• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil

N- Total Tanah

Dari hasil penelitian dan sidik ragam pada (lampiran 7 dan 8) memperlihatkan bahwa aplikasi pupuk kiserit berpengaruh tidak nyata terhadap peningkatan N-total tanah , begitu juga pemberian kotoran ayam berpengaruh tidak nyata terhadap peningkatan N- total tanah serta interaksi antara pupuk kiserit dan

kotoran ayam juga tidak berpengaruh nyata terhadap N-total tanah. Uji beda rataan N- total tanah dapat dilihat pada table 4.

Table 4. Uji Beda Rataan Pemberian dan Interaksi Pupuk Kiserit dan Kotoran Ayam Terhadap N-total Tanah Ultisol Sesudah Panen.

Kotoran Kiserit Rata-rata Ayam K0 K1 K2 K3 A1 0.09 0.085 0.095 0.0975 0.091875 A2 0.09 0.0925 0.095 0.1025 0.095 A3 0.085 0.095 0.105 0.0975 0.095625 Rata-rata 0.088333 0.090833 0.098333 0.099167 0.094167

Dari table 4. Menunjukan bahwa N- total tanah terendah pada perlakuan pupuk kiserit adalah pada taraf K0 (0.088333) yang tertinggi pada perlakuan dengan taraf K3 (0.099167) sedangkan pada kotoran ayam yang terendah pada perlakuan dengan taraf A1 (0.091875) dan tertinggi pada perlakuan dengan taraf A3 (0.095625). Interaksi pupuk kiserit dan kotoran ayam tidak berbeda dengan taraf perlakuan yang lainnya

Nisbah C/N Tanah

Dari hasil penelitian dan sidik ragam pada (lampiran 9 dan 10) memperlihatkan bahwa aplikasi pupuk kiserit berpengaruh tidak nyata terhadap nisbah C/N tanah , begitu juga pemberian kotoran ayam berpengaruh tidak nyata terhadap nisbah C/N tanah serta interaksi antara pupuk kiserit dan kotoran ayam juga tidak berpengaruh nyata terhadap nisbah C/N tanah. Uji beda rataan nisbah C/N tanah dapat dilihat pada table 5.

Table 5. Uji Beda Rataan pemberian dan interaksi Pupuk Kiserit dan Kotoran Ayam terhadap C/N Tanah Ultisol Sesudah Panen.

Kotoran Kiserit Rata-rata Ayam K0 K1 K2 K3 A1 0.975 1.275 1 0.875 1.03125 A2 1.2 1.05 1.05 0.85 1.0375 A3 1.2 1.3 1.075 1.25 1.20625 Rata-rata 1.125 1.208333 1.041667 0.991667 1.091667

Dari table 5. Menunjukan bahwa nisbah C/N tanah terendah pada perlakuan pupuk kiserit adalah pada taraf K3 (0.991667) yang tertinggi pada perlakuan dengan taraf K1 (1.208333) sedangkan pada kotoran ayam yang terendah pada perlakuan dengan taraf A1 (1.03125) dan tertinggi pada perlakuan dengan taraf A3 (1.20625). Interaksi pupuk kiserit dan kotoran ayam tidak berbeda dengan taraf perlakuan yang lainnya dimana interaksi pupuk kiserit dan kotoran ayam tidak berpengaruh nyata terhadap peningkatan C/N tanah.

Berat Produksi sawi

Dari hasil penelitian dan sidik ragam pada ( lampiran 11 dan 12) memperlihatkan bahwa aplikasi pupuk kiserit berpengaruh tidak nyata terhadap berat produksi sawi, begitu juga pemberian kotoran ayam berpengaruh tidak nyata terhadap berat produksi sawi serta interaksi antara pupuk kiserit dan kotoran ayam juga tidak berpengaruh nyata terhadap berat produksi sawi. Uji beda rataan berat produksi sawi dapat dilihat pada table 6.

Table 6. Uji Beda Rataan pemberian dan interaksi Pupuk Kiserit dan Kotoran Ayam terhadap Berat Produksi Sawi Sesudah Panen.

Kotoran Kiserit Rata-rata Ayam K0 K1 K2 K3 A1 24.25 17 21.25 30 23.125 A2 28.75 30.25 27.5 38.75 31.3125 A3 29.75 21.25 29.25 25 26.3125 Rata-rata 27.58333 22.83333 26 31.25 26.91667

Dari table 6. Menunjukan bahwa bahan organik tanah terendah pada perlakuan pupuk kiserit adalah pada taraf K1 (22.83333) yang tertinggi pada perlakuan dengan taraf K3 (31.25) sedangkan pada kotoran ayam yang terendah pada perlakuan dengan taraf A1 (1.03125) dan tertinggi pada perlakuan dengan taraf A3 (1.20625). Interaksi pupuk kiserit dan kotoran ayam tidak berbeda dengan taraf perlakuan yang lainnya, dimana interaksi pupuk kiserit dan kotoran ayam memberikan pengaruh tidak nyata terhadap berat produksi sawi.

Pembahasans Kemasaman tanah (pH H2O)

Dari hasil penelitian diketahui bahwa pemberian pupuk kiserit berpengaruh nyata terhadap pH tanah ultisol, sedangkan pemberian kotoran ayam dan interaksi pupuk kiserit dan kotoran ayam tidak berpengaruh nyata terhadap kemasaman tanah (pH) tetapi disana dapat kita lihat dari penambahan dosis dari masing-masing perlakuan pada perlakuan kiserit terjadi peningkatan pH tanah dimana perlakuan kiserit yang tertinggi pada taraf K2 (6.5) dan terendah pada perlakuan dengan taraf K0 (6.33) dan kotoran ayam yang tertinggi pada perlakuan dengan taraf A3 (6.45) dan terendah pada taraf A1 (6.25) . Hal ini sesuai dengan literatur bahwa pupuk kandang merupakan pupuk yang apabila ditambahkan ketanah mempunyai beberapa fungsi diantaranya memperbaiki sifat fisik kimia dan biologi tanah dan menambah unsur hara dalam tanah sehingga tersedia bagi tanaman dan mampu meningkatkan produksi yang optimum. Dimana penambahan kiserit nyata meningkatkan pH tanah pupuk ini memang sering digunakan untuk meningkatkan pH tanah sehingga lazim disebut kapur pertanian dimana bahan dasar pupuk ini adalah Mg SO 4H2O bahan dasar yang digunakan dalam pembuatan pupuk ini adalah MgSO4.(OH)2 yang disebut brucit dan Mg CO3 yang disebut magnesit.

Dimana juga ada dikatakan bahwa penambahan bahan organik dan kapur akan meningkatkan kandungan unsur hara tanah. Hal ini disebabkan oleh adanya pengaruh langsung dari pupuk kandang dan kapur serta pengaruh tidak langsung dari pupuk kandang dan kapur serta pengaruh tidak langsung terjadi karena proses dekomposisi bahan organk yang mengahasilkan asam-asam organik mampu

menon aktifkan anion pengikat fosfat oleh Al dan Fe yang membentuk senyawa logam organik sedangkan pengaruh secara langsung karena bahan organik merupakan sumber P dan S yang tersedia bagi tanaman menurut (Miller dan Donahue, 1990). Namun kandungan pH tanah ini masih masuk kedalam criteria agak masam menurut BPP medan 1982.

Karbon C-organik tanah

Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pemberian dan interaksi antara kiserit dengan kotoran ayam berpengaruh tidak nyata terhadap C-organik tanah ultisol berikut juga dengan interaksinya berpengaruh tidak nyata terhadap kandungan C-organik. Hal ini dapat kita lihat bahwa pada pemberiaan pupuk kiserit terdapat kandungan C-organik tanah tertinggi pada perlakuan dengan taraf K1 (0.1015) dan perlakuan terendah pada taraf K0 (0.095) dan pada kotoran ayam yang tertinggi pada taraf A3 (0.110625) dan terendah pada taraf A1 (0.09125) dari hasil ini maka pemberian ataupun peningkatan bahan organik terhadap tanah meningkatkan kandungan C-organik tanah . dimana hal ini sesuai dengan literatur ( Tjwan, 1965) bahwa bahan organik dapat meningkatkan ketersediaan hara didalam tanah dan merupakan zat perekat yang dapat memperbaiki struktur tanah sehingga dapat mengurangi pemeabilitas tanah pasir. Pada peruraian bahan organik selain di hasilkan humus juga dihasilkan karbondioksida air dan unsur hara . penguraiaan bahan organik menjadi senyawa – senyawa organik disebut mineralisasi, dimana selama proses juga dihasilkan unsur hara yang langsung dapat dipergunakan tanaman kandungan C-organik tanah ini masih termasuk kriteria rendah menurut BPP Medan 1982.

Kadar bahan organik

Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pemberian dan interaksi antara kiserit dan kotoran ayam berpengaruh tidak nyata terhadap kemasaman tanah pH dimana disini dapat kita lihat bahwa pemberian pupuk kiserit terdapat kandungan bahan organik yang tertinggi didalam tanah pada perlauan dengan taraf K1 (0.165833) dan pada perlakuan kotoran ayam perlakuan yang tertinggi pada taraf A3 (0.191875) dan terendah pada taraf A1 (0,15875)

Walaupun secara statistik perlakuan pupuk kiserit dan kotoran ayam tidak berpengaruh nyata , namun secara umum terjadi peningkatan bahan organik didalam tanah . Hal ini sesuai dengan literatur adapun penambahan bahan organik didalam tanah ultisol dimaksudkan untuk memperbaiki sifat fisik , kimia dan biologi tanah secara simultan sutedjo at all (1991) merinci pengaruh bahan organik kedalam tanah sebagai berikut yaitu pengaruh – pengaruh fisik yang terhadap keadan biologi tanah dengan pengaruh – pengaruh ini struktur tanah menjadi lebih baik aerasi menjadi lebih baik mempunyai efek pengikat yang baik atas partikel- partikel tanah kapasitas menahan airnya meningkatkan daya sangga tanah, mencegah meningkatnya kemasaman dan alkalinitas yang terlalu tinggi. Kadar N-total tanah

Dari hasil sidik ragam memperlihatkan bahwa aplikasi pupuk kiserit sesudah panen berpengaruh tidak nyata serta interaksi antara pupuk kiserit dan kotoran ayam tidak berpengaruh nyata terhadap N-Organik tanah ultisol. Hal ini tampak dari hasil sidik ragam bahwa pemberian pupuk kiserit perlakuan yang tertinggi pada perlakuan dengan taraf K3 (0.099167) dan terendah pada taraf K0

(0.08833) sedangkan pada pemberian kotoran ayam perlakuan tertinggi pada taraf A3 (0.95625) dan terendah pada taraf A1 (0.091875)

Namun apabila dilihat secara statistik bahwa pemberian bahan organik dan pupuk kiserit meningkatkan kandungan N-total tanah ultisol. Hal ini sesuai dengan pernyataan Hakim dkk, 1988 yang menyatakan bahwa salah satu peranan penting dari faktor genetis adalah kemampuan suatu tanaman hibrida dalam menyerap unsur hara didalam tanah sesuai hara yang dibutuhkan tanaman tersebut. Disamping pengaruh faktor lingkungan yakni Suhu, ketersediaan air , energi surya , mutu atmosfer Struktur dan komposisi udara tanah, reaksi tanah dan organisme. Namun kandungan N-total tanah ini masih termasuk kriteria sangat rendah menurut BPP medan 1982.

Nisbah C/N tanah

Dari hasil sidik ragam pada lampiran memperlihatkan bahwa aplikasi pemberian dan interaksi pupuk kiserit dan kotoran ayam tidak berpengaruh nyata terhadap C/N ultisol. Dimana didapatkan pada kiserit perlakuan yang tertinggi pada taraf K1 (1,2083) dan terendah pada taraf K3 (0.991667) dan pada kotoran ayam perlakuan tertinggi pada taraf A3 yaitu (1.20625) dan yang terendah pada taraf A1(1.03125) . namun bila dibandingkan dengan analisis awal bahwa C/N tanah lebih tinggi dimana C/ N analisis awal adalah 8.83, maka dapat kita ketahui bahwa bahan organik belum terdekomposisi secara sempurna hal ini sesuai dengan literatur indriani yang menyatakan bahwa nilai C/N merupakan hasil perbandingan antara karbon dan nitrogen . Nilai C/N tanah 10-12 , apabila bahan organik mengandung C/N mendekati atau sama denagan C/N tanah maka bahan tersebut dapat digunakan atau di serap tanaman.

Berat produksi sawi

Dari hasil penelitian memperlihatkan bahwa aplikasi pupuk kiserit berpengaruh tidak nyata terhadap berat produksi sawi, begitu juga pemberian kotoran ayam berpengaruh tidak nyata terhadap berat produksi sawi serta interaksi antara pupuk kiserit dan kotoran ayam juga tidak berpengaruh nyata terhadap berat produksi sawi.

Menunjukan bahwa bahan organik tanah terendah pada perlakuan pupuk kiserit adalah pada taraf K1 (22.83333) yang tertinggi pada perlakuan dengan taraf K3 (31.25) sedangkan pada kotoran ayam yang terendah pada perlakuan dengan taraf A1 (1.03125) dan tertinggi pada perlakuan dengan taraf A3 (1.20625). Interaksi pupuk kiserit dan kotoran ayam tidak berbeda dengan taraf perlakuan yang lainnya dimana interaksi pupuk kiserit dan kotoran ayam memberikan pengaruh tidak nyata terhadap berat produksi sawi.

Nitrogen yang merupakan unsur yang utama untuk tanaman tidak terdapat pada batuan-batuan dan hanya berasal dari bahan organik, jadi erat hubungannya dengan bahan organik tanah. Kadar N dalam tanah berkisar antara 0,05-0,25%. N dalam tanaman berbentuk protein sedang Non-organik pada tanah adalah NH4 pada kompleks atau larutan tanah dan NO3 pada larutan tanah berupa garam atau keadaan bebas. Banyak faktor yang menyebabkan penambahan/pengurangan N pada tanaman. Penambahan N antara lain oleh pupuk, air hujan, bahan organik, fiksasi N sedangkan kehilangaannya oleh absorpsi oleh tanaman, pencucian, penguapan/denitrifikasi (Simatupang, 1970)

Sawi memiliki kandungan gizi yang baik, tanaman sawi juga digemari karena rasanya yang enak. Tingkat keberhasilan dalam budidaya tanaman sawi

dipengaruhi oleh tanah sebagai tempat tumbuh. Usaha yang dapat dilakukan untuk pendapatkan kondisi tanah yang cocok untuk pertumbuhan sawi yaitu penambahan kotoran Ayam dan pengapuran pada tanah yang miskin akan unsur hara sehingga dapat meningkatkan produktivitas tanaman sawi, baik dari segi agronomis maupun ekonomis.

Dokumen terkait