BAB IV ANALISIS BUKU MENGENAL ISLAM FOR BEGINNERS
2. Topik: Dasar Hukum dalam Islam
Kategori Temuan Keterangan
Medan Wacana (Field of Discourse)
Al-Qur’an, lebih dari sebuah fenomena apa pun yang kita ketahui,
secara mendasar telah
mempengaruhi sejarah agama, sosial, dan politik dunia. Tak ada kitab suci lain yang mampu menyamainya dalam mempengaruhi kehidupan orang-orang yang mendengar wahyu Allah itu dari generasi pertama dan terus ke generasi berikutnya. Al-Qur’an telah
Penekanan peranan yang telah dihasilkan; kitab agama (Al-Qur’an);
penekanan pada wilayah Arab; fakta historis
mengguncang jazirah Arab dan membuat bangsa itu meninggalkan kebiasaan berperang dalam beberapa dekade, Al-Qur’an pun menyebarkan pandangan-dunianya jauh melewati batas-batas jazirah Arab dan menghasilkan masyarakat ideologis pertama.…”(hal.48) Pelibat
Wacana (Tenor of Discourse)
Muhammad Asad Pakar (penerjemah dan
ahli tafsir Al-Qur’an); terlembaga (tokoh agama terhadap masyarakat) Sarana Wacana (Mode of Discourse)
Al-Qur’an telah mengguncang jazirah Arab(hal.48)
‘mengguncang’ majas
Hiperbola; ‘Jazirah
Arab’ menggunakan
majas sinekdok totem pro parte; berorientasi
pada usaha
pengeyakinan; mengacu pada peran yang telah dilakukan (lampau).
a. Medan Wacana
Mengenai komponen medan wacana pada tema pembahasan dasar hukum Islam yang terdapat pada halaman 31 (tiga puluh satu) hingga halaman 48 (empat puluh delapan), yang pada hakikatnya setiap lembarnya memiliki topik pembahasan dan medan wacana tersendiri, namun peneliti memilih sebuah teks yang dirasa kompatibel dengan pembahasan dalam tema tersebut.
Dalam medan wacana dijelaskan dengan tegas mengenai peranan Al-Qur’an yang telah mempengaruhi dunia, pada khususnya kepada
untuk menerima dan menyebarluaskan ajaran dan kitab Al-Qur’an sebagai pedomannya.
Sebagai sejarah agama, Al-Qur’an adalah bagian penting bagi sejarah turunnya firman Allah. Sejarah agama samawi yang diklaim dimulai dari masa Nabi Ibrahim as., secara konkret sekonsep dengan ajaran yang dibawa Nabi Musa as., Isa as., hingga Muhammad S.A.W sebagai nabi besar yang terakhir. Selain mengakui eksistensi Musa dan Isa as., Al-Qur’an juga memiliki hukum emas yang sama, yakni ketauhidan terhadap Allah S.W.T.
Dalam Al-Qur’an tercantum ringkasan dari kisah nabi besar, kisah umat masa lampau, nubuat masa depan, pelajaran kehidupan, contoh penggunaan bahasa sastra, hukum, bahkan ilmu pengetahuan science pun banyak terdapat di Al-Qur’an.
Merupakan sebuah fakta sejarah bahwa konsep agama Islam yang terdapat dalam Al-Qur’an telah mengubah sikap hidup bangsa Arab (yang beragama Islam) menjadi sebuah peradaban Islam yang jaya selama 800 tahun di dunia, dan membuat iri bangsa lain dengan ‘rahasia’ yang
terdapat dalam Al-Qur’an. Mereka juga iri dengan peradaban Islam yang
baru muncul dan dengan pesat berkembang hingga menguasai berbagai wilayah.
Al-Qur’an dengan hukum-hukumnya membuat bangsa Arab pada khususnya berpikir mengenai perbaikan diri dan kehidupan sosial. Bangsa Arab pada awalnya adalah bangsa yang memiliki rasa kemanusiaan yang
rendah. Dan Al-Qur’an mengatur cara bersikap mereka, pun hingga urusan berumah tangga, contohnya pada ayat berikut:
“Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu mereka mendekati akhir idahnya, maka rujukilah mereka dengan cara yang ma'ruf, atau ceraikanlah mereka dengan cara yang ma'ruf (pula). Janganlah kamu rujuki mereka untuk memberi kemudharatan, karena dengan demikian kamu menganiaya mereka. Barangsiapa berbuat demikian, maka sungguh ia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. Janganlah kamu jadikan hukum-hukum Allah permainan, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu yaitu Al-Kitab dan Al-Hikmah. Allah memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu. Dan bertaqwalah kepada Allah serta ketahuilah bahwasannya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”(QS.Al-Baqarah :231)
Al-Qur’an pula dengan sangat menakjubkan mengungkap rahasia-rahasia alam yang tidak disangka-sangka. Hal ini membuat para orang bodoh terperangah dan orang pintar berdecak kagum. Tidak lagi terdapat keraguan didalam Al-Qur’an. Maka, masyarakat Arab secara signifikan dengan menggunakan konsep-konsep Islam dan berpedoman Al-Qur’an, merubah dirinya dari kelompok masyarakat bodoh rendahan menjadi masyarakat ideologis yang berpendidikan.
b. Pelibat Wacana
Pelibat yang berperan adalah Muhammad Asad, karena beliaulah yang oleh penulis buku dikutip kata-katanya, yang kalimatnya terdapat dalam medan wacana. Muhammad Asad atau yang sebelumnya bernama Leopold Weiss adalah seorang cendekiawan muslim, mantan Duta Besar
Pakistan untuk Perserikatan Bangsa Bangsa, dan penulis beberapa buku tentang Islam termasuk salah satu tafsir Al Qur'an modern yakni The Message of the Qur'an. Secara singkat, sebagai pelibat, beliau adalah seorang pakar dalam penerjemahan dan ahli tafsir yang dihormati pada abad 20, dan memberikan banyak kontribusi untuk umat Islam.
Kata-kata beliau yang menggambarkan efektifitas kemunculan Al-Qur’an di tanah Arab, digunakan oleh Ziauddin Sardar dikarenakan penulis buku memanglahbertujuan untuk memperkenalkan citra positif mengenai Islam sebagai sebuah agama, kebudayaan dan kemasyarakatan, seperti yang terdapat dalam hasil wawancara dengan Ziauddin Sardar, ketika peneliti bertanya mengenai tujuan utama beliau dalam teks-teksnya:
“To introduce a positive picture of Islam as a religion, culture and civilization”2
(Untuk memperkenalkan gambaran positif tentang Islam sebagai agama, budaya dan peradaban)
Dalam hasil wawancara tersebut, Ziauddin Sardar secara jelas memberitahukan mengenai tujuan utama beliau dalampenulisan buku Mengenal Islam for Beginners, yakni memberikan pengenalan pada masyarakat mengenai citra positif Islamsebagai sebuah agama, budaya dan peradaban.
2
Wawancara melaluiemaildengan Ziauddin Sardar, penulis bukuMengenal Islam for Beginnerspada 15 Juli 2014
c. Sarana Wacana
Kata ‘mengguncang’ yang terdapat dalam kalimat Al-Qur’an telah mengguncang jazirah Arab menggunakan majas hiperbola. Majas hiperbola merupakan sebuah gaya bahasa yang melebih-lebihkan sesuatu. Kata yang menjadi majas hiperbola dalam kalimat tersebut ialah kat
‘mengguncang’. Seperti majas-majas lainnya, penggunaan kata dalam
majas hiperbola ini mengandung makna konotatif. ‘Mengguncang’ disini
bukan berarti tanah Arab terguncang seperti gempa bumi, akan tetapi kata ini bermakna bahwa kondisi sosial di tanah Arab mengalami suatu social shock yang disebabkan oleh datangnya agama Islam dan keindahan
Al-Qur’an.
Sedangkan kata ‘Jazirah Arab’ menggunakan majas sinekdok
totem pro parte, yang berarti penyebutan keseluruhan padahal yang dimaksud ialah sebagian saja. Pada akhirnya memanglah seluruh dunia termasuk Jazirah Arab terguncang dengan yang terkandung dalam
Al-Qur’an, namun pada awalnya lebih spesifik lagi yang terguncang ialah spesifiknya Kota Makkah lalu Madinah, tidak serta merta seluruh Jazirah Arab.
Kalimat ini berorientasi pada usaha pengeyakinan, dan majas hiperbola yang digunakan pun bertujuan agar lebih meyakinkan lagi bahwa Al-Quran memanglah membuat kehebohan dikarenakan isinya yang menakjubkan. Sarana wacana ini juga mengacu pada peran yang telah dilakukan pada lampau.