V HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Data dan Analisis .1 Aksesibilitas
5.1.2.3 Topografi dan Kemiringan Lahan
sifat liat hidro-oksida. Namun dibandingkan dengan tanah yang lain tanah ini tergolong subur (Soepardi, 1983). Di daerah dekat sungai tanah tergolong Aluvial coklat kelabu. Tanah ini bertekstur halus dan berdrainase sedang dan jika didrainasekan dengan sempurna maka tanah tersebut sangat produktif untuk daerah pertanian (Soepardi, 1983). Tanah ini mendukung kegiatan pertanian dan perkebunan karena sifatnya yang subur.
5.1.2.3 Topografi dan Kemiringan Lahan
Topografi Gunung Kapur Cibadak Ciampea relatif curam dengan persen kelerengan 25-30% (Puslitbangtanak, 2008), dengan titik tertinggi berdasarkan peta rupa bumi terletak pada ketinggian 354 m dpl (Gambar 16).
Kemiringan yang dijumpai pada tapak bervariasi antara 3-65%. Berdasarkan klasifikasi kemiringan (Hardjowigeno dan Widiamaka, 2001) tapak penelitian termasuk dalam kemiringan 0-3%, 3-8%, 8-15%, 15-30%, 30-45%, >45. Daerah datar tidak ditemukan dalam tapak. Lahan yang paling dominan adalah lahan dengan kemiringan 3-8% yaitu sebesar 3.209.483,8 m2, lahan dengan kemiringan 8-15% yaitu agak miring memiliki luas 225.474,9 m2, lalu untuk kemiringan 15-30% sebesar 371.144,8 m2. Kemiringan 30-45% yang berada di kawasan gunung kapur memiliki luas 954.296.7 m2 dan untuk daerah curam (45-65%) memiliki luas sebesar 3.800,8 m2 (Gambar 17).
Secara visual topografi yang berbukit dan curam menjadi daya tarik dan variasi bentukan Gunung Kapur memberikan kesan dinamis dan tidak monoton sehingga dapat dieksploitasi keindahannya, selain itu perbedaan ketinggian akan memberikan arah pandang yang luas ke daerah yang rendah.
Tapak lebih dominan dengan kemiringan landai (3-8%). Pada daerah ini dapat dikembangkan berbagai bentuk kegiatan wisata dan fasilitas penunjangnya.
Pada bagian kaki Gunung Kapur kemiringan bervariasi antara agak miring (8-15%) dengan miring (15-30%). Pada area ini tanah tergolong subur sehingga peka terhadap erosi. Adapun cara untuk menanggulangi hal tersebut adalah dilakukan penanaman tanaman penutup tanah dan dihutankan. Area ini dapat dijadikan sebagai area penyangga.
GAMBAR 16 TOPOGRAFI
33
GAMBAR 17 KEMIRINGAN LAHAN
Pada bagian Gunung Kapur kemiringan relatif curam (30-45%). Hal ini sangat mendukung untuk wisata alam seperti panjat tebing dan hiking. Namun daerah ini peka terhadap erosi sehingga perlu dilakukan pembatasan aktivitas wisata, selain itu untuk menanggulangi longsor area ini tetap dipertahankan kealamian hutan yang sudah ada. Area ini juga tidak memungkinkan untuk dibangun fasilitas atau kemungkinan dibangun hanya di titik tertentu dengan konstruksi yang sesuai.
Ditemukan juga daerah yang curam (>45%) dengan luasan terkecil. Area ini merupakan area yang sangat peka. Pada daerah ini tidak dapat dijadikan area wisata karena berbahaya bagi pengunjung. Untuk itu daerah ini dijadikan sebagai area konservasi.
Dilihat dari kemiringan lahan dan jenis tanah maka didapatkan peta analisis kepekaan lahan untuk erosi (Gambar 18). Berdasarkan peta tersebut dibuatlah skoring dimana nilai tertinggi adalah lahan yang sangat peka dengan nilai 3, lalu nilai 2 untuk lahan yang peka, dan nilai 1 untuk lahan yang tidak peka. Area yang tidak peka dapat dijadikan area wisata intensif, dan dapat dibangun fasilitas wisata
5.1.2.4 Hidrologi
Kawasan karst merupakan sumber mata air yang dihasilkan dari aliran sungai bawah tanah. Berdasarkan wawancara dengan seorang masyarakat, sumber mata air yang keluar dari Kawasan Gunung Kapur tidak pernah kekeringan, mata air tersebut mengalir menuju Sungai Cikarang. Kualitas air sungai menurun akibat tercemar sampah-sampah semenjak terbangunnya pasar Ciampea pada tahun 2007. Peta Hidrologi disajikan pada Gambar 19.
Selain itu kawasan ini dialiri oleh Sungai Ciaruteun. Kedalaman Sungai Ciaruteun bervariasi dari 0,5 sampai 3 m dengan debit 72 l/dtk, ada pula yang mencapai lebih dari 3 m, dengan kecepatan aliran air sekitar 0,03 m/dtk. Sungai ini digunakan untuk pengairan ladang dan sawah sekitar. Kondisi sungai yang banyak sampah menimbulkan polusi atau pencemaran air serta mengurangi nilai visual pada tapak.
35
GAMBAR 18 ANALISIS KEPEKAAN TANAH
GAMBAR 19 ANALISIS HIDROLOGI
38
Sungai Ciaruteun dengan debit dan kecepatan air sungai yang terbilang tidak cukup deras dapat dijadikan objek wisata air menggunakan kano atau rakit. Pada bagian tengah sungai terdapat air terjun yang dapat dijadikan objek wisata karena nilai estetiknya. Pada Sungai Ciaruteun juga terdapat mata air hangat, namum belum dikelola dengan baik. Mata air tersebut merupakan potensi karena dapat dijadikan objek wisata pemandian air hangat.
Berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat No.8 Tahun 2005 tentang Batas garis sempadan sungai dan mata air, bahwa batas sempadan mata air sekurang-kurangnya dengan radius 200 m. Batas sempadan sungai menurut Keppres No.32 Tahun 1990 dan PP No.47 Tahun 1997 menetapkan lebar sempadan sungai besar di luar pemukiman minimal 100 m dan pada anak sungai minimal 50 m dikedua sisinya.
Berdasarkan penilaian analisis untuk faktor alam nilai 1 diberikan pada sungai, sedangkan nilai 2 diberikan pada mata air. Hal ini disebabkan karena nilai keunikan dan kelangkaan dari mata air lebih tinggi.
5.1.2.5 Vegetasi
Vegetasi yang ditemukan pada tapak bervariasi dari vegetasi endemik dan introduksi. Vegetasi introduksi terdiri dari tanaman pertanian dan tanaman perkebunan (Gambar 20), sedangkan yang endemik ditemukan di daerah Gunung Kapur (Gambar 21). Sawah yang digarap masyarakat merupakan sawah irigasi.
Kebun atau ladang ditanami tanaman palawija seperti jagung (Zea mays), pisang (Musa sp.), ketela (Ipomoea sp.), karet (Hevea brasiliensis) sampai pada tanaman jati (Tectona grandis).
Tanaman Palawija Pisang Tanaman Hutan Jati Gambar 20. Vegetasi Intoduksi sekitar Gunung Kapur
Gambar 21. Vegetasi endemik Gunung Kapur yang didominasi semak
Penutupan vegetasi di kawasan karst Gunung Kapur Cibadak Ciampea didominasi oleh tumbuhan semak dan perdu, sebaliknya penutupan oleh jenis pohon sangat jarang. Adapun jenis pohon yang ditemukan sebanyak 19 jenis, yang termasuk dalam 16 genus dan 11 famili.
Jenis-jenis pohon yang terdapat di Gunung Kapur Cibadak Ciampea terdiri dari famili Euphorbiaceaa, Leguminosae, Moraceae, Meliaceae, Sapindaceae, Apocynaceae, Ebenaceae, Rubiaceae, dan sebagainya. Bukit dengan dinding yang bercelah ditumbuhi oleh aneka litofit dan epifit selain itu terdapat pula tumbuhan liar seperti paku-pakuan (Nephrolepis sp.), kantong semar (Nephentes sp.), begonia (Begonia sp.).
Dengan kondisi gunung kapur yang memiliki daya dukung rendah terhadap biota akibat kondisi iklim yang ekstrim, kondisi tanah yang beragam, dan permukaaan gunung kapur yang bercelah, maka hanya jenis tertentu saja yang dapat bertahan hidup di kawasan ini sehingga kawasan ini memiliki tingkat endemisme vegetasi yang tinggi seperti pohon kersen (Munthingia calabura) dan jenis paku-pakuan (Nephrolepis sp.).
Vegetasi yang hidup di Gunung Kapur ini berbeda dengan vegetasi yang hidup di kawasan yang bukan karst. Biasanya pohon yang hidup di kawasan karst adalah pohon kecil dan bertajuk jarang, adapula yang jenis perakarannya dalam, berkelok-kelok dan menempel pada dinding batuan kapur. Adapun jenis-jenis tanaman semak disajikan pada Tabel 4.
40
Tabel 4. Jenis tanaman semak dan Groundcover di GKC
No Nama Jenis Nama Lokal Famili
1 Abutilon sp. Pulus ayam Malvaceae
2 Alchornea rugosa (Lour.) Muell. Arg. Ki ronyok Euphorbiaceae 3 Allophyllus cobbe (L.) Raeusch Cukilah/Asa-asa Sapindaceae
4 Asplenium macrophyllum Pakis Polypodiaceae
5 Asplenium nichus L. Paku sarang burung Polypodiaceae
6 Aonopus compressus (Swartz) Beauv. Papahitan Poaceae
7 Barreria laevis (Lamk.) Griseb ---- Rubiaceae
8 Breynia cernua (Poir.) Muell.Arg. Kakatuan Euphorbiaceae
9 Centrosema pubescens Bth. Kacang-kacangan Fabaceae
10 Chromolaena odorata (L.) R. M. King & H. Robinson Kirinyuh Asteraceae 11 Clerodendrum macrotegium Schad. Waru-waruan Verbenaceae
12 Clerodendrum serratum (L.) Moon Singuguan Verbenaceae
13 Clibadium surinamense L. Ki bodas Asteraceae
14 Clibadium hirta (L.) D. Don Harendong Melastomataceae
15 Cyperus kyllingia Endl. Srengseng Cyperaceae
16 Cyrtococum accrescens (Trin.) Stapf Kretekan/kasup Poaceae 17 Cyrtococum axyphyllum (Hochst. ex Steud) Kretekan/kasup Poaceae
18 --- Dondong leuweung** ----
19 Erycibe rheendii Blume Nyamplung-nyamplungan Convolvulaceae
20 Ficus obscura Blume Buah ara Moraceae
21 Gleichenia linearis Clarke Paku areuy Gleicheniacea
22 Jasminum bifarium all. Gambir hutan Oleaceae
23 Kalanchoe pinnata (Lmk) Pers. Sosor bebek Crassulaceae
24 --- Ki beling** ----
25 Lantana camara L. Sente Verbenaceae
26 ---- Linggem** ----
27 Lygodium flexuosum Sw. Ki keris Schizaeaceae
28 Melastoma malabatathricun Auct. Non L. Harendong Melastomataceae
29 Mimosa invisa Mart. Riutan Fabaceae
30 Nephrolepis bierrata Schott. Pakis Polypodiaceae
31 Nephrolepis exaltata Schott. Paku harupat Polypodiaceae
32 Pennisetum polystachyon (L.) Schult. Ayam-ayaman Poaceae
33 Phanera sp. de Wit Ki laban Fabaceae
34 Phyllanthus niruri L. Meniran Euphorbiaceae
35 Physalis minima L. Cecenet Solanaceae
36 Piper aduncum L. Seseureuhan Piperaceae
37 Pagonatherum paniceum (Lamk) Hack. Rumput Poaceae
38 Porophyllum ruderale (Jacq.) Cass ---- Asteraceae
39 Rubus moluccanus L. Murbei hutan Rosaceae
40 Saccharum spontaneus Linn. Kaso Poaceae
41 Salvia riparia H.B.K Pulus Lamiaceae
42 Seleria purpurascens Steud. ---- Cyperaceae
43 Selaginella wildenowii Back. Paku rane Selanellaceae
44 Tachytarpheta indica (L.) Vahl. Babadotan Verbenaceae
45 Themeda arguens (L.) Hack. Kakasangan Poaceae
46 Urena lobata L. Pulutan Malvaceae
47 Wedelia iriloba Hitch. Seruni Asteraceae
**) Belum ditemukan nama ilmiah
Sumber: Sartika (2007) dan Survey Lapang (2009)
Keragaman famili yang tumbuh di kawasan gunung kapur ini dipengaruhi oleh ketinggian, iklim, dan tanah. Pada bagian puncak akan lebih banyak didominasi oleh tanaman litofit dan epifit. Dengan keanekaragaman yang tinggi maka kawasan karst potensial dijadikan sebagai tempat penelitian dan studi mengenai vegetasi kawasan karst.
Dengan adanya aktivitas penambangan maka kondisi penutupan vegetasi semakin berkurang. Selain itu masalah penebangan liar yang dilakukan beberapa oknum menjadikan beberapa kawasan di bagian selatan menjadi gundul.
Penebangan yang merusak ini membuat longsor di beberapa bagian karena vegetasi yang menyerap air dan menahan erosi menjadi berkurang, sehingga diperlukan suatu pembatasan dalam penebangan pohon dan kegiatan penambangan. Pada analisis vegetasi, nilai tertinggi diberikan pada vegetasi yang endemik karena memiliki nilai kekhasan lebih tinggi, sedangkan vegetasi introduksi mendapatkan nilai 1.
5.1.2.6 Satwa
Sekitar tahun 1950-an di GKC ini hidup berbagai jenis satwa liar diantaranya owa jawa, burung kakatua, monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), lutung, ular, kelelawar, burung walet (Collocalia fuchipaga) sampai pada jenis reptil seperti kadal (Whitten dalam Sartika, 2007). Namun yang tersisa sekarang hanyalah jenis lutung, ular, kelelawar, burung walet, berbagai jenis reptil dan serangga.
Keberadaan satwa utama berupa kera dan burung walet serta jenis burung lainnya perlu dilestarikan karena merupakan satwa endemik. Untuk melindungi dan melestarikan satwa tersebut yang perlu dilakukan adalah menyediakan habitat dan sumber makanan bagi hewan tersebut serta memberikan nilai tambah bagi perencanaan sebagai kawasan wisata. Dengan membuat spot pengamatan dan jalur sirkulasi yang tepat, pengunjung akan dapat mengamati satwa tanpa mengganggu satwa tersebut.
Analisis terhadap faktor alam yang berupa vegetasi dan satwa dinilai berdasarkan nilai kekhasan biota (Gambar 22). Vegetasi dan satwa yang endemik
42
GAMBAR 22 ANALISIS VEGETASI DAN SATWA
mendapat nilai tinggi yaitu 2 dikarenakan nilai kelangkaan yang tinggi, sedangkan untuk vegetasi dan satwa yang non endemik akan mendapat nilai 1.