• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tugas Dan Peran Kepala Sekolah/Madrasah Dalam

Kepala sekolah dalam pelaksanaan tugas ada 6 tugas pokok dan fungsinya yaitu 1) sebagai pendidik (educator); 2) manajer (maneger); 3) pengelola administrasi (administrator);

4) penyelia (supervisor); 5) pemimpin (leader);6) pembaharu (inovator); dan 7) pendorong (motivator). (Muhadzdzibah, 2017). Hal ini menunjukan tugas kepala sekolah tidaklah mudah karena kepala sekolah harus memiliki berbagai kompetensi dan berpikir visioner akan pengembangan Lembaga Pendidikan yang ia pimpin.

Sedangkan berkenaan tugas dan fungsi kepala sekolah diatas dengan pengembangan Kurikulum, ini menunjukkan bahwa tugas dan peran seorang kepala sekolah/madrasah sangat strategis dan secara garis besar ada dua (Juahab, 2019), yakni:

1. Kepala Sekolah Sebagai Menejer

Menurut Vincent Gaspersz. (2003) Tugas menejer adalah merencanakan, mengorganisasikan, mengatur, mengkoordinasikan dan mengendalikan dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Manajer adalah

orang yang melakukan sesuatu secara benar (people who do things right).

Dengan demikian sebagai seorang kepala sekolah terkait pengembangan kurikulum diharapkan memiliki kemampuan yang matang dalam melaksanakan fungsi dari manajemen, yakni planning,organizing, actuating dan controlling (POAC), sehingga dibutuhkan kecermatan dan pemahaman yang mendalam bagi seorang kepala sekolah dalam memahami terlebih dahulu tentang hakikat dan tujuan dari pengembangan kurikulum dan ini menjadi suatu keharusan bagi seorang kepala sebagai pijakan awal untuk melangkah pada tahap selanjutnya.

Selain itu juga kepala sekolah harus bisa mengaitkan arah pengembangan kurikulum dengan visi misi sekolah, sehingga apa yang mencapai target capaian sekolah bisa terlaksana, sehingga dalam hal ini tidak mudah soal mau atau tidak mau dalam pengembangan kurikulum tetapi dibutuhkan juga kemampuan analisis secara mendalam dalam kesesuaian dan kebutuhan sekolah. Hal ini bisa dilakukan dengan menggunakan cara analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, and Threats) untuk melihat posisi lembaga yang ia pimpin sejauh mana kemajuannya dan apa yang harus ditingkatkan pada masa yang akan datang melalui pengembangan kurikulumnya.

2. Kepala sekolah sebagai leader (pemimpin)

Dalam teori kepemimpinan setidaknya kita mengenal dua gaya kepemimpinan yaitu kepemimpinan yang berorientasi pada tugas dan kepemimpinan yang berorientasi pada manusia. Dalam hal ini kepala sekolah

seorang leader bagi guru-guru yang ada di lembaga yang ia pimpin, sehingga seorang kepala sekolah harus mempu memberi arahan dan pengawasan terhadap tugas apa saja yang harus dikerjakan oleh seorang guru dan lebih-lebih tugas yang mendukung dalam pengembangan kurikulum yang dilakukan oleh sekolah dan tentunya tetap pada kirodor masih manusiawi, artinya apa yang menjadi tugas guru masih bisa diukur dan dikerjakan oleh guru dan tidak melebihi diluar kapsitas seorang guru

Karena tidak sedikit guru mendapat banyak tugas yang diembannya dari kepala sekolah terlalu overload sehingga kinerja guru menjadi berat dan tidak maksimal, seperti guru selain mengajar di kelas diminta pula untuk mengunjungi siswa siswi yang bermasalah ke rumahnya setiap pecan. Dalam hal ini tugas guru menjadi berat jika tidak dibagi oleh berbagai pihak yang bersangkutan, seperti bisa memerankan guru BK, atau guru piket lainnya

Oleh karenanya bagi seorang kepala sekolah dibutuhkan sosok yang memiliki kepribadian yang matang, sebab ini sangat berpengaruh dalam dalam memberikan arahan dan apa yang diperintahkan agar bisa dilaksanakan oleh guru. Sehingga kepribadian kepala sekolah sebagai leader menurut Ordway Tead harus menunjukkan sifat-sifat (Juahab, 2019):

a. Kesadaran akan tujuan dan arah b. Antusiasme

c. Keramahan dan kecintaan

d. Integritas (keutuhan, kejujuran dan ketulusan hati) e. Penguasaan teknis

f. Ketegasan dalam mengambil keputusan g. Kecerdasan

h. Keterampilan mengajar i. Kepercayaan

Sifat-sifat tersebut merupakan modal yang harus dikuasai oleh kepala sekolah karena sangat berpengaruh dalam kelancaran menjalankan tugas dan peran kepala sekolah sebagai seorang leader, sehingga dalam hal ini dibutuhkan usaha keras dari kepala sekolah untuk mencapai itu semuanya.

Dengan demikian sebagai seorang kepala sekolah tugas dan perannya dalam pengembangan kurikulum tidaklah mudah karena dia harus bisa mempraktekkan posisi dia sebagai manajer dan leading dalam menggerakkan seluruh sumber daya manusia dan potensi yang dimiliki oleh sekolah/madrasah yang ia pimpin

BAB IV

LANDASAN PENGEMBANGAN KURIKULUM PAI

Salah satu komponen penting dari sistem pendidikan tersebut adalah kurikulum, karena kurikulum merupakan komponen pendidikan yang dijadikan acuan oleh setiap satuan pendidikan, baik oleh pengelola maupun penyelenggara, khususnya oleh guru dan kepala sekolah. Menurut (Sukmadinata, 2001). Kurikulum mempunyai kedudukan sentral dalam seluruh proses pendidikan. Kurikulum memberikan arahan segala bentuk aktivitas pendidikan demi tercapainya tujuan-tujuan pendidikan. Kurikulum juga merupakan suatu rencana pendidikan memberikan pedoman dan pegangan tentang jenis, lingkup dan urutan isi serta proses pendidikan.

Kurikulum sebagai rancangan pendidikan memiliki kedudukan yang sangat sentral dalam seluruh kegiatan pembelajaran, yang menentukan proses dan hasil belajar.

Sedangkan pengembangan kurikulum dilakukan untuk mewujudkan adanya nilai tambah dari yang telah dilakukan sesuai dengan kurikulum potensial yang sesuai dengan tujuan pendidikan. Oleh kareta itu, pemahaman tentang kurikulum bagi para tenaga pendidik mutlak diperlukan.

Pengembangan kurikulum PAI salah satu kegiatannya untuk mendapatkan hasil kurikulum baru melalui terik-terik perencanaan penyusunan kurikulum dari hasil penilaian yang dilaksanakan selama periode tertentu (Baharun, 2017). Pengembangan kurikulum Pendidikan Agama Islam

sebagian dari pengembangan, penjabaran, perluasan dan penyempurnaan beberapa materi dasar Pendidikan Agama Islam dan apa saja yang disampaikan kepada peserta didik atau sesuatu upaya yang telah direncanakan oleh sekolah dalam membantu pengembangan potensi peserta didik melalui pengalaman belajar yang potensial untuk mencapai tujuan, visi dan misi serta hasil yang diinginkan oleh lembaga pendidikan.

Berbicara dari aspek yang lain, pengembangan kurikulum perlu juga dilaksanakan melalui proses manajemen pengembangan kurikulum dan proses pelaksanaan, pengorganisasian, perencanaan dan pengevaluasian (Fauzi, 2017a). Oleh karena itu, untuk terwujudnya cita-cita pokok Pendidikan Agama Islam sekiranya harus memiliki prioritas utama dalam Pendidikan Agama Islam yang dijalankan di sekolah, sekarang ini memang cenderung sangat teoritik dan dirasakan tidak ada relevansinya dengan lingkungan yang selama ini peserta didik tinggal. Mengajarkan pendidikan Agama kepada peserta didik berarti membangun fitrah dasar manusia yang secara moral dibawa semenjak lahir. Fitrah dasar diibaratkan seperti balita tidak mendapatkan bimbingan dan perlindungan sejak lahir maka akan menjadi manusia yang sulit bermanfaat dan berguna bahkan bisa jadi menjadi manusia yang serakah dalam hidupnya.

Sesuai dengan pengetahuan dasar mengenai Pendidikan Agama Islam dalam berbagai pertimbangan tentang tujuan serta potensi-potensi yang terkandung didalam diri manusia, paling tidak ada tiga prinsip dalam merancang kurikulum, Faunzi, 2009).

1. Pengembangan pendekatan religius melalui semua cabang ilmu pengetahuan.

2. Isi dari bahan pelajaran yang bersifat religius seharusnya bebas dari ide dan materi yang bersifat jumud dan hampa.

3. Perencanaan dengan perhitungan setiap komponen yang taylor disebut sebagai tiga prinsip yaitu kontinuitas, sekuensi dan integrasi (Munzir Hitami, 2004).

Pengembangan kurikulum menurut Sukmadinata dirumuskan berdasarkan dua hal:

1. Perkembangan tuntutan, kebutuhan dan kondisi masyarakat.

2. Didasarkan atas pemikiran-pemikiran dan terarah pada pencapaian nilai-nilai filosofis terutama falsafah Negara dan filosofis ini merupakan persoalan mendasar dalam pengembangan kurikulum (Hanun Asrohah dan Anas Amin Alamsyah, 2011).

Pengembangan atau penjabaran kurikulum tersebut tidak hanya mengacu pada sentralisasi kurikulum tetapi lembaga pendidikan mampu menjabarkan dalam arti mampu menerapkan suatu program hidden kurikulum. Untuk menambah program Pendidikan Agama Islam, mengatasi atau mengembangkan kepribadian siswa melewati manajemen kurikulum yang baik supaya menjadi insan kamil yang berkehendak selaras dengan nilai-nilai dan norma serta mampu menginternalisasikan dan enam rukun Iman dan lima rukun Islam.

Dalam pengembangan kurikulum, diperlukan landasan-landasan sebagai asas dalam proses pengembangan kurikulum pendidikan. Hal ini harus dijadikan acuan bagi seorang perumus

kurikulum, jika tidak maka hasil kerja pengembangan tidak akan memiliki nilai efektifitas terhadap terwujudnya tujuan pendidikan. Hal diatas dirumuskan dari definisi landasan itu sendiri yang mengandung arti sebagai suatu gagasan atau kepercayaan yang menjadi sandaran, sesuatu prinsip yang mendasari, contohnya seperti landasan kepercayaan Agama, dasar atau titik tolak untuk munculnya ketaatan dalam bentuk lahir yaitu ibadah. Dengan demikian landasan pengembangan kurikulum dapat diartikan sebagai suatu gagasan, suatu asumsi atau prinsip yang menjadi sandaran atau titik tolak dalam melakukan kegiatan mengembangan kurikulum.

Landasan yang dimaksud adalah: 1. Landasan Filosofis, 2 Psikologis, 3 Sosiologis, 4 Organisatoris.

Dokumen terkait