BAB II STRUKTUR PENCERITAAN DALAM NOVEL PARTIKEL
2.1 Pengantar
2.2.2 Tokoh Tambahan
Tokoh tambahan adalah tokoh yang memiliki keterkaitan dengan tokoh utama, baik secara langsung atau tidak langsung. Tokoh tambahan merupakan tokoh-tokoh yang berada di lingkaran tokoh utama. Dominasi mereka berada di bawah tokoh utama.
Ada banyak sekali tokoh tambahan di dalam novel ini. Diantaranya adalah Aisyah, Abah Hamid,Umi, Hara, Pak Simon Hardiman, Koso, Pak Kas, Ibu Inga, Paul Daly, Zach, Storm, Hawkeye, dan lain sebagainya. Tidak semua tokoh tambahan akan dianalisis oleh peneliti. Peneliti membatasi analisis tokoh tambahan yaitu Aisyah, Abah Hamid, dan Pak Simon. Ketiga tokoh tersebut dipilih karena hanya ketiga tokoh tersebut yang memiliki kaitan untuk melakukan studi formasi ideologi dalam novel Partikel ini.
2.2.2.1 Aisyah
Aisyah adalah tokoh tambahan dalam novel ini. Hal itu karena Aisyah adalah tokoh yang berada di lingkungan tokoh utama dan memiliki kaitan erat dengan tokoh utama. Aisyah adalah ibu Zarah, suami dari Firas. Aisyah adalah seseorang Ibu yang sangat menyayangi keluarganya. Dalam kisahnya, ia merupakan seseorang yang cantik dan memiliki aura yang baik. Ha itu terlihat dalam kutipan berikut ini.
(42)Di teras depan, saat aku sudah siap duduk di sadel sepedaku, Ibu keluar dengan kerudung biru mudanya. Entah sudah berapa kali dalam hidupku, aku dibuat terpana oleh kecantikan ibuku sendiri. Rambutnya yang hitam lega terurai dari sebelah bahunya, matanya yang besar tampak berkilau dibingkai sepasang alisnya yang lebat, kulitnya bersih dan cemerlang tanpa pulasan make up. Rumitnya kehidupan keluarga kami mungkin sering meredupkan sinar bahagianya, tapi tak pernah menyurutkan kecantikannya, (Lestari, 2012: 157).
Aisyah merupakan seseorang yang sangat konsisten dan ulet. Ia juga seorang yang rajin dan disiplin dalam mengerjaka suatu hal. Hal tersebut terbukti
(43)Gigih, Ibu terus mencoba mendobrak tembok itu. Dialah manusia paling presisten dan konsisten yang kukenal di dunia ini. Ia sanggup melaksanakan hidupnya laksana baris berbaris. Teratur, rapi, dan rutin (Lestari, 2012: 15)
Aisyah juga merupakan seorang Ibu yang rajin dan menyayangi keluarganya. Ia menyiapkan segalanya sendiri. Urusan rumah tangga ia kerjakan dengan sangat baik. Berikut ini kutipan penjelasnya.
(44)Hidup Ibu sepenuhnya untuk keluarga. Kami tidak pernah punya pembantu. Ibu mengurus segalanya dengan baik. Rumah mungil kami selalu resik, lantai selalu licin mengilap, semua permukaan furnitur bebas debu. Baju-baju kami tersetrika rapi dan wangi. Dapur kami mengebul setiap pagi, meruapkan aroma aneka masakan. Tak jarang Ibu memasak sambil menggendong Hara dalam balutan kain di tubuhnya. Makanan hangan selalu tersedia tiga kali sehari di meja (Lestari, 2012: 15).
Aisyah dididik sangat keras dalam keluarga yang Islami. Predikat anak dari Abah Hamid dan Umi membuat ia menjadi seseorang yang sangat taat beribadah. Ia juga memegang teguh keyakinanya akan agama Islam, seperti yang diajarkan Abah dan Umi. Hal itu terbukti dari ia yang selalu rajin mengikuti pengajian yang diadakan di Desa Batu luhur. Kutipan penjelas terdapat dalam kutipan di bawah ini.
(45)Tanpa alpa, kecuali jika sedang datang bulan, Ibu salat lima waktu, menjalankan puasa setiap Senin dan Kamis. Setiap rabu malam, Ibu pergi pengajian ke masjid atau ke rumah Bu Hasanah, seorang ustazah yang sangat dihormati di daerah kami, (Lestari, 2012: 15).
Aisyah juga merupakan tokoh yang ideologinya mewakili ideologi masyarakat yang ada di dalam Partikel. Selain religius, Aisyah juga masih
penunggu Bukit Jambul dan tumbal. Hal itu terjadi ketika Aisyah menyalahkan Firas atas kasus anak ketiganya yang disebut sebagai tumbal Bukit Jambul. Berikut ini bukti kutipannya.
(46)“Itu tempat syaitan! Apalagi aku sedang hamil begini. Aku nggak mau kamu bawa pulang kutukan dari tempat itu (Lestari, 2012: 36).”
(47)“Abah sendiri bilang, di sana ada kekuatan gelap. Kamu itu pasti sudah kena sirep. Mana ada orang waras yang mau ke sana? (Lestari, 2012; 37)”
(48)”Sejak kesurupan setahun yang lalu, kamu berubah jauh, Firas. Aku tahu kamu dari dulu cinta sama ilmu, tapi sekarang kamu itu sudah musyrik. Makanya kamu pengangguran, kita jadi miskin, semua gara-gara kamu lupa sama Allah (Lestari, 2012: 55).”
Sebagai manusia biasa, pastinya Aisyah memiliki puncak kesabaran. Ketika puncak kesabarannya habis, ia bisa menjadi seseorang yang sangat keras. Sifat Firas dan Zarah kadang membuat Aisyah menjadi seseorang yang sangat keras. Hal itu terbukti ketika Firas tetap tidak mau menyekolahkan Zarah di sekolah formal dan juga ketika Zarah melakukan hal-hal yang sangat tidak disuakai Aisyah. Berikut ini adalah kutipan penjelasnya.
(49)“PMP saja nggak tahu, apalagi Agama,” potong Ibu sengit. “Salat saja kamu nggak becus, Zarah. Ibu malu sama Abah, sama Umi. Cucu-cucunya nggak ada yang beres,” tukasnya lagi. “Mulai besok, Ibu panggil Bu Hasanah untuk mengajari kamu ngaji. Kalua perlu, Ibu daftarkan kamu ke pesantren.”
“Nggak mau.”
“Kenapa nggak mau?
“Zarah cuma mau diajar sama Ayah.”
“Tahu apa Ayahmu soal agama? Dia itu musyrik! Ateis!” Ibu membentak, (Lestari, 2102: 55).
(50)“Zarah! Keluar kamu!” lengkingnya.
Aku menggigit bibir, menahan sedu sedanku. “Bu, biar Zarah pergi cari Ayah—“
“Keluaaar!” jerit Ibu histeris.
Terisak-isak aku keluar dari sana. Aku tahu Ibu bukan mengamuk kepadaku. Ia mengamuk kepada hidup ini. Aku hanya ingin menolongnya, (Lestari, 2012: 42).
Sebagai sosok individu, Aisyah adalah seseorang yang kuat dan tangguh. Ketika ia ditinggal hilang oleh suaminya, ia tetap kuat dalam menjalani kehidupannya. Ia juga sosok yang mudah bersosialisasi dengan lingkungan masyarakatnya. Walaupun ia memiliki sifat yang keras terhadap Zarah, namun dalam hati kecilnya ia sangat menyayangi Zarah.
2.2.2.2 Abah Hamid Jalaludin
Abah Hamid Jalaludin adalah tokoh tambahan. Tokoh Abah adalah tokoh yang bersingungan secara langsung dengan Zarah dan Firas. Ia juga salah satu tokoh yang menyebabkan konfik dalam cerita Partikel. Ia memiliki dan mewakili ideologi yang ada di dalam masyarakat.
Abah Hamid adalah orang Arab yang tinggal di Jawa Barat. Ia adalah seseorang keturunan Arab namun menetap di Batu Luhur sudah sejak lama. Berikut ini adalah kutipan penggambaran fisik Abah Hamid.
(51)Semua diawali oleh kakekku. Hamid Jalaludin. Pria keturunan Arab, bertubuh tinggi dan gagah. Berdiri di sebelahnya seperti dinaungi pohon besar yang kukuh. Kulitnya yang putih membuat putih membuat cambang, kumis dan alisnya mencuat kontras. Entah itu penduduk,kerabat, ank, atau cucu, kami semua serempak memanggilnya Abah, (Lestari, 2012: 10).
Ia adalah sosok yang taat dalam agama dan seorang yang sangat religius. Ia adalah sosok yang dituakan di Desa Batu Luhur. Abah juga merupakan seorang tokoh Agama sekaligus tokoh ekonomi di Batu Luhur. Berikut ini adalah kutipan-kutipan penjelasnya.
(52)Abah adalah tokoh yang amat dihormati di Batu Luhur. Aku tak tahu persis bagaimana Abah yang orang Arab dan bukan asli Jawa Barat akhirnya bisa menetap di sana, Membaur dengan penduduk dan fasih berbahasa Sunda. Ibu hanya pernah bercerita sekilas bahwa awalnya Abah sudah lama bermukim di Kampung Arab di daerah Cisarua. Sejak muda, Abah sudah ingin mengabdikan dirinya pada misi syiar agama. Ia sudah sering dipanggil menjadi penceramah di daerah Bogor dan sekitarnya. Namun, di Batu Luhurlah, Abah menemukan rumahnya, (Lestari, 2012: 10).
(53)Seiring waktu, Abah menjadi tokoh agama sekaligus tokoh ekonomi di Batu Luhur. Di sana ia membina pesantren rumahan. Ia mendorong penduduk kampung agar punya industri kecil, tidak Cuma bergantung pada hasil bumi. Abah disejajarkan dengan kaum sesepuh yang punya suara penentu atas masa depan Batu Luhur, (Lestari, 2012: 10).
Sifat dan karakter Abah yang sangat religius dan taat beragama inilah yang kemudian menjadi konflik antara ia dan Firas, maupun ia dan Zarah. Ketika keuda ideologi yang saling bersebrangan disejajarkan maka mungkin akan terjadi gesekan antar keduanya.Hal itu yang terjadi di antara Abah dan Firas serta Zarah. Ideologi Abah mengenai Agama Islam dan juga ideologi Firas dan Zarah mengenai alam semesta dan isinya.
Walaupun merupakan seseorang yang taat beragama, Abah juga merupakan seseorang yang percaya kepada hal semacam “klenik”. Namun kepercayaannya hanya sebatas meng”iya”kan namun tidak mengimani. Hal itu terbukti ketika
larangan untuk menebang hutan Bukit Jambul. Hal tersebut terbukti dalam kutipan berikut.
(54)Abah lantas melakukan rangkaian sembayang khusus untuk meminta petunjuk. Suatu malam sesudah salat istikharah, ia diberi mimpi. Dalam mimpinya, ada sinar menyilaukan turun di puncak Bukit Jambul. Ia menelan Ayah, kemudian sinar itu hilang begitu saja ditelan gelap. Ada suara yang meneragkan kepada Abah bahwa itulah yang akan terjadi kepada Ayah jika Bukit Jambul diusik, (Lestari, 2012: 31).
(55)Sejak mimpi itu, persepsi Abah tentang Bukit Jambul pun berubah. Tempat itu menggentarkannya lebih dari apapun, (Lestari, 2012: 31).
Abah juga merupakan sesosok yang keras dan tegas dalam mendidik anak dan cucunya. Ia rela melakukan apapun demi pendidikan anaknya. Ia dulu rela pindah ke kota demi menunjang karir Firas dalam bidang akademik. Hal itu terbukti dalam kutipan beriku ini.
(56)Akhirnya demi menyediakan pendidikan yang sesuai bagi Ayah agar kecemerlangannya tidak sia-sia, Abah dan Umi pindah ke Bogor kota, (Lestari, 2012: 11).
Sifatnya menjadi sangat keras jika telah menyangkut pendidikan dan agama. Hal itulah yang kemudian menyebabkan konflik atas pertentangan kedua ideologi tersebut. Puncaknya ketika Zarah membandingkan apa yang dipercayai Abah dalam Agamanya dan juga apa yang dipercayai Firas dan Zarah mengenai agama. Hal itu terbukti dalam kutipan berikut.
(57)Maya Allah, “Abah mengusap mukanya.” Dengar, Zarah, Kita ini keluarga Islam. Sampai mati, kita semua tetap Islam. Mulai hari ini cuma ada satu kebenaran di rumah ini. Cuma ada satu kebenaran yang kamu bawa ke sekolah. Dan ke manapun kamu pergi nanti, kebenaran
itu tidak berubah. Jangan kamu berani-berani pertanyakan. Mengerti? (Abah Hamid, 2012: 104).”
Sejak muda Abah sudah mengabdikan dirinya untuk misi syiar agama. Hal itu yang menyebabkannya menjadi sosok yang sangat taat beragama. Ajaran agama yang sagat kental menjadikannya agak skeptis dalam membela dan meyakini agamanya. Abah adalah seorang yang sangat keras dalam mendidik anak cucunya namun dalam lubuk hatinya ia sebenarnya seseorang yang sangat penyayang terhadap keluarganya.
2.2.2.3 Pak Simon Hardiman
Pak Simon adalah teman Firas, atau bisa juga disebut seseorang yang menolong Firas. Pak Simon bisa juga dikatakan sosok yang membantu Zarah untuk menemukan kabar mengenai Ayahnya. Dengan ideologi dan pemikiran yang hampir sama dengan Firas dan Zarah, Pak Simon merupakan sosok penolong yang tepat.
Pak Simon adalah seorang konglomerat yang berasal dari Indonesia dan tinggal di Inggris tepatnya di Weston Palace. Pak Simon membeli Weston Palace ketika rumah yang super mewah yang berada di Inggris itu dilelang. Berikut ini kutipan penjelasnya.
(58)Dari hasil mengobrol dengan supir taksi dan Elena, aku jadi tahu bahwa Weston Palace adalah salah satu bangunan aristokrat Inggris yang satu per satu jatuh ke pembeli asing. Weston Palace, bangunan bersejarah yang tadinya diperuntukkan sebagai rumah peristirahatan salah satu nigrat kerajaan Inggris itu sudah sempat mau dijadikan hotel butik. Apalagi lokasinya dekat dengan Tor yang merupakan tujuan utama wisata Glastonbury. Rencana tersebut bubar begitu seorang
konglomerat dari Indonesia bernama Simon Hardiman membeli lelang properti itu dengan harga paling tinggi (Lestari, 2012: 400).
Pak Simon digambarkan sebagai seseorang yang berusia sekitar 60 tahunan. Ia juga sangat cerdas dan memiliki banyak sekali pengetahuan dan pengalaman tentang metafisika. Berikut ini kutipan penjelas mengenai gambaran fisik Pak Simon.
(59)Aku terkejut ketika menyadari di hadapanku seorang pria telah berdiri. Entah sudah berapa lama ia di sana. Dari rambutnya yang mulai menipis dan sebilah tongkat yang dipakainya, aku menduga umurnya sekitar 60 tahunan. Dari sikap tubuh dan sorot matanya yang cerdas, ia menunjukkan semangat yang jauh lebih muda. Garis muka dan warna kulitnya jelas menunjukkan ia orang Asia. Memakai kemeja flanel, kotak-kotak lengan panjang, dan jins, pria itu menatapku santai (Lestari, 2012: 396).
Ia adalah seseorang yang memiliki ideologi dan jalan pikiran yang hampir sama dengan Firas. Maka ia membantu Firas untuk mendanai penelitian Firas. Ia memiliki ketertarikan yang sama dengan Firas dalam bidang metafisika, sains, fungi dan bahkan tentang alien. Berikut ini kutipan penjelasnya.
(60)“Bapak pernah bertemu ayah saya?”
“Tidak, kami cuma korespondensi. Padahal saya ingin sekali bertemu ayahmu,” jawab Pak Simon. “Saya mengenalnya lewat seorang teman, profesor di Oxford. Dia ahli mikologi. Samuel Brennard, namanya. Suatu hari, Samuel mengontak saya, bilang ada orang dari Indonesia yang mengiriminya surat. Samuel tidak tertarik merespons surat itu. Katanya ’that letter comes from a twilight zone.‟ Berhubung Samuel tahu hal-hal seperti itu justru menarik buat saya, dia lalu mengirimkan surat ayahmu, (Lestari, 2012: 408).”
(61)“Ayahmu, seperti juga aku, percaya bahwa semesta ini bersifat hologram. Artinya, setiap titik adalah proyeksi dari keseluruhan semesta
hingga jadi triliunan sel. Setiap sel tubuhmu mengekpresikan Zarah secara utuh. Kalau tidak, metode kloning tidak mungkin berhasil dilakukan. Kalau semsesta ini merupakan satu tubuh, maka kamu adalah bagian inheren darinya, Zarah. Kita berada dalam suatu jaringan intelegensi kosomos. Mengapa tidak mungkin intelegensi yang sama menghubungkanmu dengan makhluk lain di semesta ini? Kalau tubuh kita „mengandung‟ semesta secara utuh, mengapa kita terus mengandalkan eksplorasi ke luar, dan malah mengabaikan gerbang yang ada di dalam? (Lestari, 2012: 411).”
Pak Simon memiliki sifat yang sama dengan Firas. Pak Simon memiliki kegigihan utuk mencari tahu dan mengali sesuatu yang ingin ia tau. Berikut ini kutipan penjelasnya.
(62)Dalam hati, aku mengagumi keseriusan Pak Simon, menyadari kemiripan sifatnya dengan Ayah. Tak heran mereka bisa akhirnya tersambung. Meski bukan ilmuan, Pak simon memiliki kegigihan untuk mencari dan menggali sendiri. Persis Ayah. Bedanya, Ayah perlu berjuang dengan segala keterbatasan. Sementara, sarana berlimpah dan kebebasan bergerak membuah Pak Simon menjalani semua kegiatan penelusurannya bagai bertamasya (Lestari, 2012: 419).”
Pak Simon juga seseorang yang baik hati. Hal itu terbukti ketika ia mau dengan suka rela membantu riset Firas yang ditolak oleh siapapun. Ia juga dengan baik hati mau menolong Zarah membukakan jalan untuk menemukan Firas. Berikut ini kutipan yang membuktikannya.
(63)“Saya tidak tahu dia di mana, Zarah,” Akhirnya ia berkata tegas. “Tapi, saya mungkin satu-satunya orang yang bisa membantu kamu mencarinya (Lestari, 2012: 398).”
Sifat baik hati Pak Simon juga terlihat ketika ia mengajak Zarah mengunjungi sejumlah tempat bersejarah yang ada di Salisbury Plain.
Tempat-tempat yang menambah pengetahuan Zarah tentang Stonehegen, UFO hingga crop circle. Berikut ini kutipan pembuktinya.
(64)Pagi-pagi sekali, dengan mobil Bentley berwarna emas pucat dan sopr bernama Lance, kami meluncur meninggalkan Glastonbury ke Salisbury Palain (Lestari, 2012: 413).
(65)Untuk menengok crop circle, Pak simon membawa Lance dan Bentley-nya. Ia mendaftarkan kami berdua ikut tur (Lestari, 2012: 424).
Pak Simon juga merupakan seseorang yang ramah, konsisten, dan juga selalu menepati janjinya. Hal itu terbukti ketika ia menepati janjinya kepada Firas untuk memberikan kamera kepada Zarah ketika anaknya itu berusia 17 tahun. Berikut ini kutipan penjelasnya.
(66)Terbit lagi senyuman ramahnya. “Saya pernah tanya sama Firas, apa yang bisa saya bantu untuk risetnya. Dia Cuma minta sebuah kamera. Dikirimkan untuk anak perempuannya bernama Zarah pada ulang tahunnya yang ke-17. Untuk semua diskusi dan informasi berharga dari ayahmu, saya putuskan untuk melepas kamera koleksi pribadi saya. Cuma itu yang terbaik yang bisa saya berikan. Sampai sekarang, saya terus berharap bisa memberikan lebih (Lestari, 2012: 413).”
Pak Simon adalah tokoh yang sangat penting. Ia adalah jalan bagi Zarah untuk mencari tahu di mana ayahnya sebenarnya. Apakah masih hidup atau sudah meninggal. Pak Simon juga merupakan tokoh yang membantu memperjelas sebenarnya ideologi macam apa yang dipercayai oleh Firas. Dari Pak Simon, Zarah belajar banyak megenai bagaimana bumi dan alam semesta dalam pandangan Firas.
2.3 Latar
Unsur latar dapat dibedakan ke dalam tiga unsur pokok, yaitu tempat, waktu, dan sosial. Ketiga unsur ini walau masing-masing menawarkan permasalahan yang berbeda dan dapat dibicarakan secara sendiri, pada kenyataannya saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya.