• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

4. Tujuan Pemberdayaan Masyarakat

Tujuan yang ingin dicapai dari pemberdayaan adalah untuk membentuk individu dan masyarakat menjadi mandiri. kemandirian tersebut meliputi kemandirian berfikir, bertindak dan mengendalikan apa yang mereka lakukan tersebut. Kemandirian masyarakat adalah merupakan suatu kondisi yang dialami oleh masyarakat yang ditandai oleh kemampuan untuk memikirkan, memutuskan serta melakukan sesuatu yang dipandang tepat demi mencapai pemecahan masalah-masalah yang dihadapi dengan mempergunakan daya kemampuan yang terdiri atas kemampuan kognitif, konatif, psikomotorik, afektif, dengan mengerahkan sumberdaya yang di miliki oleh lingkungan internal masyarakat

Terjadinya keberdayaan pada empat aspek tersebut (afektif, kognitif dan psikomotorik) akan dapat memberikan kontribusi pada terciptanya kemandirian masyarakat yang dicita-citakan, dalam masyarakat akan terjadi kecukupan wawasan, yang dilengkapi dengan kecakapan-keterampilan yang memadai, diperkuat oleh rasa memerlukan pembangunan dan perilaku sadar akan kebutuhan tersebut. (Ambar Teguh S, 2004:80-81)

Totok Mardikanto dan Poerwoko Soebianto (2013 : 109) mengklasifikasikan beberapa tujuan pemberdayaan masyarakat, yaitu :

a. Perbaikan pendidikan

Dalam arti pemberdayaan harus dirancang sebagai bentuk pendidkan yang lebih baik.

b. Perbaikan aksebilitas

Dengan tumbuh dan berkembangnya semangat belajar seumur hidup diharapkan akan memperbaiki aksebilitasnya.

c. Perbaikan tindakan

Dengan berbekal perbaikan pendidikan dan perbaikan aksebilitas dengan beragam sumberdaya yang lebih baik diharapkan akan terjadi tindakan-tindakan yang semakin lebih baik.

d. Perbaikan kelembagaan

Dengan perbaikan kegiatan atau tindakan yang dilakukan diharapkan akan memperbaikai kelembagaan, temasuk pengembangan jejaring kemitra-usahaan. e. Perbaikan usaha

Perbaikan pendidikan (semangat belajar), perbaikan aksesbilitas, kegiatan dan perbaikan kelembagaan, diharapkan akan memperbaiki bisnis yang dilakukan. f. Perbaikan pendapatan

Dengan terjadinya perbaikan bisnis yang dilakukan, dharapkan akan dapat memperbaiki pendapatan yang diperolehnya termasuk pendapatan keluarga dan masyarakat

g. Perbaikan lingkungan

Perbaikan pendapatan diharapkan mampu memperbaiki lingkungan (fisik dan sosial), karena kerusakan lingkungan seringkali disebabkan oleh kemiskinan atau pendapatan yang terbatas.

h. Perbaikan kehidupan

Tingkat pendapatan dan keadaan lingkungan akan membaik, diharapkan dapat memperbaiki keadaan kehidupan setiap keluarga dan masyarakat.

i. Perbaikan masyarakat

Keadaan kehidupan yang lebih baik, yang didukung oleh keadaan lingkungan (fisik dan sosial) yang lebih baik, diharapkan akan terwujudnya kehidupan masyarakat yang lebih baik pula.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan diadakan pemberdayaan masyarakat adalah dimulai dengan pemberdayaan pendidikan. Pemberdyaan pendidikan diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup yang lebih baik, misalnya dengan meningkatnya pendapatan ekonomi yang didapat dari berberapa usaha dan kerja maupun bisnin yang dilakukan. Dengan demikian tujuan pemberdayaan akan tercipta apabila semua masyarakat di berdyakan dari segi dasar yaitu pendidikan yang nantinya akan berdampak terhadap kesejahteraan hidup masyarakat.

5. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemberdayaan

Menurut Shrode dan Voich (Tatang M. Amirin, 2003 : 23), ada empat kriteria untuk menentukan penting tidaknya suatu tujuan yaitu mutu atau kualitasnya, banyaknya atau kuantitasnya, waktu dan biaya.

Keempat hal tersebut dapat mejadi suatu faktor yang dapat mendukung maupun menghambat keberhasilan suatu tujuan, keempatnya kadang tidak berjalan seiringan tetapi dipilih mana yang paling menguntungkan. Dalam hal jumlah, banyaknya anggota dan ketersediaan sarana prasarana. Dalam hal mutu, kemampuan pelatih dan daya tangkap serta sikap anggota merupakan hal yang cukup penting untuk diperhatikan. Waktu dan biaya juga penting dalam mendukung keberlangsungan suatu lembaga dan kegiatan.

Dari empat criteria yaitu mutu, jumlah, waktu dan biaya, pilihan criteria mana yang dipegang oleh seseorang atau suatu lembaga juga tergantung pada banyak hal diataranya faktor kebutuhan, system nilai yang dianut, dan juga kemampuan keuangan sehingga akhirnya timbul perhitungan untung-rugi (Tatang M. Amirin, 2010: 24)

Pilihan yang dipergunakan dalam mempertimbangkan kriteria mutu, jumlah, waktu dan biaya didasarkan pada mana yang lebih menguntungkan sehingga bisa saja terjadi perpaduan dari lebih satu kriteria yang dipilih.

C. Puskesmas

1. Pengertian Puskesmas

Puskesmas sebagai unit pelaksana tekhnis Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja.Puskesmas berperan menyelenggarakan upaya kesehatan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk agar memperoleh derajat yang optimal. (Pedoman Perencanaan Tingkat Puskesmas Departemen Kesehatan RI:2006)

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 Tahun 2014 Tentang Pusat Kesehatan Masyarakat menyebutkan bahwa Pusat Kesehatan Masyarakat yang selanjutnya disebut Puskesmas adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif, untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya di wilayah kerjanya (Kemenkes RI, 2014).

Menurut Depkes RI (2004) puskesmas merupakan unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di wilayah kerja (Effendi, 2009).

Pelayanan kesehatan yang diberikan puskesmas merupakan pelayanan yang menyeluruh yang meliputi pelayanan kuratif (pengobatan), preventif (pencegahan), promotif (peningkatan kesehatan) dan rehabilitatif (pemulihan kesehatan). Pelayanan tersebut ditujukan kepada semua penduduk dengan tidak membedakan jenis kelamin dan golongan umur, sejak dari pembuahan dalam kandungan sampai tutup usia (Effendi, 2009).

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) adalah suatu organisasi kesehatan fungsional yang merupakan pusat pengembangan kesehatan masyarakat yang juga membina peran serta masyarakat di samping memberikan pelayanan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat di wilayah kerjanya dalam bentuk kegiatan pokok.

2. Tujuan Puskesmas

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 Tahun 2014, pembangunan kesehatan yang diselenggarakan di Puskesmas bertujuan untuk mewujudkan masyarakat yang: a) memiliki perilaku sehat yang meliputi kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat; b) mampu menjangkau pelayanan kesehatan bermutu, c) hidup dalam lingkungan sehat; dan d) memiliki derajat kesehatan yang optimal, baik individu, keluarga, kelompok dan masyarakat.

Tujuan pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh puskesmas adalah mendukung tercapainya tujuan pembangunan kesehatan nasional, yakni meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi orang yang bertempat tinggal di wilayah kerja puskesmas agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi-tingginya (Trihono, 2005).

Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa tujuan Puskesmas untuk menyembuhkan penyakit, pemulihan kesehatan perorangan, memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah penyakit tanpa mengabaikan penyembuhan penyakit 3. Fungsi Puskesmas

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 Tahun 2014, bahwa puskesmas menyelenggarakan fungsi:

1. Penyelenggaraan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) tingkat pertama di wilayah kerjanya.

2. Penyelenggaraan Upaya Kesehatan Perseorangan (UKP) tingkat pertama di wilayah kerjanya.

Menurut Trihono (2005) ada 3 (tiga) fungsi puskesmas yaitu: pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan yang berarti puskesmas selalu berupaya menggerakkan dan memantau penyelenggaraan pembangunan lintas sektor termasuk oleh masyarakat dan dunia usaha di wilayah kerjanya, sehingga

berwawasan serta mendukung pembangunan kesehatan. Disamping itu puskesmas aktif memantau dan melaporkan dampak kesehatan dari penyelenggaraan setiap program pembangunan diwilayah kerjanya. Khusus untuk pembangunan kesehatan, upaya yang dilakukan puskesmas adalah mengutamakan pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit tanpa mengabaikan penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan.

Menurut Effendi (2009) ada beberapa proses dalam melaksanakan fungsi tersebut yaitu merangsang masyarakat dan sekitarnya untuk melaksanakan kegiatan dalam rangka menolong dirinya sendiri, memberikan petunjuk kepada masyarakat tentang bagaimana menggali dan menggunakan sumber daya yang ada secara efektif dan efisien, memberikan bantuan yang bersifat bimbingan teknis materi dan rujukan medis maupun rujukan kesehatan kepada masyarakat dengan ketentuan bantuan tersebut serta tidak menimbulkan ketergantungan serta dapat memberikan pelayanan kesehatan langsung kepada masyarakat, bekerja sama dengan sektor-sektor yang bersangkutan dalam melaksanakan program puskesmas. Sehingga dalam pelayanannya lebih mudah.

Menurut Keputusan Mentri Kesehatan Republik Indonesia No. 128/MENKES/SK/II/2004 puskesmas memiliki fungsi antara lain :

Puskesmas selalu berupaya menggerakan dan memantau penyelenggaraan pembangunan lintas sektor termasuk oleh masyarakat dan dunia usaha di wilayah kerjanya, sehingga berwawasan serta mendukung pembangunan kesehatan.

b. Puskesmas selalu berupaya agar perorangan terutama pemuka masyarakat, keluarga dan masyarakat termasuk dunia usaha memiliki kesadaran, kemauan dan kemampuan melayani diri sendiri dan masyarakat untuk hidup sehat, berperan aktif dalam meperjuangkan kepentingan kesehatan termasuk sumber pembiayaan, serta menetapkan, menyelenggarakan dan memantau pelaksanaan program kesehatan, pemberdayaan perorangan, keluarga dan masyarakat ini diselenggarakan dengan memperhatikan kondisi dan situasi, khususnya sosial dan budaya masyarakat setempat.

c. Pusat Pelayanan Kesehatan Strata Pertama

Puskesmas bertanggung jawab menyelenggarakan pelayanan kesehatan tingkat pertama secara menyeluruh, terpadu, dan berkesinambungan. Pelayanan tingkat pertama yang menjadi tanggung jawab puskesmas meliputi :

1) Pelayanan Kesehatan Perorangan 2) Pelayanan Kesehatan Masyarakat

Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa Puskesmas melakukan beberapa cara untuk merangsang

masyarakat melaksanakan kegiatan dalam rangka menolong dirinya sendiri, memberikan petunjuk kepada masyarakat tentang bagaimana menggali dan menggunakan sumber daya secara efektif dan efisien, memberikan bantuan yang bersifat bimbingan dan rujukan medis kesehatan kepada masyarakat dengan ketentuan tidak menimbulkan ketergantungan, memberikan pelayanan kesehatan langsung kepada masyarakat, bekerjasama dengan sektor bersangkutan dalam melaksanakan program kesehatan

4. Peran Puskesmas

Puskesmas mempunyai peran yang sangat vital sebagai institusi pelaksana teknis, dituntut memiliki kemampuan manajerial dan wawasan jauh ke depan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Peran tersebut ditunjukkan dalam bentuk keikutsertaan dalam menentukan kebijakan daerah melalui sistem perencanaan yang matang dan realistis, tata laksana kegiatan yang tersusun rapi, serta sistem evaluasi dan pemantauan yang akurat. Pada masa mendatang, puskesmas juga dituntut berperan dalam pemanfaatan teknologi informasi terkait upaya peningkatan pelayanan kesehatan secara komprehensif dan terpadu (Effendi, 2009).

5. Upaya penyelenggaraan

Untuk tercapainya visi pembangunan kesehatan melalui puskesmas yakni terwujudnya kecamatan sehat menuju Indonesia

sehat, puskesmas bertanggung jawab menyelenggarakan upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat, yang keduanya jika ditinjau dari kesehatan nasional merupakan pelayanan kesehatan tingkat pertama. Upaya kesehatan tersebut dikelompokkan menjadi dua yakni upaya kesehatan wajib dan upaya kesehatan pengembang (Trihono, 2005).

Upaya kesehatan wajib puskesmas adalah upaya yang ditetapkan berdasarkan komitmen nasional, regional dan global serta yang mempunyai daya ungkit tinggi untuk peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Upaya kesehatan wajib ini harus diselenggarakan oleh setiap puskesmas yang ada di wilayah Indonesia. Upaya kesehatan wajib tersebut adalah upaya promosi kesehatan, upaya kesehatan lingkungan, upaya kesehatan ibu dan anak serta keluarga berencana, upaya perbaikan gizi masyarakat, upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit menular serta upaya pengobatan (Trihono, 2005). Sedangkan upaya kesehatan pengembangan puskesmas adalah upaya yang ditetapkan berdasarkan permasalahan kesehatan yang ditemukan di masyarakat serta disesuaikan dengan kemampuan puskesmas.

Upaya kesehatan pengembangan dipilih dari daftar upaya kesehatan pokok puskesmas yang telah ada yaitu upaya kesehatan sekolah, upaya kesehatran oleh raga, upaya perawatan kesehatan masyarakat, upaya kesehatan kerja, upaya kesehatan gigi dan

mulut,upaya kesehatan jiwa, upaya kesehatan mata, upaya kesehatan usia lanjut dan upaya pembinaan pengobatan tradisional (Trihono, 2005). Upaya kesehatan pengembangan puskesmas dapat pula bersifat upaya inovasi yakni upaya diluar upaya puskesmas tersebut di atas yang sesuai dengan kebutuhan.Pengembangan dan pelaksanaan upaya inovasi ini adalah dalam rangka mempercepat tercapainya visi puskesmas (Trihono, 2005).

Pemilihan upaya kesehatan pengembangan ini dilakukan oleh puskesmas bersama dinas kesehatan kabupaten/kota dengan mempertimbangkan masukan dari konkes/BPKM/BPP. Upaya kesehatan pengembangan dilakukan apabila upaya kesehatan wajib puskesmas telah terlaksana secara optimal dalam arti target cakupan serta peningkatan mutu pelayanan telah tercapai. Penetapan upaya kesehatan pengembangan pilihan puskesmas ini dilakukan oleh dinas kesehatankabupaten/kota. Dalam keadaan tertentu upaya kesehatan pengembanganpuskesmas dapat pula ditetapkan sebagai penugasan oleh dinas kesehatan kabupaten/kota (Trihono, 2005).

Apabila puskesmas belum mampu menyelenggarakan upaya kesehatan pengembangan padahal telah menjadi kebutuhan masyarakat, maka dinas kesehatan kabupaten/kota bertanggung jawab dan wajib menyelenggarakannya. Untuk itu, dinas kesehatan

kabupaten/kota perlu dilengkapi dengan berbagai unit fungsional lainnya (Trihono, 2005).

Perlu diingat meskipun puskesmas menyelenggarakan pelayanan medik spesialistik dan memiliki tenaga spesialis, kedudukan dan fungsi puskesmas tetap sebagai sarana pelayanan kesehatan tingkat pertama yang bertanggung jawab menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan dan pelayanan kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya (Trihono, 2005).

D. Kajian Penelitian yang Relevan

1. Peran Pekerja Sosial di Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Yogyakarta Unit Budi Luhur dalam Meningkatkan Kesejahteraan Lanjut Usia ( Skripsi Swastika Dela Prabandewi. 2014. Universitas Negri Yogyakarta )

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Pelaksanaan kegiatan yang ada di PSTW Yogyakarta unit Budi Luhur antara lain meliputi: (a) Pelayanan pengelolaan makanan, ( b) Pelayanan Fisik, (c) Pelayanan psikis, (d) Pelayanan kesehatan, (e) Pelayanan rohani, (f) Pelayanan sosial, (g) Pendampingan Ketrampilan dan Kesenian. Peran Pekerja sosial Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Lansia di PSTW Yogyakarta Unit Budi Luhur adalah, peran pekerja sosial sebagai pendidik, Pekerja sosial sebagai pembela, Pekerja sosial sebagai mediator/fasilitator (

Perantara ), Pekerja sosial sebagai pemungkin ( Enabler ), Pekerja sosial sebagai penjangkauan ( Outreach ).

Yang menjadi faktor pendukung dari peran pekerja sosial lansia dalam meningkatkan kesejahteraan lansia di PSTW Yogyakarta Unit Budi Luhur antara lain, adanya kolaborasi dengan mahasiswa praktik yang ada di PSTW Yogyakarta unit Budhi Luhur sangat membantu pekerja sosial dalam menjalankan tugasnya, team work antar pekerja sosial yang saling mendukung, mempunyai jejaring atau kerjasama dengan lembaga-lembaga lain, sedangkan yang menjadi faktor penghambat dari peran pekerja sosial lansia dalam meningkatkan kesejahteraan lansia di PSTW Yogyakarta Unit Budi Luhur antara lain, karakter klien yang berbeda-beda, kemaun klien yang berbeda-beda, dituntut untuk memiliki lingkungan yang bersih akan tetapi simbah atau klien mengalami defisit kebersihan.

Penelitian yang relevan diatas, berkaitan dengan penelitian yang akan dilakukan mengenai peran Puskesmas dalan upaya memberdayakan lansia untuk meningkatkan kesehatan lansia. Disini kesamaan objek sebagai dasar penelitian yaitu mengenai pemberdayaan lansia untuk meningkatkan kesehatan. Adapun perbedaan antara peelitian yang akan dilakukan yaitu terdapat pada subjek lembaga yang berbeda.

2. Persepsi Masyarakat terhadap Peranan Puskesmas (Studi Deskriptif Kualitatif Tentang Persepsi masyarakat mengenai peranan Puskesmas Jatinom dalam pelayanan kesehatan masyarakat di Kelurahan Krajan, Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten). ( Skripsi Rahayu Purwatiningsih. 2008. Universitas Sebelas Maret)

Hasil penelitian yang dilakukan di Puskesmas Jatinom, Klaten dapat disimpulkan bahwa persepsi masyarakat terhadap pelayanan di Puskesmas Jatinom yaitu Proses pelayanan yang diberikan oleh Puskesmas Jatinom pun daripersepsi masyarakat dilihat sebagai hal yang sangat positif. Masyarakat merasa cukup puas dengannya. Mengenai pelayanan Puskesmas Jatinom dapat dilihat dari kecepatan, kemudahan dan kenyamanan pelayanan baik pada saat mendaftar, admministrasi, pemeriksaan dan pengambilan obat. Petugas-petugas Puskesmas Jatinom baik petugas medis maupun non-medis dimata masyarakat dianggap sudah cukup handal dalam melakukan pelayanan. Hal tersebut didukung oleh beberapa hal berikut, yaitu penampilan fisik petugas yang bersih dan rapi, sikap yang ramah dan sabar, serta sangat komunikatif dalam pemberian informasi yang detail dan jelas kepada seluruh pasien maupun pengunjung Puskesmas Jatinom. Petugas medis yaitu dokter, perawat maupun asisten perawat di Puskesmas Jatinom juga selalu bertindak cepat dan tepat dalam penanganan

pasien. Seluruh pasien maupun pengunjung sama-sama memiliki hak yang sama yaitu diberi kesempatan untuk bertanya dan menerima informasi tentang suatu hal selengkap mungkin.

E. Kerangka Berfikir

Lanjut usia merupakan orang yang sudah berusia enam puluh lima tahun ketas yang secara normal mereka sudah mengalami brbagai kemunuduran kemampuan baik fisiologis maupun psikologis. Untuk meningkatkan kesehatan lansia diperlukannya dukungan keluarga agar terjaganya kesehatan lanjut usia.

Di masa tua itu terdapat banyak masalah yang dihadapi oleh lanjut usia,di antaranya adalah masalah ekonomi, masalah kesehatan, sosial dan psikologis. Dan pada masa-masa seperti itu lansia akan merasa terasingkan karena sudah mulai jarang berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Dengan adanya puskesmas merupakan alternatif pilihan bagi lanjut usia untuk meningkatkan kesehatanya.

Puskesmas merupakan pusat pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan kegiatan pelayanan kesehatan tingkat pertama secara menyeluruh terpadu dan berkesinambungan. Ada beberapa cara Puskesmas memberikan layanan untuk memberdayakan lansia seperti senam lansia, cek up kesehatan dan penyuluhan program.

Berdasarkan kerangka berfikir diatas, fokus penelitian ini adalah menggali informasi tentang peran Puskesmas dalam upaya

memberdayakan lansia untuk meningkatkan kesehatan lansia serta faktor-faktor yang mendukung dan penghambat dari peran Puskesmas tersebut. Hal ini bertujuan agar hasil penelitian yang dillakukan dapat menjadi acuan bagi lansia dan keluarga bawah peran Puskesmas memiliki peran yang besar dan positif bagi kelangsungan kesehatan lansia.

Gambar 1 : Kerangka Berfikir

LANSIA

Peran Puskesmas : - Sebagai Penyelenggara kesehatan - Sebagai pengorganisasian masyarakat PUSKESMAS Posyandu lansia : - Kader lansia -Tenaga medis - Tokoh masyarakat -Keluarga lansia Lansia Berdaya

Masalah yang dihadapi lansia: - Masalah ekonomi

- Masalah psikologis - Masalah sosial - Masalah kesehatan

F. Pertanyaan Penelitian

1. Apa saja program yang dilaksanakan di Puskesmas Purwokerto Selatan untuk memberdayakan lansia dalam upaya meningkatkan kesehatan lansia?

a. Bagaimana pelaksanaan program cek up kesehatan untuk memberdayakan lansia ?

b. Bagaimana pelaksanaan program senam lansia untuk memberdayakan lansia ?

c. Bagaimana pelaksanaan program penyuluhan kesehatan lansia untuk memberdayakan lansia ?

2. Bagaimana ketercapaian dari program pelayanan kesehatan lansia di Puskesmas Purwokerto Selatan?

a. Bagaimana ketercapaian program cek up kesehatan dalam memberdayakan lansia ?

b. Bagaimana ketercapaian program senam lansia dalam memberdayakan lansia ?

c. Bagaimana ketercapaian program penyuluhan kesehatan dalam memberdayakan lansia ?

3. Faktor apa saja yang menjadi pendukung dari pelaksanaan program pelayanan kesehatan lansia di Puskesmas Purwokerto Selatan? 4. Faktor apa saja yang menjadi penghambat dari pelaksanaan

program pelayanan kesehatan lansia di Puskesmas Purwokerto Selatan?

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Pendekatan Penelitian

Pendekatan yang di gunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan penelitian deskriptif kualitatif. Dalam bukunya Djamian Satori dan Aan Komariah yang berjudul Metodologi Penelitian Kualitatif, penelitian kualitatif dilakukan karena peneliti ingin mengeksplor fenomena-fenomena yang tidak dapat dikuantifikasikan yang bersifat deskriptif seperti suatu proses langkah kerja, formula suatu resep, pengertian-pengertian suatu konsep yang beragam, karakteristik suatu barang dan jasa, gambar-gambar, gaya-gaya, tata cara suatu budaya, model fisik sutau artefak dan lain sebagainya. Penelitian ini tetap memperhatikan nilai-nilai yang ada pada lembaga.

Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang di alami oleh subjek penelitian secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah (Lexy J. Moleong, 2005:83) Penelitian melalui pendekatan kualitatif deskriptif ini dimaksudkan untuk mendeskripsikan, menguraikan dan menggambarkan tentang peran puskesmas dalam upaya memberdayakan lansia untuk meningkatkan kesehatan lansia di Puskesmas Purwokerto selatan.

B. Subyek Penelitian

Suharsimi Arikunto (2003:119) menerangkan bahwa subyek penelitian merupakan sesuatu yang kedudukannya sentral karena pada subyek peneliti itu data tentang variabel yang di teliti berada dan diamati oleh peneliti.

Cara memilih informan dengan menggunakan purposive adalah dengan memilih informan tergantung dengan kriteria apa yang digunakan. Sehingga kita menentukan terlebih dahulu kriteria-kriteria informan yang diambil. Dalam penelitian ini peneliti meneliti tentang peran Puskesmas dalam upaya memberdayakan lansia untuk meningkatkan kesehatan lansia, maka informan yang diperlukan adalah pegawai puskesmas purwokerto selatan berjumlah 1 orang, kader lansia berjumlah 3 dan lansia berjumlah 11 lansia.

Kriteria informan (lanjut usia) sebagai berikut:

1. Orang lanjut usia yang masih sehat (bisa diajak untuk berkomunikasi) 2. Orang lanjut usia yang berkenan untuk di mintai informasi.

Tabel 1. Data Informan

Nama Informan Lama Massa Jabatan

HP Pegawai Puskesmas 29 th SP Kader Lansia 10 th OW Kader Lansia 10 th NP Kader Lansia 10 th SP Lansia - SY Lansia - SA Lansia - ST Lansia - WS Lansia -

Nama Informan Lama Masa Jabatan ST Lansia - AM Lansia - TM Lansia - KW Lansia - YT Lansia - MR Lansia - C. Setting Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Purwokerto Selatan yang merupakan unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan disuatu wilyah kerja.

Penelitian meliputi kegiatan para lansia di Puskesmas Purwokerto Selatan. Penetapan dan penetuan lokasi penelitian didasarkan pada pertimbangan bahwa:

1. Puskesmas Purwokerto Selatan merupakan salah satu tempat yang berperan menyelenggarakan upaya kesehatan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi penduduk contohnya lansia agar memperoleh derajat yang optimal.

2. Puskesmas Purwokerto Selatan merupakan salah satu Unit Pelaksana Teknis Daerah yang berada di bawah naungan Dinas Kesehatan.

D. Jenis dan Sumber Data

Penelitian ini menggunakan dua jenis data yaitu data primer dan sekunder.

1. Data Primer

Adalah data yang diperoleh langsung dari informan dan pihak lain yang terkait atau data memberikan wawancara langsung. Data yang dibutuhkan adalah informasi mengenai peran pegawai Puskesmas dan faktor-faktor pendukung maupun penghambatnya dalam proses kegiatan peawatan lanjut usia.

2. Data Sekunder

Adalah data yang diperoleh tidak langsung dari obyek penelitian tetapi peneliti memperoleh data yang sudah jadi yang dikumpulkan oleh pihak lain dengan berbagai cara atau metode. Dan pada penelitian ini data data tersebut diperoleh dari perpustakaan, internet, maupun koran.

E. Tehnik Pengumpulan Data

Untuk memperoleh jenis data yang dibutuhkan penelitian , maka metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1. Observasi

Yaitu cara pengumpulan data yang dilakukan secara sistematis

Dokumen terkait