• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tiong Hoa Hwe Koan dengan Pendidikan para huaqiao

Dalam dokumen Kristan Sugiaman Gonassis (Halaman 60-66)

Dari apa yang telah dituturkan pada bab terdahulu, bisa dilihat bahwa Tiong Hoa Hwe Koan (THHK) mempunyai tujuan utama untuk menyiarkan ajaran agama Khonghucu dan bukannya untuk memajukan pendidikan para huaqiao di Indonesia. Sedang sekolah-sekolah yang diadakan oleh THHK semula dijadikan alat agar murid-muridnya bisa membaca dan mengerti kitab-kitab suci agama Khonghucu yang tercetak dalam bahasa mandarin. Akan tetapi di antara para pendiri THHK ini ada juga beberapa orang yang mempunyai fikiran dan angan-angan yang lain dengan tuan Lie Kim Hok yang terutama bertujuan untuk memperkenalkan ajaran Nabi Kongzi. Adalah tuan Phoa Keng Hek dan beberapa orang lain yang berwawasan luas yang hendak menggunakan sekolah-sekolah THHK ini sebagai alat untuk mendesak pemerintah Belanda agar menaruh perhatian terhadap pendidikan bagi para huaqiao yang mana pada masa itu tidak dipedulikan sama sekali oleh pemerintah penjajah ini.

Beberapa orang ini bukannya tidak setuju atau menganggap para huaqiao tidak penting untuk mempelajari bahasa mandarin dan mempelajari ajaran Nabi Kongzi yang juga sangat mereka junjung tinggi, tapi saat itu mereka menilai bahwa pada masa-masa penjajahan itu jika para huaqiao ingin dipandang penting kedudukannya oleh pemerintah Belanda, maka lebih penting bagi mereka untuk mengerti bahasa Belanda ketimbang bahasa Mandarin.

Masalahnya tidak mudah bagi anak-anak huaqiao ini untuk masuk dan belajar di sekolah-sekolah berbahasa Belanda yang didirikan oleh pemerintah. Kalau tidak mempunyai hubungan baik dengan para residen atau asisten residen yang biasanya menjadi kepala dari komisi sekolah, jangan harap anak-anak huaqiao itu bisa diterima untuk bersekolah. Dan kalaupun kepala komisi itu sudah menyetujui atau tidak menghalangi seorang anak huaqiao untuk bersekolah, biasanya niat

53 bersekolah ini masih biasa dihalangi oleh Kepala Sekolah dengan alasan „Tidak ada bangku kosong!”. Tidak hanya itu biaya sekolahnya juga selalu diberi tarif yang lebih tinggi dari anak-anak Eropa yang lain, kira-kira f15 per anak. Selain itu terkadang juga masih dikenakan aturan dimana anak-anak huaqiao itu harus lebih dahulu bisa berbahasa Belanda dan memahami segala aturan orang Eropa, ini menyebabkan si orang tua terpaksa harus menitipkan anak-anaknya pada salah satu sekolah dengan pembayaran SPP yang sangat mahal sekali yaitu dari f80 sampai f100 per-anak. Dari sini bisa diketahui bahwa jika anak-anak huaqiao yang „beruntung‟ itu tentulah anak dari seorang kapiten Tionghoa atau anak dari seorang hartawan yang berpengaruh besar.

Untuk dapat merubah keadaan buruk ini, tidak ada jalan lain kecuali jika para huaqiao ini bisa memperlihatkan pada pemerintah begitu buruknya perhatian mereka terhadap bidang pendidikan bagi para huaqiao yang terhitung merupakan rakyat mereka sendiri, dan jikalau pihak pemerintah tetap tidak memperdulikan hal ini, maka para huaqiao itu akan mengatur dan mendirikan sekolah-sekolah mereka sendiri agar bisa memenuhi kebutuhan para anak-anak huaqiao. Belakangan ketika sekolah-sekolah THHK ini memberikan pelajaran bahasa Inggris (dan bukannya bahasa Belanda) bagi murid-muridnya, barulah pemerintah mulai sadar (bahwa jika ini diteruskan anak-anak huaqiao itu akan semakin jauh terhadap pemerintah dan khawatir kelak tidak bisa dikendalikan lagi).

Untuk itulah pemerintah Belanda akhirnya mulai mendirikan sekolah-sekolah HCS (Hollandsch Chineesche School) untuk anak-anak huaqiao pada tahun 1908.

Ketika THHK baru mendirikan sekolah-sekolah ternyata sistem yang digunakan cukup mengejutkan sekaligus membanggakan karena segala sesuatunya diatur dengan cara manajemen modern, hal ini jauh berbeda jika dibandingkan dengan sekolah-sekolah pendidikan kuno yang didirikan oleh sejumlah perkumpulan para huaqiao yang lain. Adapun buku-buku yang digunakan untuk mengajar awalnya didatangkan dari Jepang dimana isinya meniru aturan dari sekolah-sekolah barat untuk kelas permulaan, buku ini juga dibuat menarik dengan banyak

54

gambar yang berwarna-warni sehingga mempermudah bagi para murid untuk memahami isinya.

Belakangan, buku-buku pelajaran sekolah modern ini sudah diterbitkan juga di Shanghai yang kualitasnya semakin lama semakin baik dan sempurna. Adapun hasil dari sistem baru ini adalah para murid selain bisa membaca dan menulis dengan tepat, mereka juga memahami arti dari setiap huruf mandarin, jadi tidak hanya menghafal semata.

Adalah Tuan Henri Boerel, pegawai pemerintah yang ditugasi khusus untuk urusan para huaqiao inilah yang kemudian membantu „memprovokasi pemerintah Belanda dengan cara memberikan pujian-pujian selangit terhadap sekolah-sekolah THHK pada media massa Belanda dengan menyebutkan, “Jika sampai (para huaqiao ini mencapai kemajuan dan menjadi modern dengan usahanya sendiri ini) terjadi, akan terbit Bahaya Kuning! Hal ini tentu muncul karena adanya buku-buku pelajaran modern.”

Istilah „Bahaya Kuning‟ ini awalnya adalah ucapan Kaisar Wilhelm dari Duitschland yang menyebutkan bagaimana Eropa akan terancam bahaya jika bangsa berkulit kuning ini sudah sadar (akan kebodohan dan kelemahan mereka) lalu rakyatnya akan mendapat pendidikan modern.

Tindakan lain yang amat penting dan menarik perhatian pemerintah Belanda saat itu adalah bahasa Mandarin yang dipakai dalam sekolah-sekolah THHK itu bisa menjadi semacam pemersatu dari seluruh bangsa Tionghoa di seluruh dunia. Adapun yang mempunyai ide untuk menggunakan bahasa mandarin adalah tuan Phoa Keng Hek, padahal pada saat itu bahasa mandarin dialek Beijing ini masih terlampau asing bagi para huaqiao di pulau Jawa. Di Tiongkok sendiri bahasa mandarin versi Beijing ini digunakan sebagai bahasa resmi oleh para pembesar dan juga kaum terpelajar di pelbagai provinsi yang berdialek macam-macam sebagai bahasa komunikasi satu sama lain. Tapi karena para huaqiao di Indonesia berasal dari propinsi-propinsi di Tiongkok selatan yang masih kental dialek daerahnya masing-masing, maka dari itulah bahasa mandarin ini juga terdengar asing di telinga para huaqiao di Jawa.

55 Adapun alasan mengapa tuan Phoa Keng Hek mengusulkan penggunaan bahasa mandarin adalah karena THHK ini didirikan oleh para huaqiao dari berbagai suku seperti suku Hokkian, Konghu (Canton) dan lain-lain. Jika dipilih salah satu bahasa daerah seperti Hokkian atau Kongfu, tentu ada sejumlah huaqiao yang menentangnya dan tidak setuju, sedang bahasa mandarin ini walaupun terdengar agak asing tapi bisa dianggap cukup netral sebagai „bahasa pemersatu‟ di antara mereka. Dengan menggunakan alasan yang kuat inilah akhirnya para pengurus THHK sepakat menyetujuinya. Meskipun semula masih banyak orang-orang huaqiao dari suku Hokkian yang merasa tidak puas dan menggerutu diluaran, tapi lama-lama keberatan ini bisa dihapuskan dan hampir semua sekolah THHK mengajarkan bahasa mandarin terus hingga sekarang.

Adapun kegemparan yang terbit karena berdirinya sekolah-sekolah THHK yang modern ini telah menarik pula perhatian dari pemerintah Tiongkok. Beberapa tahun setelah kunjungan Kang You Wei ke Batavia, Rajamuda Canton telah mengutus Lauw Soe Kie untuk pergi memeriksa sekolah-sekolah THHK di pulau Jawa. Untuk tugas ini Lauw Soe Kie bahkan dianugerahi pangkat Admiraal dari angkatan laut Tiongkok sehingga ketika ia tiba di Jawa dan menghadap pada Gubernur Jendral dan pembesar yang lain, ia mengenakan serangan perwira angkatan laut.

Lauw Soe Kie disambut dengan penuh rasa hormat oleh para pengurus THHK di daerah-daerah yang dikunjunginya, tapi kalau tidak salah ia terpaksa membatalkan kunjungannya ke Jawa Tengah dan Jawa Timur karena mendadak ia jatuh sakit.31 Sejak itu hampir setiap tahun datang para pembesar dari Tiongkok dengan diantar oleh kapal-kapal perang ke pulau Jawa, sehingga hal ini membuat para huaqiao di pulau Jawa ini mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan Tiongkok.

Kemenangan bangsa Jepang terhadap Rusia membuat semangat bangsa Tionghoa untuk mencari kemajuan menjadi semakin tinggi. Adapun hasil dari kunjungan para pembesar

31 Kwee Tek Hoay, Hikayat THHK, Moestika Romans 1933

56

Tiongkok ini adalah didirikannya Taman Pendidikan Khay Lam Hak Tong di Nanjing yang didirikan oleh Rajamuda Tuan Hong dengan tujuan agar anak-anak huaqiao di Indonesia bisa melanjutkan pelajarannya di negeri leluhurnya, Tiongkok.

Bahkan pemerintah Tiongkok juga mengirim satu inspektur yang kemudian menetap di pulau Jawa (inspektur pertama bernama Wang Fung Cheang) dan bertugas memeriksa sekolah-sekolah para huaqiao dan ada kalanya memberikan subsidi bagi pendidikan suatu sekolah seperti yang terjadi di Semarang.

Tapi semua gerakan di bidang pendidikan ini seakan-akan menjadi „duri‟ di mata pemerintah Belanda yang mulai merasa khawatir karena para huaqiao peranakan yang dulunya sudah dipandang sebagai „pro-Belanda‟ kini bahkan mendapat tunjangan pendidikan dari pemerintah Tiongkok. Bersamaan dengan itu tuan Phoa Keng Hek terus mendesak Direktur Pendidikan Mr. Pott dengan mengajukan surat desakan agar para huaqiao diberi kemudahan untuk masuk ke dalam Europeesche Lagere School. Tuan pembesar ini tampaknya menaruh simpati dan menyerahkan surat pengaduan itu kepada Gubernur Jendral van Heutz.

Tapi ketika beberapa bulan kemudian tidak ada kabar tentang kelanjutan surat pengaduan itu, tuan Phoa Keng Hek mengadakan audiensi dengan Gubernur Jendral van Heutz sendiri. Saat itulah Gubernur Jendral Belanda ini mengatakan bahwa ia sudah menerima surat pengaduan itu dan kini anggaran pendidikan untuk para huaqiao sedang diatur untuk mendirikan sekolah-sekolah khusus buat para huaqiao dimana kualitas dan biaya pendidikannya tidak berbeda dengan sekolah-sekolah rendah (setingkat SD) bagi anak-anak Belanda sendiri. Sekolah-sekolah inilah yang dikenal dengan sebutan HCS.

Adapun pendirian sekolah-sekolah HCS ini pasti tidak akan segera terwujud jikalau pada saat itu belum ada sekolah-sekolah THHK yang didirikan di pelbagai daerah. Dengan berdirinya HCS dapat dianggap bahwa cita-cita THHK untuk memberikan pendidikan yang lebih baik kepada para huaqiao telah kesampaian dan terwujud. Beberapa tahun setelah

57 didirikannya HCS, barulah pemerintah Belanda mendirikan HIS (Hollandsch Inlandsche School) bagi kaum pribumi Indonesia.32

32Kwee Tek Hoay, Hikayat THHK, Moestika Romans 1933

58

Bab IV

Tiong Hoa Hwe Koan dan Kong Koan

Dalam dokumen Kristan Sugiaman Gonassis (Halaman 60-66)