BAB II KAJIAN PUSTAKA
D. Pondok Pesantren
2. Tipologi Pesantren
Secara umum ciri-ciri pondok pesantren hampir sama atau bahkan sama, namun dalam realitasnya terdapat beberapa perbedaan terutama dilihat dari proses dan substansi yang diajarkan. Dalam dinamikanya di masyarakat, pesantren mengalami perkembangan luar biasa. Pembagian
pondok pesantren beserta tipologinya sebagai berikut:59
a. Pesantren Salafiyah (Tradisional)
Pesantren Salafiyah adalah pondok pesantren yang menyelenggarakan pengajaran al-Qur’an dan ilmu-ilmu agama Islam yang kegiatan pendidikan dan pengajarannya sebagaimana yang berlangsung sejak awal pertumbuhannya.Pesantren yang menggunakan bentuk salaf murni mempunyai karakter dan ciri-ciri tertentu, yaitu pesantren yang semata-mata hanya mengajarkan atau menyelenggarakan pengajian kitab kuning yang dikategorikan Mu’tabaroh dan sistem pendidikan yang diterapkan adalah sistem
sorogan atau bandongan.60
Pada sistem pesantren tradisional, hubungan antara guru dan murid sangat erat.Seorang santri tidak hanya secara permanen hidup dalam lingkungan pesantren, dekat dengan rumah kyai dan taat secara
59
Jacub, HM. Pondok Pesantren dan Pembangunan Masyarakat Desa, (Bandung: Angkasa. 1984), hal. 70-71.
60
Abdul Aziz dan Saifullah Ma‟shum, “Karakteristik Pesantren Indonesia” dalam Saifullah Ma‟shum (ed.), Dinamika Pesantren, (Jakarta: Yayasan Islam al-hamidiyah dan Yayasan Saifuddin Zuhri, 1998) Cet. I, hal. 43.
absolute kepada kyai. Kalau dia sudah keluar dari pesantren dia akan sering mengunjungi gurunya dahulu seperti pada bulan puasa, pada saat kesulitan atau peristiwa yang mendalam dalam kehidupannya.61
Seiring dengan kecenderungan manusia Indonesia yang semakin materialistis, pesantren ini mulai banyak ditinggalkan.Biasanya pesantren ini sekarang hanyalah pesantren kecil di desa-desa yang jumlah santrinya tinggal ratusan atau bahkan tinggal puluhan. Tetapi juga ada pesantren salafiyyah yang hingga saat ini bisa tetap eksis dengan jumlah santri diatas 10.000, contohnya adalah Pondok Pesantern Lirboyo Kediri, Pondok Pesantren Langitan Tuban, dan Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan.
b. Pesantren Khalafiyah (Modern)
Pondok pesantren modern memiliki konotasi yang bermacam-macam. Tidak ada definisi dan kriteria pasti tentang ponpes seperti apa yang memenuhi atau patut disebut dengan pesantren 'modern'.
Dalam buku IAIN (Modernisasi Islam di Indonesia), di pesantren modern terdapat sekolah formal, lembaga ekonomi produktif, lembaga pengembangan masyarakat dan di beberapa pesantren sudah terdapat klinik kesehatan. Selain itu, sebagian pesantren tidak lagi dikelola oleh satu orang (terutama kyai) melainkan sudah mengembangkan
61
Karel A. Steenbrink, Pesantren Madrasah Sekolah: Pendidikan Islam dalam Kurun
manajemen organisasi yang relative modern.62Dari penjelasan tersebut, maka dapat disimpulkan ciri-ciri pondok pesantren modern antara lain :
1) Lembaga Pendidikan Formal 2) Lembaga Ekonomi Produktif
3) Lembaga Pengembangan Masyarakat 4) Klinik Kesehatan
5) Manajemen Pesantren.
Namun ciri-ciri di atas tidak menjadi sebuah acuan bahwa pesantren modern mempunyai kelima unsur di atas, karena pada kenyataannya pondok pesantren salaf pun sudah banyak yang mengadopsi sistem pendidikan formal, dengan memilki manajemenpesantren dan mempunyai klinik kesehatan. Tidak ada definisi yang pasti mengenai sebuah lembaga pendidikan pesantren dikatakan modern, namun penulis sedikit memberikan ulasan mengenai ciri-ciri pesantren modern yang mengacu pada pondok pesantren modern Gontor. Adapun yang menjadi ciri khas sebuah lembaga pendidikan pesantren dinamakan pesantren modern ialah :
1) Penekanan pada bahasa Arab dan bahasa Inggris dalam percakapan. 2) Memakai buku-buku literatur bahasa Arab kontemporer (selain
klasik/kitab kuning).
3) Memiliki sekolah berjenjang yang kurikulumnya mengikuti
62
Fuad Jabali dan Jamhari, IAIN dan Modernisasi Islam di Indonesia, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2003), Cet. II, hal. 96.
pemerintah.
4) Memakai sistem pengajian tradisional seperti sorogan, wetonan, dan bandongan dan sistem pengajian modern. Kriteria-kriteria di atas belum tentu terpenuhi semua pada sebuah pesantren yang mengklaim modern. Pondok modern Gontor, inventor dari istilah pondok modern, umpamanya, yang ciri modern-nya terletak pada penggunaan bahasa Arab kontemporer (percakapan) secara aktif. Tapi, tidak memiliki sekolah formal yang kurikulumnya diakui pemerintah.
Selain ciri-ciri di atas beberapa ciri mengenai pesantren modern di antaranya ialah: Pertama, dalam hal kepemimipinan pesantren, upaya penyempurnaan gaya kepemimpinan yang terkesan otoriter kepada pola yang lebih demokratis. Kedua, dalam hal proses pembelajaran, upaya rekonstruksi yang dilakukan ialah dengan menyempurnakan pola pembelajaran yang kuno dengan menggunakan pendekatan yang lebih tepat dan modern agar merangsang cara belajar santri. Ketiga, dalam hal kurikulum.Upaya yang dilakukan terkait dengan modernisasi kurikulum ialah kurikulum yang disusun oleh pihak pesantren harus bisa disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat saat ini agar lulusan yang dihasilkan bisa bersaing di lapangan kerja modern.Keempat, dalam hal tujuan pesantren.Upaya yang dilakukan oleh pihak pesantren ialah tidak hanya mencetak santri yang pandai ilmu agama, tetapi juga mencetak santri yang pandai dan menguasai ilmu dan teknologi modern agar
mampu bersaing di dunia kerja.63
Contoh dari pesantren jenis ini adalah pesantren modern Gontor, pesantren modern As-Salam Solo, pesantren An-Nuqoyyah Guluk-Guluk, dan pesantren Modern Al-Amin Perenduan Sumenep.
c. Pesantren Kombinasi (Gabungan)
Pesantren kombinasi merupakan perpaduan antara pesantren salaf dengan pesantren khalaf, artinya antara pola pendidikan modern sistem madrasah/sekolah dan pembelajaran ilmu-ilmu umum dikombinasikan dengan pola pendidikan pesantren klasik”.64Sebagian besar pondok pesantren campuran atau kombinasi adalah pondok pesantren yang berada diantara rentangan dua pengertian di atas. Sebagian besar pondok pesantren yang mengaku atau menamakan diri pesantren salafiyah, pada umumnya juga meyelenggarakan pendidikan secara klasikal dan berjenjang, baik dengan nama madrasah atau sekolah maupun dengan nama lain. Demikian juga pesantren khalafiyah pada umumnya juga meyelenggarakan pendidikan dengan pendekatan pengajian kitab klasik, karena sistem “ngaji kitab” itulah yang selama ini diakui sebagai salah satu identitas pondok pesantren.Tanpa penyelenggaraan pengajian kitab klasik, agak janggal disebut sebagai pondok pesantren.65
63
Suwendi, Rekonstruksi Sistem Pendidikan Pesantren, (Bandung: Pustaka Hidayah,1999), hal. 212-214.
64
Mahmud, Model-model Pembelajaran di Pesantren, (Tangerang: Media Nusantara, 2006), hal. 16.
65
Departemen Agama RI, Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah: Pertumbuhan dan
Sesuai dengan jargon pesantren “melestarikan nilai-nilai tradisonal yang positif, serta saat bersamaan mengapresiasi inovasi-inovasi baru yang ebih membawa maslahat besar bagi kehidupan masyarakat, sebagian peantren mulai terbuka aau responsif terhadap perubahan jaman.Pesantren-peantren dalam perkembangan mulai membuka Madrasah dan Sekolah Umum. Tidak hanya madrasah Ibtidaiyah/Tsanawiyah/Aliyah/Sekolah Tinggi Agama Islam tetapi juga sekolah-sekolah umum, seperti SD, SMP, SMA, SMK, Universitas.
Menurut penulis, lebih spesifik lagi ada tiga jenis pesantren ini.Yang pertama adalah pesantren yang lebih berat ilmu agamanya.Pesantren yang menjadi objek penelitian peniliti, yakni Pondok Pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi adalah pesantren yang masuk dalam kategori ini. Termasuk juga pesantren Mambaul Ulum, Minhajut Thulab, di kabupaten yang sama. Di pesantren ini, pembelajaran kitab kuning yang dilakukan cukup sebanding dengan di pesantren salaf.
Yang kedua adalah pesantren yang relatif seimbang antara ilmu agama dan ilmu umumnya.Contoh dari tipe pesanren ini adalah Pondok Peantren Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang, Pondok Peantren Tebu Ireng Jombang, dan Pondok Pesantren Mambaul Maarif Denanyar Jombang.
Yang ketiga adalah pesantren yang kualitas umumnya sangat bagus, bisa bersaing bahkan bisa dibilang lebih bagus dari sekolah
umum di luar pesantren.Akan tetapi pembelajaran kitab kuningnya terbilang minim.Walaupun demikian, tentunya pendidikan ilmu agama di pesantren ini jauh lebih bagus jika dibandingkan dengan di sekolah umum.Contohnya adalah Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso, Peterongan Jombang.
d. Pesantren Rakyat
Kata pesantren rakyat merupakan istilah baru yang belum dikenal sebelumnya, aktivitas dan model pemberdayaan para santrinyapun berbasis kearifan lokal, dan dalam waktu relatif singkat mampu mengubag mindset dan perilaku para santri dengan sistem relasi sosial yang berbeda dengan pesantren pada umumnya.66
Pesantren ini didirikan dengan babsis kerakyatan, pesantren milik rakyat, kurikulum pendidikan ala rakyat, aktivitas dan kultur belajarnya juga ala rakyat. Pesantren yang tanpa dinding, dan tanpa bangunan khusus lazimnya pondok pesantren ini memiliki santri beragam usia, mulai balita, anak-anak remaja, pemuda, dewasa dan manula. Kalangan muda dan madya lebih mendominasi jumlah santri yang ada.Sistem pembelajarannya sangat fleksibel serta materi yang disiapkan menyesuaikan dengan kebutuhan santri.Metode yang digunakanapun beragam, tapi lebih dominan tut wuri handayani dan partisipatif, yang biasa disebut multi level strategic.Pesantren jenis ini terdapat pada
66
Mufidah Ch, Pesantren Rakyat: Perhelatan Tradisi Kolaboratif kaum Abangan
dengan Kaum Santri Pinggiran di Desa Sumberpucung Kabupaten Malang Jawa Timur, (Jurnal
masyarakat desa Sumberpucung Kabupaten Malang Jawa Timur.67 e. Pesantren Kilat
Pesantren ini adalah pesantren yang berbentuk semacam training dalam waktu relatif singkat, dan biasanya dilaksanakan pada waktu libur sekolah.Pesantren ini menitikberatkan pada keterampilan ibadah dan kepemipinan.Sedangkan santrinya terdiri dari siswa sekolah yang dipandang perlu mengikuti kegiatan keagamaan di pesantren kilat.Contohnya adalah seperti kegiatan pondok romadlon yang biasanya diadakan oleh sekolah-sekolah formal dalam masa liburan sekolah.68 f. Pesantren Terintegrasi
Pesantren ini lebih menekankan pada pendidikan vokasional atau kejuruan, sebagaimana balai latihan kerja di Departemen Tenaga Kerja, dengan program yang terintegrasi.Sedangkan santrinya mayoritas berasal dari kalangan anak putus sekolah atau para pencari kerja.
Pesantren ini dibuat berdasarkan pada penyelenggaraan fungsinya sebagai lembaga pengembangan masyarakat melalui program pengembangan usaha. Dari sini dikenal pesantren pertanian, pesantren keterampilan, pesantren agribisnis, pesantren kelautan, dan sebagainya.
Jadi, di pesantren ini selain menyelenggarakan pendidikan agama juga mengembangkan ilmu-ilmu kejuruan dalam bidang tertentu, sehingga alumninya diharapkan menguasai ilmu keislaman serta keterampilan praktis dan kewirausahaan sebagai bekal kehidupan masa
67
Mufidah Ch, Pesantren Rakyat,hal. 120.
68
depannya.69 g. Pesantren Metal
Adalah pesantren yang bercorak kultur salafi, didirikan untuk memberikan pembinaan kepada kalangan muda yang ingin bertaubat dari
kebiasaan minuman keras, narkoba, gila, pembinaan anak-anak jalanan
dan patologi sosial lainnya. Materi pembelajarannya hampir sama
dengan pesantren pada umumnya yaitu menanamkan pendidikan agama,
keterampilan (vocation) dan pengasuhan dengan pola-pola khusus.
Metode pembelajarannya lebih menekankan pada komunikasi interaksi
manusiawi oleh kiai untuk mengentaskan santri menjadi manusia normal
dan kembali kepada masyarakatnya. Oleh karena menangani mereka
yang berkebutuhan khusus, pesantren metal ini tidak mudah
dikembangkan kecuali oleh kiai-kiai yang juga memiliki kompetensi
khusus. Misalnya, Pesantren metal dengan nama Pusat Komando Militer
Taubat Sunan Kalijaga di Desa Bulusari Kecamatan Grandungmangu
Kabupaten Cilacap Jawa Tengah, Pondok Pesantren Muslim Metal,
Kecamatan Rejoso Kabupaten Pasuruan Jawa Timur.70
h. Pesantren Alam
Pesantren alam yaitu pesantren yang dikelola mirip dengan pesantren kilat.Didirikan berawal dari hobi serta kinginan kuat untuk
menjelajahibumi Allah secara bebas.Belajar nilai-nilai Islam melalui
fenomena alam.Aktivitasnya dikemas dengan istilah camping
69
Mufidah Ch, Pesantren Rakyat,,hal. 127.
70
spiritual.Di pesantren alam diajarkan tantangan, berjuang mengalahkan
rintangan.Mengajak berfikir para santri bahwa betapa banyak nikmat
Allah yang selalu tercurah kepada manusia.Materi pembelajarannya
meliputi keislaman, kepribadian, kepemimpinan dan kecintaan terhadap
lingkungan. Dengan menanamkan nilai-nilai Islam melalui alam ini
diharapkan dapat menginternalisai nilai-nilai Islam untuk membentuk
kekuatan karakter bagi seorang muslim dalam kehidupannya. Misalnya,
Pesantren Alam CiRiKo kepanjangan dari cinta Rimba kota, Dusun
Cilame, Desa Sukamaju, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor, Jawa
Barat. Pesantren Alam Ma’rifatussalam, Pesantren Alam Desa Wisata Religius Bubohu, Bango, Batudaa Pantai, Gorontalo, Pesantren Alam Al
Azhar, Cigombong, Sukabumi, Jawa Barat, dan sebagainya.
i. Pesantren Buruh Pabrik
Pesantren ini adalah pesantren yang keberadaannya merupakan
pelembagaan dari komunitas buruh pabrik yang ada di sekitar area
industri. Pesantren ini merupakan respon dialog nilai-nilai keislaman
dengan modernisasiindustrialisasi. Dengan maksud mencari solusi
terhadap permasalahan sosial di kalangan buruh pabrik terutama
tantangan sekulerisasi yang memerlukan penanganan khusus dalam
pendekatan religious.Tumbuh dan berkembangya pesantren ini adalah di
sekitar Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto dan Gresik.
Pesantren Buruh Pabrik mengusung pendidikan seumur hidup,
belajar sambil bekerja.71
Keempat pesantren yang terakhir didirikan berdasarkan
kebutuhan dan semangat memecahkan isu-isu sosial keagamaan di
masyarakat bernuansa lokal. Sebab hanya dapat diterapkan dalam
kondisi tertentu dengan basis pembinaan spisifik dan metode pendekatan
lebih lentur, mengalir secara alami.Biasanya elemen yang tersedia dalam
pesantren ini tidak seideal yang ada di pondok pesantren salaf maupun
khalaf.72
Dalam pembagian yang lebih sederhana, Departemen Agama membagi bentuk pondok pesantren menjadi 4 bentuk yang tertuang dalam Peraturan Menteri Agama nomor 3 tahun 1979 tentang bantuan pondok pesantren menjadi:
a. Pesantren tipe A adalah pondok yang seluruhnya dilaksanakan secara tradisional
b. Pesantren tipe B adalah pondok yang menyelenggarakan pengajaran secara klasikal (madrasi)
c. Pesantren tipe C adalah pondok yang hanya merupakan asrama, sedangkan santrinya belajar di luar.
d. Ponpes tipe D adalah pondok yang menyelenggarakan sistem ponpes sekaligus sistem sekolah dan madrasah.73
71
Imam Bawani, Pesantren Buruh Pabrik, Pemberdayaan Buruh Pabrik Berbasis
Pendidikan Pesantren. (Yogyakarta: LKiS. 2011), hal. 123.
72
Mufidah Ch, Pesantren Rakyat,hal. 128.
73
56