Trenggiling termasuk ke dalam kategori hewan langka yang dilindungi oleh pemerinah Indonesia berdasarkan Undang – undang No. 5 tahun 1990 tentang Konvensi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.
Pada tahun 2008, International Union for Conservation of Nature (IUCN) memasukkan trenggiling ke dalam daftar merah (red list) yaitu endangered, artinya status konservasi yang diberikan kepada spesies tersebut mempunyai resiko kepunahan yang tinggi dalam waktu yang akan mendatang. Namun menurut CITES, pada saat itu trenggiling masuk ke dalam kategori Appendix II yang artinya hewan trenggiling ini adalah hewan yang langka dan dilindungi tetapi belum termasuk kedalam kategori yang terancam punah96.
Tetapi sampai saat ini, akibat dari perdagangan ilegal trenggiling semakin marak dan meningkatnya permintaan pasar yang sangat tinggi khususnya dari China. Salah satu satwa yang menjadi target incaran perburuan perdagangan ilegal yang sangat diminati saat ini adalah trenggiling Indonesia yang dikenal sebagai trenggiling Sunda atau Jawa (Manis Javanica). Spesies jenis ini diperdagangkan
96 Yusrizal Akmal, Chairun Nisa, Savitri Novelina, “Anatomi Organ Reproduki Jantan Trenggiling (Manis Javanica)”, Jurnal Fakultas Kedokteran Hewan IPB Vol 2, No.2 ; 74 – 81 Juli 2014.
untuk dikonsumsi bagian tubuhnya seperti daging, lidah, kulit dan sisiknya yang dipercaya berkhasiat sebagai obat tradisional dan juga dijadikan sebagai bahan baku narkoba bagi masyarakat Tiongkok. Sisik trenggiling juga dimanfaatkan menjadi bahan baku pembuatan kerajinan tangan dan aksesoris lainnya. Hal tersebut menyebabkan perburuan satwa ini semakin meningkat sehingga menyebabkan populasi trenggiling di alam menurun drastis dan semakin terancam populasinya. Maka dari itu, sejak Januari 2017 spesies trenggiling yang terdapat di dalam Appendix II dipindahkan ke dalam kategori Appendix I CITES yang artinya mendapat perlindungan penuh dari segala bentuk perdagangan97.
1. Perkembangan Spesies Trenggiling
Trenggiling adalah salah satu hewan mamalia yang unik dan menarik, keunikan tersebut dapat dilihat dari trenggiling yang memiliki tubuh ditutupi oleh sisik – sisik yang keras seperti reptil dan tidak memiliki gigi (toothless) seperti unggas. Trenggiling juga memiliki lidah yang dapat menjulur panjang98 dan memiliki kemampuan penciuman yang lebih baik dibandingkan dengan penglihatannya, makanan utama trenggiling adalah semut (ordo hymenoptera) dan rayap (ordo isoptera)99. Trenggiling juga merupakan hewan soliter atau hewan yang cenderung hidup menyendiri yang aktif di malam hari dan hanya berkumpul pada saat musim kawin. Hewan ini akan menutupi kepalanya dengan kaki depannya untuk menunjukkan sisiknya kepada pemangsa potensial, dan dia akan
97 Trenggiling Sunda (Manis Javanica), WWF dimuat dalam https://www.wwf.id/publikasi/trenggiling-sunda-manis-javanica-manis-namanya-tak-semanis-nasibnya , diakses pada tanggal 22 December 2020.
98 Breen K. 2012. Manis javanica, animal diversity web, Museum of Zoology. University of Michigan, dimuat dalam http://animaldiversity.ummz.umich.edu/ , diakses pada tanggal 22 December 2020.
99 Lekagul B, McNeely JA. Mammals of Thailand. Association for the Concervation of Wildlife. (Bangkok: Sahakarnbhat co, 1977)
menggulung tubuhnya menjadi seperti bola jika tubuhnya disentuh atau dipegang, sedangkan sisik tajam yang terdapat di ekornya bisa digunakan untuk menyerang jika dia merasa terancam100.
Trenggiling bukan termasuk hewan yang pemilih untuk mencari atau menempatkan sarangnya, hewan ini menggunakan seluruh tipe habitat tempat hidup seperti hutan alam primer dan sekunder, hutan campuran, savanna, kebun rakyat, ladang, dan sekitar pemukiman masyarakat yang memiliki semak cukup rapat. Seperti satwa – satwa liar lainnya, trenggiling merupakan hewan teritorial yang menandai wilayahnya dengan air kencing dan sekresi yang berbau dari kelenjar khusus. Berdasarkan habitatnya, trenggiling dibagi menjadi tipe terrestrial yang artinya hewan ini akan menggali lubang atau menempati lubang yang telah ditinggalkan oleh satwa lain untuk tidur dan bersarang dan tipe arboreal yang artinya hewan ini menggunakan cekungan tonggak pohon atau kayu untuk melakukan aktivitasnya101.
Secara taksonomi, trenggiling terbagi ke dalam jenis Familia Manidae dan Ordo Pholidota dan dibagi menjadi subfamili Maninae dan Smutsiinae, berserta menjadi tiga genera yaitu Manis (Asia), Smutsia (Afrika) dan Phataginus (Afrika). Diketahui terdapat delapan jenis spesies yang memiliki peminat tertinggi dari Asia Timur yaitu, Trenggiling Sunda (Manis javanica), Trenggiling Tiongkok (M. pentadactyla), Trenggiling India (M. crassicaudata) dan Trenggiling Filipina (M. culionensis) di Asia, serta Trenggiling Darat Raksasa (M.
gigantea), Trenggiling Darat (Temminck M. temminckii), Trenggiling Perut Putih
100 Pangolin, WWF dimuat dalam https://www.worldwildlife.org/descubre-wwf/historias/pangolin , diakses pada tanggal 22 December 2020.
101 Reny Sawitri dan Mariana Takandjandji, Konservasi Trenggiling Jawa, (Bogor : Forda press, 2016), hlm 49.
(Phataginus tricuspis) dan Trenggiling Perut Hitam (Phataginus tetradactyla) di Afrika102.
Penyebaran spesies Manis Javanica di Indonesia meliputi hutan hujan tropis daerah Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan pulau – pulau kecil dari Riau, Pulau Lingga, Bangka Belitung, Nias, Pagai, Pulau Natuna, Karimata, Bali dan Lombok103. Sedangkan penyebaran di luar wilayah Indonesia meliputi Burma, Thailand, Malaysia, Filipina104, serta Vietnam, Laos dan Singapura. Trenggiling jenis ini memiliki permukaan tubuh yang dipenuhi sisik – sisik yang keras dan terdapat rambut – rambut kasar diantara sisik tersebut, tetapi pada bagian bawah tubuhnya tidak terdapat sisik – sisik melainkan hanya rambut - rambut yang kasar tersebut.
Panjang tubuh hewan ini mencapai 7.988 cm dari kepala hingga ujung ekornya, tetapi ukuran tubuh trenggiling jantan lebih panjang dibandingkan dengan trenggiling betina105. Tubuh trenggiling yang panjang memiliki empat kaki yang pendek dan masing – masing jarinya mempunyai cakar yang panjang dan melengkung. Memiliki kepala dan mata yang kecil berbentuk tirus dan memiliki kelopak mata yang tebal, kelopak matanya yang tebal memiliki fungsi untuk melindungi matanya dari gigitan semut. Memiliki daun telinga yang berbentuk seperti bulan sabit dan ruang mulu yang dapat menjulurkan lidah
102 Challender, D. “Asian pangolins: increasing affluence driving hunting pressure”.
TRAFFIC Bulletin 23(3) (2011):92–93
103 Corbet G dan J Hill. Mammals of Indoalayan Region. (Oxford: Natural History Museum and Oxford University Press. 1992).
104 Lekagul, B dan JA McNeely. op.cit.
105 Breen, K., Op, cit., Manis Javanica.
seperti cacing yang sangat lengket106. Trenggiling mempunyai lidah yang dapat dijulurkan sepanjang 25 cm untuk membantunya mencari makanan. Dalam usahanya untuk mencari makanan tersebut, penciumannya merupakan organ sensori yang berperan utama untuk mencari makanan seperti sarang rayap atau semut dan sensori pendengarannya juga berpengaruh karena trenggiling mempunyai penglihatan yang buruk107.
Berikut adalah gambar trenggiling (manis javanica) yang di perdagangkan dari Indonesia ke China:
106 Amir H. Mamalia di Indonesia, Pedoman Inventarisasi Satwa. Direktorat Perlindungan dan Pengawetan Alam (Bogor: Direktorat Jendral Kehutanan, 1987).
107 Lekagul dan McNeely 1977. Op,jg cit.
Gambar 1.1
Trenggiling (manis javanica) Sumber : BBC.Com
2. Populasi dan Ancaman Kepunahan Trenggiling.
Eksploitasi kehidupan liar yang dilakukan secara berlebihan tentunya akan mendorong banyak spesies yang terancam kepunahannya. Menurut indikasi data CITES diperkirakan jumlah trenggiling Asia yang diperdagangkan antara tahun 1977 dan 2011 mencapai dengan jumlah 576.303 trenggiling. Sebagian besar trenggiling yang diperdagangkan adalah Manis Javanica (87%) dan Manis pentadactyla (11%), trenggiling yang diperdagangkan tersebut berasal dari negara kamboja, Malaysia, Thailand, dan Indonesia. Dua spesies tersebut menuju ambang kepunahan akibat besarnya dorongan permintaan dari China sehingga populasi trenggiling tersebut menurun sekitar 80% selama 21 tahun terakhir108.
Keterlibatan Indonesia dalam perdagangan trenggiling internasional dapat ditelusuri hingga awal abad ke – 20 dengan pencatatan pengiriman dalam jumlah
108 Challender, DWS., SR. Harrop, & DC. MacMillan. Understanding markets to conserve trade-threatened species in CITES. 2015. Biological Conservation 187:249-259.
Gambar 1. 2
Trenggiling (manis javanica) Sumber :USAidwildlifeasia.org.com
besar ke Tiongkok (China) sejak tahun 1952. Diantara tahun 1958 dan 1964, tercatat kegiatan perdagangan sisik trenggiling dari Kalimantan ke Hongkong dengan perkiraan 25.000 trenggiling setiap tahunnya. Selama tahun 1990-an perdagangan trenggiling ke luar Indonesia, sebagian besar merupakan perdagangan kulit yang digunakan untuk membuat produk – produk berbahan kulit trenggiling tersebut. Di era tahun 2000-an perdagangan kulit trenggiling digantikan oleh perdagangan internasional sisik trenggiling yang dicari untuk pembuatan obat – obatan tradisional Tiongkok. Sejak tahun 2002, permintaan terhadap trenggiling semakin meningkat. Konsumen terhadap hewan tersebut tidak hanya mengincar kulit atau sisiknya lagi tetapi beralih ke permintaan daging dan organ dalam trenggiling, sehingga perdagangan tersebut terus berlanjut hingga saat ini109.
Dalam beberapa kajian data yang diperoleh dari berbagai sumber seperti publikasi TRAFFIC, Bea Cukai, polisi, CITES, laporan media dan lain – lainnya, Indonesia memiliki 111 catatan penyitaan trenggiling dalam periode 6 tahun sebagai negara pemasok, tempat penyitaan atau dalam beberapa kasus sebagai negara tujuan. Catatan tersebut mencatat penyitaan tentang trenggiling yang masih hidup ataupun mati, bagian tubuhnya sperti sisik dan lainnya. Terhitung sebanyak 35.632 ekor trenggiling atau rata – rata 321 ekor per penyitaan. Dari jumlah tersebut diperkirakan hanya terdapat 2.884 ekor yang ditemukan dalam keadaan hidup, yang artinya 79% dari penyitaan spesimen tersebut tidak hidup atau hanya ditemukan bagian tubuhnya saja. Pada tahun 2002 dan 2008, ditemukannya
109 Lolita Gomez, Boyd T.C. Leupen, Kanita Khrisnasamy, Sarah Heinrich, Pemetaan Penyitaan Trenggiling di Indonesia (2010 – 2015), dimuat dalam https://www.traffic.org/site/assets/files/1737/penyitaan-penyitaan-trenggiling-di-indonesia-2010-2015.pdf , diakses pada tanggal 24 December 2020
sekitar 49.662 ekor trenggilng yang diperdagangkan dengan rata – rata 2.759 ekor trenggiling per penyitaan110.
Penyitaan trenggiling di Indonesia menunjukkan bahwa 83% dari penyitaan tersebut ditemukan di Sumatera yang menjadi titik dari jalur perhubungan daratan Sunda yang menghubungkan Indonesia, Malaysia dan Singapura. Namun dari segi perkiraan jumlah trenggiling yang utuh, daerah Jawa dan Sumatera memiliki keterlibatan dalam perdagangan ilegal trenggiling yang sama. Catatan yang mencakup penyitaan di enam negara lain yaitu Tiongkok, Lao PDR, Malaysia, Filipina, Amerika Serikat, dan Vietnam. Tiga negara utama yang memiliki keterkaitan terdekat dengan Indonesia adalah Malaysia, Tiongkok, dan Vitenam. Malaysia muncul sebagai negara transit paling utama dalam pengiriman trenggiling dari Indonesia ke tujuan akhir di Asia Timur dan Tingkok maupun Vietnam terlibat sebagai negara tujuan111, dan sepanjang tahun 2019, data yang dikumpulkan Wildlife Conservation Society di Indonesia menunjukkan ada sekitar 200 ekor trenggiling di perdagangkan ke Tiongkok - China112.
Informasi mengenai jumlah populasi terhadap hewan trenggiling di alam Indonesia sampai saat ini juga belum diketahui secara pasti, tetapi trenggiling sudah tercatat sebagai hewan yang berstatus kritis dalam Daftar Merah Spesies Terancam IUCN akibat ancaman dari kegiatan perdagangan yang berlebihan.
Karena populasi trenggiling yang belum diketahui secara pasti, hal ini menjadi hambatan untuk pemerintah Indonesia dalam konservasi trenggiling tersebut.
110 Lolita Gomez, Boyd T.C. Leupen, Kanita Khrisnasamy, Sarah Heinrich, Pemetaan Penyitaan Trenggiling di Indonesia (2010 – 2015), Op. Cit., ringkasan ekskutif.
111 Ibid.,
112 Trenggiling diselundupkan ke Tiongkok dalam sepuluh tahun, dimuat dalam https://www.mongabay.co.id/2020/02/20/riset-26-ribu-trenggiling-diselundupkan-ke-tiongkok-dalam-sepuluh-tahun/, diakses pada tanggal 24 December 2020
Penurunan populasi terhadap spesies ini juga bertambah karena masa hidupnya yang hanya mencapai usia maksimal 7 tahun serta lemahnya penegakan hukum bagi pelaku perburuan dan perdagangan tersebut113.
B. Faktor Pendorong Perdagangan Trenggiling dari Indonesia ke