• Tidak ada hasil yang ditemukan

4.3 Uji Keabsahan Data

4.3.3 Triangulasi Waktu Subyek C

Peneliti dan subyek C1, sebelumnya sudah saling kenal, jadi pada saat melakukan wawancara, peneliti tidak merasa kesulitan. Pada saat melakukan wawancara untuk yang ketiga kalinya, pada tanggal 04 September 2013 pukul 06.15 WIB bersamaan di warung pada saat beli makan, C1 mengaku jika C belum juga mandi, subyek mengaku tidak memotivasi C untuk mandi, karena subyek sudah malas dan bosan.Subyek C1 juga mengatakan merasa malas karena sudah mencium bau tidak enak.

“itu mba, belum mandi juga, kemaren waktu ngasi makan, kamarnya sudah bau, kukunya juga sudah kotor mba..kan

70 aku intip mba..kan kemaren mba sudah liat ada sedikit lubang, jadi aku bisa liat mba”

“ya ndak mba.aku sudah malas mba..biarin aja..wong dia pasti tau kok, dia kayak gitu mba”

“ndak mba, biarin aja”

Subyek C1tidak pernah lagi memberikan motivasi, subyek merasa sudah capek dan juga subyekmengatakan, jika dalam beberapa hari pulang telat, jadi kurang memperhatikan C. Subyek C1 melihat C hanya pada saat memberikan makanan kepada C. Subyek mengatakan belum pernah ngobrol sama C, karena C yang hanya tinggal di kamar dan C1 jarang melihat C keluar. C1 juga mengatakan sudah merasa bosan dan malas untuk berbicara dan memotivasi adiknya.

“iya ikh mba..akhir-akhir ini juga aku malas pulang cepat mba..jadi aku kurang memperhatikan dia, dan palingan juga kalau pulang dari sekolah ya saya kan istirahat mba..kan saya juga capek. Ya palingan kan pas kasih makan baru lihat dia. Yah aku juga sudah malas mba, kayak mba bilang motivasi atau apa..kesabaranku ya sudah habis to mba...yah,,tapi kayak gitu tetap tak kasih makan mba..(sambil

tertawa)..nanti kalau ngak dikasi makan,,dia pie

mba..(tertawa)..iya to mba...” 4.4 Pembahasan

Menurut Kumfo (1995) keluarga adalah sebagai sumber dukungan sosial yang dapat menjadi faktor kunci dalam penyembuhan klien ganguan jiwa. Walaupun anggota keluarga tidak selalu merupakan sumber positif dalam kesehatan jiwa, keluarga paling sering menjadi bagian penting dalam penyembuhan (dalam Videbeck, 2002). Jadi,

71 keluarga adalah sangat berperan penting bagi kesembuhan klien dengan memberikan berbagai dukungan. Salah satu nilai keluarga yang penting adalah menganggap keluarga sebagai tempat untuk memperoleh kehangatan, dukungan, cinta dan penerimaan (Friedman, 1998). Dukungan sosial yang diberikan menguatkan kepercayaan diri dan harga diri klien serta sebagai penguatan secara interpersonal terutama dalam menyelesaikan masalah (Videbeck, 2008).Terutama bagi individu dengan gangguan jiwa dengan harga diri rendah dukungan keluarga sangat penting guna untuk membangun tingkat kepribadian yang baik, sehingga bisa kembali di lingkungan sosial, karena individu dengan gangguan harga diri rendah mengalami gangguan dalam kepribadiannya, sehingga dukungan keluarga sangat dibutuhkan.

Menurut House ada empat bentuk dukungan yang diberikan keluarga yaitu: dukungan emosional, dukungan informasional, dukungan instrumental dan dukungan penilaian (dalam Setiadi, 2008). Pada ketiga partisipan dari hasil penelitian bahwa keluarga tidak memberikan dukungan secara maksimal kepada klien dengan harga diri rendah, hal ini bukan hanya faktor dari keluarganya sendiri akan tetapi dari faktor kepribadian yang yang dimiliki oleh setiap klien. Sifat yang dimiliki setiap klienyang seharusnya dibutuhkanusaha dan kesabaran dalam proses perawatan yang dilakukan oleh keluarga. Keluarga mengetahui mengenai pentingnya dukungan terhadap setiap subyek, akan tetapi keluarga merasa sudah bosan dan malas, karena tidak adanya

72 perubahan terhadap setiap subyek, hal ini membuat keluarga lebih memilih untuk diam. Dalam hal ini adanya motivasi dari keluarga sendiri, dapat mempengaruhi terhadap tingkat kesembuhan klien dengan harga diri rendah, seperti penelitian yang dilakukan oleh Yuliana (2010) mengenai motivasi keluarga dalam memberikan dukungan terhadap klien gangguan jiwa, mengatakan bahwa masih banyak keluarga dan lingkungan yang kurang memberikan dukungan terhadap klien gangguan jiwa, sehingga klien dengan gangguan jiwa semakin tidak bisa mempertahankan konsep diri yang positif sehingga kesembuhan pun akan sering terjadi.

. Dalam dukungan emosional hal-hal yang perlu diperhatikan adalah kasih sayang, perhatian, kepedulian dan empati. Individu dengan harga diri rendah adalah individu yang kehilangan kasih sayang, perlakuan orang lain yang mengancam dan hubungan interpersonal yang mengancam (Yosep, 2007). Menurut Brehm & Kassin (1993) bahwa pemberian kasih sayang merupakan salah satu bentuk dukungan sosial yang berupa bantuan fisik, yaitu interaksi mendalam yang mencakup pemberian kasih sayang dan kesediaan mendengarkan permasalahan. Jadi, dengan adanya pemberian dukungan emosional maka akan membantu kesembuhan anggota keluarga yang sakit seperti yang dikatakan oleh Buchanan (1995) bahwa individu yang mendapat dukungan emosional telah terbukti jauh lebih sehat dari pada individu yang tidak mendapat dukungan (dalam Videbeck, 2008). Dengan

73 adanya pemberian dukungan emosional tidak hanya membuat lebih sehat akan tetapi dapat meningkatkan tingkat kepercayaan diri terutama bagi klien dengan harga diri rendah, seperti yang diungkapkan oleh Santrock (2003) salah satu cara untuk meningkatkan kepercayaan diri adalah dengan memberikan dukungan emosional.

Individu dengan harga diri rendah adalah individu dengan tingkat kepercayaan yang sangat rendah, sehingga dukungan emosional sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kepercayaan individu tersebut.Dalam melakukan perawatan dan memberikan kasih sayang, keluarga harus memiliki tingkat kesabaran yang tinggi karena dengan perilaku harga diri rendah keluarga bisa merasa memiliku suatu beban, seperti penelitian yang dilakukan oleh Papastavrou (2010) bahwa merawat individu dengan gangguan jiwa adalah situasi yang sangat kompleks yang dapat mengakibatkan emosional, fisik, beban sosial dan ekonomi bagi keluarga. Dengan beban yang dirasakan keluarga dapat mempengaruhi keluarga dalam memberikan pelayanan, keluarga tidak bisa memberikan dukungan yang efesien untuk memberikan layanan yang memuaskan.

Jadi, individu dengan harga diri rendah saat kembali ke lingkungan rumah, dukungan kasih sayang yang dari keluarga sangat dibutuhkan dalam proses pemulihan. Keberadaan keluarga dapat membuat rasa aman dan nyaman sehingga menambah kepercayaan diri

74 karena meyakini bahwa ada keluarga yang selalu mencintai, memperhatikannya dan selalu siap untuk memberi dukungan.

Dalam penelitian ini ditemukan hasil bahwa ketiga subyek A1, B1,C1 tidak memberikan dukungan emosional secara maksimal. Dari hasil wawancara yang menjadi alasan tidak bisa memberikan perhatiaan dan kepedulian yang maksimal adalah karena sibuk dengan pekerjaan dan keluarga masing-masing. Bentuk kepedulian dan kasih sayang keluarga hanya ditunjukkan dengan menyediakan makanan yaitu pada subyekA1, B1,C1. Ketiga subyek mengaku tidak memiliki banyak waktu untuk memberikan perhatian karena sibuk dengan pekerjaan dan keluarga masing-masing. Jika fokus keluarga dalam memberikan kasih sayang dan bentuk kepedulian hanya dalam memberikan makanan, maka hal itu tidak akan bisa membangun tingkat kepercayaan diri, karena tidak adanya hubungan langsung secara pribadi

Pada klien gangguan jiwa lingkungan keluarga berperan dalam merawat untuk meningkatkan keyakinan pasien akan kesembuhan dirinya, peran keluarga yang baik dengan memberikan motivasi dalam proses penyembuhan dan rehabilitasi diri, karena dengan suasana di dalam keluarga yang mendukung maka akan menciptakan perasaan positif dan perasaan berarti bagi klien itu sendiri (Nurdiana, 2007). Salah satunya adalah dengan gangguan konsep diri harga diri rendah, pasien dengan harga diri rendah sangat membutuhkan dukungan dari keluarga karena jika dalam keluarga tidak terpenuhinya interaksi yang

75 memuaskan atau mengakibatkan frustasi maka hal itu akan mengakibatkan tekanan psikis (Potter, 2005).

Individu dengan harga diri rendah timbul dari kurangnya kepercayaan pada kemampuan dirinya sendiri. Orang yang tidak menyenangi dirinya, merasa bahwa dirinya tidak akan mampu mengatasi persoalan. Orang yang kurang percaya diri akan cenderung menghindari komunikasi. Individu tersebut takut orang lain mengejeknya dan menyalahkannya, sehingga akan lebih banyak diam. Dalam situasi seperti ini, ketika individu tersebut berada di rumah, dukungan keluarga sangat berarti, keluarga yang harus menopang dan berusaha dalam mengembangkan kepercayaannya (Rakhmat, 2003). Maka dari hal itu, sangat diperlukan dukungan dari keluarga berupa nasihat ataupun arahan, supaya dapat membantu dalam meningkatkan tingkat kepercayaan diri.

Menurut House dukungan keluarga secara informasional adalah bantuan informasi yang disediakan agar dapat digunakan oleh seseorang dalam menanggulangi persoalan-persoalan yang dihadapi, meliputi pemberian nasehat, pengarahan, ide-ide atau informasi lainnya yang dibutuhkan oleh informasi ini dapat disampaikan kepada orang lain yang mungkin menghadapi persoalan yang sama tau hampir sama (dalam Setiadi, 2008). Akan tetapi berbeda dengan penelitian ini, dalam penelitian ini setiap subyek tidak lagi menerapkan betapa pentingnya memberikan arahan kepada setiap klien dengan harga diri rendah,

76 subyek A1, B1, C1 tidak lagi memberikan nasihat ataupun arahan dikarenakan subyek mengaku sudah putus asa, merasa bosan dan malas, sehingga subyek memilih untuk diam, hal ini karena faktor pemberi dukungan dan faktor penerima dukungan. Penerima dukungan yang memiliki sifat yang tidak cepat merespon apa yang dikatakan oleh pemberi dukungan.

Subyek A1, C1, mengaku sudah merasa bosan dan malas memberikan arahan, partisipan mengatakan sudah berulang kali memberikan nasihat dan arahan, akan tetapi tetap tidak ada perubahan terhadap subyek, hal itu yang mengakibatkan subyek merasa bosan dan lebih memilih untuk diam. Pada subyek B1 mengaku tidak pernah memberikan nasihat ataupun arahan, hal ini karena kondisi subyek yang sangat tidak memungkinkan untuk diberikan arahan, dan juga karena partisipan B1 ingin fokus pada keluarga sendiri dan pekerjaan yang menjadi alasan subyek.

Pentingnya peran keluarga dalam gangguan jiwa dapat dipandang dari berbagai segi. Salah satunya adalah keluarga sebagai tempat dimana individu melalui hubungan interpersonal dengan lingkungannya. Keluarga sebagai “institusi’ pendidikan utama bagi individu untuk belajar dan mengembangkan nilai, keyakinan, sikap dan perilaku (Clement dan Buchanan, 1982). Individu menguji coba perilakunya di dalam keluarga, dan umpan balik keluarga mempengaruhi individu dalam mengadopsi perilaku tertentu. Semua ini

77 merupakan persiapan individu untuk berperan dimasyarakat. Jika keluarga dipandang sebagai suatu sistem maka gangguan yang terjadi pada salah satu anggota merupakan salah satu penyebab gangguan pada anggota. Salah satu faktor penyebab kambuh gangguan jiwa adalah keluarga yang tidak tahu cara menangani perilaku klien di rumah (Sulinger, 1998). Menurut Stuart dan Sundeen (1995) dukungan keluarga merupakan unsur terpenting dalam membantu individu menyelesaikan masalah, jika ada dukungan, rasa percaya diri akan bertambah dan motivasi untuk menghadapi masalah yang terjadi akan meningkat.

Dukungan keluarga merupakan unsur terpenting dalam membantu individu dalam menyelesaikan masalah. Apabila ada dukungan, rasa percaya diri akan bertambah dan motivasi untuk menghadapi masalah yang terjadi akan meningkat (dalam Tamer, 2009).

Pada saat melakukan penelitian, sangat berbeda dengan yang dilakukan oleh keluarga, keluarga mengerti tentang pentingnya motivasi dan dukungan dari keluarga tapi keluarga tidak mampu untuk memberikannya disebabkan oleh beberapa faktor. Seharusnya keluarga lebih mempertahankan motivasi dan terus memberikan dukungan terhadap keluarga dengan harga diri rendah karena akan dapat membantu kesembuhan, seperti penelitian yang dilakukan oleh Mary dkk (2005) mengenai rumah, dukungan sosial dan skizofrenia, hasil dari

78 penelitian ini mengatakan bahwa individu dengan skizofrenia ketika berada lingkungan rumah, penderita akan merasa lebih aman, dan juga akan memiliki peluang yang besar untuk dapat berkontribusi lebih banyak, memiliki pengalaman bersosialisasi ketika penderita menerima dukungan dari keluarga dan juga teman. Dalam hal ini dapat diketahui bahwa individu dengan gangguan jiwa sangat membutuhkan dukungan dan motivasi.

Dari hasil penelitian ketigasubyek A1, B1,C1 memiliki pengalaman yang sama dalam memberikan motivasi, di mana semua partisipan tidak lagi memberikan motivasi terhadap keluarga yang mengalamai gangguan jiwa harga diri rendah dengan alasan keluarga sudah merasa putus asa dan capek karena ketika keluarga memberikan motivasi ataupun dukungan keluarga dengan gangguan jiwa tidak merespon dengan baik dan juga karena faktor dari kepribadian pasiennya sendiri.

Dalam hal ini dukungan yang sudah diberikan oleh keluarga termasuk dukungan untuk tetap rutin minum obat, bersosialisasi dan kegiatan sehari-harinya termasuk dalam bekerja. Selain dari minum obat secara rutin, keluarga juga harus mendukung dan memberikan arahan supaya ikut serta dalam kegiatan sehari-hari karena hal itu akan melatih klien aktif, karena salah satu gejala dari individu dengan harga diri rendah adalah penurunan produktivitas dan perasaan tidak mampu

79 (Yosep, 2007). Jadi, untuk melatih kemampuan, keluarga harus secara perlahan untuk mengikut sertakan dalam kegiatan keseharian.

Dukungan instrumentalyaitu dukungan keluarga yang berupa barang dan jasa yang dapat membantu kegiatan individu. Bantuan bentuk ini bertujuan untuk mempermudah seseorang dalam melakukan aktifitasnya berkaitan dengan persoalan-persolan yang dihadapinya, atau menolong secara langsung kesulitan yang dihadapinya, misalnya dengan menyediakan peralatan lengkap dan memadai bagi penderita, menyediakan obat-obatan yang dibutuhkan dan lain-lain.Hasil penelitian yang dilakukan oleh Widyaningsih (2013) mengenai gambaran proses pemulihan penderita gangguan mental mengatakan bahwa dalam proses pemulihan gangguan mental butuh dukungan keluarga terutama dalam aktivitas, kebutuhan sehari-hari, pengawasan obat dan kontrol kesehatan dan juga dalam bidang financialpenderita membutuhkan adanya perhatian lebih menyangkut fasilitas kontrol kesehatan dan keterlibatan untuk berfikir atau konflik dalam rumah tangga. Dalam penelitian ini hal yang sama selalu dilakukan oleh ketiga subyek, subyek A1, B1,C1 selalu menyediakan semua kebutuhan hidup setiap klien, begitu juga dengan obat klien, dari awal sudah menyediakan dan sudah memberikan arahan agar minum obat secara rutin, akan tetapi faktor dari kliennya sendiri yang tidak mau minum obat, hingga akhirnya subyek berhenti untuk mengontrol, supaya tetap minum obat, hal ini terdapat pada ketiga subyek.

80 Individu dengan harga diri rendah memiliki karakteristik sulit untuk bergaul atau susah untuk bersosialisasi (Yosep, 2007), maka keluarga yang berperan penting dalam membantu individu untuk bisa bersosialisasi dimasyarakat, yang mana di awali dalam keluarga. Penelitian yang dilakukan oleh Prinda (2010) tentang hubungan antara dukungan keluarga dengankeberfungsian sosial pada pasien skizofreniapasca perawatan di rumah sakit bahwa semakin tinggi dukungan keluarga, semakin tinggi pula keberfungsian sosial pasien, sebaliknya semakin rendah dukungan keluarga, semakin rendah pula keterfungsian sosial pasien Skizofrenia pascaperawatan di Rumah Sakit. Didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh Wan dkk (2011) mengenai evaluasi dukungan sosial keluarga terhadap harga diri dalam kepuasan hidup, dalam penelitian ini mengungkapkan bahwa dukungan sosial memiliki hubungan yang kuat dengan kepuasan hidup dalam meningkatkan kesehatan fisik dan mental seseorang dan juga ketika diberikan dukungan keluarga maka juga akan meningkatkan harga diri yang mana dapat meningkatkan kesejahteraan, kepuasan hidup dan juga dalam pergaulan dengan teman-teman baik dalam hal dunia kerja.

Jadi, keluarga memiliki peranan penting dalam membangun kesehatan mental klien dengan harga diri rendah dan juga dalam bersosialisasi. Akan tetapi dalam penelitian ini, semua partisipan tidak lagi memberikan dukungan sosialisasi. Pada subyek A1 dan B1 tidak pernah memberikan dorongan terhadap subyek untuk bersosialisi di

81 masyarakat sedangkan subyek C1 merasa sudah bosan dalam memberikan dorongan, sehingga untuk saat ini subyek C1 tidak pernah memberikan dorongan kepada subyek C untuk bersosialisasi. Ketika tidak adanya dukungan dari keluarga, maka pasien dengan gangguan jiwa pun tidak akan mampu untuk bersosialisasi diluar lingkungan rumah, karena awal dari sosialisasi diawali dan dilakukan oleh keluarga atau dari dilingkungan rumah, ketika tidak mampu di lingkungan rumah, di lingkungan luar juga tidak akan mampu, karena tidak memiliki dasar yang kuat dari keluarga. Selain dukungan untuk bersosialisasi ketiga partisipan juga tidak lagi memberikan motivasi kepada setiap subyek untuk mau beraktivitas atau melakukan pekerjaan di rumah, setiap partisipan tidak mau memaksa dan lebih memberikan kebebasan kepada subyek.

Tidak hanya pentingnya dalam melibatkan setiap klien dalam suatu kegiatan, akan tetapi setiap penilaian yang positif juga sangat perlu diberikan kepada klien ketika berhasil atau mampu melakukan suatu kegiatan guna untuk membangun kepercayaan diri. Akan tetapi dari semua dukungan yang diberikan oleh keluarga, dukungan penilaian atau penghargaan adalah hal yang paling jarang diberikan. Hal ini disebabkan keluarga merasa tidak terbiasa untuk mengungkapkannya (Wurtiningsih, 2012).

Dalam dukungan penilaian tugas keluarga adalah keluarga bertindak sebagai sebuah umpan balik, membimbing dan menengahi

82 pemecahan masalah sebagai sumber dan validator identitaskeluarga.Menurut House penghargaan yang diberikan seseorang kepada pihak lain berdasarkan kondisi sebenarnya dari penderita. Penilaian ini bisa positif dan negatif yang berpengaruhnya sangat berarti bagi seseorang. Berkaitan dengan dukungan sosial keluarga maka penilaian yang sangat membantu adalah penilaian positif (dalam Setiadi, 2008). Individu dengan harga diri rendah sering kali sulit mengakui sifat positif yang dimiliki. Individu tersebut juga kurang memiliki keterampilan memecahkan masalah sehingga membutuhkan bantuan untuk merumuskan suatu perubahan yang diharapkan. Untuk itu diperlukan umpan balik yang positif dari pihak keluarga ketika berada di lingkungan rumah karena umpan balik positif dapat meningkatkan harga diri dan menolong pengulangan perilaku yang diharapkan (Townsend, 1998).

Dengan adanya umpan balik positif atau penghargaan yang diberikan oleh keluarga, maka hal ini akan memberikan rasa nyaman terhadap klien dengan harga diri rendah, dan juga sebagai bentuk dari kasih sayang dari keluarga (Bastable, 2002). Untuk itu, penilaian yang positif sangat penting diberikan oleh keluarga terhadap anggota keluarga dengan harga diri rendah untuk membantu meningkatkan harga dirinya. Memberikan umpan balik terhadap gangguan jiwa hal itu merupakan menguatkan upaya klien untuk berinteraksi dengan orang lain dan memberikan informasi yang positif yang spesifik tentang

83 perbaikan perilaku, dengan adanya penilaian positif dapat meningkatkan tingkat harga diri. Selain itu juga, memberikan pujian terhadap orang lain dapat meningkatkan perasaan yang positif (Vidbeck, 2008). Akan tetapi hal yang berbeda dilakukan oleh setiap keluarga ketika melakukan penelitian, yaitu subyek B1 dan C1 mengatakan jika tidak terbiasa memberikan pujian walaupun sudah mengerti tentang pentingnya memberikan suatu penilaian yang positif, sedangkan pada subyekA1 mengaku jika awalnya sering memberikan pujian terhadap subyek A jika mau melakukan pekerjaan, hal itu dilakukan semata untuk membuat subyek A senang.

Dokumen terkait