• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

P- tersedia tanah Akhir Pertumbuhan Vegetatif

-t er se d ia (p p m )

Keterangan : D0:Tanpa Dolomit, D1: Dolomit ≈ Aldd, D2: Dolomit ≈ Ca(OH)2; U0:Tanpa Urea,

U1:1.09g/pot, U2: 2.17g/pot, U3: 3.26g/pot

Gambar 3. Histogram P-tersedia Tanah Ultisol 2 Minggu Setelah Tanam Akibat Pemberian Urea dan Dolomit pada Tanaman Jagung.

Gambar 3 dapat diketahui bahwa pada tanpa perlakuan pengapuran nilai P-tersedia tanah adalah 20.92 yang dikombinasikan dengan Urea dosis 2.17 g/pot. Sedangkan pada pemberian Dolomit berdasarkan kurva Ca(OH)2 mengakibatkan P-tersedia tanah mencapai 24.46 ppm (nilai P-tersedia tertinggi) yang dikombinasikan dengan Urea dosis 1.09 g/pot dan menurun ke taraf Urea tertinggi.

P-tersedia tanah Akhir Pertumbuhan Vegetatif .

Hasil sidik ragam pada Lampiran 27 dan 28 menunjukkan bahwa pengaruh tunggal pemberian Dolomit berpengaruh nyata terhadap P-tersedia tanah Ultisol. Tetapi pengaruh tunggal pemberian Urea dan interaksi keduanya tidak berpengaruh nyata terhadap P-tersedia tanah Ultisol.Berdasarkan kriteria BPPM (1982) nilai P-tersedia tanah Ultisol tergolong rendah-sedang, dengan

nilai terukur 12.56 ppm-24.46 ppm. Hasil uji beda rataan pengaruh pemberian Dolomit dan Urea terhadap P-tersedia tanah Ultisol dapat dilihat pada Tabel 12.

Tabel 12. Nilai Rataan P-Tersedia (ppm) Tanah Ultisol Akibat Pengaruh Tunggal Pemberian Dolomit pada Tanaman Jagung

Perlakuan Pupuk Urea (g/pot) Rataan

0 1.09 2.17 3.26

Tanpa Dolomit 13.82 18.12 14.58 12.81 14.83b

Kapur ≈ Aldd 12.56 24.46 13.31 19.14 17.37b

Kapur ≈ Ca(OH)2 19.14 20.15 24.46 17.87 20.41a

Rataan 15.17 20.91 17.45 16.61

Keterangan : Angka yang diikuti oleh notasi yang sama berbeda tidak nyata pada taraf 5%

dengan uji Duncan (DMRT); Dolomit ≈ Aldd : Dolomit Berdasarkan Aldd;

Dolomit ≈ Ca(OH)2: Dolomit Berdasarkan Kurva Ca(OH)2

Dari Tabel 12 diketahui bahwa pemberian Dolomit nyata meningkatkan P-tersedia tanah Ultisol. Pemberian tunggal Dolomit berdasarkan kurva Ca(OH)2

berpengaruh meningkatkan P-tersedia tanah Ultisol. Sedangkan pemberian

Dolomit berdasarkan Aldd menunjukkan pengaruh yang tidak nyata terhadap P-tersedia tanah Ultisol.

N-Total (%)

Hasil sidik ragam pada Lampiran 29 dan 30 menunjukkan bahwa pengaruh tunggal pemberian Dolomit tidak berpengaruh nyata terhadap nitrogen total tanah Ultisol begitu juga dengan interaksi antara Urea dan Dolomit. Tetapi pengaruh tunggal pemberian urea berpengaruh nyata terhadap Nitrogen total tanah Ultisol.

nitrogen total tanah Ultisol ini tergolong sangat rendah menurut kriteria BPPM (1982). Dengan nilai nitrogen total terukur berkisar antara 0.052%-0.072%. Hasil uji beda rataan pengaruh pemberian Urea dan Dolomit

terhadap nitrogen total tanah Ultisol dapat dilihat pada Tabel 13.

Tabel 13. Nilai Rataan Pemberian Urea dan Dolomit terhadap N-total (%) Tanah Ultisol pada Tanaman Jagung.

Perlakuan Pupuk Urea (g/pot) Rataan

0 1.09 2.17 3.26

Tanpa Dolomit 0.060 0.052 0.066 0.067 0.061

Dolomit ≈ Aldd 0.062 0.061 0.072 0.068 0.066

Dolomit ≈ Ca(OH)2 0.059 0.066 0.064 0.071 0.065

Rataan 0.060b 0.060b 0.067a 0.069a

Keterangan : Angka yang diikuti oleh notasi yang sama berbeda tidak nyata pada taraf 5%

dengan uji Duncan (DMRT); Dolomit ≈ Aldd : Dolomit Berdasarkan Aldd;

Dari Tabel 13 diketahui bahwa penambahan dosis pemberian Urea meningkatkan nitrogen total tanah Ultisol. Pemberian Urea 1.09 g/pot belum meningkatkan nitrogen total tanah, tetapi pemberian 2.17 g/pot dan 3.26 g/pot meningkatkan nitrogen total tanah secara nyata.

Pembahasan

Pertumbuhan tanaman jagung dapat dicirikan antara lain oleh tinggi tanaman dan diameter batang. Pemberian Urea memberikan pengaruh yang nyata dalam meningkatkan tinggi tanaman dan diameter batang pada tanaman jagung. Hal ini dikarenakan oleh pemberian Nitrogen yang berasal dari pupuk Urea. Unsur Nitrogen yang ada didalam pupuk Urea sangat berperan penting didalam peningkatan petumbuhan tanaman, yang secara umum Nitrogen berfungsi untuk memperbaiki pertumbuhan vegetatif tanaman. Anonimous (2008a) menyatakan bahwa unsur hara Nitrogen yang dikandung dalam pupuk Urea sangat besar kegunaannya bagi tanaman untuk pertumbuhan dan perkembangan seperti mempercepat pertumbuhan tanaman (tinggi). Sedangkan pemberian Dolomit mengakibatkan penurunan tinggi tanaman dan diameter batang pada tanaman jagung. Pemberian Dolomit yang banyak mengandung Mg dan Ca hanya berfungsi untuk menetralkan kemasaman tanah. Foth (1994), menyatakan bahwa Dolomit banyak mengandung Mg dan Ca yang merupakan bahan pengapur tanah, maka pemberian Dolomit pada tanah masam berpengaruh baik terhadap sifat-sifat tanah. Kadar Mg dan Ca tanah meningkat kadar nitrogen dan fospor meningkat dalam daun.

Berat kering tajuk pada pemberian Urea dengan berbagai dosis pupuk nitrogen jelas meningkatkan berat kering tajuk, karena nitrogen yang terkandung dalam Urea merupakan unsur hara makro yang dibutuhkan tanaman untuk pertumbuhan vegetatif tanaman terutama daun, batang dan akar.dan memberikan reaksi cepat terhadap peningkatan pertumbuhan tanaman. Laegreid et al (1999) menyatakan bahwa nitrogen merupakan salah satu unsur hara makro dan aplikasi nitrogen biasanya memberikan reaksi yang cepat serta terlihat pada peningkatan pertumbuhan tanaman. Sedangkan pemberian Dolomit menunjukkan penurunan berat kering tajuk pada tanaman jagung, hal ini diakibatkan karena Dolomit belum

sempurna bereaksi dengan tanah, sehingga pH tanah pun masih bersifat masam dan menyebabkan unsur hara yang mendukung pertumbuhan tanaman seperti nitrogen dan fosfor belum tersedia.

Berdasarkan hasil pengamatan terhadap berat kering akar tanaman, terlihat bahwa pada perlakuan tanpa Dolomit, pemberian Urea nyata meningkatkan berat kering akar tanaman jagung, tetapi peningkatan dosis Urea tidak berpengaruh terhadap berat kering akar tanaman jagung, hal ini dikarenakan pupuk Urea yang mengandung nitrogen diatas optimal menyebabkan pertumbuhan akar menjadi terhambat. Marschner (1986) dalam Rosmarkam dan Yuwono (2002 menyatakan bahwa bahwa pemberian N yang tinggi menyebabkan tanaman mudah rebah karena sistem perakaran relatif menjadi lebih sempit. Sedangkan pada pemberian Urea dosis 2.17 g/pot, perlakuan pengapuran sama sekali tidak mempengaruhi berat kering akar tanaman jagung. Pada tanpa pengapuran dan Urea pada dosis 1.09 g/pot dicapai berat kering akar tertinggi yaitu 15.67 g dan terendah pada kontrol yaitu 4.27 g.

Peningkatan serapan fospor dan serapan nitrogen berpengaruh sangat nyata akibat pemberian urea. Tetapi serapan fospor dan nitrogen pada pemberian urea yang dikombinasikan dengan dolomit tidak memberikan pengaruh yang nyata. Hal ini disebabkan karena semakin meningkat kematangan tanaman, konsentrasi Ca dan Mg meningkat sedangkan konsentrasi N dan P menurun. Zubachtirodin, dkk (2005) mengatakan pula bahwa, banyaknya N yang dapat diserap oleh tanaman setiap hari persatuan berat tanaman maksimum pada saat tanaman masih muda dan berangsur-angsur menurun dengan bertambahnya umur tanaman. Lebih lanjut dikatakan bahwa, faktor penting yang perlu diperhatikan dalam hubungan antara respon tanaman dengan dosis pupuk adalah pada tingkat mana terjadi akumulasi N pada tanaman. Pada tanaman jagung, akumulasi N terjadi pada pertumbuhan satu bulan setelah tumbuh.

Pada 1 minggu seteleh pemberian Dolomit pH tanah Ultisol mengalami

peningkatan, yang kemudian pH tanah Ultisol mengalami penurunan setelah 2 minggu setelah tanam. Terlihat bahwa dengan pemberian pupuk Urea yang

dikombinasikan dengan Dolomit, pH tanah pada 2 minggu setelah tanam mengalami penurunan. Nilai pH tanah tertinggi terdapat pada perlakuan tanpa

pemberian Urea yang dikombinasikan dengan Dolomit berdasarkan kurva Ca(OH)2 yaitu 6.02 dan menurun pada pemberian Urea pada dosis 2.17 g/pot yang dikombinasikan dengan tanpa pemberian Dolomit yaitu 4.62. Hal ini terjadi karena adanya pengaruh Urea secara langsung akibat adanya reaksi nitrifikasi dimana NH4+ cepat diubah menjadi NO3- dan melepaskan H+ sehingga tanah mengalami penurunan pH. Penurunan pH secara drastis dicegah dengan adanya Dolomit. Terlihat dengan pemberian tunggal Dolomit pH tanah mengalami peningkatan karena Dolomit berfungsi memperbaiki kemasaman tanah sehingga pH tanah meningkat. Dolomit yang mengandung Ca2+ dan Mg2+ akan menggantikan posisi H+, Al3+, dan Fe 2+ pada kompleks jerapan misel tanah. Kuswandi (1993) menyatakan bahwa dengan pengapuran pH tanah akan meningkat, suplai hara Mg dan Ca yang menggeser kedudukan H+ dipermukaan koloid sehingga menetralisir kemasaman tanah. Tingkat ketersediaan unsur hara bagi tanaman juga sangat tergantung pada pH tanah, proses oksidasi reduksi, adanya unsur yang berlebihan dan bahan organik tanah. Hal yang perlu diperhatikan dalam hubungannya dengan tanaman adalah bahwa setiap jenis tanaman berbeda-beda kebutuhannya akan unsur mikro sehingga kelebihan sedikit saja akan bersifat racun bagi tanaman.

Berdasarkan hasil pengamatan 1 minggu setelah inkubasi dengan Dolomit, pemberian Dolomit tidak berpengaruh nyata terhadap P-tersedia tanah Ultisol, hal ini disebabkan karena Dolomit yang mengandung Mg dan Ca yang merupakan bahan pengapur tanah belum sempurna bereaksi dengan tanah, sehingga pengaruhnya belum terlihat di tanah dan unsur hara seperti fosfor dalam tanah belum tersedia, tetapi pada 2 minggu setelah tanam P-tersedia tanah Ultisol menunjukkan nilai yang nyata meningkat. Sedangkan pada akhir pertumbuhan vegetatif tersedia tanah Ultisol tidak nyata terhadap tersedia tanah. Nilai P-tersedia tanah tertinggi adalah 24.46 ppm pada pemberian Dolomit berdasarkan kurva Ca(OH)2 yang dikombinasikan dengan Urea dosis 1.09 g/pot dan menurun ke taraf Urea tertinggi. Sedangkan nilai P-tersedia terendah pada perlakuan tanpa pengapuran dengan Urea dosis 3.26 g/pot yaitu 8.51. Hal ini terjadi karena Urea memiliki senyawa amonium yang dilepaskan selama proses amonifikasi dan secara biologi diubah menjadi nitrat yang disebut nitrifikasi yang cepat mengubah

NH4+ menjadi NO3+ dan melepaskan H+ sehingga tanah menjadi masam dan menyebabkan ketersediaan P menurun, selain itu menurunnya P-tersedia dalam tanah diakibatkan karena tingginya Al yang dapat mengikat P sehingga P tidak tersedia dalam tanah. Maka dari tanah perlu dilakukan pengapuran yang cepat

memperbaiki pH tanah tetapi juga untuk menetralisir tingginya Al. Kuswandi (1993) yang menyatakan bahwa kapur memberikan pengaruh bervariasi

pada tanah dan berfungsi bermacam-macam bagi tanah dan tanaman. Tanah dikapur bukan semata-mata ingin menaikkan pH tetapi juga karena tingginya Al. Al yang menjadi problem pada tanah masam, karena menghambat ketersediaan unsur hara.

Pemberian pupuk Urea berpengaruh nyata dalam meningkatkan nitrogen total tanah. Hal ini dikarenakan nitrogen di dalam tanah merupakan faktor yang sangat penting dalam kaitannya dengan pertumbuhan tanaman dan kesuburan tanah. Rendahnya nitrogen tersedia di dalam tanah Ultisol terutama karena pengangkutan melalui panen yang berkali-kali dilakukan, sehingga menjadi faktor pembatas secara kualitatif. Munir (1996) menyatakan bahwa tanah Ultisol merupakan tanah yang miskin secara kimia dan fisik, selain itu Ultisol mempunyai kendala kemasaman tanah, kejenuhan Aldd tinggi, dan kandungan nitrogen yang rendah.

Unsur hara nitrogen dan fospor serta pH tanah sedikit menurun sesudah percobaan. Hal ini disebabkan unsur hara sebagian sudah terserap oleh tanaman. Pertumbuhan tanaman yang sehat dicerminkan oleh status hara yang optimal, konsentrasi hara serta besarnya serapan N dan P dalam jaringan tanaman. Untuk mendapatkan hasil tanaman yang tinggi diperlukan jumlah hara yang cukup dan seimbang. Kandungan hara tanaman tergantung pada hara yang

tersedia di dalam tanah, sifat fisik tanah dimana tanaman lingkungan (Regis, 1996). Berkurangnya hara N, dan P sesudah percobaan, karena terangkut

Dokumen terkait