• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kegiatan outbound sangat berguna bagi pengembangan kualitas sumber daya manusia dari segi mental maupun fisik baik bagi karyawan perusahaan, professional ,maupun pelajar.Tujuan outbound adalah menggali dan meningkatkan kemampuan yang dimiliki oleh anak melalui berbagai permainan yang ada yang dibuat menantang melalui media alam.

Pada outbound, anak dituntut untuk belajar mandiri dalam arti luas muali dari mengatasi rasa takut, ketergantungan pada orang lain, belajar memimpin, mau mendengarkan orang lain, mau dipimpin dan belajar percaya diri. Steven Habit mengatakan ada tujuh keterampilan untuk hidup, yakni leadership life skill, learn to how, self confident, self awareness, skill communication, management skill and team work. Dari kegiatan kreativitas itu dilakukan melalui proses pengamatan, interprestasi, rekayasa dan eksperimen yang dilakukan berdasarkan learning by doing yang berarti anak akan lebih banyak memiliki kesempatan untuk menggali kemampuan dirinya sendiri

dengan mengalami sendiri / discovery learning sehingga anak mendapatkan pengalaman untuk pembelajaran dirinya sendiri. Outbound memberikan proses belajar sederhana dimana pengajaran atau pelatihan yang diberikan didesain untuk memberikan semangat, dorongan dan kemampuan yang didasarkan pada sebuah cara pendekatan pemecahan masalah. Ini akan memotivasi anak dalam mengaktualisasikan dirinya sebagai perwujudan konsep diri positif.

(www.outwardbound.com)

Outbound adalah suatu program pembelajaran di alam terbuka yang berdasarkan pada prinsip experiential learning (belajar melalui pengalaman langsung) yang disajikan dalam bentuk permainan, simulasi, diskusi dan petualangan sebagai media penyampaian materi. Artinya dalam program outbound tersebut siswa secara aktif dilibatkan dalam seluruh kegiatan yang dilakukan. Dengan langsung terlibat pada aktivitas (learning by doing) siswa akan segera mendapat umpan balik tentang dampak dari kegiatan yang dilakukan, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pengembangan diri setiap siswa dimasa mendatang. Hal tersebut juga dapat diartikan bahwa proses belajar dari pengalaman (experiental learning) dengan menggunakan seluruh panca indera (global learning) yang nampaknya rumit, memiliki kekuatan karena situasinya “memaksa” siswa memberikan respon spontan yang melibatkan fisik, emosi, dan kecerdasan sehingga secara langsung mereka dapat lebih memahami diri sendiri dan orang lain.

Melalui simulasi outdoor activities ini, siswa juga akan mampu mengembangkan potensi diri, baik secara individu (personal development) maupun dalam kelompok (team development) dengan melakukan interaksi dalam bentuk komunikasi yang efektif, manajemen konflik, kompetisi, kepemimpinan, manajemen resiko, dan pengambilan keputusan serta inisiatif.

Adapun tujuan outbound menurut Adrianus dan Yufiartiantara lain (1)

mengidentifikasi kelemahan dan kekuatan siswa (2) berekspresi sesuai dengan caranya sendiri yang masih dapat diterima lingkungan (3) mengetahui dan memahami perasaan, pendapat orang lain dan memahami perbedaan (4) membangkitkan semangat dan motivasi untuk terus terlibat dalam kegiatan- kegiatan (5) lebih mandiri dan bertindak sesuai keinginan (6) lebih empati dan sensitive dengan perasaan orang lain (7) mampu berkomunikasi dengan baik (8) mengetahui cara belajar yang efektif dan kreatif (9) memberikan pemahaman terhadap sesuatu tentang pentingnya karakter yang baik (10) menanamkan nilai- nilai positif sehingga terbentuk karakter siswa melalui berbagai contoh nyata dalam pengalaman hidup (11) membangun kualitas hidup siswa yang berkarakter (12) menerapkan dan memberi contoh karakter yang baik kepada lingkungan.

3. Pembelajaran menulis berbasis outbound di SD

Keberhasilan suatu pembelajaran sangat ditentukan oleh rancangan yang disiapkan oleh guru. Oleh karena itu, membelajarkan siswa menulis berbasis outbound harus direncanakan sedemikian rupa sehingga pencapaian tujuan yang diharapkan optimal. Adapun proses atau tahapan rancangan pembelajaran menulis dengan aoutbound diuraikan sebagai berikut.

Langkah pertama yang harus dilakukan bersama siswa adalah mengidentifikasi topik yang akan dibahas dan ditulis. Dalam mengidentifikasi topik, pertimbangan pedagogis yang penting diperhatikan oleh guru adalah mengupayakan agar topik harus aktual dan berorientasi pada minat dan kebutuhan yang dirasakan siswa. Jadi, prinsipnya siswa diberi kebebasan yang seluas-luasnya untuk mencari dan menentukan topik yang tentu saja dapat diarahkan kepada tema pembelajaran. Akan tetapi, sebaiknya hal yang dikaji adalah berorientasi

kepada minat siswa yang merupakan masalah hangat dibicarakan.

Topik tersebut tidak perlu terikat dengan tema yang disodorkan dalam standar isi karena semua pasti berhubungan. Hal ini dimaksudkan agar masalah bisa berkembang lebih luas.

Pada pertemuan pertama, guru melakukan curah pendapat dengan mengarahkan siswa untuk mengajukan topik yang paling aktual dan menarik, atau penting akhir-akhir ini. Setiap siswa diharapkan mengajukan satu topik secara terbuka. Setiap topik yang dikemukakan oleh siswa diinventarisasi oleh guru dan dicatat/ditata secara acak di papan tulis.

Setelah diidentifikasi topik dari siswa, selanjutnya dilihat keterkaitan seluruh topik dan dipilih secara demokratis berdasarkan cara siswa, misalnya; menentukan yang paling diminati dengan cara voting atau dikaji keterhubungan antartopik. Jika dikaji keterhubungan, maka topik yang mempunyai keterhubungan paling banyak yang ditetapkan sebagai topik yang akan dibahas dan ditulis. Hal ini mencerminkan bahwa topik yang penting, dibutuhkan, menarik bagi siswa dapat dilihat dari keterhubungannya. Oleh karena itu, guru mengajak siswa berdiskusi untuk menentukan ada-tidaknya hubungan antara satu topik dengan topik lainnya beserta alasannya.

Selanjutnya, siswa membaca diagram keterhubungan tersebut dan melihat topik yang mempunyai paling banyak garis keterhubungan.

Proses demikian tentu memberikan siswa pengalaman belajar yang mendalam, sebab siswa digiring untuk menentukan, memahami, menganalisis, dan mengkaji masalah yang akan ditulis. Dibanding siswa langsung disuruh menulis dengan hanya menyodorkan tema atau kerangka, tentu hal ini jauh lebih bermakna.

Sebelum pembagian tugas, siswa dilibatkan pula mengidentifikasi hal sebagai berikut: (a) dalam bentuk apa informasi diperoleh, (b) bagaimana memperolehnya, dan (c) di mana atau siapa informannya, sesuai masalah yang dibahas. Siswa diajak untuk menentukan tugas tersebut secara berkelompok atau individu.

Setelah siswa memahami hal tersebut, selanjutnya dilakukan pembagian tugas. Pada dasarnya pembagian tugas dilakukan oleh siswa, guru hanya mengarahkan atau memfasilitasi. Siswa diberikan kebebasan untuk menentukan pembagian kerja yang dapat dilakukan secara komplementer atau secara paralel. Komplementer, jika setiap kelompok menyelesaikan subtopik yang berbeda untuk menyatukan persepsi mengenai topik. Sedangkan paralel, jika semua kelompok mengerjakan tugas yang sama, untuk melihat sudut pandang siswa pada topik yang sama.

Pada pertemuan berikutnya (kedua), dilakukan pencarian dan pengolahan informasi. Dalam pencarian informasi, siswa ditugaskan ke sumber informasi dilengkapi dengan alat pengumpulan data sesuai subtopik.

Jika bentuk tugas siswa tidak dapat terjangkau, maka dapat diberikan alternatif yang bisa memberikan informasi seperti guru dan kepala sekolah. Yang dipentingkan adalah siswa harus mengalami suatu proses kreatif sehingga benar-benar menguasai yang hendak ditulis dan membiasakan menemukan sendiri. Tidak hanya dijejali informasi langsung yang dapat mengakibatkan anak tidak kreatif dan selalu menunggu informasi dari guru saja. Dengan demikian, tentu jauh lebih bermakna dan berdayaguna dibanding hanya disodorkan kerangka atau gambar yang selama ini biasa digunakan.

Pertemuan berikutnya (ketiga), setiap kelompok mengolah informasi tersebut di bawah pengawasan guru, sehingga menjadi suatu pemahaman yang utuh dan lengkap mengenai subtopik yang menjadi tugasnya. Setelah itu, dilakukan perpaduan informasi melalui pelaporan dalam bentuk presentasi atau diskusi, untuk menghasilkan informasi lengkap/terpadu dari setiap subtopik yang siap dibuat tulisan

Berdasarkan hasil rumusan tersebut, maka siswa mulai menulis / mengarang secara lengkap dan terpadu. Dalam hal ini, sudah ditentukan tugas individu atau kelompok kecil dalam menyusun sebuah tulisan.

Pembuatan tulisan sudah dapat diimplementasikan dengan teknik/teori menulis yang sudah pernah diajarkan, demikian pula aspek-aspek penilaian yang akan dinilai.

Penyajian berikutnya (keempat) adalah kegiatan puncak, yaitu penyajian laporan dan penilaian.Tulisan yang telah dibuat oleh siswa harus dilaporkan. Hal ini dimaksudkan sebagai bentuk keseriusan perhatian guru. Selama ini, tidak jarang guru yang menilai karangan siswa hanya membaca saja, bahkan untuk mempersingkat waktu mungkin hanya dilihat sepintas. Padahal, dibutuhkan latihan bagi siswa untuk mengkomunikasikan idenya secara lisan, belajar mempertanggungjawabkan hasil karyanya, melatih diri siswa berpikir ilmiah dan bersikap kritis, dan yang paling penting adalah anak membutuhkan pengakuan terhadap karyanya.

Pelaporan tulisan siswa dilakukan dengan presentasi dengan tatacara pelaksanaan yaitu setiap kelompok terdiri dari tiga orang yakni seorang presenter, seorang moderator, dan seorang sekretaris. Siswa lain dalam hal ini menjadi penanggap/peserta. Sedangkan guru menjadi pengarah dan pengamat.

Setelah presentasi, ditentukan karya terbaik, I, II, dan III berdasarkan karya tulis dan kemampuan presentasi, ada baiknya diberikan kompensasi atau rangsangan, misalnya diterbitkan pada majalah dinding (jika ada) atau dikirim ke media cetak yang sesuai setelah direvisi oleh guru untuk diterbitkan. Dengan begitu, anak merasa karyanya dihargai dan merasakan kepuasan sehingga termotivasi untuk selalu menulis

Selain kegiatan di atas, pada kesempatan tersebut, dikaji pula bersama aspek pembelajaran bahasa lainnya secara terpadu baik berdasarkan kemunculannya maupun diprogramkan sesuai alokasi standar isi. Pembahasan seperti ini juga akan melahirkan suatu keterpaduan antaraspek pembelajaran bidang studi bahasa Indonesia, seperti kosakata, lafal, ejaan, tanda baca, struktur, fungsi, dan sebagainya. Selain itu, secara tidak langsung keterampilan berbahasa lainnya seperti berbicara dan menyimak sudah diajarkan. Dengan demikian, waktu empat kali pertemuan tidak sekedar digunakan untuk pembelajaran menulis tetapi aspek lain, bahkan bidang studi lain dapat terakomodasi.

Proses pembelajaran seperti di atas, tentu jauh lebih bermakna dan menarik dibanding pembelajaran “efisien/praktis” (tidak membutuhkan waktu banyak) yang hanya menyodorkan topik, judul, atau kerangka. Selain itu, siswa memperoleh dampak pengiring (nurturant effects) seperti sikap kritis, tangung jawab, keberanian, sikap ilmiah, dan sebagainya.

5. Contoh rancangan pembelajaran

Keberhasilan suatu pembelajaran sangat ditentukan oleh rancangan yang disiapkan oleh guru. Guru yang tidak melakukan

persencanaan dengan baik maka telah merencanakan kegagalan. Oleh karena itu, membelajarkan siswa menulis dengan “Pembelajaran menulis berbasis outbound” harus direncanakan sedemikian rupa sehingga pencapaian tujuan yang diharapkan optimal. Adapun proses atau tahapan rancangan pembelajaran menulis dengan “Pembelajaran menulis berbasis outbound” diuraikan sebagai berikut.

1. Identifikasi Topik

Langkah pertama yang harus dilakukan bersama siswa adalah mengidentifikasi topik yang akan dibahas dan ditulis. Dalam mengidentifikasi topik, pertimbangan pedagogis yang penting diperhatikan oleh guru adalah mengupayakan agar topik harus aktual dan berorientasi pada minat dan kebutuhan yang dirasakan siswa. Jadi, prinsipnya siswa diberi kebebasan yang seluas-luasnya untuk mencari dan menentukan topik yang tentu saja dapat diarahkan kepada tema pembelajaran. Akan tetapi, ada baiknya hal yang dikaji adalah berorientasi kepada minat siswa yang merupakan masalah hangat dibicarakan. Topik tersebut tidak perlu terikat dengan tema yang disodorkan dalam silabus karena semua pasti berhubungan. Hal ini dimaksudkan agar masalah bisa berkembang lebih luas.

Pada pertemuan pertama, guru melakukan curah pendapat dengan mengarahkan siswa untuk mengajukan tawaran tentang topik yang paling aktual dan menarik, atau penting akhir-akhir ini. Setiap siswa diharapkan mengajukan satu topik secara terbuka. Setiap topik yang dikemukakan oleh siswa diinventarisasi oleh guru dan dicatat/ditata secara acak di papan tulis.

2. Penetapan Topik

Setelah diidentifikasi topik dari siswa, selanjutnya dilihat keterkaitan seluruh topik dan dipilih secara demokratis berdasarkan cara siswa, misalnya; menentukan yang paling diminati dengan cara voting atau dikaji keterhubungan antartopik. Jika dikaji keterhubungan, maka topik yang mempunyai keterhubungan paling banyak yang ditetapkan sebagai topik yang akan dibahas dan ditulis. Hal ini mencerminkan bahwa topik yang penting, dibutuhkan, menarik bagi siswa dapat dilihat dari keterhubungannya. Oleh karena itu, guru mengajak siswa berdiskusi untuk menentukan ada-tidaknya hubungan antara satu topik dengan topik lainnya beserta alasannya.

Contoh hasil diskusi sebagai berikut:

a. Tawuran pelajar berhubungan dengan:

 Kemacetan lalulintas bisa diakibatkan oleh tawuran pelajar.

 Kebakaran bisa terjadi karena tawuran.

 Tawuran dapat menjalar pada perampokan/penjarahan.

 Acara TV dapat berdampak pada tawuran karena sadisme.

 Akibat tawuran dapat berpengaruh pada prestasi menurun (UAN).

 Kepadatan penduduk berpengaruh pada pembinaan moral yang.berdampak pada tawuran pelajar.

b. Narkoba berhubungan dengan:

 Akibat ketagihan narkoba bisa melakukan perampokan/pencurian.

 Pengedaran narkoba bisa memanfaatkan pengasong.

 Akibat kecanduan narkoba prestasi belajar (UAN) siswa menurun.

c. Kemacetan lalulintas berhubungan dengan:

 Kemacetan lalulintas bisa memberi peluang melakukan tawuran.

 Kemacetan lalulintas bisa diakibatkan oleh kepadatan penduduk.

 Kemacetan lalulintas dapat menyebabkan polusi.

 Pengemis dapat memacetkan lalulintas.

 Pengasong dapat memacetkan lalulintas.

 Kehabisan BBM mengakibatkan kemacetan lalulintas d. Lapangan kerja berhubunga dengan:

 Kepadatan penduduk mengakibatkan ketidakseimbangan lapangan kerja.

 Kurangnya lapangan kerja mengakibatkan banyak pengemis.

 Kurangnya lapangan kerja mengakibatkan banyak pengasong.

 Kurangnya lapangan kerja mengakibatkan banyak orang yang merampok/menjambret.

e. Kepadatan penduduk berhubungan:

 Kepadatan penduduk mengakibatkan ketidakseimbangan lapangan kerja.

 Kepadatan penduduk mengakibatkan ketidakseimbangan lapangan kerja

 Kebakaran dapat diakibatkan oleh padatnya penduduk yang mendiami suatu daerah

 Lalulintas macet karena kepadatan penduduk f. Kebakaran berhubungan dengan:

 Kebakaran dapat diakibatkan oleh padatnya penduduk yang mendiami suatu daerah

 Kebakaran bisa terjadi karena tawuran.

 Kebakaran bisa menyebakan polusi.

 Perampok bisa melakukan pembakaran.

g. Pertelevisian berhubungan dengan:

 Tawuran dapat terjadi karena pengaruh/dampak dari acara TV.

h. Polusi udara berhubungan dengan:

 Kebakaran bisa menyebakan polusi.

 Kemacetan lalulintas dapat menyebabkan polusi.

i. Pengemis berhubungan dengan:

 Pengedaran narkoba bisa memanfaatkan pengasong.

 Pengemis dapat memacetkan lalulintas.

 Kurangnya lapangan kerja mengakibatkan banyak pengemis dan pengasong.

j. Pengasong berhubungan dengan :

 Kurangnya lapangan kerja mengakibatkan banyak pengasong.

 Banyaknya penduduk mengakibatkan banyaknya pengasong.

k. Pencurian/perampokan berhubungan dengan:

 Akibat ketagihan narkoba bisa melakukan perampokan/pencurian.

 Kemacetan lalulintas dapat memberi peluang kepada perampokan/pencurian/penjambretan.

l. UN berhubungan dengan:

 Akibat ketagihan narkoba bisa menurunkan prestasi belajar .

 Akibat tawuran bisa menurunkan prestasi belajar siswa.

Selanjutnya, siswa disuruh membaca keterhubungan tersebut dan melihat topik yang mempunyai paling banyak garis keterhubungan.

Sesuai dengan diagram di atas, maka tentu secara bersama-sama, siswa menetapkan topik yang akan dibahas dan ditulis adalah ‘tawuran pelajar’

atau kemacetan lalu lintas. Proses demikian tentu memberikan siswa pengalaman belajar yang mendalam, sebab siswa digiring untuk menentukan, memahami, menganalisis, dan mengkaji masalah yang akan ditulis. Dibanding siswa langsung disuruh menulis dengan hanya menyodorkan tema atau kerangka, tentu hal ini jauh lebih bermakna.

Selain itu, juga merupakan upaya mengkaji dan menyikapi tawuran pelajar sebagai bentuk kepedulian terhadap masalah lingkungan. Hal ini tentu sangat relevan dengan konsep pembelajaran kontektual atau Contekstual Teaching and Learning (CTL).

2. Pengembangan Topik

Topik yang akan ditulis oleh siswa perlu dikembangkan agar lebih spesifik melalui diskusi kelompok sehingga siswa tergiring untuk menghasilkan subtopik dari ramuan beberapa leompoknseperti berikut.

a. Kondisi tawuran pelajar dewasa ini b. Penyebab tawutan pelajar

c. Akibat tawuran pelajar

d. Upaya penanggulangan tawuran pelajar e. Tawuran ditinjau dari segi agama

Selanjutnya masing-masing subtopik didiskusikan lagi lebih rinci sehingga menjadi kerangka yang siap dikembangakan menjadi karangan, dengan membagi topik tersebut dalam lima kelompok. Setiap kelompok memaparkan secara kolaboratif kepada kelompok lain dengan cara lima orang anggota menyebar ke kelompok lain untuk mencari informasi mengani pengembangan subtopik lalu kembali kekelompoknya untuk melengkapi seluruh subtopik. Hasil pengembangan diharapkan seperti contoh berikut:

a. Kondisi tawuran pelajar dewasa ini

 frekuensi terjadinya

 lokasi kejadian yang paling sering.

 bentuk-bentuk tawuran

 kerugian-kerugian nyawa

 kerugian-kerugian harta b. Penyebab tawuran pelajar

 penyebab sebagai dampak acara tv,

 pengaruh orang tua,

 pengaruh dari segi sekolah,

 pengaruh lingkungan masyarakat.

c. Akibat tawuran

 akibat dari segi ekonomi,

 akibat dari segi sosial,

 akibat dari segi budaya,

 akibat dari segi politik,

 akibat dari segi lingkungan,

 akibat dari segi keamanan.

 akibat dari segi agama d. Upaya penanggulangan

 pendekatan agama,

 pendekatan sekolah,

 pendekatan orang tua,

 pendekatan aparat keamanan.

e. Tawuran ditinjau dari segi agama

 dari segi hukum/dalil agama,

 dari segi adab,

 dari segi budi pekerti,

 dari segi akhlak,

Sebelum pembagian tugas, siswa dilibatkan pula mengidentifikasi hal sebagai berikut: (a) dalam bentuk apa informasi diperoleh, (b) bagaimana memperolehnya, dan (c) di mana atau siapa informannya, sesuai masalah yang dibahas. Siswa diajak untuk menentukan tugas tersebut secara berkelompok atau individu.

Setelah siswa memahami hal tersebut, selanjutnya dilakukan pembagian tugas. Pada dasarnya pembagian tugas dilakukan oleh siswa, guru hanya mengarahkan atau memfasilitasi. Siswa diberikan kebebasan untuk menentukan pembagian kerja yang dapat dilakukan secara komplementer atau secara paralel. Komplementer, jika setiap kelompok menyelesaikan subtopik yang berbeda untuk menyatukan persepsi mengenai topik. Sedangkan paralel, jika semua kelompok mengerjakan tugas yang sama, untuk melihat sudut pandang siswa pada topik yang sama.

Pada contoh subtopik di atas, misalnya, disepakati dengan cara komplementer, maka siswa dibagi menjadi lima kelompok, yaitu:

a. Kelompok I mencari dan mengkaji subtopik kondisi tawuran pelajar dewasa ini.

b. Kelompok II mencari dan mengkaji subtopik penyebab tawuran pelajar.

c. Kelompok III mencari dan mengkaji subtopik akibat tawuran pelajar.

d. Kelompok IV mencari dan mengkaji subtopik cara penanggulangan tawuran pelajar.

e. Kelompok V mencari dan mengkaji subtopik tinjauan tawuran dari segi agama

Jika siswa cukup banyak, maka kelompok tersebut dapat dibuat dua sesi sehingga terdiri sepuluh kelompok empat sub topik.

5. Pencarian Informasi

Pada pertemuan selanjutnya (kedua), dilakukan penyelidikan/

pencarian informasi melalui survei/wawancara dan pengolahan data/informasi sebagimana uraian berikut.

Dalam melakukan survei/wawancara atau pencarian informasi, siswa ditugaskan ke sumber informasi dilengkapi dengan alat pengumpulan data (instrumen) sesuai subtopik. Tugas tersebut dapat dibagi sebagaimana contoh berikut.

a. Kelompok I : Mencari informasi ke lapangan dan ke kantor polisi terdekat.

b. Kelompok II : Mencari inforasi kepada sosiolog, kriminilog, ulama, polisi, dsb.

c. Kelompok III : Mencari informasi kepada pemerintah daerah, polisi, dsb.

d. Kelompok IV : Mencari informasi kepada guru, sosiolog, ulama, polisi, dsb.

e. Kelompok V : Mencari informasi kepada ulama atau guru agama.

Jika tugas siswa tidak dapat terjangkau, maka diberikan alternatif yang bisa memberikan informasi misalnya guru dan kepala sekolah. Yang dipentingkan adalah siswa harus mengalami suatu proses pengkajian dan kreatif sehingga benar-benar menguasai masalah yang hendak ditulis dan membiasakan menemukan sendiri. Tidak hanya dijejali informasi

langsung yang dapat mengakibatkan siswa tidak kreatif dan selalu menunggu informasi dari guru saja. Tentu ini jauh lebih bermakna dan berdayaguna dibanding hanya disodorkan kerangka seperti yang selama ini dilakukan.

6. Pengolahan data/penyusunan laporan

Pertemuan berikutnya (ketiga), setiap kelompok mengolah informasi tersebut melalui kolaborasi/kooperatif dengan cara setiap anggota kelompok menyebar ke kelompok lain untuk menyampaikan hasil wawancara/observasi (data) sekaligus menerima hasil dari kelompok lain.

Dengan cara ini masalah yang dikaji menjadi suatu pemahaman yang utuh dan lengkap mengenai semua subtopik lengkap dan akurat.

Selain itu, dapat dilakukan perpaduan informasi melalui pelaporan dalam bentuk presentasi atau diskusi, untuk menghasilkan informasi lengkap dan terpadu dari setiap subtopik yang siap dibuat tulisan.

Berdasarkan hasil rumusan tersebut, maka siswa mulai menulis/mengarang secara lengkap. Dalam hal ini, sudah ditentukan tugas individu dalam menyusun sebuah karangan. Pembuatan tulisan sudah dapat diimplementasikan dengan teknik/teori menulis yang sudah pernah diajarkan, demikian pula aspek-aspek penilaian yang akan dinilai.

Tulisan dapat dipilih dalam bentuk laporan ilmiah populer atau ilmiah, bergantung pilihan yang akan dialtihkan kepada siswa.

7. Penyajian Karangan dan Penilaian

Pertemuan berikutnya (keempat) adalah kegiatan puncak, yaitu penyajian laporan dan penilaian. Tulisan yang telah dibuat oleh siswa harus dilaporkan. Hal ini dimaksudkan sebagai bentuk keseriusan perhatian guru. Selama ini, tidak jarang guru yang menilai karangan siswa hanya membaca saja, bahkan untuk mengefisiensi waktu mungkin hanya

dilihat sepintas. Padahal, dibutuhkan latihan bagi siswa untuk mengkomunikasikan idenya secara lisan, belajar mempertanggungjawabkan hasil karyanya, melatih diri siswa berpikir ilmiah dan bersikap kritis, dan yang paling penting adalah anak membutuhkan pengakuan terhadap karyanya.

Pelaporan tulisan siswa dilakukan dengan presentasi dengan tata cara pelaksanaan yaitu setiap kelompok terdiri dari tiga orang yakni seorang presenter, seorang moderator, dan seorang sekretaris. Siswa lain dalam hal ini menjadi penanggap/peserta. Sedangkan guru menjadi pengarah dan pengamat.

Adapun karya tulis siswa dinilai pada beberapa aspek sesuai dengan penilaian pada umumnya, yaitu penyajian/penuangan ide dan sistematika, penalaran, penggunaan bahasa yang meliputi; pilihan kata, kalimat efektif, kepaduan paragraf, ejaan, dan tanda baca dengan menggunakan contoh format sebagai berikut.

FORMAT PENILAIAN KARANGAN

No Aspek Penilaian Skor Nilai Akhir

1. berdasarkan karya tulis dan kemampuan presentasi, ada baiknya diberikan kompensasi atau rangsangan, misalnya diterbitkan pada majalah dinding atau dikirim ke media cetak yang relevan. Dengan

demikian, siswa puas karena karyanya dihargai sehingga termotivasi untuk selalu menulis.

Selain kegiatan di atas, pada kesempatan tersebut, dikaji pula bersama aspek pembelajaran bahasa lainnya secara terpadu baik berdasarkan kemunculannya maupun diprogramkan sesuai alokasi GBPP. Pembahasan seperti ini juga akan melahirkan suatu keterpaduan antaraspek pembelajaran bidang studi bahasa Indonesia, seperti

Selain kegiatan di atas, pada kesempatan tersebut, dikaji pula bersama aspek pembelajaran bahasa lainnya secara terpadu baik berdasarkan kemunculannya maupun diprogramkan sesuai alokasi GBPP. Pembahasan seperti ini juga akan melahirkan suatu keterpaduan antaraspek pembelajaran bidang studi bahasa Indonesia, seperti

Dokumen terkait