendekatan berikut
ini :
ǪB=0,4751 ( /dtc)...(3)
Sedangkan dalam menetapkan hujan rata-rata DAS, perlu mengikuti cara-
14
menggunakan cara yang mengalikan hujan titik dengan faktor reduksi hujan, sebesar:
B=1,5518 ...(4) Berdasarkan persamaan di atas maka dapat dihitung besar debit banjir setiap jam
dengan persamaan :
Ǫp=(Ǫt*Re) + ǪB ( /dtc)...(5)
Dimana :
Qp = debit banjir setiap jam (m3/dtk)
Qt = debit satuan tiap jam (m3/dtk)
Re = curah hujan efektif (mm/jam)
QB = aliran dasar (m3/dtk)
F. Hidrograf SatuanPengamatan Metode Collins
Hidrograf satuan yang dihitung dari suatu kasus banjir belum merupakan
hidrograf yang mewakili DAS yang bersangkutan. Oleh sebab itu diperlukan
hidrograf satuan yang diturunkan dari sebuah kasus banjir, kemudian dirata-rata.
Namun tidak ada petunjuk tentang berapa jumlah kasus banjir yang diperlukan untuk
memperoleh hidrograf satuan ini.
Hidrograf satuan pengamatan merupakan hidrograf yang menggambarkan
rangkaian kejadian curah hujan yang hanya menghasilkan satu curah hujan efektif
dalam satuan waktu, yang dapat diturunkan dari data hujan terpisah dengan intensitas
merata atau hujan periode tunggal. Namun demikian, hal tersebut sangat jarang
terjadi, yang banyak terjadi adalah hujan dengan periode kompleks, yaitu curah
15
Dalam analisis hidrograf pada DAS Maros Sub Das Maros-Tompobulu, perlu
dipilih kasus yang menguntungkan yaitu dipilih hidrograf yang terpisah (iso lated)
dan mempunyai satu puncak (single peak) serta mempunyai hujan yang cukup dan
pencatatan distribusi hujan jam-jaman. Syarat tersebut dimaksud untuk
mempermudah perhitungan. Sedangkan untuk mendapat hidrograf satuan
pengamatan, dilakukan dengan cara analisis numerik, salah satunya adalah metode
Collins.
Sebenarnya dalam penentuan hidrograf banyak cara analisis yang bisa
digunakan. Algoritme yang mungkin digunakan adalah cara persamaan Polynomial,
Collins (successive approximation) dan cara Matriks. Ketiga cara tersebut
menggunakan prinsip sama, yaitu mencari hidrograf aliran langsung (direct runoff)
akibat hujan efektif (hujan yang telah dikurangi losses) merata di DAS dengan durasi
dan tinggi / kedalaman tertentu (satu satuan, missal 1 mm/jam). Namun study yang
diangkat dalam penelitian ini adalah cara analisis metode Collins.
Jika data observasi (hidrograf pengamatan) salah, akan mengakibatkan
pencatatan hujan salah. Jika hal tersebut terjadi, berarti teori hidrograf satuan tidak
mencerminkan karesteristik DAS yang bersangkutan dan hidrograf satuan tidak bisa
dianggap mewakili DAS tersebut. Metode Collins merupakan cara untuk
mendapatkan hidrogaf satuan pengamatan dengan data hujan periode kompleks.
Adapun tahapan penentuan hidrograf satuan dengan metode Collins dalam
analisis banjir rancangan pada DAS Maros Sub Das Maros-Tompobulu di
16
1. Memilih data hujan jam-jaman otomatis dan hidrograf aliran terukur di DAS
Maros
2. Memisahkan aliran dasar dan hidrograf limpasan langsung (HLL) dengan
metode strigh line
3. Menetapkan nilai hujan efektif dengan metode indeks infiltrasi ( ɸ indeks )
4. Menetapkan sebuah hidrograf satuan perkiraan awal dengan menetapkan
ordinat-ordinatnya dengan besaran tertentu (UH-1).
5. Menentukan hidrograf limpasan langsung akibat hujan efektif jam-jaman kecuali
untuk hujan terbesar.
6. Jumlahkan semua hidrograf limpasan langsung (HLL) ini dan hasilnya
dikurangkan dengan hidrograf langsung terukur. Selisih hidrograf limpasan
langsung yang didapatkan dibagi dengan hujan efektif jam-jaman yang
maksimum. Hasilnya adalah hidrograf satuan baru (UH-2).
7. Hitung rerata UH-1 dan UH-2 sebagai UH-3 dan amati apakah cukup dekat
dengan UH-1.
8. Apabila masih belum cukup dekat, ulangi langkah (4) sampai dengan langkah
(7) dengan mengambil UH-3 sebagai hidrograf satuan perkiraan awal yang baru.
Prosedur ini diulangi sampai didapatkan hasil UH-3 yang cukup dekat dengan
UH-1.
Berdasarkan hasil perhitungan hidrograf satuan pengamatan, kemudian diukur
besaran Qp, Tp, dan Tb, kemudian dirata-ratakan. Pada hujan kompleks (bukan
hujan tunggal), penurunan sebaiknya di-kerjakan dengan metode Collins untuk
17
G. Hidrograf Satuan Sintesis
Bambang Triadmojo (2008), menurutnya jika di daerah dimana ketersedian
data hidrologi tidak tersedia untuk menurunkan hidrograf satuan, maka dibuat
hidrograf satuan sintesis yang didasarkan pada karesteristik fisik dari DAS. Beberapa
metode dapat digunakan dalam penurunan hidrograf satuan sintesis seperti Snyder,
SCS, Gama 1, Nakayasu, ITB1, ITB2, Limantara dan beberapa metode temuan
lainnya.
Soemarto (1987), berpendapat dalam teori klasik tentang hidrograf satuan
merupakan penerapan dari sistem linear dalam bidang hidrologi.
Keempat dalil tersebut adalah sebagai berikut :
1. Prinsip merata adalah hidrograf satuan ditimbulakan oleh satuan hujan lebih
yang terjadi secara merata di seluruh DAS, selama waktu yang ditetapkan.
2. Prinsip waktu dasar konstan dalam suatu DAS adalah hidrograf satuan yang
dihasilkan oleh hujan efektif dalam waktu yang sama akan mempunyai waktu
dasar, tanpa melihat insensitas hujan.
3. Prinsip linearitas adalah besaran limpasan langsung pada suatu DAS
berbanding lurus terhadap tebal hujan efektif, yang berlaku bagi semua hujan
dengan waktu yang sama.
4. Prinsip super posisi adalah total hidrograf limpasan langsung yang disebabkan
oleh beberapa kajian hujan yang terpisah merupakan penjumlahan dari tiap tiap
hidrograf satuan, berikut gambar dibawah ini.
18
Sebagai subject study pendukung penelitian, maka salah satu metode yang
akan digunakan sebagai pembanding adalah hidrograf satuan sintesis metode
Snyder.
Hidrograf satuan sintesis (HSS) Snyder pertama kali dikembangkan oleh
Snyder (1938) di Amerika Serikat. Snyder mengembangkan rumus empiris dengan
koefesien-koefesien yang menghubungkan unsur unusur hidrograf satuan dengan
karesteristik daerah pengaliran. Pendekatan asli yang dikemukakan oleh Snyder
dengan memelih empat paramater yaitu waktu keterlambatan, aliran puncak, waktu
dasar dan durasi standar dari hujan efektif untuk hidrograf satuan dikaitkan dengan
geometri fisik dari DAS dengan hubungan berikut ini (Gupta, 1989).
Snyder membuat rumusan sebagai berikut :
= ( L ...(6) = ...(7)
T=3+ ...(8) = ...(9) Apabila durasi hujan efektif tr, tidak sama dengan durasi standar , maka :
= + 0,25 ( - )...(10) =
...(11) Dimana ;
: waktu dari titik berat hujan efektif ke puncak hidrograf satuan
: Koefesien yang tergantung pada karesteristik DAS, yang bervariasi antara 1,4 sampai 1,7
19
L : Panjang sungai terhadap titik kontrol yang ditinjau (km) : Debit puncak durasi untuk
: Panjang DAS utama dari titik berat / kontrol hujan ke puncak hidrograf
: Koefesien yang tergantung pada karesteristik DAS, yang bervariasi
antara 0,15 sampai 0,19
: Durasi standar dari hujan efektif ( jam )
: Waktu dari titik berat durasi hujan efektif ke puncak hidrograf
satuan (jam)
: Durasi Hujan Efektif ( jam )
: Debit Puncak untuk durasi
Gambar 3 : Hidrograf Satuan Bebas Terhadap Waktu dan Limpasannya Berbanding
20
2. Metode Hidrograf Satuan Sintesis Nakayasu
Hidrograf satuan sintetik (HSS) merupakan hidrograf yang didasarkan atas
sintetis dari parameter-parameter daerah aliran sungai. HSS adalah hidrograf
limpasan langsung (tanpa aliran dasar) yang tercatat di ujung hilir DAS, yang
ditimbulkan oleh hujan efektif sebesar satu satuan (1 mm) yang terjadi merata di
seluruh DAS dengan intensitas tetap dalam satu satuan waktu. Salah satu hidrograf
satuan sintetik yang dapat digunakan adalah hidrograf satuan sintetik Nakayasu.
HSS Nakayasu merupakan suatu cara untuk mendapatkan hidrograf banjir
rencana dalam suatu DAS, dengan mempertimbangkan karakteristik atau parameter
daerah aliran sungai tersebut.
Perhitungan debit banjir maksimum metode hidrograf satuan Nakayasu
dengan persamaan : QP=1/36×A×Ro/((0,3Tp+T_0,3 ) ) ...(12) Tenggang waktu : Tp = Tg+0,8Tr Tr = Kt×Tg Kt =0,5s×d1 Tg =0,4+0,058 L l>15 km T_0,3 = ∝Tg dimana :
QP = debit banjir maksimum (m3/dtk)
A = luas daerah aliran (km2)s
21
Tp = tenggang waktu dari permulaan hujan hingga puncak banjir
T0,3 = waktu yang dibutuhkan untuk menurunkan debit puncak hingga 30%
dari debit puncak
Tg = waktu antara hujan hingga debit banjir maksimum
Tr = satuan waktu hujan = 1 mm
L = panjang alur sungai α = parameter hidrograf Persamaan kurva naik Untuk ( ) Persamaan kurva turun
Untuk ( ) ⁄ Untuk ( ) ( ) Untuk ( )
H. Analisis Hujan Rencana
Hujan rencana adalah hujan harian maksimum yang akan digunakan untuk
menghitung intensitas hujan. Untuk mendapatkan curah hujan rancangan (Rt)
22
A. Metode Gumbel
B. Metode Distribusi Log Person III
Curah hujan adalah banyaknya air hujan yang jatuh pada suatu daerah yang
dinyatakan dalam satuan milli meter. Menurut lamanya pengamatan curah hujan
dapat dibedakan menjadi curah hujan harian, curah hujan bulanan dan curah hujan
tahunan (Soenarno, 1972). Stasiun curah hujan yang dapat mewakili daerah aliran
sungai (catchment area) harus dianalisa dari stasiun curah hujan yang berdekatan
dengan lokasi bendung.
Analisa hujan rencana memperhitungkan besarnya curah hujan dengan
periode ulang tertentu yang akan terjadi pada suatu daerah. Analisa ini diperlukan
untuk menentukan besarnya debit banjir rencana.
Hujan rencana (Rn) adalah besarnya curah hujan yang direncanakan akan
terjadi pada waktu tertentu. Hal ini harus dibedakan pengertiannya dengan hujan
terbesar. Hujan terbesar (absolut maksimum) akan terjadi kapan saja dan tidak akan
ada hujan yang lebih besar dari hujan terbesar. Hujan rencana tidaklah sebesar hujan
absolut maksimum.
Hujan rencana diharapkan akan terjadi pada jangka waktu tertentu, artinya
pada suatu jangka waktu tersebut hujan ini akan terjadi lagi. Misalnya hujan 10
tahun, adalah hujan yang akan terjadi pada tiap-tiap 10 tahun sekali, demikian pula
untuk hujan 25 tahun, 50 tahun dan 100 tahun. Angka-angka tersebut diatas (10, 25,
50, 100) disebut periode ulang (return periode).
I. Analisis Debit Banjir Rancangan
23
Nakayasu maka sebagai penjelasan tambahan dan sebagai syarat dalam melakukan
analisis debit banjir rancangan maka perlu dibahas bagaimana metode analis debit
banjir rancangan.
1. Debit Banjir Rancangan
Debit banjir rancangan adalah debit banjir terbesar tahunan dengan suatu
kemungkinan terjadi kala ulang tertentu, atau debit dengan suatu kemungkinan
periode ulang tertentu. Untuk menganalisa debit banjir rancangan dapat dilakukan
dengan menggunakan metode hidrograf yang dilakukan dengan menggunakan
bantuan model hidrograf satuan sintetis dan metode non hidrograf yang dilakukan
dengan bantuan teknik analisis frekuensi yang memerlukan ketersediaan data debit
tahunan pada lokasi yang dikaji. Debit banjir rancangan dalam penelitian ini juga
dihitung dengan mentarnsformasikan hujan rancangan dengan hidrograf satuan
terukur DAS yang ditinjau. Analisis frekuensi data debit maksimum tidak dilakukan
mengingat ketersedian data yang terlalu pendek. Metode hidrograf satuan dapat
diperoleh dengan cara sebagai berikut:
a. Hujan rancangan dialihkan mejadi hujan jam-jaman berdasarkan pola alihan
hujan terukur untuk DAS yang ditinjau (Edy Sukoso, 2004),
b. Hujan efektif dihitung menggunakan metode indeks -ɸ rerata dari hasil
perhitungan indeks -ɸ berdasarkan hujan rerata DAS,
c. Banjir rancangan dihitung berdasarkan hidrograf satuan rerata dari beberapa
kejadian banjir yang ditulis dalam bentuk persamaan 2 di bawah ini
24
Dengan : = banjir rancangan ) = aliran dasar )
= hujan efektif,
= ordinat hidroraf satuan, k= jumalh ordinat HS, m = durasi hujan, n = durasi banjir,
d. Banjir rancangan berdasarkan hidrograf satuan tersebut ditambah dengan
baseflow yang merupakan nilai rerata dari kejadian banjir yang ada untuk memperoleh hidrograf total.
2. Perhitungan distribusi hujan jaman Perhitungan distribusi hujan
jam-jaman pada study ini menggunakan rumus Mononobe sebagai berikut:
Dalam studi ini dilakukan perhitungan hidrograf banjir dengan metode
hidrograf satuan sintetis snyder karena hidrograf ini adalah hidrograf satuan sintetis
25