BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Karakteristik Demografi Responden
4. Triceps skinfold thickness
5. Body Fat Percentage/BFP (%) 20,67±7,16* 0,200
6. HbA1c (%) 5,63(4,66-9,94)** 0,000
Keterangan: * Mean±Standar Deviasi
** Median (Minimum-maksimum) p > 0,05 berarti data terdistribusi normal
1. Umur
Responden pada penelitian ini adalah pria dewasa dengan rentang umur 40-50 tahun yang menurut Ranasinghe et al. (2013), termasuk dalam rentang umur middle-aged (40-69). Middle-aged merupakan rentang usia transisi antara dewasa muda dan lanjut usia (Papalia, et al., 2008). Rata-rata umur responden pada penelitian adalah 44,48 tahun dengan nilai SD ± 2,93. Distribusi umur yang diperoleh dari uji normalitas Kolmogorov-Smirnov dihasilkan nilai p = 0,070 yang menunjukkan bahwa data umur responden terdistribusi normal.
Penelitian yang dilakukan oleh Ranasinghe et al. (2013) pada 1114 responden dengan 49,1% laki-laki, menunjukkan bahwa dengan adanya peningkatan umur maka BF% juga akan meningkat dengan bentuk kurva yang linear. Peningkatan lemak di dalam tubuh yang berlebihan (obesitas) yang ditunjukkan dengan meningkatnya body fat percentage juga dapat menjadi salah satu faktor risiko dari penyakit diabetes melitus. Penelitian yang dilakukan oleh Ravikumar, Bhansali, Walia, Shanmugasundar and Ravikiran (2011), menunjukkan adanya korelasi positif yang signifikan antara rata-rata HbA1c dan umur responden (r=0.308, p<0.001). Penelitian ini dilakukan pada 1317 subjek yang memiliki toleransi glukosa normal. Menurut American Diabetes Association
(2013), semakin bertambah tua atau umur manusia, semakin menambah berkembangnya risiko penyakit diabetes. Menurut International Diabetes Federation (2013), hampir setengah dari semua orang dewasa penderita diabetes berada pada rentang umur 40-59 tahun.
2. Abdominal skinfold thickness
Pada penelitian ini nilai rata-rata abdominal skinfold thickness yang didapatkan adalah sebesar 30,03 mm dengan SD ± 11,85. Nilai rata-rata
abdominal skinfod thickness yang didapatkan termasuk dalam ukuran abdominal skinfod thickness di atas nilai tengah, di mana nilai tengah dari abdominal skinfod thickness untuk responden pria pada penelitian ini adalah 29,91 mm.
Uji normalitas data responden menggunakan Kolmogorov-Smirnov
menunjukkan nilai p = 0,200 yang berarti bahwa data abdominal skinfold thickness responden pada penelitian ini terdistribusi secara normal.
Menurut Hoeger and Hoeger (2014), bagian anatomi yang tepat untuk pengukuran skinfold thickness pada pria adalah bagian abdomen. Abdominal skinfold thickness merupakan salah satu dari lima bagian yang sering digunakan untuk pengukuran skinfold thickness (Kotecki, 2014). Menurut Demura and Sato (2007), pengukuran skinfold thickness di bagian abdominal merupakan salah satu bagian pengukuran skinfold thickness yang memiliki hasil standar eror lebih kecil dibandingkan pada bagian yang lain.
3. Suprailiac skinfold thickness
Nilai tengah pengukuran suprailiac skinfols thickness pada penelitian ini adalah 19,41 mm. Nilai median ini termasuk di atas normal karena nilai normal
dari pengukuran suprailiac skinfold thickness adalah sebesar 17,9 mm. Nilai tertinggi dari pengukuran suprailiac skinfold thickness dari penelitian ini sebesar 50,17 mm di mana data ini hampir mecapai 3 kali dari nilai normal. Nilai terendah untuk pengukuran suprailic skinfold thickness pada penelitian ini adalah 4,00 mm merupakan nilai yang sangat rendah. Hasil dari uji normalitas menggunakan
Kolmogorov-Smirnov menunjukkan nilai p = 0,005 yang berarti distribusi data pengukuran suprailiac skinfold thickness tidak normal.
Menurut Hoeger and Hoeger (2014), bagian anatomi yang tepat untuk pengukuran skinfold thickness pada pria adalah bagian suprailiac. Suprailiac skinfold thickness merupakan salah satu dari lima bagian yang sering digunakan untuk pengukuran skinfold thickness (Kotecki, 2014). Menurut Demura and Sato (2007), pengukuran skinfold thickness di bagian suprailiac merupakan salah satu bagian pengukuran skinfold thickness yang memiliki hasil standar error lebih kecil dibandingkan pada bagian yang lain.
Pengukuran suprailiac skinfold thickness merupakan parameter untuk menilai obesitas yang termasuk dalam obesitas sentral (Indriati, 2010). Obesitas sentral merupakan salah satu faktor risiko munculnya resistensi insulin yang dapat berkembang menjadi penyakit diabetes melitus tipe 2.
4. Triceps skinfold thickness
Pengukuran triceps skinfold thickness pada penelitian ini memiliki nilai rata-rata sebesar 13,02 mm dengan SD ± 5,87. Nilai rata-rata dari triceps skinfold thickness ini termasuk dalam nilai di atas normal di mana nilai normal pengukuran
skinfold thickness menggunakan Kolmogorof-Smirnov menunjukkan nilai p sebesar 0,200 yang menunjukkan bahwa hasil pengukuran triceps skinfold thickness pada penelitian ini terdistribusi secara normal.
Menurut Hoeger and Hoeger (2014), bagian anatomi yang tepat untuk pengukuran skinfold thickness pada pria adalah bagian tricepss. Triceps skinfold thickness merupakan salah satu dari lima bagian yang sering digunakan untuk pengukuran skinfold thickness (Kotecki, 2014).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Imano et al. (2012), pengukuran skinfold thickness termasuk pengukuran triceps dan subscapular skinfold thickness dapat digunakan untuk mendapatkan gambaran jangka panjang yang lebih jelas mengenai pengaruh distribusi lemak tubuh terhadap faktor risiko beberapa penyakit, jika dibandingkan dengan menggunakan pengukuran BMI.
5. Body fat percentage
Nilai body fat percentage pada penelitian ini didapatkan melalui pengukuran skinfold thickness yang dilakukan pada tiga bagian yaitu abdominal skinfold thickness, suprailiac skinfold thickness, dan tricepss skinfold thickness.
Rata-rata nilai body fat percentage responden pria pada penelitian ini sebesar 20,67% dengan nilai SD ± 7,16. Nilai rata-rata yang didapatkan menunjukkan data body fat percentage berada pada tingkat normal. Nilai terendah body fat percentage pada penelitian ini adalah 5,14% yang termasuk dalam kelas
underweight, sedangkan untuk nilai tertinggi body fat percentage dalam penelitian ini termasuk dalam kelas obesitas dengan nilai 37,52%. Nilai p yang dihasilkan dari uji normalitas menggunakan metode Kolmogorov-Smirnov pada penelitian ini
adalah sebesar 0,200. Dari nilai p dapat disimpulkan bahwa nilai body fat percetage responden terdistribusi normal.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Gomez et al. (2001), menunjukkan hasil bahwa penilaian body fat percentage dapat lebih membantu untuk mendiagnosa adanya gangguan toleransi glukosa jika dibandingkan dengan informasi yang diperoleh dari BMI (25.2 ± 9.0 vs. 19.9 ± 8.0%, p = 0.008) khususnya pada subjek pria dengan BMI < 25kg/m2 dan di atas 40 tahun.
6. HbA1c
Data HbA1c pada penelitian ini memiliki nilai median 5,63% dengan nilai minimal dan maksimal berturut-turut adalah 4,66 dan 9,94. Nilai maksimal dan minimal dari HbA1c masih termasuk kedalam nilai normal, sedangkan nilai maksimal HbA1c termasuk dalam kategori diabetes. Nilai normal HbA1c pada adalah < 5,7%. Uji normalitas HbA1c dilakukan dengan menggunakan
Kolmogorov-Smirnov menghasilkan nilai p = 0,000. Nilai p ini menunjukkan bahwa nilai HbA1c pada penelitian ini tidak terdistribusi normal.
Menurut National Glycohemoglobin Standardization Program (2014), pengukuran HbA1c dapat dipengaruhi oleh variasi genetik, modifikasi kimia derivat hemoglobin, masa hidup eritrosit lebih pendek atau penurunan rata-rata umur eritrosit. Nilai hemoglobin seseorang juga dapat berpengaruh pada hasil pengukuran HbA1c karena pada pengukuran HbA1c glukosa yang diukur merupakan glukosa yang terikat kuat pada hemoglobin sehingga jika hemoglobin seseorang terlalu rendah atau di bawah nilai normal maka dapat menggagu hasil, dari pengukuran HbA1c. Menurut penelitian Wright et al. (2013), pada 384
sampel peningkatan nilai HbA1c dapat dipengaruhi karena adanya peningkatan nilai body fat percentage. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Ravikumar, Bhansali, Walia, Shanmugasundar and Ravikiran (2011) menunjukkan bahwa peningkatan HbA1c berkorelasi dengan bertambahnya umur (r = 0,241, p < 0,01).
B. Perbandingan Rerata HbA1c terhadap Body Fat Percentage ≥ 25,10% dan