BAB II KEHIDUPAN ETNIS TIONGHOA DI KECAMATAN BERASTAGI
3.2 Adaptasi Etnis Tionghoa di Berastagi Menghadapi Politik Asimilasi Masa
3.2.4 Tradisi Ceng Beng dan Pemujaan Leluhur Etnik Tionghoa
Etnik Tionghoa mempunyai tradisi yang sedikit banyak tertuju pada peringatan leluhur (sebutannya kia hao atau filial piety, alias rasa hormat anak pada orang tua/leluhurnya) yang dikenal dengan ceng beng. Tradisi ini terus dlaksanakan bahkan pada masa Orde Baru yang sangat melarang segala yang berbau Tionghoa.
Politik asimilasi pemerintah bertujuan untuk mengurangi atau menghapus segala budaya Tionghoa termasuk ceng beng. Akan tetapi dari sekian banyak hal yang berbau Tionghoa, ceng beng sepertinya menjadi salah yang sulit untuk dihilangkan.
Begitu juga dengan etnik Tionghoa yang di Kecamatan Berastagi, mereka masih menjalankan tradisi ceng beng tersebut. Pada hari ceng beng ini, yang jatuh pada tanggal 5 April untuk setiap tahunnya, mereka datang ke makam atau kuburan orang tua untuk membersihkannya dan sekalian bersembahyang di makam sambil membawa buah-buahan, kue-kue, makanan, dan karangan bunga. Selain itu hari ceng beng juga dirayakan dengan caramembakar uang-uangan, sembayang dan
membersihkan kuburan, lembaran kertas ditaruh di atas kuburan. Pesan Moral Perayaan ceng beng terkait dengan pilar-pilar budaya Tionghoa yaitu penghormatan leluhur, makanan, kekerabatan, keselarasan dan harmoni, setia, berbakti, dan juga kebersamaan. Dan hal itu tidak hanya ada pada ceng beng saja tapi tercermin pada semua ajaran Tionghoa yang ada.
Dengan menghormati leluhur berarti kita harus menjaga sikap hidup kita agar tidak mencoreng nama leluhur. Melalui ceng beng ini kita menyadari bagaimana cara kita menghormati leluhur, caranya sederhana yaitu berikanlah kontribusi positif pada lingkungan kita dan selalulah menjaga perilaku kita agar tidak memalukan para leluhur. Sistem kekerabatan Etnis Tionghoa memberikan pengaruh besar pada bertahannya tradisi pemujaan leluhur ini. Mereka memiliki tradisi yang harus dilaksanakan secara turun-menerun yaitu anak laki – laki tertualah yang merupakan ahli waris dan yang akan meneruskan pemujaan terhadap leluhurnya. Dimana pun dia berada maka ia harus tetap melaksanakan tanggung jawab itu. Oleh sebab itu di rumah-rumah Etnis Tionghoa sering ditemukan rumah abu atau meja sembah yang leluhur.
Pemujaan terhadap leluhur juga akan dilakukan saat terdapat perayaan atau kesusahan dalam keluarga. Perayaan keluarga adalah hal membahagiakan yang terjadi dalam keluarga, misalnya adanya kelahiran dalam keluarga atau adanya pernikahan.Kesusahan dalam keluarga misalnya menyangkut adanya kematian, penyakit dan musibah tak terduga dalam keluarga. Barang-barang yang dibutuhkan pada saat pemujaan leluhur, antara lain :
1. Papan Arwah
Biasanya papan arwah diletakkan di ruang tengah. Bentuk papan arwah bermacam-macam, yang paling umum adalah papan kecil berbentuk persegi panjang yang terbuat dari kayu. Orang-orang biasanya akan meletakkan papan arwah di atas meja pendupaan biasa atau digantung di dinding. Tetapi saat ini sebagian besar menggunakan kertas merah untuk menggantikan papan kayu. Terhadap leluhur dalam keluarga yang telah meninggal, fotonya akan digantungkan di atas papan arwah atau langsung menggantungkannya di dinding
2. Dupa dan Lilin
Memulai pemujaan leluhur dengan menyalakan dua buah lilin merah, menandakan kemakmuran keturunan. Setelah menyalakan lilin, akan membakar dupa (hio). Secara umum, membakar dua dupa untuk memuja leluhur, sedangkan untuk memuja dewa membakar tiga dupa. Namun ada juga orang yang membakar tiga dupa, karena menganggap leluhur sama seperti dewa. telah meninggal di dunia akhirat. Hal ini menandakan bahwa mereka masih percaya kehidupan di dunia akhirat menyerupai kehidupan yang mereka jalani saat ini. Di sini
membutuhkan uang, disana pun juga pasti membutuhkan. Oleh karena itu mereka berharap dengan membakar uang kertas, leluhur dapat memiliki kehidupan yang baik.
4. Makanan dan Minuman
Pemujaan leluhur tidak dapat dilakukan tanpa makanan.Menu makanan sembahyang leluhur yang paling sering dihidangkan adalah sansheng/samsiang, yakni suatu menu yang terdiri dari ayam, ikan dan daging babi. Pada saat hari raya disediakan pula makanan khas seperti bakcang, kue bulan dan kue keranjang. Dalam menu makanan pemujaan juga disediakan nasi putih yang disediakan berdasarkan jumlah leluhur yang dipuja, sehingga leluhur masing-masing akan mendapatkan semangkuk nasi. Selain makanan pokok, pemujaan juga menggunakan buah-buahan dan sayursayuran segar.35
Makanan dan minuman yang disediakan untuk pemujaan leluhur, umumnya tidak hanya berdasarkan kebiasaan yang dulu, tapi juga disesuaikan dengan makanan dan minuman yang disukai oleh leluhur. Pemerintah Orde Baru melarang adat dan istiadat etnis Tionghoa dilaksanakan didepan umum, mereka boleh melakukan aktivitas adat hanya sebatas dilingkungan keluarga saja. Sebagai contoh upacara pemakaman dan pernikahan Etnis Tionghoa.
Semenjak adanya larangan dari pemerintah hal tersebut tidak dijumpai lagi, adat dan budaya menjadi hanya untuk kalangan sendiri. Tidak boleh ditunjukkan didepan umum dan peraturan ini berlaku secara resmi di seluruh Indonesia. Namun jika yang meninggal ialah seorang etnis setempat yang memiliki suami atau istri
______________
35 Wawancara, Sumiati berusia 46 tahun, pengurus vihara di Sempajaya, 31 Juli 2020
Tionghoa atau dengan kata lain Etnis Tionghoa peranakan maka proses penguburannya bisa menggunakan adat dan kepercayaan etnis setempat. Adaptasi dan pembauran yang terjadi akhirnya memberikan unsur baru kepada kuburan Etnis Tionghoa di Kecamatan Berastagi.
Ada yang berbeda antara kuburan Etnis Tionghoa yang telah menganut agama Kristen, memakai marga Karo dan melakukan pernikahan campuran dengan kuburan Etnis Tionghoa yang belum “tercampur” dengan etnis lain. Beberapa kuburan yang merupakan hasil asimilasi tersebut memiliki beberapa perbedaan yang mendasar seperti bentuk dan ukuran kuburan yang lebih kecil, tulisan-tulisan yang terdapat di dinding sudah memakai bahasa Indonesia dan Toba serta beberapa kuburan yang sudah tidak memakai meja sesajen lagi.