Berdasarkan hasil analisis faktor-faktor yang mempengaruhi total pengeluaran rumah tangga petani di Daerah Aliran Sungai Kabupaten Wonogri, diperoleh rumus sebagai berikut:
Y = 549910,355+ 0,144 X1 + 122512,545 X2 + 310793,397 X3 + 103421,823 D+ e
Keterangan :
Y : Tingkat Total Pengeluaran Rumah Tangga Petani (%)
X1 : Tingkat Pendapatan Rumah Tangga Petani (Rupiah per tahun) X2 : Jumlah tanggungan keluarga (orang)
X3 : Luas lahan yang dimiliki (hektar) b0 : Konstanta
b1-b3: Nilai koefisien regresi dari masing-masing variabel D : Dummy variabel (D=1, hulu, D=0 hilir)
e : Kesalahan pengganggu
a. Pengujian Model Statistik
1) Uji Koefisien Determinasi (R2)
Nilai koefisien determinasi menunjukkan seberapa besar variabel-variabel bebas dapat menjelaskan variabel-variabel tak bebas. Berdasarkan hasil analisis diperoleh nilai R2 sebesar 0,639. Hal ini menunjukkan bahwa 63,9 % total pengeluaran rumah tangga petani di daerah Sub DAS Keduangdapat dijelaskan oleh variable pendapatan,jumlah tanggungan keluarga, luas lahan, wilayah hulu dan hilir. Sedangkan sisanya sebesar 36,1% dijelaskan oleh variabel lain di luar model, misalnya selera konsumen, kebudayaan, pendidikan petani dll.
2) Uji F
Uji F digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas secara bersama-sama terhadap total pengeluaran rumah tangga petani di daerah DAS Keduang. Hasil analisis uji F dapat dilihat pada Tabel 25.
Tabel 25. Hasil Analisis Uji F Model Sum of
Squares Df Mean
Square F Sig Regression 1,005E13 4 2,513E12 14,627 0,000
Residual 1,460E13 85 1,718E11
Total 2,465E13 89
Sumber : Analisis Data Primer
Keterangan : signifikansi pada tingkat kepercayaan 95 %
Berdasarkan analisis uji F dapat diketahui bahwa nilai signifikansi sebesar 0,000 dan lebih kecil dari α = 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa variabel-variabel bebas yang diamati yaitu pendapatan, jumlah tanggungan keluarga, luas lahan, wilayah hulu dan hilir, secara bersama-sama berpengaruh nyata terhadap total pengeluaran rumah tangga petani di Sub DAS Keduang.
3) Uji t
Uji t digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas secara individu terhadap total pengeluaran rumah tangga petani di Sub DAS Keduang. Hasil analisis uji t dapat dilihat pada Tabel 26.
Tabel 26. Hasil Analisis Uji t
Variabel Koef.
Regresi t Sig
Pendapatan rumah tangga (X1) 0,144*** 4,594 0,000 Jumlah tanggungan keluarga (X2) 122512,545*** 4,320 0,000 Luas lahan (X3) 310793,397** 2,316 0,023 Wilayah Hulu Hilir (D) 103421,823 1,158 0,250 Sumber : Analisis Data Primer
Keterangan :
**) : signifikansi pada tingkat kepercayaan 95 %
Berdasarkan hasil analisis uji t dapat diketahui bahwa variabel pendapatan rumah tangga petani, jumlah tanggungan keluarga, luas lahan masing-masing berpengaruh nyata terhadap pengeluaran pangan rumah tangga petani di Sub DAS Keduang pada tingkat kepercayaan 95
%. Hal ini dapat ditunjukkan oleh nilai signifikansi masing-masing variabel-variabel tersebut yaitu 0,000 ; 0,000 ; 0,023 (< α = 0,05).
Variabel wilayah hulu hilir tidak berpengaruh nyata terhadap total pengeluaran rumah tangga petani di Sub DAS Keduang. Hal ini ditunjukkan oleh nilai signifikansinya 0,250 lebih besar dari α (0,05).
a) Pendapatan Rumah tangga
Pendapatan merupakan faktor yang penting dalam menentukan variasi permintaan terhadap berbagai jenis barang. Hal ini dikarenakan besar kecilnya pendapatan dapat menggambarkan daya beli konsumen.
Apabila terjadi perubahan dalam pendapatan maka akan menimbulkan perubahan dalam mengkonsumsi berbagai jenis barang. Pendapatan juga dapat dijadikan sebagai tolok ukur kesejahteraan penduduk. Pada pengujian statistik diperoleh hasil dari uji t bahwa variabel pendapatan penduduk signifikan pada tingkat kepercayaan 95 %, sehingga pendapatan rumah tangga petani secara individu berpengaruh nyata terhadap konsumsi energi di daerah DAS Keduang. Nilai elastisitas pendapatan yang positif menunjukkan bahwa pendapatan petani berbanding lurus dengan jumlah pengeluaran rumah tangga petani di Kabupaten Wonogiri. Semakin tinggi pendapatan rumah tangga petani
maka konsumsi energi akan meningkat,. Hal ini dikarenakan tingginya kesadaran masyarakat di Wonogiri untuk memenuhi gizi yang makanan pokoknya beras, sehingga jika pendapatannya naik, maka masyarakat akan meningkatkan pembelian terhadap barang konsumsi. Menurut Sukirno (2005), berdasarkan kurva Engel, pendapatan berbanding lurus dengan kuantitas barang yang diminta, jika pendapatannya meningkat maka jumlah barang yang diminta juga ikut meningkat, dan berlaku untuk barang normal.
b) Jumlah tanggungan keluarga
Pada pengujian statistik diperoleh hasil dari uji t bahwa variabel jumlah tanggungan keluarga signifikan, sehingga jumlah tanggungan keluarga secara individu berpengaruh nyata terhadap konsumsi energi.
Nilai koefisien variabel jumlah tanggungan keluarga positif, jadi semakin banyak jumlah anggota keluarga maka jumlah pengeluaran pangan rumah tangga petani juga semakin tinggi. Rumah tangga dengan jumlah anggota rumah tangga yang lebih besar cenderung mempunyai tingkat konsumsi yang tinggi.
c) Luas lahan
Pada pengujian statistik diperoleh hasil dari uji t bahwa variabel luas lahan signifikan, sehingga luas lahan yang dimiliki petani secara individu berpengaruh nyata terhadap konsumsi energi. Luas lahan pertanian sangat menentukan jumlah produksi petani yang pada akhirnya berpengaruh terhadap pendapatan petani. Nilai koefisien variabel luas lahan yang positif menunjukan besarnya luas lahan berbanding lurus dengan pengeluaran pangan rumah tangga petani.
Lahan petani yang semakin luas akan menyebabkan produksi petani semakin tinggi sehingga pendapatan petani semakin tinggi, dengan pendapatan yang semakin tinggi tersebut maka keluarga petani akan melakukn pengeluaran pangan dengan jumlah yang semakinbesar pula.
d) Wilayah Hulu dan Hilir
Daerah aliran sungai terbagi menjadi wilayah hulu, tengah dan hilir. Ketiga wilayah tersebut saling terkait, yaitu yang sering disebut eksternalitas. Hubungan tersebut akan sangat nampak antara wilaya hulu dan hilir, karena wilayah tengah merupakan wilayah peralihan dari keduanya. Wilayah hulu DAS biasanya merupakan daerah konservasi, kerapatan drainase lebih tinggi, kemiringan lereng lebih besar, dan jenis vegetasi umumnya tegakan hutan. Pada penelitian ini, di kecamatan Girimarto sebagai wilayah hulu, sebagian lahan petani ditanami dengan pohon cengkeh. Sistem irigasi tergantung pola tanam dan tidak pernah terjadi banjir akibat DAS. Sementara wilayah hilir DAS biasanya merupakan daerah pemanfaatan, kerapatan drainase lebih kecil, kemiringan lereng lebih kecil,vegetasi didominasi tanaman pertanian.
Di kecamatan Sidoharjo yang termasuk wilayah hilir, lahan petani ditanami dengan padi, beberapa petani menerapkan tumpangsari dengan tanaman ketela pohon. Penggunaan air di lahan pertanian kecamatan Sidoharjo juga sangat dipengaruhi oleh bangunan irigasi. Di Sub DAS Keduangkini aliran air sudah mulai berkurang, dalam hal ini mungkin dipengaruhi oleh El Nino yang terjadi sehingga menyebabkan beberapa daerah kering. Pada pengujian statistik diperoleh hasil dari uji t bahwa variabel wilayah tidak signifikan, sehingga wilayah yang secara individu tidak berpengaruh nyata terhadap konsumsi energi. Jadi baik di hulu maupun di hilir tidak akan mempengaruhi jumlah konsumsi energi suatu keluarga.