• Tidak ada hasil yang ditemukan

TUJUAN 5 : MENINGKATKAN KESEHATAN IBU

Dalam dokumen 7. BAB 2 - RKPD 2016 (Halaman 44-63)

Angka Kematian Ibu dihitung berdasarkan jumlah wanita yang meninggal karena disebabkan oleh gangguan kehamilan atau penanganan (tidak termasuk kecelakaan atau kasus insidential) selama kehamilan, melahirkan dan dalam masa nifas (42 hari setelah melahirkan) tanpa memperhitungkan lama kehamilannya per 100.000 kelahiran hidup. Pada tahun 2007 tercatat 41 per 100.000 kelahiran hidup menurut data yang dikumpulkan melalui SDKI. Pada tahun 2013 proporsi kelahiran hidup yang ditolong tenaga kesehatan terlatih di Provinsi DKI Jakarta sangat tinggi, yaitu sebesar 99,8 persen.

Angka pemakaian kontrasepsi diantara wanita usia 15­49 tahun khususnya di DKI Jakarta pada tahun 2013 adalah sebesar 51,46 persen. Hingga tahun 2013 tercatat 50,43 persen perempuan menikah usia subur di Provinsi DKI Jakarta meggunakan alat kontrasepsi modern. Menurut data yang dapat diperoleh dari Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, terdapat 2,4 persen remaja perempuan DKI Jakarta pernah memiliki anak lahir hidup. Pada tahun 2013, berdasarkan data statistik yang tercatat di Badan Pusat Statistik (BPS), kunjungan perawatan antenatal perempuan usia subur di Provinsi DKI Jakarta lebih tinggi dibandingkan angka nasional, baik itu 1 kunjungan maupun 4 kunjungan. Namun, walaupun angka DKI Jakarta lebih tinggi dari angka nasional, ada penurunan persentase kunjungan antenatal pada tahun 2013. Pada tahun 2010 terdapat 98 persen perawatan antenatal untuk 1 kali kunjungan dan menurun menjadi 86,0 persen pada tahun 2013. Sama halnya dengan 4 kali kunjungan, pada tahun 2010 tercatat 84,5 persen turun menjadi 78,3 persen pada tahun 2013. Berdasarkan data SDKI tahun 2012 terjadi peningkatan unmet need yang sangat drastis dari 6,9 persen (2007) menjadi 13,2 persen (2012).

6.TUJUAN 6 : MEMERANGI HIV DAN AIDS, MALARIA, DAN PENYAKIT

MENULAR LAINNYA

Angka penyebaran epidemi HIV/AIDS DKI Jakarta menunjukkan trend yang terus meningkat dan DKI Jakarta telah menempati posisi ketiga jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS tertinggi dibawah Papua dan Jawa Timur. Data Kementerian Kesehatan mencatat ada 300 penderita HIV/AIDS pada 100,000 penduduk DKI Jakarta. Data Prevalensi kasus HIV/AIDS per 100.000 penduduk menunjukkan adanya peningkatan jumlah prevalensi HIV/AIDS dari 44,74 (2010) menjadi 77,82 (2013). Kondisi ini menunjukkan perlunya perhatian khusus pada pencegahan pertambahan jumlah kasus prevalensi dan penderita HIV/AIDS.

Belum seluruhnya penduduk dengan HIV/AIDS yang mau mengakses obat­ obatan anti­retroviral, dari jumlah keseluruhan hanya sekitar 53 persen. Hal ini dapat disebabkan karena perasaan malu dan enggan dari para penderita HIV/AIDS.

Untuk malaria, DKI Jakarta telah mencapai posisi zero­cases dimana tidak ada lagi penderita malaria. Kementerian kesehatan juga telah menyatakan Provinsi DKI Jakarta telah dinyatakan eliminasi dari kasus Malaria. Fokus dalam pengendalian malaria diprioritaskan pada pengamatan daerah­daerah

resertif dan manajemen lingkungan. Sementara itu, untuk penyakit menular lainnya seperti TBC, Data Riskesdas tahun 2007 menunjukkan penyakit TB terdeteksi dengan prevalensi 1,3% tersebar diseluruh wilayah dengan rentang prevalensi 0,6% di Jakarta Barat dan 2,7% di Kepulauan Seribu. Menurut data riskesdas tahun 2013, Provinsi DKI Jakarta diposisi kedua Provinsi yang memiliki prevalensi penduduk yang didiagnosis TB tertinggi (0,6%) setelah Jawa Barat.

7.TUJUAN 7 : MEMASTIKAN KELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP

Untuk Ruang Terbuka Hijau di DKI Jakarta telah mencapai 1105,64 Ha di tahun 2013. Hal ini disebabkan upaya optimal dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menambah jumlah ruang terbuka hijau dan pembangunan taman sebagai paru­paru kota. Disisi lain penanaman pohon pelindung terus dilakukan, daerah pesisir penanaman mangrove 93.600 (2013) dimana 12.573 pohon khususnya untuk tanaman holtikultura yang produktif.

Selain itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta masih perlu menambah sarana prasarana dalam hal peningkatan akses masyarakat pada air minum layak dan sanitasi layak. Khusus untuk air minum layak, Provinsi DKI Jakarta telah melampaui target MDGs namun untuk sanitasi dan rumah tangga kumuh perkotaan masih perlu disesuaikan lagi dengan target yang telah ditetapkan.

2.7 Isu Strategis dan Permasalahan Daerah

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah melaksanakan pembangunan pada seluruh aspek kehidupan masyarakat dengan hasil yang cukup menggembirakan. Hal ini terlihat dari semakin membaiknya berbagai indikator pembangunan. Namun demikian, sebagai kota yang multifungsi, sampai saat ini Jakarta tetap menyandang banyak permasalahan, baik dari eksternal maupun internal. Jadi pada dasarnya Pembangunan DKI Jakarta juga menghadapi berbagai tantangan dan permasalahan tersendiri yang berbeda dengan provinsi lain. Dengan dasar ini maka diperlukan penangangan dan pendekatan yang berbeda. Oleh karena itu salah satu pendekatan yang dilakukan adalah dengan mengidentifikasi isu–isu strategis agar penangangannya lebih komprensif, terstruktur dan aplikatif.

Permasalahan dan tantangan yang dihadapi Provinsi DKI Jakarta meliputi permasalahan dan tantangan yang terkait dengan penyediaan infrastruktur, pembangunan moda transportasi, penyeimbangan daya dukung lingkungan dan sumber daya alam, peningkatan ketahanan sosial dan budaya, peningkatan kapasitas dan kualitas pemerintahan, pengembangan kerjasama regional, dan pemantapan daya saing ekonomi daerah.

2.7.1. Sistem Transportasi dan Permasalahannya

Pembangunan transportasi di DKI Jakarta masih dihadapkan pada berbagai permasalahan antara lain kapasitas jalan yang tidak mencukupi, terbatasnya ketersediaan dan pelayanan angkutan umum, tidak terintegrasinya sistem dan jaringan transportasi multimoda, ketersediaan

dan akses prasarana jalan untuk mendukung pelabuhan dan bandar udara, transportasi laut ke wilayah Kepulauan Seribu dan kedisiplinan masyarakat dalam berlalu lintas.

Kapasitas jalan sudah tidak mencukupi untuk memenuhi pergerakan orang dan barang yang terus meningkat dari dalam kota maupun dari luar kota Jakarta. Penambahan ruas jalan yang hanya sekitar 1 (satu) persen per tahun tidak sebanding dengan pertumbuhan kendaraan bermotor yang mencapai sekitar 11 persen per tahun. Kondisi ini menyebabkan terganggunya kelancaran lalu lintas dan menimbulkan titik­titik kemacetan. Hampir semua ruas jalan arteri di Jakarta sudah mengalami kemacetan.

Terbatasnya ketersediaan dan pelayanan angkutan umum menyebabkan masih tingginya penggunaan kendaraan pribadi. Kapasitas angkutan umum hanya mampu melayani sekitra 19 persen dari jumlah permintaan perjalanan. Pertambahan kendaraan bermotor terus meningkat setiap waktu.

Sistem dan jaringan transportasi multimoda belum terintegrasi dengan baik menyebabkan tidak efisien dan efektifnya mobilitas penduduk. Sistem transportasi angkutan jalan raya tidak terhubung dengan baik dengan sistem dan jaringan transportasi berbasis rel. Begitu pula sistem dan jaringan angkutan bus massal (busway) belum terintegrasi dengan sistem angkutan feeder yang melayani permukiman masyarakat.

Ketersediaan prasarana jalan dan akses untuk mendukung Pelabuhan Tanjung Priok dan Bandar Udara Soekarno­Hatta tidak memadai untuk melayani pergerakan orang dan barang. Hal ini menyebabkan terhambatnya proses aliran barang yang akhirnya menimbulkan biaya ekonomi tinggi. Akses jalan menuju dan dari pelabuhan dan bandara menggunakan jaringan jalan yang juga digunakan untuk menunjang kegiatan perkotaan lainnya. Padahal kendaraan barang yang melintas termasuk kendaraan dengan beban berat. Selain merusak daya tahan jalan yang ada juga meningkatkan beban jalan dan kemacetan lalu lintas pada ruas jalan yang dilewatinya.

Ketersediaan dan pelayanan transportasi laut ke wilayah Kepulauan Seribu masih terbatas untuk melayani pergerakan orang dan barang sehingga mengurangi aksesibilitas dan konektivitas dengan Kota Jakarta.

Kemacetan di Jakarta disebabkan juga oleh rendahnya tingkat kedisplinan masyarakat dalam berlalu lintas. Ketidakdisiplinan tersebut dapat dilihat dari cara berkendara yang tidak tertib, tidak mematuhi rambu lalu lintas dan pelanggaran etika pada lampu pengaturan lalu lintas.

Pada pembangunan transpotasi salah satu permasalahan adalah pembebasan tanah. Pembebasan tanah yang tidak terlaksana disebabkan

oleh kendala proses adminsitrasi dan ketidaksesuaian harga yang ditawarkan pemilik tanah dan bangunan NJOP dan dengan harga ketentuan yang berlaku. Untuk itu telah dilakukan appraisal dan perencanaan pembebasan tanah sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

2.7.2. Banjir dan Genangan

Banjir dan genangan air merupakan salah satu masalah utama yang dihadapi dalam pembangunan di DKI Jakarta. Berdasarkan faktor penyebabnya banjir yang terjadi di DKI Jakarta dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu: i) banjir akibat tingginya intensitas curah hujan di wilayah hulu sungai yang menyebabkan meluapnya air sungai dan menggenangi wilayah permukiman, ii) banjir yang disebabkan tingginya intensitas curah hujan di wilayah hilir atau di Jakarta dengan topografi wilayah rendah, iii) banjir dan genangan akibat pasang air laut (rob). Bencana banjir luar biasa terjadi apabila ketiga faktor penyebab banjir dan genangan tersebut terjadi secara bersamaan seperti pada tahun 2002 dan 2007 yang mengakibatkan kerugian fisik­material dan ekonomi sangat besar bagi warga kota.

Banjir akibat tingginya intensitas hujan di wilayah hulu terutama di Bogor dan Depok meningkatkan volume dan tinggi air pada sungai Ciliwung yang mengalir ke Kota Jakarta. Peningkatan volume air yang masuk langsung ke sungai disebabkan semakin berkurangnya daerah resapan air di hulu sungai akibat perubahan fungsi lahan yang tidak terkendali. Air hujan yang masuk melebihi kapasitas dan daya tampung sungai yang makin dangkal dan menyempit. Meningkatnya volume air sungai pada waktu terjadinya hujan deras di wilayah hulu dapat dimonitor dari ketinggian pintu air di Katulampa Bogor. Di samping berkurangnya daerah resapan, pendangkalan dan penyempitan sungai di sepanjang daerah aliran Sungai Ciliwung meningkatkan potensi banjir karena meluapnya air sungai. Selain itu perilaku masyarakat yang tidak memperhatikan lingkungan seperti membuang sampah di selokan dan sungai dapat menghambat aliran air serta terjadinya sedimentasi yang mengurangi kapasitas sungai dan saluran.

Banjir akibat tingginya intensitas curah hujan di Kota Jakarta terjadi pada satu waktu ketika peningkatan volume air hujan tidak dapat ditampung sungai dan saluran drainase kota yang ada. Selain itu Jakarta juga merupakan muara dari 13 sungai yang mengalir dari wilayah hulu dengan sebagian besar (40 persen) topografi wilayah Jakarta merupakan dataran rendah (1­1,5 meter dpl). Beberapa bagian wilayah Jakarta menjadi lokasi langganan banjir dan genangan karena terletak pada dataran rendah dan daerah aliran sungai.

Banjir dan genangan terjadi juga akibat pasang air laut atau dikenal dengan banjir rob yang terjadi di pantai utara Jakarta. Gelombang tinggi disertai banjir rob yang terjadi di perairan utara Jakarta disebabkan karena perubahan angin barat yang terjadi di musim penghujan. Dampak

banjir rob di pesisir pantai utara Jakarta semakin parah dengan terjadinya penurunan tanah yang mencapai 10 centimeter setiap tahunnya.

Dalam mengatasi genangan dan banjir salah satu masalahnya adalah pembebasan tanah. Pembebasan tanah tidak terlaksana secara optimal yang disebabkan oleh berbagai hal terutama tidak adanya kesepakatan harga dengan pemilik tanah. Untuk itu telah dilakukan appraisal dan perencanaan pembebasan tanah dengan menggunakan ketentuan yang berlaku.

2.7.3. Perumahan dan Permukiman

Perumahan dan permukiman merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang penyediaannya menjadi tanggung jawab pemerintah. Pemenuhan kebutuhan rumah masih dihadapkan pada masalah penyediaan hunian yang layak dan terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat Jakarta. Sementara kebutuhan rumah terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dan keluarga baru. Perhitungan kekurangan kebutuhan rumah (backlog) mencapai 700.000 rumah dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir atau sekitar 70.000 rumah setiap tahunnya.

Pemenuhan kebutuhan rumah dihadapkan pada keterbatasan lahan di wilayah Jakarta. Sehingga penyediaan kebutuhan rumah oleh pemerintah dan swasta lebih banyak dibangun secara vertikal dibandingkan dengan rumah horizontal yang membutuhkan lahan besar. Namun, penyediaan hunian secara vertikal masih dihadapkan pada adanya kesenjangan budaya masyarakat yang belum terbiasa tinggal di hunian vertikal.

Permasalahan lainnya terkait kondisi dan kualitas lingkungan adalah permukiman yang kurang sehat dan tertata. Meskipun luas permukiman kumuh cenderung menurun dan menjadi 5.050 hektar pada tahun 2008, namun peningkatan kualitas lingkungan permukiman perlu terus dilakukan untuk mencegah terjadinya permukiman kumuh baru. Selain itu masih banyak kawasan permukiman kumuh liar yang menempati lahan publik misalnya sepanjang bantaran sungai, rel kereta api, waduk dan lahan kosong.

Untuk Program Peningkatan Kualitas dan Perbaikan Kampung, khususnya kegiatan Penataan Kampung/ Perbaikan Rumah yang tidak dapat terlaksana di tahun 2014 dikarenakan adanya indikasi kurang tepatnya target sasaran calon penerima hibah pada 5 wilayah kota administrasi. Untuk itu telah dilakukan identifikasi sasaran secara lebih awal melalui pemetaan dan survey lapangan.

2.7.4. Ruang Terbuka Hijau (RTH)

Ruang terbuka hijau (RTH) merupakan elemen penting dalam pembangunan kota untuk meningkatkan kualitas ruang kota yang asri, nyaman dan sehat. Ketersediaan RTH di DKI Jakarta masih perlu ditingkatkan untuk memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam rencana tata ruang. Permasalahan RTH di DKI Jakarta meliputi penyediaan dan penyebaran dan kualitas RTH publik dan privat di seluruh wilayah serta pengembangan tajuk hijau.

Peningkatan penyediaan RTH publik menghadapi masalah terbatasnya jumlah lahan yang dapat dimanfaatkan untuk ruang terbuka hijau. Upaya yang dilakukan adalah melalui pembebasan lahan privat yang sudah ditetapkan dalam rencana tata ruang sebagai ruang terbuka hijau, dan mendorong masyarakat/privat untuk meningkatkan luas RTH di lahan milik mereka. Peran serta masyarakat dalam peningkatan RTH diwujudkan dalam pengembangan tajuk hijau terutama melalui penghijauan lingkungan dan bangunan. Permasalahan lain dalam adalah belum meratanya penyebaran RTH secara proporsional di wilayah DKI Jakarta.

Selanjutnya untuk waktu ke depan pemangku kepentingan pembangunan daerah di Jakarta harus dapat mendorong penyediaan RTH yang mencukupi dan memadai serta jalur hijau pada jaringan jalan, sempadan sungai, danau, waduk dan situ, gedung­gedung bertingkat seperti mal, gedung perkantoran, apartemen, hotel, dan fasilitas publik. Di samping itu, diperlukan upaya identifikasi ruang dan kawasan yang dapat difungsikan kembali dan berpotensi sebagai RTH serta upaya membebaskan lahan milik publik secara bertahap untuk dimanfaatkan sebagai RTH.

Salah satu isu penting dalam lingkungan adalah Pembangunan Sistem Informasi dan Pengawasan Penanganan Sampah. Kegiatan ini tidak dapat direalisasikan secara optimal pada tahun 2014. Hal ini disebabkan bahwa pada tahun 2014 masih dalam tahap pengumpulan data geospasial sarana dan prasarana pengolahan sampah. Untuk itu kegiatan ini akan dianggarkan kembali pada tahun 2015 dengan perencanaan yang lebih komprehensif.

Selain itu, pemberdayaan dan penggalangan peran serta masyarakat dalam pengembangan pertamanan dan pemakaman masih belum optimal. Hal ini disebabkan oleh keterlambatan pelaksanaan lelang, anggaran tidak mencukupi karena harga material mengikuti kurs US dollar serta status tanah yang belum jelas. Untuk itu telah dilakukan antisipasi dengan penyusunan RAB yang lebih realistis dan penelitian status tanah.

2.7.5. Kemiskinan Kota

Sebagai bagian dari upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh, kemiskinan perkotaan masih menjadi permasalahan yang dihadapi dalam pembangunan DKI Jakarta. Secara kuantitas jumlah penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan terus mengalami penurunan, namun belum sepenuhnya terselesaikan. Satu hal yang perlu dicermati terkait angka kemiskinan adalah potensi meningkatnya jumlah penduduk yang masuk dalam kategori rawan miskin yang sangat rentan terkena dampak perubahan kebijakan ekonomi.

Selain menimbulkan masalah ekonomi, kemiskinan kota juga dapat menimbulkan pengaruh terhadap ketentraman dan ketertiban umum. Berbagai gangguan dan masalah sosial seringkali disebabkan karena tekanan kemiskinan sebagai faktor pemicu. Apabila tidak ditangani dengan serius dan sistematis kondisi ini dapat menimbulkan ganggguan terhadap ketertiban umum. Penanganan masalah sosial ini tidak cukup hanya diserahkan pada pemerintah saja, akan tetapi dibutuhkan partisipasi seluruh pemangku kepentingan terutama pemuka masyarakat, tokoh agama dan para pembina masyarakat di tingkat lokal.

Pengembangan Puskesmas Kecamatan menjadi Puskesmas Rawat Inap selain Rawat Bersalin mengalami kendala keterlambatan pekerjaan konstruksi. Dari target 10 Puskesmas yang akan dikembangkan pada Tahun 2014, hanya 1 Puskesmas yang selesai dikembangkan. Hal ini dikarenakan penghapusan aset bangunan lama, baru terlaksana pada Bulan Agustus­September 2014, sehingga pelaksanaan kontruksi baru dapat dilakukan setelah penghapusan aset selesai. Solusi yang dilakukan untuk mengatasi keterlambatan pekerjaan adalah dengan melanjutkan pekerjaan kontruksi pada Tahun 2015.

2.7.6. Reformasi Birokrasi

Reformasi birokrasi merupakan konsep dengan ruang lingkup yang luas, mencakup pembenahan struktural, prosedural, kultural, dan etika birokrasi. Birokrasi diharapkan menjadi pelayan masyarakat, abdi negara dan teladan bagi masyarakat. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah melakukan berbagai program dalam rangka reformasi birokrasi, antara lain: penataan struktur birokrasi, penataan distribusi Pegawai Negeri Sipil (PNS), sistem seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) dan promosi PNS secara terbuka, pengembangan Sistem Elektronik Pemerintah (e­ Government), penyederhanaan sistem perizinan dan non perizinan, serta peningkatan remunerasi berdasarkan "merit system".

Permasalahan yang berkaitan dengan pelaksanaan reformasi birokrasi antara lain pelaksanaan konsep reformasi birokrasi secara efisien dan efektif, pembenahan birokrasi menyangkut perubahan sikap dan tingkah laku (mind set) seluruh aparat pemerintahan secara terpadu dan berkesinambungan. Selain itu upaya penataan kelembagaan atau institusi yang efisien dengan tata laksana yang jelas (transparan), kapasitas SDM yang profesional dan akuntabilitas tinggi serta pelayanan publik yang

prima. Kemudian, permasalahan lainnya dalam konteks ini adalah mensinergikan antar lembaga pemerintah dan belum optimalnya sinergitas pemerintah, dunia usaha dan masyarakat untuk mewujudkan birokrasi yang profesional.

Salah satu hal yang setrategis dalam reformasi birokrasi adalah pelayanan masyarakat. Masyarakat menginginkan pelayanan publik yang cepat, tepat dan mudah sehingga membutuhkan SDM dan infrastruktur pelayanan yang mencukupi dan memadai. Untuk itu telah dilakukan pemenuhan formasi pegawai Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) di tingkat Kelurahan dan Kecamatan, serta penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) untuk semua jenis pelayanan yang dilimpahkan.

2.7.7. Pembangunan Pendidikan

Pendidikan merupakan prasyarat utama untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan daya saing Jakarta di tingkat global. Penyelenggaraan pendidikan menjadi perhatian semua pemangku kepentingan baik pemerintah daerah, dunia usaha dan masyarakat. Permasalahan pendidikan ditandai dengan masih banyaknya prasarana dan sarana pendidikan dasar yang perlu diperbaiki dan peningkatan proses belajar mengajar agar lulusan dapat lebih berkualitas. Dalam hal ini perlu juga ditingkatkan kualitas sumber daya manusia pendidikan agar metode dan proses dapat diterima oleh peserta didik, sehingga proses pendidikan dapat berjalan lebih efektif dan efisien. Permasalahan lainnya adalah belum optimalnya partisipasi masyarakat dalam penataan dan pengembangan urusan pendidikan dan peningkatan akses pendidikan untuk semua lapisan masyarakat serta masih terjadi tawuran antar pelajar.

Penyelenggaraan pendidikan di DKI Jakarta dikembangkan untuk mendorong peningkatan daya saing global, melalui penyediaan sistem penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas, penyediaan prasarana dan sarana pendidikan yang berkualitas dan berstandar internasional, pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pengajaran yang handal, kualitas sumber daya manusia pendidikan yang mumpuni, sistem pendidikan yang komprehensif, serta peningkatan partisipasi masyarakat dalam pengembangan pendidikan dan penerapan sistem rayonisasi dalam penerimaan peserta didik baru.

Selain itu pada urusan pendidikan diperlukan beberapa kegiatan yaitu penyediaan data terkini peta kondisi gedung sekolah dan sarana penunjang pendidikan sebagai bahan penyusunan program rehabilitasi/perawatan, rehab total jangka pendek, menengah dan jangka panjang.

2.7.8. Kesehatan Masyarakat

Pembangunan kesehatan secara umum telah menunjukkan hasil yang menggembirakan. Namun demikian masih ditemukan beberapa permasalahan yang perlu penyelesaian dan mendapat perhatian semua pemangku kepentingan antara lain: belum optimalnya pelaksanaan sistem pelayanan kesehatan, masih adanya angka kematian ibu dan anak, keterbatasan jumlah dan mutu tenaga kesehatan, serta penyebarannya yang kurang merata, pelayanan pada rumah sakit dan puskesmas juga masih perlu ditingkatkan kualitasnya, masih tingginya angka kesakitan penyakit menular dan tidak menular, rendahnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan lingkungan.

Selanjutnya dalam penyelenggaraan kesehatan di DKI Jakarta dikembangkan promosi kesehatan. Kegiatan ini dimaksudkan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat terhadap kesehatan lingkungan dan perorangan, optimalisasi sistem jaminan pelayanan kesehatan bagi warga Jakarta khususnya keluarga miskin, penerapan ISO pada fasilitas kesehatan, penyempurnaan sistem rujukan, optimalisasi kegawat daruratan, pemenuhan kebutuhan sumber daya manusia kesehatan, serta peningkatan kualitas dan kuantitas prasarana dan sarana kesehatan.

2.7.9. Penataan Ruang

RTRW 2030 merupakan dokumen yang memberikan arah kebijakan pemanfaatan ruang dalam waktu 20 tahun mendatang. Dalam praktiknya, pembangunan kota seringkali dihadapkan pada masalah keterbatasan lahan, sementara kebutuhan pembangunan terus meningkat. Pemanfaatan ruang kota seringkali melebihi kapasitas daya dukungnya dan tidak sesuai dengan rencana tata ruang yang ada.

Permasalahan yang dihadapi dalam penyelenggaraan penataan ruang adalah peningkatan efektivitas RTRW sebagai instrumen pembangunan yang secara konsisten digunakan untuk mewujudkan ruang kota yang aman, nyaman dan berkualitas. Pengendalian pemanfaatan ruang belum dilakukan secara konsisten dikarenakan belum lengkapnya perangkat dan piranti peraturan untuk menunjang pelaksanaan RTRW. Penyelesaian permasalahan terkait penataan ruang tersebut menjadi tantangan yang dihadapi oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yaitu dengan memperkuat pengendalian pemanfaatan ruang (sesuai UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang) melalui penetapan peraturan zonasi, perizinan, pemberian insentif dan disinsentif serta pengenaan sanksi yang tegas.

2.7.10. Ketentraman, Ketertiban, dan Keamanan Masyarakat

Ketentraman, ketertiban dan keamanan masyarakat merupakan kondisi yang harus dipenuhi dalam rangka mewujudkan Kota Jakarta yang aman, nyaman dan berdaya saing. Keragaman sosial dan budaya masyarakat Jakarta merupakan potensi pembangunan, di sisi lain dapat menjadi faktor pendorong terjadinya konflik sosial yang bersifat primodial

dan partisan apabila tidak dikelola dengan baik. Konflik dan ketegangan

Dalam dokumen 7. BAB 2 - RKPD 2016 (Halaman 44-63)

Dokumen terkait