Tujuan disusunnya Panduan Umum ini adalah sebagai acuan bagi seluruh penyelenggara program dalam menyusun Panduan Pelaksanaan Peningkatan Kualitas dan Kompetensi Pendidik dan Tenaga Kependidikan Vokasi untuk Instruktur Lembaga Kursus dan Pelatihan; Guru, Kepala Sekolah, Pengawas, dan Pembina SMK Tahun 2021.
Panduan Pelaksanaan yang harus disusun oleh penyelenggara program harus sesuai dengan kompetensi keahlian yang akan diselenggarakan.
3 BAB II
ISI PANDUAN PELAKSANAAN
Setiap penyelenggara program Peningkatan Kualitas dan Kompetensi Pendidik dan Tenaga Kependidikan Vokasi untuk Instruktur Lembaga Kursus dan Pelatihan; Guru, Kepala Sekolah, Pengawas, dan Pembina SMK Tahun 2021 wajib menyusun Panduan Pelaksanaan. Panduan tersebut memuat sejumlah penjelasan teknis tentang pelaksanaan kegiatan. Penjelasan-penjelasan tersebut diharapkan dapat memberi informasi yang memadai bagi peserta, pengajar, penguji, dan/atau pihak lain yang berkepentingan terkait dengan pelaksanaan program. Penjelasan dalam panduan disusun dengan struktur sebagai berikut.
BAB I PENDAHULUAN BAB II KURIKULUM BAB III PESERTA
BAB IV FASILITAS PELATIHAN BAB V PENYELENGGARAAN
BAB VI PEMANTAUAN DAN EVALUASI BAB VII SERTIFIKASI
BAB IX PENUTUP
Informasi seperti tersebut di atas adalah bersifat minimal, dengan susunan struktur yang dapat dimodifikasi. Setiap lembaga penyelenggara kegiatan dapat menambahkan informasi penting lain yang dinilai relevan, serta dapat memodifikasi struktur informasinya guna mengakomodasi informasi yang ditambahkan. Semuanya ini bertujuan agar semua pihak terkait diyakini akan bisa memperoleh informasi yang dibutuhkannya dengan lebih jelas. Penjelasan terkait dengan penyusunan isi Panduan dapat dilihat pada lampiran.
4 BAB III PENUTUP
Panduan Umum ini merupakan acuan dalam penyusunan Panduan Pelaksanaan yang harus disusun oleh Industri/Lembaga Pendidikan dan Pelatihan yang mendukung peningkatan kompetensi teknis/kejuruan/kerja yang menyelenggarakan pelatihan untuk Guru Kejuruan SMK. Hal-hal yang belum diatur dalam Panduan Umum ini akan diatur tersendiri.
5 L A M P I R A N
6
LAMPIRAN PENJELASAN ISI PANDUAN PELAKSANAAN
Penulisan Panduan Pelaksanaan Pelatihan setiap jenis pelatihan mengikuti struktur seperti di bawah ini.
BAB I PENDAHULUAN BAB II KURIKULUM BAB III PESERTA
BAB IV FASILITAS PELATIHAN BAB V PENYELENGGARAAN
BAB VI PEMANTAUAN DAN EVALUASI BAB VII SERTIFIKASI
BAB IX PENUTUP
Uraian masing-masing BAB di atas mengikuti penjelasan berikut.
BAB I PENDAHULUAN
Isi penjelasan atau informasi pada Bab Pendahuluan yang terpenting adalah penjelasan tentang latar belakang, pengertian, dan tujuan program Peningkatan Kualitas dan Kompetensi Pendidik dan Tenaga Kependidikan Vokasi untuk Instruktur Lembaga Kursus dan Pelatihan; Guru, Kepala Sekolah, Pengawas, dan Pembina SMK Tahun 2021. Informasi terkait dengan hal itu, dapat diperoleh dengan mengutip dan menyarikan informasi dari Pedoman Pelaksanaan Peningkatan Kualitas dan Kompetensi Pendidik dan Tenaga Kependidikan Vokasi untuk Instruktur Lembaga Kursus dan Pelatihan; Guru, Kepala Sekolah, Pengawas, dan Pembina SMK Tahun 2021 (Peraturan Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Nomor 20 Tahun 2021).
Khususnya informasi yang diuraikan pada Lampiran Peraturan, yaitu pada Bab I Pendahuluan dan pada Bab II Konsep Progam.
Tujuan umum program Peningkatan Kualitas dan Kompetensi Pendidik dan Tenaga Kependidikan Vokasi untuk Instruktur Lembaga Kursus dan Pelatihan; Guru, Kepala Sekolah, Pengawas, dan Pembina SMK adalah untuk meningkatan kualitas dan/atau menambah lingkup penguasaan kompetensi para pendidik dan tenaga kependidikan vokasi.
7 BAB II KURIKULUM
Kurikulum Kegiatan Peningkatan Kualitas dan Kompetensi Pendidik dan Tenaga Kependidikan Vokasi untuk Instruktur Lembaga Kursus dan Pelatihan; Guru, Kepala Sekolah, Pengawas, dan Pembina SMK disusun berdasarkan profil kebutuhan kompetensi di duia kerja atau industri. Kurikulum dikembangkan dengan pendekatan berbasis kompetensi (competency based curriculum). Kurikulum pelatihan disusun oleh industri dan/atau lembaga pendidikan dan pelatihan yang memiliki kerja sama dengan industri dalam mendukung peningkatan kompetensi teknis/kejuruan, bekerja sama dengan Direktorat Kemitraan dan Penyelarasan Dunia Usaha dan Dunia Industri. Penyusunan kurikulum disesuaikan dengan kompetensi yang akan dilatihkan.
Kurikulum Peningkatan Kualitas dan Kompetensi Pendidik dan Tenaga Kependidikan Vokasi untuk Instruktur Lembaga Kursus dan Pelatihan; Guru, Kepala Sekolah, Pengawas, dan Pembina SMK sekurang-kurangnya memuat informasi berikut ini.
A. Judul Pelatihan
B. Ringkasan Mata Pelatihan C. Tahap Pembelajaran D. Pengalaman Belajar E. Media Pembelajaran
F. Tindak Lanjut Pasca Pelatihan
A. Judul Pelatihan
Ada 4 (empat) program Peningkatan Kualitas dan Kompetensi Pendidik dan Tenaga Kependidikan Vokasi untuk Instruktur Lembaga Kursus dan Pelatihan;
Guru, Kepala Sekolah, Pengawas, dan Pembina SMK pada tahun 2021. Program tersebut adalah sebagai berikut.
- Upskilling dan Reskilling Instruktur Lembaga Kursus dan Pelatihan - Upskilling dan Reskilling Guru Kejuruan SMK
- Upskilling dan Reskilling Smart Digital Marketing - Pengembangan Kurikulum SMK Paradigma Baru
Khusus terkait dengan Upskilling dan Reskilling Instruktur Lembaga Kursus dan Pelatihan dan Upskilling dan Reskilling Guru Kejuruan SMK, perlu diberi judul yang lebih spesifik. Judul di sini pada dasarnya merupakan nama kompetensi
8
atau kelompok kompetensi yang akan dipelajari dalam Upskilling dan Reskilling Instruktur Lembaga Kursus dan Pelatihan dan Guru Kejuruan SMK.
B. Ringkasan Mata Pelatihan
Ringkasan Mata Pelatihan menjelaskan nama-nama mata pelatihan beserta ringkasan penjelasannya. Ringkasan mata pelatihan pelatihan memuat:
1. Nama-nama Mata Pelatihan yang akan dipelajari dalam pelatihan 2. Deskripsi singkat setiap Mata Pelatihan
3. Tujuan pembelajaran yang diharapkan dari setiap Mata Pelatihan 4. Indikator hasil belajar yang diharapkan dari setiap Mata Pelatihan 5. Pokok Bahasan dalam setiap Mata Pelatihan
6. Metode Pembelajaran
7. Alokasi waktu untuk setiap Mata Pelatihan
Informasi tersebut dapat disusun dalam bentuk uraian (naratif), atau dalam bentuk matriks seperti contoh di bawah ini.
No. Mata
Mata Pelatihan merupakan organisasi logis (berdasar keutuhan kompetensi) dari sejumlah kompetensi yang akan dipelajari dalam pelatihan. Dalam satu pelatihan, dapat terdiri dari satu atau beberapa kompetensi yang dipelajari.
Bergantung dari kebutuhan dan ketersediaan sumberdaya. Nama Mata Pelatihan merepresentasikan isi dan karakter kompetensi yang dipelajari.
Mata Pelatihan tersebut dirancang untuk membantu peserta pelatihan dalam mencapai tujuan program pelatihan Peningkatan Kualitas dan Kompetensi Pendidik dan Tenaga Kependidikan Vokasi untuk Instruktur Lembaga Kursus dan Pelatihan; Guru, Kepala Sekolah, Pengawas, dan Pembina SMK.
9 2. Deskripsi Singkat
Deskripsi Singkat menjelaskan pengertian secara umum dari setiap Mata Pelatihan. Memuat unsur tujuan dan lingkup mata pelatihan secara garis besar.
Contoh:
Mata Pelatihan …. membekali peserta dengan kemampuan untuk melakukan/melaksanakan …. dan menjelaskan konsep …. Pembelajaran Mata Pelatihan dilaksanakan melalui penjelasan dan diskusi interaktif, serta kegiatan praktik. Keberhasilan peserta dinilai dari kemampuannya dalam melakukan/melaksanakan …. dan menjelaskan konsep …..
3. Tujuan Pembelajaran
Tujuan Pembelajaran menjelaskan tentang kemampuan/kompetensi akhir yang akan dicapai (terminal performance objective) oleh peserta pelatihan dari mata pelatihan yang bersangkutan. Tujuan pembelajaran memuat tiga unsur (3 ‘K’), yaitu: kinerja yang diharapkan akan dikuasai, kondisi (bahan, fasilitas, waktu, ruang/tempat, dll) yang diperlukan untuk melaksanakan kinerja, serta kriteria keberhasilan dalam melaksanakan kinerja.
Level kompetensi yang akan dicapai minimal setara dengan kemampuan mengevaluasi (C6) untuk ranah kognitif, organisasi dan karakterisasi (level A4 dan A5) pada ranah afektif, serta artikulasi dan pengalamiahan (level P4 dan P5) pada ranah psikomotorik pada taksanomi Bloom.
Contoh:
Pada akhir pembelajaran, dengan disediakan…. (kondisi), peserta diharapkan mampu me….. (kinerja), sesuai dengan …..(kriteria).
4. Indikator Hasil Pembelajaran
Untuk memudahkan dalam proses pembelajarannya, setiap mata pelatihan perlu diurai dalam sejumlah tahapan pembelajaran, biasanya berkisar 3 – 5 tahapan. Masing-masing fokus kepada bahasan tertentu. Penguraian dilakukan secara logis, berdasar pengalaman. Indikator Hasil Pembelajaran menjelaskan kemampuan yang akan dikuasai peserta pelatihan pada setiap tahap pembelajaran tersebut (enabling objectives).
Contoh:
1. Peserta mampu me…. (sesuai dengan tahapan pembelajaran) 2. Peserta mampu me….
10 3. dst.
5. Pokok Bahasan
Pokok Bahasan merupakan kumpulan materi belajar yang diorganisasi secara logis agar mudah dipelajari, yang diperlukan untuk membangun kemampuan yang direncanakan pada setiap Indikator Hasil Pembelajaran. Satu Indikator Hasil Pembelajaran dapat terdiri dari satu atau beberapa pokok bahasan.
6. Metode Pembelajaran
Metode Pembelajaran dirancang agar interaksi antara peserta pelatihan dan instruktur dapat berjalan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Pemilihan metode pembelajaran juga harus memperhatikan instructional effect dan nurturant effect yang akan dikembangkan. Selain itu, kondisi peserta pelatihan yang meliputi latar belakang pendidikannya, kondisi budaya, dan lingkungan sosial tempat kerjanya juga harus menjadi perhatian.
7. Waktu
Waktu merupakan durasi yang diperlukan untuk mempelajari satu Mata Pelatihan. Dinyatakan dalam Jam Pelajaran (JP), satu JP setara dengan 45 menit. Penentuan besaran waktu didasarkan pada durasi rata-rata secara normal (berdasar pengalaman) yang dibutuhkan oleh seorang pembelajar untuk dapat menguasai dengan baik satu mata pelatihan, dengan strategi dan metode yang direncanakan.
C. Tahap Pembelajaran
Tahapan Pembelajaran menjelaskan bagaimana pelatihan dilaksanakan, pada setiap pendekatan belajar yang diterapkan. Program Peningkatan Kualitas dan Kompetensi Pendidik dan Tenaga Kependidikan Vokasi untuk Instruktur Lembaga Kursus dan Pelatihan; Guru, Kepala Sekolah, Pengawas, dan Pembina SMK dapat dilaksanakan dengan menggunakan 2 (dua) pendekatan pembelajaran.
Pendekatan pembelajaran dalam jaringan (Daring) dan/atau pendekatan pembelajaran luar jaringan (Luring). Kedua pendekatan tersebut adalah saling melengkapi, sehingga program diharapkan dapat dilaksanakan secara efisien dan efektif meningkatkan kompetensi peserta sesuai dengan standar Industri.
Pada Tahapan Pembelajaran, dijelaskan semua tahapan pembelajaran yang diterapkan. Bila hanya menerapkan satu pendekatan pembelajaran, maka hanya menjelaskan tahapan pada pendekatan pembelajaran yang diterapkan.
11
Penjelasan yang perlu dicantumkan antara lain menyangkut bagaimana, kapan, dan berapa lama pelaksanaan tahapan pembelajaran daring dan/atau tahapan pembelajaran luring dilaksanakan.
Pada pembelajaran daring, berdasar karakteristik kompetensi yang dipelajari dalam pelatihan, ada dua tipe pelaksanaan pembelajaran daring. Pertama, pembelajaran daring diterapkan pada seluruh proses pembelajaran dalam pelatihan. Penerapan pendekatan semacam itu, hanya dilaksanaan bagi pelatihan yang seluruh kompetensinya diyakini dapat efektif dipelajari dan/atau dikuasai secara daring. Pola ini antara lain dapat diterapkan pada pelatihan yang objek dan hasil pembelajarannya berkaitan dengan kompetensi penggunaan aplikasi perangkat lunak tertentu. Seperti kompetensi dalam pembuatan animasi.
Kedua, pembelajaran daring yang diterapkan hanya pada sebagian tahapan pelatihan. Karena ada sebagian materi pelatihan yang kurang efektif dipelajari dan/atau dikuasai jika tanpa melalui kegiatan tatap muka (luring). Tahapan pembelajaran daring di sini difokuskan pada pembelajaran konsep dan teori yang terkait dengan kompetensi yang dipelajari. Pembelajaran lebih banyak bersifat mandiri (self managed/directed), namun pada waktu-waktu tertentu perlu ada sinkronisasi pemahaman oleh pembimbing. Sinkronisasi ini perlu dirancang atau dijadwalkan dengan baik.
Penerapan pendekatan belajar daring ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi penyelenggaraan pelatihan. Selain itu, bagi peserta dimungkinkan untuk melaksanakan kegiatan belajar sambil tetap melaksanakan sebagian tugas rutinnya. Besaran porsi tahapan pembelajaran daring bergantung kepada karakteristik kompetensi yang dipelajari.
Pada tahapan pembelajaran luring, dijelaskan bagaimana pengaturan kegiatan belajar yang dilaksanakan di tempat pelatihan (di dalam kampus) dan di luar tempat pelatihan (di luar kampus). Pelatihan di dalam kampus, dikonsentrasikan untuk penguatan konsep dan teori yang terkait dengan kompetensi yang dipelajari peserta pada tahapan pembelajaran daring. Sedangkan pelatihan di luar kampus, yang dilaksanakan di industri atau dunia usaha (OJT, On the Job Traning), dimaksudkan agar peserta dapat belajar dan berlatih menguasai kompetensi seutuhnya. Dengan strategi ini, peserta diharapkan dapat mengadopsi kompetensi keahlian yang dipelajari dalam suasana dunia kerja sesungguhnya.
12
Sehingga nilai atau budaya kerja yang ‘menaungi’ penerapan kompetensi yang dipelajari akan diadopsi pula.
Dalam kondisi yang sangat terbatas atau sangat terkendala, pendekatan ini dapat digantikan dengan pendekatan pelatihan berbasis proyek (PjBT, Project Based Training). Meski demikian, sedapat mungkin dalam proses pelatihan ini tetap melibatkan pelatih/instruktur dari industri atau dunia kerja. Agar nilai-nilai dan standar kerja yang berlaku di industri atau dunia usaha tetap dapat diadopsi peserta.
D. Pengalaman Belajar
Pengalaman belajar adalah interaksi antara peserta pelatihan dengan kondisi eksternal di lingkungan belajar. Pengalaman belajar seyogyanya diperoleh melalui perilaku aktif peserta pelatihan, yaitu apa yang peserta pelatihan lakukan saat proses belajar. Pengalaman belajar selain dirancang untuk penguasaan kompetensi (instructional effect), juga dirancang untuk menghasilkan dampak ikutan (nurturant effect) yaitu membangun soft skills, yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dunia industri.
Pengalaman belajar dirancang seoptimal mungkin. Peserta diupayakan mendapat pengalaman belajar langsung, hasil dari aktivitas sendiri (tanpa perantara) sesuai dengan tujuan pembelajaran dan obyek yang dipelajari. Pengalaman belajar demikian, akan menjadikan peserta pelatihan memiliki kemampuan penerapan yang tinggi.
Pengalaman belajar diperoleh peserta melalui proses pembelajaran daring, pembalajaran luring di tempat pendidikan dan pelatihan (di dalam kampus), atau pun pada saat pembalajaran luring di tempat kerja/industri (di luar kampus).
Penjelasan tentang pengalaman belajar dapat diberikan antara lain seperti uraian di bawah ini.
1. Pengalaman Belajar Daring
Hasil belajar daring, baik pada pelatihan yang sepenuhnya dilaksanakan secara daring maupun pada pelatihan yang sebagian lainnya dilaksanakan secara luring; diperoleh melalui sejumlah pengalaman belajar dalam bentuk antara lain:
- membaca materi pendidikan dan pelatihan,
- menonton video yang relevan dengan materi pelatihan, - melaksanakan tugas,
13 - berdiskusi,
- mensintesakan materi - materi pendidikan dan pelatihan, dan - memperoleh bimbingan.
Pada pelatihan yang sepenuhnya dilaksanakan secara daring, intensitas pembimbingan dari pengampu materi relatif perlu lebih tinggi. Sedangkan pada pelatihan yang mengkombinasikan pendekatan daring dan luring, pembimbingan selama daring bisa lebih rendah intensitasnya. Hal ini dikarenakan pada saat pembelajaran luring peserta akan memperoleh pembimbingan dari pengampu materi kembali, khususnya terhadap materi yang bersifat pemahaman dan penggunaan prinsip, prosedur untuk aplikasi di lapangan, dan pemecahan masalah.
2. Pengalaman Belajar Luring di Tempat Pelatihan
Pelatihan di tempat pelatihan, dikonsentrasikan untuk penguatan konsep dan teori yang terkait dengan kompetensi yang dipelajari, yang sebagian telah dipelajari peserta pada tahapan pembelajaran daring. Hasil belajar pada masing-masing materi pelatihan diperoleh peserta melalui serangkaian pengalaman belajar. Antara lain adalah sebagai berikut.
- membaca materi pendidikan dan pelatihan,
- menonton video yang relevan dengan materi pelatihan, - melaksanakan tugas dan simulasi,
- berdiskusi,
- mendengar penjelasan dari pengampu materi pendidikan dan pelatihan, industri, maupun sesama peserta,
- membahas isu yang relevan dengan materi pokok, - membahas berbagai kasus,
- mensintesakan materi - materi pelatihan, dan - memperoleh bimbingan
3. Pengalaman Belajar Luring di Tempat Kerja
Hasil belajar pada tahap ini diperoleh melalui serangkaian pengalaman belajar dengan pembimbingan dari industri/Lembaga Pendidikan dan Pelatihan yang mendukung peningkatan kompetensi teknis/kejuruan/kerja.
Peserta belajar dan berlatih menguasai kompetensi seutuhnya. Peserta mengadopsi kompetensi yang dipelajari dalam suasana dunia kerja
14
sesungguhnya. Sehingga nilai atau budaya kerja yang ‘menaungi’ penerapan kompetensi yang dipelajari juga akan menjadi tatanilai peserta pelatihan.
Dalam kondisi yang sangat terbatas atau sangat terkendala, pendekatan ini dapat digantikan dengan pendekatan pelatihan berbasis proyek (PBT, Project Based Training). Meski demikian, sedapat mungkin dalam proses pelatihan ini tetap melibatkan pelatih/instruktur dari industri atau dunia kerja. Agar nilai-nilai dan standar kerja yang berlaku di industri atau dunia usaha tetap dapat diadopsi peserta.
Pengalaman belajar secara luring di tempat kerja/industri, diutamakan untuk bisa memperoleh pengalaman langsung di lini produksi atau training center industri yang memiliki karakteristik yang sama dengan lini produksi.
E. Media Pembelajaran
Media pembelajaran adalah sarana yang digunakan dalam proses pembelajaran agar dapat mencapai tujuan pembelajaran dan pengalaman belajar yang dirancang, sehingga peserta pelatihan dapat aktif melakukan proses belajar.
Selain tujuan pembelajaran dan pengalaman belajar, strategi dan metode pembelajaran juga perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan/menyiapkan media pembelajaran.
Dalam Media Pembelajaran, dijelaskan semua media pembelajaran yang dipergunakan dalam pelatihan. Antara lain dapat seperti contoh di bawah ini.
- bahan bacaan;
- bahan tayang;
- bahan permainan;
- video/film pendek;
- kasus;
- data;
- games;
- grafik;
- lokasi OJT/ industri di lini produksi;
- teknologi informasi (internet, telepon, dan teknologi komunikasi lainnya);
- simulator; dan
- forum diskusi atau forum pertemuan.
15 F. Tindak Lanjut Pasca Pelatihan
Peserta pelatihan program Peningkatan Kualitas dan Kompetensi Pendidik dan Tenaga Kependidikan Vokasi yang telah menyelesaikan program, diwajibkan untuk mengimplementasikan hasil pelatihan di tempat kerjanya. Bagi Guru SMK dan Instruktur LKP dapat mengembangkan bahan ajar/modul belajar siswa berdasarkan pengalaman yang diperoleh selama mengikuti pelatihan. Peserta pelatihan yang lainnya, program tindak lanjut dapat diarahkan pada pengembangan program pengembangan di unit kerjanya sesuai program pelatihan yang diikuti. Lama program tindak lanjut antara 3 bulan sampai satu tahun sesuai karakteristik dan kubutuhan program.
Selama program tindak lanjut berjalan, pengajar/instruktur pelatihan terus memantau dan mendampingi sesuai dengan kebutuhan program tindak lanjut.
Proses pemantauan dan pendampingan dapat dilakukan secara daring. Hasil tindak lanjut dilaporkan ke penyelenggara pelatihan, dengan diberi bukti kegiatan dan/atau hasil kegiatan yang memadai.
BAB III PESERTA
Pada bagian ini, menjelaskan tentang siapa dan kriteria peserta yang dapat mengikuti program ini. Peserta kegiatan ini adalah Instruktur Lembaga Kursus dan Pelatihan; Guru, Kepala Sekolah, Pengawas, dan Pembina SMK. Pendaftaran, seleksi, dan penetapan peserta dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi.
1. Jumlah dan Sasaran Peserta
Jumlah peserta dalam satu kelas adalah sesuai dengan standar dan persyaratan Industri/Lembaga Pendidikan dan Pelatihan yang mendukung peningkatan kompetensi teknis/kejuruan/kerja. Dalam hal tidak ada ketentuan atau pertimbangan khusus tertentu, jumlah peserta dalam satu kelas maksimal adalah 25 orang.
a. Upskilling dan Reskilling Instruktur Lembaga Kursus dan Pelatihan serta Guru Kejuruan SMK
Sasaran peserta pelatihan Upskilling dan Reskilling Instruktur Lembaga Kursus dan Pelatihan serta Guru Kejuruan SMK adalah;
16
1) Guru Kejuruan SMK adalah guru yang mengajar pada kompetensi keahlian yang sesuai dengan program pelatihan yang diselenggarakan dan dinyatakan lulus dalam seleksi peserta yang dilaksanakan oleh Direktorat Kemitraan dan Penyelarasan dunia usaha dan dunia industri.
2) Instruktur LKP adalah Instruktur yang mengajar pada kompetensi yang sesuai dengan program pelatihan yang diselenggarakan dan dinyatakan lulus dalam seleksi peserta yang dilaksanakan oleh Direktorat Kemitraan dan Penyelarasan dunia usaha dan dunia industri.
Bidang prioritas yang menjadi sasaran program ini, yaitu: manufaktur dan konstruksi, ekonomi kreatif, pelayanan keramahan (hospitality), dan pelayanan sosial (care services) serta bidang lainnya.
b. Pelatihan Upskilling dan Reskilling Smart Marketing
Sasaran peserta pelatihan Upskilling dan Reskilling Smart Digital Marketing, adalah:
1) Kepala Sekolah 2) Guru
3) Tenaga Tata Usaha Sekolah
c. Pelatihan Upskilling dan Reskilling Pengembangan Kurikulum SMK Paradigma Baru
Sasaran peserta pelatihan Upskilling dan Reskilling Pengembangan Kurikulum SMK Paradigma Baru, adalah:
1) Calon instruktur pelatihan kurikulum paradigma baru.
2) Kepala Sekolah PK
3) Pengawas Sekolah pada SMK PK 4) Guru SMK PK
5) Staf Pembina SMK Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi
2. Kode Etik Sikap Perilaku
Kode etik sikap perilaku adalah pedoman berperilaku peserta selama mengikuti program. Kode etik sikap perilaku meliputi sikap perilaku yang harus ditunjukkan dan kode sikap perilaku yang dilarang selama mengikuti klegiatan pelatihan/ditempat pelatihan adalah;
17
1. Kode sikap perilaku yang wajib ditunjukkan oleh peserta pelatihan selama mengikuti program di tempat pelatihan adalah sebagai benikut.
a. Menghormati Tenaga Pengajar, Penyelenggara, dan sesama Peserta lainnya.
b. Mengikuti kegiatan pembelajaran secara tepat waktu.
c. Menyelesaikan semua tugas yang diberikan oleh Pengajar, Fasilitator dan Penyelenggara Pelatihan.
d. Berpakaian sopan selama mengikuti kegiatan pelatihan.
e. Berperilaku peduli dalam menjaga kebersihan dan kenyamanan di lingkungan pelatihan.
Pelanggaran terhadap kode etik, dengan sikap perilaku yang wajib ditunjukkan diberikan sanksi sebagai berikut: jika peserta terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan pelanggaran terhadap salah satu atau seluruh kode sikap perilaku yang harus ditunjukkan selama program, untuk pelanggaran pertama diberikan peringatan lisan, pelanggaran kedua diberi surat teguran, dan pelanggaran ketiga peserta dipulangkan ke sekolah tempat tugas peserta dengan diberikan surat pengantar dari Pimpinan Industri/Lembaga Pendidikan dan Pelatihan yang mendukung peningkatan kompetensi teknis/kejuruan/kerja, dengan tembusan ke Direktorat Penyelarasan dan Kemitraan dunia usaha dan dunia industri.
2. Kode Etik sikap perilaku yang dilarang selama penyelenggaraan pelatihan program adalah sebagai benikut.
a. Melakukan plagiarisme dalam bentuk apapun selama mengikuti pelatihan.
b. Melakukan pelanggaran norma, hukum, moral dan susila selama mengikuti pelatihan.
c. Memberi gratifikasi kepada pengajar, pengelola, dan penyelenggara pelatihan.
d. Membawa senjata ke dalam lembaga pelatihan.
e. Merokok selama pembelajaran berlangsung.
f. Membawa dan mengkonsumsi minuman keras, narkoba, dan zat-zat adiktif lainnya di dalam lembaga pelatihan.
Pelanggaran terhadap kode sikap perilaku yang dilarang ditunjukkan diberikan sanksi sebagai berikut:
18
a. Sanksi yang diberikan kepada peserta yang melakukan pelanggaran nomor 1 dan 2, peserta dipulangkan ke sekolah tempat tugas peserta dengan diberikan surat pengantar dari Pimpinan Industri/Lembaga Pendidikan dan Pelatihan yang mendukung peningkatan kompetensi teknis/kejuruan/kerja.
b. Jika peserta terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan pelanggaran terhadap kode sikap perilaku yang dilarang selama program pada nomor 3, 4, dan 5, pelanggaran pertama diberikan peringatan secara lisan, pelanggaran kedua surat teguran, dan pelanggaran ketiga peserta dipulangkan ke sekolah tempat tugas peserta dengan diberikan surat pengantar dari Pimpinan Industri/Lembaga Pendidikan dan Pelatihan yang mendukung peningkatan kompetensi teknis/kejuruan/kerja, dan memberikan tembusan ke Direktorat Kemitraan dan Penyelarasan dunia usaha dunia
b. Jika peserta terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan pelanggaran terhadap kode sikap perilaku yang dilarang selama program pada nomor 3, 4, dan 5, pelanggaran pertama diberikan peringatan secara lisan, pelanggaran kedua surat teguran, dan pelanggaran ketiga peserta dipulangkan ke sekolah tempat tugas peserta dengan diberikan surat pengantar dari Pimpinan Industri/Lembaga Pendidikan dan Pelatihan yang mendukung peningkatan kompetensi teknis/kejuruan/kerja, dan memberikan tembusan ke Direktorat Kemitraan dan Penyelarasan dunia usaha dunia