BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.6 Leverage
2.6.2 Tujuan dan Manfaat Rasio Leverage
Berikut terdapat tujuan dan manfaat rasio leverage secara keseluruhan menurut Hery (2016 : 164) :
a. Untuk mengetahui posisi total kewajiban perusahaan kepada kresitor, khususnya jika dibandingkan dengan jumlah asset atau modal yang dimiliki perusahaan.
b. Untuk mengetahui posisi jangka panjang perusahaan terhadap jumlah modal yang dimiliki perusahaan.
c. Untuk menilai kemampuan asset perusahaan dalam memenuhi seluruh kewajiban, termasuk kewajiban yang bersifat tetap, seperti pembayaran angsuran pokok pinjaman beserta bunganya secara berkala.
d. Untuk menilai seberapa besar asset perusahaan yang dibiayai oleh utang. e. Untuk mengetahui seberapa besar asset perusahaan dibiayai oleh modal. f. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh utang terhadap pembiayaan
asset perusahaan.
g. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh modal terhadap pembiayaan asset perusahaan.
h. Untuk mengukur berapa bagian dari setiap rupiah asset yang dijadikan jaminan utang bagi kreditor.
i. Untuk mengukur berapa bagian dari setiap rupiah asset yang dijadikan sebagai jaminan modal bagi pemilik atau pemegang saham.
j. Untuk mengukur berapa bagian dari setiap rupiah modal yang dijadikan sebagai jaminan utang.
k. Untuk mengukur berapa bagian dari setiap rupiah modal yang dijadikan sebagai jaminan utang jangka panjang.
l. Untuk menilai sejauh mana atau berapa kali kemampuan perusahaan (yang diukur dari jumlah laba sebelum bunga dan pajak) dalam membayar bunga pinjaman.
m. Untuk menilai sejauh mana atau berapa kali kemampuan perusahaan (yang diukur dari jumlah laba operasional) dalam melunasi seluruh kewajiban.
35
2.6.3 Jenis-jenis Rasio Leverage
Terdapat lima jenis rasio leverage menurut Hery (2016 : 166) sebagai berikut :
a. Rasio utang (Debt Ratio), merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur perbandingan antara total utang dengan total asset. Rasio ini juga sering dinamakan sebagai rasio utang terhadap asset (Debt to Asset
Ratio).
b. Rasio utang terhadap ekuitas (Debt to Equity Ratio), merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur perbandingan antara total utang dengan total ekuitas.
c. Rasio utang jangka panjang terhadap ekuitas (Long Term Debt to Equity
Ratio) merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur perbandingan
antara utang jangka panjang dengan ekuitas.
d. Rasio kelipatan bunga yang dihasilkan (Times Interest Earned Ratio), merupakan rasio yang menunjukkan sejauh mana perusahaan dalam membayar bunga. Kemampuan perusahaan disini diukur dari jumlah laba sebelum bunga dan pajak.
e. Rasio laba operasional terhadap kewajiban (Operating Income to
Liabilities Ratio), merupakan rasio yang menunjukkan sejauh mana
kemampuan perusahaan dalam melunasi seluruh kewajiban. Kemampuan perusahaan disini diukur dari jumlah laba operasional.
2.7 Corporate Social Responsibility (CSR)
2.7.1 Pengertian Corporate Social Responsibility (CSR)
Menurut Permadi (2017) Corporate social responsibility didefinisikan sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan yang dipertimbangkan secara etis dan diarahkan untuk meningkatkan ekonomi, yang bersamaan dengan peningkatan tersebut akan mampu meningkatkan kualitas hidup bagi karyawan di dalam perusahaan, serta sekaligus peningkatan kualitas hidup masyarakat sekitar dan masyarakat secara lebih luas. Teori dasar pertama kali yang mengungkapkan CSR diterbitkan oleh Howard R bowen di dalam buku yang berjudul social
responsibilities of the businessman pada tahun 1953. Konsep tanggung jawab
sosial perusahaan yang dikenal tahun 1970 yang merupakan suatu ide dasar yang mengacu pada kewajiban pelaku bisnis untuk menjalankan usaha dengan nilai-nilai dan tujuan yang hendak dicapai masyarakat pada tempat perusahaan. Menurut Permadi (2017) yang mengartikan kumpulan-kumpulan kebijakan dan praktik yang berhubungan dengan stakeholder, nilai-nilai, pemenuhan ketentuan hukum, penghargaan masyarakat, lingkungan, serta komitmen dunia usaha untuk berkontribusi dalam pembangunan secara berkelanjutan.
CSR merupakan kunci dari keberhasilan sebuah perusahaan untuk mengembangkan bisnisnya dengan memperhatikan masyarakat dalam hal pengembangannya (Permadi, 2017). CSR adalah sebuah pendekatan dimana perusahaan mengintegrasi kepedulian sosial dalam operasi bisnis mereka dan dalam interaksi dengan para pemangku kepentingan berdasarkan prinsip kesukarelaan dan kemitraan (Permadi 2017). Dalam hal ini CSR dijadikan bentuk
37
timbal balik terhadap masyarakat sekitar pada aktivitas operasi perusahaan agar mendapatkan tanggapan baik dari masyarakat. Implementasi CSR merupakan suatu wujud komitmen yang dibentuk untuk memberikan kontribusi pada peningkatan kualitas kehidupan oleh perusahaan.
CSR adalah tentang bagaimana perusahaan mengelola proses bisnis dengan memasukkan unsur dampak positif dan komitmen yang berkelanjutan dari perusahaan untuk berperilaku etis dan berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi yang berkelanjutan untuk semua pihak. Komitmen ini diwujudkan melalui pembangunan ekonomi yang berkelanjutan yang digunakan agar perusahaan lebih unggul dari pesaing dalam hal mendapatkan keuntungan.
CSR juga merupakan keterlibatan perusahaan dengan pemegang saham yang mengacu pada perilaku perusahaan yang mungkin mempengaruhi perkembangan berkelanjutan yaitu, aktivitas perusahaan yang menciptakan peluang pada keseimbangan dan kenaikan yang sama dalam kepentingan ekonomi, sosial dan lingkungan dari sebuah bisnis. CSR juga merupakan studi yang berkaitan dengan disiplin ilmu sosial, seperti sosiologi, ekonomi, hukum, politik dan studi pembangunan.
Menurut Hidayat (2016) pandangan masyarakat mengenai perusahaan yang melakukan tindakan agresivitas pajak yang tidak bertanggung jawab secara sosial dan tidak sah. Hal ini juga sejalan dengan Undang-Undang RI perseroan No. 40 tahun 2007 pasal 74 mengenai tanggung jawab sosial dan lingkungan, tertulis bahwa “Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumberdaya alam wajib melaksanakan tanggung jawab
sosial dan lingkungan”. Sebutan lain bagi tanggung jawab perusahaan adalah
Corporate Social Responsibility (CSR). Hubungan CSR dengan agresivitas pajak
dapat dijelaskan bahwa CSR merupakan bentuk tanggung jawab perusahaan kepada semua stakeholder-nya. Dan pajak merupakan salah satu bentuk tanggung jawab sosial perusahaan kepada stakeholder-nya melalui pemerintah. Dengan demikian, perusahaan yang terlibat penghindaran pajak adalah perusahaan yang tidak bertanggung jawab sosial (Hidayat, 2016). Sehingga keputusan perusahaan untuk mengurangi tingkat pajaknya atau melakukan penghindaran pajak juga dipengaruhi oleh sikapnya terhadap CSR.
Pengungkapan CSR adalah proses pengkomunikasian efek-efek sosial dan lingkungan atas tindakan ekonomi perusahaan pada kelompok-kelompok tertentu dalam masyarakat dan pada masyarakat secara keseluruhan (Hidayat,2016). Terdapat ketentuan dalam Pasal 66 ayat 2c UU No. 40 tahun 2007, yang menyatakan bahwa semua perseroan wajib untuk melaporkan pelaksanaan tanggung jawab sosial dan lingkungan dalam laporan tahunan. Dalam pandangan bisnis bahwa pembayaran CSR dan pajak adalah cost of doing
business yang mempunyai tujuan yang sama, yaitu untuk memenuhi kesejahteraan
masyarakat melalui penyediaan barang dan jasa untuk masyarakat (public goods
and services), maka perusahaan akan merencanakan CSR dan pajak seefisien
mungkin dan dimungkinkan untuk memilih salah satu dari keduanya. Hidayat (2016) menyatakan bahwa pengungkapan CSR yang rendah dianggap sebagai perusahaan yang tidak bertanggung jawab secara sosial. Perusahaan yang mengungkap CSR rendah mampu melakukan strategi pajak yang lebih agresif
39
dibanding perusahaan dengan tingkat CSR yang tinggi. Sementara itu, perusahaan yang melakukan pengungkapan CSR yang tinggi teridentifikasi melakukan kepatuhan pajak yang tinggi atau tingkat penghindaran pajaknya relatih lebih rendah.
Ketika perusahaan dalam suatu industri telah berhasil menerapkan kebijakan CSR, perusahaan pesaing mungkin terpaksa untuk terlibat juga dalam aktivitas CSR. Apabila perusahaan pesaing tidak menerapkan CSR, maka perusahaan pesaing tersebut terancam kehilangan loyalitas konsumen. Di sisi lain, beberapa perusahaan yang terlibat dalam CSR hanya karena mereka percaya bahwa hal tersebut benar untuk dilakukan. Terlepas dari data tersebut, CSR telah menjadi istilah yang lazim digunakan di arena bisnis, CSR dianggap sebagai suatu proses yang banyak menghadapi masalah, diantaranya adalah :
1. Program CSR belum tersosialisasikan dengan baik di masyarakat
2. Masih terjadi perbedaan pandangan antara departemen hukum dan HAM dengan departemen perindustrian mengenai CSR di kalangan perusahaan dan industri
3. Belum adanya aturan yang jelas dalam pelaksanaan CSR di kalangan perusahaan (Permadi, 2017).
Pengembangan CSR harus memperhatikan keseimbangan antara kesejahteraan masyarakat dan lembaga-lembaga di sekitar perusahaan yang ikut memperhatikan dampak yang diberikan oleh perusahaan untuk mengungkapkan perubahan paradigma tanggung jawab sosial perusahaan dalam sisi aspek sosial dan keuntungan yang akan diperoleh oleh perusahaan.