• Tidak ada hasil yang ditemukan

1. Mampu melakukan pengkajian keperawatan keperawatan medikal bedah pada px dispepsia di RS. Bhayangkara Surabaya H.S Samsoeri Mertojoso

2. Mampu mengalisis diagnosa keperawatan keperawatan medikal bedah pada px dispepsia di RS. Bhayangkara Surabaya H.S Samsoeri Mertojoso

3. Mampu menyusun perencanaan keperawatan keperawatan medikal bedah pada px dispepsia di RS. Bhayangkara Surabaya H.S Samsoeri Mertojoso

4. Mampu melaksanakan tindakan keperawatan keperawatan medikal bedah pada px dispepsia di RS. Bhayangkara Surabaya H.S Samsoeri Mertojoso

5. Mampu melakukan evaluasi keperawatan keperawatan medikal bedah pada px dispepsia di RS. Bhayangkara Surabaya H.S Samsoeri Mertojoso

4 1.3 Manfaat

1. Bagi Profesi Keperawatan

Studi kasus ini dapat digunakan untuk pengembangan ilmu pengetahuan perawat dalam meningkatkan profesionalisme dalam memberi asuhan keperawatan dengan diagnosa dispepsia guna terwujudnya mutu pelayanan yang berkualitas. Meningkatkan profesionalisme dalam melakukan asuhan keperawatan pada pasien dispepsia guna terwujudnya mutu pelayangna yang berkualitas.

2. Bagi Institusi

Studi kasus ini dapat digunakan bahan pustaka atau refernsi dalam asuhan keperawatan pada pasien dengan sindrom dispepsia.

3. Bagi Mahasiswa Praktik

Hasil studi kasus ini dapat menambah pengalaman belajar dan meningkatkan pengetahuan serta keterampilan dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien, khususnya pasien dengan dispepsia, juga dapat menjadi acuan untuk mahasiswa selanjutnya dalam melaksanakan asuhan keperawatan yang komprehensif terhadap pasien.

5 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 TINJAUAN MEDIS

2.1.1 DEFINISI

Dispepsia merupakan rasa nyeri atau tidak nyaman di bagian ulu hati.Kondisi ini dianggap gangguan di dalam tubuh yang diakibatkan reaksi tubuh terhadap lingkungan sekeliling. Reaksi ini menimbulkan gangguan ketidakseimbangan metabolisme dan seringkali menyerang individu usia produktif, yakni usia 30-50 tahun (Ida, 2016).

Dispepsia merupakan isitilah yang digunakan untuk suatu sindrom (kumpulan gejala atau keluhan) yang terdiri dari nyeri atau rasa tidak nyaman di ulu hati (daerah lambung), kembung, mual, muntah, sendawa, rasa cepat kenyang, dan perut terasa penuh. Keluhan ini tidak selalu ada pada setiap penderita. Bahkan pada seorang penderita, keluhan tersebut dapat berganti atau bervariasi, baik dari segi jenis keluhan maupun kualitas keluhan. Jadi, dispepsia bukanlah suatu penyakit, melainkan merupakan kumpulan gejala ataupun keluhan yang harus dicari penyebabnya (Sofro dan Anurogo, 2013).

2.1.2 ANATOMI FISIOLOGI 1. ANATOMI

Menurut Diyono dan Muliyanti (2013), lambung terletak oblik dari kiri ke kanan berbentuk menyilang di abdomen atas di bawah diafragma. Pada saat kosong, lambung berbentuk tabung (seperti huruf J) dan pada saat penuh seperti buah alpukat.

6 Jumlah yang dianjurkan untuk kapasitas normal lambung adalah satu sampai dua liter. Anatomi lambung terdiri dari fundus, korpus, dan antrum pyloricum atau piloris. Pada bagian atas kanan terdapat cekungan kurvatura minor dan di bawah kiri terdapat cekungan kurvatura mayor serta di masing-masing ujung kurvatura terdapat sfinger yang berfungsi mengatur pengeluaran dan pemasukan.

2. FISIOLOGI

Menurut Diyono dan Muliyanti (2013), fungsi lambung dibagi menjadi 2 bagian yaitu :

a. Fungsi Motorik

 Fungsi resevair adalah menyimpan makanan dan dicerna terus

hingga menjadi sedikit. Makanan di saluran sesuai tingkat volume tanpa ada penambahan tekanan. Gastrin merangsang saraf vagus untuk memerantai terjadinya rileksasi reseptif otot polos.

7

 Fungsi mencampur merupakan pemecahan makanan menjadi

partikel kecil dan bercampur dengan getah lambung yang melalui kontraksi otot yang ada pada lambung.

 Fungsi pengosongan lambung merupakan suatu yang dikendalikan

oleh pembukaan sfinger piloris dan dipengaruhi oleh viskositas, emosi, keasaman, volume, keadaan fisik, serta aktivitas osmotik, kerja dan obat-obatan.

b. Fungsi pencernaan dan sekresi

 Pencernaan karbohidrat dan lemak oleh amilase dan lipase dalam lambung kecil peranannya serta awal mula pencernaan protein oleh pepsin dan HCI.

 Sintesis dan pelepasan gastrin dipengaruhi oleh protein yang dimakan, peregangan antrum, dan rangsangan vagus.

 Sekresi faktor intrinsik memungkinkan absorpsi vitamin B12 dari usus halus bagian distal.

Pengaturan sekret lambung dibagi menjadi fase sefalik, gastrik dan instestinal. Fase sefalik dimulai sebelum makanan masuk lambung seperti melihat, mengecap, mencium, dan memikir. Pada fase ini diperantarai oleh saraf vagus dan dihilangkan dengan vagotomi. Impuls eferen kemudian dihantarkan melalui saraf vagus ke lambung, sehingga kelenjar gastrik dirangsang mengeluarkan asam HCI, pepsinogen dan menambah mukus. Fase sefalik menghasilkan sekitar 10% dari sekresi lambung normal. Fase gastrik dimulai pada saat makanan mencapai antrum pilorus. Distensi yang terjadi diantrum menyebabkan rangsangan mekanis pada dinding lambung sehingga impuls-impuls merangsang pelepasan hormon gastrin dan kelenjar-kelenjar

8 lambung dan terjadi sekresi. Pelepasan gastrin dirangsang oleh pH alkali, garam empedu diantrum dan protein makanan serta alkohol. Fase intestinal pada saat gerakan kimus dari lambung ke duodenum. Protein yang ditelah dicerna didalam duodenum merangsang pelepasan gastrin usus, suatu hormon yang menyebabkan lambung terus mensekresikan cairan lambung.

2.1.3 ETIOLOGI

Dispepsia dapat disebabkan oleh berbagai penyakit baik yang bersifat organik dan fungsional. Penyakit yang bersifat organik antara lain karena terjadinya gangguan di saluran cerna atau di sekitar saluran cerna, seperti pankreas, kandung empedu dan lain-lain. Sedangkan penyakit yang bersifat fungsional dapat dipicu karena faktor psikologis dan faktor intoleran terhadap obat-obatan dan jenis makanan tertentu (Abdullah dan Gunawan, 2012). Faktor-faktor yang menyebabkan dispepsia adalah:

1. Gangguan pergerakan (motilitas) piloroduodenal dari saluran pencernaan bagian atas (esofagus, lambung dan usus halus bagian atas).

2. Menelan terlalu banyak udara atau mempunyai kebiasaan makan salah (mengunyah dengan mulut terbuka atau berbicara).

3. Menelan makanan tanpa dikunyah terlebih dahulu dapat membuat lambung terasa penuh atau bersendawa terus.

4. Mengkonsumsi makanan/minuman yang bisa memicu timbulnya dispepsia, seperti minuman beralkohol, bersoda (soft drink), kopi. Minuman jenis ini dapat mengiritasi dan mengikis permukaan lambung.

5. Obat penghilang nyeri seperti Nonsteroid Anti Inflamatory Drugs(NSAID) misalnya aspirin, Ibuprofen dan Naproven (Rani, 2011).

6. Pola makan

7. Di pagi hari kebutuhan kalori seseorang cukup banyak sehingga bila tidak sarapan, lambung akan lebih banyak memproduksi asam. Tuntutan pekerjaan

9 yang tinggi, padatnya lalu lintas, jarak tempuh rumah dan kantor yang jauh dan persaingan yang tinggi sering menjadi alasan para profesional untuk menunda makan (Rani, 2011).

Faktor diet dan sekresi cairan asam lambung merupakan penyebab timbulnya dispepsia (Djojoningrat, 2009). Penelitian Khotimah pada 74 mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara tentang analisis faktor-faktor yang mempengaruhi sindrom dispepsia menyatakan bahwa salah satu faktor yang berhubungan dengan kejadian sindrom dispepsia adalah keteraturan makan dan jeda antara waktu makan (Khotimah, 2012). Jeda antara waktu makan merupakan penentu pengisian dan pengosongan lambung. Jeda waktu makan yang baik yaitu berkisar antara 4-5 jam (Iping, 2004) Fungsi dari cairan asam lambung adalah untuk mencerna makanan yang masuk ke lambung dan merubah makanan tersebut menjadi massa kental (khimus), membantu proses pencernaan makanan yang telah di mulai dari mulut. Cairan asam lambung merupakan cairan yang bersifat iritatif dan asam (Sherwood, 2011). Suasana yang sangat asam di dalam lambung dapat membunuh organisme patogen yang tertelan atau masuk bersama dengan makanan. Namun, bila barier lambung telah rusak, maka suasana yang sangat asam di lambung akan memperberat iritasi pada dinding lambung (Herman, 2004). Produksi asam lambung berlangsung terus-menerus sepanjang hari dan bilamana tidak adanya makanan yang masuk untuk diproses maka asam lambung tersebut merusak alat pencernaan sehingga terjadi sindrom dispepsia (Ganong, 2008).

10 2.1.4 PATHWAY

2.1.5 MANIFESTASI KLINIS

Adanya gas diperut, rasa penuh setelah makan, perut menonjol, cepat kenyang, mual, tidak ada nafsu makan dan perut terasa panas.Rasa penuh, cepat keyang, kembung setalah makan, mual muntah, sering bersendawa, tidak nafsu makan, nyeri uluh hati dan dada atau regurgitas asam lambung kemulut. Gejala dispepsia akut dan kronis berdasarkan jangka waktu tiga bulan meliput: rasa sakit dan tidak enak di ulu hati, perih, mual, berlangsung lama dan sering kambuh dan disertai dengan ansietas dan depresi (Purnamasari, 2017).

Mk : Intoleransi aktivitas MK :

Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari

kebutuhan

MK : Kekurangan Volume cairan

MK : Nyeri episgastrium b.d iritasi pada mukosa lambung

MK : Defisit pengetahuan MK: Ansietas

MK: konstipasi

11 Klasifikasi klinis praktis, didasarkan atas keluhan/gejala yang dominan, membagi dispepsia menjadi tiga tipe :

1. Dispepsia dengan keluhan seperti ulkus, dengan gejala : a. Nyeri epigastrum terlokalisasi

b. Nyeri hilang setelah makan atau pemberian antacid c. Nyeri saat lapar

d. Nyeri episodic

2. Dispepsia dengan gejala seperti dismotilitas, dengan gejala seperti : a. Mudah kenyang

b. Perut cepat terasa penuh saat makan c. Mual

d. Muntah

e. Upper abdominal boating

f. Rasa tak nyaman bertambah saat makan

3. Dispepsia non-spesifik (tidak ada gejala seperti kedua tipe diatas) (Mansjoer, et al, 2007).

2.1.6 KOMPLIKASI

Penderita sindroma dispepsia selama bertahun-tahun dapat memicu adanya komplikasi yang tidak ringan.komplikasi yang dapat terjadi antara lain, pendarahan, kanker lambung, muntah darah dan terjadinya ulkus peptikus (Purnamasari, 2017).

2.1.7 PENATALAKSANAAN

Non Farmakologi tindakan-tindakan keperawatan dalam perawatan pasien dengan gangguan nyeri abdomen yaitu mengatur posisi pasien, hipnoterapi, terapi relaksasi, manajemen nyeri dan terapi perilaku. Farmakologis Pengobatan dyspepsia mengenalbeberapa obat,yaitu: Antasida, Pemberian antasida tidak

12 dapatdilakukan terusmenerus,karenahanyabersifat simtomatis untuk mengurangi nyeri. Obat yang termasuk golongan ini adalah simetidin, ranitidin, dan famotidine.Pemasangan cairan pariental, pemasagan Naso Gastrik Tube (NGT) jika diperlukan (Amelia, 2018).

2.1.8 PEMERIKSAAN PENUNJANG

Berbagai macam penyakit dapat menimbulkan keluhan yang sama, seperti halnya pada sindrom dispepsia, oleh karena dispepsia hanya merupakan kumpulan gejala dan penyakit disaluran pencernaan, maka perlu dipastikan penyakitnya.

Untuk memastikan penyakitnya, maka perlu dilakukan beberapa pemeriksaan, selain pengamatan jasmani, juga perlu diperiksa : laboratorium, radiologis, endoskopi, USG, dan lain-lain.

1. Laboratorium

Pemeriksaan laboratorium perlu dilakukan lebih banyak ditekankan untuk menyingkirkan penyebab organik lainnya seperti: pankreatitis kronik, diabetes mellitus, dan lainnya. Pada dispepsia fungsional biasanya hasil laboratorium dalam batas normal. Pemeriksaan laboratorium biasanya meliputi hitung jenis sel darah yang lengkapdan pemeriksaan darah dalam tinja, danurin. Jika ditemukan leukosit dosis berarti tanda-tanda infeksi. Jika tampak cair berlendir ataubanyak mengandung lemak pada pemeriksaan tinja kemungkinan menderita malabsorpsi. Seseorang yang diduga menderita dyspepsia ulkus sebaiknya diperiksa derajat keasaman lambung. Jika diduga suatu keganasan, dapat diperiksa tumormarker (dugaan karsinoma kolon),dan (dugaan karsinoma pankreas).

13 2. Radiologis

Pemeriksaan radiologis banyak menunjang dignosis suatu penyakit di saluran makan. Setidak-tidaknya perlu dilakukan pemeriksaan radiologis terhadap saluran makan bagian atas, dan sebaiknya menggunakan kontras ganda.

3. Endoskopi (Esofago-Gastro-Duodenoskopi)

Sesuai dengan definisi bahwa pada dispepsia fungsional, gambaran endoskopinya normal atau sangat tidak spesifik. Endoskopi bias digunakan untuk mendapatkan contoh jaringan dari lapisan lambung melalui tindakan biopsi. Pemeriksaan nantinya di bawah mikroskop untuk mengetahui apakah lambung terinfeksi Helicobacterpylori.Endoskopi merupakan pemeriksaan bakuemas, selain sebagai diagnostic sekaligusterapeutik.

4. Barium enema untuk memeriksa saluran cerna pada orang yang mengalami kesulitan menelan atau muntah, penurunan berat badan atau mengalami nyeri yang membaik ataumemburuk bila penderita makan.

5. Pemeriksaan penunjang lainnya seperti foto polos abdomen, serologi H.pylori,urea breath test,dan lain-lain dilakukan atas dasar indikasi (Ida, 2016).

14

15 BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN TEORI

3.1.PENGKAJIAN

Pengkajian merupakan tahap awal dari proses di mana kegiatanyangdilakukan yaitu: mengumpulkan data, mengelompokan data danmenganalisa data. Data fokus yang berhubungan dengan dispepsia meliputi adanya nyeri perut, rasa pedih di ulu hati, mual kadang-kadang muntah, nafsu makan berkurang, rasa lekas kenyang, perut kembung, rasa panasdidada dan perut, regurgitasi (keluar cairan dari lambung secara tiba-tiba) (Ida, 2016). Adapun proses pengkajian gawat darurat yaitu pengkajian primer (primary assessment). Primary Assessment dengan data subjektif yang di dapatkan yaitu keluhan utama: nyeri pada perut dan mengeluhmual muntah. Keluhan penyakit saat ini: mekanisme terjadinya. Riwayat penyakit terdahulu: adanya penyakit saraf atau riwayat cedera sebelumnya, kebiasaanminum alcohol, konsumsi medikasi anti coagulant atau agen anti platelet, adanya alergi, dan status imunisasi(Ida, 2016).

Data objektif: Airway adanya perubahan pola napas (apnea yangdi selingi oleh hiperventilasi). Napas berbunyi stridor, ronki, mengi positif (kemungkinan karena aspirasi). Breathing dilakukan Auskultasi dadaterdengar stridor/ronki/mengi, RR>24x/menit.Circulation adanya perubahantekanan darah atau normal (hipotensi), perubahan frekuensi jantung(bradikardi, takikardi yang diselingi dengan bradikardi disritmia).Disability adanya lemah/letargi, lelah, kaku, hilang keseimbangan, perubahankasadaran bisa sampai koma. Pengkajian sekunder terdiri dari keluhanutama yaitu, adanya mual muntah-curigai apendisitis atau obstruksi usus, nyeri epigastrium yang kolik, curigai gastritis atau gastroenteritis, anoreksiadengan diare. Riwayat sosial dan medis yaitu, riwayat pengunaandanpenyalagunaan alkohol.

Curigai penyakit hati, penyalah gunaan obat intra vena, gejala putusobat, pembedahan abdomen sebelumnya, curigai adanya obstruksi usus, penyakit hati atau gastritis.alasan mencari pengobatan yaitu, identifikasi perubahan pada gejala:

identifikasi kontak dengan pemberi perawatankesehatan lainnya untuk penyakit ini.

pengobatan sebelummasukdi ruanganinterna yaitu mengidentifikasi pengunaan obat-obatan buatan rumah, perubahan pada diet, pengunaan obat yang dijual bebas. Nyeri

16 yaitucatat riwayat dan durasi nyeri dan gunakan metode pengkajian nyeri yaituProvocate,: Quality, Region, Severe, dan Time.PQRST (Pamela, 2011).

Setelah melakukan pengkajian Primer dan sekuder selanjutnyamelakukan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan ini meliputi: Pertama, pemeriksaan tekanan darah yang menjadi indicator dari rasanya nyeri. Tetapi yang lebih penting memberikan pengertian selama proses pasiendalam keadaan hipotensi, hipertensi, takikardi, takipnea, dan adanyapenurunana saturasi oksigen. Kedua, asesmen respirasi dan kardiovaskuler dimana pengkajian ini harus menjadi perhatian, pada pasien dengan nyeri abdomen bagian atas, dapat di nyatakan adanya pneumonia atau iskemiajantung. Ketiga, asesmen abdomen kenyamanan posisi dan gerakan tubuhselama pemeriksaan sebagai isyarat lokasi, intensitas dan kemungkinandari etiologi nyeri. Auskultasi abdomen di kempat kuardan meliputi frekuensi, dan karakteristik bising usus.perkusi pembesaran hati damlimpa, kaji suaratimpani normal untuk organ solid/padat. palpasi adanya kekakuan abdomen, nyeri, masa dan hernia (Amelia, 2018).

3.2. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Nyeri episgastrium berhubungan dengan iritasi dan inflamasi pada lapisan mukosa, sub mukosa dan lapisan otot lambung.

2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan aktif.

3. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan ketidakmampuan menelan makanan.

4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum dan nyeri 5. Konstipasi berhubungan dengan intoleransi aktivitas

3.3. INTERVENSI

1. Nyeri Akut b/d Agen Pencedera fisiologis (D.0077) a. Luaran: Tingkat Nyeri menurun (L.08066)

 Keluhan nyeri menurun

 Meringis, sikap protektif, dan gelisah menurun

 Kesulitan tidur menurun

 Anoreksia menurun

 Mual muntah menurun

 Frekuensi nadi dan tekanan darah membaik

17

 Nafsu makan dan pola tidur membaik

b. Intervensi Keperawatan: Manajemen Nyeri (I. 08238)

 Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri

 Identifikasi skala nyeri

 Identifikasi respon nyeri non verbal

 Identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri

 Identifikasi pengetahuan dan keyakinan tentang nyeri

 Identifikasi pengaruh budaya terhadap respon nyeri

 Identifikasi pengaruh nyeri pada kualitas hidup

 Monitor keberhasilan terapi komplementer yang sudah diberikan

 Monitor efek samping penggunaan analgetic

 Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (mis.

TENS, hypnosis, akupresur, terapi musik, biofeedback, terapi pijat, aroma terapi, teknik imajinasi terbimbing, kompres hangat/dingin, terapi bermain)

 Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri (mis. Suhu ruangan, pencahayaan, kebisingan)

 Fasilitasi istirahat dan tidurPertimbangkan jenis dan sumber nyeri dalam pemilihan strategi meredakan nyeri

 Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri

 Jelaskan strategi meredakan nyeri

 Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri

 Anjurkan menggunakan analgetik secara tepat

 Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri 2. Ansietas b/d Kurang Terpapar Informasi (D.0080)

a) Luaran: Tingkat Ansietas menurun (L.09093)

 Verbalisasi kebingungan dan khawatir akibat kondisi yang dihadapi menurun

 Perilaku gelisah dan tegang menurun

 Palpitasi, tremor, dan pucat menurun

 Konsentrasi dan pola tidur membaik

 Orientasi membaik

18 b) Intervensi Keperawatan: Reduksi ansietas (I.09314)

 Identifikasi saat tingkat ansietas berubah seperti Kondisi, waktu, dan stressor.

 Identifikasi kemampuan mengambil keputusan

 Monitor tanda anxietas baik verbal dan non verbal

 Ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuhkan kepercayaan

 Temani pasien untuk mengurangi kecemasan, jika memungkinkan

 Pahami situasi yang membuat ansietas

 Dengarkan dengan penuh perhatian

 Gunakan pedekatan yang tenang dan meyakinkan

 Motivasi mengidentifikasi situasi yang memicu kecemasan

 Diskusikan perencanaan realistis tentang peristiwa yang akan datang

 Jelaskan prosedur, termasuk sensasi yang mungkin dialami

 Informasikan secara faktual mengenai diagnosis, pengobatan, dan prognosis

 Anjurkan keluarga untuk tetap bersama pasien, jika perlu

 Anjurkan melakukan kegiatan yang tidak kompetitif, sesuai kebutuhan

 Anjurkan mengungkapkan perasaan dan persepsi

 Latih kegiatan pengalihan, untuk mengurangi ketegangan

 Latih penggunaan mekanisme pertahanan diri yang tepat

 Latih teknik relaksasi

 Kolaborasi pemberian obat anti ansietas, jika perlu 3. Defisit Nutrisi b/d Ketidakmampuan mencerna makanan dan

mengabsorbsi nutrient (D.0019)

a. Luaran: Status Nutrisi membaik (L.03030)

 Porsi makan yang dihabiskan meningkat

 Verbalisasi keinginan untuk meningkatkan nutrisi

 Pengetahuan tentang pilihan makanan dan minuman yang sehat meningkat

 Pengetahuan tentang standar asupan nutrisi yang tepat meningkat

 Perasaan cepat kenyang menurun

 Nyeri abdomen menurun

19

 Berat badan dan Indeks massa tubuh (IMT) membaik

 Frekuensi dan nafsu makan membaik

 ebal lipatan kulit trisep dan membran mukosa membaik b. Intervensi Keperawatan: Manajemen Nutrisi (I.03119)

 Identifikasi status nutrisi

 Identifikasi alergi dan intoleransi makanan

 Identifikasi makanan yang disukai

 Identifikasi kebutuhan kalori dan jenis nutrient

 Identifikasi perlunya penggunaan selang nasogastric

 Monitor asupan makanan

 Monitor berat badan

 Monitor hasil pemeriksaan laboratorium

 Lakukan oral hygiene sebelum makan, jika perlu

 Fasilitasi menentukan pedoman diet (mis. Piramida makanan)

 Sajikan makanan secara menarik dan suhu yang sesuai

 Berikan makan tinggi serat untuk mencegah konstipasi

 Berikan makanan tinggi kalori dan tinggi protein

 Berikan suplemen makanan, jika perlu

 Hentikan pemberian makan melalui selang nasigastrik jika asupan oral dapat ditoleransi

 Anjurkan posisi duduk, jika mampu

 Ajarkan diet yang diprogramkan

 Kolaborasi pemberian medikasi sebelum makan (mis. Pereda nyeri, antiemetik), jika perlu

 Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis nutrient yang dibutuhkan, jika perlu

4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum dan nyeri (D.0056)

a. Luaran: Toleransi aktivitas meningkat (l.05047)

b. Intervensi keperawatan: MANAJEMEN ENERGI (I. 05178) 1. Observasi

Identifkasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan

20

Monitor kelelahan fisik dan emosional

Monitor pola dan jam tidur

Monitor lokasi dan ketidaknyamanan selama melakukan aktivitas

2. Terapeutik

Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus (mis.

cahaya, suara, kunjungan)

Lakukan rentang gerak pasif dan/atau aktif

Berikan aktivitas distraksi yang menyenangkan

Fasilitas duduk di sisi tempat tidur, jika tidak dapat berpindah atau berjalan

3. Edukasi

Anjurkan tirah baring

Anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap

Anjurkan menghubungi perawat jika tanda dan gejala kelelahan tidak berkurang

Ajarkan strategi koping untuk mengurangi kelelahan 4. Kolaborasi

Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan asupan makanan

5. Konstipasi berhubungan dengan intoleransi aktivitas (D.0049) a. Observasi

 Identifikasi masalah usus dan penggunaan obat pencahar

 Monitor buang air besar (mis. Warna, frekuensi, konsistensi, voume) b. Terapeutik

 Beri air hangat seteah makan

 Jadwakan waktu defekasi bersama pasien

 Sediakan makanan tinggi serat c. Edukasi

 Anjurkan pengurangan asupan makan yang menigkatkan pembentukan gas

d. Kolaborasi

 Koaborasi pemberian

21 BAB IV

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Dispepsia atau sakit maag adalah sekumpulan gejala yang terdiri dari nyeri rasa tidak nyaman di epigastrum, mual, muntah, kembung, rasa penuh atau cepat kenyang dan sering bersendawa. Boiasanya berhubungan dengan pola makan yang tidak teratur, makan makanan yang pedas, asam, minuman bersoda, kopi, obat-obatan tertentu, ataupun kondisi emosional tertentu misalnya stress. Dengan pola makan yang teratur dan memilih makanan yang seimbang dengan kebutuhan dan jadwal makan yang teratur, sebaiknya tidak mengkomsumsi makanan yang berkadar tinggi, cabai, alcohol dan pantang merokok. Bila harus makan obat kaerna sesuatu penyakit, misalnya sakit kepala maka minum obat secara wajar dan tidak menggangu fungsi lambung.

3.2 SARAN

1. Bagi Institusi

Sebagai tempat pembelajaran atau sekolah yang bergerak dibidang kesehatan, hendaknya dapat memberi pendidikan yang lebih baik lagi kepada mahasiswa dalam paraktik pelayanan kesehatan dan menyediakan buku-buku penunjang sebagai acuan dalam melakukan asuhan keperawatan maupun kebidanan.

2. Bagi Institusi Pelayanan Kesehatan

Diharapkan dapat memberikan pelayanan kesehatan yang baik, mempertahankan serta meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan yang ada dengan baik dan tepat.

3. Bagi Pasien

Dalam proses asuhan keperawatan, sangat diperlukan kerjasama keluarga dan pasien itu sendiri guna memperoleh data yang bermutu untuk menentukan tindaka sehingga dapt memperoleh hasil yang diharapkan

LAPORAN KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH

Tanggal MRS : 09 - 05 - 2022 Jam Masuk : 09.50 Tanggal Pengkajian : 09-05-2022 No. RM : 00199xxx

Jam Pengkajian : 15.30 DiagnosaMasuk : Dispepsia

Hari Rawat ke : 1 IDENTITAS

1. Nama Pasien : Ny. L

2. Umur : 26 Thn

3. Suku/ Bangsa : Jawa/ Indonesia 4. Agama : Islam

5. Pendidikan : SMA 6. Pekerjaan : Pedagang

7. Alamat : Jl. Wonokromo ss Baru Gg 5 No. 5 8. SumberBiaya :

KELUHAN UTAMA

1. Keluhan Utama: Pusing, Kepala terasa berat, sering mual, perut terasa penuh.

RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG

Saat dikaji px mengatakan nyeri pada ulu hati kurang lebih 5 hari yang lalu dengan nyeri yang dirasakan hilang timbul. Px mengatakan merasakan mual dan muntah, hari ini px mengatakan sudah muntah kurang lebih 3x. Px juga mengatakan perut terasa penuh, bila pasien minum dan makan px akan merasakan mual dan kadang-kadang muntah. Nafsu makan px menurun dari porsi sebelum sakit tetapi tetap makan 3x dalam sehari. Px mengatakan kepalanya pusing. Px juga belum bisa BAB kurang lebih 10 hari sejak hari senin

Saat dikaji px mengatakan nyeri pada ulu hati kurang lebih 5 hari yang lalu dengan nyeri yang dirasakan hilang timbul. Px mengatakan merasakan mual dan muntah, hari ini px mengatakan sudah muntah kurang lebih 3x. Px juga mengatakan perut terasa penuh, bila pasien minum dan makan px akan merasakan mual dan kadang-kadang muntah. Nafsu makan px menurun dari porsi sebelum sakit tetapi tetap makan 3x dalam sehari. Px mengatakan kepalanya pusing. Px juga belum bisa BAB kurang lebih 10 hari sejak hari senin

Dalam dokumen LP + Asuhan Keperawatan Maulidatul M M (Halaman 7-0)

Dokumen terkait