• Tidak ada hasil yang ditemukan

Upaya penurunan angka perceraian dan peningkatan mutu keluarga sakinah adalah merupakan sebagian tugas dan wewenang dari BP4. Secara histories, tugas tersebut setidak-tidaknya telah melekat pada BP4 sejak tahun 1960-an, yaitu dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia No. 85 tahun 1961.17

Dalam Anggaran Dasar BP4 disebutkan bahwa organisasi ini bertujuan untuk mempertinggi mutu perkawinan guna mewujudkan keluarga sakinah menurut ajaran Islam.

Pada umumnya dalam mencari jodoh, masing-masing mencari teman hidupnya dengan teliti, baik pemilihan itu dilakukan dengan sendiri atau oleh orang lain. Dan mereka telah menggambarkan akan hidup berumah tangga dengan rukun, damai, dan saling menghormatu. Namun demikian, masih banyak yang gagal dalam mecapai kebahagiaan rumah tangga.

16

Ibid, Pasal 8 Ayat (1-6)  

17

Mustoha, Kerjasama Badan Penasihat Perkawinan Perselisihan dan Perceraian Dengan Peradilan Agama : Makalah Loka Karya, ( Jakarta : kantor BP4 Pusat, 27 Maret 1997 ), h. 2  

47

Kasus-ksus yang telah didapat oleh BP4 selama ini, menunjukkan bahwa kurangnya pengertian antara suami-isteri sering menimbulkan perselisihan dan ketegngan yang sulit diatasi, umumnya diakhiri dengan perceraian yang akibatnya sangat menyedihkan.

Justru karena itulah, maka BP4 yang bertujuan mempertinggi nilai perkawinan dan terwujudnya rumah tangga yang bahagia menurut ajaran Islam, adalah tepat sesuai dengan kebutuhan masyarakat serta sejalan dengan rencana pembangunan materiel dan spiritual yang harus kita laksanakan18

Sebagaimana dikatakan oleh Ali Akbar, bahwa kita harus menyempurnakan dan memperkuat BP4 untuk dapat lrbih efisien baik dalam melaksanakan tugas membentuk keluarga sakinah, mawaddah, warrahmah serta mencegah perceraian, penyakit rumah tangga, guna membentuk rumah tangga yang mempunyai akhlak yang mulia sesuai ajaran Islam19

Keluarga yang akan dibentuk oleh BP4 adalah berdasarkan Firman Allah SWT dalam Surat Ar-Ruum ayat 21 yaitu :

☯

☺

⌧

18

Mukhtar Natsir, Tugas dan Fungsi BP4 : Majalah Nasihat Perkawinan dan Keluarga, ( Jakarta : BP4 Pusat 1995 ), edisi Mei No. 275, h. 9  

19

Ali Akbar, Meningkatkan Usaha BP4 Dalam Penasihatan : Problem Pelaksanaan Undang- Undang Perkawinan Dan Pembinaan Keluarga : Majalah Nasihat Perkawinan dan Keluarga, ( Jakarta : BP4 Pusat, 1996 ), edisi Januari No. 283, h. 17  

Artinya : “ Dan diantara tanda-tanda kekuasan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan saying. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir “. ( Q.S Ar-Ruum/30 : 21 )

Bertolak dari ayat diatas, sebagai acuan dalam membentuk sebuah rumah tangga, BP4 sebagai suatu badan yang bergerak dalam penasihatan perkawinan dan pencegahan perceraian berusaha semaksimal mungkin untuk menjunjung tinggi nilai sebuah perkawinan.

BP4 ingin merealisasi maksud inti surat Ar-Ruum ayat 21 sehingga setiap perkawinan didasari oleh ayat tadi dengan niat yang suci dan ikhlas, penuh tanggung kawab untuk membangun keluarga muslim. Dengan kata lain, perkawinan yang dilakukan secara Islam harus dapat membangun keluarga muslim20

Upaya-upaya BP4 senantiasa difokuskan pada bagaimana meningkatkan mutu perkawinan dan berusaha menekan perceraian semaksimal mungkin. Sampai saat ini dan sampai kapan pun perceraian tetap dijadikan sebagai perbuatan yang sangat dibenci oleh Allah SWT, walaupun statusnya halal. Kata “ dibenci “ itu adalah kata majaz yang maksudnya tidak mendapat pahala, tidak ada pendekatan diri kepada Allah SWT dalam perbuatan hal ini. Hal ini, sebagai dalil bahwa sesunguhnya baik sekali menghindari talak itu selama masih ada jalan keluarnya.

20

49

Salah satu misi dari BP4 yang saat ini perlu mendapat perhatian dan dijadikan prioritas utama adalah mengantisipasi dan menanggulangi kasus yang dapat mengancam keutuhan dan ketahanan keluarga. Dengan demikian, partisipasi aktif BP4 benar-benar memberikan dukungan kongkrit pada Gerakan Nasional Pembangunan Keluarga Sejahtera yang dicanangkan oleh pemerintah. Salah satu wujud dari upaya kearah itu adalah dengan adanya kegiatan “ Pemilihan Ibu Teladan “ yang diselenggarakan oleh BP4 mulai dari tingkat kecamatan sampai tingkat nasional saat ini.

A. Strategi Atau Kebijakan BP4 Dalam Mendamaikan Pasangan Yang Bersengketa

Dalam mendamaikan pasangan yang bersengketa, ada beberapa strategi atau kebijkan yang dilakukan oleh BP4 dalam mendamikan pihak yang bersengketa, diantaranya adalah:

1. Memanggil Para Pihak

Dalam menyelasaikan perselisihan keluarga, BP4 sebagai lembaga penasihatan pembinaan dan pelestarian perkawinan tidak bersifat aktif artinya BP4 tidak mencari-cari perkara perselisihan rumah tangga, akan tetapi para pihak yang sedang bersengketa tersebutlah yang mengadukan permasalahannya kepada BP4 untuk diselesaikan.

Ketika salah pihak sudah mengadukan permasalahannya dan menceritakannya kepada BP4, maka hal yang dilakukan BP4 adalah memanggil pihak yang lain untuk hadir bersama guna menyelesaikan permasalahannya tersebut. Dalam hal ini, BP4 membuat suatu surat panggilan kepada pihak yang lain untuk hadir guna menyelesaikan permasalahan yang terjadi 1.

1

Wawancara Pribadi Dengan Kadi Sastrowirjono, Konsultan BP4 Pusat, Jakarta 26 Juli 2010 

51

2. Memberikan Nasihat Pada Pasangan Yang Bersengketa

Masyarakat zaman sekarang, memerlukan akan adanya lembaga- lembaga atau orang yang dapat memberi bantuan dalam mengatasi hubungan keluarga yang mengalami gangguan-gangguan atau keretakan-keretakan agar perkawinan mereka tidak buyar dan dapat melanjutkan hidup bersama secara harmonis. Bantuan yang dimaksud diatas lazimnya dalam istilah sekarang dinamakan “Penasihatan” atau dalam bahasa asingnya disebut “Counseling”,”Consulting”,”Marriage Counseling”, atau “Marriage Counsulting”.

Di zaman modern ini banyak suami isteri yang mengalami kesulitan- kesulitan dan ketegangan–ketegangan. Di zama dahulu, bila terjadi percekcokan antara suami isteri , biasanya untuk menyelesaikannya tidak terlalu susah. Masalah yang menjadi sengketa cukup sederhana, suami dan isteri itu tunduk pada norma yang berlaku. Ditambah lagi orang tua siap membantu. Sebaliknya di zaman sekarang yang dipersengketakan tidak gampang lagi, malahan sering- sering sangat rumit, orang-orangnya kurang pegangan lagi dan orang tua tidak lagi mampu untuk menjadi penengah dan penyelesaian atau bahkan kadang- kadang justru tidak diinginkan oleh putera puteri atau mantunya untuk mencampuri urusan mereka.

Maka persoalannya, apakah suami isteri dan isteri-isteri yang mengalami kesukaran seperti ini dibiarkan begitu saja menderita atau malahan kemungkinan perkawinannya menjadi buyar atau punah. Terang bahwa

membiarkan yang demikian itu bertentangan dengan ajaran agama kita. Maka sangatlah perlu akan adanya usaha dari masyarakat untuk membantu suami- suami dan isteri-isteri yang menderita itu. Mereka harus dibantu untuk menyelamatkan perkawinan mereka. Bila banyak perkawinan dibiarkan buyar, maka yang akan menjadi rusak adalah masyarakat dan Negara kita sendiri

Tujuan dari bantuan tersebut adalah untuk menhindarkan terjadinya perceraian. Tapi bukan itu saja yang harus diusahakan, bukanlah sekedar mendirikan “damai dalam arti tiada perang”, tetapi bagaimana dapat memulihkan keserasian,keharmonisan, suasana paham-memahami, harga menghargai diantara suami isteri yang tadinya bersengketa itu.2

Adapun nasihat yang diberikan oleh BP4 untuk menyelesaikan masalah keluarga. Sehingga diharapkan keadaan konflik yang terjadi pada pasangan yang bersengketa tidak menjadi semakin parah, sekaligus dapat menghindarkan tragedy perceraian yang berakibat sangat menyakitkan. Inilah beberapa hal yang dimaksud:

1. Mengingatkan Memori Masa Lalu

Terkadang pasangan suami isteri yang sedang berselisih atau bersengketa kerapkali melupakan memori-memori indah ketika awal pernikahan mereka. Mereka cenderung mengikuti emosi dan ego masing-masing. Oleh karena itu, BP4 menasihati kepada pasangan suami isteri yang sedang berselisih

2

Amidhan dan Moeslim Abdurrahman, Pedoman Penasehatan : Badan Penasehatan Perkawinan Perselisihan dan Perceraian (Jakarta : Departemen Agama RI, 1980), h. 69-71 

53

agar selalu mengingat-ingat memori indah ketika awal perkenalan mereka sampai pernikahan mereka dan membuang segala egoisme yang ada di dalam diri mereka agar mau bersatu kembali.

2. Jangan Sekali-sekali Meremehkan Pasangan

Di zaman modern ini isteri-isteri tidak lagi mau menjadi penghuni sangkar, walau sangkar itu terbuat dari emas dan di dalamnya tersedia segala- galanya. Mereka tidak mau dikurung, tetapi ingin lebih bebas dalam hal berfikir, berkeinginan, bercita-cita dalam mengembangkan kemampuan-kemampuannya. Hal tersebut berpengaruh terhadap keadaan dalam suatu keluarga khususnya dalam hal ekonomi suatu keluarga. Walaupun Suami adalah pemimpin keluarga, bukan berarti pendapat keuangan suami itu harus selalu lebih besar daripada isteri. Di zaman sekarang tidak sedikit pendapatan ekonomi isteri lebih besar daripada suami, hal yang demikian itulah yang terkadang para suami merasa terkucilkan oleh isteri sehingga memicu terjadinya pertengkaran dan perselisihan.

Maka peran BP4 dalam hal ini yaitu memberi nasihat agar masing- masing pihak untuk tidak saling meremehkan pasangannya, hendaknya masing- masing pihak untuk toleransi satu sama lain dan saling keterbukaan terutama dalam hal ekonomi keluarga.3

3

3. Sikap Lapang Dada Suami Isteri

Seorang isteri kerapkali tidak dapat memahami latar belakang problem yang sedang dihadi suaminya. Hal ini kadang sangat memperuncing keadaan. Karena seorang isteri akan selalu menuntut. Disebabkan oleh kodrat wanita yang semacam ini, seyogyanya seorang suami memiliki sifat lapang dada, dan tidak tergesa-gesa menghitung kesalahan-kesalahan yang dilakukan isteri.

Untuk mengimbanginya, seorang isteri harus bersabar, karena kesabaran menjadi neraca atas diri dan kedudukannya. Bahkan seorang isteri harus menghargai dan menerima kondisi suami yang telah ditetapkan oleh syariat sebagai penanggung nafkah baginya.

4. Kemaslahatan Yang Harus Dijaga

Sudah sangat jelas dan nyata bahwa untuk mewujudkan sebuah kehidupan dan kebahagiaan, Islam menuntut beberapa kewajiban dari umatnya. Antara lain, Islam memberikan tanggung jawab manusia untuk memenuhi segala kebutuhan sebagai sarana tegaknya hukum-hukum kemanusiaan.

Tidak asing lagi, bagi masyarakat kita yang tengah dilanda krisis, harus berusaha dengan sekuat tenaga bangkit memperbaikinya, agar dapat terhindar dari perpecahan. Maka BP4 menyarankan kepada setiap pasangan suami isteri yang selama ini belum bias saling memahami, agar menauhi sikap yang justru dapat memperuncing situasi. Ciptakanlah ketenangan, hindarilah percekcokan dan gejolak supaya tidak membuang-buang waktu yang seharusnya dapat digunakan untuk mengurus hal-hal lain yang lebih penting. Kobarkanlah

55

semangat rindu. Hapuslah trauma-trauma masa lalu yang menyakitkan, bukalah lembaran baru, torehkanlah sejarah baru yang cemerlang.4

5. Keseimbangan Antara Hak Dan Kewajiban Adalah Merupakan Kunci Keberhasilan

Hak ialah suatu yang harus diterima sedangkan kewajiban adalah sesuatu yang harus dilaksanakan dengan baik. Begitulah kehidupan antara suami isteri dalam setiap rumah tangga, apabila dua hal tersebut tidak seimbang niscaya akan timbullah percekcokan dan perselisihan dalam rumah tangga.

Sebaliknya jika antara hak dan kewajiban itu seimbang atau sejalan, terwujudlah keserasian dan keharmonisan dalam rumah tangga, rasa kebahagiaan semakin terasa dan kasih sayang akan terjalin dengan baik. Sang anak menghormati orang tuanya, orang tua saying kepada anaknya, suami menghargai isterinya dan isteripun menghormati suaminya seterusnya. Inilah yang dimaksudkan oleh Rasulullah SAW dengan sabdanya yang intinya adalah “ Rumah tanggaku laksana surga bagiku “

Oleh karena itu antara suami isteri harus tahu dan melaksanakan hak serta kewajibannya masing-masing, demikian juga sang anak harus tahu diri dan menghormati orang tuanya..

Pada umumnya yang menimbulkan perselisihan dan perceksokan dalam rumah tangga itu karena salah satu pihaknya tidak dapat menjalankan fungsinya

4

Ali Husain Muhammad Makki al-Amili, Perceraian Salah Siapa : Bimbingan Islam Dalam Mengatasi Problematika Rumah Tangga (Jakarta: Lentera, 2001), h. 123-133  

dengan baik, mereka tidak saling menghargai, tidak saling menghormati, tidak saling pengertian antara sesame mereka dalam rumah tangganya

6. Pengamalan Ajaran Agama Dalam Rumah Tangga

Dalam setiap rumah tangga orang yang beriman pengamalan ajaran agama adalah sangat penting dan mutlak diperlukan, keran ajaran agama adalah salah satunya pegangan hidup manusia yang mengatur sikap tingkah laku agar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan yang luhur. Mendidik dan mengajar anak-anak atau keluarga adalah suatu kewajiban yang tidak dapat ditawar-tawar orang tua (suami isteri), sesuai dengan sabda Rasulullah SAW yang intinya yaitu “Tiap-tiap kamu menjadi pemimpin dan bertanggungjawab terhadap yang dipimpinnya, raja adalah pemimpin, tiap-tiap laki-laki menjadi pemimpin terhadap penghuni rumah tangganya (keluarganya). Dan perempuan-perempuan menjadi pemimpin (pengasuh) dari rumah tangga suaminya dan anak-anaknya. Tiap-tiap kamu menjadi pemimpin, dan tiap-tiap pemimpin akan ditanya kelak (bertanggungjawab) terhadap orang-orang yang dipimpinnya”.( H.R Bukhari )

Berdasarkan hadits Rasulullah SAW diatas, dapat diambil pengertian antara lain suami isteri wajib mengajar atau menuntun anak-anak dan keluarganya dengan Ilmu Pengetahuan Agama, sehingga mereka mengerti dan mampu mengamalkan ajaran agama itu dalam kehidupan sehari-hari.5

5

Sidi Nazar Bakri, Kunci Keutuhan Rumah Tangga : Keluarga Yang Sakinah (Jakarta: CV Pedoman Ilmu Karya, 1993), h. 37  

57

3. Kesepakatan Akta Perdamaian

Strategi atau kebijakan yang lain yang dilakukan oleh BP4 yaitu membuat Akta Perdamaian. Hal ini dilakukan apabila para pihak yang bersengketa yang mengadukan permasalahannya ke BP4 untuk diselesaikan telah sepakat untuk berdamai dan tidak membawa permasalahannya tersebut ke Pengadilan Agama.

Akta perdamaian tersebut cukup memiliki kekuatan hukum, artinya akta tersebut ditandatangani oleh konsultan BP4 dan disepakati oleh kedua belah pihak yang bersengketa, disamping itu, apabila ada dari salah satu pihak yang telah mengajukan permasalahannya ke Pengadilan Agama, maka gugatan yang telah diajukan ke Pengadilan Agama dapat dicabut dengan berdasarkan akta perdamaian dari BP4 tersebut, yang tentunya prosesnya terlebih dahulu melalui proses mediasi di Pengadilan Agama .

Akan tetapi, apabila ketentuan dalam perjanjian tersebut tidak ditepati oleh salah satu pihak, maka yang lain dapat mengadukan kembali kepada BP4 Pusat untuk diselsaikan sebagaimana mestinya6.

B. Kinerja Mediasi BP4 Dalam Menekan Angka Perceraian

Seperti yang telah diketahui bersama bahwasanya BP4 ini mempunyai banyak macam tugasnya yang masuk dalam program kerja mereka yaitu

6

Wawancara Pribadi Dengan Zubaidah Muchtar, Konsultan BP4 Pusat, Jakarta, 29 Juli 2010

memberikan peranan dan kontribusi yang baik di masyarakat guna tercapainya tujuan perkawinan. Di samping itu BP4 mempunyai kewajiban agar mampu memerankan atau memperkecil angka perceraian.

Pada organisasi di tingkat pusat BP4 mempunyai bidang-bidang yang salah satunya yaitu dalam bidang pembinaan keluarga, perselisihan dan perceraian atau dalam hal ini yaitu memediasikan pihak-pihak yang berselisih atau bersengketa agar tidak terjadi perceraian.

BP4 Pusat ini berupaya memenuhi semua program kerja yang telah ditetapkan, salah satunya yang disoroti dalam skripsi ini adalah efektifitas mediasi atau pemberian bantuan dalam mengatasi masalah perkawinan, keluarga dan perselisihan perkawinan yang dilakukan oleh BP4 yang bersangkutan guna menekan angka perceraian. Berikut akan penulis lampirkan data-data kasus klien yang berkonsultasi di kantor BP4 Pusat pada tahun 2009 DATA-DATA KASUS KLIEN YANG BERKONSULTASI DI KANTOR BP4 PUSAT7

I. Data-data kasus yang dapat kami sampaikan dalam laporan ini adalah diperoleh antara Januari s/d Desember 2007 yang sedang/telah ditangani para Konsultan secara langsung di Sekretariat Biro Konsultasi dan Penasihatan Hukum BP4

7

Data-data Kasus Klien Yang Berkonsultasi Di Kantor BP4 Pusat dari Tahun 2007-2009, dapat dilihat di Lampiran 

59

Pusat, berdasarkan berbagai latar belakang terjadinya perselisihan atau perceraian.

Tabel 3.1

Data Kasus Klien Yang Berkonsultasi Di Kantor BP4 Pusat Pada Tahun 2007

2007 Pernikahan Anak KDRT Rujuk WIL Ekonomi Waris Cerai Jmlh

Jan 20 - 5 - 10 1 1 6 43 Feb 18 - 6 1 - - 1 5 31 Maret - 3 1 - - 1 - 7 12 April 8 - - 4 4 - 5 13 34 Mei 15 - - 4 - - 5 8 32 Juni 5 - - 6 5 - 5 14 35 Juli 5 - 4 - 6 5 5 8 33 Agust 8 - - 5 5 - 6 5 29 Sept 7 - - - - 8 - 6 21 Oktr 5 - - - - 4 - 7 16 Nop 4 - - - - 5 9 Des 15 - - - 4 - 4 5 28 Total 110 3 16 20 34 19 32 89 323 Keterangan:

Berdasarkan data-data tersebut di atas, jumlah total kasus yang ditangani para konsultan selama 1 (satu) tahun sebanyak 323 kasus. Dari jumlah tersebut BP4 Pusat terdapat limpahan dari Pengadilan Agama Jakarta Pusat sebanyak 25 kasus gugatan cerai dan berhasil didamaikan sebanyak 10 pasangan suami istri,.

II.Data-data kasus yang dapat kami sampaikan dalam laporan ini adalah diperoleh antara Januari s/d Desember 2008 yang sedang/telah ditangani para Konsultan secara langsung di Sekretariat Biro Konsultasi dan Penasihatan Hukum BP4 Pusat, berdasarkan berbagai latar belakang terjadinya perselisihan atau perceraian.

Tabel 3.2

Data Kasus Klien Yang Berkonsultasi Di Kantor BP4 Pusat Pada Tahun 2008

2008 Pernikahan Anak KDRT Rujuk WIL Ekonomi Waris Cerai Jmlh

Jan 1 - 2 - 2 1 1 4 11 Feb 5 - 3 1 - - 1 3 13 Maret - 1 1 - - 1 - 5 8 April 4 - - 2 2 - 2 10 20 Mei 11 - - 1 - - 2 5 19 Juni 2 - - 3 2 - 2 10 19 Juli 1 - 1 - 2 1 2 6 13 Agust 5 - - 1 1 - 2 2 12 Sept 5 - - - - 1 - 3 9 Oktr 3 - - - - 1 - 3 7 Nop 1 - - - - 3 4 Des 10 - - - 1 - 2 3 15 Total 48 1 7 8 10 5 14 57 150 Keterangan:

Berdasarkan data-data tersebut di atas, jumlah total kasus yang ditangani para konsultan selama 1 (satu) tahun sebanyak 150 kasus. Dari jumlah tersebut BP4

61

Pusat terdapat limpahan dari Pengadilan Agama Jakarta Pusat sebanyak 15 kasus gugatan cerai dan berhasil didamaikan sebanyak 5 pasangan suami istri,.

III Data-data kasus yang dapat kami sampaikan dalam laporan ini adalah diperoleh antara Januari s/d Desember 2009 yang sedang/telah ditangani para Konsultan secara langsung di Sekretariat Biro Konsultasi dan Penasihatan Hukum BP4 Pusat, berdasarkan berbagai latar belakang terjadinya perselisihan atau perceraian.

Tabel 3.3

Data Kasus Klien Yang Berkonsultasi Di Kantor BP4 Pusat Pada Tahun 2009

2009 Pernikahan Anak KDRT Rujuk WIL Ekonomi Waris Cerai Jmlh

Jan 5 - 3 - - 3 - 4 12 Feb 3 1 - - - - - 2 6 Maret 5 1 2 - - 1 - 2 11 April 3 - - - - 4 7 Mei 3 - - - 1 2 6 Juni 5 1 - - - - - 1 7 Juli 2 - 1 2 - - - 1 6 Agust 3 2 - - - - - 1 6 Sept 2 - - - - - 2 Oktr 1 - - - - 6 - 1 8 Nop 3 2 2 2 - 1 2 12 Des 1 - 1 1 1 - - 1 5 Total 36 4 3 4 3 10 5 19 88

Keterangan:

Berdasarkan data-data tersebut di atas, jumlah total kasus yang ditangani para konsultan selama tahun 2009 sebanyak 88 kasus.

NB.

- dilihat dari jumlah klien yang datang berkonsultasi tentang perceraian tahun 2008 sebanyak 57 kasus dan tahun 2009 sebanyak 19 kasus, terjadi penurunan 38 kasus.

- Konsultasi perkawinan yang meliputi hak dan kewajiban suami istri tahun 2008 sebanyak 48 kasus dan tahun 2009 sebanyak 36 kasus, terjadi penurunan 12 kasus.

- Secara total jumlah klien yang berkonsultasi tahun 2008 sebanyak 150 kasus dan tahun 2009 sebanyak 88 kasus, terjadi penurunan 62 kasus

Berdasarkan data-data yang penulis peroleh diatas, baik dari hasil wawancara dengan para pihak yang terkait, dengan melihat mekanisme pemberian bantuan penasihatan atau konsultasi yang dibuka dari hari senin sampai dengan hari jumat, dan melihat arsip-arsip yang berkaitan dengan pembahasan yang penulis jadikan lampiran, maka penulis menyimpulkan bahwa BP4 Pusat belum memiliki peran yang efektif baik dalam memberikan penasihatan perselisihan keluarga maupun menyelesaikan perselisihan yang diadakan di kantor BP4 pusat tersebut. Hal tersebut dapat dilihat pada tabel 3.1, 3.2, dan 3.3 diatas.

63

Disamping itu, Hal tersebut juga ditegaskan oleh salah satu Konsultan BP4 Pusat Prof.Dr.Hj. Aliyah Hamka MA bahwa perselisihan keluarga yang berhasil didamaikan oleh BP4 Pusat ini sekitar 25% sampai dengan 30% dari pasangan yang meminta bantuan penyelesaian di BP4 Pusat. Selebihnya sekitar 60% sampai dengan 75% pasangan yang berselisih tersebut kembali berselisih yang pada akhirnya salah satu dari pasangan tersebut mengajukan gugatan cerai ke Pengadilan Agama. Di samping itu juga, masih banyak masyarakat yang belum tahu tentang program-program yang dilakukan oleh BP4 salah satunya dalam pemberian bantuan penyelesaian perselisihan keluarga. Banyak masyarakat ketika terjadi perselisihan keluarga, mereka langsung membawa permasalahan tersebut ke Pengadilan Agama, tidak melakukan penyelesaian dahulu di BP4.8

Akan tetapi, dari keterangan-keterangan tersebut diatas, penulis juga berpendapat bahwa BP4 Pusat ini sedang terus berupaya menggalakkan dan mencari jalan yang lebih efektif lagi berguna dalam memberikan kontribusi mereka kepada masyarakat, agar masyarakat merasa perlu adanya organisasi lembaga tersebut. Hal tersebut sejalan dengan apa yang dikatakan oleh ketua umum BP4, Drs. H. Taufiq SH. MH bahwa disamping program penasihatan perkawinan, advokasi hukum keluarga dan program-program lainnya untuk mewujudkan keluarga sakinah menurut ajaran Islam, sesuai tujuan BP4,

8

program peningkatan mediasi nampak menjadi salah satu program unggulan pengurus BP4 sekarang.

Menurutnya, “ini dalam rangka menangkap peluang yang telah dibuka oleh Ketua MA-RI dengan PERMAnya Nomor 1/2008 tentang prosedur mediasi”.9

Taufiq melanjutkan bahwa anggota pengurus dan tokoh-tokoh BP4 yang sudah berpengalaman sejak lama mendamaikan perselisihan perkawinan kini perlu masuk system dengan menjadi mediator bersertifikat yang professional, sesuai PERMA. Menurutnya BP4 tinggal meningkatkan dalam metode nya saja, substansinya sudah cukup dan kalaupun masih ada kekurangan, BP4 tinggal melakukan latihan khusus saja, bukan pada pelatihan mediasi nya.

Oleh karena itu, para ketua sepakat agar proses menjadikan BP4 sebagai lembaga pelatihan mediasi sesuai PERMA segera ditempuh secepatnya.10

C. Hambatan Dan Tantangan Yang Dihadapi Oleh BP4 Dalam Melakukan Mediasi

Salah satu cita-cita perkawinan adalah untuk membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan sejahtera serta damai tanpa adanya masalah

9

http://www.pta-jakarta.net 

10 Ibid 

65

atau konflik yang terjadi di dalamnya. Namun untuk mencapai cita-cita tersebut, tidak selalu berjalan lancer tetapi pasti ada saja kendala yang menghambat usaha seseorang tersebut yang mau tudak mau harus dihilangkan terlebih dahulu demi tercapainya cita-cita atau tujuan tersebut.

Begitupun dalam memberikan penasihatan dan mendamaikan pada pasangan yang bersengketa, BP4 Pusat menemui kendala yang menjadi hambatan untuk terlaksana secara efektifnya program kerja mereka, diantaranya

Dokumen terkait