• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tugas Hidup Manusia Dalam Pendidikan

Dalam dokumen Kajian Konsep Pembelajaran (Halaman 47-52)

MANUSIA DAN PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM

B. Tugas Hidup Manusia Dalam Pendidikan

Manusia, dalam perjalanan hidup dan kehidupannya, pada dasarnya mengemban amanah atau tugas-tugas kewajiban dan tanggung jawab yang dibebankan Allah kepada manusia agar dipenuhi, dijaga dan dipelihara dengan sebaik-baiknya. Al-Maraghi (1966:70) ketika menafsirkan ayat :

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya” .(Q.S. An-Nisa’ : 58)

Beliau mengemukakan bahwa amanat tersebut ada bermacam-macam bentuknya, yaitu (1) amanah hamba terhadap Tuhannya, yakni sesuatu yang harus dipelihara dan dijaga oleh manusia yang berupa mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya serta menggunakan alat-alat potensialnya dan anggota badannya dalam berbagai aktivitas yang bisa menimbulkan manfaat baginya dan dapat mendekatkan diri kepada Tuhannya, sehingga bila manusia melanggarnya maka berarti dia berkhianat kepada Tuhannya; (2) amanah hamba terhadap sesama manusia, yakni mengembalikan barang-barang titipan kepada pemiliknya dan tidak mau menipu serta menjaga rahasia seseorang yang tidak pantas dipublikasikan; (3) amanah manusia terhadap dirinya, yakni berusaha melakukan hal-hal yang lebih baik dan lebih bermanfaat bagi dirinya untuk kepentingan agama dan dunianya, tidak melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya baik untuk kepentingan akherat maupun dunianya, serta berusaha menjaga dan memelihara kesehatan dirinya.

Di dalam Al-Quran juga dinyatakan bahwa manusia termasuk makhluk yang siap dan mampu mengemban amanah tersebut ketika ditawari oleh Allah, sebaliknya makhluk yang lain justru enggan menerimanya atau tidak siap dan tidak mampu mengemban amanat tersebut, sebagaimana yang terdapat dalam Q.S. Al-Ahzab :72.

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”.

Muhammad Husaun Aththabathaba’i (1983:352) ketika menafsirkan ayat tersebut, beliau mengemukakan bermacam-macam pengertian dari amanah, yaitu (1) tugas-tugas/beban kewajiban sehingga bila orang mau mematuhinya maka akan dimasukkanke dalam surga, sebaliknya bila melanggarnya akan dimasukan ke neraka; (2) akal, yang merupakan sendi bagi pelaksanaan tugas-tugas/beban kewajiban dan tempat bergantungnya pahala dan siksa; (3) kalimat “La ilaaha illa Allah”; (4) anggota-anggota badan termasuk di dalamnya alat-alat potensial atau potensi-potensi dasar manusia, yang mampu mengemban dan melepaskan amanah dari Allah yang harus dijaga dan hanya digunakan dalam batas-batas yang hanya diridhai oleh-Nya; (5) ma’rifah kepada Allah. Pengertian yang keempat inilah yang menurut beliau, yang lebih mendekati kebenaran.

Dari beberapa pendapat ahli tafsir tersebut dapat dipahamia bahwa tugas hidup manusia (yang merupakan amanah dari Allah) itu pada intinya ada dua macam, yaitu ‘abdullah (menyembah atau mengabdi kepada Allah), dan khalifah Allah, yang keduanya harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab.

Tugas hidup manusia sebagai ‘abdullah merupakan realisasi dari mengemban amanah dalam arti memelihara beban/tugas-tugas kewajiban dari Allah yang harus dipatuhi, kalimat La ilaaha illa Allah atau kalimat tauhid atau ma’rifah kepada Allah. Sedangkan khalifah Allah merupakan realisasi dari mengemban amanah dalam arti memelihara, memanfaatkan dan mengoptimalkan penggunaan segala anggota badan, alat-alat potensial (termasuk indera dan akal) atau potensi-potensi dasar manusia, guna menegakan keadilan, kemakmuran dan kebahagiaan hidup.

Mengapa manusia bertugas sebagai ‘abdullah? Untuk menjawab masalah ini bisa dikaitkan dengan proses kejadian manusia. Pada dasarnya manusia terdiri atas dua substansi yaitu jasad/materi dan roh/immateri. Jasad manusia berasal dari alam materi sehingga eksistensinya meski tunduk kepada aturan-aturan atau hukum Allah yang berlaku di alam materi (sunatullah). Sedangkan roh-roh manusia, sejak berada di alam arwah sudah mengambil kesaksian dihadapan Tuhannya, bahwa mereka mengaku Allah sebagai Tuhannya dan bersedia tunduk dan patuh kepada-Nya. Karena itulah kalau manusia mau konsisten terhadap eksistensi dirinya atau naturnya, maka salah satu tugas hidup yang harus dilaksanakannya adalah ‘abdullah (hamba Allah yang senantiasa tunduk dan patuh kepada aturan dan kehendak-Nya serta hanya mengabdi kepada-Nya).

Tugas hidup manusia juga sebagai khalifah Allah di muka bumi. Pengertian khalifah adalah menggantikan atau orang yang datang kemudian, artinya menggantikan yang lain, adakalanya karena tidak adanya orang yang diganti atau kelemahan/tidak

Islam sebagai khalifah pengganti Nabi Saw. Dan adakalanya karena memuliakan atau mengangkat kedudukan orang yang dijadikan pengganti. Pengertian terakhir inilah yang dimaksud dengan “Allah mengangkat manusia sebagai khalifah di muka bumi” sebagaimana firman-Nya dalam Q.S. Al-An’am: 165.

“Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu”.

Manusia adalah makhluk yang termulia diantara makhluk-makhluk lainnya dan ia dijadikan oleh Allah dalam sebaik-baik bentuk/kejadian, baik fisik maupun psikisnya, serta dilengkapi dengan berbagai alat potensial dan potensi-potensi dasar (fitrah) yang dapat dikembangkan dan diaktualisasikan seoptimal mungkin melalui proses pendidikan. Karena itu tugas khalifah sebagai tugas suci dan amanah dari Allah sejak manusia pertama hingga manusia pada akhir zaman, dan merupakan perwujudan dari pelaksanaan pengabdian-Nya. Tugas-tugas kekhalifahan tersebut dikembangkan dalam bentuk: tugas kekhalifahan terhadap diri sendiri, tugas kehalifahan dalam keluarga/rumah tangga, tugas kekhalifahan dalama masyarakat dan tugas kekhalifahan terhadap alam.

Dari keterangan tersebut dapat ditegaskan bahwa fungsi pendidikan dalam Islam, antara lain untuk membimbing dan mengarahkan manusia agar mampu mengemban amanat dari Allah,

yaitu menjalankan tugas-tugas hidupnya di muka bumi baik sebagai ‘abdullah(hamba Allah yang harus tunduk dan taat terhadap segala aturan dan kehendak-Nya dan mengabdi hanya kepada-Nya) maupun sebagai khalifah Allah di muka bumi yang menyangkut pelaksanaan tugas kekhalifahan terhadap diri sendiri, keluarga, masyarakat dan terhadap alam.

C. Implikasi Potensi Dasar Manusia Terhadap Pendidikan

Dalam dokumen Kajian Konsep Pembelajaran (Halaman 47-52)