BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Perkawinan Adat
1. Tradisi Perkawinan Bangsawan
1. Tradisi perkawinan kalangan bangsawan 2. Keadilan gender dalam tradisi perkawinan bangsawan 3. Ketidakadilan gender dalam tradisi perkawinan bangsawan 2 Ahmad Masturi
Yasin, Islam, Tradisi
dan Modernitas dalam Perkawinan Masyarakat Sasak Wetu Telu (Studi Komunitas Wetu Telu di Bayan) Tesis UNY, 2010. Lebih terfokus pada Interaksi Islam, tradisi dan modernitas Sama-sama mengkaji tradisi 3 Rahayu Lina, Perkawinan Merarik Menurut Hukum Adat
Suku Sasak Masyarakat Lombok NTB, tesis UNY, 2006. lebih fokus pada faktor penyebab terjadinya merarik (kawin lari) Sama-sama meneliti tradisi perkawinan F. Definisi Istilah
Untuk menghindari multitafsir dalam penelitian yang berjudul, “Tradisi Perkawinan Bangsawan Perspektif Gender maka, istilah yang digunakan dalam penelitaian ini adalah:
1. Tradisi Perkawinam (Merarik) adalah serangkaian acara pernikahan yang
ada di masyarakat suku Sasak Lombok yang sudah disepakati secara bersama yang berlaku secara menyeluruh.
2. Bangsawan adalah kelas sosial dalam masyarakat dari keturunan
orang-orang mulia, terutama keturunan raja.
3. Keadilan Gender adalah suatu keadaan dan perlakuan yang menggambarkan adanya persamaan hak dan kewajiban perempuan dan laki-laki sebagai individu.
4. Ketidakadilan Gender adalah suatu keadaan dan perlakuan yang tidak sama
dengan kata lain adanya diskriminasi terhadap akses dan kontrol antara perempuan dan laki-laki dalam hal perilaku, peran, tugas, hak dan fungsi yang harus dijalankan.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Perkawinan Adat 1. Konsep Perkawinan
Dalam bahasa Indonesia, artinya membentuk keluarga dengan lawan jenis. Melakukan hubungan kelamin atau setubuh. Perkawinan juga disebut “pernikahan”, yang berarti penggabungan dan percampuran. Sedangkan menurut istilah syar’i, nikah berarti akad antara laki-laki dan wali perempuan. Hali ini karena hubungan badan menjadi halal.20 Adapun nikah (kawin) menurut arti asli ialah hubungan seksual tetapi menurut arti majazi atau arti hukum ialah akad (perjanjian) yang menjadikan halal hubungan seksual segabai suami istri antara seorang pria dengan seorang wanita.21
Perkawinan menurut hukum agama adalah perbuatan yang suci yaitu suatu ikatan antara dua pihak dalam memenuhi perintah dan anjuran Tuhan Yang Maha Esa, agar kehidupan keluarga dan berumah tangga, serta berkerabat berjalan dengan baik sesuai dengan agama masing-masing. Jadi perkawinan ini bisa dikatakan perikatan jasmani dan rohani yang membawa akibat hukum terhadap agama yang dianut calon mempelai dan keluarga kerabatnya.22
20
Syaikh Hassan Ayyub, Fikih Keluarga (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2001), hlm. 3
21M. Idrus Ramuliyo, Hukum perkawinan Islam (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2004), hlm. 1
22Hilman Hadikusuma, Hukum Perkawinan di Indonesia Menurut Agama (Bandung: CV Mandar Maju, 1990), hlm. 10
Dalam Kamus Antropologi Perkawinan adalah suatu hubungan antara pria dan wanita yang sudah dewasa yang saling mengadakan ikatan hukum adat, atau agama dengan maksud bahwa mereka saling memelihara hubungan tersebut agar berlangsung dalam waktu relatif lama.23
Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Ikatan lahir adalah hubungan formal yang dapat dilihat karena dibentuk menurut undang-undang, yang mengikat kedua pihak dan pihak lain dalam masyarakat. Sedangkan ikatan batin adalah hubungan tidak formal yang dibentuk dengan kemauan bersama yang sungguh-sungguh mengikat kedua pihak. Ikatan perkawinan merupakan ikatan suci yang berdasarkan nilai-nilai ketuhanan untuk membentuk keluarga sakînah, mawaddah, dan
rahmah.
Ikatan perkawinan bukan saja ikatan perdata, tetapi ikatan lahir batin antara seorang suami dengan seorang isteri. Perkawinan tidak lagi hanya sebagai hubungan jasmani, tetapi juga merupakan hubungan batin. Pergeseran ini mengesankan perkawinan selama ini hanya sebatas ikatan jasmani ternyata juga mengandung aspek yang lebih subtantif dan berdimensi jangka panjang. Ikatan yang didasarkan pada hubungan jasmani itu berdampak pada masa yang pendek, sedangkan ikatan lahir batin itu lebih jauh. Dimensi masa dalam ini dieksplisitkan dengan tujuan
sebuah perkawinan yakni untuk membangun sebuah keluarga bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.24 Hukum perkawinan merupakan bagian integral dari syarî’ah, yang tidak terpisahkan dari dimensi akidah dan akhlak Islami.
Atas dasar inilah, hukum perkawinan ingin mewujudkan perkawinan di kalangan orang Muslim menjadi perkawinan yang bertauhid dan berakhlak, sebab perkawinan semacam inilah yang bisa diharapkan memiliki nilai transedental dan sakral untuk mencapai tujuan perkawinan yang sejalan dengan tujuan syarî’ah.25 Ketentuan-ketentuan mengenai perkawinan menurut syarî’ah mengikat kepada setiap Muslim, dan setiap Muslim perlu menyadari bahwa didalam perkawinan terkandung nilai-nilai ‘ubudiyah. Karena itu, ikatan perkawinan diistilahkan dalam Al-Qur`an dengan “mitsâqan ghalîzhan”, suatu ikatan yang mengandung nilai ‘ubudiyah, maka memerhatikan keabsahannya menjadi hal yang menjadi sangat prinsipil.26
Oleh karena itu, perkawinan merupakan tuntutan naluriah manusia untuk berketurunan guna kelangsungan hidupnya dan untuk memperoleh ketenangan hidup serta menumbuhkan dan memupuk kasih sayanginsani. Islam juga menganjurkan agar menempuh hidup perkawinan.27
24 Amir Nuruddin dan Azhari Akmal Tarigan, Hukum Perdata Islam di Indonesia
(Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2006), hlm. 46
25 M. Anshary MK, Hukum Perkawinan di Indonesia (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), hlm. 10
26 Muhammad Harfin Zuhdi, Tradisi Merari’: Akulturasi Islam dan Budaya Lokal, http://lombokbaratkab.go.id/tradisi-merariakulturasi-islam-dan- budaya-lokal.html/, diakses pada 29 April 2012.
27Ahmad Azhar Basyir, Hukum Perkawinan Islam (Yogyakarta: UII Press, 1999), hlm. 12.
Sedangkan istilah perkawinan dalam adat Sasak, perkawinan sering disebut dengan merarik. Secara etimologis kata merarik diambil dari kata “lari”, berlari. Merarik’an berarti melai’ang artinya melarikan. Kawin lari, adalah sistem adat penikahan yang masih diterapkan di Lombok. Kawin lari dalam bahasa Sasak disebut merarik.28
Istilah kawin berasal dari bahasa Sasak “berari” yang artinya berlari dan mengandung dua arti. Pertama, “lari: Inilah arti yang sebenarnya. Kedua, keseluruhan dari pelaksanaan perkawinan menurut adat Sasak. Oleh karena itu, “merarik” atau “berari” dalam bahasa Indonesia disebut dengan istilah kawin lari.29 Lari berarti cara (teknik). Sehubungan dengan ini bahwa tindakan berupa melarikan diri atau membebaskan adalah tindakan yang nyata untuk membebaskan si gadis dari ikatan orangtua serta keluarganya.30
Menurut M. Yamin, kata merarik berasal dari kata “Arik” yang berarti adik perempuan. Dalam sebuah rumah tangga, seorang suami biasanya menyebut istrinya dengan sebutan “arik”.31 Karena itu, secara bahasa berarti menikahi seorang gadis untuk dijadikan seorang istri dan kemudian dipanggil “arik” oleh suaminya dalam keseharian rumah tangga mereka.
28Abdullah Nasikh Ulwan, Perkawinan: Masalah Orang Muda, Orang Tua dan Negara, (Jakarta: Gema Insani Press, Cet. 6 thn. 2000), hlm. 11-12.
29 Butomi Saladin, Tradisi Merari’ Suku Sasak Di Lombok Dalam Perspektif Hukum
Islam. Jurnal al-Ihkâm, V o l .8 No .1 J u n i 2 0 13, hlm. 24
30M. Nur Yasin, Hukum Perkawinan Islam Sasak, (Malang: UIN Press, 2008), hlm.151
31 M. Yamin, “Merarik Nyaris Kehilangan Makna” www.kompas.com diakses tgl 24 oktober 2015
Pada perkembangannya, terjadi perluasan makna dari kata merarik. Pada awalnya merarik hanya merupakan istilah untuk sebuah tindakan membawa lari seorang gadis dengan maksud untuk dinikahi. Namun, selanjutnya istilah merarik digunakan secara luas untuk menyebutkan seluruh rangkaian pernikahan dalam masyarakat adat Sasak. Misalnya untuk menanyakan apakah seseorang telah menikah, masyarakat Sasak saat ini biasanya bertanya, “Wah mu merarik?”, atau “sudahkah kamu menikah?”. Jadi arti merarik saat ini tidak lagi merujuk hanya kepada tindakan membawa lari seorang gadis.32
Selanjutnya, menurut John Ryan Bartholomew mengungkapkan, bahwa dalam kehidupan masyarakat Sasak Lombok secara umum merarik diartikan sebagai kawin lari. Pada pelaksanaannya, ada dua cara yang bisa dilakukan dalam merarik, yaitu:33
a. Pasangan memutuskan untuk bertemu disebuah tempat dan melakukan pelaian diri
b. Melalui perantara (biasanya keluarga laki-laki) atas nama laki-laki yang akan melakukan pelarian diri dan merancang untuk bertemu di sebuah tempat.
2. Sejarah Praktik Perkawinan (Merarik)
Ada dua pandangan yang terkait dengan sejarah perkawinan (merarik), dan “merarik” juga sering disebut dengan kawin lari, yaitu:
32
Ahmad Fathan Aniq, Konflik Peran Gender pada Tradisi Merarik, Jurnal AISIS XII, 2012, hlm.2325
33John Ryan Bartholomew, Alif Lam Mim: Kearifan Lokal Masyarakat Sasak, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2001), hlm. 196
a. Orisinalitas merarik. Kawin lari (merarik) dianggap sebagai budaya produk lokal dan merupakan ritual asli (genuine) dan leluhur masyarakat Sasak yang sudah dipraktikkan oleh masyarakat-sebelum datangnya kolonial Bali maupun kolonial Belanda. Pendapat ini didukung oleh sebagian masyarakat Sasak yang dipelopori oleh tokoh tokoh adat, di antaranya adalah H.Lalu Azhar, mantan wagub NTB dan kini ketua Masyarakat Adat Sasak (MAS); dan peneliti Belanda, Nieuwenhuyzen mendukung pandangan ini. Menurut Nieuwenhuyzen, sebagaimana dikutip Tim Depdikbud, banyak adat Sasak yang memiliki persamaan dengan adat suku Bali, tetapi kebiasaan atau adat, khususnya perkawinan Sasak, adalah adat Sasak yang sebenarnya.34 b. Sikretisme merarik. Kawin lari (merarik) dianggap budaya produk
impor dan bukan asli (ungenuine) dari leluhur masyarakat Sasak serta tidak dipraktikkan masyarakat sebelum datangnya kolonial Bali. Pendapat ini didukung oleh sebagian masyarakat Sasak dan dipelopori oleh tokoh-tokoh agama. Pada tahun 1955 di Bengkel Lombok Barat,Tuan Guru Haji Saleh Hambali menghapus kawin lari (merarik) karena dianggap manifestasi Hinduisme Bali dan tidak sesuai dengan Islam. Hal yang sama dapat dijumpai di desa yang menjadi basis kegiatan Islam di Lombok, seperti Pancor, Kelayu, dan lain-lain.35
Menurut John Ryan Bartholomew, praktik kawin lari dipinjam dari budaya Bali. Analisis antropologis historis yang dilakukan
34Tim departemen Pendidikan dan Kebudayaan, adat dan upacara perkawinan daerah
NTB, (Jakarta:Depdikbud, 1995), hlm. 33.
Clifford Geertz dalam bukunya Internal Convention in Bali (1973), Hildred Geertz dalam, tulisannya An Anthropology of Religion and
Magic (1975), dan James Boon dalam bukunya, The Anthropological Romance of Bali (1977), seperti dikutip Bartolomew, memperkuat
pandangan bahwa tradisi kawin lari merupakan akulturasi budaya Bali dan Lombok dalam hal merarik.36 Solihin Salam dalam buku Lombok
Pulau Perawan, yang dikutip oleh M. Nuryasin, Solihin menegaskan
bahwa, praktik kawin lari di Lombok merupakan pengaruh dari tradisi kasta dalam budaya Hindu Bali.37
Berdasarkan argumen-argumen di atas dan bukti bahwa terdapat banyak persamaan antara Suku Sasak dengan Bali, baik dalam bahasa maupun dalam tradisi kawin lari (merarik). Tampak bahwa paham akulturasi merarik memiliki tingkat akurasi lebih valid.
B. Keadilan dan Ketidakadilan Gender dalam Tradisi Perkawinan Bangsawan
Kata “gender” telah digunakan di Amerika tahu 1960-an sebagai bentuk perjuangan secara radikal, konservatif, sekuler maupun agama untuk menyuarakan eksistensi perempuan yang kemudian melahirkan kesadaran gender.38 Kesetaraan perempuan dan laki-laki menjadi pembicaraan hangat dalam 20 tahun terakhir. Melalui perjalanan panjang untuk meyakinkan dunia
36
John Ryan Bartholomew, Alif Lam Mim: Kearifan Lokal Masyarakat Sasak, hlm. 95
37 M. Nur Yasin, Hukum Perkawinan Islam Sasak., hlm. 157
38M. Faisol, Hermeneutika Gender: Perempuan dalam Tafsir Bahr al-Muhith, (Malang: UIN-MALIKI PRESS, 2012), hlm. 8
bahwa perempuan telah mengalami deskriminasi hanya karena perbedaan jenis kelamin dan perbedaan secara sosial (gender).39
Pembatasan peran perempuan dalam masyarakat patriarkhi tidak bisa dilepaskan dari pemahaman yang keliru mengenai konsep gender yang diwarisi secara turun temurun dalam masyarakat. Masyarakat memahami bahwa gender memiliki pengertian yang sama dengan sex (jenis kelamin). Kesalahpahaman ini mampu bertahan sekian lama dikarenakan pemahaman ini dibentuk, disosialisaikan, diperkuat, bahkan dikonstruksi secara sosial atau kultural, melalui ajaran atau doktrin keagamaan maupun negara yang pada akhirnya membawa pemikiran bahwa hal tersebut merupakan ketentuan Tuhan. Maka dari itu, untuk memahami konsep gender harus dibedakan kata gender dengan kata sex (jenis kelamin).
Pengertian jenis kelamin merupakan pensifatan atau pembagian dua jenis kelamin manusia yang ditentukan secara biologis yang melekat secara permanen tidak berubah dan merupakan ketentuan biologis atau sering dikatakan sebagai ketentuan Tuhan (kodrat).40 Kategori Gender berbeda dengan jenis kelamin. Konsep jenis kelamin mengacu pada perbedaan biologis antara perempuan dan laki-laki. Kategori gender mengacu pada faktor psikologis, sosial, dan kultural.41
Kata gender jika ditinjau secara terminologis merupakan kata serapan yang diambil dari bahasa Inggris. Kata Gender berasal dari bahasa Inggris
39Elly M. Setiadi & Usman Kolip, Pengantar Sosiologi, Pemahaman Fakta dan Gejala
Permasalahan Sosial: Teori, Aplikasi, dan Pemecahannya, hlm. 872
40Mansur Fakih, Analisis Gender dan Transformasi Sosial, hal. 7
41Eko A. Maenarno dkk, Manusia dalam Kebudayaan Masyarakat: Pandangan Sosiologi
berarti “jenis kelamin”42. Dalam Webster’s New World Dictionary, gender diartikan sebagai perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan dilihat dari segi nilai dan tingkah laku.43 Di dalam Women’s Studies
Encyclopedia dijelaskan bahwa gender adalah suatu konsep kultural yang
berupaya membuat pembedaan (distinction) dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat.44
Kata gender ini jika dilihat posisinya dari segi struktur bahasa (gramatikal) adalah bentuk nomina (noun) yang menunjuk kepada arti jenis kelamin, sex,45atau disebut dengan al-jins dalam bahasa Arab.46Sehingga jika seseorang menyebut atau bertanya tentang gender maka yang dimaksud adalah jenis kelamin––dengan menggunakan pendekatan bahasa. Kata ini masih terbilang kosa kata baru yang masuk ke dalam khazanah perbendaharaan kata bahasa Indonesia. Istilah ini menjadi sangat lazim digunakan dalam beberapa dekade terakhir.
Pengertian gender secara terminologis cukup banyak dikemukakan oleh para feminis dan pemerhati perempuan. Julia Cleves Musse dalam bukunya Half the World, Half a Chance mendefinisikan gender sebagai sebuah peringkat peran yang bisa diibaratkan dengan kostum dan topeng pada
42John M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggeris Indonesia, cet. XII, (1983), hlm. 265.
43
Victoria Neufeldt (ed), Webster’s New World Dictionary, 1984, hlm. 561.
44 Helen Tierney (ed), Women’s Studies Encylopedia, vol. I, (New York: Green Wood Press), hlm.153.
45 Peter Salim, Advance English-Indonesia Dictionary, edisi ketiga, (Jakarta: Modern English Press, 1991), hlm. 384.
46Wehr, A Dictionary of Modern Written Arabic, cet. III, (London: McDonald & Evans
Ltd., 1980), hlm. 141. Lihat pula Munir Ba’albakiy, Al-Maurid: Qāmūs Injilizīy Arabīy, (Beirūt: Dār al- ‘Ilm li al-Malāyīn, 1985), hlm. 383.
sebuah acara pertunjukan agar orang lain bisa mengidentifikasi bahwa kita adalah feminim atau maskulin.47
Dalam encyclopaedia of social theory yang dikutip oleh Meutia Nauly48, secara umum menunjukkan perbedaan antara laki-laki dan
perempuan secara biologis dan secara konstruk sosial. Ketika sex (jenis kelamin) dianggap mewakili perbedaan secara biologis, gender digunakan untuk menunjukkan perbedaan tingkah laku feminin dan maskulin. Sedangkan dalam Buku Analisis Gender dan Transformasi Sosial yang ditulis oleh Mansur Fakih49, gender adalah perbedaan perilaku (behavioral difference)
antara laki-laki dan perempuan yang dikonstruksi secara sosial, yakni perbedaan yang bukan kodrat Tuhan melainkan diciptakan oleh manusia (laki-laki dan perempuan) melalui proses sosial dan kultural yang panjang. Oleh karena itu gender berubah dari waktu ke waktu, dari tempat ke tempat bahkan dari kelas ke kelas, sedangkan jenis kelamin biologis (sex) akan tetap tidak berubah.
Menurut Wilson, dengan mengutip buku M. Faisal bahwa gender bukan hanya sekedar perbedaan antara laki-laki dan perempuan dilihat dari konstruk sosial budaya, tetapi lebih ditekankan pada konsep analisis dalam memahami dan menjelaskan sesuatu. Karena itu, kata “gender” banyak
47 Julia Cleves Mosse, Half the World, Half a Chance: an Introduction to Gender and
Development, terj. Hartian Silawati dengan judul Gender dan Pembangunan, cet. I (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 1996), hlm. 3.
48
Meutia Nauly, Konflik Peran Gender pada Pria; Teori dan Pendekatan Empirik, (Medan: USU Digital Library, 2002), hlm. 4.
49Mansur Fakih, Analisis Gender dan Transformasi Sosial, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013), hlm. 72
diasosiasikan dengan kata yang lain, seperti ketidakadilan, kesetaraan dan sebagainya, keduanya sulit diberi pengertian secara terpisah.50
Istilah gender diartikan sebagai interpretasi mental dan cultural terhadap perbedaan kelamin, yakni laki-laki dan perempuan.51 Gender adalah
perbedaan sosial antara laki-laki dan perempuan yang di titik beratkan pada prilaku, fungsi dan peranan masing-masing diberlakukan oleh kebiasaan masyarakat dimana ia berada atau konsep yang digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dilihat dari segi sosial budaya. Jadi, gender adalah sebuah konstruk sosial (Social contruction). Singkat kata, gender adalah interpretasi budaya terhadap perbedaan jenis kelamin.52
Selanjutnya, menurut Nasaruddin Umar, bahwa gender adalah konsep kultural yang digunakan untuk memberi identifikasi perbedaan dalam hal peran, prilaku dan lain-lain antara laki-laki dan perempuan yang berkembang di dalam masyarakat yang didasarkan pada rekayasa sosial.53 Singkatnya
beliau menyimpulkan bahwa, “gender” adalah suatu konsep yang digunakan untuk mengidentifikasikan perbedaan laki-laki dan perempuan dilihat dari segi sosial-budaya. Lebih jelasnya, gender mendefinisikan laki-laki dan perempuan
50 M. Faisol, Hermeneutika Gender: Perempuan dalam Tafsir Bahr al-Muhith, (Malang: UIN-MALIKI PRESS),hlm. 9.
51M. Faisol, Hermeneutika Gender: Perempuan dalam Tafsir Bahr al-Muhith, hlm. 8.
52
Waryono Abdil Ghafur, TAFSIR SOSIAL: Mendialogkan Teks dengan Konteks, (Yogyakarta, eLSAQ Press, 2005), hlm.103.
53Nasaruddin Umar, “Perspektif Gender dalam Islam”, jurnal Paramadina, Vol. I. No. 1, Juli–Desember 1998, hlm. 99.
dari sudut non-biologis.54 Dengan demikian, dapat dipahami bahwa gender
adalah sebuah konsep yang dijadikan parameter dalam pengidentifikasian peran laki-laki dan perempuan yang didasarkan pada pengaruh sosial budaya masyarakat (social contruction) dengan tidak melihat jenis biologis secara
equality dan tidak menjadikannya sebagai alat pendiskriminasian salah satu
pihak karena pertimbangan yang sifatnya biologis.
Berdasarkan berbagai definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa gender adalah suatu konsep yang mengkaji tentang perbedaan antara laki-laki dan perempuan sebagai hasil dari pembentukan kepribadian yang berasal dari masyarakat (kondisi sosial, adat-istiadat dan kebudayaan yang berlaku). Misalnya, dalam suatu masyarakat terkenal suatu prinsip bahwa seorang laki-laki harus kuat, mampu menjadi pemimpin, rasional, dan segala sifat lainnya. Sementara itu, seorang perempuan dikenal sebagai sosok yang lemah lembut, penuh keibuan, peka terhadap keadaan, dll. Dan pembentukan sifat-sifat tersebut dapat terjadi dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat yang lain.
Jadi, istilah perbedaan gender sangat tergantung pada kondisi lingkungan masyarakatnya. Dengan kata lain, perbedaan gender dibentuk oleh masyarakat setempat. Berbeda dengan seks, yang mengkaji perbedaan antara laki-laki dan perempuan dari segi fisik tubuh (biologis). Gender adalah perbedaan peran, fungsi, dan tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan yang merupakan hasil konstruksi social dan dapat berubah sesuai dengan
54 Nasarudin Umar, Argumen Kesetaraan Gender; Perspektif al-Quran, (Jakarta: Paramidana, 2001), hal.35.
perkembangan jaman. Gender adalah karakteristik laki-laki dan perempuan berdasarkan dimensi social kultural yang tampak dari nilai dan tingkah laku.
1. Tradisi Perkawinan bangsawan
Upacara pernikahan merupakan satu siklus hidup yang kaya akan makna dan biasa dirayakan oleh hampir seluruh umat manusia, tak terkecuali juga di wilayah-wilayah Nusantara. Begitu pula dengan proses-berlangsungnya upacara akad nikah. Adakalanya, untuk beberapa kebudayaan, terutama di wilayah Nusantara, proses menuju terlaksananya sebuah perkawinan tidaklah sedatar yang dibayangkan, melainkan harus melewati beberapa tahapan yang begitu rumit namun syarat akan makna filosofis berdasarkan kearifan lokal dari daerah masing-masing.55
Adapun dalam pelaksanaan perkawinan adat, setelah pelaksanaan
merarik maka semua rangkaian proses itu harus dilaksanakan karena di
dalamnya mengandung nilai-nilai yang nantinya akan berpengaruh pada status pengantin terutama pada perempuan bangsawan:56
a. Mesejati
Mengandung arti bahwa dari pihak laki-laki mengutus beberapa orang tokoh masyarakata setempat atau tokoh adat untuk melaporkan kepada kepala desa atau kepala dusun untuk mempermaklumkan mengenai perkawinan tersebut tentang jati diri
55 Muhammad Harfin Zuhdi, Tradisi Merarik; Akulturasi Islam dan Budaya Lokal,
http://lombokbaratkab.go.id/tradisi-merari: akulturasi-islam-dan-budaya-lokal. , diakses pada 31 maret 2015. Jam 12.30 PM.
56Sudirman, Gumi Sasak Dalam Sejarah, (Mataram: Yayasan Budaya Sasak Lestari, 2007), hlm. 82-83
calon pengantin laki-laki dan selanjutnya melapor kepada pihak keluarga perempuan.
Menurut M, Nursyasin, Mesejati dalam bahasa Sasak halus berarti pemberitahuan kebenaran tentang sesuatu. Mesejati berasal dari kata sejati yang dalam bahasa Sasak berarti kebenaran. Dalam perkawinan berarti permberitahuan dari pihak keluarga laki-laki kepada keluarga perempuan bahwa anak perempuan yang bersangkutan benar-benar telah dicuri oleh laki-laki, dengan harapan keluarga perempuan tidak bingung mencari anaknya.57
b. Selabar
Selabar mengandung arti mempermaklumkan kepada pihak keluarga perempuan yang ditinjaklanjuti oleh pembicaraan adat istiadat meliputi Aji Krame.58
c. Ngendeng wali atau menjemput wali
Ngendeng wali adalah permohonan kepada orang tua atau wali
calon pengantin perempuan supaya bersedia menjadi wali dalam pernikahan anaknya. Adat ini biasanya dilakukan beberapa jam sebelum pelaksanaan akad nikah.59
d. Mengambil janji
Dalam pelaksanaan pengambilan janji ini adalah membicarakan seputar sorong serah dan aji krame sesuai dengan adat
57
M. Nur Yasin, Hukum Perkawinan Islam Sasak., hlm. 226
58Sudirman, Gumi Sasak Dalam Sejarah, hlm. 82
59John Ryan Bartholomew, Alif Lam Mim: Kearifan Lokal Masyarakat Sasak.,hlm. 192; Sudirman, Gumi Sasak Dalam Sejarah, hlm. 82.
istiadat yang berlaku didalam Desa atau kampung asal calon mempelai perempuan.60
e. Ngawinan (akad nikah)
Ngawinan dalam bahasa Sasak artinya proses pelaksanaa akad