Keuangan 33. Financial Risk Management Objectives and Policies
Manajemen Risiko Keuangan Financial Risk Management
Risiko-risiko utama yang timbul dari instrumen keuangan yang dimiliki Grup adalah risiko suku bunga, risiko nilai tukar, risiko kredit, dan risiko likuiditas. Kegiatan operasional Grup dijalankan secara berhati-hati dengan mengelola risiko-risiko tersebut agar tidak menimbulkan potensi kerugian bagi Grup.
The main risks arising from the Group’s financial instruments are interest rate risk, foreign exchange risk, credit risk, and liquidity risk. The operational activities of the Group are managed in a prudential manner by managing those risks to minimize potential losses.
Risiko Suku Bunga Interest Rate Risk
Risiko suku bunga adalah risiko dimana nilai wajar atau arus kas kontraktual masa datang dari suatu instrumen keuangan akan terpengaruh akibat perubahan suku bunga pasar. Eksposur Grup yang terpengaruh risiko suku bunga terutama terkait dengan utang bank, sewa pembiayaan dan utang bank dan lembaga keuangan.
Interest rate risk is the risk that the fair value or contractual future cash flows of a financial instrument will be affected due to changes in market interest rates. The Group’s exposures to the interest rate risk relates primarily to bank loans, lease liabiltiies, and loans payable to bank and financial institutions.
Risiko Suku Bunga (lanjutan) Interest Rate Risk (continued)
Walaupun Grup memiliki pinjaman dengan tingkat suku bunga tetap, Manajemen Grup juga melakukan penelaahan atas suku bunga yang telah ditetapkan, apabila suku bunga pasar turun secara signifikan, manajemen Grup akan melakukan negosiasi untuk menurunkan suku bunga tersebut.
Eventhough the Group has liabilities with fixed interest rate, management of the Group also conducts assessments of such rates and if market interest rate decreases significantly, management of the Group would negotiate to decrease its loan interest rate.
Tabel berikut adalah nilai tercatat, berdasarkan jatuh temponya, atas aset dan liabilitas keuangan konsolidasian Grup yang terkait risiko suku bunga:
The following table sets out the carrying amount, by maturity, of the Group’s consolidated financial assets and liabilities that are exposed to interest rate risk:
Kurang dari Kurang dari
atau sama dengan Lebih dari atau sama dengan Lebih dari satu tahun/ satu tahun/ satu tahun/ satu tahun/ ≤ 1 Tahun/ > 1 Tahun/ ≤ 1 Tahun/ > 1 Tahun/ Less than or more than Less than or more than equal one year one year equal one year one year
≤ 1 Year > 1 Year ≤ 1 Year > 1 Year Jumlah/Total
Aset Assets
Kas dan setara kas 950.428.399.944 - - - 950.428.399.944 Cash and cash equivalents Dana yang dibatasi penggunaannya - - 6.760.587.124 - 6.760.587.124 Restricted funds Piutang lain-lain - pihak ketiga - - 3.362.694.757 - 3.362.694.757 Other receivables - third parties Jumlah 950.428.399.944 - 10.123.281.881 - 960.551.681.825 Total
31 Desember 2012/ December 31, 2012 Suku bunga mengambang/ Suku bunga tetap/
Floating interest rate Fixed interest rate
Kurang dari Kurang dari
atau sama dengan Lebih dari atau sama dengan Lebih dari satu tahun/ satu tahun/ satu tahun/ satu tahun/ ≤ 1 Tahun/ > 1 Tahun/ ≤ 1 Tahun/ > 1 Tahun/
Less than or more than Less than or more than equal one year one year equal one year one year
≤ 1 Year > 1 Year ≤ 1 Year > 1 Year Jumlah/Total
Rp Rp Rp Rp Rp
Aset Assets
Kas dan setara kas 1.877.097.525.241 - - - 1.877.097.525.241 Cash and cash equivalents
Dana yang dibatasi penggunaannya - - 2.952.327.973 - 2.952.327.973 Restricted funds
Piutang lain-lain - pihak ketiga - - - 3.362.694.757 3.362.694.757 Other receivables - third parties
Jumlah 1.877.097.525.241 - 2.952.327.973 3.362.694.757 1.883.412.547.971 Total
Liabilitas Liabilities
Obligasi konversi - - 20.000.000.000 - 20.000.000.000 Convertible bonds
Liabilitas sewa pembiayaan - - 70.538.706 - 70.538.706 Lease liabilities
Utang bank dan lembaga Loans payable to bank and
keuangan - - 493.377.480 982.618.837 1.475.996.317 financial institutions
Jumlah - - 20.563.916.186 982.618.837 21.546.535.023 Total
31 Desember 2011 Suku bunga mengambang/ Suku bunga tetap/
Sebagai akibat transaksi yang dilakukan dengan pembeli dari luar negeri, laporan posisi keuangan konsolidasian Grup dapat dipengaruhi secara signifikan oleh perubahan nilai tukar Dolar AS/Rupiah. Saat ini, Grup tidak mempunyai kebijakan formal lindung nilai transaksi dalam mata uang asing. Namun, Grup mempunyai penjualan ekspor yang dapat memberikan lindung nilai alamiah yang terbatas terhadap dampak fluktuasi nilai tukar Rupiah dengan mata uang asing.
As a result of certain transactions with overseas buyers, the Group’s consolidated statements of financial position may be affected significantly by movements in the US Dollar/Rupiah exchange rates. Currently, the Group does not have a formal hedging policy for foreign currency exposures. However, the Group has export sales which provide limited natural hedge against the impact of fluctuations in exchange rate of Rupiah against foreign currencies.
Berikut adalah posisi aset dan liabilitas moneter
dalam mata uang asing pada tanggal
31 Desember 2012 dan 2011:
As of December 31, 2012 and December 31, 2011, the Group has monetary assets and liabilities denominated in foreign currencies as follows:
Mata uang Ekuivalen Mata uang Ekuivalen
asing/ Rp/ asing/ Rp/
Foreign Equivalent in Foreign Equivalent in
Currency Rupiah Currency Rupiah
Aset Assets
Kas dan setara kas US$ 8.761.139 84.720.212.584 6.235.013 56.539.095.309 Cash and cash equivalents
Piutang usaha US$ 38.977.811 376.915.430.040 19.977.993 181.160.439.672 Trade receivables
Total Aset 461.635.642.624 237.699.534.981 Total Assets
Liabilitas Liabilities
Utang usaha US$ 21.008.923 203.156.285.015 18.065.470 163.817.683.512 Trade payables
Utang lain-lain US$ 11.396.837 110.207.409.824 11.533 104.583.855 Other payables
Biaya yang masih harus
dibayar US$ 1.707.143 16.508.070.485 3.978.818 36.079.925.877 Accrued expenses
Uang muka pelanggan US$ 169.625 1.640.273.750 - - Advances from customers
Total Liabilitas 331.512.039.074 200.002.193.244 Total Liabilities
Total Aset, neto 130.123.603.550 37.697.341.737 Total Assets, net
December 31, 2011 December 31, 2012
31 Desember 2012/ 31 Desember 2011/
Pada tanggal 31 Desember 2012 dan 2011 kurs konversi yang digunakan Grup diungkapkan pada Catatan 2e atas laporan posisi keuangan konsolidasian.
As of December 31, 2012 and 2011 the conversion rates used by the Group were disclosed in Note 2e to the consolidated financial statements.
Pada tanggal 31 Desember 2012, berdasarkan simulasi yang rasional, jika nilai tukar Rupiah
terhadap Dolar AS melemah/menguat sebesar 7% (31 Desember 2011: melemah/menguat sebesar
6%), dengan seluruh variabel-variabel lain tidak berubah, maka laba sebelum pajak untuk satu tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2012 akan lebih rendah/lebih tinggi sebesar Rp9.108.653.480 (tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2011: lebih rendah/lebih
tinggi sebesar Rp2.261.853.058), terutama
sebagai akibat dari kerugian/keuntungan selisih kurs atas penjabaran kas dan setara kas, piutang usaha, utang jangka panjang dan utang dagang dalam Dolar AS.
At December 31, 2012, based on a sensible simulation, had the exchange rate of Rupiah against the US Dollar depreciated/appreciated by
7% (December 31, 2011: depreciated/
appreciated by 6%), with all other variables held constant, income before tax for the years ended December 31, 2012 would have been Rp9,108,653,480 lower/higher (year ended December 31, 2011: Rp2.261.853.058 lower/ higher), mainly as a result of foreign exchange losses/gains on the translation of cash and cash equivalents, trade receivables, long-term loans and trade payables denominated in US Dollar.
Risiko Mata Uang (lanjutan) Foreign Currency Risk (continued)
Jika aset dan kewajiban moneter dalam mata uang asing pada tanggal 31 Desember 2012
dijabarkan ke dalam Rupiah dengan
menggunakan kurs tengah transaksi yang dipublikasikan Bank Indonesia pada tanggal 19 Maret 2013, maka aset moneter, neto akan meningkat sebesar Rp470 juta.
If the monetary assets and liabilities
denominated in foreign currencies as of December 31, 2012, shall be converted to Rupiah amount using the middle rate as published by Bank Indonesia at March 19, 2013, the net monetary assets will increase by Rp470 million.
Risiko Kredit Credit Risk
Risiko kredit adalah risiko bahwa Grup akan mengalami kerugian yang timbul dari pelanggan atau pihak lawan akibat gagal memenuhi liabilitas kontraktualnya. Manajemen berpendapat bahwa tidak terdapat risiko kredit yang terkonsentrasi secara signifikan. Grup mengendalikan risiko kredit dengan cara melakukan hubungan usaha dengan pihak lain yang memiliki kredibilitas, menetapkan kebijakan verifikasi dan otorisasi kredit, serta memantau kolektibilitas piutang secara berkala untuk mengurangi jumlah piutang tak tertagih.
Credit risk is the risk that the Group will incur a loss arising from the customers or counterparties which fail to fulfill their contractual obligations. Management believes that there are no significant concentrations of credit risk. The Group manages and controls the credit risk by dealing only with recognized and credit worthy parties, setting internal policies on verifications and authorizations of credit, and regularly monitoring the collectibility of receivables to reduce the exposure to bad debts.
Berikut adalah eksposur laporan posisi keuangan konsolidasian yang terkait risiko kredit pada tanggal 31 Desember 2012 dan 2011:
The table below shows the Group’s exposures related to credit risk as of December 31, 2012:
Total Bruto/ Total Neto/ Total Bruto/ Total Neto/
Gross Amount Net Amount Gross Amount Net Amount
Pinjaman yang diberikan
dan piutang Loans and receivables
Kas dan setara kas 950.428.399.944 950.428.399.944 1.877.097.525.241 1.877.097.525.241 Cash and cash equivalents Piutang usaha 522.387.795.840 522.301.389.273 239.798.627.470 239.712.220.903 Trade receivables Piutang lain-lain 18.884.365.958 18.884.365.958 5.523.780.981 5.523.780.981 Other receivables Dana yang dibatasi
penggunaannya 6.760.587.124 6.760.587.124 2.952.327.973 2.952.327.973 Restricted funds Aset tidak lancar lain-lain 878.704.965 878.704.965 711.690.368 711.690.368 Other non-current assets
Jumlah 1.499.339.853.831 1.499.253.447.264 2.126.083.952.033 2.125.997.545.466 Total
Aset Keuangan Tersedia Available-for-Sale Financial
untuk dijual Assets
Investasi saham 305.065.720 305.065.720 125.000.000 125.000.000 Investment in shares of stock
31 Desember 2012/ 31 Desember 2011/
December 31, 2011 December 31, 2012
Risiko Likuiditas Liquidity Risk
Risiko likuiditas adalah risiko kerugian yang timbul karena Grup tidak memiliki arus kas yang cukup untuk memenuhi likuiditasnya.
Liquidity risk is a risk arising when the cash flow position of the Group is not enough to cover the liabilities which become due.
Dalam pengelolaan risiko likuiditas, manajemen memantau dan menjaga jumlah kas dan setara kas yang dianggap memadai untuk membiayai operasional Grup dan untuk mengatasi dampak fluktuasi arus kas. Manajemen juga melakukan evaluasi berkala atas proyeksi arus kas dan arus kas aktual, termasuk jadwal jatuh tempo pinjaman
In the management of liquidity risk,
management monitors and maintains a level of cash and cash equivalents deemed adequate to finance the Group’s operations and to mitigate the effects of fluctuation in cash flows. Management also regularly evaluate the projected and actual cash flows, including loan
Berikut adalah jadwal jatuh tempo aset dan liabilitas keuangan berdasarkan pembayaran kontraktual yang tidak didiskontokan pada tanggal 31 Desember 2012:
The table below summarizes the maturity profile of financial assets and liabilities based on contractual undiscounted payments as of December 31, 2012:
<= 1 tahun/ 1-2 tahun/ 3-5 tahun/ Total/ Biaya transaksi/ Nilai Tercatat/ <= 1 year 1-2 years 3-5 years Total Transaction costs As Reported
Rp Rp Rp Rp Rp Rp
Aset Assets
Kas dan setara kas 951.348.181.514 - - 951.348.181.514 - 951.348.181.514 Cash and cash equivalents Piutang usaha, neto 522.301.389.273 - - 522.301.389.273 - 522.301.389.273 Trade receivables, net Piutang lain-lain 18.884.365.958 - - 18.884.365.958 - 18.884.365.958 Other receivables Investasi saham 305.065.720 - - 305.065.720 - 305.065.720 Investment in shares of stock Dana yang dibatasi penggunaannya 6.760.587.124 - - 6.760.587.124 - 6.760.587.124 Restricted funds Aset tidak lancar lain-lain 878.704.965 - - 878.704.965 - 878.704.965 Other non-current assets
Jumlah Aset 1.500.478.294.554 - - 1.500.478.294.554 - 1.500.478.294.554 Total Assets
Liabilitas Liabilities
Utang usaha 287.017.751.523 - - 287.017.751.523 - 287.017.751.523 Trade payables Utang lain-lain 116.051.210.513 - - 116.051.210.513 - 116.051.210.513 Other payables Biaya yang masih harus dibayar 61.255.133.881 - - 61.255.133.881 - 61.255.133.881 Accrued expenses Jumlah Liabilitas 464.324.095.917 - - 464.324.095.917 - 464.324.095.917 Total Liabilities
Gap between assets Selisih aset dengan liabilitas 1.036.154.198.637 - - 1.036.154.198.637 - 1.036.154.198.637 and liabilities
31 Desember 2012/December 31, 2012
34. Perjanjian Penting, Komitmen, dan
Kontinjensi 34. Agreements, Contingencies Commitments and
a. Iuran Dana Hasil Produksi Batubara
(DHPB) a. Royalty
Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 129/KMK.01/1997 tanggal 31 Maret 1997, perusahaan yang bergerak dalam bidang pertambangan batubara berkewajiban untuk menyetor DHPB sebesar 13,5% dari produksi batubara.
Based on the Decision Letter
No. 129/KMK.01/1997 dated
March 31, 1997 of Ministry of Finance of the Republic of Indonesia, companies engaged in coal mining activities are required to pay royalty fee equivalent to 13.5% of coal produced from its activities. Sehubungan dengan Keputusan Menteri
Keuangan Republik Indonesia
No. 129/KMK.01/1997, BORNEO, entitas anak, dan Pemerintah Republik Indonesia
mengadakan Perjanjian Kerjasama
Penjualan Batubara No. 32.KS/05/DJB/2009 tanggal 12 November 2009 yang berlaku sejak 1 Juli 2009 sampai dengan
31 Desember 2010 dan
No. 49.BA/05/DJB/2011 tanggal 28 Maret 2011 yang berlaku sejak 1 Januari 2011 sampai dengan 31 Desember 2015. Berdasarkan perjanjian tersebut, BORNEO wajib menyetor hasil penjualan batubara bagian Pemerintah sebesar 13,5% dari penjualan yang diterima BORNEO.
In accordance with the Decision Letter
No. 129/KMK.01/1997 of Ministry of
Finance of the Republic of Indonesia,
BORNEO, a subsidiary, and the
Government of the Republic of Indonesia
entered into Coal Sale agreement
No. 32.KS/05/DJB/2009 dated
November 12, 2009, which was valid starting July 1, 2009 until December 31, 2010 and No. 49.BA/05/DJB/2011 dated March 28, 2011 which is valid starting January 1, 2011 until December 31, 2015. As stated in the agreement, BORNEO is required to pay to Indonesia Government an amount equivalent to 13.5% of proceeds from sale of BORNEO’s coal.
a. Iuran Dana Hasil Produksi Batubara (DHPB) (lanjutan)
a. Royalty (continued) Berdasarkan Peraturan Pemerintah
No. 45/2003, seluruh perusahaan yang memiliki kuasa pertambangan diwajibkan untuk membayar iuran eksploitasi sebesar 3% - 5% dari nilai penjualan, setelah dikurangi beban penjualan.
Further, based on Government regulation No. 45/2003, all companies holding mining rights have an obligation to pay an exploitation fee ranging from 3% - 5% of sales, net of selling expenses.
Pada tanggal 31 Desember 2012 dan 2011, iuran DHPB yang masih harus dibayar masing-masing sebesar Rp19.648.483.201 dan Rp25.368.277.802 disajikan sebagai bagian dari “Biaya yang masih harus dibayar” pada laporan posisi keuangan konsolidasian (Catatan 15). Beban DHPB
untuk tahun-tahun yang berakhir
31 Desember 2012 dan 2011 masing- masing sebesar Rp212.588.958.005 dan Rp162.804.577.572 disajikan sebagai bagian dari “Beban Pokok Penjualan” (Catatan 23).
As of December 31, 2012 and 2011,
accrued royalty fee amounted to
Rp19,648,483,201 and Rp25,368,277,802, respectively, and is presented as part of “Accrued expenses” in the consolidated statements of financial position (Note 15). The royalty fee for the years ended
December 31, 2012 and 2011
amounted to Rp212,588,958,005 and Rp162,804,577,572 was presented as part of “Cost of Sales“ (Note 23).
b. Iuran Tetap (Deadrent) b. Deadrent
Sesuai dengan Perjanjian Kerjasama
Pengusahaan Pertambangan Batubara
(PKP2B), BORNEO, entitas anak, diwajibkan untuk membayar iuran tetap kepada Pemerintah berdasarkan jumlah hektar yang termasuk dalam area PKP2B yaitu 24.100 hektar sesuai dengan tarif yang ditetapkan dalam PKP2B.
In accordance with the Coal Cooperation Agreement (CCA), BORNEO, a subsidiary, is required to pay fixed payment (deadrent) to the Government based on total area of land of 24,100 hectares in accordance with the rates stipulated therein.
Beban deadrent untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2012 dan 2011 masing-masing sebesar Rp901.525.338 dan Rp845.311.796, disajikan sebagai bagian dari “Beban umum dan administrasi - Lain-lain”.
Deadrent for the years ended
December 31, 2012 and 2011 amounted to
Rp901,525,338 and Rp845,311,796,
respectively, and was presented as part of “General and administrative expenses-others”.
c. Perjanjian Penggarapan Lahan
Pertambangan Batubara c. Land Exploitation Agreement
BORNEO, entitas anak, mengadakan
perjanjian dengan beberapa pihak ketiga
sehubungan dengan penggarapan/
eksploitasi lahan tambang batubara. Sesuai dengan perjanjian tersebut, BORNEO akan membayar pemilik lahan sejumlah nilai tertentu berdasarkan hasil produksi setiap bulan sesuai dengan ketentuan-ketentuan
BORNEO, a subsidiary, had agreements with third parties relating to usage/ exploitation of a certain parcel of land in relation to its mining activities. Based on the aforementioned agreement, BORNEO will pay the land owner a certain sum of money calculated based on the production output for each month in accordance with the terms and conditions stipulated in the
Pertambangan Batubara (lanjutan)
Biaya yang masih harus dibayar sehubungan
dengan penggarapan lahan pada tanggal 31 Desember 2012 dan 2011 masing-masing
sebesar Rp194.205.000 dan Rp49.500.000, disajikan sebagai bagian dari “Biaya yang masih harus dibayar - lain-lain”. Beban penggarapan lahan untuk tahun-tahun yang berakhir 31 Desember 2012 dan 2011 masing sebesar Rp32.033.232.904 dan Rp36.436.418.552 disajikan sebagai bagian dari “Beban Pokok Penjualan” (Catatan 23).
Accrued production fee related to the agreement as of December 31, 2012 and 2011 amounted to Rp194,205,000 and Rp49,500,000, respectively, and was recorded as part of “Accrued expenses - others”. Land exploitation expense for the years ended December 31, 2012 and 2011
amounted to Rp32,033,232,904 and
Rp36,436,418,552 was recorded as part of “Cost of Sales” (Note 23).
Berdasarkan Perjanjian Pemakaian Lahan tanggal 4 Juli 2008 antara PT Kirana Chatulistiwa (KIRANA), pihak ketiga, dengan BORNEO, KIRANA selaku pemilik Hak atas Pengusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI) mengizinkan BORNEO melakukan kegiatan penambangan batubara didalam area HTI milik KIRANA, dimana sebagian areal PKP2B BORNEO berada di dalam areal HTI milik KIRANA. Perjanjian ini berlaku sampai BORNEO selesai melakukan penambangan di areal HTI tersebut. Pada tanggal 31 Desember 2012 dan 2011, saldo uang
jaminan masing-masing sebesar
Rp5.393.195.722 dan Rp5.057.445.585
disajikan sebagai bagian dalam “Aset tidak lancar lain-lain” pada laporan posisi keuangan konsolidasian (Catatan 11).
Based on Land Exploitation Agreement dated July 4, 2008 between PT Kirana Chatulistiwa (KIRANA), a third party, and BORNEO, KIRANA as the owner of the
Industrial Forest Concession Rights
(Hak Pengusahaan Hutan Tanaman
Industri (HTI)) allowed BORNEO to use a certain parcel of land in relation to its mining activities inside HTI’s area owned by KIRANA, where certain area of BORNEO CCA’s area is in the KIRANA’s HTI area. The agreement shall be in force until BORNEO completed its mining activities in such HTI area. As of December 31, 2012, and 2011, guarantee deposits amounted to Rp5,393,195,722 and Rp5,057,445,585, respectively, was presented as part of
“Other non-current assets” in the
consolidated statements of financial
position (Note 11). Pada tanggal 23 Maret 2009, BORNEO
memberikan pinjaman tanpa bunga kepada KIRANA, sehubungan dengan pembiayaan kembali Dana Reboisasi Proyek HTI KIRANA sebesar Rp5.425.530.807 dicatat sebagai bagian dari “Piutang lain-lain - pihak ketiga” tidak lancar pada laporan posisi keuangan konsolidasian. Pinjaman ini berjangka waktu sampai dengan lima (5) tahun.
On March 23, 2009, BORNEO granted a non-interest bearing loan to KIRANA, to
pay KIRANA’s Industrial Forest
Reforestation Fund amounting to
Rp5,425,530,807 and was recorded as part of noncurrent “Other receivables - third parties” in the consolidated statements of financial position. The loan has a term for five (5) years.
c. Perjanjian Penggarapan Lahan Pertambangan Batubara (lanjutan)
c. Land Exploitation Agreement (continued)
Pada tanggal 19 Juli 2011, BORNEO,
mengadakan perjanjian dengan
PT Gerak Bangun Utama, pihak ketiga. Perjanjian ini dibuat sehubungan dengan kegiatan penambangan BORNEO di areal yang terdapat Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI) milik pihak ketiga lainnya. Perjanjian ini berlaku sejak ditandatangani dan berakhir sampai dengan BORNEO selesai melakukan kegiatan penambangan di area tersebut.
On July 19, 2011, BORNEO, entered into an agreement with PT Gerak Bangun Utama, a third party. This agreement has been made in a relation with BORNEO’s mining activities in the area which Industrial Forest Concession Rights (HTI) is owned by other third party. This agreement is valid since the signing date of the agreement until BORNEO’s mining activities in the area are completed.
Pada tanggal 5 Oktober 2011, BORNEO dan PT Buana Karya Bhakti (BKB), pihak ketiga, telah menandatangani Perjanjian Pemakaian Lahan Perkebunan BKB seluas 183,11 hektar di Batulaki Utara untuk keperluan
eksploitasi/ penambangan batubara
BORNEO, dengan periode kegiatan
penambangan selama empat (4) tahun terhitung sejak tanggal 5 Oktober 2011 dan dapat diperpanjang selama satu (1) tahun. Sehubungan dengan perjanjian ini, BORNEO memberikan ganti rugi lahan pada tahun 2011, uang jaminan atas kompensasi tanah yang belum digunakan dan uang jaminan atas perbaikan sarana dan prasarana.
On October 5, 2011, BORNEO and PT Buana Karya Bhakti (BKB), a third party, signed a Plantation Land Usage Agreement for an area of 183.11 hectares owned by BKB in North Batulaki for BORNEO’s coal exploitaiton/mining acitivities for a period of four (4) years since October 5, 2011 and can be extended for one (1) year. In relation
to this agreement, BORNEO pays
compensation for the land used in 2011, guarantee for unused land area and guarantee for infrastructure maintenance.
Pada tanggal 5 Oktober 2011, BORNEO, mengadakan Perjanjian Kerjasama dengan PT Gagah Putera Satria (GPS), pihak ketiga, sehubungan dengan kegiatan penambangan BORNEO di areal lahan perkebunan milik
BKB, uang jasa pengelolaan lahan
dibayarkan oleh BORNEO kepada GPS berkisar antara US$1/ton sampai dengan
US$4,75/ton berdasarkan ketentuan
sebagaimana diatur dalam perjanjian.
Perjanjian ini berlaku sejak ditandatangani sampai dengan BORNEO selesai melakukan kegiatan penambangan di areal tersebut.
On October 5, 2011, BORNEO, entered into a Cooperation Agreement with PT Gagah Putera Satria (GPS), a third party, relating to BORNEO’s mining activities in BKB’s plantation land area. Management fee paid by BORNEO to GPS ranges from US$1/ton up to US$4.75/ton based on the provision stated in the agreement. The agreement is valid since the signing date until BORNEO’s mining activities in the area are completed.
Ringkasan perjanjian jual beli batubara yang penting adalah sebagai berikut:
The summary of significant coal sale and purchase agreement is a follows:
Saldo uang muka/Outstanding advances
Penjual/ Seller Pembeli/ Buyer Periode Perjanjian/ Agreement Period 31 Desember/ December 31, 2012 31 Desember 2011/ (December 31, 2011) PT Andalan Satria