• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.6 Teknik Analisis Data

3.6.1 Triangulasi Data

Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain. Diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembadnging terhadap data itu. Teknik tirangluasi yang paling banyak digunakan ialah meperiksaan melalui sumber lain. Denzin (1978) membedakan empat macam triangulasi sebagai teknik pemeriksaan yang memanfaatkan penggunaan sumber, metode, penyidik dan teori.

Triangulasi yang akan dipakai peneliti dalam penelitian ini adalah triangulasi sumber. Dimana triangulasi sumber merupakan suatu cara untuk membandingkan atau mengecek baik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian kualitatif. Hal ini dapat dicapai dengan:

1. Membandingkan data hasil pengamatan dengan hasil data wawancara 2. Membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa

3. Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang seperti rakyat biasa, orang yang berpendidikan menengah atau tinggi, orang berada, orang pemerintahan 4. Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan

Jadi triangulasi berarti cara terbaik untuk menghilangkan perbedaan– perbedaan konstruksi kenyataan yang ada dalam konteks suatu studi sewaktu mengumpulkan data tentang berbagai kejadian dan hubungan dari berbagai pandangan. Dengan kata lain bahwa dengan triangulasi, peneliti dapat me rechecck temuanya dengan cara membandingkan dengan berbagai sumber, metode atau teori. Untuk itu maka peneliti dapat mengajukanya dengan jalan: (Moloeng, 2005:330 - 332)

1. Mengajukan berbagai macam variasi pertanyaan 2. Mengeceknya dengan berbagai sumber data

3. Memanfaatkan berbagai metode agar pengecekan kepercayaan data dilakukan

Triangulasi data dilakukan dengan menggunkan teknik yang berbeda (Nasution, 2003:115) yaitu wawancara, observasi dan dokumen. Triangulasi selain ini selain digunakan untuk mengecek kebenaran data juga dilakukan untuk memperkaya data. Menurut Nasution, selain itu triangulasi juga dapat digunakan untuk menyelidiki validitas tafsiran peneliti terhadap data, karena itu triangulasi bersifat reflektif.

Tujuan umum dilakukan triangulasi adalah untuk meningkatkan kekuatan teoritis, metodologis, maupun interpretatif dari sebuah riset atau penelitian. Dengan demikian triangulasi memiliki arti penting dalam menjembatani perbedaan riset kualitatif dan kuantitatif. Pengumupulan data triangluasi melibatkan observasi, wawancara, dan dokumentasi.

Triangulasi dalam penilitian ini terdiri dari data primer dan sekunder: 1. Data Primer : Data ini diperoleh dengan menggunakan wawancara

mendalam yang akan dilakukan kepada Yayasan Thalasemia Indonesia cabang kota Medan

2. Data Sekunder: Data ini diperoleh dengan menggunakan wawancara mendalam yang akan dilakukan kepada organisasi terkait yaitu POPTI cabang kota Medan.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

Pada bab ini, peneliti akan memberikan paparan menyangkut hasil penelitian yang didapatkan selama proses penelitian di lapangan. Penelitian dilakukan pada empat orang informan dari anggota pengurus Yayasan Thalasemia Indonesia dan Perhimpunan Orang Tua Penderita Thalasemia cabang kota Medan. Hasil penelitian ini diperoleh peneliti dari bentuk wawancara dan observasi langsung. Penjabaran hasil penelitian tersebut akan turut disertakan dengan pembahasan berdasarkan tujuan penelitian yang telah ditentukan. Hasil dan pembahasan tersebut nantinya akan di deskripsikan dalam bentuk narasi atau tulisan panjang.

4.1.1 Deskripsi Proses Penelitian

Pada pelaksanaan penelitian strategi komunikasi kesehatan Yayasan Thalasemia Indonesia (YTI) studi deskriptif kualitatif strategi komunikasi kesehatan Yayasan Thalasemia Indonesia, proses pengumpulan data di lapangan diperoleh peneliti dengan melakukan dua tahap yaitu tahapa awal penelitian dan tahap pengumpulan data penelitian.

Pada tahap awal penelitian dimulai dengan melakukan observasi dengan menemui langsung ibu Sarmawati yang merupakan ketua POPTI dan wakil ketua YTI yang bertempat tinggal di jalan Pintu Air IV. Komplek Politeknik No.27 Medan. Peneliti mengunjungi rumah ibu Sarmawati untuk observasi dan dihari yang sama pula peneliti juga mengobservasi kegiatan yang tengah dilakukan oleh POPTI, yaitu sosialisasi dari salah seorang mahasiswa UMSU kepada anak-anak penderita thalasemia yang diadakan di aula Politeknik Medan.

Kedatangan peneliti disambut hangat oleh ibu Sarmawati. Peneliti pun memperkenalkan diri dan memberitahu maksud dan tujuan kedatangan. Kurang lebih 30 menit peneliti mendapatkan keterangan secara pendidikan mengenai

penyebaran dan tingkat penderita thalasemia yang di kota Medan saat ini. Keterangan singkat yang didapat tersebut akan berfungsi untuk membantu peneliti dalam meneliti dan menentukan topik penelitian yang sesuai sesuai sebagai masalah penelitian yang sebenarnya kepada Yayasan Thalasemia Indonesia di Medan, yakni strategi komunikasi kesehatan Yayasan Thalasemia Indonesia. Tiga minggu kemudian, peneliti kembali menemui ibu Sarmawati untuk melakukan wawancara kembali dan juga observasi demi melengkapi informasi untuk memperkuat konteks masalah dalam penelitian ini.

Peneliti memilih sumber informasi dari beliau karena beberapa alasan; ibu Sarmawati merupakan wakil ketua YTI dari tahun 2014 hingga sekarang; beliau juga merupakan Ketua POPTI dari tahun 2008 hingga sekarang; ibu Sarmawati sangat mengetahui secara mendetail bagaimana penyebaran informasi thalasemia di kota Medan. Beliau juga mengakui bagaimana pekembangan dan peningkatan pasien thalasemia setiap tahunnya. Ketidaktahuan para orangtua penderita thalasemia ketika mendapati anaknya didiagnosis menderita thalasemia. Menjadi salah satu alasan meningkatnya penderita thalasemia. Alasan lainnya kenapa peneliti memilih ibu Sarmawati adalah beliau juga merupakan salah satu orang tua penderita thalasemia, anak bungsu ibu Sarmwati yang bernama Chairunnisa didiagnosis menderita thalasemia ketika ia berumur satu tahun delapan bulan dan kemudian meninggal dunia ketika berumur tiga belas tahun. Sehingga tidak diragukan lagi kalau beliau mengetahui segala bentuk informasi mengenai thalasemia.

Pada tahap pengumpulan data, informan yang merupakan subjek dalam penelitian ini dipilih berdasarkan kombinasi teknik purposive sampling. Metode ini merupakan suatu metode yang mengharuskan peneliti memilih informan yang dianggap tahu tentang apa yang kita harapkan atau mungkin informan tersebut merupakan penguasa sehingga memudahkan peneliti meneliti objek atau situasi yang diteliti (Sugiono, 2008; 301). Dengan kata lain sebagai data yang sesuai atau berdasarakan kebutuhan peneliti. Oleh sebab itu peneliti diharuskan untuk terlebih dahulu menunjuk seorang key-person yang akan menentukan informan yang sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan oleh peneliti, dalam hal ini

peneliti menunjuk ibu Sarmawati yang merupakan wakil ketua YTI dan ketua POPTI sebagi key-person penentu informan penelitian yang sesuai dengan kriteria. Proses wawancara ini dilakukan mulai bulan Maret hingga Mei 2016 dengan kelima informan yang terdiri dari anggota YTI dan POPTI dengan menggunakan metode wawancara mendalam (in-depth interview).

Sebelum melakukan wawancara dengan informan dimulai, peneliti terlebih dahulu mendatangi kediaman ibu Sarmawati yang merupakan key-person secara langsung untuk menentukan informan pertama. Kedatangan peneliti disambut hangat oleh beliau. Kemudian beliau menjelaskan ada beberapa orang anggota di YTI dan POPTI yang akan cocok menjadi informan peneliti. Ibu Sarmawati menjelaskan bahwa tim medis dari YTI adalah informan paling cocok untuk dijadika informan dan juga beberapa anggota inti dari POPTI seperti sekretaris dan bendahara yang juga pas untuk dijadikan informan. Ibu Sarmawati menunjuk dr. Nelly Rosdiana spesialis Anak untuk menjadi informan primer peneliti, alasan beliau memilih dr. Nelly adalah karena beliau merupakan tim medis yang sering diutus untuk melakukan sosialisasi kebeberapa tempat di kota Medan. Nama kedua yang ditunjuk sebagai informan adalah Prof. dr. Bida Sari, beliau juga merupakan dokter spesialis anak yang sudah sangat lama bergelut dengan thalasemia. Prof, Bida juga merupakan tim medis YTI yang juga sering menjadi narasumber di berbagai sosialisasi baik dari YTI maupun diluar YTI. Kemudian Prof. Bida juga sudah sangat berpengalaman dalam menangangi thalasemia. Yang ketiga ibu Sarmawati mengajukan dirinya sebagai informan, Ibu Sarmawati mengaku bahwa ia sudah lama bergelut dengan kedua organisasi ini sehingga memungkinkan bagi beliau untuk memberikan data data yang diperlukan oleh informan. Selain itu, peneliti juga dibawa langsung ke kediaman informan sekunder yaitu ibu Mursida selaku sekretaris POPTI dan juga ibu Sutina selaku bendahara POPTI. Untuk memudahkan peneliti, Ibu Sarwamati juga membantu peneliti untuk bertemu langsung dengan informan primer yang berada di Rumah Sakit Umum Pusat H.Adam Medan. Informan yang ditentukan dalam penelitian ini dibatasi hanya sebanyak kelima orang karena jawaban dari kelima, informan

sudah mencapai titik jenuh, di mana artinya informan hampir rata-rata memiliki kesamaan dan tidak memberikan informasi baru.

Pada tanggal 1 Maret 2016, peneliti ditemani dengan ibu Sarmawati mengunjungi dr.Nelly yang pada saat itu sedang berada di ruang prakteknya di Rumah Sakit Umum Pusat H.Adam Malik. Kedatangan peneliti dan ibu Sarmawati disambut hangat oleh beliau. Peneliti kemudian menjelaskan maksud dan tujuan kedatangan peneliti dan juga menanyakan kesediaan beliau untuk mau menjadi informan dalam penelitian ini. dr.Nelly pun bersedia untuk menjadi informan primer peneliltian ini. Dalam kesempatan ini juga peneliti membuat janji untuk bertemu dengan beliau guna melakukan wawancara secara mendalam. dr. Nelly yang merupakan seorang dokter spesialis anak mengaku bahwa dalam menangani penyakit ini butuh sedikit kejelian dan ketelian hal ini disebabkan oleh thalasemia tidak mudah terdeteksi. Beliau juga mengutarakan bahwa banyak dari pasien yang datang tidak mengetahui adanya penyakit ini. Kerentanan terjangkit penyakit ini sangat besar bagi banyak orang. Hampir semua orang disini bisa terjangkit thalasemia tapi hanya sedikit yang peduli dengan penyakit ini.

Beberapa hari kemudian peneliti kembali mengunjungi Rumah Sakit Umum Pusat H.Adam Adam Malik untuk menemui Prof. dr. Bida Sari Lubis. Peneliti kembali ditemani oleh ibu Sarmawati. Tepatnya tanggal 4 maret 2016 peneliti mendatangi ruang praktek Prof.Bida yang berada di bagian spesialis anak. Ketika ditemui Prof Bida Sari sedang melakukan visite keruangan pasien rawat inap. Tepat pada pukul 11 Prof Bida sudah berada di ruang prakteknya. Peneliti memperkenalkan diri dan menceritakan maksud dan tujuan kedatangannya. Setelah mendengarkan tujuan kedangan peneliti, beliau bersedia untuk menjadi informan primer kedua dalam penelitian. Pada kesempatan yang sama peneliti juga membuat janji agar bisa melakukan wawancara mendalam. Akhirnya pada kesempatan yang sama peneliti dan informan menyetujui untuk datang kembali beberapa hari kedepan untuk melakukan wawancara.

Tepat pada tanggal 10 Maret 2016 peneliti melakukan proses wawancara mendalam dengan informan primer yang pertama yaitu Ibu Sarmawati. Wawancara ini dimulai pukul 10:00 hingga pukul 12:00 siang. Wawancara

dilakukan dikediaman beliau di Komplek. Politeknik Medan. Peneliti disambut dengan baik oleh beliau. Rumah beliau terletak tidak jauh dari pintu gerbang perumahan tersebut. Wawancara berjalan dengan baik. Ibu Sarmawati menjawab semua pertanyaan peneliti dengan baik dan jelas. Walaupun terkadang peneliti harus mencatat beberapa pernyataan yang kurang jelas. Beliau mengakui bahwa menjadi ketua POPTI merupakan tanggung jawab yang akan dipikulnya dengan baik. Sama seperti orang tua yang tergabung dengan POPTI, Ibu Sarmawati juga memiliki anak yang juga penderita thalasemia. Ketika anaknya meninggal, beliau memutuskan untuk tidak bergabung dengan POPTI. Tetapi hatinya terpanggil untuk terus mengikuti dan bertanggung jawab atas anak-anak penderita thalasemia yang ada di Medan khususnya.

Wawancara berikutnya dilakukan pada tanggal 18 Maret 2016 di Rumah Sakit Umum Pusat H.Adam tepat di ruang praktek dr. Nelly. Ruang praketnya tapat dilantai dua RSUP.HAM. Ketika peneliti datang menemui beliau, saat itu beliau sedang menangai seorang pasien sehingga peneliti harus menunggu beberapa saat untuk bisa bertemu dengan dr.Nelly. Peneliti tiba di RSUPHAM pada pukul 09:15 Wib, wawancara dimulai tepat pada pukul 10:00 hingga pukul 12:30 Wib. Wawancara tidak berjalan lancar dikarenakan informan beberapa kali dipanggil oleh dokter lain untuk melihat kondisi pasien yang saat itu sedang gawat. Beberapa kali wawancara sempat terhenti namun dr.Nelly menjawab semua pertanyaan peneliti dengan baik. Walaupun sering sekali beliau menjawab dengan menggunakan istilah-istilah medis dalam menjawab beberapa pertanyaan peneliti. Karenakan pada saat itu dr.Nelly tidak memiliki cukup banyak waktu dalam melakukan wawancara, peneliti membuat janji untuk bisa melakukan wawancara kedua dengan beliau. Wawancara kedua dilakukan pada tanggal 21 Maret 2016. Wawancara masih dilakukan ditempat yang sama. Pada kesempatan kali ini wawancara pada siang hari ketika dr.Nelly sedang beristirahat. Wawancara kedua berjalan baik sama seperti wawancara pertama. dr.Nelly seorang dokter yang sangat ramah sehingga peneliti dapat menanyakan pertanyaan-pertanyaan penelitian dengan santai.

Wawancara pada informan ketiga juga dilakukan di RSUHAM dibagian spesialis anak yang berada di lantai dasar RSUHAM. Wawancara dilakukan pada tanggal 23 Maret 2016, pukul 09:00 hingga pukul 10:00. Wawancara berjalan dengan baik. Walaupun kendala yang dihadapi peneliti masih sama yaitu kendala dalam bahasa yang digunakan oleh informan yang menggunakan istilah istilah medis. Namun informan ketiga ini akan mengulang kembali jawabannya ketika peneliti menanyakan kembali jawaban beliau untuk yang kedua kali. Proses wawancara ini peneliti memiliki waktu yang sangat sedikit. Hal ini dikarenakan informan ketiga ini selain menjadi dokter di rumah sakit tersebut, beliau juga merupakan dosen yang bertanggung atas mahasiswa kedokteran yang sedang melakukan koas di rumah sakit itu. Dengan jam kerja yang begitu padat, beliau memberikan kesempatan bagi peneliti untuk bisa melakukan wawancara walaupun waktu yang diberikan tidak banyak.

Tahap berikutnya peneliti melakukan pemilihan informan sekunder yang dibutuhkan dalam pemenuhan metode tirangulasi data yang digunakan dalam penlitian ini. Informan sekunder berasal dari organisasi yang sama seperti YTI yaitu POPTI (Oerhimpunan Organisasi Thalasemia Indonesia) yang bergerak dalam menangani pasien dan juga orang tua penderita thalasemia.. Hidup dengan memiliki penyakit thalasemia mengaharuskan seseorang untuk bisa mendapatkan bantuan dari orang lain. Dalam hal ini POPTI merupakan organsasi yang membantu mereka mereka yang terkena penyakit thalasemia.

Pada tahap ini peneliti melakukan diskusi terlebih dahulu dengan ibu Sarmawati untuk menjelaskan informan sekunder seperti apa yang bisa dijadikan informan penelitian ini. Sebagai ketua POPTI kota Medan beliau tahu benar anggota-anggota yang bisa dijadian informan sekunder dalam penelitian ini. Sebelum memilih informan sekunder, Diskusi ringan pun berlangsung sebelum melakukan wawancara mendalam. Di dalam diskusi tersebut peneliti setuju untuk mewawancarai sekretaris dan humas dari POPTI.

Tahap awal proses wawancara dengan informan sekunder berjalan dengan baik. Tahap awal yang peneliti lakukan adalah melakukan observasi singkat dan berkunjung kerumah ibu Mursida selaku informan sekunder kedua di penelitian

ini. Rumah ibu murisda beralamat di jl. Karya Darma, Medan Johor. Kedatangan peneliti kembali disambut dengan sangat baik oleh beliau. Pada kunjungan yang dilakukan pada tanggal 15 april 2016 ini peneliti menjelaskan maksud dan tujuan kedatangan peneliti. Yang mana peneliti kembali mendapat respon yang sangat baik dari ibu Mursida. Ibu dari 3 orang anak ini merupakan seorang ibu rumah tangga dan juga sebagai sekretaris POPTI. Memiliki pengalaman yang sama dengan ibu Sarmawati dalam menangani thalasemia. Anak kedua beliau ada seorang pasien thalasemia, yang kini telah meninggal. Kepergian anak nya tersebut tidak lantas membuat ibu Mursida berhenti untuk membantu para orang tua penderita lain yang ada di kota Medan. Observasi tersebut berjalan dengan baik dan menghabiskan sekitar satu hingga satu jam setengah, dimulai pada jam 14:00 hingga 15:00 wib. Masih dihari yang sama peneliti membuat janji untuk bertemu kembali dengan beliau untuk melakukan wawancara mendalam. Proses wawancara berikutnya jatuh di hari senin tanggal 5 April 2016. Wawancara dilakukan pada jam 10:00 hingga pukul 13:25 wib. Wawancara dilakukan di kediaman ibu Murisda. Proses wawancara berjalan dengan baik.

Proses wawancara dengan informan sekunder kedua juga sama dengan informan pertama. Peneliti dengan ditemani oleh ibu Sarmawati mengunjungi rumah ibuSutina selaku bendahara dan juga humas dari POPTI. Ibu empat orang ini selalu giat dalam menyebarluaskan informasi thalasemia kepada siapapun dan dimanapun. Kunjungan pertama dilakukan pada tanggal 6 april 2015. Rumah ibu Sutina. terletak di daerah kampung durian Medan. Sama seperti ibu Sarmawati dan ibu Mursida, beliau juga sudah cukup lama bergabung dengan POPTI. Pada kesempatan tersebut peneliti memperkenalkan diri dan menjelaskan masksud dan tujuan kedatangan peneliti. Antusianme yang ditunjukkan oleh ibu ... membuat peneliti merasa senang. Beliau mengaku tidak keberatan untuk melakukan wawancara. Beliau juga mengaku siap kapan saja untuk diwawancara. Dua hari kemudian tepat tanggal 8 April 2016 peneliti datang untuk melakukan wawancara mendalam dengan informan sekunder kedua ini. Peneliti datang pada pukul 13:15 wib, yang mana disaat itu ibu Sutina. masih belum pulang berjualan. Akhirnya peneliti menunggu hingga pukul 13:30 untuk melakukan wawancara. Wawancara

berlangsung cukup lama dengan ibu Sutina. ini. Wawancara dilakukan tepat pada pukul 14:00 hingga 16:45 menit. IbuSutina dengan sangat baik dan detail dalam menjawa semua pertanyaan yang diajukan oleh peneliti.

4.1 Tabel Karakeristik Informan

No Nama P/L Pendidikan

terakhir Jabatan Agama Alamat

1 Sarmawati P SMA a. Ketua

POPTI b. Wakil

Ketua YTI

Islam Jl.Pintu Air IV Komp. Polmed No.27 Medan 2 dr.Nelly Rosdiana M.ked(Ped,SpA(K) P Dokter spesialis Anak FK Tim Medis dan Bendahara YTI Islam

3 Prof. dr. Bida Sari Lubis, SpA(K) P Dokter spesialis Anak FK Tim Medis YTI Islam Jl. Bunga Asoka no.38 Medan 20133 4 Mursida P D3 Ekonomi USU Sekretasris POPTI Islam Jl. Karya Darma, Johor

5 Sutina P SMA Bendahara

POPTI

Islam Kampung durian.

Sumber: Hasil Wawancara Penelitian, 7 Juli 2016

4.1.3 Hasil Wawancara dan Pengamatan 4.1.3.1 Informan Primer Pertama

Nama : Sarmawati

Tanggal wawancara : 10 Maret 2016 Waktu wawancara : 10:00 – 12:00 WIB

Tempat wawancara : Rumah Ibu Sarmawati Jl.Pintu Air IV komp.Polmed No.27

Ibu Sarmawati, seorang ibu dari empat orang enak dan juga seorang istri yang sangat baik. Beliau merupakan seorang pribadi yang sangat ramah, baik hati, sederhana dan juga memiliki rasa solidaritas yang tinggi. Hal ini terlihat dari bagaimana ia menjalankan tugasnya sebagai seorang pengurus organisasi YTI dan POPTI. Awalnya setelah sang anak yang menderita thalasemia meninggal dunia, ia memutuskan untuk tidak lagi ikut bergabung ke dalam organisasi ini, tetapi

panggilan hati untuk terus membantu sesama dan juga membantu pasien thalasemia membuatnya kekeh untuk tetap mendedikasikan dirinya sebagai pengurus YTI dan POPTI.

Beliau mendapati anaknya yang paling bungsu, Chairunnisa terus menerus sakit ketika Nisa berumur 1 tahun 8 bulan. Beliau segera membawa anaknya kerumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Awalnya beliau tidak percaya dengan diagnosis dokter yang mengatakan bahwa anaknya menderita thalasemia. Beliau mengungkapkan bahwa betapa terkejutnya ia ketika mendapati Nisa didiagnosis menderita penyakit yang tidak dapat disembuhkan.

Ibu kaget pas dokter bilang nisa kena thalasemia. Lebih terkejut lagi pas dokter bilang thalasemia ini diturunkan dari orang tua yang punya gen pembawa sifat thalasemia.”

Setelah mendengarkan penjelasan dokter, ibu Sarmwati akhirnya mencoba menerima kondisi anaknya. Walaupun dia masih bingung. Ibu Sarmawati merasa bahwa ia sangat sehat dan suaminya juga sama - sama sehat bisa menurunkan suatu penyakit yang hingga kini tidak ada obatnya. Hanya ada tranfusi darah dan obat kelasi yang dapat membantu Nisa untuk bertahan hidup. Layaknya orang tua lain, ibu Sarmawati mencoba mencari pengobatan lain. Sanak saudara beliau banyak yang mengatakan bahwa Nisa terkena penyakit palasik. Dalam bahasa kampung atau tradisional penyakit palasik adalah penyakit yang menyebabkan darah dalam tubuh seseorang berkurang dengan skala banyak. Banyak saudara yang menyarankan kepada beliau untuk membawa Nisa berobat kampung atau berobat kepada orang orang pintar. Hingga akhirnya ibu Sarmawati pergi keberbagai daerah seperti Surabaya, Jakarta dan Padang untuk mendapatkan pengobatan tradisional. Namun tidak ada hasil yang terlihat. Hingga akhirnya beliau memutuskan untuk melakukan perobatan secara medis. Disitulah beliau pertama kali mengenal Perhimpunan Orang Tua Penderita Thalasemia atau yang disingkat dengan POPTI.

“Setelah ibu kesana kemari berobat tradisional akhirnya yang namanya penyakit pasti yang ngobati dokter kan. Jadi akhirnya ibu dan ayahnya Nisa mutusin berobat di Medan aja. Berobat sama dokter yang bilang kalau Nisa itu kena Thalasemia.

Awal sekali POPTI ini merupakan organisasi yang meanggulangi thalasemia. Awalnya. POPTI memiliki lingkup kerja daerah kota Medan dan Aceh tapi beberapa tahun kemudian dibentuklah POPTI untuk masing masing kota dan ditunjuklah ibu Sarmawati sebagai ketua POPTI cabang kota Medan. POPTI Medan diresmikan pada tahun 2008 dan masih aktif hingga sekarang. Sebagai ketua POPTI ibu Sarmwati memiliki banyak tanggung jawab. Mulai dari mencari dana untuk para anak-anak penderita thalasemia hingga mendapatkan donor darah untuk para penderita thalasemia.

Chairunnisa akhirnya tutup usia pada saat ia berumur 13 tahun. Usia yang masih belia. Semasa hidupnya, ia selalu menjalani pengobatan secara terus menerus tanpa henti. Sebagai seorang ibu, Ibu Sarmawati selalu mencari dana agar anaknya mendapatkan transfusi darah setiap bulan. Transfusi darah dan obat kelasi besi membutuhkan dana yang cukup banyak. Yang mana saat itu ibu Sarmawati

Dokumen terkait