• Tidak ada hasil yang ditemukan

File New Model

a b

3. Pada kotak Quick Grid Lines, klik OK

4. Menentukan ukuran bangunan yang akan direncanakan, Gambar 9.2 Quick Grid Lines

Define Coordinate system/Grids Modify/Show System OK

5. Akan muncul Gambar 9.4 yang diisikan sesuai dengan ukuran bangunan dalam proyek akhir ini,

6. Mendefinisikan jenis bahan :

7. Klik Add New Material.. untuk menambah tipe bahan beton Gambar 9.4 Definisi Lokasi Gridline

Define Materials

8. Isi sesuai petunjuk yang dijelaskan pada Gambar 9.6

a. Beri nama bahan (fc’=25 Mpa) b. Material type pilih Concrete

c. Pada isian Weight per unit volume isikaan 2400 dalam Kgf, m, C (berat jenis beton)

d. Pada isisan Modulus of elasticity isikan 23500 dalam satuan N, mm, C (E = 4700√ Mpa); pada poisson ratio isikan 0,3 ; coeff of thermal Expansion isikan default dari SAP2000.

e. Pada f’c isikan 25 dalam satuan N, mm, C 9. Setelah selesai pada langkah 8 klik OK

10. Klik Add New Material.. lagi untuk menambah tipe bahan penulangan utama pada beton

Gambar 9.6 Input data material

a b

d e c

11. Isi sesuai petunjuk yang dijelaskan pada gambar 9.7

a. Beri nama bahan (misal : T. Utama) b. Material type pilih Rebar

c. Pada isian Weight per unit volume isikan 7,85 dalam satuan Tonf, m, C (berat jenis baja)

d. Pada isian Modulus of elasticity isikan 20.000.000 dalam satuan Tonf, m, C ; pada poisson ratio isikan 0,3 ; dan

Coeff of Thermal Expansion isikan default dari SAP2000

e. Pada fy isikan 32.000 dalam satuan Tonf, m, C ; fu isikan 48.000 dalam satuan Tonf, m, C (1,5fy) ; fye isikan 35.200 dalam satuan Tonf, m, C (1,1fy) ; fue isikan 52.800 dalam satuan Tonf, m, C (1,5fye)

a b c

d

e

12. Setelah selesai pada langkah 11 klik OK

13. Klik Add New Material.. lagi untuk menambah tipe bahan penulangan sengkang pada beton

14. Isi sesuai petunjuk yang dijelaskan pada Gambar 9.8

a. Beri nama bahan (misal : T. Sengkang) b. Material type pilih Rebar

c. Pada isian Weight per unit volume isikan 7,85 dalam satuan Tonf, m, C (berat jenis baja)

d. Pada isian Modulus of elasticity isikan 20.000.000 dalam satuan Tonf, m, C ; pada poisson ratio isikan 0,3 ; dan

Coeff of Thermal Expansion isikan default dari SAP2000

a b c

d

e

e. Pada fy isikan 24.000 dalam satuan Tonf, m, C ; fu isikan 36.000 dalam satuan Tonf, m, C (1,5fy) ; fye isikan 26.400 dalam satuan Tonf, m, C (1,1fy) ; fue isikan 39.600 dalam satuan Tonf, m, C (1,5fye)

15. Setelah selesai pada langkah 14 klik OK 16. Kemudian mendefinisikan penampang elemen struktur :

17. Klik tombol Add New Property.. untuk menambahkan tipe penampang yang baru pada kotak dialog frame properties

Define Section Properties Frame Section

Gambar 9.9 Kotak dialog frame properties

a

b

a. Pada frame section property type pilih concrete

b. Klik tombol rectangular

18. Mengisi Rectangular Section seperti pada gambar 9.11

a. Beri nama penampang (misal : KL 50/50) b. Pilih material “fc’=25 MPa”

c. Pada isian Dept (t3) = 0,5 m (tinggi) dan Width (t2) = 0,5 m (lebar)

d. Klik Concrete Reinforceement.. seperti yang terlihat pada Gambar 9.12

a

b

c

d

e. Longitudinal bars untuk tulangan utama dan Confiement

bars (ties) untuk tulangan geser

f. Column (P-M2-M3 Design) untuk penamapang kolom dan Beam (M3 Design only) untuk penampang balok g. Pada bagian Check/Design pastikan terpilih

Reinforcement to be Design, lalu klik OK

19. Untuk mendefinisikan frame baru sama seperti pada langkah 16-18

20. Kemudian mendefinisikan penampang elemen struktur :

Define Section Properties Area Section e

f

g a

21. Klik tombol Add New Section.. untuk menambahkan tipe pelat yang baru pada kotak dialog area section

22. Mengisi Shell Section Data seperti pada Gambar 9.14 a. Beri nama penampang pelat (misal : plat lt = 12 cm) b. Pada type, pilih shell-thin. Tipe shell merupakan

gabungan dari sifat plate dan membrane. Plate adalah elemen luasan yang menahan gaya pada arah tegak lurus bidang pelat, sedangkan membrane searah pada bidangnya. Walaupun elemen pelat lantai hanya menerima beban arah tegak lurus bidangnya saja (elemen

plate), namun mengingat pula bahwa model 3D ini juga

akan bergerak transversal (horizontal) dimana bisa terjadi gaya searah bidang pelat, maka tetap dipakai elemen

shell. Sedangkan ketebalan pelat mempengaruhi tipe thin

dan thick. Untuk pelat lantai masih didominasi oleh lentur sehingga dipilih thin, namun untuk pelat yang relatif tebal (misal pada perkerasan jalan), dipilih thick

c. Pilih material yang sesuai dengan bahan pelat yaitu beton d. Pada thickness diisi dengan ketebalan elemen pelat lantai

(12 cm) karena satuan dalam model ini dipakai meter maka diisikan 0,12 m

e. Setelah selesai klik OK

23. Membuat nama beban yang akan dimasukkan ke dalam pemodelan

a. Pada Load Pattern Name isikan nama beban yang akan dimasukkan

Define Load Patterns.. a

b

c e

Gambar 9.14 Data input pelat lantai

a b c

b. Pada type pilih sesuai dengan tipe beban yang akan dimasukkan

c. Klik tombol Add New Load Pattern d. Setelah selesai membuat beban klik OK 24. Membuat kombinasi pembebanan

25. klik Add New Combo..

Define Load Combinations..

Gambar 9.14 Kotak dialog define load combinations

a

c b

d

a. Beri nama kombinasi yang diinginkan

b. Pilih case nama sesuai yang dimasukkan pada load case pada langkah 23

c. Isikan faktor skala yang direncanakan d. Klik add

e. Setelah selesai klik OK

26. Gambar balok dan sloof (pada sumbu xy), kolom dan tiang pancang (pada sumbu xz). Klik draw frame/cable element

a. Pilih frame yang akan digambar dan gambar sesuai pada

grid yang direncanakan

27. Gambar pelat dengan cara klik draw rectangular area pada

toolbar draw

28. Masukkan beban-beban pada pelat serta balok dengan perintah :

28.1 Beban pada pelat

Select (pelat yang akan dibebani) Assign

Area Load Uniform (shell) a

Gambar 9.16 Kotak pemilihan frame

a. Pilih satuan beban yang akan dimasukkan Kgf, m, C b. Pilih nama beban yang akan dimasukkan

c. Masukkan besar beban 29.2 Beban pada balok

a. Pilih satuan beban yang akan dimasukkan Kgf, m, C b. Pilih nama beban yang akan dimasukkan

c. Masukkan besar beban

Select (balok yang akan dibebani) Assign

Frame Load Distributed

a b

c

Gambar 9.18 Kotak isian beban pada pelat

a b

c

9.2 Langkah-Langkah Analisis Pushover program SAP2000 : Tahapan analisis Pushover menggunakan program SAP2000 sebagai berikut :

1.

Menentukan Identitas Analisis Static nonlinear yakni GRAV dan PUSH

Gambar 9.20 Identitas analisis gravitasi

2. Memasukkan data gravitasi Input Pembebanan

- Dead = faktor pengali = 1 - Live = faktor pengali = 1

3. Memasukkan data static nonlinear

Pada analisis pushover hanya meninjau sumbu

Dokumen terkait