BAB II LANDASAN TEORI
A. Pendidikan Karakter
3. Tujuan dan Fungsi Pendidikan Karakter
Pembentukan karakter merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional, sebagaimana disebutkan dalam UU Sisdiknas tahun 2003 Pasal I yang menyatakan bahwa di antara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian, dan akhlak mulia.16 Amanah Undang-Undang Sisdiknas tahun 2003 tersebut bermaksud agar pendidikan tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas, tetapi juga berkepribadian atau berkarakter, sehingga mewujudkan generasi bangsa yang tumbuh berkembang dengan karakter yang berafas nilai luhur bangsa serta agama.
Pendidikan karakter memiliki tujuan sebagai berikut:
1. Membentuk siswa herpikir rasional, dewasa, dan bertanggung jawab
2. Mengembangkan sikap mental yang terpuji
3. Membina kepekaan sosial anak didik;
4. Membangun mental optimis dalam menjalani kehidupan yang penuh dengan tantangan
5. Membentuk kecerdasan emosional
6. Membentuk anak didik yang berwatak pengasih, penyayang, sabar, beriman, takwa, bertanggung jawab, amanah, jujur, adil, dan mandiri.17
16Pasal I UU Sisdiknas tahun 2003
17Hamdani Hamid, dan Beni Ahmad Saebani, Pendidikan Karakter Perspektif Islam, h. 39
Memahami kutipan di atas, pendidikan karakter bertujuan membentuk siswa berpikir rasional dan bertanggung jawab. Pendidikan karakter tidak hanya terkait dengan bertambahnya ilmu pengetahuan, namun harus mencakup aspek sikap dan perilaku sehingga dapat menjadikan anak sebagai manusia yang bertakwa, berilmu, dan berakhlak mulia. Konsep ini sejalan dengan pendidikan karakter yang mengintegerasikan olah pikir, olah rasa dan karsa menjadi kesatuan yang utuh untuk dikembangkan pada diri peserta didik.
Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pendidikan yang mengarah pada pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang, sesuai dengan standar kompetensi lulusan pada setiap satuan pendidikan. Melalui pendidikan karakter peserta didik diharapkan mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasikan serta mempersonalisasikan nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari. 18
Menurut Pendidikan karakter dilaksanakan agar siswa dapat memiliki nilai-nilai karakter yang tercermin dalam dirinya. Pendidikan karakter memiliki tujuan dasar yaitu untuk membantu siswa rnengernbangkan nilai-nilai karakter dalam dirinya. Nilai-nilai-nilai karakter tersebut tidak hanya sekadar teori tetapi tercermin dalam pikiran, emosi, dan perilaku siswa. Agar tujuan dapat tercapai, pendidikan karakter perlu dilakukan secara terus menerus. I-lai
18Abdulloh Hamid, Pendidikan Karakter Berbasis Pesantren (Pelajar dan Santri dalam Era IT dan Cyber Culture), (Surabaya: Imtiyaz, 2017), h.13
mi mengingat karakter sebagai sikap, watak, kepribadian, sehingga perlu dibiasakan dalam proses pendidikan karakter.19
Memahami pendapat di atas, pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia secara utuh, terpadu, dan seimbang sesuai standar kompetensi lulusan. Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, dan menginternalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari. Pendidikan karakter pada tingkatan institusi mengarah pada pembentukan budaya sekolah, yaitu nilai-nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh semua warga sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah.
Pendidikan karakter secara terperinci memiliki lima tujuan. Pertama, mengembangkan potensi kalbu/nurani/afektif peserta didik sebagal nianusia dan warga negara yang memiliki nilainilai karakter bangsa.
Kedua, mengembangkan kebiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji dan sejalan dengan nilainilal universal dan tradisi budaya bangsa yang religius. Ketiga, menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab peserta didik sebagai generasi penerus bangsa.
Keempat, mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang mandiri, kreatif, dan berwawasan kebangsaan. Kelima, mengemban-gkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, dan dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan (dignity).20
19Atikah Mumpuni, Integrasi Nilai Karakter dalam Buku Pelajaran: Analisis Konten Buku Teks Kurikulum 2013, (Yogyakarta: Deepublihs, 2018), h. 15
20Zubaedi, Desain Pendidin Karater: Konsepsi dan Aplikasinya dalam Lembaga Pendidikan, (Jakarta: Kencana, 2012), h. 18
Berdasarkan uraian di atas pendidikan karakter bertujuan mengembang-kan potensi karakter siswa agar dapat berkembang sejalan dengan nilai-nilai karakter yang bersumber dari fitrah yang dibawa sejak lahir, nilai-nilai agama, norma sosial dan kebangsaan. Pendidikan karakter mengemban misi untuk mengembangkan watak-watak dasar yang seharusnya dimiliki oleh peserta didik.
Penghargaan (respect) dan tanggung jawab (responsibility) merupakan dua nilai moral pokok yang harus diajarkan oleh sekolah. Nilai-nilai moral yang lain adalah kejujuran, keadilan, toleransi, kebijaksanaan, kedisiplinan din, suka menolong, dan sekumpulan nilai-nilai demokrasi.
Dilihat dari fungsinya, maka pendidikan karakter sejalan dengan fungsi pendidikan nasional yang tertuang dalam UU No 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas menyatakan bahwa Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri,
dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Pendidikan karakter berfungsi mengembangkan potensi dasar agar berhati baik, berpikiran baik, dan berperilaku baik, memperkuat dan membangun perilaku bangsa yang multikultur, meningkatkan peradaban bangsa yang kompetitif dalam pergaulan dunia. Pendidikan karakter dilakukan melalui berbagai media yang mencakup keluarga, satuan pendidikan, masyarakat sipil, masyarakat politik, pemerintah, dunia usaha, dan media massa. 21
21Daryanto dan Suryatri Darmiatun, Implementasi Pendidikan Karakter,..., h. 44
Fungsi pendidikan karakter di atas, mencerminkan pengintegerasian pikiran, perasaan dan perilaku dalam pembentukan karakter, dalam serangkaian upaya pendidikan di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Pendidikan karakter difungsikan sebagai sarana internalisasi nilai-nilai karakter melalui program pembelajaran, latihan dan pembudayaan karakter di lingkungan pendidikan. Fungsi pendidikan karakter tersebut menjembatani perwujudan norma sosial di masyarakat dalam menciptakan komuntas sosial yang santun, harmonis, dan menjunjung tinggi hak dan kewajiban.
Pendidikan karakter pada tataran yang lebih luas, diharapkan berfungsi sebagai berikut:
1. Pembentukan dan Pengembangan Potensi
Pendidikan karakter berfungsi membentuk dan mengembangkan potensi manusia atau warga negara Indonesia agar berpikiran baik, berhati baik, dan berperilaku baik sesuai dengan falsafah hidup Pancasila.
2. Perbaikan dan Penguatan
Pendidikan karakter berfungsi memperbaiki karakter manusia dan warga negara Indonesia yang bersifat negatif dan memperkuat peran keluarga, satuan pendidikan, masyarakat, dan pemerintah untuk ikut berpartisipasi dan bertanggung jawab dalam pengembangan potensi manusia atau warga negara menuju bangsa yang berkarakter, maju, mandiri, dan sejahtera.
3. Penyaring
Pendidikan karakter bangsa berfungsi memilah nilai-nilai budaya bangsa sendiri dan menyaring nilai-nilai budaya bangsa lain yang positif untuk menjadi karakter manusia dan warga negara Indonesia agar menjadi bangsa yang bermartabat. 22
22Daryanto dan Suryatri Darmiatun, Implementasi Pendidikan Karakter di Sekolah,..., h. 46
Mencermati uraian di atas, pendidikan karakter berfungsi sebagai pengembangan potensi karakter peserta didik, sehingga dapat terbina dan terbentuk menjadi karakter yang mulia. Hal ini sejalan dengan konsep fitrah dalam pendidikan Islam, yang menyatakan bahwa peserta didik pada dasamya diciptakan dalam keadaan suci. Adapun perubahan dari fitrah tersebut merupakan akibat dari penyerapan nilai dari lingkungan di sekitamya.
Pendidikan karakter berfungsi mengembangkan kemampuan dan memperkuat watak serta peserta didik yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Nilai-nilai karakter tidak hanya pada tataran kognitif, tetapi menyentuh pada internalisasi, dan pengamalan nyata dalam kehidupan peserta didik sehari-hari di masyarakat.
Pendidikan karakter juga berfungsi menjadi penyaring (filter) terhadap kemungkinan masuknya karakter yang tidak sesuai dengan sumber nilai agama, budaya dan norma sosial di masyarakat. Pendidikan karakter dapat dijadikan instrumen agar siswa mampu mengidentifikasi nilai-nilai yang tidak sesusia dengan ajaran agama, budaya norma sosial sehingga siswa memiliki keyakinan untuk menghindarinya. Kesadaran siswa tentang pentingnya karakter bagi kemaslahatan dirinya dan lingkungannya diharapkan dapat tumbuh seiiring proses pembentukan nilai dan penguatan karakter dalam dirinya.