BAB IV DESKRIPSI HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Bab ini membahas tentang peranan sistem jemput bola terdiri
KOPERASI JASA KEUANGAN SYARIAH DAN PERANAN SISTEM JEMPUT BOLA
3. Tujuan Berdirinya Koperasi Jasa Keuangan Syariah
Koperasi syariah mulai diperbincangkan banyak orang ketika menyikapi semaraknya pertumbuhan baitul maal wattamwil di Indonesia yang dikenal dengan sebutan BMT yang dimotori pertama kalinya oleh BMT lembaga BMT yang memiliki berbasis kegiatan ekonomi rakyat dengan falsafah yang sama yaitu”yaitu dari anggota oleh anggota” maka berdasarkan undang-undang RI No 25 tahun 1992 tersebut berhak menggunakan badan hukum koperasi, letak perbedaannya dengan koperasi konvensional (non syariah) salah satunya terletak pada teknis operasionalnya saja, koperasi syariah mengharamkan bunga yang mengusung etika moral dengan melihat kaidah halal dan haram dalam melakukan usahanya.
Adapun tujuan dari berdirinya koperasi jasa keuangan syariah antara lain adalah
a. Mensejahterakan ekonomi anggotanya sesuai norma dan moral Islam
☺
⌧
)
Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; Karena Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.
b. Menciptakan Persaudaraan dan Keadilan sesama anggota
⌧
Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (Q.S Al Hujarat (49):13)
c. Pendistribusian pendapatan dan kekayaan yang merata sesama anggota berdasarkan kontribusinya.4
Agama Islam mentolerir kesenjangan kekayaan dan penghasilan karena manusia tidak sama dalam hal karakter, kemampuan, kesungguhan dan bakat. Perbedaan diatas tersebut merupakan penyebab perbedaan dalam pendapatan dan kekayaan. Hal ini dapat terlihat pada Al Qur’an :
⌦
Dan dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan
Sesungguhnya dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(Q.S Al
An’aam 06):165)
4 Koperasi Jasa Keuangan Syariah
d. Kebebasan pribadi dalam kemaslahatan sosial yang didasarkan pada pengertian bahwa manusia diciptakan hanya untuk tunduk kepada Allah.
☺
☺
⌧
Orang-orang yang Telah kami berikan Kitab kepada mereka bergembira dengan Kitab yang diturunkan kepadamu, dan di antara golongan-golongan (Yahudi dan Nasrani) yang bersekutu, ada yang mengingkari sebahagiannya. Katakanlah "Sesungguhnya Aku Hanya diperintah untuk menyembah Allah dan tidak mempersekutukan sesuatupun dengan Dia. Hanya kepada-Nya Aku seru (manusia) dan
Hanya kepada-Nya Aku kembali.“. (Q.S Ar Ra’d (13) : 36)
Terwujudnya perkembangan lembaga keuangan syariah, selain karena ada kebutuhan di masyarakat juga karena berlakunya dual banking system dalam perbankan nasional. Sistem perbankan nasional telah menempatkan subsistem syariah sebagai alternatif dari subsistem konvensional, khususnya dalam pelayanan baik dalam untuk memenuhi kebutuhan (permintaan) dana maupun memanfaatkan kelebihan (penawaran) dana di masyarakat.
Sebagai suatu sistem, perbedaannya terletak pada kaidah dan prinsip syariah yang digunakan sebagai landasan transaksinya. Mudahnya dalam sistem syariah tidak dikenal transaksi yang memakai dasar “perkiraan” maupun perhitungan “bunga” (yang umumnya menjadi dasar perhitungan dalam bisnis keuangan – simpan pinjam secara konvensional). Konsep bunga dalam ajaran Islam dianggap mengandung aspek (riba) yang diharamkan. Demikian pula dilarang untuk mengaplikasikan perlakuan transaksi yang sifatnya mengandung spekulasi dan juga ketidak jelasan5
Dengan demikian dalam konsep syariah semua aplikasi transaksi yang berkaitan atau berhubungan dan bersinggungan dengan komponen“bunga” dihindari, dan sebagai gantinya dalam rangka memperoleh pendapatan melalui transaksi keuangan, harus dilakukan berdasar kesepakatan per-janjian (akad) yang umumnya bertumpu pada konsep “bagi hasil”. Konsep itu secara luas telah mendorong terwujudnya “kesetaraan” bagi semua pihak yang terlibat dalam kesepakatannya. Untuk itu kesepakatan yang dibangun dengan prinsip saling menguntungkan (menanggung risiko se-cara proporsional) dan rasional di antara mereka yang melakukan akad harus dapat dilakukan berdasar kaidah-kaidah yang dihalalkan menurut ketentuan al Quran dan as Sunnah.
Cara tersebut dianggap dapat membantu menghindarkan proses eksploitasi oleh satu pihak pada pihak lain. Demikian pula risiko harus
5
M Dawan Raharjo ”Pembangunan Ekonomi Islam”: Suatu Pendekatan, Pemerataan, Keadilan dan Ekonomi Kerakyatan,(Jakarta : PT. Intermasa, 1997), h.26
dapat diterima sebagai suatu kondisi, yang perlu dikendalikan secara ber-sama, namun tetap harus diterima (tidak boleh diingkari) sepenuhnya. Dampaknya, dalam transaksi syariah diperlukan pemahaman tentang apa yang disepakatinya, khususnya dalam setiap produk jasa syariah. Pemahaman itu di antaranya harus dapat diarahkan untuk memperoleh pengertian dan lingkup dari komponen, berupa tujuan, manfaat yang di-peroleh, risiko yang mungkin dihadapi, serta ketentuan yang harus diikuti. Berbagai produk layanan syariah itu didefinisikan dan diatur oleh Dewan Syariah Nasional melalui sejumlah fatwanya. Aplikasinya harus didukung oleh pemahaman kedua belah pihak yang bekerja sama, dan hasilnya di-wujudkan melalui keputusan yang tercantum dalam “akad keuangan syariah”.6
Dalam kelembagaannya, koperasi jasa keuangan syariah secara rasional juga dituntut untuk bertindak hati-hati (prudent), karena mereka mengemban amanah pengelolaan “milik anggotanya”, melalui penye-lenggaraan berbagai upaya memanaj usahanya dengan efektif. Mengapa harus demikian, karena mereka juga akan dan dapat menghadapi masalah, sebagai dampak kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan. Untuk itu para pengelola Koperasi Jasa Keuangan Syariah atau Unit Jasa Keuangan Syariah, perlu menyadari dan memberikan perhatian secara cukup dan cermat terhadap pola manajemen usahanya. Polanya harus dapat
6
M. Jafar Hafsah ”Kemitraan Usaha Konsepsi Dan Strategi” Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2000.
membantu mereka untuk peka dan sekaligus dapat mengarahkan pada terwujudnya prinsip kehati-hatian, itu berarti bahwa pola manajemennya harus dapat mengendalikan dan mengarahkan setiap pelaku dalam lembaga koperasi jasa keuangan syariah untuk bertindak berdasar prinsip dan tata aturan yang ditetapkan. Evaluasi terhadap efektivitas pola ma-najemen usahanya perlu pula dilakukan dengan konsisten, karena mereka sangat tergantung pada ketepatan dan “kepekaan” keputusan dan tindakan dalam memanfaatkan berbagai peluang yang tersedia serta akad yang dibuatnya.