• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tahap 2. Ekstraksi Oligosakarida Pembuatan Tepung Ubi Jalar

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.3 Gambaran Darah Ikan Nila

4.3.1. Total Eritrosit

Sel darah merah (eritrosit) ikan mempunyai inti, umumnya berbentuk bulat dan oval tergantung jenis ikannya. Inti sel eritrosit terletak sentral dengan sitoplasma terlihat jernih kebiruan dengan pewarnaan Giemsa (Chinabut et al. 1995). Hasil pengukuran rata-rata total eritrosit ikan nila selama penelitian disajikan pada Gambar 7 dan Lampiran 5.

Gambar 7. Jumlah total eritrosit ikan nila selama perlakuan penambahan probiotik, prebiotik dan sinbiotik (minggu ke-1 dan ke-2) dan pasca uji tantang dengan bakteri patogen S. agalactiae (minggu ke-3 dan ke-4)

Berdasarkan Gambar 7 diatas, terlihat bahwa pada minggu ke-0 jumlah total eritrosit ikan masih sama pada setiap perlakuan yaitu 10,1+ 0,29 (105 sel/mm3

Pada minggu ke-1 terjadi peningkatan jumlah total eritrosit. Jumlah total eritrosit tertinggi diperoleh pada perlakuan sinbiotik (P3) yaitu sebesar 15,16 + 0,29 (10

). Dari Gambar terlihat bahwa jumlah total eritrosit mengalami peningkatan pada minggu ke-1 (7 hari setelah pemberian probiotik, prebiotik dan sinbiotik) sampai minggu ke-2 (akhir pemberian probiotik, prebiotik dan sinbiotik). Akan tetapi nilai eritrosit mengalami penurunan pada minggu ke-3 (7 hari pasca uji tantang dengan bakteri S. agalactiae) lalu kembali meningkat pada minggu ke-4 (14 hari pasca uji tantang), kecuali pada perlakuan kontrol negatif tidak terjadi penurunan jumlah eritosit karena ikan tidak diinfeksi dengan bakteri S. agalactiae

tetapi dengan PBS.

5

sel/mm3). Dari uji lanjut Duncan, perlakuan P3 berbeda nyata dengan semua perlakuan lainnya (Lampiran 6). Selanjutnya berturut-turut dari tinggi ke rendah pada perlakuan dengan penambahan probiotik (P1) sebesar 14,33 + 0,33 (105 sel/mm3), perlakuan dengan penambahan prebiotik (P2) sebesar 13,83 + 0,34 (105 sel/mm3), perlakuan kontrol negatif (PO-) sebesar 12,08 + 0,53 (105 sel/mm3) dan perlakuan kontrol positif (PO+) sebesar 11,72

0 5 10 15 20 25 30 35 0 1 2 3 4 T o ta l E rit ro sit ( 1 0 5se l/ m m 3) Minggu ke- PO(+) PO(-) P1 P2 P3

+ 0,59 (105 sel/mm3).

Jumlah total eritrosit terus meningkat pada minggu ke-2 setelah pemberian probiotik, prebiotik dan sinbiotik dalam pakan. Jumlah total eritrosit tertinggi masih diperoleh pada perlakuan P3 yaitu sebesar 27,75 + 1,40 (10

Dari hasil uji statistik, perlakuan P1, P2 dan P3 berbeda nyata dengan PO+ (P<0,05).

5

sel/mm3). Selanjutnya berturut-turut dari tinggi ke rendah pada perlakuan P1 sebesar 25,54 + 0,73 (105 sel/mm3), perlakuan P2 sebesar 23,80 + 0,64 (105 sel/mm3), perlakuan PO (-) sebesar 14,39 + 0,25 (105 sel/mm3) dan perlakuan PO (+) sebesar 13,99 + 0,40 (105 sel/mm3). Dari hasil uji statistik, pada minggu kedua menunjukkan pola yang sama dengan minggu ke-1 (Lampiran 6). Takashima dan Hibiya (1995), menyatakan ikan normal umumnya memiliki jumlah total eritrosit sebesar 10-30 x 105 sel/mm3

Jumlah total eritrosit ikan nila mengalami penurunan pada minggu ke-3. Pada minggu ke-3, jumlah eritrosit mencapai nilai terendah sebesar 7,69 + 0,3 (10

. Jumlah total eritrosit selama pemberian probiotik, prebiotik dan sinbiotik masih berada pada kisaran normal. Menurut Sjafei et al. (1989), ketika nilai eritrosit berada dalam kisaran normal, hal ini menandakan bahwa penambahan bakteri probiotik pada perlakuan tidak mengganggu kesehatan ikan.

5

sel/mm3) yaitu pada perlakuan PO(+) yang merupakan nilai dibawah kisaran normal. Perlakuan P1, P2 dan P3 juga mengalami penurunan jumlah eritrosit, akan tetapi jumlah eritrosit pada ketiga perlakuan ini masih berada pada kisaran normal dan lebih tinggi serta berbeda nyata secara statistik (P<0,05) dibandingkan perlakuan PO(+). Jumlah total eritrosit tertinggi pada minggu ke-3 diperoleh pada perlakuan P3 yaitu sebesar 16,40 + 0,34 (105 sel/mm3). Selanjutnya berturut-turut dari tinggi ke rendah pada perlakuan P1 sebesar 15,31 + 0,35 (105 sel/mm3), perlakuan P2 sebesar 15,08 + 0,22 (105 sel/mm3), perlakuan PO(-) sebesar 15,03 + 0,29 (105 sel/mm3

Penurunan jumlah total eritrosit diperkirakan karena ikan mengalami infeksi organ ginjal sebagai akibat serangan bakteri patogen S. agalactiae. Menurut Wedemeyer dan Yasutake (1977), penurunan jumlah eritrosit menunjukkan terjadinya infeksi ginjal, serta rendahnya nilai eritrosit menandakan ikan menderita anemia, sedangkan tingginya jumlah eritrosit (diatas normal) menandakan ikan dalam keadaan stress. Terjadinya kerusakan ginjal diduga akibat toksin yang dikeluarkan oleh bakteri S. agalactiae. Menurut Palacios (2007), ). Berdasarkan uji lanjut duncan pada minggu ke-3, terlihat bahwa perlakuan P3, berbeda nyata dengan semua perlakuan dan memberikan nilai terbaik, sedangkan P1, P2, dan PO(-) tidak berbeda nyata.

salah satu toksin yang dikeluarkan oleh bakteri patogen S. agalactiae adalah hyaluronidase. Toksin ini merupakan enzim yang dapat berfungsi sebagai “spreading factor”, sehingga dapat memudahkan penyebaran zat-zat toksin lainnya di dalam tubuh inang. Segura dan Gottschalk (2004) menyatakan bahwa toksin lain dari bakteri S. agalactiae adalah

superoxide dismutase dan kapsul polisakarida. Superoxide dismutase merupakan toksin yang dapat membuat bakteri S. agalactiae mampu menembus fagosit saat tidak terjadi opsonin, sedangkan kapsul polisakarida merupakan toksin yang mampu menekan aktivitas komplemen sehingga eleminasi bakteri S. agalactiae oleh makrofag jadi terhambat. Toksin- toksin ini mempengaruhi ginjal dan menyebabkan infeksi pada ginjal ikan sehingga jumlah total eritrosit yang dihasilkan menurun.

Jumlah total eritrosit kembali mengalami peningkatan pada akhir uji tantang (14 hari pasca infeksi). Hal ini diduga karena masa inkubasi bakteri S. agalactiae dalam tubuh ikan sudah menurun. Hal ini didukung dengan hasil penelitian Evans et al. (2004) bahwa pola kematian ikan nila yang diinjeksi S. agalactiae 1,5 x 105 CFU/ml dapat diamati selama 13 hari. Diduga pada hari tersebut merupakan masa inkubasi bakteri S. agalactiae dalam tubuh ikan nila dan kembali mendekati kondisi normal pada hari ke-14. Pada kondisi ini ikan akan berupaya untuk mengembalikan kondisi tubuhnya pada kondisi normal. Jumlah eritrosit yang meningkat menandakan adanya upaya homeostatis pada tubuh ikan pasca infeksi bakteri patogen. Tubuh memproduksi sel darah lebih banyak untuk menggantikan eritrosit yang mengalami penurunan akibat infeksi bakteri patogen. Sama seperti pada minggu sebelumnya, pada minggu ke-4 jumlah eritrosit tertinggi diperoleh pada perlakuan P3 yaitu sebesar 25,98 + 1,79 (105 sel/mm3) dan jumlah terendah pada perlakuan PO (+) yaitu sebesar 11,26 + 0,25 (105 sel/mm3). Berdasarkan uji Anova dan uji lanjut duncan semua perlakuan berbeda nyata dengan PO(+) (P<0,05).

4.3.2 Hemoglobin (Hb)

Berdasarkan pengamatan terhadap parameter darah dalam penelitian, kadar hemoglobin di dalam darah cukup bervariasi. Kadar hemoglobin dalam darah selama penelitian disajikan pada Gambar 8 dan Lampiran 6.

Gambar 8. Kadar hemoglobin ikan nila selama perlakuan penambahan probiotik,

prebiotik dan sinbiotik (minggu ke-1 dan ke-2) dan pasca uji tantang dengan bakteri patogen S. agalactiae (minggu ke-3 dan ke-4)

Hasil pengamatan terhadap kadar hemoglobin selama penelitian menunjukkan bahwa kadar hemoglobin dalam darah berkorelasi positif dengan nilai total eritrosit. Menurut Fujaya (2004), ada korelasi yang kuat antara hemoglobin, sel darah merah dan hematokrit, semakin rendah jumlah sel-sel darah merah, maka semakin rendah pula kandungan hemoglobin dalam darah. Kadar rata-rata hemoglobin masing-masing perlakuan sama pada awal penelitian (minggu ke-0) yaitu sebesar 10,33 + 0,31 (g%). Kadar Hb mengalami kenaikan pada minggu ke-1 dan terus meningkat pada minggu ke-2 (14 hari setelah pemberian probiotik, prebiotik dan sinbiotik).

Pada minggu ke-1 kadar Hb tertinggi diperoleh pada perlakuan P3 yaitu sebesar 11 (g%). Selanjutnya berturut-turut dari tinggi ke rendah pada perlakuan P1 sebesar 10,9 (g%), perlakuan P2 sebesar 10,75 (g%), perlakuan PO (+) sebesar 9,75 (g%) dan perlakuan PO (-)

0 2 4 6 8 10 12 14 0 1 2 3 4 H em ogl obi n (g % ) Minggu Ke- P0+ P0- P1 P2 P3

sebesar 9,7 (g%).

Kadar Hb terus meningkat pada minggu ke-2 setelah pemberian probiotik, prebiotik dan sinbiotik dalam pakan. Kadar Hb tertinggi masih diperoleh pada perlakuan P3 yaitu sebesar 11,1 (g%). Selanjutnya berturut-turut dari tinggi ke rendah pada perlakuan P1 sebesar 11,03 (g%), perlakuan P2 sebesar 11 (g%), perlakuan PO (-) sebesar 10,6 (g%) dan perlakuan PO (+) sebesar 10,3 (g%).

Dari hasil uji statistik perlakuan P1, P2 dan P3 memberikan pengaruh nyata terhadap kadar Hb ikan (P<0,05).

Pada minggu ke-3 (7 hari pasca uji tantang dengan S. agalactiae) kadar hemoglobin mengalami penurunan yang cukup drastis. Pada minggu ke-3 ini kadar hemoglobin mencapai nilai terendah selama penelitian. Kadar rata-rata hemoglobin terendah yaitu terdapat pada perlakuan PO(+) sebesar 4,2 (g%), merupakan kadar yang berada dibawah kisaran nilai hemoglobin normal ikan nila. Dari uji statistik nilai Hb pada PO(+) berbeda nyata dengan perlakuan P1, P2 dan P3 (P<0,05).

Dari hasil uji statistik perlakuan P1, P2 dan P3 memberikan pengaruh nyata terhadap kadar Hb ikan (P<0,05). Dari hasil uji lanjut duncan perlakuan P1, P2 dan P3 berbeda nyata dengan perlakuan PO (+) dan PO(-). Hardi (2011), menyatakan ikan nila normal umumnya memiliki kadar Hb sebesar 10-11,1 (g%). Kadar Hb ikan selama pemberian probiotik, prebiotik dan sinbiotik masih berada pada kisaran normal. Wedemeyer dan Yasutake (1977) menyatakan bahwa nilai hemoglobin yang berada pada kisaran normal (baik) mengindikasikan bahwa terdapat cukup oksigen yang terikat dalam darah sehingga menggambarkan kesehatan ikan berada pada kondisi yang baik pula.

Kadar Hb yang rendah menandakan bahwa ikan nila yang diinfeksi dengan

S. agalactiae mengalami gangguan dalam eritrosit darahnya. Adanya toksin S. agalactiae

mempengaruhi kestabilan Hb. Infeksi organ ginjal menyebabkan rendahnya produksi sel darah merah sehingga ikan terkena anemia dan menurunnya kadar Hb dalam darah ikan. Blaxhall (1972) mengatakan, bahwa kadar Hb yang rendah merupakan indikator bahwa ikan terkena anemia. Ikan nila yang mengalami anemia tidak mampu menyerap besi dalam jumlah yang cukup untuk membentuk hemoglobin. Pada kondisi ini maka akan terbentuk sel darah merah yang mengandung hemoglobin dalam jumlah yang sedikit. Pada minggu ke-4, kadar Hb cenderung kembali naik pada kondisi normal. Akan tetapi pada perlakuan PO (+), nilai Hb masih berada dibawah kisaran normal yaitu sebesar 5,7 + 0,6 (g%) . Hal ini diduga karena kondisi infeksi organ dan jaringan ikan pada perlakuan PO(+) sudah cukup parah sehingga mengalami kesulitan untuk melakukan recovery Hb darahnya. Sedangkan kadar

Hb tertinggi diperoleh pada perlakuan P3 yaitu sebesar 11,35 + 0,5 (g%). Dari hasil Anova dan uji lanjut duncan perlakuan PO (+) berbeda nyata dengan semua perlakuan lainnya (P<0,05).

4.3.3 Hematokrit (He)

Persentase hematokrit berguna untuk melihat kondisi kesehatan ikan yaitu dengan melihat persentase nilai volume eritrosit. Hasil pengukuran He pada penelitian ini disajikan pada Gambar 9 dan Lampiran 6.

Gambar 9. Kadar hematokrit ikan nila selama perlakuan penambahan probiotik, prebiotik dan sinbiotik (minggu ke-1 dan ke-2) dan pasca uji

tantang dengan bakteri patogen S. agalactiae (minggu ke-3 dan ke-4)

Hasil pengamatan kadar hematokrit masing-masing perlakuan pada awal penelitian (minggu ke-0) sama yaitu sebesar 22,22 + 0,51 %. Hal ini terjadi karena pada minggu ke-0 ikan belum diberi perlakuan. Pola kadar He selama penelitian hampir sama dengan jumlah eritrosit dan kadar Hb, karena terdapat korelasi yang kuat dari ketiga komponen penyusun darah ini. Pada minggu ke-1 dan ke-2 kadar He meningkat, lalu terjadi penurunan pada minggu ke-3 dan kemudian naik kembali pada minggu ke-4.

Selama penelitian nilai kadar He cukup berfluktuasi, kadar He tertinggi selama penelitian terdapat pada minggu ke-2 yaitu pada perlakuan P3 sebesar 36,38 + 1,33 %. Dari hasil pengamatan selama 4 minggu, perlakuan P3 memiliki kadar He tertinggi dan berbeda

0 5 10 15 20 25 30 35 40 0 1 2 3 4 K a d a r H e ma to k ri t (%) Minggu ke- PO(+) P(-) P1 P2 P3

nyata dengan perlakuan PO(+) (P<0,05). Hal yang sama juga terjadi pada minggu ke-3, hasil uji lanjut duncan menunjukkan nilai He pada perlakuan P3 berbeda nyata dengan perlakuan PO(+), P1 dan P2, namun tidak berbeda nyata dengan perlakuan PO(-), karena perlakuan ini tidak diinfeksi dengan bakteri patogen tetapi hanya dengan PBS. Kadar He perlakuan P1 dan P2 tidak berbeda nyata, namun berbeda nyata dengan perlakuan PO(+) (P<0,05). Hal ini menunjukkan bahwa pemberian probiotik, prebiotik dan sinbiotik memberikan pengaruh yang baik terhadap kadar He darah ikan nila walaupun mendapat infeksi bakteri patogen, karena nilai He pada perlakuan P1, P2 dan P3 masih berada pada kisaran normal.

Kadar He terendah selama penelitian terdapat pada minggu ke-4 yaitu pada perlakuan PO(+) sebesar 10,63 + 1,38 %. Dari hasil uji Anova, nilai pada perlakuan PO(+) di minggu ke-4 ini berbeda nyata dengan semua perlakuan lainnya (P<0,05). Kadar He pada perlakuan PO(+) ini berada di bawah kisaran kadar He normal ikan nila. Diduga penurunan kadar He terjadi karena bertambah luasnya kerusakan jaringan dan organ pada ikan akibat virulensi bakteri S. agalactiae yaitu berupa produk ekstraseluler yang dihasilkannya. Bakteri

S. agalactiae memiliki sifat septicemia yaitu mampu menyebar melalui aliran darah, sehingga dapat dengan cepat mencapai organ target dan mengembangkan faktor virulensinya. Kadar He yang rendah pada perlakuan PO(+) juga disebabkan ikan kehilangan nafsu makan sebagai salah satu akibat serangan bakteri S. agalactiae. Rendahnya nafsu makan menyebabkan ikan kekurangan nutrisi dan vitamin yang dibutuhkan tubuh ikan. Blaxhall (1972) mengatakan, bahwa kadar hematokrit merupakan indikator bahwa ikan mendapat infeksi, rendahnya kandungan protein pakan dan defisiensi vitamin. Sedangkan kadar He terlalu tinggi (di atas batas normal) menunjukkan ikan ada dalam keadaan stres (Anderson dan Siwicki 1993).

Dokumen terkait