• Tidak ada hasil yang ditemukan

Titik Pertalian Primer

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 87-90)

4. ANALISIS PUTUSAN HAKIM MENGENAI IMPLEMENTASI PASAL 16

4.2. Aspek Hukum Perdata Internasional Dalam Perkara Pembatalan Pendaftaran

4.2.1. Titik Pertalian Primer

ketentuan Pasal 68 ayat (1) jo. Pasal 4 jo. Pasal 6 ayat (1) huruf a dan b UU No. 15 Tahun 2001, pendaftaran merek DAR’KIE PEPPERMINT dan Lukisan Orang Bertopi atas nama Tergugat harus dibatalkan.

4.2. Aspek Hukum Perdata Internasional dalam Perkara Pembatalan Pendaftaran Merek untuk Barang atau Jasa Tidak Sejenis di Indonesia

4.2.1. Titik Pertalian Primer

Titik pertalian primer merupakan faktor yang membedakan bahwa suatu peristiwa hukum termasuk ke dalam ruang lingkup hukum perdata internasional atau tidak. Penentuan suatu peristiwa merupakan peristiwa hukum perdata internasional adalah karena peristiwa hukum tersebut mengandung unsur asing. Menurut Sudargo Gautama, hal-hal yang merupakan titik pertalian primer adalah kewarganegaraan, bendera kapal, domisili, tempat kediaman, tempat kedudukan, pilihan hukum dalam hubungan intern, dan status personal badan hukum.154 Pada bagian ini hanya akan dibahas mengenai hal-hal yang berkaitan erat dengan analisis yakni kewarganegaraan, tempat kediaman, tempat kedudukan dan status personal badan hukum.

Perbedaan kewarganegaraan para pihak yang melakukan hubungan hukum menyebabkan timbulnya persoalan HPI karena para pihak tunduk pada hukum perdata yang berbeda sehingga menjadi persoalan mengenai hukum mana yang digunakan. Mengenai kewarganegaraan, menjadi persoalan apakah badan hukum juga memiliki kewarganegaraan layaknya pribadi kodrati. Menurut Rabel, untuk menentukan hukum yang berlaku terhadap persoalan “existence” dan “activities” memang dapat dipecahkan tanpa konsepsi kewarganegaraan. Namun, jika pengakuan terhadap badan hukum asing atau “carrying on business” bergantung pada syarat timbal balik atau dari otorisasi

 

154

Sudargo Gautama (e), Hukum Perdata Internasional Indonesia Jilid II Bagian I, (Bandung: Alumni, 1972), halaman 28.

       

tertentu maka penting untuk menentukan pada negara mana suatu badan hukum dianggap memiliki kewarganegaraan.155

Selanjutnya adalah titik taut tempat kediaman, yakni dimana seseorang secara de facto mempunyai kediaman, dimana rumahnya atau dimana dia bekerja.156 Selain tempat kediaman untuk pribadi kodrati, terdapat titik pertalian primer tempat kedudukan yang disediakan untuk badan hukum. Terakhir adalah titik pertalian primer status personal yang akan dibahas lebih mendalam karena menyangkut pada analisis titik pertalian primer pada sengketa merek terkenal di Indonesia.

Status personal adalah kelompok kaidah yang mengikuti seseorang dimana pun ia pergi sehingga keberlakuan kaidah-kaidah ini bersifat

extra-territorial atau universal, atau tidak terbatas pada teritorial suatu negara.157

Dalam menentukan status personal seseorang, terdapat dua aliran terpenting yang dianut sistem HPI negara-negara di dunia. Pertama, aliran “personnalistes” yang mengatur status personal seseorang berdasarkan hukum

nasional-nya. Kedua, aliran “territorialistes” yang menggunakan hukum

dimana seseorang berdomisili untuk status personal. Selain itu, dalam pelaksanaannya terdapat pula sistem-sistem kompromis yang bersifat campuran.158

Indonesia berdasarkan Pasal 16 A.B. menganut prinsip nasionalitas untuk mengatur status personal seseorang. Sepanjang persoalan-persoalan yang termasuk ke dalam bidang status personal, Warga Negara Indonesia yang berada di luar negeri, berada di bawah kekuasaan hukum nasional Indonesia. Demikian pula dapat dianggap bahwa untuk orang asing yang berada di wilayah Indonesia, dipergunakan hukum nasional mereka.159 Mengenai bidang status personal, berdasarkan jurisprudensi dan pendapat para sarjana HPI, yang

 

155

Sudargo Gautama (f), Hukum Perdata Internasional Indonesia Jilid III Bagian I Buku

Ke-7, (Bandung: Alumni, 2010), halaman 334. 156

Sudargo Gautama (e), op.cit., halaman 33.

157

Sudargo Gautama (f), op. cit., halaman 3.

158

Ibid, halaman 12.

159

Universitas Indonesia        

termasuk ke dalam bidang status personal adalah harta benda perkawinan, perceraian, pembatalan perkawinan, perwalian anak-anak, wewenang hukum, kewenangan melakukan perbuatan hukum, nama dan soal status anak-anak yang berbeda di bawah umur.160

Selain pribadi kodrati, status personal juga dimiliki oleh badan hukum. Dalam menentukan hukum mana yang digunakan untuk mengatur status personal badan hukum, terdapat beberapa prinsip yang dianut oleh negara-negara di dunia, yakni sebagai berikut:161

1. Prinsip inkorporasi, yakni badan hukum tunduk pada hukum dari negara dimana ia didirikan, dibentuk, diciptakan.

2. Prinsip kedudukan statutair, yakni badan hukum tunduk pada hukum dari tempat dimana menurut statuten badan hukum tersebut mempunyai kedudukan.

3. Prinsip tempat kedudukan manajemen yang efektif, yakni badan hukum tunduk pada hukum dimana badan hukum tersebut menjalankan manajemennya yang efektif.

4. Teori kontrol.

HPI Indonesia belum memiliki kejelasan mengenai prinsip atau teori mana yang digunakan untuk menentukan status personal suatu badan hukum. Namun berdasarkan peraturan perundang-undangan lainnya dapat dilihat prinsip mana yang dianut oleh Indonesia. Berdasarkan Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (selanjutnya disingkat dengan UU No. 40 Tahun 2007)162, dapat diketahui bahwa badan hukum Indonesia merupakan badan hukum yang didirikan berdasarkan hukum Indonesia. Atau dengan kata lain ketentuan Pasal 1 angka 1

 

160

Ibid, halaman 65-66.

161

Ibid, halaman 336-337 dan 347.

162

Indonesia (m), Undang-Undang tentang Perseroan Terbatas, UU No. 40 Tahun 2007, LN No. 106 Tahun 2007, TLN No. 4756.

Pasal 1 angka 1 UU No. 40 Tahun 2007 menyatakan bahwa: “Perseroan Terbatas, yang selanjutnya disebut Perseroan, adalah badan hukum yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam Undang-Undang ini serta peraturan

       

UU No. 40 Tahun 2007 mencerminkan prinsip inkorporasi. Demikian pula pada Pasal 5 ayat (1) UU No. 40 Tahun 2007163, tercermin prinsip kedudukan

statutair dalam menentukan status personal badan hukum. Sedang untuk

prinsip manajemen efektif, tercermin dalam Pasal 5 ayat (2) UU No. 40 Tahun 2007164.

Dalam persoalan status personal badan hukum, yang perlu diketahui selanjutnya adalah luas bidang status personal badan hukum. Beberapa bidang yang termasuk ke dalam status personal badan hukum adalah lahirnya suatu badan hukum, matinya badan hukum, kemampuan untuk bertindak dalam hukum, kewenangan untuk bertindak dalam hukum, kaidah-kaidah yang mengatur organisasi internal, hubungan hukum dengan pihak ketiga, dan cara-cara perubahan Anggaran Dasar. 165

4.2.2. Analisis Titik Pertalian Primer pada Sengketa Merek

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 87-90)