• Tidak ada hasil yang ditemukan

TIPOLOGI SHOPPERS 7.1 Tipologi Shoppers

7.4 Tipologi Beginner shoppers

yang menggunakan sepeda motor. Hal inilah yang menurut Rosandi (2004) sebagai faktor yang mempengaruhi perilaku konsumtif seorang remaja. Seorang remaja yang memiliki status sosial ekonomi menengah ke atas akan memiliki peluang lebih besar untuk berperilaku konsumtif yang cenderung membutuhkan kemampuan finansial yang memadai.

Socialier shoppers biasanya menggunakan media elektronik, khususnya internet dan televisi dalam memperoleh info terbaru tentang hal-hal yang mereka sukai, seperti alat elektronik, pakaian dan perlengkapannya, info tentang café dan restoran terbaru dan film yang ditayangkan di bioskop. Pada masa sekarang, kemudahan mereka dalam memperoleh akses internet di perkotaan sudah jauh lebih mudah dibandingkan tahun 90an. Dengan demikian, internet telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari bagi masyarakat perkotaan. Selain media elektronik, mereka juga menggunakan media cetak, terutama majalah untuk memperoleh info yang tidak diperoleh di internet. Majalah yang biasa dibaca oleh socialize shoppers biasanya tentang lifestyle dan trend remaja masa sekarang. Iklan yang beredar di media massa cenderung mempunyai pengaruh yang besar dalam menimbulkan perilaku konsumtif dan merubah gaya hidup seseorang.

7.4 Tipologi Beginner shoppers

Beginner shoppers berpendapat bahwa mall hanyalah sebagai sebuah tempat untuk membeli kebutuhan sehari-hari dan menganggap barang-barang yang dijual di dalam mall lebih mahal dibandingkan ditempat lain. Mereka cenderung pergi ke bioskop dan restoran fastfood daripada ke tempat lain dalam mall. Hal ini berbeda dengan ciri remaja yang cenderung mengikuti trend dan lebih sering

76 menghabiskan banyak waktu dalam mall (Rosandi, 2004). Mereka tidak mengikuti trend remaja yang sering hang-out dalam mall bersama dengan teman-temannya.

Mereka hanya menghabiskan kurang dari Rp. 500.000 di dalam mall dan para remaja ini hanya akan berbelanja apabila barang yang diinginkan sedang sale atau diskon. Mereka juga hanya menghabiskan waktu kurang dari 2 jam di dalam mall. Walaupun demikian, mereka termasuk dalam keluarga dengan status sosial ekonomi menengah ke atas.

Sebagian besar beginner shoppers adalah murid SMA dengan usia 15 – 18 tahun (middle adolescent). Mereka juga bersekolah di sekolah kelas menengah dan elit dengan mobil pribadi sebagai kendaraan mereka untuk pergi ke sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa beginner shoppers bukan dari keluarga kurang mampu.

Tingkat keterdedahan mereka terhadap media massa juga tinggi, khususnya pada media elektronik. Akan tetapi, mereka juga sering media cetak seperti koran. Mereka menggunakan televisi dan internet untuk memperoleh informasi tentang hal yang disukainya. Walaupun mereka jarang pergi ke mall, akan tetapi akses mereka masih sering mengakses media massa.

77 7.5 Perbandingan Tipologi Shoppers

Tabel 28. Membandingkan Tipologi Shoppers Berdasarkan Indikator Shoppers Indikator Real Shoppers Socialize shoppers Beginner shoppers Jumlah Uang yang

Dikeluarkan > Rp. 1.000.000

Rp. 500.000 –

Rp. 1.000.000 < Rp. 500.000 Tujuan ke mall Mengisi waktu

luang

Bersosialisasi dengan teman dab mengisi

waktu luang

Membeli kebutuhan sehari-hari Opini Mengenai

Harga dan Kualitas Barang di mall

Barang di mall harganya dan kualitasnya lebih

baik

Barang di mall harga dan kualitasnya kadang lebih baik

Barang di luar mall harga dan kualitasnya lebih

baik Jumlah Waktu yang

Dihabiskan di Dalam Mall

>3 jam 2-3 jam <2 jam

Pada Tabel 28, dapat dilihat bahwa real shoppers memiliki jumlah pengeluaran paling besar apabila dibandingkan dengan kedua tipologi lainnya. uang tersebut digunakan lebih untuk berbelanja barang-barang yang kurang dibutuhkan. Sementara itu beginner shoppers yang menggunakan uang relatif paling sedikit jumlahnya dan cenderung untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Socialize shoppers pergi ke mall untuk melakukan kegiatan bersama teman-temannya. Mereka sering melakukan kegiatan makan di restoran, hang-out di café, dan pergi menonton. Berdasarkan opini shoppers, socialize shoppers berbeda dengan kedua tipe lainnya. Mereka beranggapan bahwa barang yang dijual dalam mall kualitasnya kadang lebih baik dan mahal, kadang lebih jelek dan murah kualitasnya. Hal ini dapat dipahami karena berbelanja bukanlah tujuan utama mereka. Socialize shoppers lebih tertarik ke mall untuk bersosialisasi, sedangkan kedua tipe lainnya memang memiliki tujuan berbelanja ke mall sehingga mereka mempunyai evaluasi positif terhadap barang-barang yang dijual di mall. Sementara itu beginner shoppers menghabiskan waktu paling sedikit pada umumnya remaja awal dengan uang saku yang relatif terbatas.

78 Karakteristik real shoppers dan socialize shoppers adalah gambaran umum dari remaja saat ini yang cenderung memiliki keterdedahan yang tinggi terhadap media massa dan banyak pergi ke shopping mall. Mereka cenderung bersikap konsumtif dengan membelanjakan uangnya bukan pada kebutuhan primer, melainkan pada hal-hal yang kurang dibutuhkan, sering pergi hang-out di café (Rosandi, 2004).

Tabel 29. Membandingkan Tipologi Shoppers berdasarkan Karakteristik Individu Karakteristik

Individu Real Shoppers Socialize shoppers Beginner shoppers Umur 19 – 22 tahun 15 – 18 tahun 15 – 18 tahun

Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki Perempuan

Pendidikan Perguruan Tinggi SMA dan

Perguruan Tinggi SMA Jenis Media Massa Media Cetak Media elektronik Media elektronik

Jenis Media Cetak Majalah Majalah Koran

Tempat yang

Dikunjungi Retail dan bioskop

Retail, café, bioskop, dan

restoran

Bioskop dan restoran Tabel 29 menunjukkan bahwa sebagian besar shoppers berusia 15 – 18 tahun (middle adolescent), yaitu socialize shoppers dan beginner shoppers. Sementara real shoppers berusia 19 – 22 tahun. Santrock (2003) menyatakan bahwa pada umur 15 – 18 tahun, seorang remaja secara fisik akan menjadi percaya diri dan mendapatkan kebebasan psikologis dari orangtua, memperluas pergaulan dengan teman sebaya dan mulai mengembangkan persahabatan dan keterkaitan dengan lawan jenis. Hal ini sesuai dengan ciri socialize shoppers yang lebih sering menghabiskan waktu bersama dengan teman-temannya. Sementara real shoppers lebih tertarik dengan kegiatan berbelanja dibandingkan dengan beginner shoppers dan socialize shoppers. Dengan demikian real shoppers memiliki ketertarikan akan barang-barang dan gaya hidup konsumtif tertinggi. Socialize shoppers merupakan tahap transisi dari beginner shoppers menjadi real

79 shoppers karena pada usia demikian socialize shoppers mulai melakukan kegiatan berbelanja dibanding kegiatan yang makan dan menonton film.

Real shoppers dapat melakukan kegiatan berbelanja yang cenderung menghabiskan uang banyak karena pada umur 19 – 22 tahun remaja cenderung memperoleh uang lebih banyak dan lebih bebas menggunakan uang yang diberikan orangtuanya. Apabila dibandingkan dengan socialize dan beginner shoppers, mereka masih mendapatkan batasan uang yang diberikan.

Socialize shoppers umumnya berjenis kelamin laki-laki, apabila dibandingkan dengan real shoppers dan beginner shoppers yang cenderung berjenis kelamin wanita. Sementara itu, socialize shoppers paling banyak mengunjungi tempat-tempat dalam mall. Akan tetapi, socialize shoppers lebih sering makan, menonton, dan hang-out dibandingkan pergi berbelanja di retail yang paling sering dilakukan oleh real shoppers. Kesemua kegiatan yang dilakukan oleh real shoppers dan socialize shoppers sama-sama merupakan kegiatan menghabiskan uang dan cenderung bersikap konsumtif. Remaja zaman sekarang dikatakan lebih banyak membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan terhadap gaya hidup mereka (Rosandi, 2004).

Ketiga tipologi ini tidak jauh berbeda dalam waktu mengakses dalam tingkat keterdedahan terhadap media massa,. Shoppers hanya dibedakan berdasarkan jenis media massa yang lebih sering mereka akses. Real shoppers cenderung menggunakan media cetak dibandingkan dengan socialize shoppers dan leiusre shoppers. Sementara itu hanya beginner shoppers yang menggunakan koran sebagai media cetak utamanya dan real shoppers serta socialize shoppers cenderung memilih majalah sebagai media cetak utamanya. Majalah yang biasa

80 dibaca oleh mereka biasanya mengenai gaya hidup dan trend masa kini (Cosmopolitan, FHM, esquire, dan lainnya). Media massa tersebut menggunakan teknik jarum suntik dalam menyebarkan trend-trend terkini yang menjadikan shoppers tertarik. Selain itu shoppers sebagai remaja tentu memiliki sifat mudah termakan rayuan iklan, suka ikut-ikutan teman, tidak realistis, dan cenderung boros dalam menggunakan uangnya. Sifat-sifat remaja inilah yang dimanfaatkan oleh sebagian produsen untuk memasuki pasar remaja dengan menggunakan media massa. Dengan demikian, hal tersebut dapat menjadikan shoppers bertindak konsumtif mereka dapat dengan mudah terpengaruh oleh informasi yang diberikan oleh media massa. Hal ini sesuai dengan Rosandi (2004) yang mengatakan bahwa yang menyebabkan remaja berperilaku konsumtif adalah bahwa keterdedahan pada media massa (mass media exposure). Kemudahan dalam mengakses pada media massa dan iklan menarik yang tersebar dimana-mana membuat para remaja mudah terbujuk oleh produk yang ditawarkan dalam iklan sehingga remaja berperilaku konsumtif.

Dokumen terkait