• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

2.8 Tugas dan Peranan Guru dalam Pembelajaran

Menurut Wina Sanjaya (2006:21-33) dalam pelaksanaan pembelajaran, guru memiliki beberapa peran penting sebagai berikut.

1. Guru sebagai Sumber Belajar

Peran guru sebagai sumber belajar berkaitan erat dengan penguasaan materi pembelajaran. Dikatakan guru yang baik manakala ia dapat menguasai materi pelajaran dengan baik sehingga ia benar-benar berperan sebagai sumber belajar bagi anak didiknya. Sebaliknya, dikatakan guru yang kurang baik manakala ia tidak paham mengenai materi yang diajarkan.

Sebagai sumber belajar dalam proses pembelajaran hendaknya guru melakukan hal-hal sebagai berikut.

a. Sebaiknya guru memiliki bahan referensi yang lebih banyak dibandingkan dengan siswa.

b. Guru dapat menunjukkan sumber belajar yang dapat dipelajari oleh siswa yang biasanya memiliki kecepatan belajar di atas rata-rata siswa yang lain. c. Guru perlu melakukan pemetaan materi pembelajaran. Hal tersebut akan

memudahkan guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai sumber belajar.

2. Guru sebagai Fasilitator

Sebagai fasilitator, guru berperan dalam memberikan pelayanan untuk memudahkan siswa dalam kegiatan proses pembelajaran. Agar dapat melaksanakan peran sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran, ada beberapa hal yang harus dipahami, khususnya hal-hal yang berhubungan dengan pemanfaatan berbagai media dan sumber pembelajaran.

a. Guru perlu memahami berbagai jenis media dan sumber belajar beserta fungsi masing-masing media tersebut.

b. Guru perlu mempunyai keterampilan dalam merancang suatu media pembelajaran.

c. Guru dituntut untuk mampu mengorganisasikan berbagai jenis media pembelajaran serta dapat memanfaatkan berbagai sumber belajar.

d. Sebagai fasilitator, guru dituntut agar mempunyai kemampuadn dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan siswa. Kemampuan berkomunikasi secara efektif dapat memudahkan siswa dalam menangkap pesan yang disampaikan oleh guru.

3. Guru sebagai Pengelola

Sebagai pengelola pembelajaran, guru berperan dalam menciptakan iklim belajar yang memungkinkan siswa dapat belajar dengan nyaman. Melalui pengelolaan kelas yang baik, guru dapat menjaga kelas agar tetap kondusif untuk terjadinya proses belajar seluruh siswa.

4. Guru sebagai Demonstrator

Peran guru sebagai demonstrator adalah peran untuk mempertunjukkan kepada siswa segala sesuatu yang dapat membuat siswa lebih mengerti dan memahami setiap pesan yang disampaikan.

5. Guru sebagai Pembimbing

Guru sebagai seorang pembimbing adalah menjaga, mengarahkan, dan membimbing agar siswa tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi, minat, dan bakatnya.

6. Guru sebagai Motivator

Dalam proses pembelajaran, motivasi merupakan salah satu aspek dinamis yang sangat penting. Proses pembelajaran akan berhasil manakala siswa mempunyai motivasi dalam belajar. Oleh sebab itu, guru perlu menumbuhkan motivasi belajar siswa. Untuk memperoleh hasil belajar yang optimal, guru dituntut kreatif membangkitkan motivasi belajar siswa. Beberapa hal yang perlu dilakukan dalam menumbuhkan motivasi siswa diantaranya (1) memperjelas tujuan yang ingin dicapai, (2) membangkitkan minat siswa, (3) ciptakan suasana yang menyenangkan dalam belajar, (4) berilah pujian yang wajar terhadap setiap keberhasilan siswa, (5) berikan penilaian, (6) berilah komentar terhadap hasil pekerjaan siswa, dan (7) ciptakan persaingan dan kerja sama.

7. Guru sebagai Evaluator

Sebagai evaluator, guru berperan mengumpulkan data atau informasi tentang keberhasilan pembelajaran yang telah dilakukan. Fungsi guru debagai evaluator adalah untuk menetukan keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan yang ditentukan dan menentukan keberhasilan guru dalam melaksanakan seluruh kegiatan yang telah diprogramkan.

Dalam pembelajaran ada beberapa keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang guru. Keterampilan dasar mengajar bagi guru diperlukan agar guru dapat melaksanakan perannya dalam pengelolaan proses pembelajaran sehingga pembelajaran dapat berjalan secara efektif dan efisien. Wina Sanjaya (2006: 33-47) mengemukakan keterampilan dasar yang harus dimiliki oleh seorang guru sebagai berikut.

1. Keterampilan Dasar Bertanya

Keterampilan bertanya bagi seorang guru merupakan keterampilan yang sangat penting. Sebab melalui keterampilan ini guru dapat menciptakan suasana pembelajaran yang lebih bermakna. Para ahli percaya pertanyaan yang baik memiliki dampak yang positif terhadap siswa, diantaranya:

a. Dapat meningkatkan partisipasi siswa secara penuh dalam proses pembelajaran.

b. Dapat meningkatkan kemampuan berfikir siswa, sebab berfikir pada hakikatnya adalah bertanya.

c. Dapat membangkitkan rasa ingin tahu siswa serta menuntun siswa untuk menentukan jawaban.

d. Memusatkan siswa pada masalah yang sedang dibahas.

Beberapa teknik bertanya atau menerima jawaban dari pertanyaan yang diajukan meliputi sebagai berikut.

a. Tunjukkan keantusiasan dan kehangatan

Keantusiasan dan kehangatan adalah cara guru mengekspresikan pertanyaan atau menjawab pertanyaan misalnya bahasa yang digunakan tidak terkesan memojokkan siswa, mimic atau wajah yang hangat dan tidak terkesan tegang tetapi akrab dan bersahabat dengan sedikit senyuman, serta tidak mencibir dan melototi siswa.

b. Berikan waktu secukupnya kepada siswa untuk berfikir

Salah satu kelemahan guru adalah ketidaksabaran untuk segera menemukan jawaban yang sesuai dengan harapan guru. Guru sering menjawab sendiri

pertanyaan yang diajukan sehingga pertanyaan yang diajukan tidak memiliki makna untuk membelajarkan siswa. Oleh karena itu, guru perlu memberikan waktu yang cukup untuk siswa menemukan jawaban atas pertanyaan yang diajukan.

c. Atur lalu lintas tanya jawab

Dalam proses pembelajaran, guru harus mampu mengatur lalu lintas tanya jawab supaya pertanyaan yang diajukan dapat bermakna dalam membelajarkan siswa. Siswa tidak berebut menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru sehingga tidak didapatkan jawaban yang efektif. Hal ini dapat dilakukan dengan cara setelah guru memberikan pertanyaan, aturlah siapa yang pantas memberikan jawaban dan meminta siswa lain untuk menyimak dan memberikan komentar.

d. Hindari pertanyaan ganda

Pertanyaan ganda adalah pertanyaan yang mengharapkan beberapa jawaban sekaligus. Pertanyaan semacam ini akan membingungkan siswa sehingga akan mengganggu proses berpikir siswa karena tidak fokus terhadap pertanyaan yang diajukan.

2. Keterampilan Dasar Memberikan Reinforcement

Keterampilan dasar penguatan (reinforcement) adalah segala bentuk respons yang merupakan bagian dari modifikasi tingkah laku guru terhadap tingkah laku siswa. Hal tersebut bertujuan untuk memberikan informasi atau umpan balik bagi siswa atas perbuatan atau respons yang diberikan sebagai suatu dorongan atau koreksi. Fungsi keterampilan penguatan (reinforcement) adalah untuk memberikan

ganjaran kepada siswa sehingga siswa akan berbesar hati dan meningkatkan partisipasinya dalam setiap proses pembelajaran.

Ada dua jenis penguatan yang dapat diberikan oleh guru, yaitu penguatan verbal dan nonverbal.

a. Penguatan Verbal

Penguatan verbal adalah penguatan yang diungkapkan dengan kata-kata, baik kata-kata pujian dan penghargaan atau kata-kata koreksi.

b. Penguatan Nonverbal

Penguatan nonverbal adalah penguatan yang diungkapkan melalui bahasa isyarat.

Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memberikan penguatan agar penguatan tersebut dapat meningkatkan motivasi pembelajaran.

a. Kehangatan dan Keantusiasan

Saat guru memberikan penguatan, tunjukkan sikap yang hangat dan antusias bahwa penguatan itu benar-benar diberikan sebagai balasan atas respons yang diberikan siswa.

b. Kebermaknaan

Yakinkan pada diri siswa bahwa penguatan yang diberikan guru adalah penguatan yang wajar sehingga benar-benar bermakna bagi siswa.

c. Gunakan Penguatan yang Bervariasi

Penguatan yang sejenis dan dilakukan secara berulang-ulang dapat menimbulkan kebosanan sehingga tidak efektif lagi untuk membangkitkan motivasi belajar siswa. Oleh sebab itu, penguatan perlu dilakukan dengan teknik yang bervariasi.

d. Berikan penguatan dengan Segera

Penguatan perlu diberikan segera setelah muncul respons atau tingkah laku tertentu. Penguatan yang ditunda pemberiannya tidak akan efektif lagi dan tidak bermakna.

3. Keterampilan Variasi Stimulus

Variasi stimulus adalah keterampilan guru untuk menjaga agar iklim pembelajaran tetap menarik perhatian, tidak membosankan sehingga siswa menunjukkan sikap antusias dan ketekunan, penuh gairah, dan berpartisipasi aktif dalam setiap langkah kegiatan pembelajaran.

Ada tiga jenis variasi stimulus yang dapat dilakukan guru, yaitu sebagai berikut. a. Variasi pada saat bertatap muka atau melaksanakan proses

pembelajaran.

Untuk menjaga agar proses pembelajaran tetap kondusif, ada beberapa teknik yang dapat dilakukan sebagai berikut.

1) Penggunaan Variasi Suara

Dalam suatu proses pembelajaran dapat terjadi kurangnya perhatian siswa disebabkan oleh suara guru. Guru yang baik akan terampil mengatur volume suaranya sehingga pesan akan mudah ditangkap dan dipahami oleh seluruh siswa.

Guru juga harus mampu mengatur irama suara sesuai dengan isi pesan yang akan disampaikan. melalui intonasi dan pengaturan suara yang baik dapat membantu siswa bergairah dalam belajar, sehingga proses pembelajaran tidak membosankan. 2) Pemusatan Perhatian

Memusatkan perhatian siswa pada hal-hal yang dianggap penting dapat dilakukan oleh guru untuk memfokuskan perhatian siswa. Guru harus mampu melakukan sesuatu yang dapat menarik perhatian siswa sehingga focus pada pembelajaran yang sedang dilaksanakan.

3) Kebisuan Guru

Ada kalanya guru dituntut untuk tidak berkata apa-apa. Teknik ini dapat digunakan untuk menarik perhatian siswa. Oleh sebab itu, teknik “diam” dapat digunakan sebagai alat untuk menstimulasi ketenangan dalam belajar.

4) Mengadakan Kontak Pandang

Setiap siswa membutuhkan perhatian dan penghargaan. Guru yang baik akan memberikan perhatian kepada siswa melalui kontak mata. Kontak mata yang terjaga terus menerus dapat menumbuhkan kepercayaan dari diri siswa.

5) Gerak Guru

Gerakan-gerakan guru di dalam kelas dapat menjadi daya tarik tersendiri untuk merebut perhatian siswa. Guru yang baik akan terampil mengekspresikan wajah sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan. gerakan-gerakan guru dapat membantu untuk kelancaran komunikasi sehingga pesan yang disampaikan mudah dipahami dan diterima oleh siswa.

b. Variasi dalam menggunakan alat/media pembelajaran.

Proses pembelajaran merupakan proses komunikasi. Guru yang baik harus mampu berkomunikasi atau menyampaikan pesan kepada peserta didik dengan baik sehingga pesan dapat diterima secara utuh. Untuk menunjang terjadinya komunikasi yang baik, guru perlu menggunakan variasi dalam penggunaan media/alat pembelajaran. Secara umum terdapat tiga bentuk media, yaitu media yang dapat dilihat, media yang dapat didengar, dan media yang dapat diraba. Untuk dapat mempertinggi perhatian siswa, guru perlu menggunakan setiap media sesuai dengan kebutuhan.

Variasi penggunaan media/alat pembelajaran dapat dilakukan sebagai berikut. 1) Dengan menggunakan variasi media yang dapat dilihat (verbal) seperti

menggunakan gambar, slide, foto, bagan, dan lain sebagainya.

2) Dengan menggunakan variasi media yang dapat didengar (auditif) seperti menggunakan radio, music, deklamasi, puisi, dan lain sebagainya.

3) Dengan menggunakan variasi media yang dapat diraba, dimanipulasi, dan digerakkan (motorik). Yang termasuk ke dalam alat atau media ini adalah berbagai macam peragaan, model, dan lain sebagainya.

c. Variasi dalam melakukan pola interaksi.

Pembelajaran adalah proses interaksi antara siswa dengan lingkungannya. Guru perlu membangun interaksi secara penuh dengan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk berinteraksi dengan lingkungannya.

4. Keterampilan Membuka dan Menutup Pembelajaran

Membuka pembelajaran adalah usaha yang dilakukan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran untuk menciptakan prakondisi bagi siswa agar mental maupun

perhatian terpusat pada pengalaman belajar yang disajikan sehingga akan mudah mencapai kompetensi yang diharapkan.

Secara khusus tujuan membuka pelajaran adalah sebagai berikut. 1) Menarik perhatian siswa yang dapat dilakukan dengan:

a) meyakinkan siswa bahwa materi atau pengalaman belajar yang akan dilakukan berguna bagi dirinya;

b) melakukan hal-hal yang dianggap aneh bagi siswa, misalnya dengan menggunakan alat bantu;

c) melakukan interaksi yang menyenangkan.

2) Menumbuhkan motivasi belajar siswa yang dapat dilakukan dengan: a) membangun suasana akrab sehingga siswa merasa dekat;

b) menimbulkan rasa ingin tahu, misalnya dengan mengajak siswa mempelajari hal-hal yang sedang hangat dibicarakan;

c) mengaitkan materi atau pengalaman belajar yang akan dilakukan dengan kebutuhan siswa.

3) Memberikan acuan atau rambu-rambu tentang pembelajaran yang akan dilakukan, yang dapat dilakukan dengan:

a) mengemukakan tujuan yang akan dicapai serta tugas-tugas yang harus dilakukan dalam hubungannya dengan pencapaian tujuan;

b) menjelaskan langkah-langkah atau tahapan pembelajaran sehingga siswa memahami apa yang dilakukan;

c) menjelaskan target atau kemampuan yang harus dimiliki setelah pembelajaran berlangsung.

Menutup pelajaran dapat diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan guru untuk mengakhiri pelajaran dengan maksud untuk memberikan gambaran menyeluruh tentang apa yang telah dipelajari siswa serta keterkaitannya dengan pengalaman sebelumnya, mengetahui tingkat keberhasilan siswa, serta keberhasilan guru dalam pelaksanaan proses pembelajaran.

Menutup pelajaran dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.

a) Merangkum atau membuat garis-garis besar persoalan yang baru dibahas sehingga siswa memperoleh gambaran yang menyeluruh dan jelas tentang pokok-pokok persoalan.

b) Mengonsolidasikan perhatian siswa terhadap hal-hal yang pokok agar informasi yang telah diterima dapat membangkitkan minat untuk mempelajari lebih jauh.

c) Mengorganisasikan kegiatan yang telah dilakukan untuk membentuk pemahaman baru tentang materi yang telah dipelajari.

d) Memberikan tindak lanjut serta saran-saran untuk memperluas wawasan yang berhubungan dengan materi pelajaran yang telah dibahas.

5. Keterampilan Mengelola Kelas

Pengelolaan kelas adalah keterampilan guru menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya manakala terjadi hal-hal yang dapat mengganggu suasana pembelajaran.

Untuk menghindari perilaku-perilaku yang dapat mengganggu maka dalam pengelolaan kelas dapat dilakukan teknik-teknik sebagai berikut.

a) Penciptaan Kondisi Belajar yang Optimal

Menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal berhubungan dengan kemampuan guru dalam mengambil inisiatif dalam mengendalikan kegiatan belajar mengajar agar berada dalam kondisi yang kondusif sehingga perhatian siswa terpusat pada materi pelajaran.

b) Menunjukkan Sikap Tanggap

Guru harus menunjukkan sikap tanggap terhadap segala perilaku yang muncul di kelas, baik perilaku yang mendukung proses pembelajaran seperti tanggap terhadap perhatian siswa, keantusiasan siswa, motivasi belajar siswa yang tinggi dan lain sebagainya maupun perilaku yang tidak mendunkung proses pembelajaran seperti ketidakacuhan, motivasi belajar siswa yang rendah, dan lain sebagainya.

Untuk memebrikan kesan tanggap, dapat dilakukan dengan berbagai cara sebagai berikut.

a. Memberikan komentar baik terhadap materi pelajaran yang akan dipelajari maupun terhadap perilaku siswa.

b. Menjaga kontak mata, artinya setiap saat guru perlu memerhatikan siswa melalui pandangan mata secara terus-menerus.

c. Gerak mendekat, artinya guru perlu memberikan perhatian khusus baik kepada individual maupun terhadap kelompok.

c) Memusatkan Perhatian

Kondisi belajar mengajar akan dapat dipertahankan manakala selama proses berlangsung guru dapat mempertahankan konsentrasi belajar siswa. Teknik yang

dapat digunakan untuk mempertahankan perhatian siswa adalah dengan memusatkan perhatian siswa secara terus-menerus. Pemusatan perhatian siswa dapat dilakukan melalui cara sebagai berikut.

1) Memberikan ilustrasi-ilustrasi secara visual, misalnya dengan mengalihkan pandangan dari satu kegiatan ke kegiatan lain tanpa memutuskan kontak pandang baik terhadap kelompok maupun terhadap individu siswa.

2) Memberikan komentar secara verbal melalui kalimat-kalimat yang segar tanpa keluar dari konteks materi pelajaran yang sedang dibahas.

d) Memberikan Petunjuk dan Tujuan yang Jelas

Siswa akan belajar dengan perhatian penuh manakala memahami tujuan yang harus dicapai serta mengerti apa yang harus dilakukan. Untuk itu, guru harus mampu memberikan pemahaman dan petunjuk yang jelas tentang tujuan yang akan dicapai dalam pembelajaran.

e) Memberi Teguran dan Penguatan

Teguran diperlukan sebagai upaya memodifikasi tingkah laku. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menegur adalah sebagai berikut.

1) Menegur diarahkan kepada siswa yang benar-benar mengganggu kondisi kelas dengan perilaku yang menyimpang.

2) Menegur dilakukan secara verbal dengan menghindari peringatan-peringatan yang kasar atau bertendensi menghina atau mengejek.

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Dikatakan deskriptif karena penelitian ini bermaksud untuk mendeskripsikan kondisi objektif dari peubah yang diteliti tanpa memberikan perlakuan berupa apapun terhadap peubah tersebut (Ariyani, 1996: 67). Menurut Moh. Nazir (1998: 63), metode deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status kelompok manusia, suatu obyek, suatu konsep kondisi, suatu sistem pemikiran, ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Dengan demikian yang dimaksud dengan metode deskriptif adalah suatu cara yang digunakan untuk membuat gambaran atau lukisan secara sistematis mengenai kondisi, sifat-sifat maupun situasi yang dihadapi pada masa sekarang. Penelitian ini bersifat kualitatif karena pelaksanaan penelitian terjadi secara alamiah, apa adanya, dan dalam situasi normal yang tidak dimanipulasi keadaan dan kondisinya (Arikunto, 2006:12).

Pada penelitian ini metode deskriptif kualitatif bertujuan untuk mendeskripsikan pembelajaran menulis petunjuk di kelas VIII SMP Negeri 02 Kotagajah tahun pelajaran 2011/2012.

Dokumen terkait