Rekomendasi 16. Pembedahan perdarahan epidural (EDH) di Indonesia
H. TRAUMA TORAKS
I. TRAUMA TUMPUL AORTA
Bab ini akan membahas tentang managemen trauma tumpul aorta.
Sumber yang digunakan adalah Practice Management Guidelines for the Diagnosis and Management of Blunt Aortic Injury, EAST.
LATAR BELAKANG
Trauma tumpul aorta menjadi penyebab sekitar 8000 kematian setiap tahun di Amerika. Sebagian besar pasien dengan trauma tumpul aorta
meninggal di tempat kejadian. Pasien yang bisa mencapai rumah sakit diharapkan dapat bertahan hidup bila trauma tumpul aorta ini didiagnosis dan diterapi tepat waktu. Belum ada satupun pusat trauma yang mempunyai pengalaman yang luas pada trauma ini.
REKOMENDASI
1. Level I : Rekomendasi level I belum didapatkan bukti yang cukup.
2. Level II
a. Kemungkinan terjadinya trauma tumpul aorta harus dipertimbangkan pada semua pasien dengan kecelakaan sepeda motor, tidak bergantung pada arah benturan.
b. Foto thoraks x-ray merupakan alat skrining yang bagus untuk menentukan perlunya pemeriksaan lebih lanjut. Temuan signifikan antara lain pelebaran mediastinum, katup aorta yang kabur, deviasi bronkus utama kiri atau deviasi ngt, dan opasitas aorto-pulmonary window.
c. Angiografi adalah tes yang sangat sensitif, spesifik, dan akurat terhadap adanya trauma tumpul aorta. Tes ini merupakan standar.
d. CT thoraks adalah alat yang berguna untuk skrining dan diagnosis trauma tumpul aorta. CT scan spiral atau helical bisa mengesampingkan adanya trauma tumpul aorta.
e. Repair aorta sebaiknya dilakukan secara cepat. Jika pasien mengalami trauma yang lebih mengancam jiwa yang membutuhkan laparotomi ataupun kraniotomi, repair aorta bila ditunda. Tekanan darah dikontrol dengan obat-obatan sampai repair pembedahan dapat dilakukan.
3. Level III
a. Adanya pseudocoartation atau intrascapular murmur pada pemeriksaan fisik memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
b. Ekokardiografi transesofageal juga merupakan alat yang sensitif dan spesifik.
c. Repair cedera aorta dapat dilakukan dengan beberapa metode untuk perfusi distal, komplikasi neurologis berkaitan dengan lama iskemia, sehingga waktu iskemia ini harus diusahakan minimum.
PEMBAHASAN
Studi oleh Katyal dkk pada 97 pasien yang menderita ruptur thorasic aorta, 48 kasus (49.5%) akibat benturan dari lateral. 28 pengemudi (22 ipsilateral dan 6 kontralateral) dan 20 penumpang (16 ipasilateral dan 4 kontralateral) menderita ruptur thorasic aorta akibat benturan dari lateral.
Studi ini menyimpulkan bahwa benturan dari lateral merupakan penyebab signifikan terjadinya ruptur thorasic aorta. Kecurigaan tinggi terjadinya ruptur aorta patut dipertimbangkan pada kecelakaan serius dengan benturan dari frontal ataupun dari lateral.
Studi prospektif multisenter oleh Fabian dkkpada 274 trauma tumpul aorta, 81% disebabkan oleh kecelakaan mobil. Foto thoraks dengan pelebaran mediastinum merupakan tanda paling sering yang memicu pemeriksaan lebih lanjut dan aortografi masih merupakan standar diagnosis. 207 pasien yang stabil dilakukan torakotomi dan repair aorta.
Klem dan teknik penjahitan dilakukan pada 73 (35%) dan teknik bypass pada 134 (65%). Angka mortalitas 31%, dengan 63% kematian akibat ruptur aorta, kematian tidak berkaitan dengan metode repair. Paraplegia post operasi terjadi pada 8.7% dan berkaitan dengan waktu pengkleman aorta >
30 menit
Fabian dkk melakukan studi prospektif pada 494 pasien dengan kecurigaan trauma aorta, didapatkan 71 pasien dengan trauma tumpul aorta. Sensitivitas CT thoraks helical adalah 100% versus aortografi sebesar 92%. Spesifisitas CT thoraks helical 83% versus aortografi 99%. Akurasi CT 86% versus akurasi aortografi 97%.
KESIMPULAN
Trauma tumpul berat dapat berakibat lethal yaitu terjadi trauma tumpul aorta. Trauma ini dipertimbangkan terjadi pada mekanisme deselerasi atau akselerasi. Angiografi masih merupakan standar emas untuk diagnosis, meskipun CT scan juga mempunyai peranan untuk skrining.
DAFTAR PUSTAKA
1. Nagy K, Fabian T, Rodman G, Fulda G, Rodriguez A, Mirvis S. Practice management guidelines for the diagnosis and management of blunt aortic injury. Eastern Association for the Surgery of Trauma. J Trauma.2000;48:1128-43.
2. Katyal D, McLellan BA, Brenneman FD. Lateral impact motor vehicle collisions: significant cause of blunt traumatic rupture of the thoracic aorta. J Trauma.1997;42:769-72.
3. Ben-Menachem Y. Rupture of the thoracic aorta by broadside impacts in road traffic and other collisions: further angiographic observations and preliminary autopsy findings. J Trauma.1993;35:363-7.
4. Dalldorf PG, McCarthy MC, Tarver RD. Traumatic rupture of the aorta:
Indications for aortography. Am Surg;56:500-3.
5. Fabian TC, Richardson JD, Croce MA. Prospective study of blunt aortic injury: Multicenter trial of the american association for the surgery of trauma. J Trauma.1997;42:374-80.
6. Marnocha KE and Maglinte DD. Plain-film criteria for excluding aortic rupture in blunt chest trauma. Am J Roentgen.1985;144:19-21.
7. Sturm JT, Hankins DG and Young G. Thoracic aortography following blunt chest trauma. Am J Emerg Med.1990;8:92-6.
8. Morse SS, Glickman MG, Greenwood LH. Traumatic aortic rupture:
falsepositive aortographic diagnosis due to atypical ductus diverticulum.
Am J Roentgen.1988;150:793-6.
9. Pozzato C, Gedriga E, Donatelli F and Gattoni F. Acute posttraumatic rupture of the thoracic aorta: the role of angiography in a 7-year review.
CV Intervent Radiol.1991;14:338-41.
10. Fisher RG, Chasen MH and Lamki N. Diagnosis of injuries of the aorta and brachiocephalic arteries caused by blunt chest trauma: CT vs aortography. Am J Roentgenol.1994;162:1047-52.
11. Durham RM, Zuckerman D, Wolverson M. Computed tomography as a screening exam in patients with suspected blunt aortic injury. Ann Surg.1994;220:699-704.
12. Gavant ML, Menke PG, Fabian T. Blunt traumatic aortic rupture:
detection with helical CT of the chest. Radiology.1995;197:125-33.
13. Wicky S, Capasso P, Meuli R. Spiral CT aortography: an efficient technique for the diagnosis of traumatic aortic injury. Eur Radiol.1998;8:828-33.
14. Borman KR, Aurbakken CM and Weigelt JA. Treatment priorities in combined blunt abdominal and aortic trauma. Am J Surg.1982;144:728-32.
15. Hudson HM, Woodson J and Hirsch E. The management of traumatic aortic tear in the multiply-injured patient. Ann Vasc Surg.1991;5:445-8.
16. Maggisano R, Nathens A, Alexandrova NA. Traumatic rupture of the thoracic aorta: should one always operate immediately? Ann Vasc Surg.1995;9:44-52.
17. Fabian TC, Davis KA, Gavant ML. Prospective Study of Blunt Aortic Injury: Helical CT is Diagnostic and Antihypertensive Therapy Reduces Rupture. Ann Surg.1998;227:666-77.
18. DeMeules JE, Cramer G and Perry JF. Rupture of aorta and great vessels due to blunt thoracic trauma. J Thorac Cardiovasc Surg.1971;61:438-42.
19. Mattox KL, Pickard L, Allen MK and Garcia-Rinaldi R. Suspecting thoracic aortic transection. JACEP.1978;7:12-5.
20. Richardson RL, Khandekar A and Moseley PW. Traumatic rupture of the thoracic aorta. South Med J.1979;72:300-1.
21. Trachiotis GD, Sell JE, Pearson GD. Traumatic thoracic aortic rupture in the pediatric patient. Ann Thorac Surg.1996;62:724-31.
22. Vignon P, Lagrange P, Boncoeur MP. Routine Transesophageal echocardiography for the diagnosis of aortic disruption in trauma patients without enlarged mediastinum. J Trauma.1996;40:422-7.