HASIL DAN PEMBAHASAN
N- total Tanah Akhir Vegetatif
Dari hasil pengukuran dan sidik ragam N-total tanah akhir vegetatif (Lampiran 8.2 dan 8.3) diperoleh bahwa pengaruh faktor perlakuan akibat jerami padi berpengaruh nyata terhadap peningkatan N-total tanah dan faktor perlakuan akibat pupuk serta kombinasi antara jerami padi dengan pupuk tidak berpengaruh nyata terhadap peningkatan N-total tanah.
Tabel 5. Pengaruh Pemberian Jerami Padi dan Pupuk Terhadap N-total (%) Tanah Akhir Vegetatif Jerami Padi Pupuk Rataan Tanpa NPK (P0) NPK 50 % (P1) NPK 100 % (P2) ………....%...……...…….. Jerami Dibiarkan (J0) 0,3 0,3 0,3 0,3b
Jerami Dibabat (J1) 0,2 0,3 0,2 0.2a
Jerami Dibabat + Pupuk kandang (J2) 0,2 0,2 0,3 0.2a
Rataan 0.2 0.3 0.3
Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada perlakuan yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5 % menurut DMRT
Dari hasil uji beda rataan pada Tabel 5. dapat dilihat bahwa N-total tanah tertinggi pada faktor perlakuan akibat jerami padi terdapat pada perlakuan jerami dibiarkan (J0) yaitu 0.3% dan terendah terdapat pada perlakuan jerami dibabat (J1) dan jerami dibabat + pupuk kandang (J2) yaitu 0.2%. Jerami dibiarkan (J0) berpengaruh nyata terhadap jerami dibabat (J1) dan jerami dibabat + pupuk kandang (J2).
Pemberian Jerami padi secara nyata meningkatkan kandungan N-total tanah. Hal ini disebabkan karena dalam keadaan tergenang bahan organik yang diharapkan dapat melepaskan ion amonium ke dalam larutan tanah dekompisinya berjalan lebih lambat. Hal ini sesuai dengan literatur Ismunandji dkk., dalam Muslimah (2005) yang menyatakan bahwa lapukan bahan organik yang dapat
melepaskan ion amonium dalam larutan tanah berjalan lebih lambat dalam keadaan tergenang daripada tidak tergenang. Juga disebabkan oleh jerami yang sudah diolah ditambah pupuk kandang mungkin sudah mengalami dekomposisi walaupun mungkin masih berada pada tahap awal dekomposisi. Hal ini diduga juga disebabkan karena ratio C/N pupuk kandang sedang yaitu 13.02 yang menyebabkan proses mineralisasi berjalan lambat. Hal ini sesuai dengan pendapat Sooksa-nguan et, al (2009) rendahnya mineralisasi N disebabkan karena rendahnya bahan organik dan adanya pengurangan oksigen pada sistem SRI.
Pemberian pupuk urea tidak berpengaruh nyata terhadap peningkatan nilai N-total tanah. Nilai N-total tanah tertinggi terdapat pada perlakuan P1(NPK 50%) dan P2 (NPK 100%) yaitu sebesar 0.3% dan terendah terdapat pada perlakuan P0(tanpa NPK) yaitu sebesar 0.2%. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Arafah dan Sirappa (2003) yang menyatakan bahwa N merupakan salah satu faktor pembatas utama untuk produktivitas padi sawah. Dari nitogen tanah, sekitar 97-98% berupa N-organik dan 2-3% berupa N-anorganik. Produktivitas padi sawah lebih banyak ditentukan oleh kadar zat organik tanah. Dengan demikian, tanah-tanah yang berkadar bahan organik rendah perlu diupayakan tambahan pupuk N dari pupuk agar status hara N tanaman cukup untuk menopang produktivitas yang tinggi.
Pada tanah tergenang, tidak adanya O2 dapat menghambat aktivitas Nitrosomonas untuk mengoksidasi NH4+ sehingga mineralisasi berhenti. Karena
pada tanah sawah yang tergenang terdapat lapisan tanah tipis di permukaan yang bersifat aerob sehingga pada lapisan pada lapisan tersebut terjadi prose nitrifikasi sehingga terbentuk senyawa NO3- yang stabil dalam keadaan oksidatif. Hal ini
karena kadar NO3- lapisan di bawahnya dengan anaerob lebih rendah, maka terjadi
proses difusi NO3- ke lapisan bawah tersebut. Di lapisan bawah dalam kondisi
tersebut, NO3- mengalami proses denitrifikasi menjadi N2 (gas) dan selanjutnya
hilang dari tanah.
Faktor lain yang menyebabkan nilai N-total pada aplikasi pupuk anorganik menurun yaitu karena pengaruh tanaman. Tanaman yang menggunakan pupuk anorganik pertumbuhan tanaman baik, sehingga tanaman lebih banyak menyerap hara dari tanah dan sebaliknya, pada perlakuan yang tanpa diaplikasi pupuk anorganik pertumbuhan tanaman kurang baik, sehingga N yang berada di dalam tanah tidak dapat diserap tanaman secara optimal yang mengakibatkan pada perlakuan yang menggunakan pupuk anorganik kadar hara N lebih rendah dibandingkan pada perlakuan yang tanpa aplikasi pupuk anorganik. Hal ini sejalan dengan data serapan N.
Ratio C/N Tanah Akhir Vegetatif
Dari hasil pengukuran dan sidik ragam ratio C/N tanah akhir vegetatif (Lampiran 9.2 dan 9.3) diperoleh bahwa pengaruh faktor perlakuan akibat jerami padi berpengaruh nyata terhadap peningkatan ratio C/N tanah dan faktor perlakuan akibat pupuk serta kombinasi antara jerami padi dengan pupuk tidak berpengaruh nyata terhadap peningkatan ratio C/N tanah.
Tabel 6. Pengaruh Pemberian Jerami Padi dan Pupuk Terhadap Ratio C/N (%) Tanah Akhir Vegetatif
Jerami Padi Pupuk Rataan Tanpa NPK (P0) NPK 50 % (P1) NPK 100 % (P2) ………....%...……...……..
Jerami Dibiarkan (J0) 6,7 6,6 6,7 6,7a
Jerami Dibabat (J1) 6,9 6,4 6,9 6,8a
Jerami Dibabat + Pupuk kandang (J2) 8,6 8,4 7,3 8,1b
Rataan 7,4 7,1 7.0
Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada perlakuan yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5 % menurut DMRT
Dari hasil uji beda rataan pada Tabel 6. dapat dilihat bahwa ratio C/N tanah tertinggi pada faktor perlakuan akibat jerami padi terdapat pada perlakuan jerami dibabat + pupuk kandang (J2) yaitu 8.1% dan terendah terdapat pada perlakuan jerami dibiarkan (J0) yaitu 6.7%. Jerami dibabat + pupuk kandang (J2) berpengaruh nyata terhadap jerami dibabat (J1) dan jerami dibiarkan (J0).
Pemberian jerami padi secara nyata meningkatkan ratio C/N tanah. Hal ini disebabkan oleh jerami yang sudah diolah mungkin sudah mengalami dekomposisi walaupun mungkin masih berada pada tahap awal dekomposisi. Hal ini juga mungkin disebabkan bahan organik berupa jerami dibabat lebih cepat terdekomposisi karena memiliki ukuran yang lebih kecil dibandingkan ukuran jerami yang dibiarkan sehingga lebih cepat tersedia di dalam tanah karena lebih cepat mengalami mineralisasi. Hal ini juga disebabkan akibat tata air pada metode SRI yang menggunakan sistem air macak-macak sehingga O2 lebih
tersedia yang mengakibatkan aktivitas mikroorganisme meningkat dan dapat mengurai bahan organik secara sempurna dan juga akar tanaman yang mengandung eksudat sehingga menambah unsur hara bagi tanah.
Keong Mas
Dari hasil pengukuran dan sidik ragam jumlah keong mas (Lampiran 11.1 dan 11.2) diperoleh bahwa pengaruh faktor perlakuan akibat jerami padi, faktor akibat pupuk dan kombinasi antara jerami padi dan pupuk tidak berpengaruh nyata terhadap peningkatan jumlah keong mas.
Tabel 7. Pengaruh Pemberian Jerami Padi dan Pupuk Terhadap Jumlah Keong Mas Jerami Padi Pupuk Rataan Tanpa NPK (P0) NPK 50 % (P1) NPK 100 % (P2) Jerami Dibiarkan (J0) 6 4 6 5 Jerami Dibabat (J1) 5 4 4 4
Jerami Dibabat + Pupuk kandang (J2) 5 6 8 6
Rataan 5 5 6
Dari hasil uji beda rataan pada Tabel 7. dapat dilihat bahwa jumlah keong mas tertinggi pada faktor perlakuan akibat jerami padi terdapat pada perlakuan jerami dibabat + pupuk kandang (J2) yaitu 6 dan terendah terdapat pada perlakuan jerami dibiarkan (J1) yaitu 4.
Sedangkan jumlah keong mas tertinggi pada faktor perlakuan akibat pupuk terdapat pada perlakuan pupuk NPK 100% (P2) yaitu 6 dan terendah terdapat pada perlakuan NPK 50% (P1) yaitu 5.
Pada perlakuan kombinasi keong mas tertinggi terdapat pada perlakuan kombinasi antara jerami dibabat + pupuk kandang dengan pupuk NPK 100% (J2P2) yaitu 8 namun tidak berbeda nyata secara statistik.
Pemberian jerami padi pada tanah sawah tidak berpengaruh terhadap keberadaan keong mas pada tanah sawah dan sedikitnya distribusi bahan organik
keong mas pada perlakuan kombinasi anatara jerami dibabat + pupuk kandang dengan NPK 100% disebabkan karena terkait dengan sumber nutrisinya pada setiap perlakuan. Karena keberadaan suatu organisme pada suatu daerah dipengaruhi oleh tersedianya sumber bahan makanan di tempat tersebut. Disebabkan juga karena karena keong mas menyenangi tempat-tempat yang digenangi air.
Tinggi Tanaman Masa Vegetatif
Dari hasil pengukuran dan sidik ragam tinggi tanaman masa vegetatif (Lampiran 12.1 dan 12.2) diperoleh bahwa pengaruh faktor perlakuan akibat jerami padi dan faktor akibat pupuk berpengaruh nyata terhadap peningkatan tinggi tanaman masa vegetatif dan pengaruh kombinasi antara jerami padi dan perlakuan pupuk tidak berpengaruh nyata terhadap peningkatan tinggi tanaman masa vegetatif.
Tabel 8. Pengaruh Pemberian Jerami Padi dan Pupuk Terhadap Tinggi Tanaman Masa Vegetatif (cm) Jerami Padi Pupuk Rataan Tanpa NPK (P0) NPK 50 % (P1) NPK 100 % (P2) ……….….cm...……...……..
Jerami Dibiarkan (J0) 82,6 87,0 81,5 83,7a
Jerami Dibabat (J1) 80,5 85,5 78,3 81,4a
Jerami Dibabat + Pupuk kandang (J2) 79,9 93,4 92,1 88,5b
Rataan 81,0a 88,6b 83.9ab
Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada perlakuan yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5 % menurut DMRT
Dari hasil uji beda rataan pada Tabel 8. dapat dilihat bahwa tinggi tanaman masa vegetatif tertinggi pada faktor perlakuan akibat jerami padi terdapat pada perlakuan jerami dibabat + pupuk kandang (J2) yaitu 88.5 cm dan terendah
terdapat pada perlakuan jerami dibiarkan (J1) yaitu 81.4 cm. Jerami dibiarkan (J0) berpengaruh tidak nyata terhadap jerami dibabat (J1) dan berpengaruh nyata terhadap jerami dibabat + pupuk kandang (J2).
Sedangkan tinggi tanaman masa vegetatif tertinggi pada faktor perlakuan akibat pupuk terdapat pada perlakuan pupuk NPK 50% (P1) yaitu 88.6 cm dan terendah terdapat pada perlakuan tanpa NPK (P0) yaitu 83.9 cm. Tanpa NPK (P0) berpengaruh nyata terhadap pupuk NPK 50% (P1) dan tidak berpengaruh nyata terhadap pupuk NPK 100% (P2).
Pemberian jerami padi secara nyata meningkatkan tinggi tanaman. Hal ini disebabkan karena pemberian bahan organik berupa jerami cacah dan pupuk kandang sapi dapat meningkatkan tinggi tanaman, jumlah anakan, bobot tajuk, dan bobot akar tanaman. Peningkatan ini disebabkan karena hara N merupakan unsur hara yang sangat penting untuk pertumbuhan vegetatif. Hal ini sesuai dengan pernyataan Hardjowigeno (2003) yang menyatakan bahwa salah satu fungsi N adalah memperbaiki pertumbuhan tanaman selama masa vegetatif, pembentukan protein, penyususn utama berat kering tanaman, dan membantu tanaman agar tidak mudah terserang penyakit. Pada perlakuan J2 pupuk yang diberikan adalah pupuk N,P,K yang berasal dari pupuk anorganik yaitu pupuk urea, TSP, dan KCl dimana pupuk anorganik ini pada umumnya memiliki kandungan hara yang tinggi, pemberiannya dapat terukur dengan tepat, kebutuhan tanaman akan hara dapat dipenuhi dengan perbandingan yang tepat, mudah larut dan cepat diserap oleh akar tanaman sehingga dengan demikian unsur hara makro N,P,K yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman dapat dengan cepat diserap oleh tanaman.
Jumlah tinggi tanaman memiliki korelasi yang kuat dengan C-organik, N-total, (r =0.65, n =27) dengan persamaan Y = 62.75 + 3.17 pH + 36.39 C- organik – 68.80 N-total – 6.9 C/N + 1.46 keong mas.
Jumlah Anakan Tanaman Masa Vegetatif
Dari hasil pengukuran dan sidik ragam jumlah anakan tanaman masa vegetatif (Lampiran 13.1 dan 13.2) diperoleh bahwa pengaruh faktor perlakuan akibat jerami padi, faktor perlakuan pupuk serta kombinasi jerami padi dan pupuk tidak berpengaruh nyata terhadap peningkatan jumlah anakan tanaman masa vegetatif.
Tabel 9. Pengaruh Pemberian Jerami Padi dan Pupuk terhadap Peningkatan Jumlah Anakan Tanaman Masa Vegetatif.
Jerami Padi Pupuk Rataan Tanpa NPK (P0) NPK 50 % (P1) NPK 100 % (P2) Jerami Dibiarkan (J0) 39 37 39 38 Jerami Dibabat (J1) 36 39 34 36
Jerami Dibabat + Pupuk kandang (J2) 38 33 32 34
Rataan 38 36 35
Dari hasil uji beda rataan pada Tabel 9. dapat dilihat bahwa peningkatan jumlah anakan tanaman masa vegetatif tertinggi pada faktor perlakuan akibat jerami padi terdapat pada perlakuan jerami dibiarkan (J0) yaitu 38 dan terendah terdapat pada perlakuan jerami dibabat + pupuk kandang (J2) yaitu 34.
Sedangkan peningkatan jumlah anakan tanaman masa vegetatif tertinggi pada faktor perlakuan akibat pupuk terdapat pada perlakuan tanpa NPK (P0) yaitu 38 dan terendah terdapat pada perlakuan tanpa NPK 100 % (P2) yaitu 35.
Peningkatan jumlah anakan tanaman masa vegetati pada perlakuan kombinasi yang tertinggi terdapat pada perlakuan kombinasi antara jerami dibiarkan dengan tanpa NPK (J0P0) yaitu 39 dan terendah terdapat pada perlakuan kombinasi antara jerami dibiarkan + pupuk kandang dengan pupuk NPK 100% (J2P2) 32.
Pemberian jerami padi secara tidak nyata meningkatkan Jumlah Anakan. Dari hasil perhitungan terhadap jumlah anakan tanaman dapat dilihat bahwa jumlah anakan tanaman pada perlakuan pemberian jerami padi jauh lebih banyak dibandingkan pada perlakuan pemberian pupuk kandang. Hal disebabkan pada perlakuan pemberian jerami padi selain adanya penambahan nitrogen dari pupuk urea yang tentu saja juga berpengaruh terhadap jumlah anakan juga disebabkan karena bibit yang ditanam untuk setiap lobang tanam adalah 1 bibit sehingga pertumbuhan tanaman menjadi lebih optimal karena ruang tumbuh tanaman yang juga optimal dan juga terpenuhinya air dan nutrisi bagi tanaman sehingga menyebakan pertambahan jumlah anakannya menjadi lebih banyak. Hal ini sesuai dengan literatur (Bakelaar, 2002) yang menyatakan bahwa untuk menghasilkan batang yang kokoh, diperlukan akar yang dapat berkembang bebas untuk mendukung pertumbuhan batang di atas tanah. Untuk ini akar membutuhkan kondisi tanah, air, nutrisi, temperatur dan ruang tumbuh yang optimal sehingga tanaman padi memiliki lebih banyak batang, perkembangan akar lebih besar, dan lebih banyak bulir pada malai.
Pemberian pupuk anorganik tidak berpengaruh nyata meningkatkan jumlah anakan. Hal ini menunjukkan bahwa unsur N sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman. Hal ini juga diperkuat oleh pernyataan Arafah danSirappa
(2003) yang menyatakan bahwa N merupakan salah satu faktor pembatas utama untuk produktivitas padi sawah. Dari nitogen tanah, sekitar 97-98 % berupa N-organik dan 2-3 % berupa N-anorganik. Produktivitas padi sawah lebih banyak ditentukan oleh kadar zat organik tanah. Dengan demikian, tanah-tanah yang berkadar bahan organik rendah perlu diupayakan tambahan pupuk N dari pupuk agar status hara N tanaman cukup untuk menopang produktivitas yang tinggi.
Jumlah anakan maksimal memiliki korelasi yang kuat dengan pH tanah (r = 0,56, n =27) dengan persamaan Y = 20.80 – 4,34 pH – 46,80 C-organik +
335,35 N-total + 11,09 C/N – 0,20 keong mas.
Berat Kering Bagian Atas Tanaman
Dari hasil pengukuran dan sidik ragam berat kering bagian atas tanaman (Lampiran 14.1 dan 14.2) diperoleh bahwa pengaruh faktor perlakuan akibat jerami padi, perlakuan akibat pupuk serta kombinasi jerami padi dan pupuk berpengaruh nyata terhadap peningkatan berat kering bagian atas tanaman.
Tabel 10. Pengaruh Pemberian Jerami Padi dan Pupuk Terhadap Berat Kering Bagian Atas Tanaman (gr).
Jerami Padi Pupuk Rataan Tanpa NPK (P0) NPK 50 % (P1) NPK 100 % (P2) ………....…..gr...……...…….. Jerami Dibiarkan (J0) 49,1c 41,1a 48,1bc 46,1b
Jerami Dibabat (J1) 39,8a 44,9ab 54,2c 46,3b
Jerami Dibabat + Pupuk kandang (J2) 38,9a 40,1a 45,5ab 41,5a
Rataan 42,6b 42,0b 49,3a
Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada perlakuan yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5 % menurut DMRT
Dari hasil uji beda rataan pada Tabel 10. dapat dilihat bahwa berat kering bagian atas tanaman tertinggi pada faktor perlakuan akibat jerami padi terdapat
pada perlakuan jerami dibabat (J1) yaitu 46.1 gr dan yang terendah terdapat pada perlakuan jerami dibabat + pupuk kandang (J2) yaitu 41.5 gr. Jerami dibabat (J1) tidak berpengaruh nyata terhadap jerami dibiarkan (J0) dan berpengaruh nyata terhadap jerami dibabat + pupuk kandang (J2).
Sedangkan berat kering bagian atas tanaman tertinggi pada faktor perlakuan akibat pupuk terdapat pada perlakuan pupuk NPK 100% (P2) yaitu 49.3 gr dan terendah terdapat pada perlakuan NPK 50% (P1) yaitu 42.0 gr. Tanpa NPK (P0) tidak berpengaruh nyata terhadap pupuk NPK 50% (P1) dan berpengaruh nyata terhadap pupuk NPK 100% (P2).
Pada tabel 10. dapat dilihat bahwa berat kering bagian atas tanaman tertinggi terdapat pada perlakuan kombinasi antara jerami dibabat + pupuk kandang dengan pupuk NPK 50% (J2P1) yaitu 54.2 gr dan terendah terdapat pada perlakuan kombinasi antara jerami dibiarkan dengan NPK 100% (J0P2) yaitu 38.9 gr.
Pemberian pupuk jerami padi secara nyata meningkatkan berat kering bagian atas tanaman. Berat kering bagian atas tanaman tertinggi terdapat pada perlakuan J1 (jerami dibabat) yaitu sebesar 46.3 gr dan terendah terdapat pada perlakuan J2 (jerami dibabat + pupuk kandang) yaitu sebesar 41.5 gr. Diketahui bahwa berat kering bagian atas tanaman umumnya lebih rendah pada perlakuan pemberian jerami diolah ditambah pupuk kandang dibandingkan perlakuan jerami diolah. Hal ini disebabkan karena bahan organik ditambah pupuk kandang yang diharapkan dapat menyediakan nitrogen yang dapat diserap tanaman masih berada dalam bentuk N-organik sehingga tanaman belum dapat mempergunakannya untuk memenuhi kebutuhan akan unsur nitrogen dan tentu saja tanaman
kekurangan unsur N dan pertumbuhan vegetatif (daun) kurang maksimal. Akibat dari kurangnya ketersediaan N ini tentu saja akan berpengaruh terhadap bobot daun/tajuk tanaman. Kekurangan N pada tanaman padi ini diperkuat dengan berubahnya warna daun tanaman dari hijau menjadi kuning yang dimulai dari ujung daun dan terus menjalar ke tulang dan daun di tengah. Hal ini sesuai dengan literatur Hakim dkk. (1986) yang menyatakan bahwa pada tanaman padi-padian, warna kuning ini dimulai dari ujung dan terus menjalar ke tulang dan daun di tengah.
Berat kering atas tanaman memiliki korelasi yang kuat dengan N-total (r = 0,48, n =27) dengan persamaan Y = 84,39 + 5,10 pH – 42,77 C-organik +
430,06 N-total + 9,66 C/N – 0,37 keong mas.
Berat Gabah
Dari hasil pengukuran dan sidik ragam gabah (Lampiran 15.1 dan 15.2) diperoleh bahwa pengaruh faktor perlakuan akibat jerami padi dan perlakuan akibat pupuk berpengaruh nyata terhadap peningkatan gabah dan pengaruh kombinasi antara jerami padi dengan pupuk tidak berpengaruh nyata terhadap peningkatan gabah.
Tabel 11. Pengaruh Pemberian Jerami Padi dan Pupuk Terhadap Berat Gabah (gr)
Jerami Padi Pupuk Rataan Tanpa NPK (P0) NPK 50 % (P1) NPK 100 % (P2) ………....…..gr...……...…….. Jerami Dibiarkan (J0) 2707,9 3094,3 3455,2 3085,8a
Jerami Dibabat (J1) 3465,2 3687,9 4110,9 3754,7b
Jerami Dibabat + Pupuk kandang (J2) 3436,0 3546,5 3584,5 3522,3b
2707,9 3094,3 3455,2
Rataan 3203,0a 3442,9b 3716,9c
Dari hasil uji beda rataan pada Tabel 11. dapat dilihat bahwa gabah tertinggi pada faktor perlakuan akibat jerami padi terdapat pada perlakuan jerami dibabat (J1) yaitu 3754,7 gr dan terendah terdapat pada perlakuan jerami dibiarkan (J0) yaitu 3085,8 gr. Jerami dibiarkan (J0) tidak berpengaruh nyata terhadap jerami dibabat (J1) dan berpengaruh nyata terhadap jerami dibabat + pupuk kandang (J2).
Sedangkan gabah tertinggi pada faktor perlakuan akibat pupuk terdapat pada perlakuan pupuk NPK 100% (P2) yaitu 3716,9 gr dan terendah terdapat pada perlakuan tanpa NPK (P0) yaitu 32,03,0 gr. Tanpa NPK (P0) tidak berpengaruh nyata terhadap NPK 50% (P1) dan berpengaruh nyata terhadap NPK 100% ( P2).
Pengaruh tunggal jerami padi dan pupuk berpengaruh nyata meningkatkan bobot kering gabah. Hal ini disebabkan karena bahan organik ditambah pupuk kandang yang diharapkan dapat menyediakan nitrogen yang dapat diserap tanaman masih berada dalam bentuk N-organik sehingga tanaman belum dapat mempergunakannya untuk memenuhi kebutuhan akan unsur nitrogen dan tentu saja tanaman kekurangan unsur N dan pertumbuhan vegetatif (daun) kurang maksimal dan dapat mensuplai kebutuhan hara yang dibutuhkan tanaman dalam membentuk gabah.
Berat Gabah memiliki korelasi yang kuat dengan jumlah anakan produktif (r = 0,18, n =27) dengan persamaan Y = 25,02 + 3,75 pH – 22 C-organik + 219,11
N-total +5,87 C/N – 0,07 keong mas.
Jumlah Anakan Produktif
Dari hasil pengukuran dan sidik ragam jumlah anakan produktif (Lampiran 16.1 dan 16.2) diperoleh bahwa pengaruh faktor perlakuan tunggal
jerami padi dan kombinasi perlakuan jerami dan perlakuan pupuk berpengaruh nyata terhadap peningkatan jumlah anakan produktif dan faktor perlakuan tunggal pupuk tidak berpengaruh nyata terhadap peningkatan jumlah anakan produktif. Tabel 12. Pengaruh Pemberian Jerami Padi dan Pupuk Terhadap Jumlah Anakan
Produktif. Jerami Padi Pupuk Rataan Tanpa NPK (P0) NPK 50 % (P1) NPK 100 % (P2)
Jerami Dibiarkan (J0) 19abc 16a 18ab 18a
Jerami Dibabat (J1) 18ab 21c 21bc 20b
Jerami Dibabat + Pupuk kandang (J2) 16a 17a 19ab 17a
Rataan 18 18 19
Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada perlakuan yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5 % menurut DMRT
Dari hasil uji beda rataan pada Tabel 12. dapat dilihat bahwa Jumlah Anakan Produktif tertinggi pada faktor perlakuan tunggal jerami padi terdapat pada perlakuan jerami dibabat (J1) yaitu 20 dan terendah terdapat pada perlakuan jerami dibabat + pupuk kandang (J2) yaitu 17. Jerami dibiarkan (J0) berpengaruh nyata terhadap jerami dibiarkan (J1) dan tidak berpengaruh nyata terhadap jerami dibabat + pupuk kandang (J2).
Dari hasil uji beda rataan pada Tabel 12. dapat dilihat bahwa Jumlah Anakan Produktif tertinggi terdapat pada perlakuan kombinasi antara jerami dibabat dengan pupuk NPK 50% (J1P1) yaitu 21 dan terendah terdapat pada perlakuan kombinasi antara jerami dibiarkan dengan NPK 100% (J0P2) dan jerami dibabat dengan tanpa pupuk (J1P0) yaitu 16.
Pengaruh jerami dan pupuk anakan produktif. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman padi pada perlakuan J0P1 dan J2P0 ini menunjukkan bahwa tanaman padi tetap membutuhkan tambahan unsur hara
makro dalam proses pertumbuhan vegetatifnya terutama unsur hara P yang berperan utama dalam pembentukan jumlah anakan. Hal ini sesuai dengan literatur Buckman and Brady (1982) yang menyatakan peranan P pada tanaman
adalah : (1) untuk pembelahan sel, pembentukan lemak serta albumin, (2) pembentukan bunga, biji dan buah, (3) merangsang perkembangan akar, (4)
mempercepat kematangan tanaman, (5) memperkuat batang dan tanaman serealia, (6) meningkatkan kualitas tanaman terutama rumput dan sayuran dan (7) meningkatkan kekebalan terhadap penyakit terutama cendawan.
Jumlah Anakan Produktif memiliki korelasi yang kuat dengan N-total dan C/N (r = 0,48, n =27) dengan persamaan Y = 19,91 + 1,02 pH – 3,09 C-organik - 3,1 N-total – 1,89 C/N + 0,12 keong mas.