• Tidak ada hasil yang ditemukan

BABI IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

8. Tujuan Pembelajaran PAI di SMPLB Negeri PTP

Tujuan pendidikan merupakan suatu kondisi yang menjadi target penyampaian pengetahuan. Tujuan ini merupakan acuan dan panduan untuk seluruh kegiatan yang terdapat dalam seluruh sistem pendidikan. Tujuan pendidikan Islam adalah untuk mempersiapkan anak didik atau individu dan menumbuhkan segenap potensi yang ada, baik jasmani maupun rohani agar dapat hidup dan berpenghidupan sempurna, sehingga ia dapat menjadi anggota masyarakat yang berguna bagi dirinya dan umatnya.

Tujuan pendidikan merupakan faktor yang sangat penting, karena merupakan arah yang hendak dituju oleh pendidikan itu. Demikian pula halnya dengan Pendidikan Agama Islam, yang tercakup mata pelajaran akhlak mulia dimaksudkan untuk membentuk anak didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, atau moral sebagai perwujudan dari pendidikan agama.

Tujuan PAI ini ditujukan kepada semua manusia, tidak memandang orang tersebut normal maupun abnormal. Atas dasar pandangan tersebut maka semua orang, baik normal maupun abnormal mempunyai hak yang sama dalam memperoleh pendidikan. Bagi orang yang abnormal, karena kelainan dan kekurangannya maka mereka memerlukan bantuan yang lebih banyak dalam menjalani kehidupan. Sehingga mereka dapat menunaikan kewajiban terhadap Allah SWT, masyarakat, dan dirinya sendiri.

Sama halnya dengan tujuan pembelajaran PAI yang diharapkan oleh SMPLB UPT SLB-E Negeri PTP Sumatera Utara bagi siswa yang tergolong tunagrahita agar dapat beriman dan bertakwa kepada Allah SWT dengan cara

melaksanakan salat secara mandiri. Hal ini berdasarkan hasil wawancara dengan bapak Syamsuddin, S.Ag. guru Pendidikan Agama Islam:7

Tujuan spesifik dari pembelajaran PAI pada siswa tunagrahita hanyalah untuk bisa melakukan ibadah yaitu salat dengan mandiri, bisa memakai telekung pada perempuan dan memakai peci pada laki-laki. Itu saja, tidak ada yang lain. Kalau lebih dari itu saya rasa sulit dan bahkan tidak bisa.

Dari kutipan wawancara di atas dapat dilihat bahwa tujuan PAI yang menjadi target pencapaian siswa tunagrahita SMPLB Negeri PTP Sumatera Utara sangatlah sederhana dan berbeda dengan tujuan yang harus dicapai oleh anak normal. Siswa tunagrahita hanya diharapkan mampu dapat melaksanakan salat secara mandiri dengan memakai perlengkapan salat tanpa bantuan orang lain.

Tujuan yang sederhana ini disesuaikan dengan kemampuan siswa-siswa tunagrahita yang di bawah kemampuan siswa normal yang seusia dengan mereka. Meski demikian, tujuan yang sederhana ini tidak membuat siswa tunagrahita mampu mencapainya dengan mudah. Mereka butuh waktu yang sangat lama bahkan bertahun-tahun untuk bisa mengerti bahwa salat merupakan bentuk ibadah kepada Yang Maha Pencipta, Allah SWT yang harus dilaksanakan oleh setiap muslim. Hal ini diperkuat oleh penjelasan bapak Syamsuddin, S.Ag: “Butuh waktu yang lama untuk mengajarkannya karena kondisi dan kemampuan mereka, bisa sampai setahun, bahkan untuk pembiasaan bisa sampai bertahun-tahun”.8

Ungkapan bapak Syamsuddin S.Ag ini terbukti benar adanya ketika peneliti menyaksikan tatkala siswa-siswa tunagrahita mendemostrasikan salat magrib di musala sekolah. Terlihat bahwa mereka masih bingung dan canggung melakukan urutan-urutan gerakan salat sehingga guru agamanya perlu memberitahu, mengingatkan dan mencontohkan setiap perpindahan gerakan salat yang satu ke gerakan berikutnya. Selain gerakan salat, mereka

7Syamsuddin, guru Pendidikan Agama Islam SMPLB Negeri PTP Sumatera Utara, wawancara di Medan, tanggal 28 Nopember 2016.

masih belum hafal bacaan-bacaan salat sehingga guru agama pun membacakannya dengan keras dan diikuti oleh siswa tunagrahita tersebut. Maka dengan kondisi dan kekurangan yang dimiliki oleh siswa tunagrahita tersebut, pembelajaran salat pun perlu waktu yang lama sampai mereka bisa melakukannya dengan mandiri.

Menyadari pentingnya mencapai tujuan ini, guru dan orang tu atau wali siswa menjalin kerja sama untuk membina keagamaan siswa. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh bapak Syamsudin berikut:

Kerja sama selalu dilakukan dengan orang tua siswa. Biasanya pada tahun-tahun awal siswa bersekolah di sini kita sering berkomunikasi dengan orang tua siswa untuk membantu mengingatkan salat anak di rumah. Dan sekarang ini kita tinggal menanyakan langsung kepada siswa tentang kegiatan salat mereka di rumah masing-masing serta mengingatkan mereka untuk selalu melaksanakan salat.9

Dari pernyataan wawancara di atas diketahui bahwa pihak guru menjalin kerja sama dengan orang tua siswa yang telah dilakukan pada masa-masa awal siswa mulai belajar di sekolah. Kerja sama ini bertujuan untuk membantu melanjutkan pembinaan keagamaan khususnya ibadah salat siswa di rumah. Dengan adanya kerja sama ini diharapkan dapat meningkatkan sikap religius siswa dalam kesehariannya. Kerja sama ini akan membantu kesadaran siswa dalam melaksanakan ibadah yang wajib ia lakukan sebagai seorang muslim mengingat waktu bersama orang tua di rumah lebih banyak dibanding waktu bersama guru di sekolah. Dan dengan adanya kerja sama akan mempermudah tercapainya tujuan pendidikan agama yang telah ditetapkan.

Demi mencapai tujuan tersebut orang tua dan wali siswa pun mengambil inisiatif untuk memantau, membimbing dan mengingatkan siswa untuk melakukan salat di rumah. Cara yang dilakukan pun beragam yaitu mengingatkan dan menyuruh saat waktu salat telah tiba, mengajak si anak salat berjamaah di rumah dan di mesjid, dan membimbing secara lebih

intensif di rumah. Hal ini berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa orang tua siswa:

Cara mengajak dia salat dengan melakukan salat berjamaah dengan papanya, apalagi waktu salat magrib. Dia selalu salat berjamaah di mesjid, mungkin karena dia bisa mengikuti gerakan salat imam dan orang lain. Yang penting adalah dia sudah memiliki kesadaran tentang ibadah salat yang wajib.10

Kerja sama yang dilakukan antara guru agama Islam dengan orang tua dipandang sangat penting karena minimnya waktu yang tersedia untuk guru agama dalam mengajarkan salat. Diharapkan dengan adanya kerja sama ini orang tua siswa bisa melanjutkan pengajaran salat yang dilakukan guru agama di rumahnya masing-masing sehingga pengajarannya berkesinambungan sampai mencapai tujuan yang diinginkan.