• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

4. Tujuan dan Manfaat Zakat

Merujuk pada konsep Islam dan pentingnya zakat dalam penerapannya maka dapat kita uraikan tujuan zakat (Fitri, 2017) sebagai berikut yaitu :

1) Untuk membersihkan jiwa muzaki dari sifat kikir.

2) Untuk menyucikan harta, dari harta yang haram

3) Sebagai pencegah terjadinya perputaran uang pada orang-orang tertentu

4) Untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dalam hal ini mencapai kesejahteraan

Adapun manfaat zakat antara lain, sebagai suatu wujud keimanan kepada Allah, membantu taraf hidup mustahik untuk mencapai kata sejahtera, zakat membantu dalam menjalankan bisnis dalam Islam dengan menerapkan etika bisnis Islam, zakat memberikan bantuan berupa lapangan kerja kepada mustahik dan membantu pembangunan sarana prasarana suatu Negara.

5. Syarat – Syarat Dalam Berzakat

Dalam Mengoptimalkan pengelolaan zakat, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi Untuk menjadi Muzaki (Orang diwajibkan untuk membayar zakat) dan Mustahik (orang yang berhak menerima zakat).

Syarat-syarat tersebut adalah sebagai berikut:

a. Syarat-syarat menjadi Muzaki yaitu: Merdeka, Islam, mencapai nisab, harta tersebut miliknya secara sempurna dan mencapai haul. Dalam pandangan ulama seorang yang merupakan hamba sahaya, Non Muslim dan kepemilikan hartanya tidak jelas, maka tidak diwajibkan baginya untuk membayar zakat. (Hidayatul Islam, 2014)

b. Syarat-Syarat Menjadi Mustahik

Setiap umat muslim di perintahkan untuk membayar zakat bagi yang mampu melaksanakannya. (Fitri, 2017) Akan tetapi, bagi umat muslim yang tidak mampu menunaikan kewajiban membayar zakat dalam artian sedang menghadapi keterbatasan ekonomi maka tidak diwajibkan untuk membayar zakat. Dalam syariat Islam pihak yang berhak menerima zakat ada terbagi atas delapan golongan (Muzakir,2017), yaitu:

1) Golongan Fakir, yaitu orang yang mengalami kesengsaraan dalam kehidupannya, tidak memiliki harta dan tidak memiliki tenaga dalam menghidupi keluarganya. Golongan fakir adalah yang paling utama untuk mendapatkan zakat karena tidak memiliki harta ataupun tenaga dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. (Fitri, 2017)

2) Golongan Orang Miskin, yaitu orang yang memiliki pekerjaan namun hasil dari pekerjaannya tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. (Fitri, 2017)

3) Golongan Amil, yaitu orang yang memiliki wewenang dalam pengumpulan zakat. (Fitri, 2017)

4) Golongan Mualaf, yaitu orang yang baru saja masuk islam. (Fitri, 2017)

5) Golongan Budak (Hamba sahaya), yaitu orang yang belum memerdekakan dirinya dari pemiliknya. (Fitri, 2017)

6) Golongan orang Berhutang, yaitu di mana keadaan ekonomi seseorang sedang terlilit hutang dan belum mampu melunasinya.

(Fitri, 2017)

7) Golongan Fi sabilillah, yaitu orang yang sedang berjuang di jalan Allah tanpa mengharapkan imbalan karena merelakan dirinya untuk berjuang dan bekerja untuk kepentingan agama. (Fitri, 2017)

8) Golongan Ibn sabil, yaitu seorang musafir yang tengah melakukan perjalanan dan tidak memiliki harta. (Rozalinda, 2016)

6. Hukum Dasar tentang Zakat

Zakat merupakan suatu ibadah yang ditunaikan melalui pemberian dana kepada mustahik dalam rangka untuk membersihkan harta dan orang yang berhak membayar zakat adalah orang yang keadaan ekonominya mengalami kelebihan. Sebagai Negara dengan penduduk yang mayoritas islam, zakat di Indonesia tidak hanya berhenti pada perspektif yang bersifat religius saja, tetapi juga disikapi sebagai realitas sosial yaitu sebagai suatu pengelolaan sumber daya yang dikelola secara profesional dan amanah.

Dalam hal ini zakat diartikan sebagai suatu sumber daya ekonomi yang pengelolaannya harus dioptimalkan sehingga dapat memberikan pemberdayaan kepada masyarakat. Potensi zakat di Indonesia mencapai Rp 217 triliun namun dari segi pengelolaan, baru tercapai sekitar 1%.

(Noor, 2016) Terdapat beberapa hadis Nabi Saw dan Ayat Al-qur‟an tentang kewajiban zakat, antara lain :

 Q.S Al-Baqarah ayat 43:

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku”.

 Q.S Al-Baqarah ayat 83: berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu

barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya);

dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa”.

 Al-Baqarah ayat 277:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.

 Q.S An-Nisa ayat 77:

”Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: "Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat!" setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebahagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. mereka berkata: "Ya Tuhan Kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada Kami sampai kepada beberapa waktu lagi?" Katakanlah:

"Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan

“Tetapi orang-orang yang mendalam ilmunya di antara mereka dan orang-orang mukmin, mereka beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu (Al Quran), dan apa yang telah diturunkan sebelummu dan orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan yang beriman kepada Allah dan hari kemudian. orang-orang Itulah yang akan Kami berikan kepada mereka pahala yang besar”.

 Q.S Al-Maidah ayat 12

“Dan Sesungguhnya Allah telah mengambil Perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami angkat diantara mereka 12 orang pemimpin dan Allah berfirman: "Sesungguhnya aku beserta kamu, Sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan

menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik Sesungguhnya aku akan menutupi dosa-dosamu. Dan sesungguhnya kamu akan kumasukkan ke dalam surga yang mengalir air didalamnya sungai-sungai.

maka barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah itu, Sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus”.

 Q.S Al-Maidah ayat 55:

“Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah)”.

 Q.S Al-An‟am ayat 141:

“Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya).

makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila Dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan”.

“Dan tetapkanlah untuk Kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat; Sesungguhnya Kami kembali (bertaubat) kepada Engkau. Allah berfirman: "Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat kami".

 Q.S At- Taubah ayat 5: bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah ditempat pengintaian. jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, Maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

 Q.S At-Taubah ayat 11:

“Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, Maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui.

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang-orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, Para mualaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana”.

“Ambilah zakat dari sebagian, harta mereka dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu menjadi ketentraman jiwa bagi mereka dan Allah maha mendengar lagi maha mengetahui.” menambah pada sisi Allah. dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, Maka (yang berbuat demikian) Itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya)”.

 Q.S Luqman ayat 4:

ْمُه َو َةاَكَّزلا َنوُت ْؤُي َو َة َلََّصلا َنوُميِقُي َنيِذَّلا وُنِقوُي ْمُه ِةَرِخ ْلْاِب

Terjemahan:

“(Yaitu), orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat”.

 HR. At-Thabrani

ِةاَك َّزلاِب ْمُكَلا َوْمَأ اوُنِّصَح :َمَّلَس َو ِهْيَلَع ُالله ىَّلَص َلاَق َو ِةَقَدَّصلاِب ْمُكاَض ْرَم ا ْو َواَد َو

َءاَعُّدلا ِء َلََبْلِل ا ْوُّدِعَأ َو

Artinya:

“Nabi saw. bersabda, “Jagalah harta-harta kalian dengan zakat, obatilah orang-orang sakit di antara kalian dengan shadaqah, dan bersiap-siaplah terhadap musibah dengan doa”. (HR. At-Thabrani)

 HR. Abu Daud dan Ibnu Majah mewajibkan zakat fitrah sebagai pembersih bagi yang shaum dari perbuatan sia-sia dan perbuatan kotor,dan sebagai (bantuan) makanan bagi si miskin ”. (HR. Abu Daud dan Ibnu mereka (para sahabat) untuk mengeluarkan atau memberikan zakat fitrah dari anak kecil, dewasa, malah yang masih dalam kandungan (janin)”. (HR. Abdurrazaq)

 HR. Imam Ibnu Jarir At-Thabari

ىَّك َزُي َلَ ٍلاَم ْيِف َرْيَخ َلَ :َمَّلَس َو ِهْيَلَع ُالله ىَّلَص َلاَق َو Artinya:

“Nabi saw. bersabda, “Tidak ada kebaikan di dalam harta yang tidak ditunaikan zakatnya.” (HR. Imam Ibnu Jarir At-Thabari)

7. Pengelolaan Zakat dalam Islam

Zakat merupakan ibadah yang bersifat maliya ijtima’iyah, yang pengelolaannya harus secara baik dan profesional. Karena pengelolaan yang secara profesional akan meningkatkan peluang membaiknya

pelayanan bagi masyarakat dalam menunaikan zakat yang merupakan suatu ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Seperti yang kita ketahui bahwa zakat memiliki fungsi dan peran yang besar dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan dapat meningkatkan hasil daya guna zakat (Muzakir, 2017)

Saat ini kesenjangan ekonomi dan sosial yang terjadi di Indonesia disebabkan oleh tidak meratanya pendapatan, hal ini di buktikan dengan pendapatan ekonomi yang berkisar 40% aset nasional, hanya untuk orang-orang tertentu saja, sehingga menyebabkan kesenjangan sosial dan pendapatan tidak merata. Dalam hal ini pemerintah melakukan program yang pro rakyat untuk mengentaskan kemiskinan dan kebodohan. Untuk kebangkitan zakat yang bersinergi, diperlukan, kemampuan dari pengelola zakat untuk melakukan sosialisasi agar masyarakat mau menunaikan kewajiban zakat, sehingga potensi zakat yang besarnya mencapai Rp. 217 triliun di Indonesia dapat direalisasikan secara baik. (Suryani, 2018)

Zakat yang dikelola secara baik dan dibantu oleh sumber daya yang berpotensi, maka zakat akan memberantas kemiskinan di kalangan masyarakat dan memberikan kemakmuran dan kesejahteraan kepada para mustahik. Lembaga pengelola zakat merupakan lembaga yang non profit yang bertujuan membantu masyarakat menyalurkan zakat, infak dan sedekah kepada yang berhak. Dalam pengelolaan zakat melibatkan beberapa pihak di antaranya Muzaki, amil dan mustahik. Hal yang lazim terjadi sekarang ini orang yang melakukan pengelolaan zakat bukan saja orang-orang yang benar-benar dikenal oleh Muzaki. Muzaki dalam membayar zakat menginginkan keamanan dalam pengelolaan zakat dan

memiliki efisiensi dan efektivitas dari pembayaran zakat yang telah mereka tunaikan (Hisamuddin, 2018)

Zakat merupakan salah satu instrumen yang memiliki potensi besar dalam pengelolaan ekonomi yang strategis. Allah SWT mewajibkan umat Islam yang mampu secara ekonomi untuk berpartisipasi dalam pembangunan melalui zakat yang merupakan ibadah. Zakat juga menjadi solusi dalam memberantas kemiskinan dan memberi rasa sejahtera kepada masyarakat. Dalam UUD 1945 telah diamanahkan untuk memajukan kesejahteraan umum. Hal ini membuktikan bahwa dalam pemerintah memiliki andil dalam menghimbau masyarakat untuk menunaikan zakat sehingga zakat yang dikelola secara profesional dapat membantu pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (Evy, 2017)

Zakat dapat mengentaskan kemiskinan karena dipungut dari para muzakki kemudian digunakan untuk para mustahik (Fitri, 2017). Konsep pengelolaan zakat sebagai pemberantas kemiskinan masyarakat dapat dilihat sebagai berikut:

a. Zakat dan kesejahteraan sosial Masyarakat

Dalam perspektif konsep kesejahteraan sosial berdasrkan ajaran islam dengan memandang beberapa aspek kehidupan termasuk tentang kesejahteraan sosial, dalam islam konsep kesejahteraan dibagi atas dua yaitu, kesejahteraan holistic, seimbang dan kesejahteraan di dunia maupun diakhirat. (Fitri, 2017)

b. Zakat sebagai Potensi Kesejahteraan umat

Konsep tentang keadilan sosial-ekonomi telah ditetapkan didalam sistem ekonomi Islam. Dalam sistem ekonomi Islam diserukan untuk menunaikan kewajiban membayar zakat sebagai suatu pencegahan terjadinya ketimpangan ekonomi antara masyarakat yang memiliki pendapatan tinggi dan masyarakat miskin. Dalam hal ini zakat juga berperan sebagai pencegah terjadinya penumpukan harta pada orang-orang tertentu saja sehingga dapat menciptakan kesejahteraan umat (Fitri, 2017)

c. Zakat dalam Usaha Produktif

Zakat produktif merupakan suatu metode pengalokasian zakat untuk usaha-usaha yang sifatnya produktif agar nilai kegunaannya meningkat.

Dalam pengalokasiannya dana zakat produktif tidak langsung diberikan kepada mustahik tetapi melalui pembentukan usaha dan penyediaan lapangan kerja untuk mustahik. (Erliyanti, 2019)

8. Efektivitas pengelolaan zakat

Efektivitas merupakan suatu tolak ukur dalam mencapai tujuan yang telah di syaratkan. Jika dilihat dalam konteks pengelolaan zakat maka tolak ukur dari pengelolaan zakat itu adalah Tujuannya. Adapun tujuan zakat secara normatif yaitu, kepedulian terhadap orang fakir dan orang miskin dan melakukan pengentasan terhadap kemiskinan sehingga tercapainya suatu kesejahteraan. Untuk menciptakan kesejahteraan mustahik, maka harus menumbuhkan kesadaran pada diri mustahik dalam membayar zakat pada Badan Amil Zakat selaku pihak yang berwenang dalam pengelolaan zakat ( Sodiman, 2016).

Di Indonesia telah dibentuk Undang-Undang zakat no. 38 tahun 1999 tentang pengelolaan zakat didalam Undang-Undang tersebut disebutkan ada tiga lembaga pengelola zakat yaitu, Badan Amil Zakat Nasional, Badan Amil Zakat Daerah, dan Lembaga Amil Zakat. Dalam Undang-Undang pasal 8 No. 38 dalam menjalankan tugasnya Badan Amil zakat memiliki tugas antara lain, sebagai media dalam mengumpulkan zakat, kemudian didistribusikan kepada orang yang berhak menerimanya (Mustahik) dan melakukan pemberdayaan terhadap zakat yang telah dikumpulkan sesuai dengan aturan agama. Ada beberapa unsur pengelolaan zakat yang dalam organisasinya yaitu, menjadi unsur pertimbangan, unsur pengawasan dan unsur pelaksanaan. Dengan diterapkannya sistem kerja yang sesuai ketentuan yang berlaku maka efektivitas pengelolaan zakat akan terealisasi dengan baik dan menjadi sumber dana utama bagi mustahik (Sodiman, 2016). Secara konseptual efektivitas dalam melakukan pemberdayaan masyarakat harus memepertimbangkan potensi sumber daya manusia, karena potensi dari sumber daya manusia memiliki peran penting dalam pengupayaan pelaksanaan pemberdayaan masyarakat. Dalam mengembangkan potensi sumber daya manusia, terdapat beberapa jenis faktor kekuatan yang dapat menjadi tinjauan, yaitu:

a. Kekuatan pendorong di cirikan orang-orang yang tidak memiliki rasa syukur sehingga ia terus berkeinginan untuk memiliki sesuatu yang belum didapatkan.

b. Kekuatan bertahan sesuatu yang telah ada di masyarakat dan patut untuk di pertahankan

c. Kekuatan pengganggu ini muncul karena rasa saling iri hati antara masyarakat satu dengan yang lain, sehingga menyebabkan perpecahan.

B. Teori Efektivitas

Efektivitas merupakan ukuran berhasil tidaknya, pencapaian tujuan suatu organisasi. Tolak ukur suatu organisasi atau perusahaan berjalan efektif dilihat dari pencapaian tujuannya, jika tujuan dari organisasi dan perusahaan telah tercapai sesuai dengan waktu yang ditentukan maka organisasi dan perusahaan tersebut dapat dikatakan berjalan efektif. Adapun indikator efektivitas menggambarkan jangkauan akibat dan dampak dari pengaplikasian suatu program dalam mencapai tujuan program tujuan tersebut. Semakin besar kontribusi dari program yang dijalankan dalam pencapaian tujuan atau sasaran yang di tentukan, maka semakin efektif proses kerja suatu organisasi. (Mardiasmo, 2018)

Secara umum pengukuran evektivitas meliputi keberhasilan program dan sasaran yang telah ditetapkan, serta tingkat kepuasan terhadap program secara input dan outputnya. Sedangkan menurut Sondang P. Siagain (2001) Efektivitas merupakan sebuah pemanfaatan sarana prasarana, dan sumber daya dalam jumlah tertentu yang sebelumnya itu sudah ditetapkan untuk menghasilkan sejumlah barang ataupun jasa, kegiatan atau efektivitas yang akan dijalankan oleh seseorang atau juga sebuah perusahaan. Adapun iindikator-indikator yang mempengaruhi efektivitas yaitu:

1. Regulasi

Regulasi merupakan sebuah peraturan, yang juga diartikan sebagai suatu cara untuk mengendalikan manusia atau masyarakat dengan suatu

aturan atau pembatasan tertentu. Penerapan regulasi bisa dilakukan dengan berbagai macam bentuk, yakni pembatasan hukum yang diberikan oleh pemerintah dan regulasi suatu perusahaan.

2. Penegakan Hukum

Penegakan hukum adalah kegiatan menyerasikan hubungan nilai-nilai yang terjabarkan dalam kaidah-kaidah atau sikap tindak sebagai rangkaian penjabaran nilai tahap akhir untuk menciptakan, memelihara dan mempertahankan kedamaian hidup.

3. Tingkat Pendidikan Masyarakat

Tingkat pendidikan merupakan suatu kegiatan seseorang dalam mengembangkan kemampuan, sikap, dan bentuk tingkah lakunya, baik untuk kehidupan masa kini dan sekaligus persiapan bagi kehidupan masa yang akan datang dimana melalui organisasi tertentu ataupun tidak terorganisir.

4. Fasilitas

Fasilitas merupakan segala sesuatu yang mendukung kenyamanan masyarakat yang disedia atau disiapkan oleh penjual jasa atau instansi yaitu berupa peralatan fisik.

5. Kebudayaan Masyarakat

Kebudayaan masyarakat merupakan keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakannya untuk memahami dan menginterpretasikan lingkungan dan pengalamanya, serta menjadi landasan bagi tingkah lakunya.

C. Tinjauan Empiris

Penelitian ini mengenai Potensi dan Efektivitas Pengelolaan zakat Mal.

ada beberapa penelitian terdahulu yang menjadi acuan dalam penelitian ini yaitu:

Mulkan Syahriza (2019), dengan judul” Analisis Efektivitas Distribusi Zakat Produktif Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Mustahik”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis tentang apakah zakat produktif memiliki kontribusi dalam meningkatkan kehidupan mustahik. Hasil penelitian ini mengemukakan bahwa dalam mendistribusikan dana zakat produktif lembaga zakat tidak hanya dengan pola konsumtif melainkan juga dengan bimbingan usaha mandiri kepada mustahik sehingga para mustahik memiliki usaha, penghasilan yang tetap dan pendapatannya juga meningkat.

A Mukhlis dan Irfan SB (2013), dengan judul “Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Kepatuhan Membayar Zakat (Studi Kasus Kabupaten Bogor)”. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi tingkat kepatuhan membayar zakat dan mengidentifikasi faktor yang dominan dalam mempengaruhi kepatuhan membayar zakat, agar dapat menghasilkan kebijakan yang optimal. Hasil penelitian ini mengemukakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kepatuhan membayar zakat ialah faktor keagamaan, kepedulian sosial, kepuasan diri dan organisasi.

Herfita Rizki Hasana Guring (2015), dengan judul “Analisis Tingkat Kesadaran Masyarakat Kecamatan Medan Baru Dalam Membayar Zakat”.

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kesadaran masyarakat dalam membayar zakat di medan baru. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa tingkat

kesadaran membayar zakat fitrah lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat kesadaran membayar zakat mal.

Taufiq Rahman, Agusdiwana Suarni (2019), dengan judul “Pengungkapan Tata Kelola Dan Akuntabilitas Laporan Keuangan Terhadap Lembaga Amil Zakat, Infaq Dan Shadaqah Muhammadiyah Kabupaten Gowa (LAZIZMU Kab.

Gowa)”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana tata kelola laporan keuangan dan akuntabilitas laporan keuangan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat, di mana dalam Undang-undang tersebut mengatur dengan cukup terperinci mengenai fungsi, peran dan tanggung jawab Badan Amil Zakat (BAZ) dan Lembaga Amil Zakat (LAZ). Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah kualitatif. Teknik pengumpulan data yang dilakukan oleh penulis yaitu dengan Dokumentasi dan wawancara dengan 3 responden staff LAZIZMU Gowa.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem organisasi lembaga amil zakat Muhammadiyah kabupaten gowa dikategorikan baik dan penghimpunan dana ZIS dinilai baik, itu dapat dilihat dari pencapaian penghimpunan dana ZIS ditahun 2017 yang mencapai Rp. 159.549.950. yang dimana ditahun 2016 hanya sekitar Rp. 34.960.000 disebabkan karena lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shadaqah Muhammadiyah Kabupaten Gowa penghimpunan dana ZIS yang dilakukan itu belum mencapai target, dikarenakan banyaknya Lembaga Pengumpul Zakat di Kabupaten Gowa.

Yulkarnain Harahab (2016), dengan judul dalam penelitian ini mengangkat tentang bagaimana “Tingkat Kesadaran Hukum Umat Islam Di Daerah Istimewa Yogyakarta Dalam Menunaikan Zakat Melalui Amil Zakat”.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesadaran hukum umat

Islam di daerah istimewa Yogyakarta dalam membayar zakat melalui Badan Amil Zakat dan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kesadaran hukum umat islam di daerah Istimewa Yogyakarta dalam membayar zakat melalui Badan Amil Zakat serta efektivitas ketentuan undang-undang pengelolaan zakat dalam meningkatkan pengumpulan zakat melalui Badan Amil Zakat. Dalam penelitian ini, peneliti menemukan faktor yang menyebabkan rendahnya tingkat kesadaran masyarakat dalam membayar zakat yaitu, rendahnya pemahaman umat islam terhadap terhadap zakat.

Widi Nopirado (2016), dengan Judul “Mekanisme Pengelolaan Zakat Produktif yang berada di Badan Amil Zakat Nasional Tanah Datar”. Penelitian ini bertujuan untuk melihat mekanisme pengelolaan zakat produktif pada Badan Amil Zakat Nasional Tanah Datar. Hasil Penelitian ini mengungkapkan bahwa mekanisme pengelolaan zakat produktif pada badan amil zakat nasional tanah datar mengalami penurunan dari tahun 2013 sampai tahun 2015.

Mujahidin (2018), dengan judul “Efektivitas Pengumpulan Zakat Profesi (Studi Kasus BAZNAS di Kab. Maros)”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat efektivitas pengumpulan zakat profesi yang berada di Kabupaten Maros apakah sudah maksimal atau sebaliknya. Peneliti mengemukakan bahwa hasil penelitian ini menunjukan ketidakmaksimalan BAZNAS maros dalam melakukan pengumpulan zakat.

Syaiful dan Suwarno (2015), dengan Judul “Kajian Pendayagunaan Zakat Produktif Sebagai Alat Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat (Mustahik) Pada

Syaiful dan Suwarno (2015), dengan Judul “Kajian Pendayagunaan Zakat Produktif Sebagai Alat Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat (Mustahik) Pada

Dokumen terkait