BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1-13
E. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas yang telah diuraikan maka tujuan penelitian adalah:
a. Untuk mengetahui bagaimana Interaksi Sosial Penganut Agama Buddha dengan Masyarakat Muslim Di Kelurahan Melayu Baru Kecamatan Wajo Kota Makassar.
17Muslimin “Konsep Tanha Dalam Agama Buddha”, Skripsi (Ujung Pandang: Fakultas Ushuluddin IAIN Alauddin, 1996), H.63
b. Untuk mengetahui bagaimana Perilaku Keberagamaan Penganut Agama Buddha dengan Masyarakat Muslim Di Kelurahan Melayu Baru Kecamatan Wajo Kota Makassar.
2. Kegunaan Penelitian
a. Secara akademis, penelitian ini dapat memperkaya kajian-kajian teoritis tentang interaksi sosial serta dapat menjadi bahan rujukan bagi mahasiswa yang ingin mengadakan penelitian lebih lanjut mengenal hal ini.
b. Secara praktis, untuk mengembangkan ilmu pengetahuan khususnya tentang Interaksi Penganut Agama Buddha dengan Masyarakat Muslim di Kelurahan Melayu Baru Kecamatan Wajo Kota Makassar, dapat menjadi bahan rujukan bagi penelitian ilmiah dan praktis yang berkepentingan, serta dapat juga menjadi langkah awal bagi peneliti serupa didaerah-daerah lain.
14 A. Interaksi Sosial
Interaksi sosial dapat diartikan sebagai hubungan-hubungan sosial yang dinamis.
Hubungan sosial yang dimaksud dapat berupa hubungan antara individu yang satu dengan individu yang lainya, maupun antara kelompok individu.1 Dalam interaksi juga terdapat simbol, dimana simbol diartikan sebagai sesuatu yang nilai atau maknanya diberikan kepadanya oleh mereka yang menggunakannya.2
Interaksi sosial merupakan hubungan antar individu satu dengan individu yang lain, individu satu dapat mempengaruhi individu yang lain begitu pula sebaliknya, sehingga akan menjadi suatu hubungan yang saling timbal balik.3 Hubungan tersebut juga terjadi antara individu dengan individu, individu dengan kelompok atau kelompok dengan kelompok.
a. Pengertian Interaksi Sosial Menurut Beberapa Para Ahli
Homans mendefinisikan interaksi sebagai suatu kejadian ketika suatu aktifitas yang dilakukan oleh seseorang terhadap individu lain diberi ganjaran atau hukuman
1Hanneman Samuel, Sosiologi studi dan Pengajaran, (Jakarta; Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1997), h. 12.
2 Sudirman, Ali M. Interaksi dan Motifasi Belajar Mengajar, (Jakarta; Rajawali, 2004). h. 43.
3Drs.M.Sitorus, Berkenalan Dengan Sosiologi, (Ciracas, Jakarta; Penerbit Erlangga, 2003), h.
13.
dengan menggunakan suatu tindakan oleh individu lain yang menjadi pasangannya, konsep yang dikemukakan oleh Homans ini mengandung pengertian bahwa interaksi adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh seseorang dalam interaksi merupakan suatu stimulus bagi tindakan individu lain yang menjadi pasanganya4.
Sedangkan interaksi sosial menurut Shaw adalah suatu pertukaran antar pribadi yang masing-masing orang menunjukkan prilakunya satu sama lain dalam kehadiran mereka, dan masing-masing prilaku mempengaruhi satu sama lain.
Thibaut dan Kelley mendefinisikan interaksi sebagai peristiwa saling mempengaruhi satu sama lain ketika dua orang atau lebih hadir bersama, mereka menciptakan suatu hasil sama lain atau berkomunikasi satu sama lain. Jadi dalam kasus interaksi, tindakan setiap orang bertujuan untuk mempengaruhi individu lain. 5
Pengertian interaksi sosial menurut beberapa ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa interaksi sosial adalah hubungan timbal balik antara dua orang atau lebih, dan masing-masing orang yang terlibat di dalamnya memainkan peran secara aktif.
Dalam interaksi juga lebih dari sekedar terjadi hubungan antara pihak-pihak yang terlibat melainkan terjadi saling mempengaruhi.
Soerjono Soekanto, mengatakan bahwa proses-proses sosial adalah cara-cara yang berhubungan yang dapat dilihat apabila orang-perorangan dan kelompok-kelompok
4Sudirman, Ali M, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. (Jakarta: Rajawali, 2004), h. 87.
5Basromi, Sosiologi dan Pendidikan, (Jakarta: Penerbit Genta Ghalia Indonesia, 2008), h. 17.
manusia saling bertemu dan menentukan sistem serta bentuk-bentuk hubungan tersebut, atau apa yang akan terjadi apabila ada perubahan-perubahan yang menyebabkan goyahnya cara-cara hidup yang telah ada.6
b. Bentuk-Bentuk Interaksi Sosial
Proses kehidupan masyarakat yang dinamis akan terjadi suatu proses sosial yang di dalamnya terdapat suatu proses interaksi antara manusia satu dengan yang lainya.
Proses sosial ini meliputi berbagai aspek kehidupan, seperti aspek sosial budaya, ekonomi, agama dan perkawinan. Proses sosial ini dapat terjadi dalam dua bentuk, yaitu asosiatif dan disosiatif. Hal tersebut terjadi karena interaksi yang terjadi dalam proses sosial tersebut melibatkan berbagai inividu yang di dalamnya terdapat standar norma sosial yang di sepakati bersama oleh para anggota masyarakat.
Penjelasan singkat mengenai bentuk-bentuk interaksi sosial yang terjadi di tengah-tengah masyarakat adalah sebagai berikut:
1) Asosiatif
Interaksi sosial bersifat asosiatif akan mengarah pada bentuk penyatuan.
Interaksi sosial ini terdiri atas beberapa hal yaitu:
6Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar. (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2010), h. 56.
a) Kerja sama
Kerja sama terbentuk karena masyarakat menyadari bahwa mereka mempunyai kepentingan-kepentingan yang sama sehingga sepakat untuk bekerjasama dalam mencapai tujuan bersama.7
b) Akomodasi
Akomodasi dapat diartikan sebagai suatu keadaan, dimana terjadi suatu keseimbangan dalam interaksi antara individu-individu atau kelompok-kelompok manusia berkaitan dengan norma-norma sosial dan nilai-nilai sosial yang berlaku dalam masyarakat8. Usaha itu dilakukan untuk mencapai suatu kestabilan.
c) Asimilasi
Proses asimilasi menunjuk pada proses yang ditandai adanya usaha mengurangi perbedaan yang terdapat diantara beberapa orang atau kelompok dalam masyarakat serta usaha menyamakan sikap, mental, dan tindakan demi tercapainya tujuan bersama. Asimilasi timbul bila ada kelompok masyarakat dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda, saling bergaul secara intensif dalam jangka
7Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar. H. 65-68
8Abdulsani, Sosiologi Sistematika , Teori, Dan Terapan, (cet, III, Jakarta; Penerbit PT Bumi Aksara, 2007), h, 159.
waktu lama, sehingga lambat laun kebudayaan asli mereka akan berubah sifat dan wujudnya membentuk kebudayaan baru sebagai kebudayaan campuran.9
d) Akulturasi
Akulturasi merupakan proses sosial yang timbul, apabila suatu kelompok masyarakat manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing sedemikian rupa sehingga lambat laun unsur-unsur-unsur-unsur kebudayaan asing itu diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri, tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian dari kebudayaan itu sendiri.10
2) Disosiatif
Interaksi sosial ini mengarah pada bentuk pemisahan dan terbagi dalam tiga bentuk sebagai berikut:
a) Persaingan/Kompetisi
Persaingan atau kompetisi adalah suau perjuangan yang dilakukan perorangan atau sosial tertentu, agar memperoleh kemenangan atau hasil secara kompetitif, tanpa menimbulkan ancaman atau benturan fisik di pihak lawanya.
9 Elly M. Setiadi dan Usman Kolip, Pengantar Sosiologi Pemahaman Fakta dan Gejala Sosial; Teori, Aplikasi, dan pemecahanya, h. 81.
10 Jabal Tarik Ibrahim, Sosiologi Pedesaan (cet, I; Malang: Universitas Muhammadiyah Malang, 2003)h. 22.
b) Kontroversi
Kontroversi merupakan bentuk proses sosial yang berada di antara persaingan dan pertentangan atau konflik. Wujud kontroversi antara lain sikap tidak senang, baik secara tersembunyi maupun secara terang-terangan seperti perbuatan menghalangi, menghasut, menfitnah, berkhianat, provokasi, dan intimidasi yang ditunjukan terhadap perorangan atau kelompok atau terhadap unsur-unsur kebudayaan golongan tertentu. Sikap tersebut dapat berubah menjadi kebencian akan tetapi tidak sampai menjadi pertentangan atau konflik.
c) Konflik
Konflik merupakan proses sosial antar perorangan atau kelompok masyarakat tertentu, akibat adanya perbedaan paham dan kepentingan yang sangat mendasar, sehingga menimbulkan adanya semacam gap atau jurang pemisah yang mengganjal interaksi sosial di antara mereka yang bertikai tersebut.11
Berdasarkan pengertian tersebut, maka konsep interaksi sosial adalah hubungan yang terjadi antara manusia dengan manusia yang lain, baik antara individu dengan individu, individu dengan kelompok atau antara kelompok dengan kelompok.
Berbagai bentuk interaksi yang telah disebutkan di atas dapat terjadi setiap hari di tengah-tengah masyarakat.
11 J.Swi Narwoko & Bagong Suyanto, Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan (edisi keempat, cet. Ke-5; Jakarta: Kencana, 2011)h. 65.
c. Syarat-Syarat Interaksi Sosial
Syarat-syarat interaksi sosial meliputi:
a. Kontak Sosial
Kontak sosial berasal dari bahasa latin con atau cum (yang artinya bersama-sama) dan tango (yang artinya menyentuh). Jadi artinya secara harfiah adalah bersama-sama menyentuh. Secara fisik, kontak sosial baru terjadi apabila terjadi hubungan fisikal, sebagai gejala sosial hal itu bukan semata-mata hubungan badaniah, karena hubungan sosial terjadi tidak saja secara menyentuh seseorang, namun orang dapat berhubungan dengan orang lain tanpa harus menyentuhnya.12
Terjadinya suatu kontak tidaklah semata-mata dari tindakan, tetapi juga tanggapan terhadap tindakan tersebut. Seseorang dapat saja bersalaman dengan sebuah patung atau main mata dengan seorang buta sampai berjam-jam lamanya, tanpa menghasilkan suatu kontak. Kontak tersebut dapat bersifat positif atau negatif.
Kontak sosial yang bersifat positif mengarah pada suatu kerja sama, sedangkan yang bersifat negatif mengarah pada suatu pertentangan. Suatu kontak dapat pula bersifat primer atau sekunder. Kontak terjadi apabila yang mengadakan hubungan langsung bertemu dan berhadapan muka, seperti misalnya apabila orang-orang tersebut berjabat tangan,saling senyum, dan seterusnya. Sedangkan kontak sekunder memerlukan suatu perantara.
12Burhan Bungin, Sosisologi komunikasi (cet. VI; Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2013), h. 55.
b. Komunikasi Sosial
Komunikasi sosial dapat diartikan secara umum sebagai suatu bentuk interaksi antar individu atau kelompok yang dilakukan dengan cara verbal maupun non verbal, dengan maksud untuk menyampaikan sesuatu pesan, dengan caraya yang dapat dipahami oleh kedua belah pihak, dan yang mampu menghasilkan tanggapan yang dapat di mengerti oleh kedua belah pihak.13
Komunikasi memungkinkan kerjasama antara orang perorangan atau antara kelompok-kelompok manusia dan memang komunikasi merupakan salah satu syarat terjadinya kerja sama. Akan tetapi tidak selalu komunikasi menghasilkan kerja sama bahkan suatu pertikaian mungkin akan terjadi sebagai akibat salah paham atau karena masing-masing tidak mau mengalah.14
c. Interaksi Sosial dalam Perspektif Al-Quran
Interaksi sosial dalam Al-Quran adalah sikap saling menghargai dan saling menggormati dalam urusan-urusan sosial kemasyarakatan atau dalam bidang muamalah. Bentuk interaksi dalam Islam adalah silaturahmi. Al-Quran juga cukup rinci dalam memberikan penjelasan akan pentingnya berinteraksi sesama manusia.
Dalam Islam ada tiga hubungan yang harus dilakukan yaitu hubungan kepada Allah
13Antonius Atosokhi Gea dkk, Relasi Dengan Sesama (cet. I; Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2002), h. 113.
14Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar (cet. XLVI; Jakarta: PT Raja Grafindo persada, 2014), h. 61.
SWT, hubungan kepada sesama manusia dan hubungan kepada alam semesta. Ketiga hubungan ini harus seimbang. Karena pentingnya interaksi sosial, Islam pun memberikan penjelasan bahwa seorang muslim yang tidak baik hubungannya dengan sesama manusia meskipun hubungannya dengan Allah sangat baik maka imannya belumlah sempurna. 15
d. Teori yang Digunakan dalam Interaksi Sosial Sebagai Faktor Utama dalam Kehidupan Bermasyarakat
Hubungan antara manusia, ataupun relasi-relasi sosial menentukan struktur dari masyarakatnya. Hubungan anatara manusia atau relasi-relasi sosial ini didasarkan kepada komunikasi16. Karenanya komunikasi merupakan dasar dari eksistensi suatu masyarakat. Hubungan antara manusia atau relasi-relasi sosial, hubungan satu dengan yang lain warga-warga suatu masyarakat. Baik dalam bentuk individu atau perorangan maupun dengan kelompok-kelompok dan antara kelompok manusia itu sendiri, mewujudkan seni dinamikanya perubahan dan perkembangan masyarakat.
Apabila kita lihat komunikasi ataupun hubungan tersebut sebelum mempunyai bentuk-bentuknya yang konkrit, yang sesuai dengan nilai-nilai sosial didalam suatu
15 Safwan Ghali, “Islam dan interaksi Sosial”, iain-s.blogspot.co.id/2013/04/Islam-dan-interaksi-sosial.html (31 Desember 2016).
16Damsar, Pengantar Sosiologi Ekonomi, (cet. 2,Jakarta: Penerbit Prenada Media Group, 2011),h. 12.
masyarakat,17ia mengalami suatu proses terlebih dahulu. Proses-proses inilah yang dimaksudkan dan disebut sebagai proses sosial.
Kesadaran dalam berkomunikasi di antara warga-warga suatu masyarakat, menyebabkan suatu masyarakat dapat dipertahankan sebagai suatu kesatuan.
Karenanya pula dalam setiap masyarakat terbentuk apa yang dinamakan suatu sistem komunikasi. Sistem ini terdiri dari lambang-lambang yang diberi arti dan karenanya mempunyai arti-arti khusus oleh setiap masyarakat. Karena kelangsungan kesatuannya dengan jalan komunikasi itu, setiap masyarakat dapat membentuk kebudayaanya berdasarkan sistem komunikasinya masing-masing. Dalam masyarakat yang modern, arti komunikasi menjadi lebih penting lagi, karena pada umumnya masyarakat yang modern bentuknya makin bertambah rasionil dan lebih didasarkan pada lambang-lambang yang makin abstrak. Bentuk umum proses-proses sosial adalah interaksi sosial, dan karena bentuk-bentuk lain dari proses sosial hanya merupakan bentuk-bentuk khusus dari interaksi, Maka interaksi sosial yang dapat dinamakan proses sosial itu sendiri.
B. Perilaku Keberagamaan
Perilaku merupakan suatu perbuatan seseorang, tindakan seseorang serta reaksi seseorang terhadap sesuatu yang dilakukan, didengar, dan dilihat. Perilaku ini lahir berdasarkan perbuatan maupun perkataan. Sedangkan pengertian keberagamaan
17 Ritzer, George- Goodman j. Douglas, Teori Sosiologi Modern. Rawamangun, Jakarta:
Kencana Prenada Media Group, Edisi ke-6, 2008.
adalah asal kata dari agama. Berdasarkan sudut pandang kebahasaan yaitu Bahasa Indonesia pada umumnya “agama” diartikan sebagai kata yang berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya “tidak kacau”. Agama diambil dari dua akar suku kata, yaitu
“a” yang berarti “tidak” dan “gama” yang berarti “kacau.”18 Hal itu mengandung pengertian bahwa agama adalah suatu peraturan yang mengatur kehidupan manusia agar tidak kacau. Menurut inti maknanya yang khusus, kata agama dapat disamakan dengan kata religion dalam bahasa inggris ataupun religie dalam bahasa Belanda.
Keduanya berasal dari bahasa latin religio, dari akar kata religare yang berarti mengikat, namun para ahli sering berbeda pendapat tentang arti dasarnya. Cicero seorang penulis Romawi, menyatakan bahwa “religi” (religion) berasal dari kata
“leg” yang berarti mengambil atau menjemput, mengumpulkan, menghitung atau memperhatikan.19
Agama adalah peraturan hidup lahir dan batin berdasarkan keyakinan dan kepercayaan yang bersumber kepada kitab suci dalam hal ini adalah Al-Quran dan As-Sunnah.
Berdasarkan pengertian agama dalam berbagai bentuknya itu maka terdapat bermacam-macam defenisi agama. Harun Nasution telah mengumpulkan delapan macam defenisi agama yaitu:
18 Dadang Kahmad, Sosiologi Agama, (Jakarta: PT Remaja Rosdakarya, 2005), h. 13
19Wahyuni, Prilaku Beragama, (Makassar): Alauddin University press, 2013), h. 10.
1. Pengakuan terhadap adanya hubungan manusia dengan kekuatan gaib yang harus dipatuhi.
2. Pengakuan terhadap adanya kekuatan gaib yang menguasai manusia.
3. Mengikatkan diri pada suatu bentuk hidup yang mengandung pengakuan pada suatu sumber yang berada diluar diri manusia dan yang mempengaruhi perbuatan-perbuatan manusia.
4. Kepercayaan pada kekuatan gaib yang menimbulkan cara hidup tertentu.
5. Suatu sistem tingkah laku yang berasal dari suatu kekuatan gaib.
6. Pengakuan terhadap adanya kewajiban-kewajiban yang diyakini bersumber pada suatu kekuatan gaib.
7. Pemujaan terhadap kekuatan gaib yang timbul dari perasaan lemah dan perasaan takut terhadap kekuatan misterius yang terdapat dalam alam sekitar manusia.
8. Ajaran-ajaran yang diwahyukan Tuhan kepada manusia melalui seorang Rasul.20
Secara defenisi dapat diartikan bahwa perilaku keberagamaan adalah bentuk atau ekspresi jiwa dalam berbuat, berbicara sesuai dengan ajaran agama. Defenisi tersebut menunjukkan bahwa perilaku keberagamaan pada dasarnya adalah suatu
20 Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, (Jakarta: UI Press, 1985), h. 10.
perbuatan seseorang baik dalam tingkah laku maupun dalam berbicara yang didasarkan dalam petunjuk ajaran agama Islam.21
a. Perilaku Keberagamaan Masyarakat Muslim
Agama merupakan identitas Muslim yang esensial. Hal ini berlaku bagi semua muslim, baik mereka yang saleh dan menjadi anggota organisasi keagamaan seperti Muhammadiyah di Indonesia, Jamaat-i- Islami di Pakistan, atau Ikhwan Al-Muslimin di Mesir, atau mereka yang hidup di lingkungan masyarakat sekular seperti di Kazakhstan dan Turki. Ini juga berlaku bagi mereka yang hidup di negara mayoritas muslim, juga bagi mereka yang berada di negara-negara non-muslim seperti India, Thailand, Jerman, Autralia atau Amerika Serikat. Konsekuensinya komitmen keagamaan merupakan bukti sekaligus ungkapan dari identitas Muslim.
Hubungan sosial antara orang Islam dengan non-muslim pun diatur dengan sangat toleran. Islam mewajibkan para pemeluknya yang mempunyai keluarga bukan muslim agar tetap tetap bergaul secara kekeluargaan dengan baik, apalagi terhadap kedua orang tuanya (meskipun bukan muslim).22
b. Perilaku Keberagamaan Penganut Agama Buddha
21http://istigfar.blogspot.com/2010/12/perilaku-beragama.html di unduh 14 Agustus 2017pukul 14:37
22Muhammad Tholhah Hasan, Islam dalam Perspektif Sosio Kultural, (Jakarta: Lantarabora Press, 2005 ), h. 198- 199.
Agama Buddha adalah agama yang mengutamakan ketenangan dan ketentraman di dalam kehidupan setiap umatnya. Ajaran Buddha sendiri mengutamakan dalam hidup kesederhanaan dan jauh dari hal-hal keduniawian yang kebanyakan hanya membawa kesengsaraan bagi setiap manusia.
Adapun perilaku keberagamaan dalam agama Buddha sebagaimana Sabda Buddha dalam Dhamma pada syair 5 menjelaskan bahwa mengembangkan cinta kasih dan kasih sayang untuk menjalin solidaritas persaudaraan dan kebersamaan yang solid antar sesama umat beragama.23
23 Anjani Metta. Buddhajayanti Divisi Redaksi Buddhajayanti Vihara Girinaga Makassar.
2015, h, 35.
28 1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif, yaitu suatu penelitian kontekstual yang menjadikan manusia sebagai instrumen, dan disesuaikan dengan situasi yang wajar dalam kaitanya dengan pengumpulan data yang pada umumnya bersifat kualitatif.
Penelitian ini merupakan bentuk penelitian sosial yang menggunakan format deskriptif kualitatif yaitu penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan, meringkas berbagai kondisi, sebagai situasi atau berbagai fenomena realita sosial yang ada di masyarakat yang menjadi objek penelitian dan berupaya menarik realitas itu kepermukaan sebagai suatu ciri, karakter, model, tanda atau gambaran tentang kondisi, situasi atau fenomena tertentu. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode deskriptif dengan penelitian kualitatif yang memaparkan situasi, kondisi dan kejadian tentang Pola Interaksi Penganut Agama Budha dengan Masyarakat Muslim Di Kelurahan Melayu Baru Kecamatan Wajo Kota Makassar.
2. Lokasi Penelitian
Berdasarkan judul penelitian yang penulis angkat yaitu Interaksi Penganut Agama Budha dengan Masyarakat Muslim di Kelurahan Melayu Baru Kecamatan
Wajo Kota Makassar, maka penulis memutuskan untuk mengambil lokasi di Kelurahan Melayu Baru Kecamatan Wajo Kota Makassar
B. Pendekatan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang dikaji dalam penelitian, maka penelitian ini diarahkan untuk mengidentifikasi, mendeksripsikan serta menganalisis tentang Bagaimana Interaksi Penganut Agama Buddha dengan Masyarakat Muslim di Kelurahan Melayu Baru Kecamatan Wajo Kota Makassar, maka penulis menggunakan pendekatan:
1. Pendekatan Sosiologis
Pendekatan ini dibutuhkan untuk mengetahui Bagaimana Interaksi Penganut Agama Buddha dengan Masyarakat Muslim di Kelurahan Melayu Baru Kecamatan Wajo Kota Makassar. Mengutip pandangan Hasan Shadily bahwa pendekatan sosiologis adalah suatu pendekatan yang mempelajari tatanan kehidupan bersama dalam masyarakat dan menyelidiki ikatan-ikatan antara manusia yang menguasai hidupnya.1
2. Pendekatan Fenomenologis
Pendekatan fenomenologis adalah suatu upaya untuk berusaha memahami tingkah laku setiap manusia, baik dari segi kerangka berfikir maupun kerangka bertindaknya.2
1 Hasan Shadily, Sosiologi Untuk Masyarakat Indonesia (Cet. IX; Jakarta: Bumi Aksara, 1983), h. 1.
2 Syarifuddin Ondeng, Teori-Teori Pendekatan Metodologi Studi Islam (Cet. 1; Makassar:
Alauddin press, 2013), h. 177.
Pendekatan ini dibutuhkan guna mengamati berbagai tingkah laku, tindakan-tindakan yang dilakukan oleh masyarakat dengan melihat apa yang sebenarnya terjadi antara penganut agama Buddha dengan masyarakat Muslim di Kelurahan Melayu Baru Kecamatan Wajo Kota Makassar.
C. Metode Pengumpulan Data
Adapun metode pengumpulan data yang digunakan oleh penulis yaitu sebagai berikut:
1. Observasi
Observasi merupakan studi yang dilakukan dengan sengaja dan sistematis tentang fenomena atau kejadian sosial serta berbagai gejala psikis melalui pengamatan dan pencatatan. Beberapa informasi yang diperoleh dari hasil observasi adalah ruang (tempat), korban, objek, atau peristiwa dan waktu. Dari devenisi diatas, dapat dipahami bahwa observasi atau pengamatan, yaitu dengan melakukan pengamatan secara langsung pada lokasi dan sasaran penelitian. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan observasi untuk mendapatkan data, kemudian melakukan suatu pengamatan terhadap faktor penyebab terjadinya, Bagaimana Interaksi Penganut Agama Budhda dengan Masyarakat Muslim di Kelurahan Melayu Baru Kecamatan Wajo Kota Makassar
2. Wawancara
Wawancara adalah pengumpulan data dengan mengajukan pertanyaan secara langsung kepada informan, dan jawaban-jawaban informan dicatat atau direkam oleh
alat perekam. Anggapan yang perlu dipegang oleh penulis dalam menggunakan metode wawancara adalah sebagai berikut:
a. Bahwa apa yang dinyatakan oleh subjek kepada penulis adalah benar dan dapat dipercaya.
b. Bahwa interpretasi subjek tentang pernyataan yang ditujukan penulis kepadanya adalah sama dengan apa yang dimaksud penulis. Wawancara dimaksudkan untuk memperoleh data berupa informan, selanjutnya peneliti dapat menjabarkan lebih luas informasi tersebut melalui pengolahan data secara konprehensif. Sehingga wawancara tersebut memungkinkan peneliti untuk dapat mengetahui Bagaimana Interaksi Penganut Agama Buddha dengan Masyarakat Muslim di Kelurahan Melayu Baru Kecamatan Wajo Kota Makassar.3
3. Dokumentasi
Penulis dalam penelitian ini menggunakan kamera dan alat tulis untuk membantu mengumpulkan data-data dan penulis akan mengambil gambar secara langsung dari tempat penelitian untuk dijadikan sebagai bukti penelitian.4
a. Sumber data primer, yaitu data empirik yang diperoleh dari informan penelitian dan hasil observasi partisipasi dan peneliti juga menggunakan sistem wawancara purposive sampling. Informan ditentukan secara purposive sampling, artinya pemilihan sampel atau informan secara gejala dengan kriteria tertentu. Informan
3 Kartono, “Pengertian Obsevasi Menurut ParaAhli” https://www.google.co.id/searc h?
q=pen gertian.observas i.menurut.para.ahli&aq=chrome.html,19September (27 Juni 2016)
4 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Bandung: Alfabeta, h. 138
dipilih berdasarkan keyakinan bahwa yang dipilih mengetahui masalah yang diteliti dan yang menjadi informan yaitu, tokoh masyarakat, tokoh agama, ketua
dipilih berdasarkan keyakinan bahwa yang dipilih mengetahui masalah yang diteliti dan yang menjadi informan yaitu, tokoh masyarakat, tokoh agama, ketua