• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tujuan

Dalam dokumen PEMASARAN PRODUK HORTIKULTURA (Halaman 5-0)

BAB I PENDAHULUAN

B. Tujuan

makalah ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami apasaja tahapan-tahapan distribusi produksi dan pentingnya rantai pendinginan hasil pasca panen hortikultura.

Teknik Pasca Panen Page 6 BAB II

PEMBAHASAN

Sistem distribusi suatu produk adalah tahapan-tahapan bagaimana produk tersebut dipindahkan dari tempat tumbuhnya sampai ke konsumen. Jumlah tahapan adalah bervariasi sesuai dengan produk dan pasar. Selama pendistribusiannya melalui tahapantahapan tersebut, rantai pendinginan memegang peranan penting untuk mengendalikan metabolisme produk dan juga mengendalikan pertumbuhan organisme perusak. Sehingga selama penanganan pada tahapan-tahapan distribusi hendaknya disediakan fasilitas bagaimana pendinganan dapat dilakukan dengan baik. Dalam pendistribusian produk dengan rantai pendinginannya, maka beberapahal yang sering menyebabkan masalah terjadinya susut dan penurunan mutu produk yang tinggi adalah:

a. Pemilihan yang kurang baik terhadap jenis produk yang diproduksi (varietas yang salah dengan masa simpan pendek dan kelewat matang)

b. Pemanenan pada stadia kematangan yang kurang tepat (terlalu awal atau terlambat).

c. Salah penanganan terhadap produk selama periode pascapanen (penanganan kasar, tidak adanya atau kurangnya sortasi, grading, pengendalian penyakit).

d. Tidak adanya manajemen suhu yang baik selama perpindahan barang pada system distribusinya (tanpa adanya pre-cooling, system penyimpanan tanpa pendingin, transportasi tanpa pendingin dan display pada saat retail yang juga tanpa pendingin).

e. Kondisi penyimpanan yang kurang

f. baik (suhu yang salah, aliran udara yang tidak baik, RH yang rendah, pengisian komoditi yang bercampur dalam ruang penyimpanan).

g. Insulasi ruang penyimpanan dingin yang kurang baik.

h. Pengisian berlebih dari ruang penyimpanan.

i. Tidak adanya system untuk mengeluarkan gas etilen atau menimbunnya gas CO2 selama penyimpanan.

j. Kurangnya fasilitas alat transportasi yang berpendingin.

k. Kurangnya pedagang retail yang mempunyai fasilitas pendingin.

Sehingga perencanaan distribusi dari produk harus mempertimbangkan berbagai aspek menyangkut perlakuanperlakuan pada setiap tahapan dari rantai distribusi dan terutama ada tidaknya rantai pendinginan yang baik mulai sesaat setelah panen sampai ke pasar retail atau ke konsumen.

Teknik Pasca Panen Page 7 A. Karakteristik Sistem Distribusi dan Rantai Pendinginan

Sistem distribusi fisik produk hortikultura secara umum yaitu mulai dari tahapan produksi, selanjutnya pengemasan, transportasi, penyimpanan, pedagang besar, retail dan terakhir adalah konsumen. Laju metabolisme produk selama distribusi sangat dipengaruhi oleh suhu. Jika pengelolaan suhu produk adalah baik, mulai dari panen sampai produk tersebut diterima oleh konsumen, maka masa simpan dan masa pasar akan dicapai secara maksimum.

Rantai pendinginan atau cold chain selama pendistribusian suatu produk mulai dari sesaat setelah panen sampai produk diterima konsumen menentukan sejauhmana mutu dapat dipertahankan dan sejauhmana masa simpan dan masa pasar bisa diperpanjang (lihat Gambar 7.2). “Terlampir”.

Pre-cooling produk hortikultura setelah panen untuk menurunkan suhu produk

secepatnya adalah bermaksud untuk menghilangkan panas lapang dengan cepat sehingga laju aktivitas metabolism berlangsung sangat lambat. Penyimpanan dingin (cold storage) lebih cenderung hanya berfungsi untuk mempertahankan suhu yang telah dicapai saat pre-cooling.

Kemasan adalah sangat penting dalam memberikan fasilitas pendinginan terhadap produk. Bahan kemasan seperti karton box haruslah cukup kuat dan dilapisi oleh bahan anti air seperti lapisan lilin dengan ukuran box dan lobang ventilasi yang sama bila digunakan untuk pre-cooling dan penyimpanan. Dengan ukuran box yang sama akan memudahkan untuk penumpukan dengan arah lubang ventilasi sedemikian rupa sehingga memudahkan sirkulasi udara dingin. Persyaratan kemasan lainnya selain diperuntukkan untuk pendinginan produk akan dijelaskan pada seksi berikutnya pada Bab ini.

Gambar 7.3. Pengemasan dengan lobang ventilasi pada setiap sisinya.

Transportasi produk selama distribusinya adalah merupakan mata rantai pendinginan yang sangat penting. Sesederhana apapun alat transportasi, pendingin akan sangat membantu mempertahankan kesegaran produk. Di negara-negara sedang berkembang dimana truk pendingin terbatas keberadaannya, maka untuk produk sayur-sayuran tertentu dapat dikemas

Teknik Pasca Panen Page 8 bersama-sama dengan es kemudian diangkut dengan truk tanpa pendingin. Untuk itu bahan kemasan haruslah sedemikian rupa mampu mempertahankan es supaya tidak mencair dalam jangka waktu lama. Contoh bahan kemasan seperti styrofoam boxes dapat dipergunakan dan mampu mempertahankan es dalam jangka waktu lama. Namun demikian, sebelum produk dimasukkan ke dalam kemasan bersama dengan es maka produk haruslah di precooling sampai mendekati 0oC sehingga aktivitas respirasi, yang menghasilkan panas, berlangsung lambat.

Kalau panas respirasi tinggi maka es yang digunakan untuk menjaga suhu produk dalam kemasan akan cepat mencair. Jenisjenis produk yang bisa didinginkan dengan es bisa dilihat pada Bab 5. Pada Seksi berikutnya dalam Bab ini akan juga mendiskusikan tentang transportasi untuk mendistribusikan produk hortikultura buah dan sayuran.

Penyimpanan adalah merupakan satu bagian dari rantai distribusi produk hortikultura.

Untuk mendapatkan masa simpan optimal maka rantai pendinginan tidaklah boleh terputus.

Pada Seksi berikutnya pada Bab ini akan dibicarakan tentang pentingnya mutu buah yang akan disimpan dan kondisi penyimpanannya. Rantai pendingin akan menjadi kurang berarti bila satu mata rantainya atau pendinginan terputus. Atau rantai pendinginan akan menjadi sangat lemah oleh karena disebabkan oleh satu mata rantai pendinginan yang tidak baik.

B. Pengemasan Produk Hortikultura 1. Fungsi Kemasan

Pengemasan adalah aspek yang sangat penting untuk keberhasilan pemasaran. Sebaik apapun mutu produk saat ditempatkan dalam kemasan namun jika kemasan tidak berfungsi dengan baik maka produk tetap akan mengalami kerusakan dengan cepat. Dua fungsi utama kemasan adalah:

a. Untuk merakit produk ke dalam satu unit yang memudahkan untuk penanganan (Unitisasi).

b. Melindungi produk selama distribusi, penyimpanan dan pemasaran (Proteksi).

Pada awalnya kemasan kebanyakan dibuat untuk bahan tanaman, seperti anyaman daun, cabang pohon, bamboo (Gambar 7.3) dan dirancang untuk dibawa dengan tangan, dijinjing atau dipikul.

Teknik Pasca Panen Page 9 Gambar 7.4. Keranjang bambu yang digunakan penanangan dan transportasi -produk.

c. Sebagai pelindung produk dari kerusakan mekanis, fisiologis dan/atau kerusakan biologis serta memberikan fasilitas untuk komersialisasi produk.

Sekarang ini, produk dikemas dengan berbagai jenis kemasan yang terbuat dari kayu, karton, jute atau plastik, namun pengemasan moderen dan untuk produk segar diharapkan memenuhi persyaratan atau kebutuhan dasar. Untuk itu kemasan harus:

a. Mempunyai kekuatan mekanis yang memadai untuk melindungi produk selama handling, trasnsportasi dan saat ditumpuk.

b. Tidak dipengaruhi, dalam hubungannya dengan kekuatan mekanis, oleh uap air atau kelembaban yang tinggi.

c. Menstabilisasi dan mengamankan produk terhadap pergerakan didalam kemasan selama penanganan.

d. Tidak mengandung bahan kimia yang mungkin dapat berpindah ke dalam produk dan beracun terhadap produk atau manusia.

e. Sesuai dengan kebutuhan pasar dalam hubungannya dengan berat, ukuran dan bentuk.

f. Memungkinkan untuk pendinginan secara cepat terhadap produk di dalamnya dan/atau memberikan insulasi yang baik dari panas luar.

g. Sebagai barier gas (seperti film plastik) dengan permeabilitas memadai terhadap gas respirasi untuk mencegah risiko karena kondisi anaerobik.

h. Mudah dibuka atau ditutup dalam situasi pemasaran tertentu.

i. Memberikan identitas dari produk, instruksi penanganan dan membantu presentasi retail melalui labeling yang baik.

j. Melindungi dari sinar (seperti untuk kentang) atau harus transparan (seperti untuk anggrek).

k. Memberikan kemudahan untuk membuangnya, penggunaan kembali atau daur ulang.

l. Efektif-biaya dalam hubungannya dengan nilai dan tingkat kebutuhan perlindungan dari produk. Sekarang ini, keragaman dari jenis dan bentuk kemasan semakin berkurang

Teknik Pasca Panen Page 10 karena adanya standarisasi kemasan. Adanya unitisasi (seperti penggunaan pallet) dan penanganan mekanis (seperti penggunaan garpu pengangkat) membuat standarisasi penting secara ekonomis.

2. Rancangan Kemasan

Kondisi dari tempat dimana kemasan tersebut akan digunakan harus dipertimbangkan sehingga rancangan dapat dibuat seteliti mungkin. Beberapa faktor yang harus dipertimbangkan dalam merancang kemasan, untuk meyakinkan bahwa kemasan tersebut berfungsi dengan baik jika ditempatkan pada sistem distribusi, adalah:

a. Kondisi lingkungan (khususnya kelembaban).

b. Ukuran c. Bentuk

d. Kekuatan struktur

e. Berat dalam satu susun palet f. Ekonomis

g. Modus dari transportasi h. Jalur transportasi i. Sistem penanganan

Ada dua grup parameter yang digunakan untuk mengembangkan kemasan untuk produk hortikultura, yaitu Parameter struktur dan fungsi.

Parameter-parameter struktur. Jika kemasan nantinya akan ditumpuk maka produk dihadapkan pada stress akibat penumpukan. Semakin tinggi tumpukan dan semakin berat produknya, maka stress karena penumpukan akan semakin tinggi. Stress karena tekanan ini harus menjadi bahan pertimbangan untuk merancang kekuatan kemasan.

Kekuatan dari kemasan plastik polistiren adalah tinggi, namun kekuatan dari kemasan yang terbuat dari karton (fibreboard) tergantung pada:

a. Sumber dan mutu dari karton yang digunakan b. Ketebalan karton

c. Panjangnya serat pada lembaran karton

d. Jarak antar korugasi ditengah lembaran karton e. Lamanya waktu penggunaannya

Teknik Pasca Panen Page 11 dengan produk di dalamnya. Karton (fibreboard) adalah terbuat dari tiga lembar lapisan; dua lembar halus pada bagian luar yang direkatkan oleh lembaran korugasi bagian dalamnya.

Semakin sempit jarak antara individu korugasi, maka kemasan semakin kuat.

Perusahan pembuat kemasan biasanya diminta untuk memproduksi kemasan sekuat memungkinkan dengan harga murah. Karton pemisah (devider) biasanya ditambahkan di dalam kemasan untuk menahan berat sehingga meningkatkan kekuatan kemasan.

Fibreboard adalah menyerap uap air yang akan murunkan kekuatannya. Jika kemasan fibreboard ini dibiarkan dalam udara lembab untuk periode waktu lama, maka dia harus dilapisi lilin untuk mencegah penyerapan uap air. Pelapisan lilin berperan sebagai barier uap air untuk fibreboard sendiri dan mencegah produk dari kehilangan air dan menambah kekuatan kemasan. Namun ini akan menambah biaya

Gambar 7.6. Kotak karton yang didalamnya ditambahkan lembar pemisah (devider).

digunakan. Ini berhubungan dengan standard kemasan yang sesuai dengan standard pallet yang digunakan. Kemasan harus menyesuaikan juga dengan kebutuhan pasar dalam hal ukuran, bahan kemasan, dan bentuk atau jenis kemasan.

Jika akan merancang kemasan baru, maka semua biaya yang terlibat harus diperhitungkan dengan baik pada penggunaanya dalam system distribusinya. Ini meliputi biaya bahan kemasan, tenaga kerja, modifikasi dari sistem penanganan dan pengemasan dan kemungkinan terjadinya perubahanperubahan pada produk. Pertimbanganpertimbangan ekonomis yang harus diperhatikan adalah:

a. Biaya kemasan; biaya komponen kemasan, biaya pembuatannya, biaya bahan lainnya seperti liners atau lapisan, trays atau lapisan tatakan buah biasanya berupa mangkokanmangkokan, biaya penyimpanan dari komponen kemasan dan sebagainya.

Teknik Pasca Panen Page 12 b. Biaya pengemasan; adaptasi terhadap sistem distribusi mekanis, pengaruh terhadap operasi pengemasan, pengaruhnya terhadap efisiensi tenaga kerja, jumlah tahapan pengemasan yang diperlukan; biaya modifikasi fasilitas pengemasan.

c. Biaya penanganan; pengaruhnya terhadap efisiensi penumpukan diatas pallet, pengaruhnya terhadap biaya strapping, tenaga kerja dan bahan, adaptasi dengan berbagai bahan pallet dan substitusinya seperti trolleys.

d. Biaya pemasaran; pengaruhnya dengan densitas isian dalam ruang penyimpanan dan kendaraan transport; tenaga dan peralatan khusus yang dibutuhkan untuk penanganan dan adaptasi kemasan sebagai unit pajangan.

e. Biaya dari nilai produk; pengaruh kemasan dalam modifikasi kemunduran produk; nilai reputasi “brand” berhubungan dengan penampilan kemasan.

3. Standardisasi Kemasan

Sekarang ini banyak sekali kemasan yang digunakan dalam sistem distribusi.

Beberapa mempunyai ukuran standard (cocok untuk pallet standard 1165 mm2/ Standard Australia dan 120 x 80 cm atau 120 x 100 Cm untuk standard Eropa). Kemasan yang tidak standard akan mengalami permasalahan dalam distribusinya. Dengan banyaknya dimensi kemasan yang beredar, bentuk dan jenis dalam sirkulasi jaringan distribusi lokal, antar propinsi dan internasional, maka terjadi inefisiensi dan susut produk yang tinggi. Banyak kemasan tidak sesuai untuk manajemen suhu yang baik atau kemampuan penanganan oleh tanaga manusia. Akibatnya, susut produk adalah tinggi karena kerusakan mekanis dan cepatnya kemunduran selama transpotasi. Gambar 7.7 memperlihatkan berbagai jenis kemasan yang digunakan yang tidak sesuai untuk melindungi produk sehingga menyebabkan susut yang tinggi.

Keuntungan dari kemasan yang terstandarisasi adalah:

a. Mudah dan cepat untuk penanganannya

b. Secara ekonomis memperbaiki efisiensi dengan mengurangi penggunaan tenaga kerja pada keseluruhan segmen sistem distribusi.

c. Memudahkan dalam pengisian kendaraan transport.

d. Lebih efektif dalam stabilisasi pengisian dan pengaturan aliran udara dalam unit transportasi terrefrigerasi.

e. Kompatibilitas dalam penumpukan f. Mengurangi kerusakan mekanis g. Penggunaan ruang secara maksimum.

Teknik Pasca Panen Page 13 Gambar 7.7. Berbagai jenis kemasan Gambar 7.8. Standard kotak karton

yang tidak sesuai dengan system dis- disesuaikan dengan standard pallet, tribusi sehingga menyebabkan susut memberikan kemudahan dalam dist-

yang tinggi. ribusi, penyimpanandan pendinginan.

C. Transportasi

Ada empat modus transportasi yang digunakan yaitu darat, kereta api, udara dan laut. Modus yang digunakan tergantung pada:

a. Pasar akhir

b. Biaya transport dan nilai produk c. Waktu transit

d. Ketersediaan unit transportasi e. Keringkihan produk

f. Volume produk yang akan ditransportasikan g. Reliabilitas modus transport

Transport harus cepat dan reliabel atau konsisten bila menangani produk ringkih seperti produk hortikultura. Susut secara langsung maupun tidak langsung adalah sangat nyata dalam transportasi produk hortikultura segar. Susut akan meningkat bila terjadi transit cukup lama, penanganan kasar, dan manajemen suhu kurang baik.

1. Transport Darat

Dibandingkan dengan negara-negara sudah berkembang, maka di negaranegara sedang berkembang pada umumnya kurang memadai, terkecuali pada jalan-jalan negara.

Produk biasanya didistribusikan dengan menggunakan alat angkut terbuka dimana panas sinar matahari langsung mengenai produk. Kalaupun ditutup, biasanya menggunakan plastik atau terpal yang justru meningkatkan suhu akibat akumulasi panas dibawah penutup

Teknik Pasca Panen Page 14 (Gambar 7.9). Seperti disebutkan sebelumnya bahwa rantai pendinginan sangat penting dalam pendistribusian produk dalam jarak dan periode waktu tertentu. Semakin panjang jalur distribusi maka semakin panjang rantai pendinginannya. Pada kondisi pengangkutan Gambar 7.9, tingkat susut cukup tinggi dan tergantung pada jarak pasar yang ditempuh dan lama transit. Susut dalam hal ini adalah susut berat dan susut mutu (pelayuan dan kerusakan mekanis karena kondisi kemasan yang tidak memadai dan adanya penumpukan.

Gambar 7.9. Produk sayuran segar didistribusikan dengan alat angkut terbuka atau ditutup dengan plastik.

Untuk menghindari terjadinya akumulasi panas akibat penutupan plastik Gambar 7.9, maka penutupan dapat dilakukan dengan menggunakan jaring sedemikian rupa (Gambar 7.10) dimana dibawah jaring terdapat ruangan untuk sirkulasi udara. Cara ini akan mengurangi susut berat dan pelayuan akibat aktivitas respirasi dan penguapan uap air.

Gambar 7.10. Truk pengangkut dengan penutup jaring untuk memberikan sirkulasi uadara dan menghindari akumulasi panas tinggi.

Gambar 7.11. Loading dock dari ruang pendingin ke atas truk pendingin yang dilapisi karet (gambar atas) dan truk pendingin sedang diisi dengan produk lewat loading dock.

Teknik Pasca Panen Page 15 Di negara-negara maju, rantai pendinginan merupakan pertimbangan utama dalam system distribusi produk hortikultura buah dan sayuran segar. Mulai dari lapangan ke rumah pengemasan pendinginan sudah terlibat. Pre-cooling atau pendinginan cepat sebelum produk di simpan dalam ruang pendinginan dilakukan untuk melepaskan panas lapang. Distribusi dari ruang pendingin ke pusat-pusat pasarpun memperhitungkan terjadinya peningkatan suhu. Seperti halnya waktu pengisian ke truk pendinginan, dok pengisian (loading dock) dirancang sedemikian rupa sehingga dari ruang pendingin ke truk refrigerasi tidak ada kebocoran suhu atau kebocorannya minimal (Gambar 7.11).

Jika menggunakan kendaraan berpendingin, maka ruangan harus didinginkan (pre-cooled) sampai pada suhu sesuai dengan produk yang akan diangkut. Jika kelembaban udara adalah tinggi dan pengisian ke truk harus di udara terbuka, maka kendaraan pendingin hendaknya di pre-cooled sebagian sampai suhu sekitar 3oC dibawah suhu pertengahan antara suhu ruang dengan suhu yang akan disetel untuk kendaraan. Hal ini akan mencegah akumulasi kelembaban pada bagian permukaan dalam dinding kendaraan dan mengurangi siklus pendinginan dari unit pendingin.

Kebanyakan beban panas dari kendaraan pendingin adalah datang dari jalan aspal dan panas yang melalui dinding. Dengan demikian adalah penting untuk menggunakan pallet dibawah tumpukan kemasan produk buah dan sayuran, dan menumpuk kemasan tidak menempel atau terlalu berdekatan dengan dinding (tinggalkan ruang sekitar 5 cm). Blok kayu atau kantong udara vynil dapat digunakan sebagai sekat untuk menjaga ruang antara dinding dengan tumpukan pallet.

Jika distribusi produk cukup jauh hanya dengan menggunakan kendaraan tanpa pendingin, maka pengangkutan sebaiknya malam hari atau menjelang pagi pada saat suhu udara dingin. Naungi produk dari matahari dan sisakan ruang antara wadah atau kemasan untuk memungkinkan aliran atau sirkulasi udara yang baik.

Pengangkutan produk yang bercampur dapat menjadi masalah. Beberapa buah mengahasilkan gas etilen (seperti apel, mangga, jambu biji, pepaya, tomat, pisang, markisa, dsb.) dan sebaliknya banyak produk yang sensitif terhadap etilen (kebanyakan sayuran dan semangka). Kerusakan karena gas etilen akan terlihat seperti menguningnya sayuran hijau, rasa pahit/getir dari wortel). Beberapa jenis buah mengeluarkan bau (apel, pear, buah jeruk) yang mana dapat diserap oleh sayuran (lihat Tabel 7.1). (Terlampir) Sehingga komoditi-komoditi ini harus dipisahkan transportasinya.

Teknik Pasca Panen Page 16 Menurut survey dari Winrock International dan US Agricultural Trade Office Jakarta (2000), umumnya kendaraan transport yang digunakan untuk pendistribusian produk dingin dan beku di Indonesia adalah tidak berpendingin (reefer). Suhu selama transportasi container berpendingin 20 foot tidak dijaga dengan baik, seperti untuk apel dan pear yang membutuhkan suhu 0C, jeruk 8-10C dan buah tropika 15C. Secara umum yang digunakan adalah suhu 1C sebagai standard untuk pendingin tanpa memandang jenis produk yang ditransportasi. Suhu reefers selama transport produk beku biasanya di set pada suhu –18C.

Keterbatasan akan trailers yang memadai Menyebabkan sering produk di bongkar dari reefer 20 foot ke kendaraan pengangkut lebih kecil dengan ukuran 3 atau 5 ton sehingga hal ini mengekibatkan adanya pemutusan atau pelemahan rantai pendingin.

2. Transport laut

Faktor yang menentukan transportasi lewat laut untuk ekspor adalah:

a. Komitmen untuk pasar antar pula dan eksport sehingga kapal laut digunakan secara penuh

b. Pengembangan dan rencana strategi jangka panjang c. Industri-industri terkait pada angkutan laut

d. Pengembangan dan tersedianya teknologi pendukung seperti teknologi atmosfer terkendali

e. Tersedianya infrastruktur yang dibutuhkan di pelabuhan untuk operasi secara efisien, meminimalkan penundaanpenundaan baik pada saat pembongkaran maupun pengisian kapal

f. Isu karantina

Secara umum perusahan pelayaran di Indonesia menyediakan pelayanan seperti penanganan reefer menggunakan crane,dan fasilitas sambungan listrik di ataskapal selama pengapalan. Fasilitas sambungan listrik juga disediakan di pelabuhan untuk penyimpanan reefer sementara. Banyak pelabuhan berencana melakukan upgrade terhadap fasilitas yang ada sekarang ini (Winrock International dan US Agriculture Trade Office Jakarta, 2000).

Kontainer laut berpendingin yang digunakan untuk mengangkut produk segar, secara esensial, adalah box terinsulasi yang disuplai dengan udara dingin. Ada dua bentuk, yaitu:

Port-hole refrigerated container. Bentuk ini terdapat lubang untuk masuknya udara ke dalam kontainer yang mana udara dingin di pompokan dari pusat refrigerasi yang ada di

Teknik Pasca Panen Page 17 dalam kapal. Udara ini kemudian dikeluarkan melalui lubang pengeluaran dengan kekuatan exhaust fan dan disirkulasikan kembali melalui pusat refrigerasi. Reefer ini agak mahal tapi mempunyai ventilasi yang baik. Pola sirkulasi udara adalah dari bawah ke atas seperti ditunjukkan pada Gambar 7.10. Integral refrigerated container. Reefer ini mempunyai unit pendingin sendiri yang berlokasi pada salah satu ujung kontainer. Pola aliran udara dapat dibuat apakah dari atas atau dari bawah. Reefer ini penggunaannya mahal.

3. Angkutan Udara

Angkutan udara adalah cepat namun pilihan yang mahal untuk angkutan kebanyakan produk segar. Produk nilai tinggi, dan keringkihan tinggi yang mempunyai permintaan tinggi, sehingga harga yang dapat diraih adalah tinggi yang mampu meliput biaya angkutan udara tersebut, dapat menggunakan modus angkutan ini. Contoh produk segar yang ditransportasikan dengan udara adalah strawberries dan lettuce.

Berbagai jenis kontainer digunakan untuk angkutan laut ini. Bentuk dan ukurannya tergantung pada penempatannya di dalam pesawat. Manajemen suhu agak sulit. Beberapa airlines atau freight forwarders mempunyai ruang pendingin untuk seluruh jenis produk ringkih. Namun, produk sering dibiarkan pada situasi penghangatan yang cepat karena waktu pemutusan pendinginan oleh airline.

D. Penyimpanan

Kondisi ruang penyimpanan harus mampu meminimalkan kemunduran dari produk yang disimpan sehingga dapat dipasarkan dengan waktu penyimpanan agak lama. Untuk memaksimumkan potensi penyimpanan, tempatkan produk hortikultura pada kondisi penyimpanan optimum sesegera mungkin setelah panen. Beberapa pertimbangan yang perlu diperhatikan saat melakukan evaluasi kondisi penyimpanan:

a. Mutu awal produk harus baik. Produk tetap akan mengalami kemunduran dan akan tidak mengalami perbaikan mutu selama penyimpanan.

b. Suhu penyimpanan untuk periode penyimpanan tertentu harus dijaga dalam keadaan optimum untuk produk. Semakin panjang periode penyimpanan, maka suhu diatur semakin dekat dengan kondisi optimum.

c. Produk didinginkan dengan cepat atau pre-cooled sebelum ditempatkan pada kondisi lingkungan penyimpanan. Ini akan meminimalkan fluktuasi suhu di lingkungan penyimpanan dan akan memaksimalkan masa simpan.

Teknik Pasca Panen Page 18 d. Kelembaban nisbi ruang penyimpanan berpengaruh terhadap kemunduran produk.

Kelembaban biasanya 95-98% untuk mengurangi susut air selama penyimpanan dan memaksimalkan retensi mutu.

e. Sirkulasi udara yang baik harus dijaga untuk melepaskan panas respirasi. Hal ini dipengaruhi oleh metode penempatan dan penumpukan produk di ruang pendingin.

f. Sistem refrigerasi harus mempunyai kapasitas memadai untuk menyerap seluruh sumber

f. Sistem refrigerasi harus mempunyai kapasitas memadai untuk menyerap seluruh sumber

Dalam dokumen PEMASARAN PRODUK HORTIKULTURA (Halaman 5-0)

Dokumen terkait