• Tidak ada hasil yang ditemukan

MODEL KONSEPTUAL KELEMBAGAAN

TOLOK UKUR PEMBERDAYAAN: Terbentuknya kelompok usaha bersama

ekonomi (KUBE)/koperasi

Meningkatnya pendapatan pelaku usaha (petani, petani-penyuling)

Meningkatnya pelaku usaha SIITEM PEMBERDAYAAN

MASYARAKAT PERDESAAN PAP-Klaster

Gambar 64 Elemen kunci pemberdayaan masyarakat perdesaan PAP-Klaster

Strategi Pemberdayaan Masyarakat

Merujuk Gambar 64, langkah strategi yang harus dilakukan dalam rangka pemberdayaan masyarakat perdesaan dalam klaster agroindustri minyak atsiri melalui PAP-Klaster sebagai berikut:

Strategi harmonisasi sektor masyarakat yang terpengaruh program

Program pemberdayaan masyarakat PAP-Klaster memberi dampak langsung dan tidak langsung bagi masyarakat petani dan petani-penyuling. Petani dan petani- penyuling bertindak sebagai pelaku utama dalam budidaya tanaman nilam dan dalam penyulingan minyak nilam, juga sebagai pemilik industri kecil penyulingan yang akan ditingkatkan kemampuannya. Untuk mewujudkannya, petani dan petani-penyuling hendaknya memahami sungguh-sungguh hak dan kewajibannya dalam program pemberdayaan masyarakat PAP-Klaster.

Strategi pelaksanaannya dilakukan melalui sosialisasi kebermanfaatan

PAP-Klaster bagi petani dan petani-penyuling, baik manfaat yang tangibles maupun

intangibles. Sosialisasi ini dipandang penting karena berdasarkan hasil wawancara langsung dengan para petani dan petani-penyuling diperoleh keterangan bahwa ada kecenderungan petani dan petani-penyuling menolak setiap ajakan untuk bergabung dalam program-program yang baru. Alasan penolakan mereka dapat dimaklumi karena selama ini hampir setiap kebijakan pemerintah yang berkaitan langsung dengan petani dan petani-penyuling dinilai merugikan dalam posisinya yang lemah. Implikasinya terhadap program pemberdayaan masyarakat perdesaan PAP-Klaster

adalah member fleksibilitas pada petani dan petani-penyuling untuk turut berpartisipasi. Hal ini dikarenakan tidak ada paksaan untuk bergabung dan juga tidak ada larangan untuk untuk keluar jika merasa tidak mendapatkan kebermanfaatan (entry-exit). Dengan demikian program pemberdayaan masyarakat PAP-Klaster

hendaknya dapat dikelola dengan baik dan transparan sehingga dapat memberikan keuntungan yang proporsional antara petani dengan petani-penyuling dan dengan pelaku lainnya.

Sosialisasi tentang program pemberdayaan masyarakat PAP-Klaster sebaiknya juga dilakukan pada masyarakat sekitar lokasi budidaya dan industry penyulingan. Hal ini penting agar masyarakat sekitar dapat melihat adanya peluang kerja baru untuk meningkatkan kesejahteraannya. Berdasarkan kondisi tersebut, eksistensi program pemberdayaan masyarakat PAP-Klaster sangat dibutuhkan sebagai mitra strategis masyarakat setempat. PAP-Klaster dapat bertindak sebagai mediator antara usahatani dan industri kecil penyulingan dalam menentukan optimasi kesepakatan harga jual

nilam dan minyak nilam secara berkesinambungan berdasarkan informasi harga jual yang ada.

Strategi pemenuhan kebutuhan pemberdayaan masyarakat PAP-Klaster

Kebutuhan utama program pemberdayaan masyarakat PAP-Klaster melalui dana pembinaan dari investasi usaha dan teknologi tepat guna. Strategi pemenuhan kebutuhan tersebut dapat diupayakan melalui akses sumber-sumber dana yang tersedia, seperti: perbankan (bank konvensional dan syariah) dan lembaga permodalan lainnya (BUMD, BUMN, PNM, ventura dan lembaga donor). Pemenuhan kebutuhan ini sangat ditentukan oleh kemampuan jejaring usaha agroindustri minyak atsiri dalam mensosialisasikan program-program strategisnya serta bantuan pemerintah pusat dan daerah. Salah satu bentuk strategis yang sebaiknya dilakukan oleh pemerintah adalah mendirikan lembaga permodalan khusus agroindustri di perdesaan seperti Badan Usaha Milik Desa (BUM-Des) dan Kelompok Usaha Bersama (KUBE).

Dalam pemenuhan kebutuhan ini, modal bukanlah satu-satunya faktor penentu. Diperlukan pula teknologi tepat guna bagi usahatani dan industri kecil penyulingan, perbaikan infrastruktur, penyediaan sarana dan prasarana produksi, penyediaan bibit unggul, dan kemudahan akses teknologi produksi. Factor-faktor tersebut akan berfungsi maksimal jika mendapat dukungan dari pemerintah pusat dan daerah serta dari perguruan tinggi/lembaga riset.

Strategi mengatasi kendala utama pemberdayaan masyarakat PAP-Klaster

Beberapa kendala utama yang menyebabkan pemberdayaan masyarakat perdesaan agroindustri minyak atsiri kurang berjalan adalah keterbatasan sumberdaya finansial dan terbatasnya fasilitas dan infrastruktur.

Keterbatasan sumberdaya finansial atau sumber dana bagi kegiatan usaha kecil menengah dan koperasi menjadi kendala utama yang menyebabkan perekonomian perdesaan tidak berkembang dengan maksimal. Arah kebijakan pemerintah dalam penyediaan sumber dana usaha lebih berorientasi pada usaha yang berskala besar atau usaha konglomerasi, sementara penyediaan dana untuk usaha kecil menengah dan koperasi masih kurang. Kebijakan demikian terkesan mengedepankan perolehan pendapatan negara bukan kemanfaatan masyarakat secara luas. Dengan kondisi

perekonomian saat ini, sudah saatnya arah kebijakan pemerintah dalam penyediaan sumberdaya finansial lebih berorientasi pada usaha kecil menengah dan koperasi.

Belum memadainya infrastruktur di perdesaan, terbatasnya fasilitas atau sarana dan prasarana produksi, juga menjadi kendala dalam pemberdayaan masyarakat agroindustri minyak atsiri. Strategi untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan mengajak para pelaku usaha untuk bekerjasama dan bersinergi dalam mengatasi kendala tersebut.

Strategi perubahan yang dimungkinkan dalam pemberdayaan masyarakat agroindustri minyak atsiri.

Perubahan yang dimungkinkan dalam pemberdayaan masyarakat agroindustri minyak atsiri adalah terbentuknya kelompok tani dan kebijakan daerah. maka diperlukan penggabungan beberapa petani menjadi suatu kelompok tani. Setiap petani yang tergabung dalam program ini diasumsikan memiliki lahan produktif seluas satu hektar di bawah koordinasi seorang ketua kelompok. Dengan adanya kelompok tani, penyediaan bibit unggul, pupuk, peralatan produksi dan fasilitas lainnya dapat dilakukan secara bersama-sama sehingga dapat meningkatkan produktivitas. Hasil panenpun dapat dijual bersama sehingga kelompok tani mempunyai posisi tawar yang lebih tinggi.

Arah kebijakan daerah harus sejalan dengan para pelaku usaha di perdesaan. Bentuk keterlibatan Pemerintah Daerah dan Dinas lintas sektoral dalam program pemberdayaan masyarakat agroindustri minyak atsiri adalah sebagai fasilitator, motivator dan melakukan pembinaan sehingga diperoleh peningkatan produktivitas usaha dan meningkatnya pendapatan para pelaku usaha.

Strategi pencapaian tujuan pemberdayaan masyarakat agroindustri minyak atsiri

Tujuan pemberdayaan masyarakat agroindustri minyak atsiri adalah membangun kelompok tani/kelompok usaha bersama (KUBE) dan membangun Badan Usaha Milik Desa (BUM-Des).

Agar usahatani dan industri kecil penyulingan memiliki kekuatan untuk mengambil bagian atau peluang usaha yang lebih besar sehingga menjadi usaha yang

kuat dan berkelanjutan, maka diperlukan suatu jejaring usaha. Manajemen jejaring usaha ini dibentuk oleh penggabungan kekuatan koperasi usahatani dan industri kecil penyulingan. Kelompok tani/KUBE bertujuan membina petani-petani melalui fungsi administrasi dan keuangan, organisasi dan peningkatan SDM, serta menjadi media pusat informasi dan pemasaran.

Peningkatan pendapatan diperoleh melalui peningkatan akses sumber daya, yang dapat berbentuk pemanfaatan sumber daya. Akses pemanfaatan diberikan kepada masyarakat local dan adat melalui Badan Usaha Milik Desa (BUM-Des) yang berbentuk koperasi. Pembentukan BUM-Des berpedoman pada ketentuan Undang- Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah dan Peraturan Pemerintah Nomor 72 tahun 2005 tentang Desa. Inisiasi dan pembentukan BUM-Des didasarkan atas aspirasi dan prakarsa masyarakat desa dengan prinsip kooperatif, partisipatif dan emansipatif. Pada intinya, BUM-Des dimiliki, dipetik manfaat produktifnya dan dikelola oleh pemrakarsa.

Strategi penilaian keberhasilan program pemberdayaan masyarakat agroindustri minyak atsiri

Elemen kunci yang dapat dijadikan tolok ukur untuk menilai keberhasilan program pemberdayaan masyarakat agroindustri minyak atsiri adalah terbentuknya kelompok usaha bersama (KUBE), meningkatnya pendapatan pelaku usaha (petani dan petani-penyuling) dan meningkatnya jumlah pelaku usaha. Tolok ukur merupakan indikator keberhasilan program. Dengan terbentuknya KUBE yang dikelola dengan baik, maka para pelaku usaha yang tergabung di dalamnya dapat merasakan manfaat adanya KUBE. Apabila indikator ini telah menunjukkan kinerja yang baik, maka akan berpengaruh langsung pada indikator lainnya seperti peningkatan pendapatan pelaku usaha, peningkatan jumlah pelaku usaha, penurunan jumlah pengangguran di desa, peningkatan produktivitas nilam dan minyak nilam serta terjadinya peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat di desa.

Strategi jangka pendek dalam penilaian keberhasilan program ini adalah melakukan evaluasi kinerja model secara konseptual. Evaluasi kinerja secara konseptual dalam penelitian ini dilakukan melalui model analisis kelayakan usaha dan model optimasi kesepakatan harga. Hasil analisis menunjukkan bahwa model

pemberdayaan masyarakat PAP-Klaster terbukti efektif dan menunjukkan peningkatan pendapatan usahatani dan industri kecil penyulingan sebagai pelaku utama.

Strategi jangka menengah dapat dilihat dari tingkat partisipasi usahatani dan industri kecil penyulingan dalam program pemberdayaan masyarakat PAP-Klaster

yaitu dengan meningkatnya jumlah pelaku usaha yang bergabung dalam manajemen jejaring usaha. Sedangkan strategi jangka panjang adalah terjadinya peningkatan nilai tambah komoditas, adanya peningkatan pendapatan pelaku usaha, semakin kuatnya usaha melalui program ini sehingga dapat memperluas pangsa pasar, terjadinya penurunan angka kemiskinan dan tingkat pengangguran di desa, meningkatnya kualitas SDM di desa oleh alih teknologi sehingga akan tercipta kesejahteraan masyarakat di desa.

Strategi aktivitas yang dibutuhkan guna perencanaan tindakan

Elemen kunci dari aktivitas yang dibutuhkan guna perencanaan tindakan adalah pembentukan kelompok usaha bersama/koperasi. Kelompok usaha bersama dapat terbentuk melalui kerjasama dari para petani. Agar kinerja kelompok usaha bersama ini baik, diperlukan minimal tiga orang tenaga SDM yang terampil dan berkualitas. Dengan demikian kelompok usaha bersama ini dapat mebuka peluang kerja bagi masyarakat di desa. Strategi untuk menjalankan aktivitas yang dibutuhkan ini dengan merekrut SDM yang pendidikannya minimal sekolah menengah umum atau kejuruan, jujur, menguasai teknologi komputer serta dapat menjalankan kelompok usaha bersama ini dengan memanfaatkan peluang pasar yang ada.

Strategi lembaga yang terlibat dalam program pemberdayaan masyarakat agroindustri minyak atsiri

Elemen kunci dari lembaga yang terlibat dalam program pemberdayaan masyarakat PAP-Klaster adalah Dinas daerah yang terkait, lembaga keuangan mikro dan kecil, perbankan nasional, koperasi, perguruan tinggi/lembaga riset dan pengembangan. Sub-elemen lembaga keuangan mikro dan kecil, perbankan nasional dan koperasi merupakan sumberdaya financial yang dapat menentukan keberlangsungan program PAP-Klaster karena ketiganya memiliki keterkaitan yang

sangat erat. Apabila salah satu komponen tersebut tidak berfungsi dengan baik , makaprogram tidak dapat dilaksanakan secara efektif. Para pelaku usaha tidak dapat menjalankan usahanya dengan baik tanpa adanya dukungan permodalan. Sebaliknya lembaga keuangan tidak berani menyalurkan dananya jika tidak ada jaminan kemampuan pelaku usaha di dalam mengelola usahanya dengan menggunakan dan pinjaman. Strateginya adalah melakukan sosialisasi secara baik dan efektif agar program pemberdayaan masyarakat perdesaan dalam klaster agroindustri minyak atsiri ini dapat dilaksanakan.

Bentuk keterlibatan Dinas daerah yang terkait adalah sebagai fasilitator, motivator dan melakukan pembinaan sehingga diperoleh peningkatan produktivitas usaha. Strategi yang harus dilakukan Perguruan Tinggi atau lembaga riset dan pengembangan adalah melakukan penelitian dan pengkajian pemberdayaan masyarakat agroindustri minyak atsiri secara terus menerus. Asosiasi pengusaha dan eksportir yang selama ini telah eksis diharapkan secara bersama-sama dan bersinergi dengan KUBE dan BUM-Des untuk tumbuh dan berkembang dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat agroindustri minyak atsiri.

MODEL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PERDESAAN