• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tujuan Analisis BOD dan COD Dalam Pengolahan Limbah :

Dalam dokumen PENGUJIAN KADAR CHEMICAL OXYGEN DEMAND (Halaman 29-0)

1. BOD penting untuk mengetahui perkiraan jumlah oksigen yang akan diperlukan untuk menstabilkan bahan organic yang ada secara biologis

2. Untuk mengetahui ukuran fasilitas unit pengolahan limbah

3. Untuk mengukur efisiensi suatu proses perlakuan dalam pengolahan limbah 4. Untuk mengetahui kesesuainya dengan batasan yang diperbolehkan bagi

pembuangan air limbah. (Santoso, 2018)

16

BAB 3

METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat

3.1.1 Pengujian Kadar Chemical Oxygen Demand (COD) 1. Digestion Vessel

3.1.2 Pengujian Biochemical Oxygen Demand (BOD) 1. Botol Winkler

3.2.1 Pengujian Kadar Chemical Oxygen Demand (COD) 1. Ag2SO4 (aq)

2. H2SO4 (aq) 98 % 3. K2Cr2O (aq)

4. Aquadest(l)

17

5. HgSO4 (s)

6. 1,10-phenanthrolin monohidrat (s)

7. FeSO4..7H2O (s)

8. Fe(NH4)2(SO4)6.6H2O (s)

3.2.2 Pengujian Biochemical Oxgen Demand (BOD) 1. H2SO4 (aq)

3.3.1 Pengujian Kadar Chemical Oxygen Demand (COD) 1. larutan Pereaksi Asam Sulfat

Timbang 2,53 gram Ag2SO4(aq) masukkan kedalam beaker, tambahkan aquadest. Larutkan baku kalium dikromat dapat menggunakan larutan siap pakai

3. Larutan Indikator Feroin

Larutkan 1,485 gram 1,10-phenolthrolin monohidrat dan 0,695 gram FeSO4.7H2O dalam aquadest encerkan sampai 100 ml

18

4. Larutan Fero Amonium Sulfat (FAS) 0,05 M

Larutkan 4,9 gram Fe(NH4)2(SO4)2.6H2O dalam 100 ml aquadest, tambahkan 5 ml H2SO4(p) dinginkan dan tepatkan sampai 250 ml

5. Larutan baku Kalium Hidrogen Phtalate (KHP)

Keringkan KHP pada suhu 110oC. Timbang 0,106 gram simpan disuhu 4oC dan dapat digunakan selama 1 minggu selama tidak ada mikroba.

3.3.2 Pengujian Biochemical Oxgen Demand (BOD) 1. Larutan Asam Sulfat(aq) 1 N

Tambahkan 2,8 ml H2SO4 pekat sedikit demi sedikit ke dalam Β± 80 ml aquadest sambil diaduk. Encerkan dengan aquadest hingga 100 ml

2. Larutan Indikator Amilum

Masukkan 2 gram kanji dan Β± 0,2 gram asam salisilat ke dalam 100 ml aquadest panas kemudian diaduk sambil dipanaskan hingga larut

3. Larutan Magnesium Sulfat

Larutkan 5,625 gram MgSO4.7H2O dengan aquadest hingga 250 ml

3.4 Prosedur Percobaan

3.4.1 Pengujian Kadar Chemical Oxygen Demand (COD) 1. Di pipet 2,5 ml sampel uji

2. Ditambahkan 1,5 ml digestion solution dan 3,5 ml larutan pereaksi asam sulfat kedalam tabung

3. Di tutup tabung dan kocok perlahan sampai homogen

4. Di letakkan tabung pada heating block yang telah dipanaskan pada suhu 150oC

5. Dilakukan digestion selama 2 jam

6. Dinginkan perlahan-lahan sampel uji yang sudah di refluks sampa suhu ruang

19

7. Dipindahkan secara kuantitatif sampel uji dari tabung ke dalam Erlenmeyer untuk titrasi

8. Ditambahkan indikator ferroin 1-2 tetes, kemudian di titrasi dengan larutan baku FAS 0,05 M sampai terjadi perubahan warna yang jelas dari hijau-biru menjadi coklat-kemerahan, catat volume larutan FAS yang digunakan

9. Dilakukan tahapan pengerjaan sampel terhadap aquadest sebagai blanko dan larutan KHP sebagai standar. Catat volume larutan FAS yang digunakan

3.4.2 Pengujian Biocehmical Oxygen Demand (BOD) 1. Disiapkan 2 buah botol winkler

2. Ditandai masing-masing botol A1;A2

3. Dimasukkan 1 ml sampel

4. Ditambahkan Asintesis sampai penuh

5. Ditutup masing-masing botol secara hati-hati untuk menghindari terbentuknya gelembung udara

6. Dilakukan pengocokan beberapa kali, kemudian ditambahkan aquadest pada sekitar mulut botol winkler yang telah ditutup

7. Di simpan botol A2 dalam lemari inkubator 20oC Β± 1oC selama 5 hari 8. Pada botol A1, ditambahkan 1 ml larutan MnSO4

9. Ditambahkan 1 ml larutan alkali iodide azida

10. Ditambahkan 1 ml larutan H2SO4 serta ditambahkan 1-2 tetes indikator amilum

11. Pengukuran dilakukan dengan metode titrasi iodometri

12. Di ulangi pengerjaan tahap 8,9,10 untuk botol A2 yang telah di inkubasi selama 5 hari

20

BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Dari pengujian kadar COD dan BOD pada air limbah cair minyak kelapa sawit di Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) maka, diperoleh hasil data sebagai berikut : 4.1.1 Pengujian Kadar COD (Chemical Oxygen Demand)

No Lab Volume

21

CS 2,5 3,12 3,05 0,05050 113,12

4.1.2 Pengujian Kadar BOD (Biocehmical Oxygen Demand) No

22

3.3 Perhitungan

3.3.1 Pengujian COD (Chemical Oxygen Demand) Nilai COD sebagai mg/l O2 :

COD (mg/l O2) = (Aβˆ’B)x M x 8000x fp π‘šπ‘™ π‘ π‘Žπ‘šπ‘π‘’π‘™ 𝑒𝑗𝑖

Keterangan :

A : Volume larutan FAS yang dibutuhkan untuk blanko, dinyatakan dalam mililiter (ml)

B : Volume larutan FAS yang dibutuhkan untuk sampel uji, dinyatakan dalam milliliter (ml)

M : Molaritas larutan FAS

8000 : Berat miliequivalen oksigen x 1000 ml/l

No Lab 15.I

Kadar COD (mg O2/l) = (3,12βˆ’1,79)π‘₯ 0,05050 π‘₯ 8000 π‘₯ 10 2,5

= 1,33 π‘₯ 4040 2,5

= 2149,28 mg/l

No Lab 15.II

Kadar COD (mg O2l) =(3,12βˆ’1,77)π‘₯ 0,05050 π‘₯ 8000 𝑋 10 2,5

= 1,35 𝑋 4040 2,5

23

= 19,39 mg/l

No Lab 16.I

Kadar COD (mg O2l) =( 3,12βˆ’3,00)𝑋 0,05050 𝑋 8000 2,5

= 0,12 𝑋 404

2,5

= 19,39 mg/l

No Lab 16.II

Kadar COD (mg O2l) =(3,12βˆ’3,00)π‘₯ 0,05050 π‘₯ 8000 2,5

= 0,12 π‘₯ 404

2,5

= 19,39 mg/l No Lab 17.I

Kadar COD (mg O2l) =(3,12βˆ’2,55)π‘₯ 0,05050 π‘₯ 8000 2,5

= 0,57 π‘₯ 404

2,5

= 92,11 mg/l No Lab 17.II

Kadar COD (mg O2l) =(3,12βˆ’2,57)π‘₯ 0,05050 π‘₯ 8000

2,5

= 0,55 π‘₯ 404

2,5

= 88,88 mg/l

24

25

= 0,07 π‘₯ 404 2,5

=113,12 mg/l

3.3.2 Pengujian Kadar BOD (Biochemical Oxygen Demand) BOD = (A1-A2)-(B1-B2) x P

Keterangan :

A1 = Nilai DO dari sampel uji sebelum inkubasi (0 hari) (mg/l) A2 = Nilia DO dari sampel uji sesudah inkubasi (5 hari) (mg/l) B1 = Nilai DO dari blanko sebelum inkubasi (0 hari) (mg/l) B2 = Nilai DO dari blanko sesudah inkubasi (5 hari) (mg/l) P= Perbandingan volume sampel uji (V1) per volume total (V2)

No Lab 15.I

BOD = (A1-A2)-(B1-B2) x P

= (7,66-5,44) – (7,94-6,82) x 50

= 1103,31 mg/l

No Lab 15.II

BOD = (A1-A2)-(B1-B2) x P

= (7,68-5,44) – (7,94-6,83)x 50

= 1024,30 mg/l

26

No Lab 16.I

BOD = (A1-A2)-(B1-B2) x P

= (7,86-6,31) – (7,94-6,82) x 50

= 8,67 mg/l

No Lab 16.II

BOD = (A1-A2)-(B1-B2) x P

= (7,82-6,31)– (7,94-6,82) x 50

= 7,88 mg/l

No Lab 17.I

BOD = (A1-A2)-(B1-B2) x P

= (8,49-5,20) –(7,94-6,82) x 50

= 43,39 mg/l

No Lab 17.II

BOD = (A1-A2)-(B1-B2) x P

= (8,53-5,20) – (7,94-6,82) x 50

= 44,18 mg/l

No Lab 18.I

BOD = (A1-A2)-(B1-B2) x P

27

= (8,18-6,70) – (7,94-6,82) x 50

= 355,30 mg/l

No Lab 18.II

BOD = (A1-A2)-(B1-B2) x P

= (8,10-6,70) – (7,94-6,82) x 50

= 394,56 mg/l

No Lab 19.I

BOD = (A1-A2)-(B1-B2) x P

= (15,09-4,06) – (7,94-6,82) x 50

= 49549,52 mg/l

No Lab 19.II

BOD = (A1-A2)-(B1-B2) x P

= (15,01-4,14) – (7,94-6,82) x 50

= 48760,24 mg/l

No Lab CS

BOD = (A1-A2)-(B1-B2) x P

= (7,66-4,77) – (7,94-6,82) x 50

= 177,35 mg/l

28

3.4 Pembahasan

Dari hasil yang telah dilakukan pada air limbah cair minyak kelapa sawit di Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) diperoleh kadar Chemical Oxygen Demand (COD) dengan sampel nomor lab 15 kadar COD sebesar 2165,44 mg/l; pada sampel dengan nomor lab 16 kadar COD sebesar 19,19 mg/l; pada sampel dengan nomor demikian maka dapat dinyatakan bahwa sampel dengan nomor lab 15,18dan 19 tidak memenuhi syarat baku mutu yang telah ditentukan oleh pemerintah. Sehingga sampel dengan nomor lab 15,18 dan 19 tidak aman dibuang ke lingkungan atau badan air.

Pengujian kadar Biochemical Oxygen Demand (BOD) pada sampel minyak kelapa sawit pada sampel dengan nomor lab 15 diperoleh sebesar 1063,81 mg/l; pada sampel dengan nomor lab 16 kadar BOD sebesar 8,28 mg/l; pada sampel dengan nomor lab 17 kadar BOD sebesar 43,78 mg.l; pada sampel dengan nomor lab 18 kadar BOD sebesar 1,80 mg.l; pada sampel dengan nomor lab 19 kadar BOD sebesar 374,93 mg/l; pada sampel dengan nomor lab 20 kadar BOD sebesar 1,61 mg/l.

Berdasarkan Peraturan Mentri Lingkungan RI No 5 Tahun 2014 Tentang baku mutu air limbah, parameter limbah cair untuk industri minyak kelapa sawit kadar BOD pada limbah cair kelapa sawit maksimal sebesar 100 mg/l. dengan demikian maka dapat dinyatakan bahwa sampel dengan nomor lab 15,18 dan 19 tidak memenuhi syarat baku mutu yan telah ditentukan oleh pemerintah. Sehingga sampel dengan nomor lab 15,18 dan 19 tidak aman dibuang ke lingkungan atau badan air.

Tingginya kadar COD dan BOD pada limbah disebabkan banyaknya zat-zat organik dan anorganik yang terkandung di dalam limbah . Semakin tinggi nilai COD

29

pada limbah maka kualitas dari air limbah tersebut sangat buruk begitu pulan dengan BOD, Semakin tinggi nilai BOD pada limbah maka kualitas air limbah tersebut sangat buruk.

30

BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Dari hasil pengujian Kadar Chemical Oxygen Demand (COD) dan Biochemical Oxygen Demand (BOD) pada limbah minyak kelapa sawit diperoleh hasil sebagai berikut :

1. Hasil pengujian kadar Chemical Oxygen Demand (COD) pada sampel miyak kelapa sawit di Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan diperoleh hasil yang bervariasi yaitu pada sampel limbah cair minyak kelapa sawit dengan nomor lab 15 kadar COD sebesar 2165,44 mg/l; pada nomor lab 16 kadar COD sebesar 19,19 mg/l; pada nomor lab 17 kadar COD sebesar 90,50 mg/l;

pada nomor lab 18 kadar COD sebesar 711,04 mg/l; pada nomor lab 19 kadar COD sebesar 101404,00 mg/l.

2. Hasil pengujian kadar Biochemical Oxygen Demand (BOD) pada sampel minyak kelapa sawit di Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan diperoleh pengujian kadar BOD pada sampel minyak kelapa sawit dengan nomor lab 15 sebesar 1063,81 mg/l; pada nomor lab 16 kadar BOD sebesar 8,28 mg/l; pada nomor lab 17 kadar BOD sebesar 43,78 mg.l; pada nomor lab 18 kadar BOD sebesar 1,80 mg.l; pada nomor lab 19 kadar BOD sebesar 374,93 mg/l; pada nomor lab 20 kadar BOD sebesar 1,61 mg/l

3. Berdasarkan Peraturan Mentri Lingkungan RI No.5 Tahun 2014 Tentang Baku Mutu Limbah Cair untuk industri minyak kelapa sawit kadar COD pada limbah cair minyak kelapa sawit maksimal sebesar 350 mg/l. Dengan demikian maka dapat dinyatakan bahwa sampel dengan nomor lab 15,18 dan 19 tidak memenuhi syarat baku mutu yang telah ditentukan oleh pemerintah.

31

Sedangkan pada sampel dengan nomor lab 16 dan 17 kadar COD telah memenuhi syarat baku mutu yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

4. Berdasarkan Peraturan Mentri Lingkungan RI No. 5 Tahun 2014 Tentang Baku Mutu Limbah Cair untuk industri minyak kelapa sawit kadar BOD pada limbah cair minyak kelapa sawit maksimal sebesar 100 mg/l. Dengan demikian maka dapat dinyatakan bahwa sampel dengan nomor lab15,18 dan 19 tidak memenuhi syarat buku mutu yang telah ditentukan oleh pemerintah.

Sedangkan pada sampel dengan nomor lab 16 dan 17 kadar COD telah memenuhi syarat baku mutu yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

5.2 Saran

Sebaiknya untuk pengujian kadar COD selanjutnya dapat menggunakan metode lain seperti spektrofotometri yang agar hasil yang diperoleh lebih akurat dan untuk pengujian kadar BOD selanjutnya juga dapat menggunakan metode lain selain metode titrasi winkler.

32

DAFTAR PUSTAKA

Alaerts, G., 2010. Metode Penelitian Air. Usaha Nasional . Surabaya

Arief, M.L., 2016. Pengolahan Limbah Industri. Yogyakarta : Cv Andi Offset Atima, wa ., 2015. BOD dan COD Sebagai Parameter Pencemaran Air dan Baku

Mutu Air Limbah. Jurnal Biology Science & Education. 5 (4) : 84

Apha., 1989. Standard method for the examination of waters and wastewater. 17th ed.

American Public Health Association, American Water Works Association, Water Pollution Control Federation. Washington, D.C. 1467 p.

Chandra,Budiman., 2005. Pengantar Kesehatan Lingkungan. Jakarta : EGC Greenberg, A.,1917. Standard Method For The Examination Of Water and Waste

Water. Sixteenth Edition. NewYork: American Publik Health Assiation Press.

Mahida, U. N. 1981. Pencemaran Air dan Pemanfaatan Limbah Industri. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.

Matcalf & Eddy., 1991. Wastewater Engineering : treatment, disposal, reuse.3rd (Revised by : G.Tchobanoglous and F.L. Burton). McGraw-Hill, inc. New York : Singapore, 1334 p.

Mays, L.W. (Editor in Chief) 1996. Water resources handbook. McGraw-Hill. New York

Mulia, M.R ., 2005. Kesehatan Lingkungan. Yogyakrta : Graha Ilmu

Nasution, D.Y., 2004. Pengolahan limbah cair pabrik kelapa sawit yang berasal dari kolam akhir (final pond) dengan proses koagulasi melalui elektrolisis.

Jurnal sains kimia. 8(2) : 38-40

Ngathira., 2019. Teknologi Penanganan dan Pemanfaatan Limbah Kelapa Sawit.

Yogyakarta : Instiper.

Nugroho,Astri., 2006. Bioindikator Kualitas Air. Jakarta : Universitas Trisakti Salmin., 2015. Oksigen Terlarut (DO) dan Kebutuhan Oksigen Biologi (BOD)

Sebagai Salah Satu Indikator Untuk Menentukan Kualitas Perairan.

Oseana.

Santoso, A.D., 2018. Keragaan Nilai DO, BOD dan COD Di Danau Bekas Tambang Batu Barastudi Kasus Pada Danau Sangatta North Pt. Kpc di Kalimantan Timur. Jurnal Teknologi Lingkungan. 19(1) : 89-96

Sugiharto., 1987. Dasar-dasar pengolahan air limbah. Jakarta : UI Press

Sunarsih, L.E.2018. Penanggulangan Limbah. Yogyakarta : Deepublish Publisher

33

Susilawati dan Hamonangan., 2011. Pengolahan Limbah Cair Industri Perkebunan dan Air Gambut Menjadi Air Bersih. Medan : USU Press

Suparmin., 2001. Pembuangan Tinja & Limbah Cair. Jakarta : EGC.

Tumimomor et al., 2019. Penurunan Kadar BOD dan COD Dalam Limbah Cair Laundry Menggunakan Kombinasi Adsorben Alam Sebagai Media Filtrasi. Journal Chemistry. Vol 4 No 2. Halaman 55.

Umaly, R.C dan MA L.A. Cuvin., 1988. Limnology : Laboratory and field guide, Physico-chemical factors, Biological factors. National Book Store, Inc.

Publishers. Metro Manila. 322 p.

Wardhana., 1995. Dampak Pencemaran Lingkungan. Yogyakarta : Andi Offset Yuliastuti, E., 2015. Pengaruh Afinitas Warga di Sempadan Sungai Terhadap

Kualitas Air Sungai Winogo. Tesis. Universitas Pembangunan Nasional

β€œVeteran”. Yogyakarta.

Dalam dokumen PENGUJIAN KADAR CHEMICAL OXYGEN DEMAND (Halaman 29-0)

Dokumen terkait