31
BAB IV
TRANSFORMASI HUKUM WARIS
32 sedarah, keturunan dan keluarga dekat malah tidak digolongkan menjadi ahli waris yang berhak mendapat harta peninggalan.17
Perkembangan selanjutnya, pada saat Nubuwah yaitu ketika Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wasallam diangkat menjadi Rasul, hukum waris ini mengalami transformasi dari yang sebelumnya. Menemui titik temu keadilan di dalamnya. Dari yang sebelumnya tidak mendapat bagian, pada akhirnya mendapat bagian setelah ada aturan langsung dari al-Qur’an dan Hadis.
Peristiwa tersebut tidak berhenti di sana, hukum waris terus mengalami trnsformasi sesuai dengan kondisi atau perekembangan Islam pada masa itu. Hukum waris setelah Islam menjadi agama mayoritas di Makkah dan di Madinah, terjadi perubahan lagi. Pada waktu kaum muslimin masih lemah, ummat Islam masih minoritas saat itu, cara yang paling tepat adalah dengan mempersatukan umat Islam yang berasal dari Makkah dan Madinah. Berangkat dari hal tersebut, menjadi sebab mendapat harta warisan yaitu perjanjian persaudaraan yang dikenal dengan istilah “muakhkhah”.18
Hukum waris ini terjadi lagi transformasi ketika ummat Islam sudah menjadi agama mayoritas, yaitu setelah Islam menjadi kuat, keimanan mereka sudah terpupuk rasa saling cinta mencintai, apalagi kecintaan mereka kepada Rasulullah shallahu
‘alaihi wasallam sudah sangat besar, mesra, dan Islam semakin jaya, mengalami kemajun, dengan bertambhanya pengikut-pengikut yang masuk Islam bertambah banyak, penaklukan kota Makkah
17Amir Syarifuddin, Hukum Kewarisan Islam (Jakarta: Kencana, 2004), Cet. Ke-1, hlm. 34.
18 Effendi Perangin, Hukum Waris (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007), hlm. 45.
33 mencapai puncak keberhasilan yang dilakukan secara damai tanpa peperangan yang dahsyat. Maka, kewajiban hijrah yang semula sebagai media untuk menyusun kekuatan antara penduduk Makkah dan Madinah tidak diberlakukan lagi. Sebagaimana dijelaskan dalam Hadis:
كنَع ٍدِهاَجُم كنَع ٍرو ُصكنَم كنَع ُناَبكي َش اَنَثهدَح ٍس َيَ ا ِبَِٱ ُنكب ُمَد ٱ اَنَثهدَح ِ ِهكيَلَع ُ هللَّا هلٰ َص ه ِبِهنلا َلاَق َلاَق اَمُ كنََع ُ هللَّا َ ِضِ َر ٍساهبَع ِنكبا كنَع ٍسُوا َط َو ٌداَ ِجه كنِكَلَو َةَرك ِهِ َلَ َةهكَم ِحكتَف َمكوَي َهلْ َسَو او ُرِفكناَف ك ُتُ كرِفكنُت كسا اَذ
ِ اَو ٌةهيِن
“Tidak ada kewajiban berhijrah lagi setelah penaklukan kota Mekkah” (Muttafaq ‘alaih)
Sebelum turun ayat al-Quran yang mengatur tentang waris, di awal perkembangan Islam masih berlaku landasan pengangkatan anak dan sumpah setia untuk dapat mewarisi. ‘’Lalu berlaku alasan ikut hijrah serta alasan dipersaudarakannya sahabat Muhajirin dan Ansar,’’ adapun yang dimaksud dengan alasan ikut hijrah, papar Dja’far, adalah jika seorang sahabat Muhajirin wafat, maka yang mewarisinya adalah keluarga yang ikut hijrah.
Sedangkan, kerabat yang tak ikut hijrah tidak bisa mewarisi. Jika tidak ada satupun kerabatnya yang ikut hijrah, maka sahabat Ansar-lah yang akan mewarisinya. ‘’Inilah makna yang terkandung dari penjelasan Nabi Shallahu ‘alaihi wasallam yang mempersaudarakan sahabat Anshar dan Muhajirin,’’ ujar Dja’far.
Di awal perkembangan Islam, Rasulullah SAW juga mulai memberlakukan hak waris-mewarisi antara pasangan suami-istri.
Nabi Muhammad Shallahu ‘alaihi wasallam kemudian memberlakukan kewarisan Islam dalam sistem nasab-kerabat yang berlandaskan kelahiran. Hal itu sebagaimana yang disebutkan dalam al-Qur’an surah al-Anfal ayat 75. Dengan berlakunya sistem nasab-kerabat, maka hak mewarisi yang didasarkan atas sumpah setia mulai dihapuskan.
34 Warisan atas alasan pengangkatan anak juga telah dihapuskan sejak awal kedatangan Islam. Menurut Dja’far, hal itu mulai diberlakukan sejak turunnya Firman Allah Subhanahu Wata’ala yang memerintahkan kepada Nabi Muhammad Shallahu
‘alaihi wasallam untuk menghapus akibat hukum yang timbul dari pengangkatan Zaid bin Haris sebagai anak angkatnya. (QS 33:5, 37, dan 40). Di zaman sebelum turunnya ayat waris, Rasulullah Shallahu ‘alaihi wasallam kedatangan istri Sa’ad bin ar-Rabi bersama dua anak perempuannya. Ia lalu berkata, ‘’Ya Rasulullah, ini dua anak Sa’ad bin ar-Rabi yang mati syahid pada Perang Uhud bersamamu. Paman mereka merampas semua harta mereka tanpa memberi bagian sedikitpun.’’ Mudah-mudahan Allah segera memberi penyelesaian mengenai masalah ini,’’ sabda Rasulullah.19
Tak lama setelah itu, turunlah ayat tentang waris dalam surah an-Nisa ayat 11. Setelah turunnya ayat-ayat tentang waris itu, maka jelaslah orang-orang yang berhak menjadi ahli waris (Ashab al-Furudl). Semua pihak laki-laki, perempuan, anak, ibu, bapak, suami, istri, saudara kandung, saudara sebapak, saudara seibu, kakek, nenek, dan cucu, memiliki bagian dalam waris.
Rasulullah Shallahu ‘alaihi wasallam amat menganjurkan umatnya untuk melaksanakan hukum waris sesuai dengan ketentuan yang ada dalam al-Qur’an. Semua yang sudah diatur dalam al-Qur’an bertujuan memberikan keadilan pada setiap orang. Selain itu, Rasul juga memerintahkan umat Islam untuk mempelajari dan mendalami ilmu waris (faraidh) ini.Dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘’Pelajarilah ilmu waris dan ajarkan, karena ilmu waris merupakan separuh ilmu. Ilmu
19Amir Syarifuddin, Hukum Kewarisan Islam (Jakarta: Kencana, 2004), Cet. Ke-1, hlm. 34.
35 waris adalah ilmu yang mudah dilupakan dan yang pertama kali dicabut dari umatku.’’ (HR Ibnu Majah dan Daruquthni). Ilmu waris merupakan ilmu yang pertama kali diangkat dari umat Islam. Cara mengangkatnya adalah dengan mewafatkan para ulama yang ahli dalam bidang ini. Orang yang paling menguasai ilmu waris di antara umat Rasulullah SAW adalah Zaid bin Tsabit. ‘’Tak heran para imam mazhab menjadikan Ziad bin Tsabit sebagai rujukan dalam ilmu waris,’’20
Berdasarkan paparan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa hukum waris selalu berkembang sesuai dengan konteks saat itu. Kemudian setelah Islam sebagai agama mayoritas, hukum waris ini mencapai puncak perubahannya setelah al-Qur’an menjelaskannya secara rinci di dalamnya. Semenjak itulah, hukum waris ini secara hukum berpedoman kepada sumber hukum utama yaitu al-Qur’an dan Hadis. Kemudian para ulama menafsirkannya yang tentunya juga bersumber dan berpedoman pada kedua sumber utama tersebut yaitu al-Qur’an dan Hadis.
20 Wael B. Hallaq, Sejarah Teori Hukum Islam (Jakarta: PT Raja Grafindo, 2000), Cet. Ke-2. hlm. 185.
36