1. Tinjauan Umum terhadap Undang-undang Nomor 25 tahun 2007 tentang Penanaman Modal
a. Kebijakan Dasar Penanaman Modal
Dalam menjalankan misi pembinaan penanaman modal, kebijaksanaannya harus didasarkan pada asas dan tujuan yang jelas, seperti dirinci dalam Pasal 3 ayat (1), dan Pasal 3 ayat (2) Undang-Undang Nomor 25
31 An An Chandrawulan, Hukum Perusahaan Multinasinal, Liberalisasi Hukum
Perdagangan Internasional dan Hukum Penanaman Modal, (Bandung: PT Alumni, 2011) hal 237
32 Ibid, hlm 352-356
Tahun 2007. Tidak boleh ada asas dan tujuan lain, dalam Pasal 4 jelas tertera kebijakan dasar penanaman modal.
b. Pembatasan Bidang Usaha
Semua bidang usaha terbuka bagi penanaman modal terkecuali yang atau dinyatakan “Tertutup” dan “Terbuka” dengan persyaratan dalam Peraturan Presiden. Bidang usaha yang tertutup bagi penanaman modal asing adalah produksi senjata, mesin, alat peledak dan peralatan perang, dan bidang usaha yang secara eksplisit dinyatakan tertutup berdasarkan undang-undang bidang usaha yang tertutup bagi penanam modal dalam negeri atau asing, ditetapkan dalam Peraturan Presiden, berdasarkan kriteria: kesehatan, moral, kebudayaan, lingkungan hidup, pertahanan dan keamanan nasional serta kepentingan nasional lainnya. Sementara itu, bagi bidang usaha yang terbuka dengan persyaratan didasarkan pada kriteria kepentingan nasional, yaitu sumber daya alam, perlindungan/pengembangan usaha mikro, kecil, menengah, dan koperasi, pengawasan produksi dan distribusi, peningkatan kapasitas teknologi partisipasi modal dalam negeri, serta kerja sama dengan badan usaha yang ditunjuk pemerintah. Di Indonesia pembatasan-pembatasan tersebut dimanifestasikan antara lain melalui pengaturan daftar bidang-bidang usaha yang tertutup dan bidang-bidang usaha yang terbuka dengan persyaratan di bidang penanaman modal atau sering disebut sebagai investment negative list atau daftarnegatif investasi (negative list). 33
c. Kepemilikan Saham Asing
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal yang telah mencabut ketentuan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1967 selain memuat tentang pengertian penanaman modal asing, penanaman modal asing juga mencantumkan pengertian modal asing. Dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 disebutkan bahwa penanam modal asing adalah “Perseorangan warga negara asin, badan usaha asing, dan/atau pemerintah asing yang melakukan penanaman modal di wilayah negara Republik Indonesia”. Penanam
33 David Kairupan, Op Cit hlm 65
modal asing adalah “Kegiatan menanam modal untuk melakukan usaha di wilayah negara Republik Indonesia yang dilakukan oleh penanam modal asing, baik yang menggunakan modal asing sepenuhnya maupun yang berpatungan dengan penanam modal dalam negeri”. 34 Setiap perusahaan asing yang akan berinvestasi di Indonesia harus melakukan kerja sama usaha (joint venture) dengan perusahaan Indonesia. Merger ini dapat dilakukan atas nama pribadi atau badan hukum yang kemudian menjadi suatu perusahaan baru dengan status PT (Perseroan Terbatas) di bawah hukum Indonesia. 35
d. Penggunaan Tenaga Kerja
Pasal 10 UU No. 25 Tahun 2007 mewajibkan perusahaan penanaman modal dalam memenuhi kebutuhan tenaga kerja untuk mengutamakan tenaga kerja Warga Negara Indonesia. Perusahaan penanaman modal berhak menggunakan tenaga ahli warga Negara asing untuk jabatan dan keahlian tertentu sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Perusahaan penanaman modal yang mempekerjakan tenaga kerja asing diwajibkan menyelenggarakan pelatihan dan melakukan alih teknologi kepada tenaga kerja warga Negara Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.36
e. Fasilitas Penanaman Modal
Dalam Pasal 18 sampai dengan Pasal 24 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007. Secara umum tidak ada ketentuan perdagangan internasional yang melarang pemberlakuan insentif investasi berupa fasilitas penanaman modal.
Persyaratan untuk memperoleh fasilitas penanaman modal sebagaimana diatur dalam Pasal 18 ayat (3) huruf a sampai dengan i tidak bertentangan dengan
34 Sri Yulianti, Analisis Hukum tentang Pemilikan Saham pada Perusahaan Penanaman Modal Asing,
http://media.neliti.com/media/publications/12968-ID-analisis-hukum-tentang-pemilikan-saham-perusahaan-penanaman-modal-asing.pdf diakses pada tanggal 13 Februari 2018 pukul 15:30
35 Salim Hs dan Budi Sutrisno, Hukum Investasi di Indonesia, (Jakarta: Rajawali Press, 2008) hlm 205
36 Ermanto Fahamsyah, Hukum Penanaman Modal, (Yogyakarta: LaksBang PRESSindo, 2015) hlm 19
ketentuan perdagangan internasional, karena tidak ada ketentuan secara imperatif melarang persyaratan tersebut.37
2. Implikasi pelaksanaan Undang-undang nomor 25 tahun 2007 terhadap penanam modal asing
Ketentuan peralihan dalam Pasal 37 jo. Pasal 39 Undang-Undang Nomor 25 tahun 2007, merupakan reformasi tatanan hukum yang berlaku selama hampir 40 tahun dalam bidang penanaman modal di Indonesia. Reformasi ini harus diartikan positif, karena memang dalam mengubah pola pikir/cara pandang terhadap bagaimana kita harus melaksanakan misi pembangunan nasional sekarang ini berbeda landasannya dengan masa lalu. Landasan yang sangat terpengaruh kuat oleh globalisasi dan internal changes yang tidak dapat kita hindari. Dari Undang-Undang yang meratifisir WTO dapat dilihat pengaruhnya, yaitu bahwa warga Negara asing dapat menanamkan modalnya di Indonesia tanpa dibedakan dengan warga Negara Indonesia sendiri dalam hal hak dan kewajibannya. Jika dulu sebelumnya dikenal Perusahaan PMA dan PMDN ditambah Non-PMA dan PMDN, maka sekarang hanya ada Perusahaan Nasional yang bermodalkan dalam negeri dan yang bermodalkan campuran atau seluruhnya asing, ketiga jenis perusahaan nasional tersebut diperlakukan sama dalam hak dan kewajibannya. Hanya dalam jenis usaha akan ada pembatasan melalui Peraturan Pemerintah.38
3. Akibat tidak diimplementasikan Trade Related Investment Measures (TRIMs)
Seperti yang tertera dalam Pasal 7 TRIMs yang menyatakan, “Dalam melaksanakan perundingan-perundingan yang berkaitan dengan TRIMs, negara-negara anggota sepakat membentuk suatu komite TRIMs yang terbuka bagi setiap anggota dan mereka akan memilih sendiri Ketua dan Wakil Ketua, yang akan bertemu paling tidak 1 (satu) kali setahun, kecuali ada permintaan dari anggota untuk melakukan pertemuan lainnya. Komite akan melaksanakan tugas-tugas yang diberikan oleh Dewan Perdagangan Barang sesuai dengan perjanjian
37 Asmin Nasution, Op Cit, hlm 104
38 Hendrik Budi Untung, Op Cit hlm 98
dan memberikan pelayanan konsultasi berkaitan dengan TRIMs. Tugas lain komite ini adalah untuk melakukan pengawasan dan membuat lapo ran setiaptahun ke Dewan Perdagangan Barang”. 39
Committee on TRIMs dibentuk sebagai forum untuk memantau implementasi pelaksanaan TRIMs Agreement para Anggota WTO. Komite ini bersidang secara reguler dan umumnya 1 - 2 kali dalam setahun. Perjanjian WTO mengikat secara hukum. Negara anggota yang tidak mematuhi perjanjian bisa diadukan oleh Negara anggota lainnya karena merugikan mitra dagangnya, serta menghadapi sanksi perdagangan yang diberlakukan oleh WTO. Karena itu sistem WTO bisa sangat berkuasa terhadap anggotanya dan mampu memaksakan aturan-aturannya, karena anggota terikat secara legal (legally-binding) dan keputusannya irreversible artinya tidak bisa ditarik kembali. Dapat diadakan pengaduan terhadap suatu negara (noncompliance) serta pengenaan sanksi berupa penalti dan re-taliasi silang yang punya pengaruh luas. 40
Misalnya, Indonesia sebagai konsekuensi dari komitmen Indonesia selaku anggota WTO, adalah bahwa Indonesia harus membuka pasarnya terhadap perdagangan barang dan jasa dari negara anggota WTO lainnya. Indonesia tidak lagi dapat menutup diri dari masuknya barang-barang (goods) dan jasa-jasa (services) asing untuk diperdagangkan di Indonesia. Maka negara-negara yang merasa dirugikan tersebut berhak untuk mengajukan claim.41
39 Kelik Pramudya, TRIMs dan TRIPs, diakses dari https://clickgtg.blogspot.co .id/2009 https://clickgtg.blogspot.co .id/2009 /09/ trims-dan-trips.htm, pada tanggal 17 Desember 2017 pukul 23.15/09/ trims-dan-trips.htm, pada tanggal 17 Desember 2017 pukul 23.15
40 Aceh Marxist, Sekilas tentang Organisasi Perdagangan Dunia, https://acehmarxist.
wordpress.com/2008/01/09/sekilas-tentang-organisasi-perdagangan-dunia-wto/, diakses pada tanggal 18 Desember 2017 pukul 11:55.
41 Asmin Nasution, Op Cit, hlm 109
III. PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Dalam persetujuan TRIMs tercantum ketentuan yang mengharuskan kebijakan perdagangan harus sesuai dengan hasil persetujuan GATT 1994/WTO. Pada dasarnya, TRIMs melarang kebijakan penanaman modal yang dilakukan tidak sesuai dengan GATT 1994 khususnya yang diatur dalam Pasal III mengenai (national treatment) dan Pasal XI tentang (restriksi kuantitatif) GATT 1994.
2. Indonesia sebagai salah satu negara anggota atau pendiri WTO (World Trade Organization) berkewajiban untuk menerapkan ketentuan-ketentuan yang menjadi kesepakatan dalam Konvensi Organisasi Perdagangan Dunia tersebut dalam undang-undang tentang penanaman modal asing di Indonesia. Dan Pemerintah Indonesia telah meratifikasi Konvensi Pembentukan WTO melalui Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1994.
3. Persyaratan pembatasan penanaman modal yang diterapkan dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tidak bertentangan dengan Agreement on TRIMs, meskipun beberapa dari persyaratan itu masih membedakan perlakuan antara penanam modal asing dan domestik.
Karna sebenarnya, tidak ada pertentangan antara persyaratan tersebut dengan Agreement on TRIMs. Agreement on TRIMs tidak ditujukan untuk mengatur penanaman modal namun hanya syarat-syarat yang terkait langsung dengan perdagangan internasional.
B. Saran
1. Agar seluruh pelaku bisnis, aparat penegak hukum, konsultan hukum dan masyarakat agar memahami sepenuhnya tentang Agreement on Trade Related Investment Measures ini.
2. Agar Indonesia sebagai negara berkembang untuk tegas dalam menetapkan tujuan ketentuan TRIMs ini. Dan ketentuan TRIMs seharusnya fokus pada upaya-upaya penanaman modal bukan terhadap dampak dari sengketa-sengketa yang merugikan.
3. Negara Indonesia yang merupakan bagian dari TRIMs, maka pasti akan ada persaingan antar negara. Sehingga diperlukan pembinaan terhadap kemampuan setiap orang dan meningkatkan sarana dan prasana agar lebih memadai.