• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tujuan dan Kebijakan Manajemen Risiko Keuangan

Dalam dokumen Laporan Keuangan Bank Sinarmas Indonesia (Halaman 74-76)

Jumlah 15.129.997 15.054.733Nilai Tercatat

39. Tujuan dan Kebijakan Manajemen Risiko Keuangan

Perusahaan dalam melaksanakan kegiatannya menyadari bahwa situasi lingkungan eksternal dan internal perbankan senantiasa mengalami perkembangan yang diikuti dengan semakin meningkatnya eksposur dan kompleksitas risiko kegiatan usaha perbankan, serta meningkatnya kebutuhan akan praktek tata kelola yang sehat (Good Corporate Governance). Sebagai tanggapan Perusahaan terhadap kondisi tersebut, Perusahaan menerapkan suatu kebijakan manajemen risiko yang bertujuan untuk memastikan bahwa risiko-risiko yang timbul dalam kegiatan usahanya dapat diidentifikasi, diukur, dikelola dan dilaporkan, yang pada akhirnya akan memberikan manfaat berupa peningkatan nilai perusahaan yang disertai peningkatan kepercayaan pemegang saham dan masyarakat, memberikan gambaran lebih akurat mengenai kinerja di masa mendatang termasuk kemungkinan kerugian yang akan terjadi, dan meningkatkan metode dan proses pengambilan keputusan serta penilaian risiko dengan adanya ketersediaan informasi yang terkini, yang dengan sendirinya meningkatkan kinerja dan daya saing Perusahaan.

Untuk menyesuaikan dengan standar manajemen risiko pada perbankan internasional, Perusahaan secara terus-menerus mengembangkan dan meningkatkan kerangka sistem pengelolaan risiko dan struktur pengendalian internal yang terpadu dan komprehensif, sehingga dapat memberikan informasi bagi Perusahaan adanya potensi risiko secara lebih dini dan selanjutnya mengambil langkah-langkah yang memadai untuk meminimalkan dampak risiko. Kerangka manajemen risiko ini dituangkan dalam kebijakan, prosedur, limit-limit transaksi dan kewenangan dan ketentuan lain serta berbagai perangkat manajemen risiko yang berlaku di seluruh lingkup aktivitas usaha.

Perusahaan memiliki Satuan Kerja Manajemen Risiko (SKMR) yang bekerja secara independen dari unit bisnis dan audit internal. SKMR bertugas untuk menunjang pengelolaan risiko yang lebih menyeluruh, terpadu, terukur dan terkendali. Tugas dan tanggung jawab SKMR mencakup:

a. Memberikan masukan kepada Direksi dalam penyusunan kebijakan, strategi serta kerangka manajemen risiko;

c. Pemantauan terhadap pelaksanaan strategi manajemen risiko yang direkomendasikan oleh Komite Manajemen Risiko dan yang telah disetujui oleh Direksi;

d. Pemantauan posisi/eksposur risiko secara keseluruhan (composite), per jenis risiko maupun per aktvitas fungsional sesuai limit risiko yang ditetapkan;

e. Melakukan stress testing guna mengetahui dampak dari pelaksanaan kebijakan dan strategi manajemen risiko terhadap kinerja masing-masing satuan kerja operasional;

f. Pengkajian terhadap usulan aktivitas dan/atau produk baru yang diajukan atau dikembangkan oleh suatu unit tertentu yang ada pada Bank. Pengkajian difokuskan terutama pada aspek kemampuan Bank untuk melakukan aktivitas dan atau produk baru termasuk system dan prosedur yang digunakan serta dampaknya terhadap eksposur risiko Bank secara keseluruhan;

g. Memberikan rekomendasi mengenai besaran atau maksimum eksposur risiko yang wajib dipelihara Bank kepada satuan kerja operasional dan kepada Komite Manajemen Risiko, sesuai dengan kewenangan yang dimiliki Satuan Kerja Manajemen Risiko;

h. Evaluasi terhadap akurasi model dan validitas data yang digunakan oleh Bank untuk mengukur risiko, bagi Bank yang menggunakan model untuk keperluan intern;

i. Penyusunan dan penyampaian laporan profil risiko kepada Direktur Utama dan Komite Manajemen Risiko secara berkala atau sekurangkurangnya secara triwulanan. Apabila kondisi pasar berubah dengan cepat maka frekuensi laporan harus ditingkatkan. Sedangkan untuk eksposur risiko yang relatif lambat, frekuensi laporan disampaikan sekurang-kurangnya secara triwulanan. Apabila kondisi pasar berubah dengan cepat maka frekuensi laporan harus ditingkatkan.

j. Pelaksanaan kaji ulang secara berkala untuk memastikan :  Kecukupan kerangka manajemen risiko

 Keakuratan metodologi penilaian risiko

 Kecukupan sistem informasi manajemen risiko.

Risiko Kredit

Risiko kredit adalah risiko yang terjadi akibat kegagalan pihak lawan (counterparty) memenuhi liabilitasnya, yang timbul dari aktivitas fungsional Perusahaan seperti perkreditan (penyediaan dana), tresuri, investasi dan pembiayaan perdagangan (trade finance).

Risiko kredit dikelola melalui penetapan kebijakan - kebijakan dan proses-proses yang meliputi kriteria pemberian kredit dan persetujuan kredit, penetapan harga, pemantauan, pengelolaan kredit bermasalah dan manajemen portofolio. Perusahaan juga dengan ketat memantau perkembangan portofolio kredit Perusahaan yang memungkinkan Perusahaan untuk melakukan tindakan pencegahan secara tepat waktu (Early Warning) apabila terjadi penurunan kualitas kredit.

Proses pemantauan kualitas kredit sampai dengan penanganan kredit bermasalah terus ditingkatkan dengan berbagai strategi yang dimonitor secara periodik untuk memastikan agar kualitas portofolio kredit tetap terjaga. Pengelolaan kredit yang efektif dapat meminimalkan kerugian dan mengoptimalkan penggunaan modal yang dialokasikan untuk risiko kredit.

Perusahaan telah memiliki kebijakan dan pedoman tertulis terkait dengan kegiatan perkreditan yang antara lain mengatur prosedur analisa kredit, persetujuan kredit, pencatatan dan pengawasan kredit, dan restrukturisasi kredit. Kebijakan dan prosedur tersebut dikaji secara berkala untuk disesuaikan dengan ukuran dan kompleksitas bisnis Perusahaan.

Perusahaan mengukur dan memantau risiko untuk setiap debitur baik secara individual, sektor ekonomi maupun seluruh portofolio kredit dengan menerapkan four - eyes principle secara konsisten. Perusahaan juga telah menerapkan standar dan prosedur untuk mendukung terciptanya suatu proses pemberian kredit yang mempertimbangkan risiko dan perolehan hasil.

Untuk mendukung pertumbuhan kredit konsumen yang sehat maka dikembangkan Loan Origination System

(LOS) untuk penerapan parameter-parameter risiko secara terintegrasi dan menyeluruh dalam proses pengajuan kredit konsumen. Dilakukan juga penyempurnaan kebijakan dan prosedur untuk pengelolaan portofolio kredit konsumen yang lebih baik.

berakhir 31 Maret 2014 (Tidak Diaudit) dan 31 Maret 2013 (Tidak Diaudit)

Berikut adalah eksposur maksimum laporan posisi keuangan dan rekening administratif yang terkait risiko kredit pada tanggal 31 Maret 2014 dan 31 Desember 2013:

Jumlah Bruto Jumlah Neto Jumlah Bruto Jumlah Neto

Laporan Posisi Keuangan

Diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi

Efek-efek

Obligasi korporasi 40.475 40.267 40.846 40.638

Aset lain-lain

Tagihan derivatif 121 121 28 28

Dimiliki hingga jatuh tempo Efek-efek

Obligasi korporasi 43.959 43.939 4.012 3.972

Tersedia untuk dijual Efek-efek

Obligasi korporasi 118.490 118.490 127.454 127.454

Pinjaman yang diberikan dan piutang

Giro pada bank lain 1.623.526 1.623.526 247.772 247.772

Penempatan pada bank lain

Call money - - 432.113 432.113

Deposito berjangka 200.000 200.000 161.700 161.700

Efek-efek

Tagihan atas wesel ekspor 325.985 325.985 207.001 207.001

Kredit yang diberikan (termasuk kredit

yang diberikan berdasarkan prinsip syariah) 11.224.846 11.165.539 10.966.071 10.909.738

Tagihan akseptasi 246.415 246.415 238.324 238.324

Pendapatan bunga akrual 76.572 76.572 73.261 73.261

Aset lancar lain-lain 42.512 41.488 66.108 65.077

Jumlah 13.942.901 13.882.342 12.564.690 12.507.078

Komitmen dan kontinjensi

Fasilitas kredit kepada nasabah

yang belum digunakan 359.872 359.872 265.516 265.516

Bank garansi 953.607 953.607 921.253 921.253

Irrevocable letters of credit 52.879 52.879 67.942 67.942

Jumlah 1.366.358 1.366.358 1.254.711 1.254.711

Dalam dokumen Laporan Keuangan Bank Sinarmas Indonesia (Halaman 74-76)

Dokumen terkait