IV ZAMAN MODERN
1) Pembaharuan Puis
3.2 Tokoh dan Karya Terbaik Pelopor Angkatan ‘
Chairil Anwar yang dikenal sebagai “Si Binatang Jalang” adalah pelopor Angkatan ‘45 yang menciptakan trend baru pemakaian kata dalam berpuisi yang terkesan sangat lugas, solid, dan kuat. Dia bersama Asrul Sani dan Rivai Apin memolopori puisi modern Indonesia.
Chairil Anwar tidak tumbuh sendiri dalam sebuah ruang kosong. Masa-masa kehadirannya merupakan masa-masa yang subur dan menarik dilihat dari berbagai segi. Secara sosial, saat itu merupakan masa revolusioner, yakni sebuah masa peralihan dari situasi sebagai bangsa terjajah menuju gairah kemerdekaan dari sebuah bangsa yang muda. Masa-masa itu, juga merupakan masa- masa spektakuler dalam jalan sejarah dan tata dunia.
Di bidang pemikiran, saat itulah lalu lintas pikiran dan ideologi besar tengah saling bertikai dan berebut perhatian. Kehadiran pertikaian gagasan dan ideologi besar serta pengaruhnya di Indonesia sempat dicatat dengan baik oleh Achdiat K. Mihardja dalam novelnya Atheis yang monumental.
Chairil Anwar adalah legenda sastra yang hidup dalam batin masyarakat Indonesia. Ia menjadi ilham bagi perjuangan kemerdekaan bangsanya. Namun siapa sangka, penyair yang mempelopori pembebasan bahasa Indonesia dari tatanan lama ini juga seorang pengembara batin yang menghabiskan usianya hanya untuk puisi. Dia adalah seorang penggila buku yang urakan, selalu kekurangan uang, tidak punya pekerjaan tetap, suka keluyuran, jorok, penyakitan, dan tingkah lakunya menjengkelkan. Alhasil, lengkaplah “ciri-ciri” seniman pada dirinya.
Namun, dia juga contoh yang baik tentang totalitas berkesenian dalam dunia sastra Indonesia. Jika Sanusi Pane, Amir Hamzah, Rustam Effendi, dan M. Yamin hanya menjadikan kegiatan menulis puisi sebagai kegiatan sampingan, Chairil Anwar semata-mata hidup untuk puisi dan dari puisi. Bukan secara kebetulan agaknya jika sajak- sajak Chairil memiliki nuansa individualistis yang kental. Pergumulan total Chairil dengan kesenian agaknya telah menuntun sang penyair terjerembab dalam sebuah ritual pencarian filosofis.
Menurut Agus R. Sarjono, kehebatan Chairil itu karena ia menulis sajak bermutu tinggi dengan mengetengahkan dua ciri yaitu, pertama jenis sastra mimbar (sastra yang menyandang suatu ideology atau pemikiran besar tertentu seperti ideologi dan perang). Sastra mimbar secara tematis sangat erat hubungannya dengan
keadaan dan perkembangan zaman. Hal ini dapat berupa tanggapan atau jawaban dari persoalan-persoalan besar zaman itu. Contohnya puisi Krawang Bekasi.
Masih menurut Agus, nama Chairil mungkin tidak akan begitu popular jika dia hanya menciptakan sajak yang berjenis sastra kamar (sastra yang menggarap tema-tema keseharian dan berlatarkan situasi keseharian). Sajak-sajak yang kontemplatif dan personal. Betapapun tingginya mutu sajak Derai-derai Cemara, Senja di Pelabuhan Kecil, atau Yang Terampas dan Yang Putus secara kesusasteraan, namun sajak-sajak demikian sama sekali tidak memiliki peluang untuk diapresiasikan secara massal.
Namun dengan segala ketidaksempurnaannya, keberhasilan terbesar bagi dunia persajakan khususnya dan bahasa Indonesia umumnya adalah kepeloporannya untuk membebaskan bahasa Indonesia dari aturan-aturan lama yang waktu itu cukup mengekang, menjadi bahasa yang membuka kemungkinan- kemungkinan sebagai alat pernyataan yang sempurna.
Chairil adalah personifikasi atau lambang dari kekuatan kreatifitas, sesuatu yang sangat diperlukan dalam kelangsungan hidup masyarakat dan umat manusia. Dia adalah simbol yang memperlihatkan bahwa hidup manusia terbatas, akan tetapi pikiran dan karya-karyanya dapat melintasi zaman.
Karya-karya Chairil Anwar 1) Buku-buku
• Deru Campur Debu (1945) • Kerikil Tajam (1949)
• yang Terampas dan yang Putus (1949) • Tiga Menguak Takdir (1950)
• Derai-derai Cemara (1948)
• Pulangnya Si Anak Hilang (1948), terjemahan karya Andre Gide • Kena Gempur (1951), terjemahan karya John Steinbeck 2) Terjemahan dalam Bahasa Asing
• Sharp Gravel, Indonesia Poems (1960) • Cuatro Poemas Indonesions (1962) • Chairil Anwar: Selected Poems (1963)
• Only Dust: Three Modern Indonesian Poems (1969) • The Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar (1970) • The Complete Poems of Chairil Anwar (1974)
• Jassin (1974)
• Feuer und Asche: Samtliche Gedichte (1978)
• The Voice of The Night: Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar (1993)
Surat Kepercayaan Gelanggang
Surat Kepercayaan Gelanggang diterbitkan di Jakarta pada tanggal 18 Februari 1950. Surat Kepercayaan Gelanggang disusun oleh Asrul Sani. Sebenarnya, Gelanggang Seniman Merdeka didirikan pada 19 November 1946. Pada pertengahan tahun 1946, Chairil Anwar berkumpul dengan para penyair di antaranya, Asrul Sani, Rivai Apin, M.Akbar Djuhana, Mochtar Apin, Baharudin dan Henk Ngantung. Dalam rapat tersebut, Chairil menyatakan bahwa perjuangan Indonesia bukan hanya dalam bidang politik, ekonomi, dan sosial melainkan juga dalam bidang kebudayaan. Perjuangan kebudayaan sangat tidak tampak pada masa itu sehingga menimbulkan cita-cita untuk mendirikan gelanggang (Iskandarwassid, dkk.,1997:70-71).
Surat Kepercayaan Gelanggang
Kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia dan kebudayaan ini kami teruskan dengan cara kami sendiri. Kami lahir dari kalangan orang banyak dan pengertian rakyat bagi kami adalah kumpulan campur baur dari mana dunia baru yang sehat dapat dilahirkan.
sampai berkilat dan untuk dibanggakan, tetapi kami memikirkan suatu penghidupan kebudayaan baru yang sehat. Kebudayaan Indonesia ditetapkan oleh kesatuan berbagai- bagai rangsang suara yang disebabkan oleh suara yang dilontarkan kembali dalam bentuk suara sendiri. Kami akan menentang segala usaha yang mempersempit dan menghalangi tidak betulnya pemeriksaan ukuran nilai.
Revolusi bagi adalah penempatan nilai-nilai baru atas nilai-nilai using yang baru dihancurkan. Demikian kami berpendapat, bahwa revolusi di tanah air kami sendiri belum selesai.
Dalam penemuan kami, kami mungkin tidak selalu asli; yang pokok ditemui adalah manusia. Dalam acara kami mencari, membahas dan menelaahlah kami membawa sifat sendiri. Penghargaan kami terhadap keadaan keliling (masyarakat) adalah penghargaan orang-orang yang mengetahui adanya saling pengaruh antara masyarakat dan seniman.
1) Perkembangan Puisi Ciri-ciri puisi periode