PENERAPAN PENDEKATAN SCIENTIFIC DAN MODEL-MODEL PEMBELAJARAN
TOTAL SKOR Catatan:
Pemberian skor didasarkan pada seberapa baik setiap sub aspek diperlihatkan oleh peserta didik selama persiapan, pelaksanaan, dan hasil proyek dilaporakan.
Penilaian Proyek dilakukan mulai dari perencanaan, proses pengerjaan sampai dengan akhir proyek. Untuk itu perlu memperhatikan hal-hal atau tahapan yang perlu dinilai. Pelaksanaan penilaian dapat juga menggunakan rating scale dan checklist.
Contoh penilaian produk
(Demonstrasi variasi dan kombinasi rangkaian aktivitas gerak ritmik dengan menggunakan gerak dasar senam aerobik)
Aspek Penilaian kekompakan Teknik gerak kreativitas
Teknik Penilaian aspek Keterampilan
Mempraktikkan variasi dan kombinasi rangkaian gerak ritmik (senam aerobik) dengan koordinasi yang baik
Kriteria penilaian kekompakan.
Nilai 4 Jika selama melakukan rangkaian gerak selalu kompak Nilai 3 jika Jika selama melakukan rangkaian gerak sering kompak Nilai 2 Jika Jika selama melakukan rangkaian gerak kadang kompak Nilai 1 jika Jika selama melakukan rangkaian gerak selalu tidak kompak Kriteria penilaian teknik gerak.
Nilai 4 Jika selama melakukan rangakaian gerak sesuai dengan teknik gerak
Nilai 3 Jika selama melakukan rangakaian gerak sebagaian kecil kurang sesuai teknik gerak
Nilai 3 Jika selama melakukan rangakaian gerak kadang-kadang sesuai teknik gerak
Nilai 3 Jika selama melakukan rangakaian gerak tidak sesuai teknik gerak
Kriteria penilaian kreativitas. Nilai 4 jika melakukan:
perubahan formasi barisan, perubahan arah gerak dasar, melakukan variasi intensitas gerak, melakukan variasi gerak lengan. Nilai 3 jika hanya melakukan 3 unsur. Nilai 2 jika hanya melakukan 2 unsur Nilai 1 jika hanya melakukan 1 unsur.
2. Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah a. Kegiatan Pembelajaran Berbasis Masalah
Sesuai dengan Permendikbud No. 65 tahun 2013 tentang standar proses, kegiatan Pembelajaran berbasis masalah terdiri atas tiga tahap, yaitu pendahuluan, inti, dan penutup.
1) Tahap 1 pembelajaran berbasis masalah, yaitu mengorientasikan peserta didik terhadap masalah merupakan salah satu aktivitas yang dilakukan dalam tahap pendahuluansehingga peserta didik mampu mengenali berbagai permasalahan yang dihadapi sekaligus mampu mengidentifikasi
penyebab permasalahan tersebut.
2) Tahap 2, tahap 3, dan tahap 4, yaitu berturut-turut mengorganisasikan peserta didik untuk belajar, membimbing penyelidikan individual maupun kelompok, dan mengembangkan dan menyajikan hasil karya dikategorikan sebagai tahap inti pembelajaran.
3) Tahap 5, tahap terakkhir, yaitu menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah merupakan tahap penutup pembelajaran, meski dapat pula dipandang sebagai salah satu aktivitas pada tahap inti pembelajaran.
Dalam kegiatan pembelajaran, beberapa peserta didik mungkin memerlukan penguatan/pengayaan dan beberapa lainnya memerlukan remidi. Kegiatan pengayaan dilakukan untuk memperkuat dan memperkaya pemahaman peserta didik yang telah mencapai ketuntasan belajar, sedangkan kegiatan remidi diberikan kepada peserta didik yang belum mencapai ketuntasan belajar. Pengayaan dapat berbentuk proyek yang dilakukan di luar jam pelajaran. Remidi dapat berupa penyelesaian soal-soal sesuai indikator-indikator tertentu yang belum dikuasai peserta didik.
Berikut adalah contoh kegiatan pembelajaran berbasis masalah yang terdiri atas tahapan pendahuluan, inti, dan penutup.
1) Kegiatan pendahuluan
Pada tahap ini, dilakukan tahap 1 Pembelajaran Berbasis Masalah, yaitu mengorientasi peserta didik pada masalah. Contoh dalam pembelajaran PJOK masalah tersebut dapat terkait dengan ketidakmampuan peserta didik melakukan teknik overhead backhand pada permainan bola kecil bulutangkis. Guru memfasilitasi peserta didik untuk mencermati (mengamati) masalah dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan (menanya) terkait masalah tersebut. guru Guru meminta peserta didik mengajukan dugaan mengenai solusi atau strategi
terbaik untuk menyelesaikan masalah. Misalnya, peserta didik menduga mengenai ketidakmampuan melakukan teknik overhead back hand karena langkah kaki yang salah, cara pegang raket yang kurang tepat, peserta didik menduga-duga berbagai cara melakukan teknik overhead backhand yang tepat. Untuk menguatkan dugaan tersebut, peserta didik dapat menggali berbagai sumber belajar yang sesuai. Selanjutnya guru menginformasikan tujuan pembelajaran.
2) Kegiatan inti
a) Guru mengorganisasikan peserta didik untuk belajar (Tahap 2) secara individual maupun dalam bentuk diskusi kelompok
b) Dengan bimbingan guru, peserta didik melakukan penyelidikan dengan cara melakukan eksperimen/praktik maupun mengeksplorasi sumber-sumber belajar yang mendukung. (Tahap 3 membimbing penyelidikan individu maupun kelompok)
c) Peserta didik dalam kelompok mengembangkan laporan hasil penelitian atau hasil diskusi kelompok. (Tahap 4 mengembangkan dan menyajikan hasil karya). Setiap kelompok mempresentasikan hasil eksperimen (mengomunikasi). Kelompok lain menanggapi hasil presentasi dan guru memberikan umpan balik.
d) Guru membimbing diskusi kelas untuk mengklarifikasi dan memperkuat pemahaman peserta didik terkait hasil diskusi kelompok. e) Guru bersama peserta didik menganalisis dan mengevaluasi terhadap
proses pemecahan masalah yang dipresentasikan setiap kelompok maupun terhadap seluruh aktivitas pembelajaran yang dilakukan. (Tahap 5 Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah)
f) Guru memberikan penguatan terkait penguasaan pengetahuan atau konsep tertentu, misalnya dalam perkenaan shuttlec kock pada teknik overhead back hand terjadi ketika shuttlecock shuttle kock berada pada titik tertinggi dari jangkauan atau berada belakang atas badan dan koreksi-koreksi yang perlu diberikan terkait teknik overhead backhand.
3) Kegiatan penutup
Dengan bimbingan guru, peserta didik menyimpulkan hasil diskusi. Guru dapat melakukan kegiatan pengayaan bagi peserta didik yang telah mencapai ketuntasan. Sebaliknya, guru dapat memberikan remidi bagi peserta didik yang belum mencapai ketuntasan.
b. Contoh Penerapan Pembelajaran Berbasis Projek Masalah pada Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan 1) Pendahuluan
Sebagai contoh pada tahap ini (Tahap 1 yaitu mengorientasi peserta didik pada masalah). misalnya Teknik overhead pada permainan bulutangkis backhand . teknik Teknik ini merupakan teknik yang tidak mudah untuk dilakukan oleh peserta didik. banyak permasalahan yang dapat digambarkan y6ang berhubungan dengan teknik ini dari posisi pegangan raket yang tidak tepat, gerak langkah, posisi badan, saat memukul sampai pergerakan badan yang tidak tepat. Pada kasusu ini peserta didik diharapkan mampu melakukan teknik overhead backhand dengan benar.
Peserta didik mencermati (mengamati) dan mengeksplorasi masalah tersebut, misalnya dengan menduga kesalahan pada peganagan raket, saat perkenaan shuttlecock dan lain-lain.
Dengan bimbingan guru, peserta didik mengeksplorasi strategi yang tepat untuk menyelesaikan masalah tersebut melalui dengan menggali sumber-sumber belajar yang sesuai dan mempraktikkannya.
Guru menekankan bahwa masalah tersebut dapat diselesaikan dengan cara-cara yang tepat sesuai dengan sumber informasi dan percobaan yang dilakukan.
Guru menginformasikan kegiatan yang akan dilakukan peserta didik untuk dapat melakukan overhead backhand.
2) Kegiatan Inti
Guru mengorganisasi peserta didik untuk belajar dalam bentuk diskusi kelompok kecil (Tahap 2: mengorganisasikan peserta didik untuk belajar).
Dengan bimbingan guru, peserta didik secara berkelompok melakukan penyelidikan untuk menemukan teknik overhead backhand.
Masing-masing kelompok atau salah satu kelompok terpilih mengkomunikasikan hasil penyelidikan dan hasil diskusi (Tahap 4: mengembangkan dan menyajikan hasil karya). Kelompok lain memberikan saran dan tanggapan.
Guru membimbing diskusi kelas untuk mengklarifikasi pemahaman peserta didik mengenai teknik overhead backhand.
Peserta didik mengeksplor kembali mengenai teknik overhead backhand.
3) Kegiatan Penutup
Dengan bimbingan guru, peserta didik membuat simpulan dan merangkum kegiatan pembelajatran
Guru membimbing peserta didik untuk mengevaluasi proses pemecahan masalah yang telah dilakukan.
Guru juga membimbimbing peserta didik untuk merefleksi seluruh akttivitas pembelajaran yang dilakukan. Refleksi dapat dikaitkan difokuskan pada perilaku ilmiah yang dapat terbentuk pada diri peserta didik melalui akktivitas pembelajaran Perilaku ilmiah tersebut seperti memiliki keingintahuan, objektif; jujur; teliti; cermat; tekun; hati-hati; bertanggung jawab; terbuka; kritis; kreatif; dan inovatif. c. Penilaian Pembelajaran Berbasis Masalah
Penilaian dilakukan dengan memadukan tiga aspek pengetahuan (knowledge), kecakapan (skill), dan sikap (attitude).
Penilaian terhadap penguasaan pengetahuan yang mencakup seluruh kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan ujian akhir semester (UAS), ujian tengah semester (UTS), kuis, PR, dokumen, dan laporan.
Penilaian terhadap kecakapan dapat diukur dari penguasaan alat bantu pembelajaran, baik software, hardware, maupun kemampuan perancangan dan pengujian. Sedangkan penilaian terhadap sikap dititikberatkan pada penguasaan soft skill, yaitu keaktifan dan partisipasi dalam diskusi, kemampuan bekerjasama dalam tim, dan kehadiran dalam pembelajaran.
Bobot penilaian untuk ketiga aspek tersebut ditentukan oleh guru mata pelajaran yang bersangkutan.
Penilaian pembelajaran dengan PBL dilakukan dengan authentic assesment.
Penilaian dapat dilakukan dengan portfolio yang merupakan kumpulan yang sistematis pekerjaan-pekerjaan peserta didik yang dianalisis untuk melihat
kemajuan belajar dalam kurun waktu tertentu dalam kerangka pencapaian tujuan pembelajaran.
Penilaian dalam pendekatan PBL dilakukan dengan cara:
a. Self-assessment. Penilaian yang dilakukan oleh pebelajar itu sendiri terhadap usaha-usahanya dan hasil pekerjaannya dengan merujuk pada tujuan yang ingin dicapai (standard) oleh pebelajar itu sendiri dalam belajar.
b.Peer-assessment. Penilaian di mana pebelajar berdiskusipeserta didik ditugaskan untuk memberikan penilaian terhadap upaya dan hasil penyelesaian tugas-tugas yang telah dilakukannya sendiri oleh
perorangan maupun oleh teman dalam kelompoknya.
c. Penilaian Kinerja Peserta Didik. Pada penilaian kinerja ini, peserta didik diminta untuk melakukann kerja atau mendemonstrasikan kemampuan melakukan tugas-tugas tertentu, seperti menulis laporan, mendemonstrasikan keterampilan. Penilaian kinerja yang berhubungan dengan mengembangkan laporan hasil penelitian penyelesaian masalah
atau hasil diskusi kelompok dan mempresentasikan hasil laporan.
Contoh format penilaian kinerja peserta didik yang berhubungan dengan
sikap dalam pembelajaran berbasis masalah.