A : Ini rekaman untuk narasumber ketiga tanggal 2 Juni 2021. Bersama dengan saudara Gabriel, Kak Gabriel. Apa kabarnya Kak Gabriel?
B : Baik Kak Devon.
A : Sama-sama manggil kak nih.
B : Manggil apa nih? Manggil bro aja kali.
A : Boleh-boleh. Oke Kak Gabriel mungkin bisa memperkenalkan dirinya dulu dari nama lengkapnya, usianya, pekerjaan, latar belakang pendidikan, yang berhubungan sama pribadi Kak Gabriel gitu.
B : Perkenalkan nama saya Gabriel Caesario, usia 21. Sekarang masih kuliah. Kuliahnya di UNTAR, Universitas Tarumanagara.
A : Oh berarti sekarang lagi di Pangkalpinang, sudah berapa bulan di Pangkalpinang? B : Dari bulan Juni tahun lalu. Jadi sudah satu tahun.
A : Berarti sekarang sedang berkuliah secara online ya di Pangkalpinang. Jurusannya? B : Management, sudah semester akhir.
A : Saya langsung mulai ke pertanyaan pertama saja, kalau Kak Gabriel pastinya konsumsi berita dan informasi sehari-hari gitu ya? Atau mingguan, atau sesekali. Jadi yang pengen saya tanya dulu itu platform yang sering diakses Kak Gabriel itu apa si? Apakah TV, radio, atau bagaimana?
B : Media online, sih.
A : Dan media mana aja itu yang playing sering diakses?
B : Banyak si, misalnya kaya line today, atau nggak searching searching di online lah, kaya Kompas.com, gitu-gitu.
A : Ada media online lagi ga yang dipakai untuk nyari berita? B : biasanya Detik.com, Tribun.
A : Biasanya kalau nyari berita di line today, atau searching searching di Google itu fokusnya nyari berita yang kaya gimana? Konten-konten yang kaya gimana?
B : Ikuti yang lagi viral si. Kan kalau di line today bisa ngeluarin yang di atas itu. A : Ikutin yang lagi viral ya.
B : Iya, yang lagi trendlah.
A : Berarti tentang COVID juga berarti ya? B : Iya jelas.
A : Menurut Kak Gabriel sendiri gimana sih pemahamannya terhadap COVID-19 ini? Dari perspektifnya Kak Gabriel?
B : COVID-19 ya virus sih, penyakit.
A : Bisa dijabarkan lagi pemahaman yang lain yang Kak Gabriel tahu terkait COVID? B : Yang pasti bahaya dan gampang menjangkit. Itu si masalah pertamanya.
A : Saya rangkum berarti menurut Kak Gabriel itu penyakit, virus yang mudah menjangkiti banyak orang gitu, ya dan sangat berbahaya gitu ya.
B : Iya betul.
A : Pertama kali mengetahui tentang COVID-19 ini dari mana? B : Dari berita online yang pasti. Soalnya ini dari luar, ya. A : Berarti termasuk ngikutin yang berita viral itu ya?
B : Iya ikutin. Apa lagi video-video yang orang-orang jatuh di mall itu. Yang di China.
A : Siap. Kalau dari Kak Gabriel sendiri punya pengalaman atau cerita sendiri ga yang berhubungan sama COVID-19? Misalnya berhubungan sama pekerjaan, atau kegiatan sehari-hari jadi berubah gitu misalnya.
B : Pasti berubah. Kalau kelas saja kan sekarang jadi online. Itu pun sudah berubah si pertama-tama pasti susahlah untuk online. Di mana tugasnya banyak. Ya kaya gitulah. A : Kalau pengalaman yang lain ada? Terkait COVID-19?
B : Paling temen deket sih yang kena kemarin.
A : Terus gimana reaksinya pas tahu temen deket sendiri terkena gitu?
B : Wah kaget. Sedikit takut. Takutnya yang gejala berat itu aja si, takut kena kitanya. A : Jadi setelah teman dekat Kak Gabriel ini kena COVID, Kak Gabriel jadi takutan ga? Apakah misalnya sebelumnya sering keluar-keluar, terus jadi takut? Atau bagaimana? B : Kalau keluar-keluar sih masih. Tapi lebih menjaga jaraklah mungkin. Pas temen kena sih karantina dulu lah. Karantina mandiri.
A : Oh sempet kontak sama temen yang positif? B : Sempet. Sempet nongkrong.
A : Lalu setelah itu jadi sedikit merubah gitu ya? Jadi sedikit tapi tidak banyak gitu ya? Masih sering keluar gitu ya?
B : Keluar terus, sih. Keseharian masih keluar nongkrong, ngopi. A : Cuma agak dijaga sedikit gitu ya.
B : Iya. kalau keluar masker pasti harus dipakailah.
A : Karena efek dari temen yang positif tadi, ya. Temen terdekat. Masih berhubungan juga sama lingkungan sekitar gitu ya. Orang terdekat. Kalau orang-orang di sekitarnya Kak Gabriel ini sendiri menghadapi COVID-19 gimana? Apakah lebih takut apa lebih santai? Dari keluarga, temen, apakah berbeda-beda?
B : Pertama-tama dari keluarga pasti saya wanti si, soalnya orang tua saya kan udah tua. Nah itu kan apalagi COVID kan lebih menyerangnya ke orang tua, yang gejala beratnya. Tapi kalau ke temen-temen sih pada nyantai sih. Tapi tetep protokol kalau keluar.
A : Tapi tetap aktivitas tapi ada perubahan sedikit. Tapi kalau keluarga dari Kak Gabrielnya agak suruh jaga, ya. Karena orang tuanya sudah berumur juga. Kalau dari perspektif agama kepercayaan gitu ya, dari kelompok komunitas ataupun pemuka agama dari kepercayaannya Kak Gabriel ini memandang COVID-19 ini tuh bagaimana sih? Apakah punya sudut pandang yang berbeda dari apa yang menjadi frame dari media, yang disampaikan media? Apakah memandangnya berbeda dari kebanyakan orang begitu? Dan respon Kak Gabriel bagaimana?
B : Waduh kalau dari sisi agama, saya kurang beragama sih. Paling kalau kaya gitu sih ngeliatnya dari WA keluarga. Kalau kaya gitu kan biasa keluarga ngeshare, dari romo mana ngomong tentang COVID. Gitu-gitu sih.
A : Jadi ga terlalu dihiraukan gitu ya?
B : Ga terlalu si. Tapi kalau berita-beritanya sih yang positif-positiflah.
A : Jadi lebih fokus cari apa yang di berita. Berarti ga terlalu mengikuti lah kalau tentang pendapat dari kepercayaan atau agama gitu, ya?
B : Engga.
A : Soalnya kan kalau di India gitukan sempat chaos juga karena percaya dengan yang mistis-mistis gitulah ya. Lalu terkait media online, nih. Kak Gabriel juga sempat menyinggung soal Kompas.com. Seberapa sering, sih baca medianya kalau dari media online di awal-awal?
B : Setiap hari, sih. Awal-awal ngikutin berita COVID di Indonesia. Tapi kalau makin ke sini sih kalau ada berita ya dibaca. Kalau keliatan aja sih.
A : Jadi kalau ada sesuatu yang lagi rame aja ya baru ikutin setiap hari? B : Betul.
A : Lalu kalau untuk berita-berita COVID yang sering dibaca, nih. Termasuk Kompas.com dan yang tadi saya sajikan dulu sebelum wawancara, berita-berita soal Pangkalpinang, ya. Komentar Kak Gabriel gimana terkait berita COVID-19 yang sudah dibaca itu?
B : Kalau menurut saya, sih berita-berita Kompas.com itu paslah komposisinya tuh. Tidak dilebih-lebihkan, tidak dikurang-kurangkan. Jadi Kompas.com itu kaya menyajikan bahwa COVID ini bahaya tapi ga perlu kaya ini bahaya banget, gitu. Kalau dari Kompas.com si pas.
A : Kalau dari media lain ada yang begitu?
B : Wah kacau. Media lain mah gimana gitu, bisa ditakut-takutin lebih gitu. Jadi ditakut-takutin gitu.
A : Kalau dari Detik.com gimana? Masih lumayan gitu? Bagus? Masih termasuk bagus?
B : Waduh kalau dari Detik.com juga sering nyimpang si menurut saya. Beritanya kadang-kadang ada yang di takedown sendiri gitu, kan.
A : Kalau dari media lain? Ada cerita juga tentang berita COVIDnya? B : Ya paling yang di WA WA keluargakan banyak hoaks soal itu. A : Jadi dari keluarga gitu ya? Dan check dan rechecknya cari sendiri? B : Betul. Mending cari sendirilah di Google.
A : Dan cari sendirinya itu dari line today atau kalau ketemu Kompas.com di Google? B : Jadi kalau misalnya cari, nih. Misalnya di WA grup ngirimin apa tentang ini. Lalu saya searching kan di Google, ya yang paling sering saya cari sih Kompas.com lah yang bisa dipercaya.
A : Dari banyaknya berita tentang COVID, berita mana yang paling Kak Gabriel ingat gitu? Yang playing berkesan gitu. Dari sepanjang awal perjalanan COVID, gitu. Dari sejak masa-masa awal hingga sekarang sudah ketemu vaksin gitu. Berita mana yang paling bikin inget.
B : Oh berita ini, sih, berita yang bilang Indonesia bebas COVID. Padahal kan kita belum tes aja sih. Awal-awal lah sebelum marak, pas Februari kali. Terus pas banyak, pas diusut punya usut, ada tuh.
A : Itu beritanya dari Kompas juga atau dari mana? B : Enggak. Dari media lain itu.
A : Berita bahwa percaya diri Indonesia bebas gitu, ya. Oke itu yang paling diingat, ya. Ternyata ada juga kasusnya.
B : Ada juga. Kalau saya mah udah pasti ini masuk Indonesia, ga mungkin enggaklah. Terus udah ga lama dari itu, Kompas.com ada positif satu dari Semarang, ya.
A : Ini saya ada pertanyaan, Kak Gabriel ini setuju ga dengan cara Kompas.com menyajikan berita tentang COVID? Tadi juga sempat disinggung bahwa lumayan setuju gitu ya?
B : Iya, setuju. Pas.
optimisme gitu di masyarakat dalam memberitakan si pandemi COVID kita ini? Dan menurut Kak Gabriel kenapa sih mereka menulisnya seperti itu? Ga kaya media lain yang Kak Gabriel tahu gitu, ya?
B : Menurut saya sih Kompas.com tuh kaya ngomong sumbernya pasti jelas, satu. Dan mereka itu menyajikannya tuh yaudah apa yang di lapangan itu yang disajiin. Terus ga bakal ditambah-tambahin apa-apa lagi. Terus kalau berita itu pasti membangun positif di masyarakat. Agar ya tetap beraktivitas tapi tetap berprotokol.
A : Termasuk memberikan harapan gitu, ya? B : Memberikan harapan, pasti.
A : Dari Kak Gabriel lumayan suka ya dengan media Kompas.com ini ya berarti? B : Lumayan.
A : Itu aja sih yang ingin saya tanyakan ke Kak Gabriel. Terima kasih banyak atas waktunya. Dan saya sudahi dulu rekamannya. Ini tanggal 2 Juni 2021. Nama saya Devon dari Universitas Multimedia Nusantara. Terima kasih.