2. Sinar-X Karakteristik
2.12 TLD (Thermo Luminescence Dosimeter)
TLD merupakan dosimeter yang prinsip kerjanya berdasarkan fenomena thermoluminescence. Proses luminesensi yaitu proses penyerapan radiasi pada beberapa material dan menyimpan energi yang diserap pada kondisi yang metastabil (kurang stabil). Jika materi tersebut diberikan energy.
Gambar 2. 11 Diagram level energi pada thermo luminescence (a) proses ionisasi radiasi
(b) Proses pemanasan untuk melepaskan elektron yang yang diikuti oleh produksi luminescence.
Intensitas total thermo luminescencesebanding dengan jumlah elektron yang terjebak dan sebanding pula dengan energi radiasi yang terserap . Dengan demikian, intensitas cahaya yang diemisikan dari kristal thermo luminescence akan berbanding lurus pula dengan dosis radiasi.
TLD reader menggunakan gas nitro gen selama proses pem bacaannya terutama untuk menekan sinyal chemil uminescence dari dosimeter dan reader.
TLD reader mengubah intensitas cahaya menjadi sinyal yang diukur dengan satuan nC (nano Coulomb). Pengukuran dilakukan sebanyak dua kali untuk setiap chip TLD. Pengukuran pertama adalah membaca intensitas thermo luminescence total, sedangkan pengukuran kedua adalah membaca intensitas thermo luminescence latar. Intensitas TL bersih merupakan hasil pengukuran intensitas TL total dengan int ensitas TL latar. Perhitungan dosis radiasi (D) yang diterima TLD dilakukan intensitas TL total dengan intensitas latar)
Fk = Faktor kalibrasi yang merupakan fungsi energi.
Sinyal hasil pembacaan TLD disebut kurva pancar atau “glow curve”.Kurva pancar diperoleh dengan memberikan panas dengan laju kenaikan panas secara konstan sampai suhu tertentu, dan kurva digambarkan sebagai fungsi suhu
Detektor TLD memiliki sifat yang linier terhadap rentang dosis dan respon TLD dipengaruhi oleh energi. Beberapa proses harus dilakukan sebelum menggunakan TLD yaitu kalibrasi respon energi, “fading” atau penurunan bacaan akibat penundaan proses pembacaan, dan koreksi respon dosis pada daerah non linier.
Untuk setiap materi TL yang digunakan dalam aplikasi dosimetri adalah sangat penting untuk mengetahui prosedur untuk memulihkan kondisi dasar setelah diradiasi. Tahap annealing digunakan untuk menahan suhu pada suhu yang sangat tinggi untuk memastikan bahwa semua sinyal akan dihapus. Prosedur annealing sama untuk setiap bahan TL dan dalam beberapa kasus seperti LiF, prosedur ini sangat penting karena jika proses tersebut tidak sepenuhnya sama, bisa mendapatkan hasil yang sangat berbeda dari pengulangan radiasi dengan penyinaran yang sama.
Gambar 2. 12 Diagram skema TDL Reader
Gambar 2. 13 Diagram skema TLD Reader 2.13 Anatomi Thoraks
Thoraks merupakan rongga yang dibatasi dan dikelilingi oleh dinding thoraks yang dibentuk oleh tulang, kartilage, dan otot. Didalam rongga thoraks terdapat dua ruangan yaitu paru-paru dan mediastinum serta terjadi proses sistem pernapasan dan peredaran darah.Organ yang terletak dalam rongga dada yaitu;
esophagus, paru paru, hepar, jantung, pembuluh darah dan saluran limfe.Dinding thoraks merupakan sistem kompleks dari sejumlah struktur tulang, tulang rawan, ligamen, otot dan tendon.Bagian superfisial dari dinding thoraks adalah struktur tulang dan muskulus-tendon yang menghubungkan tungkai atas dengan batang tubuh. Bagian kranial dibatasi oleh tulang vertebra thoraks pertama, tulang kosta pertama, klavikula dan tepi atas manubrium. Batas inferior dipisahkan terhadap abdomen oleh diafragma. Suatu kurungan thoraks terdiri dari 12 pasang tulang kosta. Setiap kosta terdiri dari kepala, leher, dan badan. Pada bagian kepala memiliki suatu faset untuk terhubung dengan sendi kostovertebra.Kecuali kosta
satu dan dua, semuanya mempunyai cekungan untuk perjalanan serat saraf dan pembuluh darah pada tepi bawah tulang (Ombregt, 2013).
Tulang kosta berfungsi melindungi organ vital rongga thoraks seperti jantung, paru-paru, hati dan Lien(Assi & Nazal, 2012)
Gambar 2. 14 Dinding Thorax (Gambar dikutip dari : Moore, Keith L, 2007)
2.13.1 Tulang Rawan Dinding Thorax
Rangka dinding toraks terdiri dari sternum, 12 vertebra torakalis, dan 12 pasang iga beserta tulang rawannya. Sternum Sternum terdiri dari manubrium, korpus, dan prosessus xyphoideus. Angulus Ludovici yang terbentuk antara manubrium dan korpus dapat teraba dan merupakan patokan dalam mempalpasi iga ke-2 di lateralnya. Secara embriologi sternum terbentuk dari fusi kedua setengah bagian lateralnya. Kegagalan fusi ini menyisakan celah atau foramen di garis
midsternal yang bila terdapat infeksi eksternal dapat meluas ke dalam mencapai mediastinum. Sendi sternoklavikular diperkuat terutama oleh ligamentum interclavicular. Gerak bebas klavikula pada sternum diskusnya terjadi dengan adanya persendian sinovial ganda yang diskusnya berinterposisi. Bahu menempel pada rangka hanya melalui sendi ini. Elastisitas sendi ini ditandai jarang terjadinya dislokasi sendi ini dan lebih seringnya fraktur klavikula.
Fraktur sternum sangat jarang terjadi dan bila terjadi maka akan mencederai otot jantung. Costae Tujuh pasang iga teratas disebut iga sejati (costae verae) karena berhubungan langsung dengan sternum. Lima pasang iga di bawahnya berfusi membentuk tepi kostal sebelum menyambung dengan tepi bawah sternum, maka disebut costae spuriae (iga palsu). Iga ke-11 dan ke-12 merupakan iga melayang (costae fluctuantes). Rangka dada mempunyai apertura superior yang relatif sempit dan apertura inferior yang luas. Bagian atap rongga toraks adalah membrana suprapleural, sedangkan bagian dasarnya adalah diafragma yang berbentuk kubah yang sangat cembung. Persendian pada Rangka Dada Artikulasio costovertebralis Selain dari iga ke-1, ke-11,dan ke-12, terdapat hubungan 2 persendian antara caput costae dengan corpus vertebralis torakalis.
Permukaan sendi caput costae bagian atas berhubungan dengan permukaan sendi corpus vertebrae pada level atasnya, sedangkan permukaan sendi caput costae bagian bawah berhubungan dengan permukaan sendi corpus vertebrae pada level yang sama. Sendi-sendi tersebut dihubungkan oleh ligamentum capitis costae intra articulare. Kapsula sendi-sendi ini diperkuat oleh ligamentum capitis costae radiatum superficialis. Corpus costae 1, 11, dan 12 hanya membentuk persendian dengan vertebrae torakalis pada levelnya masing-masing sehingga ligamentum radiatum hanya terdiri dari 2 bagian. Articulatio costotransversaria Dengan pengecualian iga ke-11 dan ke-12, semua iga bersendi dengan prosesus transverses vertebrae. Permukaan sendi nya adalah facies atticularis tuberculi costae dan fovea costae processus transversus. Kapsula sendi diperkuat ligamentum costotransversarium, ligamentum costotransversarium laterale, dan ligamentum costotransversarium superior. Pada iag ke –12 terdapat tambahan penguat yatu ligamentum lumbocostale yang terbentang dari processus costalis vertebrae lumbalis 1 ke iga 12. Gerakan Gerakan geser mungkin dapat dilakukan pada iga ke
1, iga ke-6 sampai ke-9, serta gerak rotasi di sekitar kolum costae mungkin terjadi antara iga ke-2 sampai ke-5. Articulatio costochondralis Persendian antara iga dengan tulang rawannya yang merupakan sendi cartilaginous primer, maka pada persendian ini tidak ada pergerakan. Articulasio interkondralis Ini adalah jenis sendi khusus yang terjadi antara tulang rawan iga ke-6 dan 7, ke-7 dan 8, serta ke-8 dan 9 yang bergabung menbentuk persendian sinovial yang diperkuat beberapa ligamen. Articulasio sternokostalis Persendian antara iga ke-2 hingga ke-5 dengan sternum berupa sendi sinovial, sedangkan antara iga 1, iga ke-6, dan ke-7 dengan sternum berupa sendi rawan (sinkondrosis). Artikulasio sternokostalis diperkuat dengan ligamentum-ligamentum berlanjut ke membrana sterni.
2.13.2 Otot- Otot Pada dinding Thorax
Pektoralis mayor dan minor merupakan muskulus utama dinding anterior toraks. M. latisimus dorsi, trapezius, rhomboideus, dan muskulus gelang bahu lainnya membentuk lapisan muskulus dinding posterior toraks. Tepi bawah muskulus pektoralis mayor membentuk lipatan/plika aksilaris anterior, lengkungan dari muskulus latisimus dorsi dan teres mayor membentuk lipatan aksilaris posterior.
2.14 Fisiologi Thorax
Udara dapat masuk atau keluar paru-paru karena adanya tekanan antara udara luar dengan udara dalam paru-paru. Perbedaan tekanan ini terjadi disebabkan oleh karena terjadinya perubahan besar kecilnya rongga dada, rongga perut, dan rongga alveolus. Perubahan besarnya rongga ini terjadi karena pekerjaan otot-otot pernafasan, yaitu otot antara tulang rusuk dan otot diafragma. Berdasarkan kegiatan otot-otot pernafasan tersebut, maka pernafasan dibedakan menjadi dua, yaitu pernafasan dada dan pernafasan perut Pernafasan Dada Merupakan pernafasan yang menggunakan gerakan otot-otot antar tulang rusuk (interkostal).
Rongga dada membesar karena tulang dada dan tulang rusuk terangkat akibat kontraksi otot-otot yang terdapat diantara tulang-tulang rusuk. Paru-paru turut mengembang, volumenya menjadi besar, sedangkan tekanannya menjadi lebih kecil daripada tekanan udara luar. Dalam keadaan demikian, udara luar dapat
masuk melalui batang tenggorok (trakea) ke paru-paru (pulmo). Pernafasan Perut Merupakan pernafasan yang menggunakan otot-otot diafragma.
Otot-otot sekat rongga dada berkontraksi sehingga diafragma yang semula cembung menjadi mendatar, dengan demikian, paru-paru dapat mengembang kearah perut (abdomen). Pada waktu itu rongga dada bertambah besar dan udara terhirup masuk. Pada saat kita bernafas, terjadi dua hal yang selalu terjadi bergantian, yaitu menarik nafas (inspirasi) dan menghembuskan nafas (ekspirasi).
Satu kali inspirasi dan satu kali ekspirasi inilah yang disebut satu kali bernafas.
Inspirasi terjadi karena terdapat selisih tekanan udara di luar tubuh dengan tekanan udara dalam paru-paru, maka udara akan mengalir dari tempat yang bertekanan tinggi ke tempat yang bertekanan lebih rendah, akibatnya udara masuk ke dalam paru-paru. Mekanisme Inspirasi Sewaktu inspirasi terjadi pembesaran dinding dada ke arah ventrodorsalis dan lateralis. Pengembangan dada ini dimungkinkan karena mobilitas artikulasio kostovertebralis, elastisitas rawan iga, dan karena sedikit bertambahnya kifosis kolumna vertebralis. Dapat dijelaskan bahwa, sebelum menarik nafas (inspirasi), kedudukan diafragma melengkung ke arah rongga dada, dan otot-ototnya dalam keadaan mengendur. Bila otot diafragma berkontraksi, maka diafragmanya akan mendatar. Pada waktu inspirasi maksimum, otot antar tulang rusuk (interkostal) berkontraksi sehingga tulang rusuk terangkat. Keadaan ini akan menambah besarnya rongga dada. Mendatarnya diafragma dan terangkatnya tulang rusuk menyebabkan rongga dada bertambah besar, diikuti mengembangnya paru-paru, sehingga udara luar melalui hidung, trakea, terus ke bronkus, kemudian masuk ke paru-paru. Otot-otot yang berperan dalam inspirasi adalah diafragma (otot primer inspirasi), mm.intercostalis eksterna (otot komplementer inspirasi), dan otot-otot leher, yakni: m.skalenus dan m.sternokleidomastoideus, keduanya berperan pada inspirasi paksa dengan mengangkat sternum dan dua iga pertama, dengan kata lain memperbesar bagian atas rongga toraks.
Mekanisme Ekspirasi Ekspirasi terjadi akibat proses pasif dengan melemasnya otot-otot inspirasi sehingga rongga dada dan paru kembali ke ukuran prainspirasi. Dapat dijelaskan bahwa, bila otot antartulang rusuk (interkostal) dan otot diafragma mengendur, maka diafragma akan melengkung ke arah rongga dada
lagi, dan tulang rusuk akan kembali ke posisi semula. Kedua hal tersebut menyebabkan rongga dada mengecil, akibatnya udara dalam paru-paru terdorong ke luar. Inilah yang disebut dengan mekanisme ekspirasi. Pada ekspirasi paksa, otot-otot yang berperan adalah otot-otot-otot-otot abdomen dan mm.intercostalis interna. Gaya yang menggerakkan rangka dada secara umum oleh mm. Intercostals dan mm.
Scalene. Otot-otot tersebut merupakan otot metametrik primitive yang harus dimasukkan ke dalam golongan otot autochthonus dada. Termasuk pula Tranversus thoracis dan mm.subcostales. Otot-otot tersebut disarafi oleh rami anteriores mm.spinalis dan mm.Intercostalis.
BAB III
METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan pada bulan Maret sampai Juni 2019 di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Efarina Etaham Berastagi.
3.2 Alat Dan Bahan
Alat dan bahan yang dipergunakan pada penelitian ini adalah a. pesawat : pesawat CT-Scan
Merek pesawat : Siemens Somatom Scope Unit Model/ No. Serie : Siemens / 99100
Tipe Housing tabung/ No.serie Housing Tabung : M-CT 160/302071782 Kv/mA maximum Radiography : 130 kV / 345
Gambar 3. 1 Gambar CT-Scan Siemens (sumber : dokumen pribadi)
b. TLD BARCH
Gambar 3. 2 TLD BARCH (sumber : dokumen pribadi) c. Phantom
d. Alat tulis e. Lembar kerja 3.3 Prosedur Kerja
Prosedur kerja yang dilakukan pada penelitian ini adalah:
a. Untuk mengukur Dosis radiasi yang diterima pasien untuk pemeriksaan CT-Scan Thorax Phantom dengan Computer Tomography Dose Index (CTDI)
1. Mencatat segala speifikasi pesawat CT-Scan
2. Memasukan data pemeiksaan thorax dan memilih parameter thorax pada layar monitor dan akan muncul tegangan tabung sebesar 130 kV, 140 mAs
3. dilakukan CT-Scan pada pemeriksaan Ct - Scan thorax 4. CT-Scan ini dilakukan sebanyak sembilan kali
5. Setelah mendapatkan nilai CTDI maka dilakukan pencatatan nilai dosis yang didapatkan
b. Untuk mengukur dosis radiasi pada phantom thorax dengan TLD BARCH dengan pesawat CT-Scan
1. Mencatat segala spesifikasi pesawat CT-Scan 2. Menyiapkan TLD BARCH
3. TLD diletakan di tiga titik pada phantom thorax
4. Memasukan data pemeiksaan thorax dan memilih parameter thorax pada layar monitor dan akan muncul tegangan tabung sebesar 130 kV, 140 mAs
5. Mengukur nilai dosis dengan cara meletakkan Detektor diatas meja pemeriksaan kemudian dibaca oleh multimeter X-ray yang telah disoftware dengan CTDI
6. Pengukuran ini dilakukan sebanyak sembilan kali pemeriksaan.
7. Dilakukan pembacaan TLD BARCH
8. Mencatat hasil Pengukuran dosis radiasi pada pasien dilakukan pada 3 titik yaitu caput humerus kanan (Titik A), caput humerus kiri (Titik B) dan sternum ( Titik C) seperti pada gambar 3.3
Gambar 3. 3 Titik Tempat penempatan TLD BARCH
9. Pemasangan TLD dilakukan sebelum scanning , Selanjutnya TLD BARCH dibaca menggunakan TLD-Reader di BPFK Medan. Pengolahan data dosis radiasi pada pasien dari hasil scanning dihitung dengan mengambil nilai rata-rata dari ketiga bagian marker phantom tempat pemasangan TLD BARCH .nilai rata-rata tersebut merupakan dosis radiasi yang diterima pasien selama pemeriksaan menggunakan Pesawat CT-Scan. Sedangkan untuk CTDI dan DLP pada pasien yang melakukan pemeriksaan CT Scan dapat dilihat pada
c B A
consul. Consul merupakan perangkat komputer yang digunakan untuk pengaturan dan rekonstruksi data yang dihasilkan dari pesawat CT Scan.
Nilai CTDI yang diterima pasien pada setiap pemeriksaan kemudian dibandingkan terhadap hasil ukur dosis yang diterima TLD. Hal ini dilakukan untuk mengetahui perbandingan nilai CTDI yang tertera pada consul dengan dosis yang sebenarnya diterima pasien.
3.4 Analisa Hasil
Data dosis yang diperoleh dari hasil pengukuran dikumpulkan dalam bentuk tabel. Untuk membandingkan antara nilai CTDI dan Nilai hasil ukur TLD
3.5 Diagram Alur Penelitian
MULAI
IDENTIFIKASI MASALAH
STUDI PUSTAKA
OBSERVASI PAPANGAN DAN
PERIZINAN
PENGOLAHAN DATA
SELESAI
PERSIAPAN ALAT DAN BAHAN
PENGAMBILAN DATA
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil pengukuran
Dari Hasil pengukuran diketahui bahwa besarnya dosis radiasi rata-rata yang diterima pasien selama CT Scan Thorax sebesar 16,19 mGy sampai dengan 33,0 mGy, dengan nilai rata-rata 19,97 mGy. Perbandingan hasil ukur dosis terhadap CTDIvol rata-rata hasil ukur dosis pasien pada TLD hampir semuanya berada diatas CTDIvol. Namun hasil ukur dosis yang diproleh masih berada dibawah batas maksimal untuk CT Scan Thorax rutin yang ditetapkan oleh IAEA yaitu sebesar 30 mGy.
4.2 Hasil/Data Pengukuran dengan CTDI
Hasil pengukuran dosis radiasi yang diperoleh pada pemeriksaan CT-Scan Thorax dengan CTDI di rumah Sakit Efarina Etaham Berastagi dapat ditunjukan pada Tabel 4.1 CT-Scan Thorax yang paling besar mendapatkan dosis radiasi adalah 14,43 mGy.
4.3 Hasil/Data Pengukuran dengan TLD
Hasil pengukuran dosis radiasi yang diperoleh pada pemeriksaan CT-Scan Thorax dengan TLD di rumah Sakit Efarina Etaham Berastagi dapat ditunjukan pada Tabel 4.2
Berdasarkan Tabel 4.1 dan 4.2 diatas dapat diketahui bahwa besarnya dosis radiasi yang diterima pasien selama CT-Scan thorax sebesar 16,19 – 27,77 mGy, dengan rata-rata 19,85 mGy. dari ketiga titik yang diukur dosisnya, area yang menyerap dosis radiasi yang paling besar adalah sternum. Hal tersebut diakibatkan karena sternum berada ditengah-tengah objek sehingga menerima radiasi hambur yang lebih banyak dibandingkan yang diterima pada caput humerus kanan dan caput humerus kiri sehingga dosis radiasi yang pada area sternum lebih besar, selain itu juga disebabkan karena sternum berada dititik isosentris ( titik awal dan ahir ) perputaran gantry sehingga dosis yang diterima lebih besar dibandingkan pada kedua titik pengukuran yang lain karena CT Scan yang digunakan merupakan CT
Tabel 4.2 Hasil pengukuran dosis radiasi dengan menggunakan TLD
diproleh masih berada dibawah batas maksimal untuk CT Scan Thorax rutin yang ditetapkan oleh IAEA yaitu sebesar 30 mGy.
Dosis radiasi yang paling besar terukur pada daerah titik C yaitu sternum karena sternum berada pada tengah-tengah area penyinaran sepanjang sumbu scan, karena radiasi terus memancar seluas lapangan penyinaran, atau didalam CT scan dinamakan DLP. Sedangkan untuk caput humerus kanan dan kiri merupakan objek yang berada di tepi, sehingga jumlah radiasi yang diterima lebih kecil daripada yang didaptkan sternum karena objek tersebut hanya menerima radiasi primer pada area yang kecil dan banyak yang menjadi radiasi hambur diudara. Kontribusi dosis hambur pada udara sedikit terhadap dosis yang diterima oleh TLD sehingga dosis yang diterima tidak mewakilkan jumlah dosis yang keluar sepanjang sumbu scan selama penyinaran berlangsung.Perbandingan nilai dosis yang didapat oleh pasien dengan CTDI dan TLD dalam dilihat pada Diagram 4.1 dibawah ini.
Gambar 4. 1 Diagram Perbandingan Dosis pasien pada caput humerus kanan, caput humerus kiri, sternum dan nilai CTDIvol
0
Gambar 4. 2 Diagram Perbandingan hasil ukur dosis Sternum dan DLP Dari gambar diatas terlihat bahwa semakin tinggi dosis yang diterima sternum maka semakin tinggi pula DLP yang didapatkan oleh pasien. Hal tersebut dikarenakan semakin luas area lapangan penyinaran, maka semakin banyak radiasi yang keluar dari pesawat CT Scan. Hal ini mengakibatkan semakin besar dosis yang diterima sternum karena memproleh radiasi hambur yang lebih banyak dari area yang terpapar radiasi selama penyinaran berlangsung.
Berdasarkan penelitian, penerimaan dosis rata-rata pasien pada CT Scan thorax masih dalam batas panduan dosis CT Scan yang ditetapkan olehn IAEA, yaitu sebesar 30 mGy untuk CT Scan thorax rutin.
0 5 10 15 20 25 30 35
Hasil Ukur Dosis (mGy)
DLP(mGy.cm)
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Dari hasil data diatas dapat dimabil kesimpulan dalam penelitian tersebut adalah :
1. Hasil pengukuran nilai dosis pada pasien yang menjalani pemeriksaan CT Scan thorax yang dilakukan dengan menggunakan tegangan tabung 130 kVp, arus tabung 250 mAs, Slice thicknes 1,5 mm memproleh nilai dosis pada thorax sebesar 15,05 mGy sampai dengan 28,0 mGy
2. Perbedaan rata-rata dosis pada tiga titik pengukuran yaitu caput humerus kanan sebesay 18,3 mGy, caput humerus kiri sebesar 16,4 mGy, dan sternum sebesar 25,2 mGy.
3. Penerimaan dosis rata-rata pasien pada CT Scan Thorax masih dalam batas panduan dosis yang ditetapkan oleh IAEA, yaitu sebesar 30 mGy.
5.2 Saran
1. Berdasarkan kesimpulan tersebut maka dapat disarankan bahwa :
Untuk penelitian selanjutnya sebaiknya pada pengukuran dosis radiasi menggunakan arus tabung dan waktu yang bervariasi untuk melihat perbandingan dosis radiasi.
2. Untuk Pengulangan CT-Scan Thorax faktor justifikasi sangat diperlukan mengingat dosis yang diterima cukup besar, sehingga manfaat harus lebih besar daripada resiko yang diterima oleh pasien
DAFTAR PUSTAKA
Aprilyanti, Dinda Dyesti, dkk. 2013. “Pengaruh Diameter Phantom dan Tebal Slice Terhadap Nilai CTDI Pada Pemeriksaan Menggunakan CT-Scan”. Jurnal.
Jurusan Fisika FMIPA Universitas Andalas, Padang.
Amreican Association of Phisicists in Medicine (2008), The Meansurement, Reporting, and Management of Radiation Dose in CT. AAPM Report no.96 Akhadi, Mukhlis: 2000, Dasar- dasar Proteksi Rasiasi,PT. Rineka Cipta: Jakarta Anatomi Fisiologi Sistem Pernafasan dan Sistem Kardiovaskular. Edisi
Kedua.Jakarta : EGC Pearce, Evelyn C. (2002). Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta : PT. Gramedia.
Brooker M.J.1986.Computed Tomography for Radiographer. MTP Press
Baert, A.L & Knauth, M.Sartor, k (2009).Multislice CT.© Springer-Verlag Berlin Heidelberg
Baush,et al. (2008). CT Dosimetry : Comparison of measurement Techniques and Devices. RadioGraphics.
Batan. 2009. “Pedoman Keselamatan dan Proteksi Radiasi Kawasan Nuklir Serpong.Badan Tenaga Nuklir Nasional, Tangerang Selatan.
Claussen, C.Del al. (2004).Multislice CT.A Practical Guide © Springer- Verlag berlin Heidelberg
Dawson, Peter. &Lees, Wiliam R. (2000). Multi-Slice Technology Computed Tomography, Clical radiology (2001) 56 : 302 – 309 doi : 10.1053/crad.2000.0651
Euclid Serrem, RT, BsC, 2001. Computed Tomography Physical Principles, Clinical Application and Quality Controls. W.B Saunders Company : Philadelphia
http://www.bccdc.ca/resource/guide-forms/default.htm
Irianto, Kus. (2004). Struktur dan Fungsi Tubuh Manusia untuk Paramedis. Bandung : Yrama Widya. Cambrige Communication Limited. (1999).
Krane, K. Fisika Modern. Terjemahan oleh Wospakrik, H.J. 1992. Jakarta:
Universitas Indonesia
Rasad esjahriar. Buku radiologi diagnostik. Jakarta; 2005. P.l
Sulistijaningsih N, Hartono C. Atlas Teknik Radiografi. Jakarta. EGC ; 1992. P.n Zubaidah, A. 2005. Efek Papa ran Radiasi pada Manusia. Artikel. Jakarta : Badan Tenaka Nuklir.